• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERUBAHAN RELIGI DAN BUDAYA DI SIMALUNGUN

4.3. Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen Sebagai Sebuah

Filsuf Gadamer mengatakan, ”Ada (Being) yang bisa dimengerti adalah bahasa”. Manusia dilihat sebagai zoon logon echon, dalam arti bahwa manusia adalah mahkluk yang berbicara, pengada yang memiliki logos. Manusia adalah binatang yang bercerita. Bahasa dinilai sangat penting. Di sini, bahasa dipandang bukan sebagai salah satu alat komunikasi belaka, tapi merupakan dasar kebudayaan. Munculnya bahasa adalah munculnya kemampuan reflektif. Tentang siapa kita ini, manusia, sangat ditentukan oleh bahasa. Manusia bukanlah mahkluk yang tercetak sekali jadi secara natural, melainkan lebih suatu produk kultural, yaitu suatu konstruk linguistik (hasil pembangunan bahasa).126

123

HChB pada Rapat Synode HChB 16-17 November 1946 berganti nama menjadi HKI (Huria Kristen Indonesia).

Dalam pemahaman ini, bahasa memiliki peran penting dalam perubahan kebudayaan.

124

Pargodungan bisa diartikan sebagai pusat gereja di setiap wilayah.

125

Jubil Raplan Hutauruk, Lahir, Berakar dan Bertumbuh di dalam Kristus, op.cit., hal. 99.

126

I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme, Tantangan Bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1996, hal. 95.

Perubahan akibat bahasa seperti ini yang menjadi kegelisahan seorang J. Wismar Saragih. J. Wismar Saragih takut, konstruksi budaya yang dibangun Batak Toba dalam pendidikan RMG, menjadi pembentuk nilai-nilai yang dianut intelektual Simalungun ke depannya. J. Wismar Saragih takut identitas budaya Simalungun menjadi krisis di tangan intelektualnya sendiri.

J. Wismar Saragih sudah mengalami sendiri bentuk pendidikan ”ala Toba” itu. Ia menyaksikan langsung bagaimana intelektual-intelektual Simalungun hasil bentukan pendidikan RMG berbicara dengan menggunakan bahasa Toba satu sama lain, padahal itu pembicaraan sesama orang Simalungun. Ia melihat bagaimana kaum intelektual Simalungun menjadi begitu terpisah dari rakyat Simalungun secara umum, ada kesenjangan. J. Wismar Saragih memandang fenomena ini sebagai hasil konstruksi budaya, yang bisa dicegah dampak buruknya melalui perjuangan bahasa.

J. Wismar Saragih dan Djaoedin Saragih (dua tokoh Comite Na Ra

Marpodah Simaloengoen) merupakan anak dari Jalam Saragih Sumbayak, seorang

pejuang nativisme, ahli bedil yang mengabdi dalam perjuangan Tuan Rohandaim melawan kolonialisme Belanda. Keluarganya tidak asing lagi dengan perjuangan kebudayaan. Sifat nativisme itu sangat tampak dalam corak perjuangan Djaoedin Saragih ke depannya. Djaoedin frontal menentang hal-hal di luar Simalungun.127

127

Penginjil RMG bernama Bregenstroth dalam catatannya menuliskan, “Betapa bengisnya sikap kaum pemuka itu terbukti dari berbagai peristiwa seperti hal ini. Ketika Tuan Djaoedin (Saragih) datang kemari, ia menghendaki agar untuk beberapa gelintir orang Batak Simalungun diadakan kebaktian tersendiri.” Padahal sebelumnya, kebaktian dilakkukan semua orang bersama-sama dalam sebuah gedung gereja yang besar. Jubil Raplan Hutauruk, Lahir, Berakar dan Bertumbuh di dalam Kristus, op.cit., hal. 110.

