• Tidak ada hasil yang ditemukan

berpisah dengan SY. Orang tuanya menyarankan agar DM dan SY rujuk kembali karena sudah lama berpisah. Namun setelah DM kembali lagi ke Jakarta, sifatnya dirasa tidak berubah. Hal ini yang menyebabkan orang tua DM mengikhlaskan SY untuk mencari orang lain saja daripada harus menunggu DM yang tidak bisa diharapkan.

Dalam masa perpisahan itu, SY mencari pekerjaan apa saja yang dapat menghasilkan uang. Ia bekerja dengan membantu orang tuanya di sawah. Semua uang dikumpulkannya untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Bantuan datang juga dari adik DM yang sesekali mengirimkan uang untuk SY dan anak-anaknya. Pernah sekali SY berniat ingin bekerja di Jakarta dengan kerjaan yang ditawari oleh adik DM. Keinginan itu muncul dengan harapan akan mengubah nasibnya dan keluarganya. Akan tetapi karena orang tua SY tidak setuju SY mencari nafkah di tempat yang jauh SY akhirnya lebih memilih menurut kepada orang tua dan tidak bekerja di Jakarta.

Setelah itu, kebetulan SY mendapatkan tawaran untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga dari anak seseorang yang dikenalnya. Karena ia membutuhkan uang untuk hidupnya dan anak-anaknya, akhirnya ia memutuskan untuk bekerja di sana.

SY merasa sudah menunggu sangat lama untuk sebuah kejelasan. Selama kurang lebih 6 tahun SY digantung tidak mendapatkan kepastian dari status pernikahannya dengan DM. Oleh karena itu, SY memutuskan untuk bercerai dengan DM tahun 2002.Selama masa status SY digantung dan menjanda, SY terlatih untuk hidup mandiri. Anaknya yang dibawa ikut dengannya awalnya

commit to user

adalah anaknya yang pertama saat ia mulai masuk SMA. Selama itu, anak kedua SY tetap sekolah di kampungnya. Tentu saja hal ini sudah atas ijin dari majikan SY. Kemudian setelah anak pertama SY lulus SMA, ganti anak keduanya saat masuk SMA dibawanya untuk tinggal di tempat ia bekerja.

Saat dalam masa menjanda, SY dua kali bertemu dengan laki-laki yang menyukainya dan ingin menjadikannya sebagai istri. Namun karena saat itu SY belum berkeinginan untuk menjalin pernikahan kembali, ia memutuskan untuk sendiri dahulu. Satu orang yang datang menanyakan SY kepada kakak laki-lakinya, ia menolaknya dengan perantara kakaknya itu dengan alasan belum ingin menjalin rumah tangga, seorang lagi setelah itu ditolaknya dengan alasan keluarga dan SY sendiri tidak yakin dengan orang itu.

Majikannya pindah rumah dan SY pun ikut serta. Saat itulah ada orang yang bertanya lagi mengenai dirinya, bahwa ada seorang duda yang ingin menjadikannya sebagai istri. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan SY memutuskan untuk menerima ajakan menikah dengan orang tersebut.

2) Menggambarkan unit makna dan deskripsi Deskripsi hasil wawancara dan observasi

(a) Latar belakang gambaran kehidupan masa lalu sebelum pernikahan pertama.

Subjek dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke bawah. Subjek terbiasa dengan kondisi keluarga yang serba kekurangan. Akan tetapi subjek dan saudara-saudaranya memahami kondisi perekonomian keluarga yang sulit.

commit to user

Yo nelongso jaman semono. Tapi yo kene yo sadar keadaan wong tuwo lagi koyok ngono.(W1.SU.I.896-898)

Kan bapakku cuma buruh tani tho Mbak. Wis tani thok. Gak nganggo dagang gak opo ngono.(W1.SU.I.880-882)

Subjek dibesarkan dalam asuhan ayah yang tegas.Ayahsubjek juga mengajari dalam kesehariannya untuk menerima apapun yang dihadapi dan melatih untuk bersabar.

