• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERANAN COMITE NA RA MARPODAH SIMALOENGOEN

3.2. Peranan di Bidang Penginjilan

Sebelum kemunculan Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen, bahasa Simalungun dalam aktifitas kristenisasi merupakan bahasa yang terpinggirkan. Sangat jarang bahasa Simalungun digunakan dalam khotbah RMG. Para penginjil selalu menggunakan bahasa Toba.

Ada kekeliruan yang menyebabkan hal ini terjadi. Kekeliruan tersebut adalah RMG memandang remeh perbedaan antara Simalungun dan Toba. RMG percaya bahwa suku Simalungun adalah cabang dari Batak yang nenek moyangnya berasal dari Samosir dan Pusuk Buhit, sebagaimana klaim mitos Batak Toba,86 sehingga perbedaan Simalungun dan Toba tak perlu dipandang lebih jauh. Ditambah lagi tenaga penginjil yang membantu RMG adalah orang Batak Toba, semakin kokohlah pendirian RMG untuk menggunakan bahasa Toba. Tokoh RMG bernama Bregenstroth87 menyatakan, ”Orang Simalungun cukup mengerti bahasa Toba, namun dewasa ini, dengan sengaja setiap penyimpangan bahasa dijadikan bahasa pustaka.”88

Dari sudut pandang Simalungun, sikap RMG yang menggunakan bahasa Toba dalam mengkhotbahi orang-orang Simalungun merupakan sikap yang ”tidak

Orang Simalungun justru dinilai menyimpang.

86

Jubil Raplan Hutauruk, Kemandirian Gereja: Pemikiran Historis Sistematis Tentang Gerakan Kemandirian Gereja di Sumatera Utara dalam Kancah Pergolakan Kolonialisme dan Gerakan Kebangsaan Indonesia, 1899-1942, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993, hal. 163.

87

Bregenstroth adalah pendeta RMG yang bertugas di Pematang Siantar. Bregenstroth sangat mengutamakan pelayanan terhadap orang-orang Batak Toba yang ramai bermigrasi ke Simalungun.

88

tepat, sedikit arogan dan melukai”.89 Dalam budaya Simalungun, ada istilah ahap,90

Di sisi lain, ketika orang Toba memandang rendah orang Simalungun karena belum beragama dan tak berpendidikan, sebaliknya orang Simalungun juga memandang rendah orang Toba. Dalam sejarahnya, orang-orang Toba yang datang ke Simalungun biasanya adalah orang yang hendak bekerja sebagai buruh upahan tuan tanah. Hal ini membuat orang Simalungun skeptis terhadap ajaran yang disampaikan orang Toba, karena dianggap rendah. Superioritas yang dianut keduanya membuat Toba dan Simalungun sulit menyatu sekalipun itu dalam aktifitas keagamaan.

bagian terdalam dari perasaan orang Simalungun.Salah satu ahap Simalungun adalah penggunaan bahasa. Tanpa penggunaan bahasa Simalungun, akan sangat sulit meresapkan injil ke dalam kehidupan orang Simalungun.

Karena didominasi Toba, sempat orang Simalungun beranggapan bahwa Yesus Kristus adalah orang Toba. Seperti yang ditanya seorang Simalungun beragama suku kepada seorang guru injil, ”Ai halak Toba do Toehan Jesoes Goeroe?” nini. ”Ai sai hata Toba do tong iloearhon Toehan Jesoes hoebogei ibasa

ham?” (Orang Toba kah Tuhan Yesus itu, Guru? Selalu kudengar bahasa Toba yang

dipakai Tuhan Yesus yang anda baca?)91

Kekeliruan ini yang disadari oleh Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen.

Komite memperjuangkan penggunaan bahasa Simalungun dalam kristenisasi guna

89

Martin Lukito Sinaga, op.cit., hal. 65.

90

Ahap adalah suatu integritas kepribadian yang terbentuk melalui adat istiadat Simalungun yang kemudian teraktualisasi dalam solidaritas dan persaudaraan. El Imanson Sumbayak (ed.), op.cit.,

hal. 4.

