• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode redundancy dalam perencanaan banyak digunakan sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pesan kepada anak difabel. Pada prakteknya, metode ini telah digunakan dalam melakukan sosialisasi, salah satunya kepada anak tuna grahita di SLB-C YSSD. KPU Kota Surakarta beserta Relawan Demokrasi terjun melakukan sosialisasi kepada siswa SLB-C YSSD sebanyak dua kali. Dengan mengulang materi yang sudah disampaikan sebelumnya, agar anak – anak dengan tuna grahita dapat benar – benar memahami pesan yang disampaikan.

Selain digunakan pada kelompok difabel, sosialisasi dengan metode ini juga dirancang untuk mensosialisasikan peraturan melalui stuktur penyelenggara. Akan tetapi mengingat sosialisasi melalui struktur penyelenggara terkendala oleh satu dan lain hal, maka untuk memaksimalkan pengulangan peraturan, PPS Kecamatan Jebres membagikan CD sosialisasi kepada jajaran di bawahnya. CD sosialisasi tersebut berisi kriteria dan variasi suara sah dalam Pemilu. Dengan adanya CD tersebut sosialisasi menjadi lebih efektif.

b. Canalizing

Metode penyesuaian atau canalizing adalah metode yang sering dipakai ketika melakukan sosialisasi. Pada pelaksanaannya, penyesuaian yang dilakukan dapat berdasarkan pada dua faktor, yakni penyesuaian pesan dengan tingkat pengetahuan masyarakat dan penyesuaian pesan dengan

commit to user

kondisi masyarakat. Penyesuaian dengan pengetahuan masyarakat dilakukan dengan membedakan pesan yang disampaikan kepada audiens.

Kalau sudah ada kesadaran nanti penekanannya beda. Misalnya adalah menjadi pemilih yang aktif dan cerdas. Kalau audiensnya masih blank dijelaskan tentang pengetahuan kepemiluan dan pentingnya kenapa memilih.97

Jenis penyesuaian kedua yang dilakukan adalah dengan menyesuaikan kondisi audiens saat itu. Ketika audiens sudah terlihat tidak antusisas, komunikator harus memiliki cara agar audiens menjadi segar dan tertarik kembali.

“Saya melihat kondisi dan situasi. Kalau mereka sudah tidak tertarik, saya alihkan ke materi lain yang terkini biar mereka semangat lagi, fresh lagi.”98

c. Diskusi

Sama seperti dalam proses perencanaan, metode diskusi juga digunakan dalam proses penyampaian pesan. Seusai melakukan sosialisasi, komunikator menggunakan metode diskusi untuk menggali pertanyaan dan pengetahuan dari audiens yang mereka hadapi.

Yang jelas ketika sosialisasi itu menyampaikan lebih dulu bagaimana pengertian Pemilu. Menyampaikan materi sekitar 10 – 15 menit.

97 Wawancara dengan Nasichun Aviv Aluwi di FISIP UNS tanggal 20 Mei 2014 pukul 12:00.

98 Wawancara dengan Hindun Zulaikha di Kantor Aisyiyah Surakarta tanggal 20 Mei 2014 pukul 09:00.

commit to user

“Kemudian saya ajak tanya jawab. Apa saja yang tidak paham, apa saja yang ditanyakan saya jawab.”99

“Kalau kita sosialisasi ya cuma sekali ya secara garis besar. Kemudian saya buka tanya jawab. Lebih enak begitu, mending langsung saja terus banyak diskusinya.”100

5. Mengatasi berbagai tipe audiens

Dalam melaksanakan sosialisasi, seorang komunikator akan menemukan banyak tipe audiens. T idak jarang ekspektasi kita terhadap audiens berbanding terbalik dengan kenyataan yang dihadapi. Agar sosialisasi dapat berjalan dengan baik, dan gagasan yang disampaikan diterima, komunikator diharuskan mampu berimprovisasi dalam membawakan pesan yang disampaikan. Tipe audiens dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis, yakni audiens yang recpetive, neutral dan unreceptive. Audiens dengan tipe receptive adalah mereka yang sudah memiliki pemahaman yang sama dengan gagasan yang akan disampaikan. Sementara audiens dengan tipe neutral adalah mereka yang belum memiliki keputusan apakah menerima atau menolak ide dan gagasan yang hendak disampaikan.

