• Tidak ada hasil yang ditemukan

“Company Excellent Achievement Indonesia’s TOP 50”

Dalam dokumen Bank Tabungan Negara 2013 (Halaman 130-133)

130

Bank BTN | Laporan Tahunan 2013

peningkatan laba bersih 15% lebih tinggi dari tahun 2012. Selanjutnya, pertumbuhan laba bersih mengakibatkan pertumbuhan ekuitas sebesar 12% lebih tinggi pada tahun 2012. Dengan hasil tersebut, Bank telah menunjukkan komitmen manajemen yang baik untuk mengatur proitabilitas dan menghasilkan pertumbuhan aset, liabilitas dan ekuitas untuk menjadi bank terbaik dalam penyediaan sumber pembiayaan yang mudah dijangkau oleh masyarakat.

Berdasarkan target 2013, manajemen pada dasarnya menargetkan laba bersih tahun 2013 sebesar Rp1,61 triliun dan saldo aset per 2013 sebesar Rp135,91 triliun. Berdasarkan laporan keuangan yang sudah diaudit per tahun 2013, Bank BTN telah mencapai laba bersih sebesar Rp1,56 triliun dan pertumbuhan aset yang signiikan dengan saldo sebesar Rp131,17 trilliun, atau lebih rendah 3%-5% dari target 2013. Kendati pencapaian 2013 sedikit melenceng dari target, Bank BTN dapat mempertahankan jumlah aset di atas Rp100 triliun dan menjadi salah satu dari 10 bank dengan aset terbesar di Indonesia.

Unit Usaha Syariah

Guna menjaring nasabah yang berbasis syariah, Bank BTN memperluas jaringan dengan mendirikan Unit Usaha Syariah pada tahun 2004 dengan tujuan untuk menyediakan layanan pembiayaan dan layanan simpanan atas dasar prinsip syariah. Sejalan dengan predikat Bank BTN sebagai bank perumahan, Unit Usaha Syariah juga menyediakan pembiayaan rumah dengan prinsip Murabahah (jual beli) dan Istisna (jual beli berdasarkan pesanan).

Unit Usaha Syariah juga menyediakan berbagai macam produk pembiayaan non perumahan seperti pembiayaan modal kerja BTN iB, pembiayaan investasi BTN iB dan pembiayaan talangan haji iB dalam konsep mudharabah dan musyarakah (bagi hasil), istisna (jual beli berdasarkan pesanan), rahn (jaminan), dan ijarah (sewa). Paket pembiayaan sebagian besar didukung oleh dana simpanan deposito berjangka mudharabah.

Pendapatan yang diperoleh dari pembiayaan syariah merupakan marjin yang diakui dari transaksi Murabahah (jual beli) dan bagi hasil dalam transaksi Mudharabah dan Musyarakah. Selama tahun 2013, Unit Usaha Syariah mencapai kenaikan pendapatan syariah, yang merupakan bagian dari pendapatan Bank pada Laporan Rugi Laba, sebesar 16% dibanding tahun 2012 yang memberikan kontribusi sebesar 4% terhadap pendapatan bruto selama tahun 2013. Transaksi pembiayaan syariah yang meningkat menyebabkan aset syariah tumbuh sebesar 25% dibandingkan 2012. Peningkatan pembiayaan syariah didukung oleh pertumbuhan dana simpanan nasabah berbasis syariah sebesar 15% pada tahun 2013. Sejalan dengan pertumbuhan portofolio syariah tersebut, perolehan laba bersih berbasis syariah meningkat 62% selama tahun 2013.

Pertumbuhan tersebut salah satunya disebabkan oleh adanya inovasi produk-produk pembiayaan syariah yang menarik nasabah lebih banyak.

Relevansi Tinjauan Industri

Terhadap Kinerja Keuangan

Berdasarkan informasi dari biro pusat statistik tahun 2013, penduduk Indonesia telah mencapai 250 juta orang, yang diklasiikasikan pada 61 juta masyarakat keluarga rumah tangga. Sejumlah 78% dari masyarakat rumah tangga telah tersedia kebutuhan rumah dan lingkungan hidup yang layak. Selebihnya atau sejumlah 13 juta masyarakat rumah tangga masih mengalami kekurangan kebutuhan perumahan.

