• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan utama KPU Kota Surakarta merancang beragam program dan pesan untuk sosialisasi Pemilu Legislatif 2014 adalah peningkatan partisipasi politik masyarakat. Jika mengacu pada target nasional, partisipasi politik masyarakat pada Pileg 2014 harus menyentuh angka 75%. Selain memberikan pesan informatif dan edukatif mengenai pelaksanaan Pemilu 2014, KPU Kota Surakarta juga menambahkan pesan persuasif. Salah satu pesan persuasif yang wajib untuk dibicarakan pada setiap kelompok adalah ajakan untuk menggunakan hak pilih pada Pileg 2014. Setyo Budiarto mengakui pesan persuasif adalah salah satu instruksi dari pusat untuk disampaikan kepada masyarakat di daerah.

“Pesan yang disampaikan kita mengacu Surat Edaran (SE) dari pusat saja.

Intinya ya 9 April itu ada Pemilu, ajakan untuk datang ke TPS.”38

Relawan Demokrasi kelompok agama, Hindun Zulaikha menambahkan KPU Kota Surakarta memang sudah menitipkan pesan – pesan apa saja yang harus disampaikan kepada masyarakat.

“Sebetulnya yang utama dan pokok adalah bagaimana para pemilih nanti tidak golput. Itu pesannya. Pokoknya mengajak semua berpartisipasi pada Pemilu.”39

Di samping lima pesan utama tersebut, segmen dan lapisan masyarakat yang berbeda juga menambahkan penekanan tertentu kepada masing – masing

38 Wawancara dengan Setyo Budiarto di KPU Kota Surakarta tanggal 16 Mei 2014 pukul 13:00.

39 Wawancara dengan Hindun Zulaikha di Kantor Aisyiyah Surakarta tanggal 20 Mei 2014 pukul 09:00.

commit to user

kelompok sasaran. Tentu saja ini berarti berbeda kelompok sasaran maka akan terdapat beberapa perbedaan pesan yang disampaikan. Mayoritas pesan khusus yang disampaikan ini merupakan inisiatif sendiri dari komunikator di masing – masing lapisan. Komunikator yang sudah lebih memahami kondisi masyarakat sebelumnya merencanakan beberapa pesan yang dirasa mampu membuat kelompok sasaran mereka terdorong untuk memilih pada Pemilu Legislatif 2014.

Pesan – pesan tersebut berbeda antara kelompok yang satu dan lainnya, walaupun pada prakteknya tidak semua kelompok memperoleh pesan khusus tersebut.

Kelompok yang mendapatkan pesan – pesan khusus diantaranya adalah:

a. Struktur penyelenggara Pemilu

Sosialisasi yang dilakukan melalui struktur penyelenggara, memanfaatkan jaringan KPU Kota Surakarta ke bawah. Baik itu melalui Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di tingkat kecamatan, Panitia Pemungutan Suara (PPS) di tingkat kelurahan dan Kelompok Penyelenggara dan Pemungutan Suara (KPPS) di tingkat RT/RW. Pesan yang menjadi penekanan ketika sosialisasi melalui struktur penyelenggara adalah mengenai peraturan pemilu.

Mengingat posisi PPK, PPS dan KPPS yang merupakan panitia ad hoc dalam penyelenggaran Pemilu. Sehingga pengetahuan tentang peraturan dan undang – undang adalah hal yang utama. Sehingga dapat dikatakan untuk sosialisasi dengan memanfaatkan struktur penyelenggara tidak secara langsung berbicara mengenai peningkatan partisipasi politik. Ketua PPK Jebres, Sumarmo mengakui adanya penekanan tersebut.

commit to user

... (sosialisasi) kebanyakan tentang teknisnya. Misalkan kalau mulai tentang pendaftaran pemilih itu, ya pasti pemilih pendatang bagaimana caranya, pemilih yang pindah bagaimana caranya. Terutama kalau mahasiswa yang dari luar Jawa atau rumahnya jauh juga mungkin diijinkan.40

Namun, Ketua KPU Kota Surakarta, Agus Sulistyo meyakini dengan mendapatkan pembekalan dan melakukan sosialisasi yang berkaitan dengan peraturan pemilu, secara tidak langsung juga akan berimplikasi pada peningkatan partisipasi politik masyarakat.