Terakhir, audiens dengan tipe unreceptive adalah audiens yang sedari awal sudah memiliki pendirian yang berseberangan dengan gagasan komunikator. KPU Surakarta dalam melakukan sosialisasi tentu berhadapan dengan beragam tipe

99 Wawancara dengan Marbandi di Manahan tanggal 21 Mei 2014 pukul 10:00

100 Wawancara dengan Budi Susanto di Kantor Kelurahan Sewu tanggal 4 Juni 2014 pukul 16:00.

commit to user

audiens tersebut. Terdapat beberapa cara agar audiens yang berbeda dapat menerima dengan baik gagasan yang disampaikan dalam sosialisasi, yakni:

a. Receptive

Audiens dengan tipe receptive adalah audiens yang sangat diharapkan oleh komunikator. Karena sudah memiliki prinsip dan gagasan yang sama membuat proses sosialisasi dan penanaman ide kepada audiens ini menjadi relatif mudah. Komunikator juga tidak perlu khawatir mengalami penolakan ketika hendak melakukan sosialisasi.

“Tentunya lebih mudah. Jadi biasanya langsung pada apa yang mau disampaikan . Langsung pada pesannya kita mau mengajak untuk apa.”101

Namun bukan berarti sosialisasi kepada audiens receptive dapat disepelekan begitu saja. Persiapan dan pesan yang kurang matang dapat membuat audiens meragukan apa yang disampaikan dan berujung pada penolakan. Ditambah apabila yang disampaikan oleh komunikator adalah hal – hal umum yang juga sudah mereka pahami dan ketahui, bukan tidak mungkin audiens menjadi bosan dan tidak berfokus pada komunikator ketika menyampaikan pesan. Kondisi tersebut dapat membuat pesan yang disampaikan tidak tertangkap dengan sempurna oleh audiens.

KPU Kota Surakarta menyiasati tipe audiens ini dengan melakukan sosialisasi yang lebih berkaitan dengan permasalahan – permasalahan teknis

101 Wawancara dengan Estiono di KPU Kota Surakarta tanggal 20 Mei 2014 pukul 14:00.

commit to user

Pemilu Legislatif 2014, salah satu contohnya adalah melakukan sosialisasi yang terkait dengan tahapan dan peraturan yang berlaku.

Audiens yang terbuka kita pasti lebih enak. Kita tinggal sosialisasi peraturan yang ada. Kita sosialisasikan tahapan tersebut agar dapat berjalan dengan baik. Bagaimana menjadi pemilih, bagaimana proses pemungutan dan penghitungan suara dan bagaimana menggunakan hak pilih.102

Selain itu, sosialisasi dapat dilakukan dengan membentuk pola pikir masyarakat untuk dapat menjadi pemilih yang aktif dan cerdas. Dalam artian tidak hanya tahu kalau tanggal 9 April ada pemungutan suara, namun juga terdapat keinginan lebih untuk lebih aktif mencari informasi yang berkaitan dengan Pemilu.

Kalau sudah ada kesadaran lebih, lebih pada menjadi pemilih yang aktif.