J. Wismar Saragih berbeda dari Djaoedin Saragih. J. Wismar Saragih sudah mengecap pendidikan yang digagasi Eropa128

J. Wismar Saragih juga mendalami kekristenan, ia tertarik menjadi pendeta. Sebagai bagian dari komunitas Gereja, ia tidak bisa abai terhadap masalah-masalah sosial di sekitarnya. Seorang Kristen mesti peduli terhadap sesama manusia, dalam Alkitab tertulis, ”Kasihilah sesamamu seperti kau mengasihi dirimu sendiri”. Gereja tidak hanya berurusan dengan masalah iman, Gereja memiliki hak dan kewajiban untuk bersuara dengan penuh wewenang atas masalah-masalah sosial.

sampai ke berbagai tingkatan dan menjalaninya secara sungguh-sungguh. J. Wismar Saragih bukan lagi orang Simalungun yang ingin mempertahankan kesimalungunan, J. Wismar Saragih adalah orang modern yang terpanggil untuk membangun Simalungun.

129

Bisa dipastikan J. Wismar Saragih mengalami pergumulan identitas. Ia berada di persimpangan identitas: Kekristenan, modernisme atau kesimalungunan.

Sementara, sudah menumpuk hasrat dalam dirinya untuk segera menggagas perubahan sosial. J. Wismar Saragih akhirnya bisa menuntaskan pergumulan itu.

128

Pihak kolonial Belanda sangat mendukung modernisasi di negeri jajahan, seperti modernisasi melalui pendidikan. Modernisasi membantu Belanda meningkatkan kemampuan kerja rakyat yang dijajahnya agar bisa meningkatkan produktivitas perkebunan. Modernisasi juga bagian dari politik kebudayaan, agar para intelektual berada di bawa garis Eropasentris kaum kolonial. Ini sejalan dengan saran-saran Snouck Hurgonje, penganjur politis etis. Hanneman Samuel, Genealogi Kekuasaan Ilmu Sosial Indonesia: Dari Kolonialisme Belanda hingga Modernisme Amerika, Depok: Kepik Ungu, 2010, hal. 21-28.

129

Ricardo Antoncich, Iman & Keadilan, Ajaran Sosial Gereja dan Praksis Sosial Iman,

Ia sampai pada penemuan sebuah identitas yang baru: Seorang Kristen Simalungun yang berjuang untuk kemandirian Simalungun.130

Penemuan identitas tersebut nyata terwujud ketika J. Wismar Saragih memutuskan untuk melepaskan jabatannya sebagai Pangulu Balei agar bisa masuk ke sekolah pendeta Sipoholon dan segera menulis buku sejarah penginjilan Simalungun dalam bahasa Simalungun. Momen di seputaran tahun 1928 ini adalah tempat kelahiran identitas baru bagi Kristen Simalungun. Identitas ini kemudian membutuhkan ruang, untuk itulah Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen didirikan,

Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen sebagai ruang identitas untuk identitas baru

Kristen Simalungun. Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen mengembangkan dirinya dalam bentuk gerakan sosio-kultural melalui perjuangan bahasa.

Salah satu fakta unik dalam manuver perjuangan J. Wismar Saragih ini adalah ia melepaskan jabatannya sebagai Pangulu Balei (sebuah jabatan yang sangat politis) dan memilih berjuang melalui organisasi nirlaba yang sebenarnya tidak besar, masih merintis. Jabatan politis sama-sekali tidak membuat J. Wismar Saragih bisa membangun Simalungun, ia lebih memilih jalur gerakan sosial.131

130

Kemandirian adalah kultur yang diadpsi dari modernisme.

Comite Na Ra

Marpodah Simaloengoen berada di luar institusi RMG, kerajaan dan pemerintah

kolonial Belanda. Organisasi ini hidup sebagai elemen rakyat. Comite Na Ra

Marpodah Simaloengoen bahkan sama-sekali tidak menerima bantuan finansial dari

RMG.

131

Fakta ini sangat bertolak belakang dengan pandangan orang yang pesimis terhadap gerakan sosial dan mengatakan, “Untuk melakukan perubahan, kita harus masuk ke sistem”. Sebaliknya, J. Wismar Saragih bahkan memilih keluar dari ‘sistem’ .

