1 tahun Sekitar 20 % 4 tahun Sekitar 50 % 8 tahun Sekitar 80 % 13 tahun Sekitar 92 %
Berdasarkan tabel tersebut, didapatkan kesimpulan bahwa usia sekolah dasar yaitu usia 6-12 tahun merupakan masa perkembangan kognitif yang paling baik. Pada usia ini laju pertumbuhan intelegensi anak berkembang pesat, sehingga kemampuan berpikirnya juga berpotensi untuk meningkat tajam.
3. Kemampuan afektif
Belajar dipandang sebagai upaya sadar seorang individu untuk memperoleh perubahan perilaku secara keseluruhan, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Namun hingga saat ini dalam praktiknya, proses pembelajaran di sekolah tampaknya lebih cenderung menekankan pada pencapaian perubahan aspek kognitif (intelektual), yang dilaksanakan melalui berbagai bentuk pendekatan, strategi dan model pembelajaran tertentu. Sementara, pembelajaran yang secara khusus mengembangkan kemampuan afektif tampaknya masih kurang mendapat perhatian. Kalaupun
dilakukan mungkin hanya dijadikan sebagai efek pengiring (nurturant effect)
atau menjadi kurikulum sampingan yang disisipkan dalam kegiatan
pembelajaran utama yaitu pembelajaran kognitif atau pembelajaran psikomotor.
Secara konseptual maupun empirik, diyakini bahwa aspek afektif memegang peranan yang sangat penting terhadap tingkat kesuksesan seseorang dalam bekerja maupun kehidupan secara keseluruhan.
commit to user
II - 16 Secara garis besar perkembangan afektif yang terjadi pada anak usia 6- 12 tahun, antara lain:
a. Terjadi perubahan dalam konteks serta bentuk-bentuk tekanan, peningkatan perlibatan emosi, terfokus.
b. Mulai muncul sikap anti-sosial, depresi,ketakutan dan phobia.
c. Mulai mengurangi interaksi dengan orang tua dan mulai tertarik pasangan atau gang.
d. Meningkatnya empasis pada aspek sosial sekolah. e. Perubahan dalam perkembangan moral.
Dengan demikian, diperlukan sebuah proses pembelajaran tersendiri yang mampu memacu kemampuan afektif anak sehingga kelak ketika mereka dewasa bukan hanya fisik dan intelektualnya yang maju, namun juga kecerdasan emosional mereka.
D. Peruangan Ideal untuk Mendukung Kemampuan Motorik, Kognitif, dan Afektif Anak
Preiser dalam Laurens (2004:1) menjelaskan bahwa kebiasaan mental dan sikap perilaku seseorang dipengaruhi oleh lingkungan fisiknya. Adapun lingkungan fisik tersebut antara lain berupa kondisi fisik hunian (bangunan), ruang (interior) beserta segala perabotnya. Jika bangunan itu memiliki ruang- ruang yang sangat nyaman untuk dihuni dan untuk beraktivitas di dalamnya, maka dapat mempengaruhi pembentukan dan perkembangan perilaku manusia.
Ruang yang baik untuk perkembangan anak usia 6-12 tahun, yaitu ruangan
yang menyediakan area-area aktivitas tersendiri yang meliputi entry zone, messy
zone, active zone, dan quiet zone (Olds, 2001:349). Penggunaan unsur-unsur interior tidak boleh terlalu dominan terhadap unsue lainnya melainkan seimbang
commit to user
II - 17 atau sesuai prinsip-prinsip perancangan interior, supaya tidak menimbulkan kekacauan di dalam ruangan (Laksmiwati, 1989). Unsur-unsur perancangan tersebut meliputi garis, bentuk, motif, tekstur, ruang, warna, penerangan, akustik, dan bahan.
Adapun prinsip-prinsip perancangan interior meliputi harmoni atau keselarasan, proporsi, keseimbangan, irama, dan titik berat. Para psikolog telah melakukan beberapa eksperimen yang telah dapat dibuktikan bahwa penggunaan warna yang tepat untuk sekolah dapat meningkatkan proses belajar mengajar, baik bagi siswa maupun gurunya. Suatu lingkungan yang dirancang dengan baik, bukan hanya memberi kemudahan belajar, tetapi juga dapat mengurangi masalah-masalah perilaku yang negatif (Darmaprawira., 2002:133).
1. Bentuk ruang
Menurut teori Francis D.K. Ching terdapat tiga macam bentuk dasar peruangan. Berikut ini adalah penjelasan tentang bentuk dasar peruangan beserta analisa psikologinya.