Pemilih yang tidak hanya menunggu. Misalnya yang sering kita sampaikan adalah sudah mengecek masuk ke DPT apa belum. Itu yang penting. Itu yang ditekankan, cara ngecek bagaimana. Lalu kalau belum masuk DPT apa yang harus dilakukan.103

b. Neutral

Dalam menghadapi audiens yang memiliki sikap netral, komunikator harus lebih memiliki kemampuan persuasif. Dalam artian harus dapat mempengaruhi masyarakat agar bertindak sesuai dengan gagasan yang akan ditanamkan. Dengan kata lain komunikator harus mampu mempromosikan

102 Wawancara dengan Kajad Pamudji Joko Waskito di KPU Kota Surakarta tanggal 14 Mei 2014 pukul 12:00.

103 Wawancara dengan Nasichun Aviv Aluwi di FISIP UNS tanggal 20 Mei 2014 pukul 12:00.

commit to user

keberadaan Pemilu sebagai sesuatu yang penting. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menjelaskan apa saja manfaat yang dapat diperoleh masyarakat ketika mereka memutuskan untuk berpartisipasi dalam Pemilu.

Cenderung memberikan pesan informatif edukatif. Jadi bagaimana kalau bapak – bapak audiens ini kalau menggunakan hak pilih apa keuntungannya. Kalau tidak menggunakan hak pilih seperti apa.104

Kita mendekonstruksi pemikiran. Jadi seperti ini lho, ngapain harus memilih. Kenapa memilih itu penting. Akhirnya timbul kesadaran dan kemudian ketertarikan. Kita tekankan bahwa waktu memilih yang cuma lima menit akan menentukan lima tahun ke depan. Jadi nggak mungkin nggak berpengaruh.105

c. Unreceptive

Audiens yang termasuk dalam tipe unreceptive adalah audiens yang memerlukan kerja ekstra dari komunikator. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tapi salah satu tanggung jawab komunikator adalah minimal membuat audiens mau mendengarkan apa yang dipaparkan. Tidak mudah memang menghadapi audiens dengan tipe semacam ini. Salah satu cara untuk menghadapinya adalah tidak serta merta langsung menyampaikan gagasan yang kita bawa, melainkan dengan melakukan berbagai manuver di awal terlebih dahulu.

104 Wawancara dengan Kajad Pamudji Joko Waskito di KPU Kota Surakarta tanggal 14 Mei 2014 pukul 13:00.

105 Wawancara dengan Nasichun Aviv Aluwi di FISIP UNS tanggal 20 Mei 2014 pukul 12:00.

commit to user

Untuk yang apatis biasanya saya pakai beberapa manuver. Berusaha mengotak – atik, membolak – balik pesannya. Walaupun tujuan kami untuk menginformasikan, menyadarkan, tapi dengan manuver dulu. Nggak langsung “kamu itu nggak boleh kaya gitu.”, itu tentu akan membuat mereka lebih apatis106

Setelah komunikator mampu memasuki audiens, baru kemudian disampaikan pesan dan gagasan utama yang dibawa oleh komunikator. Hanya memang penyampaian kepada kelompok yang apatis sebatas mengenalkan hal – hal yang mendasar seputar penyelenggaraan Pemilu Legislatif 2014.

“Ditekankan untuk jangan golput. Datanglah ke TPS. Jangan sampai tidak datang. Misalkan tidak suka sama calonnya, mungkin bisa dicoblo s partainya saja.”107

Hanya saja, jikalau audiens tetap berkeras untuk berseberangan pendapat dengan komunikator, maka komunikator tidak akan terlalu bersikeras memaksakan gagasan kepada mereka.

“Kita dekati sebisa kita mendekati. Dia kemudian mau percaya atau tidak, yang penting kita sudah menyampaikan. Sebenarnya kalau nggak percaya kan juga susah. Negara mau jadi apa.”108

Meskipun demikian, prosentase audiens yang termasuk dalam kategori unreceptive relatif paling kecil. Sehingga tidak terlalu mempengaruhi

106 Wawancara dengan Estiono di KPU Kota Surakarta tanggal 20 Mei 2014 pukul 14:00.

107 Wawancara dengan Eka Rochmawati di UNISRI tanggal 19 Mei 2014 pukul 10:00.

108 Wawancara dengan Atiek Supriyati di Purwosari tanggal 19 Mei 2014 pukul 19:00.

commit to user

keseluruhan jalannya proses sosialisasi yang dijalankan oleh KPU Kota Surakarta.