Yo dikon sekolah, dikon ngaji. Wayah ngaji yo ndang ngaji. Ngono kuwi wis biasa. (W1.SU.I.885-886)

Nek pas kuwi kan durung panen, saiki di nggo mangan wae sik paceklik. Bapak ngono kuwi ngomong “Sabar nduk yo, gak usah tuku klambi disik. Bapake sawahe rung metu”, maksude durung iso diunduh, “Gak usah iri, kancane klambine anyar yo uwis”.(W1.SU.I.892-896)

Subjek juga memandang ibu subjek sama dengan bapak subjek. Hasilnya dari asuhan kedua orang tuanya menjadikan subjek seseorang yang keras dan melakukan segala sesuatu yang menjadi kewajibannya.

He-em. Pokoke iki mau, kowe kudu nglakoni mbuh mengko mbuh saiki, tetep kudu nglakoni. Nek nurune ibuk kuwi yo mau. Keras. Kudu dilakoni opo sing wajib. (W1.SU.I.966-969)

Dahulu subjek pernah berkeinginan merantau ke Surabaya. Namun kedua orang tua subjek melarangnya pergi dan mengharuskan subjek untuk di rumah saja membantu pekerjaan orang tua. Saat itu subjek menurut saja apa perkataan orang tua. Subjek masih memikirkan mengenai restu orang tuanya saat ia melakukan suatu hal.

Yo munggohno aku meh mergawe ning Suroboyo, ngono kuwi gak entuk, Mbak. Ngopo mergawe adoh-adoh? “Ngrewangi ning sawah kono” (cerita dialog ibu subjek). Kon mergawe ning sawah. “Nek sawahe wis meh tandur ngono kuwi yo diewangi, nek pas nandur mbako yo diewangi nyiram”. Ngono. Ngono thok tho Mbak. Marai kan gak sekolah dhuwur. Ning SMP thok tho Mbak.(W1.SU.I.903-910)

commit to user

Lha nek saiki lho Mbak, meh berontak, lha nek berontak trus wong tuwo gak ngijini ngono kuwi gak sengsoro? Jarene agomo nek wong tuwo gak ridha, piye, Mbak? Lha kuwi tho Mbak. Mbak Ti kuwi yo mikir tekan kono juga. Mengko aku malah di ngene-ngene wong, mengko nek malah aku keno musibah opo piye ngono, yo wis akhire aku nurut.(W1.SU.I.1024-1030)

Saat dipikir-pikir sekarang, apa yang dilakukan subjek di masa lalu dengan perintah orang tuanya itu adalah cara mendidik yang baik. Ia diajarkan untuk berdisiplin.

Tapi yo tenan tho Mbak, ndidik apik tho, wong tuwo mergawe, anak ning omah dikon ngisi jambangan nggo adus karo sholat kok ya jambangane kosong. Ngono kuwi kan ya nek angen-angen pas saiki wis sadar kan yo ndidik apik tho, Mbak.(W1.SU.I.969-974)

Subjek mendefinisikan pernikahan adalah sesuatu yang jika bisa dilakukan hanya sekali. Subjek memandang bahwa pernikahan adalah suci dihadapan tuhannya. Karena ada kehadiran tuhannya dalam pernikahan, subjek merasa takut apabila ia mempermainkan hakikat pernikahan itu sendiri. Dalam pernikahan, subjek menginginkan peran suami yang bertanggung jawab dan dapat mengayomi keluarga. Disamping itu perannya sebagai istri menurutnya adalah mempersiapkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan dalam rumah tangga. Menurut subjek, untuk menjalankan sebuah rumah tangga peran suami-istri adalah melengkapi yang menjadi kebutuhan yang lain.

Yo nek iso cukup pisan iki wae, ojo sampe bolak-balik maneh. Dihadapan Allah. Kan yo wedi tho Mbak. (W1.SU.I.1049-1051) Perane yo koyok biasa. Tanggung jawab, kudune yo ngono, ngayomi keluargane. (W1.SU.I.1059-1060)

Perane yo koyok biasa ibu rumah tangga ngono tho Mbak. Koyok nyiapno sarapan. (W1.SU.I.1054-1056)

commit to user

Yo wis ngene iki biasa yo, nek meh budhal, nek wong lanang meh ning ndi ngono yo disiapne klambine. Ngono wae, biasa ngono tho, Mbak. Nek aku gak nduwe duwit trus butuh blonjo yo “Pak, nyuwun duwit blonjo” yo diparingi duwit. Lha nek aku sik nduwe duwit yo gak takon duwit. (W1.SU.I.1066-1071)

(b) Latar belakang gambaran pernikahan sebelumnya.

