memandang dahulu suami pertamanya adalah seorang yang baik dan memelihara keluarganya, serta tidak pernah main tangan apabila terjadi konflik dengan subjek. Sewaktu terjadi konflik, subjek dan suami pertama cenderung untuk merenungkan kesalahan masing-masing dan tidak segan untuk meminta maaf ketika menyadari kesalahannya.
Subjek juga memandang suami sebagai seorang yang ulet dan tidak kenal lelah untuk mencari uang. Dalam menjalankan pernikahan, subjek memberikan kepercayaan kepada suami dan tidak ada perasaan curiga sedikitpun.
beban. Karena subjek suka kepada suaminya, subjek menilai suami pertamanya itu dari sisi baik semua. Pada awal pernikahan baru memang subjek merasa muncul kecemburuan terhadap suami pertamanya. Akan tetapi setelah ia menyadari bahwa cemburu tidak baik untuk dirinya sendiri, subjek belajar untuk memberikan kepercayaan kepada pasangan. Kunci mereka mempertahankan pernikahan adalah dengan adanya saling percaya dan saling mengalah.
Pernikahan pertama Subjek I didasarkan atas perasaan saling menyukai dan berlangsung dengan persetujuan dari pihak kedua orang tua pasangan. Meskipun Subjek II tidak mendapatkan persetujuan orang tua pada awalnya, Subjek II dan suami pertamanya menikah atas dasar saling menyukai. Ellen
commit to user
Berscheid (dalam Santrock, 2002) menjelaskan bahwa cinta yang bergairah adalah alasan utama seseorang untuk menikah. Cinta semacam ini berawal dari sebuah perasaan ketika orang mengatakan “jatuh cinta”. Pendapat Berscheid tersebut sejalan dengan proses awal mula pernikahan masing-masing subjek. Dalam istilah Jawa, kebiasaan berkomunikasi yang menumbuhkan perasaan cinta antara subjek dan suami sebelum menikah diistilahkan dalam kata “witing tresno jalaran soko kulino”, yakni asal mula dari perasaan suka bersumber dari kebiasaan (Santosa, 2010). Keadaan ini dialami oleh kedua subjek: Subjek I menjalin komunikasi dengan intens berkirim surat, sedang Subjek II dan suami sudah terbiasa bertemu dan berinteraksi.
Dalam menjalankan rumah tangganya, meskipun Subjek I memiliki keinginan untuk bekerja, namun ia memutuskan untuk tidak bekerja atas dasar menuruti perintah suami untuk mengurusi rumah tangganya. Istilah Jawa yang tepat untuk menggambarkan keadaan ini adalah bahwa Subjek I merupakan
“kanca wingking” bagi suaminya. Artinya, istri adalah teman yang berada di
belakang suaminya, yang mengekor di belakang suami dan mendukung segala usaha suami dari belakang. Janis dan Mann (1977) mengungkapkan jenis konsekuensi yang dipertimbangkannya merupakan jenis konsekuensi
utilitarian gains for others. Konsekuensi yang dipilih Subjek I ini cenderung
mengabaikan keinginan pribadi untuk kesejahteraan keluarga yang lebih dipentingkannya. Dari keputusannya untuk menjadi ibu rumah tangga, pernikahan Subjek I dengan suami pertama merujuk pada konsep pernikahan
commit to user
tradisional. Hurlock (2002) menjelaskan bahwa konsep peran istri tradisional adalah peran sebagai pengatur rumah tangga. Konsep ini menekankan suatu pola perilaku tertentu yang tidak memperhitungkan minat dan kemampuan individual. Peran-peran semacam ini menekankan superioritas maskulin. Subjek tidak diharapkan bekerja di luar rumah, kecuali bilamana keadaan finansial memaksanya. Kondisi yang dihadapi oleh Subjek I ini dalam istilah Jawa dikatakan dalam istilah “macak, manak, masak”, yakni tugas perempuan setelah menikah adalah seputar bersolek untuk menyenangkan suami, melahirkan dan merawat anak, dan menyediakan hidangan untuk keluarga. Sebaliknya, Subjek II terlihat menerapkan konsep pernikahan egalitarian. Hurlock (2002) menjelaskan bahwa konsep ini menerapkan persamaan derajat antara suami dan istri. Di rumah ataupun di luar rumah subjek mendapatkan kesempatan mengaktualisasikan potensinya dengan bekerja. Meskipun terdapat istilah “kanca wingking” yang tepat untuk menggambarkan Subjek I, pada Subjek II juga terdapat istilah Jawa yang dianutnya, yakni “Sapa ubet
bakal ngliwet” (Santosa, 2010). Maknanya bahwa orang-orang yang berusaha
dan bekerjalah yang dapat mencapai kesuksesannya dan dapat menikmati hasil usahanya.