C. Evaluasi

1. Hambatan yang dihadapi dan cara mengatasinya

Meskipun strategi komunikasi sudah direncanakan dan diimplementasikan sedemikian rupa, bukan berarti tidak ditemukan kekurangan sama sekali. Dalam pelaksanaanya terdapat beberapa hambatan yang harus dihadapi oleh KPU Kota Surakarta dan jajarannya. Terutama berkaitan dengan sosialisasi dengan menggunakan media pertemuan tatap muka dengan masyarakat. Hambatan yang sempat dihadapi di tengah pelaksanaan sosialisasi diantaranya adalah:

a. Waktu

Kendala yang sering dihadapi ketika melaksanakan sosialisasi adalah waktu. Mengingat jumlah masyarakat sasaran yang ditetapkan untuk menerima sosialisasi cukup besar dengan waktu yang sangat mepet. Kondisi ini membuat KPU Kota Surakarta beserta jajaran yang ditunjuk untuk melakukan sosialisasi harus bekerja ekstra agar dapat mencapai seluruh target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Hambatan yang paling banyak ya terlalu banyaknya target yang harus kita capai, dibandingkan dengan waktu yang diberikan. Itu kita nggak bisa mencapai semua target itu. Padahal permintaannya bahkan hampir semua

commit to user

SMA / SMK itu kemudian sangan interest untuk mendapatkan pendidikan pemilih pemula.109

Selain itu, sosialisasi yang menyasar pada pemilih pemula terkendala oleh jadwal ujian. Sehingga baik KPU Kota Surakarta maupun relawan sedikit menghadapi kendala ketika melakukan penjadwalan untuk sosialisasi di sekolah – sekolah.

Yang agak ribet itu menyesuaikan waktu dan tanggal. Karena memang ngepasi dengan ujian sekolah waktu itu. Pemilih pemula kan dari SMA itu kelas 3 semua. Jadi mereka bentrok dengan ujian sekolah dan ujian yang lain – lain kan. Memang harus cari waktu yang bener – bener luang ketika mereka nggak ujian atau setelah mereka selesai ujian.110

Kesulitan menjadwalkan waktu untuk sosialisasi tak hanya dihadapi oleh Relawan Demokrasi untuk pemilih pemula saja. Marbandi, Relawan Demokrasi kelompok marginal juga menghadapi kendala yang serupa.

Masalah hambatan, yang utama ya waktu. Kita harus mencari waktu di komunitas. Waktunya kadang sulit untuk menemukan. Kadang pas di sini ada pertemuan saya nggak bisa. Waktu saya bisa hadir, jadwal tidak ada.

Jadi hambatannya adalah waktu.111

Salah satu faktor lain yang menyebabkan jadwal sosialisasi di sektor penyelenggara menjadi mepet adalah PKPU tentang teknis pemungutan suara

109 Wawancara dengan Nasichun Aviv Aluwi di FISIP UNS tanggal 20 Mei 2014 pukul 12:00.

110 Wawancara dengan Bintang Aji Permana di IAIN Surakarta tanggal 18 Mei 2014 pukul 10:00.

111 Wawancara dengan Marbandi di Manahan tanggal 21 Mei 2014 pukul 10:00.

commit to user

yang sedikit terlambat datang. PKPU tersebut menjadi sangat penting, karena merupakan salah satu esensi pesan yang disampaikan.

“Walaupun untuk waktu dan tempat pemungutan suara sudah lama diberitahukan, namun untuk teknis memang waktu sangat mepet. Karena PKPU datangnya mepet juga.”112

Kendala tersebut kemudian diatasi dengan menjalin komunikasi seintensif mungkin dengan masyarakat sasaran, sehingga dapat menemukan tanggal dan waktu yang tepat untuk melakukan sosialisasi. Baik Relawan Demokrasi, kepanitiaan ad hoc maupun KPU Kota Surakarta sendiri berusaha meluangkan waktu semaksimal mungkin untuk melaksanakan sosialisasi berkaitan dengan Pemilu Legislatif 2014.

