masih harus mencari kerja untuk membantu perekonomian keluarga baru.
Setelah dalam wadah pernikahan, subjek berharap rumah tangganya saat ini berjalan dengan baik. Ia tidak berharap macam-macam. Subjek ingin keluarganya sakinah mawaddah warahmah dengan anak-anak yang shalih-shalihah, selalu istiqomah, dan meninggal dalam keadaan yang khusnul khotimah. Dengan harapannya itu, subjek memilih untuk bersyukur ketika ia mendapatkan limpahan rejeki.
Subjek berharap agar ia dapat menjadi istri yang sholihah, mempunyai suami yang baik kepadanya, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, hingga tua tetap diberi umur panjang. Dalam perannya sebagai istri kini subjek akan mencapai harapannya dengan cara menaati suami dan menyenangkan suaminya.
Sebuah pernikahan baru setelah masa menjanda memang mengatasi beberapa hal. Meski permasalahan hidup menyendiri mungkin dapat teratasi dan para janda menjadi bahagia karena dapat menikah kembali, namun permasalahan seputar pernikahan keduanya juga ikut menyertai (Lamanna dan Riedmann, 1991).
Permasalahan utama yang terjadi oleh seseorang dalam rumah tangga pernikahan keduanya menurut Lamanna dan Riedmann (1991) adalah seputar masalah finansial dan kehadiran anak tiri dalam rumah tangga, baik anak yang
commit to user
dibawa oleh janda yang menikah lagi dari pernikahan yang terdahulu, maupun dari pihak suami barunya. Munculnya anak tiri ini menjadi permasalahan ketika ia atau dari keluarga tirinya tidak menyukai kehadiran orang baru dalam keluarganya. Hal inilah yang sekiranya dialami oleh Subjek I dalam membina rumah tangga barunya. Akan tetapi dukungan sosial dari suaminya menjadi coping stress berfokus emosi tersendiri. Dukungan sosial dari suami kepada Subjek I sejalan dengan pendapat Cohen (dalam Feldman, 2012) yang menjelaskan bahwa interaksi bersama dengan orang lain yang menyayangi dan peduli membuat seseorang mengalami tingkat stress yang lebih rendah dan lebih dapat mengatasi stress yang dihadapinya.
Permasalahan yang dialami Subjek I tidak terlihat dalam rumah tangga baru dari Subjek II. Subjek II cenderung mengeluhkan permasalahan mengenai perbedaan gairah hubungan antara pernikahan pertama dan keduanya ini yang mana subjek merasa pernikahan keduanya ini tidak semenyenangkan pernikahan pertama. Hal ini menurut pendapat Santrock (2002) bahwa perasaan cinta yang penih kasih sayang atau sebagai teman dan kesetiaan yang lemah lembut lebih penting dalam hubungan cinta pada kehidupan dewasa madya. Subjek II dalam usianya kini merasakan suami keduanya ini dapat memberikan hubungan yang saling menyayangi layaknya seperti teman. Subjek merasakan perasaan tenang dan aman saat telah dalam pernikahan kembali.
Perbedaan permasalahan dalam kehidupan pernikahan baru kedua subjek ini dimungkinkan karena adanya perbedaan kebutuhan masing-masing.
commit to user
Subjek I sejak dari awal masih terus berfokus pada kebutuhan finansial yang belum mencukupi. Maslow (dalam Sobur, 2003) dengan teori hirarki kebutuhannya menjelaskan bahwa terdapat beberapa tingkatan kebutuhan yang apabila satu tingkat kebutuhan telah terpuaskan barulah muncul tingkat kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada Subjek I, ia merasa belum tercukupi akan finansial yang dibutuhkannya. Maka dari itu, Subjek I belum menjumpai adanya kebutuhan yang lebih tinggi dalam pernikahannya, yakni perasaan saling mencintai dan memiliki. Sedangkan pada Subjek II, karena telah merasa kebutuhan dasarnya tercukupi, ia menjumpai kebutuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan dasar fisiologisnya, yakni kebutuhan akan rasa aman untuk tetap bersama dengan suami keduanya. Keamanan jiwa yang dikhawatirkannya akan terancam apabila suami keduanya ini juga pergi meninggalkannya seperti suami pertamanya.
