BAB III PERANAN COMITE NA RA MARPODAH SIMALOENGOEN
3.3. Peranan di Bidang Kebudayaan
Dalam Sinalsal tertulis:
Halani dokah mardalan boekoe ampa hata Toba i parsikolahan ampa i partoempoean ni halak Kristen, lambin mandjalar ma hata ampa adat Toba hoe Simaloengoen on. Roh dokahni lambin roh tangkasni ma ai iahapkon halak Simaloengoen dob lambin banggal-banggal na marsikolah sapari na marladjar soerat ibagas hata Toba. Ai marhitei hata Toba ai lambin rarat do ampa adat Toba hoe Simaloengoen on, panrarat ni ae manedai do ai deba bani adat ampa hatani halak Simaloengoen. Ai boei pe na mardoemoe adat Batak Toba hoe bani adat (Batak) Simaloengoen, boei toemang do na daoh marsalisi, andjaha na soehar hoe bani adat ampa hata Simaloengoen. Gati pala songon na maborit oehoer ni halak Simaloengoen dompak halak Toba, halani lang marsiaroesan, ai adat na hormat i Toba, anggo iloeharhon ai bani halak Simaloengoen gabe songon na mangapsi iahap halak Simaloengoen atap na parihiron.100
Gagasan untuk memakai bahasa Simalungun tidak hanya diperjuangkan oleh
Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen melalui penerbitan literatur saja, tetapi juga melalui rekomendasi-rekomendasi ke pemerintah dan RMG. Dalam hal ini, Djaoedin Saragih banyak berperan. Dengan semangat nativisme, ia berkata:
”Sudah 25 tahun kekristenan di Raya, tetapi masih tetap bahasa Batak Toba yang dipakai di sekolah dan kebaktian gereja. Kami melihat bahwa guru- guru zending dari Tapanuli tidak mau belajar bahasa Simalungun. Itulah yang membuat pelajaran di sekolah menjadi macet dan kaku. Perlu tuan-tuan ketahui bahwa bahasa Simalungun jauh berbeda dengan bahasa Batak Toba. Karena itu saya meminta kepada tuan-tuan guru zending yang berasal dari Tapanuli yang bekerja di Raya agar mempelajari bahasa Simalungun dan apabila buku-buku pelajaran telah ada dalam bahasa Simalungun, hendaknya itulah yang diajarkan kepada anak-anak sekolah.”101
100
Terjemahan: Karena begitu lamanya beredar (dipakai) buku dan adat Toba di sekolah maupun di perkumpulan orang Kristen, makin merembeslah pengaruh bahasa dan adat Batak Toba ke tanah Simalungun. Makin lama makin jelaslah dirasakan orang Simalungun dampaknya khususnya setelah murid zending (yang ditobakan) makin beranjak desawa yang dulu bersekolah dan belajar dalam bahasa Toba. Sebab melalui bahasa Toba itu makin deraslah perembesan adat Toba ke Simalungun, perembesannya itu merusak adat dan bahasa Simalungun. Sering orang Simalungun merasa sakit hati (dilecehkan) yang dilakukan oleh orang Batak Toba, sebab tidak saling mengerti, karena adat yang hormat dan bahasa yang hormat di Toba kalau disampaikan pada orang Simalungun menjadi suatu bentuk penghinaan dan merendahkan.” Sinalsal No. 90/September/1938, hal. 3.
101
Ucapan tersebut disampaikan oleh Djaoedin Saragih dalam rapat guru-guru
zending di Pamatang Raya pada 2 November 1929. Djaoedin Saragih kemudian
menguraikan kata-kata bahasa Toba yang berbeda maknanya dengan bahasa Simalungun, bahkan ada kata-kata yang dalam bahasa Toba terdengar biasa saja tetapi dalam bahasa Simalungun tergolong tabu.
Tambah Djaoedin Saragih lagi, ”... Kalau masih terdengar kata-kata seperti itu, maka dalam tempo satu tahun ini, mulai tanggal 2 November 1929, baiklah mereka diadili ke kerapatan karena membuat malu orang Simalungun.” Atas kerja keras Djaoedin, Tuan Soemajan Saragih, pemimpin kerajaan Raya, menetapkan bahasa Simalungun sebagai bahasa pengantar (voertaal) satu-satunya di seluruh wilayah kerajaan Raya.
Djason Saragih, ketua Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen, menjadi kepala sekolah pertama di Simalungun. Ia terutama memperjuangkan bahasa Simalungun di sekolah-sekolah. Buah dari upaya memperjuangkan pemakaian bahasa Simalungun di sekolah-sekolah mulai tampak jelas pada 1936. Dari 102 sekolah di seluruh wilayah Simalungun, terdapat 46 berbahasa Simalungun, 41 berbahasa Batak Toba dan 1 berbahasa Karo. Sekolah yang memakai bahasa Simalungun sudah lebih banyak daripada yang memakai bahasa Batak Toba.102
Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen dalam perjuangannya menawarkan
social progress/hamajuon (kemajuan) kepada orang Simalungun. Sebelumnya, orang
Simalungun sering dituduh pemalas dan suka memakai candu, sehingga tidak tertarik terhadap agama, persawahan dan pendidikan. Comite Na Ra Marpodah
102
Simaloengoen mencoba menjadi counter stigma (perlawanan paradigma)atas itu. Hal ini membuat gerakan Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen dijuluki sebagai gerakan kemandirian Simalungun. Semangat kemandirian tersebut paling terasa dalam tulisan-tulisan yang muncul di Sinalsal. Salah-satunya adalah pantun berjudul
Siparmaloeonkon ni halak Simaloengoen.