Perkenalan subjek dengan suami pertama subjek bermula saat suami pertama subjek yang ketika itu berkunjung ke rumah subjek dan melihat subjek. Karena suami pertama subjek merasa tertarik, akhirnya subjek diminta. Kedua orang tua saling bertemu, dan melakukan perhitungan jodoh cara Jawa dengan hari lahir masing-masing.

Kan bapake Dini kuwi dolan ning omahe Pak Lik-ku, ngerti aku. Wis. Takon, “Kuwi sopo e Lik? Tak pek’e dewe wae Lik”. Ngono.(W2.SU.I. 10-12).

Ditakoni tirone opo, intine tironku opo tirone dekne opo, gathuk, kan wong jowo kan ngono kuwi kan itungan tho Mbak, trus dijaluk. Wong tuwane dekne ning omahku, wong tuwaku mrono.(W2.SU.I.

12-16).

Wis omong-podho omong wong tuwo ngono yo wis, gampangane nglamar lah.(W2.SU.I. 24-25).

Subjek menurut saja dengan kesepakatan dua orang tua. Dengan pertimbangan subjek sendiri juga, ia menerima pinangan dari suami pertamanya dahulu. Subjek memilih lelaki yang menjadi suami pertamanya itu dengan alasan kelakuan dan sifat suami pertamanya dirasa tidak pernah berbuat macam-macam. Selain itu, silsilah keluarganya juga dipandang baik.

Kan ditakoni wong, bocahe yo nggenah, wong tuwane yo karuan iki, bener ngono lho Mbak, gak turunane wong mblarah, ora wong sing gak sholat utowo ngombe to kopek ngono lho Mbak, gampangane kasarane ngono kenopo kok gak gelem. Yo kan bocahe kan yo ndunung. Ngono lho Mbak.(W2.SU.I. 40-46).

commit to user

Aku kan yo ditakoni pisanan wong sing tenanan kok yo karo bocah sing apik kelakuane, dinoku –tironku karo tirone dekne– kok apik. Yo wes. Lakoni. Nek aku yo nurut karo wong tuwo. Kuwi yo nurut.(W2.SU.I. 46-50)

Mengenai komunikasi subjek dan suami pertamanya sebelum menikah, subjek tidak pernah bertemu hanya berdua dengan suami pertamanya itu. Karena suami pertama subjek sebelum menikah bekerja di Kalimantan, komunikasi mereka berdua adalah melalui berkirim surat.

Gampangane wis ono ikatan lamaran kuwi. Cuma surat-suratan jaman mbiyen kirim-kiriman surat ngono kuwi iyo. Wis. Begitu teko, golek dino, nikah. Wis. Gak tau jenenge pacaran, malem mingguan, wong loro berduaan ngono kuwi yo ora tau, Mbak.(W2.SU.I.54-59)

Dadi yo gak tau Mbak sing jenenge pacaran to apel ngono kuwi yo gak ngerti Mbak. Gak weruh jawane ngono kuwi Mbak. (W2.SU.I.

50-52).

Begitu teko, golek dino, nikah. Wis.(W2.SU.I. 57).

Setelah subjek menikah dengan suami pertamanya, ia dan suaminya itu berpisah tempat untuk sementara karena suaminya belum menjadi karyawan tetap di pabrik di Jakarta. Setelah suaminya menjadi karyawan tetap, barulah subjek diboyong ke Jakarta dan tinggal bersama suaminya di sebuah rumah kontrakan.

Dekne kan ning Jakarta kono kan wong anyar tho Mbak. Kerjaan anyar, durung karyawan tetap, dekne rung mampu ngajak aku mrono. Tiga bulan, masa training, trus diangkat dadi karyawan tetap, aku dijak mrono. Diparani karo adikne. Kon ning kono. Munggohno kos trus nggowo bojo ngono yo wis wani ngono lho, Mbak. Lha nek biyen pas sik gajine mingguan yo sik rung wani tho Mbak. Munggohno ngono pas kuwi nggo mangan dewe wae rung wadahi kok ngajak bojo? Trus aku ditinggal 3 wulan, bar diangkat dadi karyawan tetap kuwi aku diboyong ning Jakarta.(W1.SU.I.1150-1161)

commit to user

Saat hidup di Jakarta, subjek sebenarnya ingin bekerja juga, akan tetapi oleh suami pertamanya tidak diijinkan. Suami subjek khawatir jika subjek bekerja, maka ia akan lalai terhadap pekerjaan rumah tangganya sebagai istri dan ibu untuk anaknya.