Pada akhirnya kedua subjek mempunyai kesimpulan mengenai pengambilan keputusan untuk menikah lagi yang telah dipilih dan dijalaninya. Pada Subjek I, setelah menjumpai permasalahan seputar perilaku permusuhan yang ditunjukkan oleh anak tirinya, Subjek I merasa salah dalam mengambil keputusan. Ia menyesal memutuskan untuk menikah setelah ia merasakan adanya permasalahan yang terjadi setelah menikah kembali. Oleh sebab permasalahannya dengan anak tiri, Subjek I pernah mengutarakan keinginannya bercerai lagi. Berbeda cerita dengan Subjek II yang menurutnya akan menjalani setiap liku kehidupan yang terjadi seperti air mengalir. Meskipun terlihat kepasrahan akan jalan hidupnya, Subjek II merasakan
commit to user
adanya ketakutan untuk kehilangan yang kedua kalinya.
Kesimpulan yang kedua subjek dapatkan ketika mereka telah berada dalam pernikahan kembali bukan kesimpulan tentang kebahagiaan yang cukup diperoleh sebenarnya. Hal ini dikarenakan dalam proses pengambilan keputusan, keduanya cenderung untuk menjalani yang akan dilaluinya terlebih dahulu tanpa mempertimbangkan dan siap lagi berada dalam biduk pernikahan kembali. Mereka berdua belum benar-benar meninggalkan permasalahan yang mereka alami saat pernikahan terdahulu sehingga dalam pernikahan keduanya ini masih membawa permasalahan masa lalu.
F. Dinamika
Meskipun dua subjek dibesarkan dalam lingkungan ekonomi yang berbeda, pengasuhan orang tua pada kedua subjek relatif hampir sama. Pengasuhan orang tua yang dialami subjek yakni ibu yang cenderung mengasuh dengan perlakuan keras terhadap aturan dan ayah yang mempunyai sifat nrimo. Pengasuhan orang tua kedua subjek inilah yang mendorong subjek untuk menyesuaikan diri dengan harapan sosial di masa kehidupan selanjutnya. Perbedaan hasil penerapan pola asuh yang demikian terlihat dari Subjek I yang dapat nrimo dengan berbagai kondisi yang dihadapinya dapat fleksibel dengan kecenderungannya untuk menurut kepada perintah, sedangkan Subjek II berkarakter keras, tidak mau terkalahkan, dan setiap keinginannya harus tercapai.
Subjek I memandang arti pernikahan menurut dirinya adalah hal yang benar-benar harus dijaga keutuhannya. Ia memandang perannya sebagai istri
commit to user
adalah untuk mempersiapkan kebutuhan dalam rumah tangga. Sedangkan peran suami menurut subjek adalah untuk mengayomi keluarganya dan bertanggung jawab. Dalam menjalankan perannya, sepasang suami istri menurut subjek I harus saling melengkapi kebutuhan pasangan.
Karakter yang dimiliki kedua subjek ini berpengaruh ke dalam pernikahan pertamanya. Subjek I yang menikah dengan suami pertamanya lebih dapat fleksibel menuruti arahan suami untuk tidak bekerja meskipun ia menginginkannya. Saat berumah tangga dengan suami pertamanya, subjek melihat sang suami adalah orang yang baik dan pekerja keras. Peran sebagai ibu rumah tangga dirasakannya tanpa ada kendala berarti dengan menerapkan sikap tidak adanya rasa curiga terhadap suaminya sebagai tulang punggung keluarga satu-satunya. Dengan demikian keharmonisan dalam rumah tangga Subjek I terlihat dari kewajiban peranan masing-masing untuk melengkapi pasangannya. Dalam menjalankan rumah tangganya, kehidupan subjek I tidak terlepas dari konflik dengan suaminya. Konflik yang terjadi dengan suami adalah seputar permasalahan pengelolaan keuangan dan pengasuhan anak. Suami subjek cenderung mengarahkan agar subjek benar-benar mengatur rumah tangga sesuai dengan arahannya. Namun subjek I seringkali membantah dengan mempertahankan pendapatnya saat berkonflik adu mulut dengan suaminya. Tidak jarang pula sewaktu subjek mempunyai keinginan dan suami tidak membolehkan, subjek tidak mendengarkan himbauan suaminya dan tetap ingin menuruti keinginan dirinya. Secara tidak sadar, dengan dikuatkan oleh pengalaman masa lalu subjek yang lebih sering untuk menurut, dalam diri subjek terbentuk
commit to user
kebutuhan untuk didengarkan dan diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya. Akan tetapi, dalam beberapa kondisi, suami subjek I belum memberikan kebutuhan itu kepada subjek.