“Kalau penyelenggara memang sudah benar, penekanannya adalah teknis, teknis penyelenggaraan. Tapi itu berimplikasi secara tidak langsung pada peningkatan partisipasi.”41

Masih berkaitan dengan pesan khusus peraturan pemilu melalui struktur penyelenggara, KPU Kota Surakarta melakukan sosialisasi peraturan sesuai dengan tahapan yang sedang berjalan. Baik PPK, PPS dan KPPS telah menerima timeline atau jadwal dari KPU, sehingga sosialisasi yang dilakukan tinggal menyesuaikan. Anggota PPS Kelurahan Jebres, Sutardi menjelaskan sedikitnya ada tiga tahap sosialisasi yang dilakukan oleh kelompok struktur penyelenggara.

Tahapan awal menyangkut tanggal, pelaksanaan kemudian mekanismenya.

Kemudian yang mendekati pemilu itu sosialisasinya mengenai proses cara pencoblosan. Bagaimana mencoblos yang sah, kemudian bagaimana yang

40 Wawancara dengan Sumarmo di Kantor Kecamatan Jebres tanggal 28 Mei 2014 pukul 10:00.

41 Wawancara dengan Agus Sulistyo di KPU Kota Surakarta tanggal 27 Juni 2014 pukul 13:00.

commit to user

tidak sah seperti apa. Lalu ada sosialisasi kepada tokoh masyarakat mengenai kebutuhan KPPS.42

Berdasarkan uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa KPU Kota Surakarta berusaha mengemas setiap tahapan dalam Pemilu dalam kerangka sosialisasi. Ketua KPU Kota Surakarta menginginkan sosialisasi tidak semata dimaknai memberitahukan kepada masyarakat tanggal pelaksanaan Pemilu semata, melainkan juga memperkenalkan tahapan Pemilu kepada masyarakat.

Otomatis pesan yang disampaikan juga akan bervariasi.

Kita tidak memaknai sosialisasi sebagai sebuah kegiatan yang terkotak.

Hanya kapan nyoblos, kemudian tanggal berapa, jam berapa itu nggak.

Tapi bagaimana kita memformat sebuah sosialisasi yang mencerdaskan masyarakat. Jadi masyarakat juga ada informasi lain.43

b. Pemilih Pemula

Selain lima hal pokok yang harus disampaikan, ketika melakukan sosialisasi juga dimasukkan unsur pendidikan menganai Pemilu sebagai salah satu materi. Pendidikan Pemilu dimaksudkan agar masyarakat semakin mengenal apa itu Pemilu dan pentingnya Pemilu di Indonesia. Pendidikan dan pengetahuan tentang Pemilu ini terutama ditekankan kepada kelompok – kelompok sasaran yang sebelumnya tidak mempunyai hak pilih, seperti kelompok pemilih pemula dan difabel.

Kelompok pemilih pemula adalah mereka yang baru mempunyai hak pilih dalam Pemilu 2014 ini, sehingga pengetahuan tentang Pemilu boleh dikatakan kurang apabila dibandingkan dengan kelompok lainnya.

42 Wawancara dengan Sutardi di Ngoresan tanggal 4 Juni 2014 pukul 10:00.

43 Wawancara dengan Agus Sulistyo di KPU Kota Surakarta tanggal 27 Juni 2014 pukul 13:00.

commit to user

Di samping penekanan terhadap pentingnya Pemilu, terutama terhadap kelompok pemilih pemula sangat perlu diperkenalkan tentang apa itu Pemilu.

Nasichun Aviv Aluwi, relawan demokrasi untuk pemilih pemula menyatakan yang paling mendasar untuk disampaikan kepada pemilih pemula adalah pengetahuan tentang Pemilu itu.