Semangat kemandirian menjadi semangat yang paling menggugah. Dalam tempo beberapa tahun, jejaring gerakan Kristen Simalungun terbangun. Pada 15 November 1931, di Sondi Raya, terbentuk Kongsi Laita.132 Kongsi Laita adalah gerakan pekabaran injil Simalungun, seperti PMB di tanah Batak. Kongsi ini menyampaikan injil kepada orang-orang Simalungun yang belum dibaptis, menggunakan pendekatan kultur Simalungun. Misalnya, ketika berkunjung untuk menginjili ke rumah orang Simalungun, dalam kunjungan dibuat acara pendahuluan berupa manurduk demban sayur 133 atau dengan menyajikan makanan adat Simalungun, dayok na binatur.134

Di Pematang Raya, terbentuk Kongsi Sintoea Protestant Simaloengoen (KSPS) pada 17 mei 1934. Terbentuk dari musyawarah 32 sintua135

Hoengsi Sihol Matoea terbentuk di Nagori Dolog pada 1939. Sihol Matoea adalah organisasi pemuda Kristen Simalungun yang pertama ada. Organisasi ini lahir dari komitmen pemuda-pemuda Kristen Simalungun untuk menunjukkan eksistensi kristen dalam kehidupannya sehari-hari dan mempersiapkan diri agar kelak menjadi yang bertujuan untuk membantu keluarga sintua yang kemalangan, misalnya istrinya meninggal atau

sintua itu sendiri yang meninggal dunia. J. Wismar Saragih dalam kongsi ini berperan sebagai bendahara.

132

Secara harfiah berarti “kumpulan rela pergi”.

133

Bagian dari etika tradisional Simalungun, yaitu dengan memberikan selembar sirih yang sudah diberi pinang, gambir dan kapur kepada seseorang yang hendak diajak berdialog sekaligus penanda etikad baik.

134

Makanan yang selalu disertakan dalam perhelatan adat Simalungun. Makanan tersebut adalah ayam yang setelah dimasak dengan resep tertentu diatur kembali posisinya seperti ayam hidup.

135

orang tua yang benar-benar bertanggung jawab, bukan saja kepada keluarga tapi juga kepada pangarahon.136

Pada 1935, didirikan Kas Saksi ni Kristus. Kas ini merupakan perwujudan tanggung jawab finansial komunitas-komunitas Kristen Simalungun terhadap perluasan pekabaran injil di Simalungun. Dana yang terkumpul dari orang-orang Kristen Simalungun digunakan untuk honor guru-guru yang ditugaskan untuk mengajar anak-anak di daerah pedalaman Simalungun, seperti di pedalaman Pamatang Dolog Silou.137

Komunitas Kristen Simalungun kian membesar sehingga dengan berani J. Wismar Saragih mengusulkan kepada HKBP agar HKBP distrik Simalungun

dibentuk, dengan alasan perjuangan identitas. Pada 1940, HKBP distrik Simalungun dibentuk. Di tahun yang sama pula J. Wismar Saragih mendirikan Pargoeroe Saksi ni Kristus (PSK), kursus untuk para penginjil muda Kristen Simalungun.

Perjuangan bahasa dengan penerbitan literatur-literatur Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen berakhir pada 1942. Kala itu, terjadi peralihan kekuasaan Hindia Belanda, dari pemerintah Belanda ke militer Jepang. Dalam kepemimpinan Jepang, semua kegiatan organisasi yang ada dihentikan. Kemudian Jepang membentuk organisasi-organisasi baru yang hanya berkaitan dengan kepentingan militernya. Organisasi-organisasi lama yang masih terkait, tetap dihidupkan namun sebagian besar namanya diganti menjadi nama Jepang.

136

Diksi yang digunakan Kristen Simalungun untuk menggantikan istilah “zending/pekabaran injil”.

137

Dalam penjajahan Jepang, perjuangan Kristen Simalungun masih tetap hidup. J. Wismar Saragih mengusulkan kepada Jepang agar Pargoeroe Saksi ni Kristus diizinkan tetap berjalan. Usulan ini dikaitkannya dengan aktivitas seorang tokoh Kristen di Jepang bernama Toyohiko Kagawa, dengan organisasi bernama

Jesu No Tomo.138

Pada 1952, Kristen Simalungun kembali meneguhkan semangat kemandiriannya. HKBP distrik Simalungun berubah menjadi HKBP Simalungun. HKBP Simalungun adalah gereja yang mandiri, berada di luar naungan HKBP. Pada 1 September 1963, HKBP Simalungun berganti nama menjadi GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun). Gereja ini eksis sampai sekarang, menjadi gereja suku bagi orang Simalungun.