b. Birokrasi

Hambatan yang sering juga dihadapi oleh KPU Kota Surakarta, terutama Relawan Demokrasi ketika melakukan sosialisasi adalah birokrasi. Terutama kendala ini dihadapi oleh Relawan Demokrasi dari pemilih pemula dan difabel. Hambatan yang dihadapi adalah kesulitan untuk meminta izin melakukan sosialisasi di sekolah – sekolah yang menjadi sasaran. Bahkan tidak sedikit sekolah yang menolak diadakan sosialisasi berkaitan dengan Pemilu Legislatif 2014 ini. Salah satunya adalah yang dialami oleh Estiono, Relawan Demokrasi untuk kelompok difabel demikian ini:

112 Wawancara dengan Kajad Pamudji Joko Waskito di KPU Kota Surakarta tanggal 14 Mei 2014 pukul 13:00.

commit to user

Yang agak menyita waktu itu adalah koordinasi dengan pihak sekolah sebenarnya. Bahkan SMKN 9 itu sampai 7 kali koordinasi. Ganti orang, tanya lagi persoalannya. Jadi itu paling yang agak menghambat. Tapi saya menganggapnya biasa karena memang sudah biasa berproses dengan birokrasi.113

Eka Rochmawati, koordinator Relawan Demokrasi juga memiliki pengalaman yang hampir serupa.

Kalau untuk pemilih pemula kemarin itu ada yang harus pakai surat Dikpora juga. Tapi ada juga yang langsung menerima juga. Bahkan saya sendiri dulu pernah ditolak di SMA BK. Walaupun memang menolaknya dengan cara yang halus. Waktu itu mereka beralasan sudah ada guru yang ditunjuk oleh kepala sekolah untuk melaksanakan sosialisasi. Memang ada kesulitan untuk lobi. Karena masuk sekolah itu tidak semua langsung menerima.114

KPU Kota Surakarta menyadari banyaknya kesulitan birokrasi yang dihadapi oleh Relawan Demokrasi. Sehingga kemudian KPU mengambil langkah solusi dengan menjalin kerjasama dengan Dikpora Kota Surakarta.

Akhirnya kita surati, tembusi ke Dikpora. Dikpora menelepon ke sekolah – sekolah itu dan menyatakan kalau ini program pemerintah. Akhirnya kemudian mereka mau membuka diri.115

Hambatan lain yang berkaitan dengan birokrasi juga dihadapi ketika KPU Kota Surakarta melakukan sosialisasi Pemilu Legislatif 2014 dengan

113 Wawancara dengan Estiono di KPU Kota Surakarta tanggal 20 Mei 2014 pukul 14:00.

114 Wawancara dengan Eka Rochmawati di UNISRI tanggal 19 Mei 2014 pukul 10:00

115 Wawancara dengan Setyo Budiarto di KPU Kota Surakarta tanggal 16 Mei 2014 pukul 13:00.

commit to user

mendatangi pasar – pasar. Petugas KPU dan relawan yang hendak melakukan sosialisasi sempat tidak diberikan izin untuk melakukan aktivitasnya.

Kita parkir mobil, woro – woro itu dilok’e. Mbrebeki katanya. Padahal itu ya sudah izin. Dipikirnya woro –woro jamu itu. Akhirnya di pasar yang lain saya telepon dulu, minta disiapkan lokasi karena saya mau kesana.

Yang pertama kan langsung datang itu. Lurah pasarnya juga pas belum datang.116

c. Prasangka terhadap komunikator

Relawan Demokrasi adalah sebuah program yang baru digunakan oleh KPU untuk melakukan sosialisasi pada Pemilu Legislatif 2014 ini. Sehingga masih banyak pihak yang belum mengetahui keberadaan Relawan Demokrasi sebagai perpanjangan tangan dari KPU untuk melakukan sosialisasi.