Pesan lain yang disampaikan adalah tentang teknis penyelenggaraan Pemilu dengan memanfaatkan simulasi proses pemungutan suara. diharapkan nantinya kelompok pemilih pemula dan difabel sudah tidak lagi bingung ketika datang ke TPS. Setyo Budiarto menjelaskan konsep simulasi yang dilakukan sebagai berikut:

Kalau pemula kan belum pernah memilih. Jadi kita jelaskan sampai detail, misal caranya membuka surat suara, masuk ke bilik itu bagaimana. Kita lakukan dengan simulasi. Kalau difabel lebih detail lagi. Didampingi berkali – kali sampai bisa benar. Lebih banyak prakteknya kalau difabel.44 Akan tetapi, penggunaan simulasi tidak selalu mutlak menjadi satu – satunya metode yang digunakan untuk kelompok pemilih pemula. Nasichun Aviv Aluwi menyatakan tidak semua sekolah yang menjadi sasaran sosialisasi mendapatkan kesempatan untuk melakukan simulasi. Kondis i tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Simulasi kadang dilakukan, tapi kalau simulasi itu nggak semua dapat simulasi. Karena kan ada juga itu tadi masalah waktu dan audiens yang terlalu banyak. Kemudian kita sesuaikan juga dengan kondisi yang ada di masing – masing SMA.45

44 Wawancara dengan Setyo Budiarto di KPU Kota Surakarta tanggal 16 Mei 2014 pukul 13:00.

45 Wawancara dengan Nasichun Aviv Aluwi di FISIP UNSI tanggal 20 Mei 2014 pukul 12:00.

commit to user

Bintang Aji Permana menambahkan simulasi untuk kelompok pemilih pemula juga terkendala dengan jumlah relawan demokrasi yang hari itu siap melakukan sosialisasi. Mengingat ketika simulasi tidak sedikit alat peraga yang harus dibawa, baik itu bilik suara, spesimen surat suara sampai tinta tanda sudah memilih. Karena simulasi yang dilakukan harus benar – benar menyerupai kondisi asli di TPS pada hari pemungutan suara.

“Ada simulasinya di sekolah ketika personelnya (relawan demokrasi) banyak. Kalau personelnya sedikit kan nggak mungkin juga bawa peralatan – peralatan itu.”46

c. Difabel

Berdasarkan karakteristiknya yang tidak dapat dengan mudah memperoleh informasi, kelompok difabel juga belum banyak memiliki pengetahuan Pemilu. Angga menjelaskan terutama untuk kelompok difabel sangat perlu ditekankan masalah pentingnya Pemilu ini agar mereka dapat tergerak menggunakan hak pilih yanng mereka miliki.

Kalau dari Relasi (difabel) saya dan mas Tio konsen bener – bener kta semaksimal mungkin fokus untuk menyapaikan pesan kenapa Pemilu itu penting. Caranya kita mulai dari penyadaran mereka. Kehidupan mereka juga dipengaruhi oleh kebijakan. Kebijakan tentunya juga dipengaruhi Pemilu. Tidak bisa tidak. Karena sebenarnya ini penting. Cuma mereka nggak sadar akan hal itu.47

46 Wawancara dengan Bintang Aji Permana di IAIN Surakarta tanggal 18 Mei 2014 pukul 10:00.

47 Wawancara dengan Angga Kusuma Dawami di Ngoresan tanggal 20 Mei 2014 pukul 19:00.

commit to user

Salah satu pesan khusus lainnya yang disosialisasikan oleh KPU adalah mengenai cara dan teknis dalam menggunakan hak pilih. Yang dimaksud adalah bagaimana alur dan proses masyarakat untuk dapat menggunakan hak pilih yang mereka miliki. Keseriusan KPU dalam merancang pesan ini adalah merancang model sosialisasi dengan menggunakan simulasi. Terutama simulasi digunakan untuk sosialisasi terhadap kelompok difabel dan pemilih pemula, yang notabene masih awam dengan proses Pemilu. Simulasi yang dilakukan adalah dengan melibatkan peserta sosialisasi untuk memperagakan situasi yang akan dihadapi di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sehingga diharapkan nantinya kelompok pemilih pemula dan difabel sudah tidak lagi bingung ketika datang ke TPS. Setyo Budiarto menjelaskan konsep simulasi yang dilakukan sebagai berikut:

Kalau pemula kan belum pernah memilih. Jadi kita jelaskan sampai detail, misal caranya membuka surat suara, masuk ke bilik itu bagaimana. Kita lakukan dengan simulasi. Kalau difabel lebih detail lagi. Didampingi berkali – kali sampai bisa benar. Lebih banyak prakteknya kalau difabel.48

Estiono, Relawan Demokrasi kelompok difabel juga mengakui pentingnya dilakukan simulasi ketika melakukan sosialisasi kepada sasaran. Dengan diadakan simulasi, pemahaman kelompok difabel mengenai proses pemberian suara dalam Pemilu bisa menjadi lebih dalam. Terutama apabila berkaitan dengan sosialisasi kepada kelompok slow learner.