Dengan argumentasi itu, J. Wismar Saragih mendapat izin.

138

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Perubahan sosial yang muncul di Simalungun pada kurun waktu 1928-1942 sangat dipengaruhi oleh perubahan besar yang muncul di daerah sekitarnya pada pertengahan abad 19. Terdapat dua perubahan besar. Pertama, kedatangan RMG ke tanah Toba. Kedua, dibukanya perkebunan oleh investor Eropa di tanah Melayu. Simalungun merupakan wilayah yang berada di antara keduanya.

Kedatangan RMG mengubah tatanan masyarakat Toba. Dengan bantuan aneksasi kolonial Belanda, RMG berhasil membuat agama Kristen berkembang pesat di Toba dan mendirikan sekolah-sekolah. Orang Toba yang memeluk agama Kristen dan memperoleh pendidikan ini pada puluhan tahun berikutnya bermigrasi dalam jumlah yang besar ke Simalungun.

Pembukaan perkebunan di tanah Melayu meraih sukses. Hal ini membuat perkebunan terus diperluas oleh Belanda sampai ke tanah Simalungun. Simalungun kemudian dianeksasi oleh Belanda secara resmi pada 1907. Perkebunan dibuka di Simalungun hingga mencapai sepertiga dari luas wilayah Simalungun. Pembukaan perkebunan dalam skala luas ini membuat Belanda harus mendatangkan banyak pekerja dari luar Simalungun karena masyarakat Simalungun kurang tertarik dengan pengembangan ekonomi ala Belanda. Didatangkanlah imigran dari Jawa, Toba, Mandailing, dan sebagainya.

Pada awal abad 20, seiring aneksasi Simalungun oleh kolonial Belanda, RMG juga melakukan kristenisasi terhadap Simalungun. Di dalam kristenisasi terhadap Simalungun, terjadi dominasi kultural Batak Toba. Hal ini terjadi karena ada sifat superior orang Toba selaku orang yang sudah beragama dan berpendidikan. RMG banyak menggunakan orang Toba sebagai penginjilnya. RMG juga menganggap bahwa Toba dan Simalungun merupakan suku yang sama, sebagaimana klaim Batak Toba, sehingga budaya Simalungun tak perlu lagi diberi tempat khusus. Dalam dunia pendidikan pun, bahasa Toba selalu dipakai disamping bahasa Melayu. Bahasa Simalungun sama sekali tak diperhitungkan. Tidak pernah disediakan buku yang berbahasa Simalungun.

J. Wismar Saragih, orang Simalungun yang pendidikannya paling tinggi setelah memilih masuk Kristen, gelisah dengan keadaan ini. J. Wismar Saragih beserta teman-temannya membuat sebuah pesta peringatan 25 tahun injil Kristen di Simalungun. Di pesta ini, J. Wismar Saragih menyebarkan bukunya berjudul Pesta

Pirak Ni Koeria Raja, sebuah buku berbahasa Simalungun. Tujuan pengadaan pesta

dan penyebaran buku adalah untuk mengampanyekan pentingnya penggunaan bahasa Simalungun terkhusus dalam aktivitas kekristenan. Penyadaran ala J. Wismar Saragih ini berhasil. Sebulan berikutnya, 14 intelektual Simalungun termasuk J. Wismar Saragih sepakat membentuk Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen, sebuah organisasi nirlaba yang bertugas menerbitkan buku-buku berbahasa Simalungun.

Selama 14 tahun berjalan, Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen berhasil memprakarsai perubahan sosial di Simalungun. Dalam penyebaran agama Kristen,

Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen menjadi penyedia literatur-literatur Kristen yang berbahasa Simalungun. Hal ini membuat agama Kristen semakin mudah diterima oleh masyarakat Simalungun. Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen juga memuat pemahaman tentang ajaran-ajaran Kristen dalam buletin bulanannya yaitu

Sinalsal. Prakarsa Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen membuat berbagai

komunitas Kristen Simalungun terbentuk. Alhasil, jumlah orang Simalungun yang memeluk Kristen bertambah secara signifikan.