Ketidaktahuan ini kemudian menimbulkan sedikit salah paham. Terdapat beberapa prasangka dari masyarakat yang menganggap Relawan Demokrasi adalah orang – orang yang diutus oleh parpol untuk berkampanye. Sehingga pada awalnya masyarakat sasaran menjadi sedikit acuh terhadap keberadaan Relawan Demokrasi. Bahkan terdapat beberapa kejadian Relawan Demokrasi ditolak oleh masyarakat ketika hendak melakukan sosialisasi.

Memang tidak semua itu menerima. Dikiranya malah saya itu caleg.

Seperti kemarin saya (sosialisasi) juga ke Manahan, disana juga awalnya ditolak. Di kelompok itu jadi acuh. Ketika saya datang pertama kali pasti acuh.117

116 Wawancara dengan Setyo Budiarto di KPU Kota Surakarta tanggal 16 Mei 2014 pukul 13:00.

117 Wawancara dengan Hindun Zulaikha di Kantor Aisyiyah Surakarta tanggal 20 Mei 2014 pukul 09:00.

commit to user

Akan tetapi setelah menjelaskan kepada masyarakat apa itu Relawan Demokrasi dan posisi serta tugasnya, masyarakat kemudian dapat menerima sosialisasi yang diberikan dengan baik.

Kita memperkenalkan diri pertama kali bahwa saya itu bukan caleg. Tidak mensukseskan satu caleg atau partai. Kami ini relawan dari KPU. Mereka kemudian bisa menerima ketika saya jelaskan kalau kendaraan saya dari KPU.118

d.Hambatan mekanis

Sosialisasi yang dilakukan oleh KPU Kota Surakarta menggunakan beragam alat peraga sebagai pendukung. Alat peraga yang digunakan juga bervariasi, mulai dari poster, leaflet, spesimen surat suara hingga video dan alat peraga simulasi. Ketika melakukan sosialisasi tidak jarang keberadaan alat peraga menjadi salah satu hambatan. Salah satu yang sering dihadapi adalah kendala teknis ketika sosialisasi yang dilakukan menggunakan berbagai peranti elektronik seperti laptop dan proyektor.

Hambatan mekanis itu sering terjadi kalau misalnya di sekolah – sekolah.

Terkait dengan penggunaan video. Biasanya kita kan menggunakan alat – alat sendiri. Jadi yang kita gunakan kita bawa laptop sendiri. Kalau dari sekolah biasanya menyediakan proyektor. Tapi yang sering luput itu masalah speaker, sound jadi tidak bisa menjangkau.119

118 Wawancara dengan Hindun Zulaikha di Kantor Aisyiyah Surakarta tanggal 20 Mei 2014 pukul 09:00.

119 Wawancara dengan Nasichun Aviv Aluwi di FISIP UNS tanggal 20 Mei 2014 pukul 12:00.

commit to user

Selain itu permasalahan lain yang dihadapi adalah kesalahan cetak pada spesimen surat suara. Cetakan garis panduan untuk melipat pada spesimen surat suara terdapat kesalahan cetak, sehingga menjadi tidak presisi.

Ada salah sedikit dari percetakannya sendiri. Jadi (spesimen) surat suara itu nggak sesuai dengan yang diharapkan. Jadi tidak sama antara pelipatan dengan garisnya. Biasa mengikuti garisnya kan, tapi kemarin agak melenceng. Jadi kita terjun ke lapangan ya kita tekankan besok kalau melipat surat suara harus sama besar.120

Pengadaan alat peraga simulasi juga sempat menjadi kendala. Mengingat ketika melakukan simulasi, alat peraga yang harus dibawa harus menyerupai Pemilu aslinya. Sehingga relawan sedikit mengalami kerepotan ketika harus membawa semua alat peraga dari KPU menuju lokasi sosialisasi. Hambatan ini diatasi dengan membawa personil relawan lengkap ketika harus melakukan simulasi di sekolah atau kelompok sasaran lainnya.

e. Hambatan lingkungan

Ketika melakukan sosialisasi, permasalahan lokasi sosialisasi dapat menjadi suatu kendala. Kondisi lingkungan sekitar yang bising dan panas dapat membuat audiens tidak konsentrasi dan pesan yang disampaikan tidak dapat menjangkau secara maksimal. Permasalahan semacam ini pernah dialami oleh Marbandi, relawan untuk kelompok marginal ketika melakukan sosialisasi untuk para PKL di Ronggolawe. Sosialisasi yang dilakukan di pinggir jalan membuat suara tidak dapat didengar secara maksimal.