Sesuai dengan informasi industri perumahan yang diambil dari Kementrian Perumahan Rakyat, total permintaan kebutuhan perumahan per tahun telah mencapai 800.000 unit rumah meskipun pasokan hanya mencapai 400.000 rumah per tahun. Hal ini berarti bahwa setiap tahun, negara kita memiliki kekurangan persediaan unit rumah yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan perumahan bagi masyarakat. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah bersama dengan Menteri Perumahan Rakyat

akan menciptakan persediaan unit rumah dengan lingkungan yang layak tinggal bagi penduduk Indonesia yang merupakan bagian dari rencanan pemerintah untuk suatu periode. Guna memotivasi masyarakat untuk memiliki daya beli yang cukup untuk melakukan belanja rumah, masyarakat keluarga rumah tangga tersebut membutuhkan dukungan sumber pembiyaan. Pemerintah bersama dengan Bank dan lembaga keuangan menyediakan dukungan pembiayaan bagi kebutuhan perumahan di Indonesia yang tercermin dalam bentuk KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

Berdasarkan data KPR untuk pembiayaan rumah yang diambil dari Goldman Sachs Riset dan Estimasi, kontribusi jumlah pembiayaan rumah terhadap nilai produksi domestik bruto di Indonesia adalah kontribusi terendah, dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Oleh karena itu, fakta ini telah menunjukkan kepada kita bahwa negara ini masih membutuhkan pembiayaan rumah yang mendukung untuk dapat melingkupi nilai produk domestik bruto masyarakat dan pertumbuhan permintaan perumahan. Selanjutnya, bisnis pembiayaan KPR masih memiliki peluang yang baik untuk bertumbuh dan berkembang guna memenuhi pertumbuhan permintaan perumahan di Indonesia, khususnya di tahun- tahun periode pembangunan Indonesia yang masih tahap berkembang.

Berdasarkan informasi berita keuangan detik inance terakhir per tanggal 30 Desember 2013, hanya 18 bank-bank di Indonesia yang siap berkomitmen mengikuti program pemerintah dalam penyaluran dana KPR terhadap masyarakat di tengah kondisi perekonomian yang bergejolak pada tahun 2013. Salah satu dari bank-bank tersebut adalah Bank BTN dimana masih tetap berkomitmen penuh dalah penyaluran dana perumahan kepada masyarakat.

Atas konsistensi Bank BTN dalam menjalankan peranannya sebagai bank perumahan, Bank BTN menjadi fokus dan leader terhadap penyaluran dana pembiayaan perumahan bagi masyarakat. Dengan kata lain, Bank BTN masih merupakan market leader produk pembiayaan perumahan (KPR).

Jika dilihat dari penentuan tingkat suku bunga KPR, dimana menurut kacamata industri, Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) industri perbankan telah mengikuti BI Rate, yakni berkisar pada tingkat 10%. Selama tahun 2013, Bank BTN rata-rata menetapkan tingkat suku bunga KPR sebesar 11% dengan mempertimbangkan komitmen marjin pendapatan bunga bersih dan proitabilitas Bank. Dalam kondisi penetapan suku bunga demikian, Bank BTN memiliki potensi dan daya saing yang handal dengan industri perbankan lainnya, dalam meningkatkan portofolio kredit di masa kini dan masa yang akan datang.

Di samping itu, berdasarkan analisa komparatif antara Bank BTN sebagai bank perumahan dengan industri perbankan kredit perumahan, pada tahun 2013, Bank BTN merealisasikan penyaluran KPR Subsidi dengan porsi terbesar dari porto folio industri perbankan KPR Subsidi, yakni sebesar 93,88% dimana sejumlah Rp6,02 triliun berasal dari segmen perbankan konvensional. Realisasi KPR Subsidi tersebut meningkat signiikan sebesar 51% dari tahun 2012, yang selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan kredit pada level 24% pada tahun 2013. Dengan porsi realisasi KPR Subsidi terbesar pada industri perbankan kredit properti, khususnya KPR Subsidi, hal ini telah menunjukkan realisasi Bank BTN sebagai pemimpin pangsa pasar industri perbankan KPR Subsidi dan sekaligus meningkatkan portofolio aset yang menjadikan Bank BTN sebagai salah satu dari 10 peringkat bank-bank di Indonesia dengan aset terbesar.

132

Bank BTN | Laporan Tahunan 2013

Analisis Kinerja

Dalam dokumen Bank Tabungan Negara 2013 (Halaman 130-133)

Dokumen terkait