91

mengoptimalkan pengkristenan Simalungun. Komite menerbitkan sejumlah literatur yang berhubungan dengan aktivitas kristenisasi dalam bahasa Simalungun, seperti: Kathekismus kecil karangan Luther, ayat-ayat alkitab, liturgi gereja, nyanyian- nyanyian gerejani, cerita-cerita Alkitab Perjanjian Lama dan Baru, berikut bacaan untuk pembangunan rohani.92

Pada 1930, Wismar Saragih resmi menjadi orang Simalungun pertama yang menjadi pendeta. Sejak saat itu ia dikenal sebagai Pdt. J. Wismar Saragih.

Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen berupaya

membuat ajaran Kristen semakin mudah diterima dan dipahami oleh orang Simalungun.

93

Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen memiliki majalah bulanan bernama

Sinalsal. Dalam tulisan-tulisan di majalah Sinalsal, yang tentu berbahasa

Simalungun, tertuang ajaran Kristen yang bercorak pietisme.

Dalam khotbah-khotbahnya, J. Wismar Saragih aktif menggunakan bahasa Simalungun. Ia juga menggunakan tata bahasa dan cerita yang dekat dengan keseharian orang Simalungun.

94

92

Paul Bodholt Pedersen, op.cit., hal. 104-105.

Pietisme ini diperoleh J. Wismar Saragih, redaktur Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen, dari corak pengajaran Nommensen.

93

Nama Pdt. J. Wismar Saragih diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Pematangsiantar. Di jalan tersebut kantor pusat GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun) berdiri.

94

Pietisme adalah corak rohani yang menekankan kesalehan pribadi dan penghayatan iman. Christiaan de Jonge, Gereja Mencari Jawab, Kapita Selekta Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993, hal. 34.

Dalam pietisme, pribadi/individu memperoleh panggung utama. Seorang pietis harus memperlihatkan melalui pribadinya, ”kekuatan kehidupan baru di dalam (Yesus) Kristus dan harapan akan kemuliaan yang akan datang.”95

Kemajuan paling mendasar dalam kristenisasi khas J. Wismar Saragih, adalah penerjemahan istilah ”Allah” menjadi ”Naibata” (Simalungun). Naibata

adalah sebutan agama suku Simalungun untuk dewa penguasa segalanya. J. Wismar Saragih dengan penuh percaya diri menggunakan istilah dari agama suku itu. Sebagai contoh, sebuah kalimat dari majalah Sinalsal: Turun ma ham Naibata na i atas!

Dalam cara pandang yang seperti ini, individu penganut agama suku akan dipandang sangat bermasalah dan kafir, sehingga harus segera dikristenkan.

96

Melalui pemakaian istilah dari agama suku ini disertai berbagai penjelasannya yang juga dimuat di Sinalsal, semangat kekristenan disuntikkan tepat di akar budaya Simalungun. Tak hanya sebatas teks, istilah tersebut terus dipakai dalam kegiatan kristenisasi sehingga meraih hasil yang memuaskan. Hal yang tak terpikirkan oleh penginjil RMG.

Gerakan penerbitan literatur Kristen Comite Na Ra Marpodah Simalungun

kemudian disambut oleh munculnya gerakan-gerakan kristenisasi lain seperti: Kongsi

Laita, Kongsi Sintoea Protestant Simaloengoen (KSPS), Kongsi Sihol Matoea, dan

Kas Saksi ni Kristus. Sukses yang diraih oleh gerakan-gerakan kemandirian Kristen

95

Van den End, Ragi Carita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860an-sekarang, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989, hal. 39.