120 Wawancara dengan Eka Rochmawati di UNISRI tanggal 19 Mei 2014 pukul 10:00.

commit to user

“Saya pernah sosialisasi di jalan, waktu di PKL Ronggolawe itu.

Tempatnya kan di pinggir jalan, untuk berbicara tidak ada mikrofon. Jadi saya harus bersuara sangat keras supaya terdengar.”121

Relawan yang melakukan sosialisasi untuk pemilih pemula juga mengalami kejadian yang serupa. Kondisi tersebut pernah dialami ketika harus melakukan sosialisasi dengan jumlah audiens yang banyak dan ruangan yang cukup luas. Terkadang relawan tidak mampu mengendalikan audiens, sehingga menimbulkan suara yang ribut. Lingkungan yang tidak mendukung semacam ini tentunya dapat mengganggu proses penyampaian dan penerimaan pesan. Akan tetapi permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menjalin kerjasama dengan pihak sekolah dan guru agar dapat membantu mengontrol audiens.

Waktu di SMKN 3 itu satu angkatan ada sekitar 300an lebih orang di dalam satu ruangan yang tidak begitu luas. Akhirnya bising. Yang kita sampaikan tidak dapat mencakup semua. Kita menggunakan trik biasanya supaya mereka bisa fokus. Kita buat games, lalu tunjuk dari semua sisi untuk berpartisipasi meramaikan suasana. Kemudian ada bantuan dari pihak sekolah. Kalau sudah mulai nggak fokus lagi, guru menyampaikan supaya kembali fokus.122

f. Dana sosialisasi untuk kepanitiaan ad hoc

121 Wawancara dengan Marbandi di Manahan tanggal 21 Mei 2014 pukul 10:00.

122 Wawancara dengan Nasichun Aviv Aluwi di FISIP UNS tanggal 20 Mei 2014 pukul 12:00.

commit to user

Salah satu tugas yang harus dilakukan oleh kepanitiaan ad hoc menurut undang – undang adalah melakukan sosialisasi Pemilu. Tak terkecuali sosialisasi untuk pelaksanaan Pemilu Legislatif 2014. Akan tetapi kondisi yang terjadi di lapangan, tidak banyak anggota PPK / PPS yang melakukan sosialisasi Pemilu kepada masyarakat atau jajaran di bawahnya. Kendala yang sering ditemui adalah kurangnya dana yang dialokasikan oleh KPU untuk sosialisasi di tingkat kepanitiaan ad hoc.

Memang ada keterbatasan anggaran. Mengumpulkan orang itu ya apa cukup dikumpulkan saja, apa ya mereka mau? Pasti kan kita paling tidak menyediakan snack, seperti itu. Kalau dari segi penyelenggara kami hambatannya kurangnya anggaran untuk sosialisasi itu.123

Meskipun demikian, keterbatasan ini dapat diatasi dengan menyelenggarakan sosialisasi dengan menumpang pada acara – acara rutin yang ada di wilayah. Sehingga sosialisasi dapat dilakukan, pesan dari KPU dapat disampaikan kepada masyarakat serta tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk melakukan sosialisasi dan mengumpulkan masyarakat.

Untungnya kalau di Kecamatan Jebres itu sering ada pertemuan, misalnya ada anjangsana PKK. Satu kelurahan PKK dikumpulkan di satu RW,

Untungnya kalau di Kecamatan Jebres itu sering ada pertemuan, misalnya ada anjangsana PKK. Satu kelurahan PKK dikumpulkan di satu RW,

Dokumen terkait