• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMBANG ANAK

A. Konsep Bermain Sambil Belajar

Bermain adalah hal yang sangat penting bagi anak-anak karena dengan bermain mereka dapat mengaktualisasikan dirinya sendiri. Selain itu, bermain juga sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak karena bermain merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam periode perkembangan diri anak, meliputi dunia fisik, sosial dan sistem komunikasi.

Para ahli berpendapat, anak-anak harus bermain agar mereka dapat mencapai perkembangan yang optimal. Herbert Spencer (Catron & Allen,1999) menyatakan bahwa anak senang bermain karena mereka mempunyai energi berlebih. Energi ini yang mendorong mereka melakukan aktivitas sehingga mereka terbebas dari perasaan tertekan. Bermain juga merupakan sarana bagi anak-anak untuk menyalurkan energi berlebihnya.

Seorang anak mampu mengembangkan harga dirinya melalui bermain, karena dengan bermain seorang anak memperoleh kemampuan untuk menguasai tubuhnya, benda-benda, dan keterampilan sosial. Anak-anak bermain dengan cara berinteraksi dan belajar mengkreasikan pengetahuan. Bermain juga merupakan cara bagi seorang anak untuk berpikir dan menyelesaikan masalah. Anak-anak membutuhkan pengalaman langsung dalam interaksi sosial agar mereka memperoleh dasar kehidupan sosial. Anak-anak lebih menyukai bermain karena kegiatan bermain mengandung unsur-unsur antara lain: (1) menyenangkan dan menggembirakan; (2) memunculkan motivasi

commit to user

II - 2 dalam diri anak; (3) spontan dan sukarela; (4) anak-anak dapat terlibat aktif bersama-sama; (5) anak-anak berlaku pura-pura atau memerankan sesuat; (6) aturan yang berlaku disesuaikan dengan kebutuhan anak; (7) anak dapat aktif bergerak/berpikir; (8) fleksibel karena anak bebas memilih.

Bermain bagi anak berkaitan dengan peristiwa, situasi, interaksi dan aksi. Mereka mengacu pada aktifitas seperti berlaku pura-pura dengan benda, sosiodrama, dan permainan yang beraturan. Bermain juga berkaitan dengan tiga hal, yakni keikutsertaan dalam kegiatan, aspek afektif, dan orientasi tujuan. Bagi anak-anak, bermain adalah aktifitas yang dilakukan karena ingin, bukan karena harus memenuhi tujuan atau keinginan orang lain. Anak-anak juga memandang bermain sebagai kegiatan yang tidak memiliki target. Mereka dapat saja meninggalkan kegiatan bermain kapanpun mereka mau.

Dalam Bodrova dan Leong (1996), beberapa ahli yakin bahwa bermain mempengaruhi perkembangan anak melalui tiga cara yaitu:

1. Bermain menciptakan Zone of Proximal Developmental (ZPD)

bagi anak.

ZPD merupakan wilayah yang menghubungkan kemampuan aktual dan potensial anak. Saat bermain, anak melakukan sesuatu yang melebihi usianya dan tingkah laku mereka sehari-hari. Bermain dapat diibaratkan

sebagai kaca pembesar/magnifying glass yang berisi semua kecenderungan

perkembangan. Peran, aturan, dan dukungan motivasional dimungkinkan oleh situasi imajiner yang menyediakan bantuan bagi anak untuk membentuk tingkat yang lebih tinggi pada ZPDnya.

2. Bermain memfasilitasi separasi/pemisahan pikiran dari obyek dan aksi.

Di dalam bermain, anak lebih menuruti apa yang ada dalam pikiran dari realitanya. Hal ini dikarenakan, bermain memerlukan penggantian suatu

commit to user

II - 3 obyek dengan obyek yang lain. Anak-anak mulai memisahkan makna atau ide suatu obyek dengan obyek itu sendiri. Pemisahan antara makna dengan obyeknya merupakan persiapan untuk perkembangan membuat gagasan dan berpikir abstrak. Di dalam berpikir abstrak, anak mengevaluasi, memanipulasi, dan memonitor ide dan pikiran tanpa mengacu pada dunia nyata

3. Bermain mengembangkan penguasaan diri.

Di dalam bermain, anak tidak dapat bertindak sembarangan. Anak mesti bertindak sesuai skenario. Misalnya anak yang bertindak sebagai bayi harus menirukan tangis bayi dan berhenti ketika ‘sang ayah’ membujuknya. Kegiatan menangis merupakan tingkah laku yang disengaja yang menggunakan fungsi mental yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa anak dapat menguasai tingkah laku mereka. Bermain merupakan kesadaran dan kontrol yang lebih signifikan dari konteks lain.

Menurut Semiawan (2002), manusia belajar secara terus menerus untuk mampu mencapai kemandirian dan sekaligus mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan lingkungan. Belajar dapat diartikan sebagai suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku, sebagai hasil dari pengalaman.

Banyak ahli yang berpendapat bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang dihasilkan oleh proses pengalaman. Hal ini tidak ditentukan oleh kematangan atau kecenderungan bawaan saja. Tingkah laku yang dihasilkan dari kegiatan belajar meliputi banyak hal, mulai dari masalah pengetahuan, keterampilan, kecakapan, kreasi hingga kemampuan merasakan.

Belajar dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti yang kita ketahui ada beberapa macam gaya belajar, yaitu auditori (mendengar), visual (melihat), dan

commit to user

II - 4 kinestetik (bergerak). Belajar dapat dilakukan melalui melihat, mendengarkan, membaca, menyentuh, bergerak, berbicara, bertindak, berinteraksi, merefleksi dan bahkan bermain.