Sewaktu terjadi pertengkaran dengan pasangan, Subjek I dan II mengatasi pertengkaran yang terjadi dengan diam. Setelah beberapa lama tidak saling bicara, konflik dalam rumah tangga dapat terselesaikan dengan sendirinya. Buruknya komunikasi ini dijelaskan oleh DeVito (1997) sebagai aktivitas menarik diri dari situasi konflik yang ada. DeVito menjelaskan
commit to user
penarikan diri secara verbal dapat dilihat dari keengganan tiap-tiap pihak untuk saling berbicara dan mendengarkan dan komunikasi hanya dilakukan seperlunya saja. Selanjutnya dari munculnya konflik yang ada, manajemen konflik yang digunakan pasangan kurang produktif, salah satunya yakni penghindaran (DeVito, 1997). Dalam penghindaran, seseorang yang berada dalam situasi konflik cenderung untuk meninggalkan tempat konflik. Salahsatu istilah Jawa yang mirip dengan situasi konflik seperti kedua subjek adalah bahwa “Wong Jawa nggone semu” (Sarosa, 2010). Maksudnya adalah bahwa orang Jawa lebih sering melakukan tindakan secara terselubung atau samar. Ketika mereka berkonflik, hanya pihak yang terlibatlah yang mengetahui adanya konflik, sedangkan orang lain cenderung tidak sampai mengetahui. Kepribadian masyarakat Jawa yang lebih samar dalam mengungkapkan sesuatu membuat konflik yang terjadi menjadi peredam konflik agar tidak timbul ke permukaan namun juga kurang baik untuk diterapkan secara keseluruhan karena akan menjadikan situasi konflik semakin lama terselesaikan.
Yang menjadi lain adalah saat Subjek I menyadari kesalahannya, ia kemudian meminta maaf terlebih dahulu, sedang Subjek II cenderung untuk diam dan tidak mau mengalah terlebih dahulu.Subjek I mengatasi konflik dengan pasangan menggunakan strategi manajemen konflik “Langsung dan Spesifik” (DeVito, 1997). Strategi manajemen konflik ini berpusat pada permasalahan yang terlihat dan menurunkan konflik dengan langsung meminta maaf.
commit to user
Untuk menjaga agar rumah tangga tetap berlangsung, masing-masing subjek menerapkan prinsip kepercayaan kepada pasangan. Hurlock (1980) menjelaskan masalah penyesuaian keluarga baru yang paling pokok adalah penyesuaian diri dengan pasangan. Semakin banyak pengalaman dalam hubungan interpersonal antara suami dan istri yang diperoleh dimasa lalu, makin besar pengertian wawasan sosial yang telah mereka kembangkan, dan semakin besar kemauan mereka untuk bekerja sama dengan sesamanya, serta semakin baik mereka menyesuaikan diri satu sama lain dalam perkawinan. Penyesuaian semacam ini telah timbul pada Subjek I karena pengalaman membina komunikasi di masa lalu sebelum pernikahan. Hubungan jarak jauh dan kelancaran komunikasi merupakan awal subjek menyingkirkan kecurigaan kepada suami pertama. Begitu pula dengan Subjek II yang pada akhirnya dapat menyesuaikan diri untuk memberikan kepercayaan kepada suami. Pengalaman mengenai permasalahan kecemburuan yang menyebabkan kerugian pada dirinya sendiri membuat subjek belajar menyesuaikan diri dengan pola hubungan yang baru yakni memberikan kepercayaan. Selain itu, perlahan seiring berjalannya pernikahan pertamanya, Subjek II memperoleh sebuah kesimpulan yang dianutnya dari nasihat orang Jawa jaman dahulu, bahwa “suami bila di rumah adalah milik istri, namun saat di luar adalah
lelaki yang bebas”. Dengan terbentuknya pengertian ini dalam
pemahamannya, Subjek II berhasil membentuk sikap pasrah dan mampu mengurangi rasa cemburunya terhadap suami. Dari serangkaian pengalaman yang didapatkan Subjek II bersama suami pertamanya, ia merasa bahwa
commit to user
kebutuhan akan rasa cinta yang dimiliki terus dapat dirasakan oleh subjek selama dalam pernikahannya. Esensi dalam cinta itu sendiri terdapat komponen-komponen yang membentuknya, yakni: trust (saling percaya),
fill-in (salfill-ing mengisi), appreciate (mengapresiasi), sacrifice (pengorbanan). Pada
Subjek II, seluruh komponen cinta ini berhasil dimaknai untuk tetap dapat mempertahankan rumah tangga dengan terpenuhinya kebutuhan saling mencintai itu dengan pasangan.
5. Gambaran kehidupan saat menjanda
Tabel 8. Tabel Perbandingan Gagasan Dan Identifikasi Mengenai Gambaran Kehidupan Saat Menjanda
Subjek I Subjek II
Saat itu subjek memang belum resmi bercerai dan menjadi janda. Bermula saat suami pertama subjek meminta ijin kepada subjek untuk menikah lagi dan memadu subjek dengan perempuan lain. Akan tetapi karena tidak ingin suaminya menikah lagi, subjek meminta suami pertamanya untuk memilih antara dirinya dan anak-anaknya atau perempuan lain itu. Hingga akhirnya subjek dan
anak-Suami subjek sejak dulu mempunyai penyakit tekanan darah tinggi akan tetapi suami pertamanya itu tidak pernah memeriksakan penyakitnya itu ke dokter. Suami subjek tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Sewaktu suami pertama subjek dirawat di rumah sakit, subjek berusaha melakukan yang terbaik yang dapat ia lakukan. Akan tetapi saat subjek telah berupaya segala