96

Simalungun ini adalah meningkatnya jumlah orang Kristen Simalungun menjadi 5700 orang pada 1940.97

Aktifitas Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen bukan tanpa halangan. Pada 1935, Ephorus mengajukan pemutasian J. Wismar Saragih dari Simalungun ke Pearaja. J. Wismar Saragih menolak, ia sampai harus menghubungi direktur RMG di Barmen agar pemutasiannya dibatalkan. Direktur RMG ketika itu adalah J. Warneck, orang yang sebelumnya menjabat sebagai Ephorus di Sumatera, sehingga kenal dengan J. Wismar Saragih. Pemutasiannya pun dibatalkan. Dalam otobiografi J Wismar Saragih tertulis:

Ada permintaan Ephorus pada 15 Agustus 1935 supaya Pd Wismar menjadi Evangelis Umum bertempat di Pearaja. Rupanya ada yang mengusulkan jika Pd Wismar dipindahkan tidak akan berkembang lagi bahasa Simalungun di daerah itu dan bahasa Toba-lah yang dipakai di seluruh Simalungun. Dengan pendek Pd Wismar menjawab: ”Makanya saya mau jadi pendeta ialah karena saya melihat Simalungun, itulah sebabnya saya jadi pendeta di sini.” Tetapi mereka mendesak juga dan dikatakan dapat menaikkan gajinya, sebab dari 50 pendeta di Tanah Batak hanya dia katanya yang sanggup ke sana. Pd. Wismar terus merasakan hal ini akan menghalang-halangi jalannya bahasa Simalungun dan dijawab: ”Rupanya Tuan belum mengetahu bahwa saya bekerja tidak melihat gaji. Tuan boleh ambil gaji saya yang seharusnya dan boleh diberikan kepada Evangelis Umum itu, biarkanlah saya terus menjadi pendeta di sini. Sebab rumah yang saya tempati ini, bukan rumah jemaat dan sawah yang di sana akan memberi gaji kami.”98

Dalam kasus yang berbeda, J. Wismar Saragih juga punya kegelisahan kenapa bukan HKBP distrik Simalungun yang dibentuk. Dalam suratnya kepada

97

Bandingkan dengan masa sebelum Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen , pada 1903- 1928, yang hanya berhasil mengkristenkan 900 orang dalam 25 tahun.

98

Otobiografi ini ditulis J. Wismar Saragih dengan sudut pandang orang ketiga. J. Wismar Saragih, op.cit., hal. 145.

penginjil H. Volmer di Saribudolog pada 27 Oktober 1937, J. Wismar Saragih menuliskan:

Sudah sejak awal ada lima distrik di HKBP, yaitu Angkola, Silindung, Humbang, Toba dan Simalungun. Tetapi karena bertambah luasnya daerah pelayanan tuan Praeses Pematang Siantar, maka nama Simalungun menjadi hilang begitu saja dan diganti dengan distrik Ooskust van Sumatra, Aceh dan

Dairilanden. Perubahan nama itu tidak adil sebab pusat kegiatan distrik

berada di Simalungun, tetapi nama Simalungun dihapuskan. Kalau memang tidak berhubungan lagi Simalungun ke sinode am HKBP, maka saya sebagai urusan dari orang Simalungun tidak akan hadir lagi mengikuti sinode tersebut. Bahkan sinode distrik Ootkust pun tidak pantas diikuti orang Simalungun. Kaum Kristen Simalungun hanya pantas ikut dalam distrik Simalungun... Tuan tahu bahwa saya begitu mementingkan kepentingan perjuangan identitas Simalungun dalam perkabaran injil. Untuk itu, adalah lebih berharga bahwa saya menyampaikan Injil kepada orang Simalungun daripada gaji kependetaan saya. Mohon tuan mengerti dan memenuhi keinginan kami.99

HKBP dalam Tata Gereja HKBP 1940 tetap mengesahkan nama HKBP distrik Oostkust van Sumatra, Aceh dan Dairilanden, sekalipun telah diprotes terlebih dahulu dalam surat J. Wismar Saragih kepada Volmer. Komunitas-komunitas Kristen Simalungun mengajukan keberatan. Sinode am HKBP pada 10-11 juli 1940 di Pearaja membicarakan keberatan orang Simalungun ini. Lalu diputuskanlah agar HKBP membicarakan hal tersebut dengan jemaat Simalungun. Dalam pertemuan dengan jemaat-jemaat Simalungun di Raya, Saribudolog dan Nagoridolog, pada 26 September 1940, dipenuhilah keinginan jemaat Simalungun untuk membentuk HKBP distrik Simalungun.

99