Tabel 3. Kumpulan pantun Siparmaloeonkon ni halak Simaloengoen yang dimuat majalah Sinalsal,103
Siparmaloeonkon ni halak Simaloengoen
berserta terjemahannya.
”Siparmaloeonkon” orang Simalungun
Marboeah ma galoegoer Tading i joema roba Anggo na hoerang oehoer Tarjoel ma hoe Toba
Ilandja ma baloehoer Laho hoe dagang dokah Hoendja dalan maroehoer Ningon laho marsikolah
Irandoeg ma hadingan Hoe pongkalan Hatoemoean Ganoep do partadingan Anggo seng dong parmaloean
Berbuahlah asam gelugur
Yang ada di ladang ”Joema roba”
Kalau kita kurang bijaksana
Kita akan dijual sebagai budak ke Toba
Dipikullah ”baloehoer”
Untuk dijual di pekan Jika ingin bijaksana Haruslah kita bersekolah
Dipikullah ”hadingan”
Ke ”pokkalan” tempat orang berkumpul Semuanya kita ketinggalan
Kalau tak punya ”parmaloean”
103
Horbou paninggalei e Boban hoelang-hoelangmoe Antong baor malistang Ilonggi-longgi laklak Bani sihala bolon Bangsa Simaloengoen e Boban parmaloeanmoe” Antong bador ma hita Idodingdodingi halak Bani dalan na bolon!
Kerbau yang biasa membajak Jangan lupa bawa kukmu
Jadi lubangi dengan bor memanjang Di celah-celah kulit kayu
Di ”sihala” yang besar Hai, bangsa Simalungun Bawalah ”parmaloean”-mu Jadi sangatlah kita dipermalukan
Diejek-ejek orang lain dengan nyanyian Di jalanan besar!
Sinalsal memuat berbagai tema. Mulai dari kristenisasi, budaya, sampai ekonomi. Di dalam Sinalsal ada juga artikel tentang bagaimana bertani dengan sistem persawahan. Sejarah raja-raja juga dimuat didalamnya. A.G. Hoekema menuliskan, ”Sinalsal adalah sarana memperjuangkan emansipasi yang diinginkan orang Kristen- Simalungun”.104
Sinalsal layak disebut sebagai karya terpenting Comite Na Ra Marpodah
Simaloengoen. Di dalam Sinalsal, tertuang ide-ide dasar yang filosofis tentang kemajuan Simalungun, khususnya Kristen-Simalungun. Sinalsal juga bisa disebut sebagai laboratorium ide bagi tokoh-tokoh Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen
104
Alle Gabe Hoekema, Berpikir dalam Keseimbangan yang Dinamis: Sejarah Lahirnya Teologi Protestan Nasional di Indonesia, Sekitar 1860-1960, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997, hal. 156.
untuk merancang serangkaian aksi kemandirian bagi Simalungun di masa berikutnya (paska Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen). Pemikiran-pemikiran J. Wismar Saragih dan Bendjamin Damanik menjadi inti majalah Sinalsal.105
Sejumlah buku diterbitkan oleh Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen.
Pada 8 tahun pertama, sudah terbit 20 jenis buku berbahasa Simalungun yang dicetak sebanyak 27000 eksamplar dan telah laku sebanyak 15000 eksamplar, baik di Simalungun maupun luar Simalungun (Padang/Tebing, Bedagai, Serdang dan batubara). Organisasi ini juga menerbitkan kalender bulanan (Maandkalender) dan almanak saku (Susukkara). Buku terbitan pertama pada 1929 adalah buku tentang penanaman kopi (Parkonoenan Kopi), cara memerintah (Panggomgomion), nasihat bekerja (Podah Marhordja), dan buku-buku Kristen pada 1930.
Buku-buku pelajaran (Rudang Ragi-ragian dan Sitolusaodaron) terbit pada 1931. Buku cara bersawah (Parsabahon) dan buku pelajaran terbit pada 1932. Buku tata ibadah Kristen (Agenda) dan buku pelajaran terbit pada 1933. Buku renungan harian Kristen (Manna), saduran kitab Perjanjian Lama (Parpadanan Na Basaia) dan tata bahasa Simalungun (Ruhut Manurat) terbit pada 1934. Almanak Kristen
(Susukkara) dan saduran Perjanjian Baru (Padan Na Baru) terbit pada 1936.106
105
Juandaha Raya Purba Dasuha, Perjumpaan Masyarakat Simalungun dengan Zending dan
Kolonialisme, Medan: STT Abdi Sabda, 2009, hal. 165.