Iyo, pengene sih kerjo. Lha kan Jakarta kan kawasan industri ngono tho Mbak. Pengene, cuma gak entuk.(W2.SU.I. 82-84). Mergawe? Kerjo? Gak, gak entuk Mbak. Gak entuk karo bapake Dini. “Kowe nek kesel, nyaprut ae”, ngono alasane. Kan lha nek ning pabrik ditarget tho Mbak. Koyok tho munggohno njait klambi tho sepatu ngono kuwi kan ditarget ngono tho Mbak. “Kuwi mengko kowe ora ngentukne targete kuwi, rung ngrampungno targetane, kesel awakmu, ning omah yo rung nyapu, rung umbah-umbah, mrengut ae. Wis ora usah. Wis, sing mergawe ben aku wae”. Ngono.(W2.SU.I. 71-80).

Sewaktu berumah tangga dengan suami pertamanya dahulu, pernah juga terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil. Terkadang saat bertengkar subjek dan suami saling diam selama beberapa hari. Namun pertengkaran dalam rumah tangganya itu dapat diselesaikan dengan baik oleh keduanya.

Munggohno kan aku umbah-umbah, pas kuwi Iim mbrangkang-mbrangkang ning kasur. Lha kasure kan ora ning ngisor, ning dipan ngono kan, getihen. Serengen dekne, Mbak. Matane dekne yo mecicil ngono kuwi. Wis ngono kuwi. Yo salah paham ngono kuwi thok.(W2.SU.I.89-94)

Trus Mbak Ti yo sadar “Sepurane tho, ngono wae kok serengen”(W2.SU.I.106-107)

Ngono kuwi yo munggohno sedino-rong-ndino ngono kuwi yo manyun, gak takonan.(W2.SU.I.128-129)

Subjek merasa bahwa suami pertamanya adalah seorang yang baik dan memelihara keluarganya, tidak pernah main tangan ketika bertengkar dengan subjek, dan subjek dipercaya dapat memegang uang suami sepenuhnya. Selain itu subjek memandang suami dahulunya itu sebagai

commit to user

suami yang ulet dan tidak kenal lelah untuk mencari uang.

Nek gemati yo gemati Mbak. Gak pernah moro tangan ngono yo gak tau. Duwit piro-piro wae yo diwenehne aku. Apike ning kono kuwi.(W2.SU.I.186-189)

Wonge kan ulet. Kan gak gelem meneng wonge. Munggohno bar kerjo, kan pas malem minggu kan rame. Motor diseleh ngarep omah, ngarep kontrakan omah kan ratan gede rame tho Mbak, ngono kuwi nek ono wong njaluk ojek yo dekne ngojek. Munggohno awake gelem kangelan ngono lho Mbak. Kok mulih kerjo awake pegel kok gelem narik.(W2.SU.I.154-161)

Subjek dan suami pertamanya mempertahankan pernikahan mereka dengan cara saling percaya. Tidak ada rasa curiga dalam diri subjek kepada suaminya.

Gak ono rasa curiga ngono kuwi yo gak ono, Mbak. Yo biasa-biasa wae Mbak.(W1.SU.I.1180-1181)

(c) Gambaran kehidupan saat menjanda.

Saat itu memang subjek belum resmi bercerai dari suami pertamanya. Hingga saat pertengkaran awal mula penyebab perceraian terjadi. Suami pertama subjek meminta ijin untuk menikah lagi dan memadu subjek. Namun, karena subjek tidak ingin dimadu, ia tidak setuju dan meminta suami subjek untuk memilih antara perempuan yang hadir dalam rumah tangga mereka atau pernikahan yang sudah dibangun. Subjek memberikan pilihan bila suami memilih subjek dan anak-anaknya, maka subjek meminta suami pertamanya meninggalkan perempuan itu; namun bila suami subjek tetap memilih untuk bersama perempuan itu, subjek meminta cerai dan anak-anak subjek ikut dirinya.