Dalam pelestarian budaya Simalungun, Comite Na Ra Marpodah

Simaloengoen berhasil menjadi oposisi intelektual bagi dominasi kultural Toba.

Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen setiap tahunnya mencetak buku-buku

berbahasa Simalungun dalam jumlah yang tidak sedikit, bukan hanya literatur Kristen, tapi juga buku pelajaran dan buku pengetahuan umum. Tokoh-tokoh Comite

Na Ra Marpodah Simaloengoen berhasil memperjuangkan bahasa Simalungun agar

dipakai sebagai bahasa utama dalam institusi-institusi formal disamping bahasa Melayu. Semangat kemandirian Simalungun khas modernisme juga dikampanyekan

Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen melalui Sinalsal.

Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen merupakan sebuah gerakan sosio-

kultural. Organisasi ini berdiri sebagai wadah bagi Kristen Simalungun yang sebelumnya terombang-ambing secara identitas, antara menjadi intelektual Kristen yang secara budaya berada dalam arus Toba, atau sebagai orang Simalungun yang harus menyelamatkan eksistensi sukunya dari gempuran pendatang. Comite Na Ra

ketidakpastian identitas Kristen Simalungun di masa sebelumnya. Identitas baru itu adalah menjadi Kristen-Simalungun yang berjuang untuk kemandirian Simalungun.

Peran aktif Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen adalah menunjukkan identitas baru itu dalam karya-karya tulisnya maupun tindakan tokoh-tokohnya. Identitas ini yang kemudian tersebar dan melahirkan komunitas-komunitas Kristen Simalungun. Komunitas-komunitas ini pada periode berikutnya mengkristal menjadi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), gereja suku bagi masyarakat Simalungun.

5.2. Saran

Sebagai penutup atas karya ilmiah ini, berkaitan dengan hasil penelitian yang telah terpapar di karya ilmiah ini, penulis merasa bertanggung jawab menyampaikan saran-saran yang kiranya dapat menjadi perhatian untuk kebaikan bersama.

1) Sekalipun penelitian yang penulis lakukan sebagian besar berbentuk studi literatur, penelitian ini menggunakan literatur otentik (naskah asli atau arsip) yang sedikit. Hal ini berlangsung karena keterbatasan akses. Oleh karena itu, kesahihan karya ilmiah ini bisa dikritisi kembali dengan cara membenturkannya dengan sumber otentiknya, demi hasil yang lebih sahih. 2) Hal yang mesti diperhatikan dalam setiap pembangunan selain terpenuhinya

kesejahteraan masyarakat adalah terlindunginya nilai-nilai luhur masyarakat. Oleh karena itu, karya ilmiah ini harapannya bisa menjadi referensi ilmiah

bagi pemerintah Indonesia secara umum dan pemerintah Simalungun secara khusus, dalam perancangan pembangunan terkait nilai-nilai luhur masyarakat. 3) Semoga karya ilmiah ini bisa diakses oleh banyak kalangan masyarakat, baik

dengan cara penulisan ulang, penerbitan ulang, maupun pengkajian ulang. Pengetahuan tentang sejarah daerah dan sejarah intelektual sangat penting bagi masyarakat Indonesia, ditambah, saat ini Indonesia sedang memiliki berbagai proyek desentralisasi yang tercakup dalam kebijakan Otonomi Daerah (Otda) pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Agustono, Budi, dkk., Sejarah Etnis Simalungun, Simalungun: Tanpa nama penerbit, 2012.

Antoncich, Ricardo, Iman & Keadilan, Ajaran Sosial Gereja dan Praksis Sosial Iman, Yogyakarta: Kanisius, 1994.

Avan, Alexander, Parijs van Soematera, Medan: Rainmaker, 2010.

Dasuha, Juandaha Raya P., Perjumpaan Masyarakat Simalungun dengan Zending dan Kolonialisme: Suatu Analisis Historis, Sosio-politis dan Refleksi Teologis Tentang Dampak Perubahan Sosial yang Dihadapi Masyarakat Simalungun dalam Perjumpaannya dengan Zending dan Kolonialisme

Belanda 1865-1942, Medan: STT Abdi Sabda, 2009.