Bentuk dasar Keterangan
1. Persegi · Persegi merupakan bentuk yang
netral,statis, dan solid.
· Mudah dalam pengolahan
sirkulasi.
· Efisiensi dalam pemakaian
ruang.
· Memudahkan dalam pekerjaan
struktur.
2. Segitiga · Segitiga meurpakan bentuk yang
commit to user
II - 18 disederhanakan.
· Kurang mudah dalam
pengolahan sirkulasi.
· Kurang fleksibel untuk
dikembangkan.
· Kurang efisien dalam pemakaian
ruang.
3. Lingkaran · Sulit disederhanakan.
· Memiliki gerak putar yang kuat.
· Mudah dalam mengolah
sirkulasi.
· Memiliki sudut pandang ke
segala arah.
· Sulit dalam pengerjaan struktur.
Bentuk-bentuk dasar peruangan inilah yang nantinya akan menjadi dasar dalam merancang bentuk-bentuk peruangan istana anak yang mengedepankan aspek psikologi anak untuk memaksimalkan kemampuan motorik, kognitif, dan afektif anak.
2. Penataan furnitur
Menurut Depdikbud (1992:9-12), furnitur merupakan kebutuhan penting
bagi penyelenggaraan berbagai fasilitas pembelajaran bagi anak. Jenis dan ukuran perabot disesuaikan dengan kebutuhan pelaksanaan pendidikan bagi anak-anak. Perabot-perabot (meja, kursi, rak untuk alat pendidikan, dan rak simpan untuk barang milik anak didik) tersebut hendaknya dicat dengan warna muda yang menarik atau dengan pelitur biasa.
commit to user
II - 19 Adapun ukuran-ukuran perabot yang direkomendasikan yaitu:
a. Meja anak berukuran p = 120 cm, l = 75 cm, dan t = 47-50 cm. b. Kursi anak berukuran p = 32-35 cm, l = 27-30 cm, dan t = 30 cm. c. Rak untuk alat pendidikan berukuran p = 150 cm, l = 40 cm, dan t =
65 cm.
d. Rak simpan barang milik anak didik (loker) merupakan rak besar yang berkotak-kotak. Adapun ukuran tiap-tiap kotak tersebut, yaitu p = 30 cm, l = 30 cm, d = 35 cm, dan t = ± 100 cm (tiga tingkat).
Ruang yang kosong tanpa ada benda satupun di dalamnya tentu tidak akan memuaskan kebutuhan manusia, apabila ruang telah dilangkapi dengan furnitur, barulah ruang tersebut dapat berfungsi. Penyusunan furnitur harus disesuaikan dengan kebutuhan guna kenyamanan si pemakai sedang
fungsi
furnitur
tidak dapat dipisahkan dengan faktor estetika. Dalamperencanaan kita harus mengetahui terlebih dahulu jenis aktivitas, sehingga
kita tahu bentuk
furnitur
yang akandibuat terhadap luasan ruang, si
stempencahayaan, pemilihan warna serta kondisi-kondisi lainnya.
Penyusunan furnitur akan menimbulkan berbagai aspek yang berhubungan dengan jenis aktivitas, fungsi, maupun segi-segi visual. Semua ini memiliki kaitan antara aspek yang satu dengan aspek yang lain. Setelah
semua
fak
tor tersebut terperhatikan kemudian meningkat pada tahapberikutnya yaitu bagaimana menerjemahkannya dalam desain.
Desain furnitur dibagi atas dua kategori, yaitu:
a. Furnitur yang berbentuk case (kotak) termasuk chest, meja tulis,
commit to user
II - 20 semacam ini di Indonesia masih dibuat dari kayu walaupun bahan- bahan lain bertambah populer.
b.
Furnitur
yang dilapisi, misalnya sofa, kursi-kursi yang seluruhnya atau sebagian diberi pelapis termasuk perlengkapan-perlengkapan tidur.3. Pemilihan warna
Warna merupakan aspek yang dapat mempengaruhi penampilan visual suatu ruang. Warna juga dapat mengkamuflasekan sesuatu, misalnya ruangan yang sempit dapat kelihatan lebih luas dan sesuatu yang mepunyai proporsi kurang bagus menjadi bagus ( John F. Pile, 1995 ).
Suasana suatu ruang ditentukan
oleh
warna. Menurut John OmbasedSimonds, warna membantu segi visualisasi dan kesan psikologi untuk penampilan karateristik suatu ruangPemilihan warna juga berlaku pada interior ruangan pada bangunan yang menampung aktivitas anak-anak. Warna dianggap sebagai faktor penting yang mampu memicu perasaan tertentu bagi si anak.