Berhubung dekne mungkin pas kuwi nyekel duwit, kakehan tilah, pengen nyewek. Wis, intine cuma ngono kuwi Mbak. Trus akhire cerai karo Mbak Ti.(W1.SU.I.1088-1090)

commit to user

Bapake Dini kuwi seneng ngono karo cah wedok, langsung ngomong terus terang karo aku, “Mak, kowe gelem tak madu?” kono kan nyeluke aku kan Mamak. “Emoh”, aku ngono. “Nek awakmu abot niatmu, yo terusne. Anak tapi melu aku. Lha nek abot anak-bojo yo mandeg-o. Ojo mbok lakoni

maneh”.(W1.SU.I.1106-1112)

Mbak Ti nantang, ngene “Nek abotmu ngene, nek kowe meh pengen poligami, aku emoh. Sak umpomo aku dimadu, aku emoh. Lha nek seumpomo kowe seneng karo wong kuwi, anak melu aku, trus aku pegaten. Tapi anak melu aku”. Ngono thok. Wis. Mbak Ti gak neko-neko. (W1.SU.I.1091-1096)

Saat itu suami subjek bertanya bagaimana bisa subjek tidak bergeming sebelum suami subjek memintanya untuk menikah lagi.Mertua subjek mencari alasan mengapa suami subjek sampai mempunyai perempuan lain, dan didapatkan hasil bahwa ada ilmu magis yang membuat suami subjek berpaling.

Anehe ngene, mungkin soko pihak wedoke mau kuwi ndukun aku mbuh piye ngonokan aku yo ra ngerti. Iki dekne ngomong dewe lho ya Mbak, wong pancen dekne faktane ngono. “Mamak, sampeyan nduwe amalan opo tho?”, “Lho, amalan opo? aku iki yakin karo Gusti Allah. Perintahe Gusti Allah insya Allah tak turuti, larangane insya Allah tak adohi. Mergo yo sholat-poso-zakat, nek nduwe yo shodaqoh, nek gak nduwe yo shodaqoh lisan karo tenogo, nek mampu aku. Gak, gak nduwe amalan opo-opo”.(W1.SU.I.1222-1233)

Wong tuwane kono kan nggolek-nggolek alasane kenopo bapake Dini koyo ngono. “Memang digawe wong kono” ngono. Wong Banten kan terkenal. Jarene lho Mbak, aku kan yo gak ngerti. Jarene dukune kuwi soko Banten. Ceweke kuwi kan pengen bapake Dini, supoyo aku pisah karo bapake Dini.(W2.SU.I.192-198)

Perasaan hati subjek sakit kala suaminya menginginkan untuk menikah lagi dan memadunya. Subjek merasa apabila suaminya menikah lagi maka ia akan menderita. Subjek membayangkan bila suaminya

commit to user

mempunyai istri baru maka hidupnya akantidak enak. Maka dari itu, subjek memutuskan lebih baik hidup sendiri. Subjek juga merenungkan dengan perasaan sesama perempuan, mengapa perempuan lain tega mengambil suaminya.

Yo sakit Mbak. Ngawasi anak itu lho yo kasihan. Ya Allah, becik’o bapake gak polah-polah, anakku lak kopenan. (W2.SU.I.222-224) Daripada saya menderita. Gak mungkin Mbak nek bayanganku enak ngono kan gak mungkin. Namane bojo lho Mbak, lha wong jejer wong loro wae sik ono gelo kok ati, opo maneh turu kono kumpul lho. Wis, luwih apik urip dewe.(W2.SU.I.207-211)

Sing nyenengi bapake Dini kuwi lho kan wedok. Aku wedok, podho wedoke. Seumpama bojone disenengi opo gak yo loro atine? Kenopo dekne tego sama saya? Ngono lho

Mbak.(W2.SU.I.479-482)

Setelah suami pertama subjek berkata seperti itu, setelah beberapa bulan tidak ada perubahan sedang subjek sudah merasa bertahan, akhirnya suami subjek memutuskan untuk memulangkan subjek saja. Anak subjek juga ikut dengan subjek.