Pandangan Subjek I tidak sama dengan Subjek II. Subjek II lebih memfokuskan arti pernikahan menurutnya adalah pada kebahagian dirinya dan pasangan. Subjek II memandang bahwa peran istri yang harus dilakukannya dalam rumah tangga adalah untuk membahagiakan suaminya, sedang peran suami adalah memimpin keluarga dan menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Keakraban yang telah terjalin lama antara subjek II dan suami pertamanya sebelum menikah menjadikan subjek merasakan adanya kenyamanan interaksi dengan suaminya itu. Oleh karena ia menikah dengan suami pertama atas dasar saling mencintai, ia melihat sosok suami dari sisi baiknya. Subjek II memandang bahwa untuk menjalankan pernikahan pasangan harus saling menghargai, mengerti, dan saling percaya. Konflik pada awal-awal pernikahan subjek II dengan suami adalah seputar permasalahan pengelolaan emosi cemburu dari diri subjek sendiri. Karena subjek merasa rugi akibat perasaan cemburunya sendiri, subjek merekonstruksi pengelolaan emosinya dengan memberikan rasa kepercayaan kepada suaminya. Dengan memberikan kepercayaan itu, subjek perlahan menemukan kenyamanannya dalam menjalankan rumah tangga bersama suaminya.
Perpisahan dengan suami pertama Subjek I disebabkan karena subjek tidak ingin dimadu oleh suaminya yang ingin menikah lagi. Meskipun mertua subjek sudah turut membantu membenahi rumah tangga subjek I, tetapi suami
commit to user
pertamanya tidak terlihat perubahan. Subjek juga ingin mempertahankan pernikahan dengan caranya menunggu suami pertamanya dapat kembali seperti sedia kala. Namun hal itu sia-sia dilakukannya karena tetap tidak ada perubahan dari suami pertamanya. Dalam pemberian nafkah finansial selama dalam masa perpisahan itu, suami pertama subjek hanya memberikan nafkah yang menurut subjek tidak dapat mencukupi kebutuhannya. Meskipun begitu, subjek tidak menuntut untuk diberikan nafkah yang cukup karena ia merasa bahwa hal itu sudah menjadi kewajiban suami yang pada kenyataannya tidak didapatkan oleh subjek I. Peran sebagai suami yang mengayomi dan bertanggung jawab kepada keluarga dimata subjek sudah tidak dapat ia rasakan dari suami pertamanya itu. Setelah ia menunggu bertahun-tahun dan tidak ada perubahan sedang ia sudah dipulangkan ke rumah orang tuanya, akhirnya Subjek I berniat untuk bercerai dengan suaminya. Oleh karena saat dalam pernikahan Subjek I tidak diijinkan untuk bekerja, dalam masa perpisahan itu subjek mengalami kesulitan finansial. Meskipun orang tua Subjek I tidak mengijinkannya bekerja di luar kota, beruntunglah ia mendapat dukungan dari keluarga untuk membantu mencarikan pekerjaan agar ia dapat menghidupi dirinya dan anak-anaknya. Subjek I juga pernah mengalami masa-masa membutuhkan pasangan kembali. Kebutuhannya itu atas dasar subjek yang tidak ingin anak-anaknya tidak mempunyai sosok ayah dalam kehidupan mereka. Akan tetapi perpisahan itu juga menimbulkan adanya perasaan trauma untuk membina pernikahan kembali. Karena itu Subjek I cenderung tidak ingin menikah lagi dan mempunyai hubungan dengan pasangan. Dua kali sebelum bertemu dengan suami keduanya, Subjek I menolak orang yang