Pada tahun ini juga terbit kamus pertama Simalungun karangan J. Wismar Saragih, dengan
bantuan pemerintah dari cukai karet (rubbergelden) berjudul Partingkian ni Hata Simalungun.
106
J. Wismar Saragih secara khusus mendirikan dua perpustakaan di Pematang Raya, yaitu perpustakaan Dos ni Riah dan perpustakaan pribadi Parboekoenan ni Pan
Djaporman pada 1937. Pada tahun yang sama, J. Wismar Saragih mendirikan
Parsaoran ni Laingan, sebuah sanggar kesenian. Comite Na Ra Marpodah
Simaloengoen bekerjasama dengan pihak kerajaan-kerajaan Simalungun menggagasi
berdirinya Roemah Poesaka Simaloengoen (Museum Simalungun) pada 1940 dan organisasi Partuha Maujana Simalungun (organisasi persatuan tetua dan kerabat kerajaan Simalungun). Kedua lembaga ini masih berdiri dan berfungsi sampai sekarang.
Salah satu yang diketahui paling menohok hati para intelektual Simalungun adalah perasaan kalah orang Simalungun di lapangan pertanian, khususnya akibat migrasi dan penetrasi padi-sawah orang Toba di tanah Simalungun. Persoalan ini, menjadi persoalan serius yang dibahas di Sinalsal. Ada tulisan bersambung bertajuk
Mardjoema (berladang) yang bertujuan mengangkat seluk-beluk perladangan dari
berbagai aspek yang terkait. Tulisan ini juga bertujuan untuk mendorong orang Simalungun untuk mengangkat pacul dan melangkah menggarap ladang dan sawah baru.
Teks Mardjoema dimulai dengan perumusan hakekat ”kerja”, yaitu: Manusia mengambil, mengangkut dan menghabiskan apa yang disediakan Tuhan di muka bumi ini. Manusia awalnya seperti burung, yang menghabiskan buah yang ditemuinya dimanapun. Hal ini kemudian tidak mungkin lagi dilakukan, sehingga lahirlah kebudayaan: Dari yang berburu menjadi beternak, dari yang berladang berpindah-pindah menjadi menetap.
Dituliskan lagi dalam Mardjoema, terdapat dua macam pertanian. Pertama, bertani di ladang. Cara ini cenderung membuat tanah cepat kehilangan kesuburannya sehingga kemudian diterlantarkan (kasus Simalungun). Hal ini masih bisa diatasi kalau orang Simalungun mencari pupuk kandang dan belajar dari Mintori Landbouw
(Dinas Pertanian setempat). Hal ini penting karena semakin lama tanah rakyat Simalungun telah diambil dan dijadikan perkebunan.
Kedua, bertani di sawah, yang lebih baik dari bertani di ladang/darat. Walaupun hal ini tergantung pada budi baik pemerintah Belanda untuk membuka saluran irigasi seperti di Pane dan Tanah Jawa, yang selama ini hanya menguntungkan orang Toba. Hal ini bukan karena orang Toba di-anak-emas-kan, melainkan karena orang Simalungun kurang berdaya dan kurang gesit mengerjakan apa yang semestinya dikerjakan. Karena itu orang Simalungun dianjurkan pergi ke Nagori Dolog karena disitu akan dibuka irigasi sawah, dengan menekankan bahwa kita (orang Simalungun) akan kalah cepat kalau tak sigap.107
Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen melalui karya tulisnya telah
merumuskan sebuah ruang identitas bagi penghidupan identitas Kristen Simalungun. Sebelumnya, kaum Kristen Simalungun terombang-ambing, antara pietisme dan nativisme.108
107
Martin Lukito Sinaga, op.cit., hal. 84-85.
Antara social progress (kemajuan sosial, berpendidikan dan beragama, tapi mengikuti arus Toba) atau social defense (pertahanan sosial, mempertahankan kultur Simalungun namun berpotensi merusak hubungan dengan RMG). Comite Na
108
Nativisme adalah penonjolan keaslian atau kepribumian. Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Ra Marpodah Simaloengoen menemukan titik tengahnya, tempat untuk kaum Kristen Simalungun berpijak.
Dalam Sinalsal tertulis:
Ada tidaknya suatu bangsa tergantung pada jawaban atas soal ini: Adakah aksaranya? Adakah budi bahasanya, adatnya, perumpamaannya, gendangnya, tariannya? ... dan untuk kita Simalungun semua itu ada ... 1. Aksara kita: Kita punya aksara ... dan sedikit berbeda karena ada nada suara yang khas (inggou) ... 2. Gendang (gual) kita: Gendang itu biasanya kita pakai pada pesta kematian ... Kita orang Kristen ada yang tidak mau lagi main gendang ... menurut saya hal itu salah, sebab apa bedanya gendang itu dengan musik yang ada di gereja sekarang ini? Musik gereja itu dari Eropa, dan kita pun punya musik gendang sendiri ... Soal adat, kita bawalah adat itu ke zaman yang baru ... Pertimbangkanlah hal itu!109
109