Trus pas ono masalah kuwi mau, aku ngomong emoh ngono. Trus akhire aku kan ning kono, ning Borno kono. “Yo wis, nek kowe gak gelem nuruti aku, ayo mulih, tak mulihno omahmu”. Kuwi yo wis beberapa bulan ngono kuwi, Mbak.(W1.SU.I.1181-1186)

Alasane, Dini, suk mben nek Dini sekolah ning kene pergaulane wedi terganggu. Diterne ning ndeso. Siji kuwi. Trus ping pindone tak nteni kok gak ono perubahan. Yowes. Kan disamping ngono siji aku wis dipasrahno ning wong tuwoku.(W2.SU.I.303-307)

Saat subjek berpisah dari suami, subjek berkeyakinan bahwa ia akan dapat melanjutkan hidupnya. Ia yakin bahwa masih ada tuhan yang akan menolongnya.

Saya yakin, rejeki yang ngasih Allah. Mati, rejeki, Allah yang ngatur. Wis ngono. Pikire Mbak Ti kuwi mung ngono. Pokoke kuwi eling karo Gusti Allah wae kuwi mau. Aku urip iki mesti diuripne

commit to user

Gusti Allah. Mesti aku diparingi rejeki. Carane mbuh piye pokoke ono wae. Pokoke aku mergawe. Dene diparingi akeh utowo sakithik kuwi ganjarane wallahu a’lam. Sing penting metu kringetku, tak nggo mangan karo anakku, barokah, halal.(W2.SU.I.212-220)

Iaberpisah selama bertahun-tahun tidak ada kejelasan status. Awalnya subjek merahasiakan tujuan kepulangannya ke kampung halaman dari orang tuanya. Ia tidak bercerita apapun kepada orang tuanya mengenai permasalahannya itu.

Tak empet sik ngono awale aku. Ojo sampe masalahe anak ndek mau kuwi sampe ngerti wong tuwo. Dadine pas aku dolan ning omahe emakku yo aku meneng wae. Ora kandha nek ono masalah ngono kuwi yo ora.(W1.SU.I.1186-1191)

Subjek akhirnya memberitahukan permasalahan itu kepada mertuanya. Suami pertama subjek juga mengutarakan keinginannya untuk menikah lagi dan memadu subjek. Mertua subjek marah kepada suami pertama subjek itu. Mertua subjek tidak ingin jika subjek tidak menjadi menantunya lagi. Oleh karena itu, mertua subjek berkeinginan untuk menikahkan lagi subjek dengan suaminya itu. Akan tetapi, setelah suami subjek kembali ke Jakarta, perilakunya tidak berubah.

“Pokoke aku gak iso ngeculke Dini karo Yati. Sik abot”. Mergo ngerti watakku, bener aku cerewet, tapi nek karo wong tuwo iso menghargai ngono lho Mbak gampangane. Piye ngono lho. Piye lah istilahe tapi wong tuwo iso ngrasakke ngono. Karo dulur yo apik, yo gemati. Karo wong tuwo yo gemati. “Aku wis cocok nduwe mantu Yati”, wong tuwane kuwi ngomong ngono. “Kowe iso golek ayune ngluwihi ayune Yati, kowe iso golek nungkuli Yati rupane. Tapi kelakuane mbuh-mbuhan”. Ngono. (W2.SU.I.316-326)

Trus gang pirang wulan kuwi bapake Dini ngomong “Aku meh wayoh. Yati meh tak madu”. Yo terus terang ning wong tuwane kuwi yo ngomong ngono. Trus mbahe Dini Trucuk kuwi srengen, yo wis gedor-gedor, Mbak. Maksude srengen tenanan. Lanang wedok wong tuwane bapake Dini kuwi yo serengen “Iblis ngendi setan

commit to user

ngendi sing ngrasuki kowe? Iso kowe golek wong sing ayune ngluwihi Yati, iso. Tapi kelakuane mbuh-mbuhan”. Ngono. Trus akhire jenenge musyawarah karo dulure karo bapake Dini yo mbuh piye gak ngerti yo, ning Trucuk kono kuwi, “Wis, Yat, kowe tak nikahno maneh. Bapake Dini kok omongane kok wis ngono. Ee, sopo ngerti mandeg kelakuane. Ngono. Trus nek dekne mulih trus kowe dikumpuli lak ora zina”.Trus akhire mulih, kuwi wis gang suwi Mbak, mbalik ning Jakarta, kok ngono maneh, ngono maneh. Gak ono perubahan.(W1.SU.I.349-367)

Saat subjek sudah dipulangkan ke rumah orang tuanya, suami pertama subjek menjenguk dan memberikan uang yang tidak cukup untuk kebutuhannya. Oleh karena itu, subjek ingin bercerai saja dengan