48 Wawancara dengan Setyo Budiarto di KPU Kota Surakarta tanggal 16 Mei 2014 pukul 13:00.

commit to user

Karena kalau nggak praktek, terutama teman-teman yang slow learner dan tuna netra kan tidak paham. Terutama kalau dari temen-temen slow learner kemarin kita minta back up full dari KPU untuk membawa alat – alat peraga lengkap.49

Estiono menambahkan, kelompok difabel juga sangat perlu untuk diberikan penyadaran mengenai pentingnya hak pilih yang mereka miliki.

Kami berikan yang utama itu terkait membangun pemahaman mengenai apa pentingnya Pemilu. Dalam artian mengapa kita harus memilih itu, tapi kita kondisikan, kita kaitkan dengan kehidupan mereka. Misalnya kalau untuk teman – teman yang masih sekolah terkait apabila memilih pemimpin yang tidak tepat dalam Pemilu maka tidak akan ada sekolah, tidak ada penganggaran, tidak ada sistem dan sebagainya. Supaya mereka tahu manfaatnya yang bersinggungan langsung dengan mereka.50

d. Kelompok Agama

Salah satu tujuan utama dilakukan sosialisasi Pemilu Legislatif 2014 adalah agar masyarakat dapat menggunakan hak pilih yang mereka miliki.

Akan tetapi tidak semua lapisan masyarakat menyadari hak tersebut.

Beberapa malah mengabaikan hak pilih yang mereka miliki. Sehingga dirasa perlu bagi KPU dan jajaran yang ditunjuk untuk melakukan sosialisasi dengan memberikan pesan yang mampu berkaitan dengan membangkitkan kesadaran mengenai hak pilih. Walaupun cara – cara yang digunakan untuk membangkitkan kesadaran berbeda antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya.

49 Wawancara dengan Estiono di KPU Kota Surakarta tanggal 20 Mei 2014 pukul 14:00.

50 Wawancara dengan Estiono di KPU Kota Surakarta tanggal 20 Mei 2014 pukul 14:00.

commit to user

Dalam melakukan sosialisasi pada beberapa kelompok, KPU beserta jajarannya juga sering mengalami kendala. Sehingga untuk meyakinkan masyarakat mengenai pentingnya hak pilih dilakukan dengan cara sedikit represif. Salah satunya adalah untuk menghadapi beberapa kelompok agama.

Tidak dapat dipungkiri ada beberapa kelompok agama yang mendukung gerakan untuk golput. Sehingga untuk mengantisipasinya, KPU mengutip salah satu fatwa MUI yang menyatakan bahwa golput itu haram. Dengan diberikan pesan tersebut, diharapkan masyarakat mampu menyadari pentingnya Pemilu dan kemudian menggunakan hak pilih yang mereka miliki. Setyo Budiarto, dalam wawancaranya juga memberikan pernyataan yang senada.

“Kalau agama diberikan pesan ya bahwa golput itu haram. Apatis soalnya.

Ketika dibekali oleh MUI kalau golput itu haram kan mereka langsung tersentuh.”51

Untuk mendukung pesan tersebut, salah satu relawan demokrasi untuk kelompok agama, Hindun Zulaikha melengkapi sosialisasinya kepada sasaran dengan mengutip beberapa ayat Al-Quran.

“Karena saya dari keagamaan, saya berikan motivasi kepada mereka dengan menggunakan ayat – ayat AlQuran.”52

51 Wawancara dengan Setyo Budiarto di KPU Kota Surakaera tanggal 16 Mei 2014 pukul 13:00.

52 Wawancara dengan Hindun Zulaikha di Kantor Aisyiyah Surakarta tanggal 20 Mei 2014 pukul 09:00.

commit to user

Dokumen terkait