Guna mencapai perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak terampil menjadi terampil manusia tidak sekedar duduk di belakang meja. Untuk belajar, manusia perlu melakukan berbagai aktifitas. Bagi anak- anak, belajar dapat dilakukan dengan bermain. Aktifitas bermain itulah sesungguhnya yang merupakan sarana belajar anak. Artinya anak-anak belajar melalui kegiatan bermain.

Ada tiga teori yang menjelaskan bagaimana anak belajar, yaitu teori

experential learning, teori konstruktivisme, dan teori multiple Intelligences. Ketiga teori tersebut mempunyai kesamaan pendapat yaitu belajar adalah proses aktif yang menuntut peran aktif setiap anak.

1. Teori experential learning

Anak belajar melalui pengalaman, yang dalam pengalaman itulah anak mempraktekkan suatu metode ilmiah. Anak, sebagai pembelajar, menghadapi ‘pengalaman asli’, yakni keterlibatan aktif anak dalam suatu aktifitas yang menarik bagi mereka. Di dalam pengalaman ini, anak menemukan berbagai masalah yang menstimulasi mereka untuk berpikir.

Anak-anak selanjutnya memproses informasi-informasi yang ada

disekitarnya dan melakukan serangkaian dugaan untuk mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Anak- anak secara otomatis akan mengembangkan berbagai kemungkinan solusi atau alternatif yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Anak-anak

kemudian akan menguji alternatif-alternatif solusi tersebut dan

commit to user

II - 5 Melalui pengalaman, anak telah belajar dan memperoleh pengetahuan. Ini berarti, pengetahuan bukanlah wujud informasi yang melekat otomatis pada anak, yang diperoleh tanpa usaha. Pengetahuan merupakan suatu alat untuk menyelesaikan masalah. Kekayaan pengetahuan anak yang diperoleh melalui pengalaman itu dipergunakan anak sebagai materi untuk menyelesaikan masalah.

2. Teori konstruktivisme

Belajar, menurut pandangan konstruktivisme merupakan suatu proses mengonstruksi pengetahuan yang terjadi dari dalam diri anak. Artinya, pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi (kognitif dan afektif). Dengan demikian, belajar harus diupayakan agar anak-anak mampu menggunakan otak mereka secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, tetapi terutama juga oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif (Semiawan,2002).

Konsep-konsep pandangan konstruktivistik menekankan keterlibatan anak dalam proses belajar. Menurut pandangan ini proses belajar haruslah menyenangkan bagi anak dan memungkinkan anak berinteraksi secara aktif dengan lingkungannya. Bermain merupakan media sekaligus cara terbaik anak untuk belajar. Dalam bermain itulah anak belajar melalui proses berbuat dan menyentuh langsung obyek-obyek nyata. Disini anak tidak belajar banyak melalui interpretasi stimulus verbal (kata-kata) dari orang yang lebih dewasa.

3. Teorimultiple Intelligences

Menurut teori Multiple Intelligences, anak belajar melalui berbagai macam cara. Anak mungkin belajar melalui kata-kata, melalui angka-angka,

commit to user

II - 6 melalui gambar dan warna, nada-nada suara, melalui interaksi dengan orang lain, melalui diri sendiri, melalui alam dan mungkin melalui perenungan tentang hakikat sesuatu. Meskipun demikian anak pada umumnya belajar melalui kombinasi dari beberapa cara.

Setiap anak adalah unik. Setiap anak memiliki kecenderungan cara belajar yang tidak selalu sama. Kegiatan belajarpun dapat dilakukan dengan berbagai aktifitas. Suatu materi pembelajaran dapat dipahami dari berbagai cara. Cara- cara ini menunjukan peran kecerdasan yang berbeda pula.

Tabel 2.1 Bermain sambil belajar berdasarkan metode multiple Intelligences.

Kecerdasan Cara Belajar

Verbal linguistik Melalui kata-kata, tulisan (membaca dan menulis),

menyimak cerita dan bercerita, berdeklarasi, permainan kartu, dn berdiskusi.

Logika matematika Menghitung, mencongak, bermain dengan angka,

memecahkan teka-teki, mencoba (bereksperimen), dan menelusuri sebab akibat sesuatu.

Visual spasial Membangun dan merancang miniatur “bangunan”,

mewarnai, mengkombinasikan warna-warna, bermain imajinasi, memetakan pikiran, mencermati bentuk, menggambar, menyusun.

Kinestik Memegang dan menyentuh benda, mendramakan,

bergerak/beraktivitas (melompat, meniti, berguling), membaui, mengecap, bermain bongkar-pasang, menari, membentuk sesuatu.

Musikal Mengidentifikasi suara dan bunyi, menikmati berbagai

suara dan bunyi, menyanyi dan bersiul, bermain alat musik, menikmati irama, mendengarkan lagu.

commit to user

II - 7

Interpersonal Bekerja kelompok, bekerja sama, berbagi rasa,

berbicara dengan orang lain, berbagi peran, bermain peran, bermain tim, simulasi, berinteraksi.

Intrapersonal Merefleksi dan merenung, mengaitkan berbagai hal

dengan diri sendiri, mencoba sesuatu yang menantang,

membuat jadwal diri, menentukan pilihan,

mengidentifikasi dan mempergakan emosi serta perasaan, menentukan konsep diri.

Naturalis Mencermati alam sekitar, menikmati alam, berjalan-

jalan di alam terbuka, memperhatikan cuaca dan benda-benda langit, peduli terhadap waktu (bertanya tentang jam, hari, dan bulan), mengamati hewan,

memperhatikan tumbuhan, memperhatikan wujud

benda (batu, gunung, sungai), membahas tumbuhan, memlihara hewan.

Eksistensialis Mempertanyakan manfaaat sesuatu, mencari sebab

dari sesuatu, mempertanyakan fungsi sesuatu,

mempertanyakan hubungan berbagai hal.

Dokumen terkait