Dasuha, Juandaha Raya P., dkk., Tole! Den Timorlanden das Evangelium!,

Pematangsiantar: Kolportase GKPS, 2003.

End, Van Den, Ragi Carita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860an-sekarang,

Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989.

Hoekema, Alle Gabe, Berpikir dalam Keseimbangan yang Dinamis: Sejarah Lahirnya Teologi Protestan Nasional di Indonesia, Sekitar 1860-1960,

Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

Hutauruk, Jubil Raplan, Kemandirian Gereja: Pemikiran Historis Sistematis Tentang Gerakan Kemandirian Gereja di Sumatera Utara dalam Kancah Pergolakan Kolonialisme dan Gerakan Kebangsaan Indonesia, 1899- 1942, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.

Hutauruk, Jubil Raplan, Lahir, Berakar dan Bertumbuh di dalam Kristus, Tarutung: Kantor Pusat HKBP, 2011.

Jonge, Christiaan de, Gereja Mencari Jawab, Kapita Selekta Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.

__________, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

Kozok, Uli, Utusan Damai di Kemelut Perang, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010.

Marihandono, Djoko, dkk., Sejarah Perlawanan Sang naualuh Damanik Menentang

Kolonialisme Belanda di Simalungun, cetakan ke-2, Medan: Tanpa nama

penerbit, 2012.

__________, Muatan Lokal Bahasa Simalungun, Sinalsal, SMP Kalas IX,

Pematangsiantar: DPP Komite Nasional Pemuda Simalungun Indonesia. Padmono Sk, J.W. Saragih, Rasul Simalungun, Pematangsiantar: Yayasan Pdt. J.

Wismar Saragih, 1998.

Pedersen, Paul Bodholt, Darah Batak dan Jiwa Protestan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1975.

Reid, Anthony, Perjuangan Rakyat, Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera,

Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987.

Samuel, Hanneman, Genealogi Kekuasaan Ilmu Sosial Indonesia: Dari Kolonialisme

Belanda hingga Modernisme Amerika, Depok: Kepik Ungu, 2010.

Saragih, J. Wismar, Memorial Peringatan Pendeta J. Wismar Saragih (Marsinalsal),

Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1977.

Sihombing, Justin, Saratus Taon HKBP, 1861-1961, Pematangsiantar: Philemon dan Liberty, 1961.

Sinaga, Martin Lukito, Identitas Poskolonial “Gereja Suku” dalam Masyarakat Sipil,

Yogyakarta: LKiS, 2004.

Situmorang, Sitor, Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX,

Jakarta: Komunitas Bambu, 2009.

Sugiharto, I. Bambang, Postmodernisme, Tantangan Bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Sumbayak, El Imanson (Ed.), A Spiritual Desert Journey, Panitia Jubileum 95 Tahun GKPS Distrik IV, Jakarta: Tanpa nama penerbit, 1998.

Tambak, T.B.A. Purba, Sejarah Simalungun, Pematangsiantar: Tanpa nama penerbit, 1982.

Majalah:

Sinalsal, No. 1/April/1931 Sinalsal, No. 63/Juni 1936 Sinalsal, No. 88/Juli/1938 Sinalsal, No. 90/September/1938

Lampiran 1:

Peta Simalungun pada masa kolonialisme Belanda

Sumber: Buku Tole! Den Timorlanden das Evangelium! (2003)

Lampiran 2:

Lampiran 3:

Undang-undang pengaturan persawahan di Simalungun pada masa kolonialisme Belanda.

Lampiran 4:

Pustaha (kitab). Literatur kuno Simalungun.

Lampiran 5:

Tokoh-tokoh RMG.

Nommensen August Theis

J. Wismar Saragih

Lampiran 6:

Raja na pitu. Raja-raja Simalungun.

Lampiran 7:

Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen.

Lampiran 8:

G. L. Tichelman, Asisten Residen Simalungun dan Tanah Karo, mengunjungi kantor

Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen di Pamatang Raya tahun 1934.