• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efek-efek yang Dijual Dengan Janji Dibeli Kembal

Dalam dokumen Bank Tabungan Negara 2013 (Halaman 148-150)

Sumber pendanaan alternatif lain selain dari deposito adalah efek yang dijual dengan janji dibeli kembali adalah efek-efek yang dijual dengan janji dibeli kembali. Pada tahun 2013, liabilitas ini mengalami peningkatan sebesar 14% dari saldo tahun 2012. Peningkatan ini disebabkan oleh penambahan efek-efek yang dijual dengan janji dibeli kembali, yakni yang dimiliki oleh Standard Chartered Bank yang sebesar Rp315,2 miliar yang penjualannya efektif dilakukan per tanggal 28 November 2013.

Surat-surat Berharga yang Diterbitkan

Selama tahun 2013, Bank telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2013 yang efektif diterbitkan pada tanggal 27 Maret 2013 sebesar Rp2 triliun dengan bunga 7,90% per tahun. Dampak penerbitan obligasi baru meningkatkan liabilitas ini sebesar 24% lebih tinggi pada tahun 2013. Kontribusi dana dari surat berharga yang diterbitkan adalah sebesar 7% dari porsi liabilitas pada tahun 2013.

tanpa hak preferen dengan hak-hak kreditur Bank lainnya baik yang ada sekarang maupun dikemudian hari, kecuali hak-hak kreditur Bank yang dijamin secara khusus dengan kekayaan Bank baik yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari. Obligasi ini tidak dijamin dengan jaminan khusus, tetapi dijamin dengan seluruh harta kekayaan Bank, baik barang bergerak maupun barang tidak bergerak, baik yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian hari menjadi jaminan bagi pemegang obligasi.

Pinjaman yang Diterima

Bank BTN telah ditunjuk sebagai Bank Koordinator penyaluran Kredit Program untuk Kredit Pemilikan Rumah-Rumah Sederhana (KPR-RS) dan Rumah Sangat Sederhana (KPR-RSS). BUMN yang ditunjuk sebagai Bank Koordinator dalam penyaluran Kredit Program tersebut, juga ditunjuk untuk menerima pengalihan KLBI dalam rangka kredit program yang belum digunakan dan masih berjalan serta yang telah disetujui tetapi belum ditarik berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 2/3/PBI/2000 tanggal 1 Februari 2000 dan diperbaharui melalui Peraturan Bank Indonesia No. 5/20/ PBI/2003 tanggal 17 September 2003 tentang Pengalihan Pengelolaan KLBI Dalam Rangka Kredit Program. Meskipun Bank telah ditunjuk sebagai Bank Koordinator, dalam program tersebut Bank tetap berpartisipasi sebagai bank pelaksana. Pinjaman yang diterima terdiri dari dukungan dana dari Bank Indonesia dalam bentuk Penyalur Kredit Bank dan Fasilitas Kredit Likuiditas dengan tingkat bunga rata-rata 3-9% per tahun yang digunakan untuk mendanai KPR Subsidi yang ditawarkan kepada nasabah. Sumber pendanaan lainnya yang merupakan bagian pinjaman yang diterima, yaitu: Bank BTN juga telah melakukan sekuritisasi KPR dengan PT. Sarana Multigriya Finansial (Persero). Akun ini terdiri dari Fasilitas Pinjaman VI, V, dan IV, Term Purchase Program dan Pembiayaan yang diperoleh dari PT SMF yang ditujukan untuk pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kepada debitur Bank. Plafon pinjaman untuk Fasilitas Pinjaman VI, V dan IV masing-masing

148

Bank BTN | Laporan Tahunan 2013

dan jatuh tempo pada tanggal 14 Desember 2017, 20 Juni 2022 dan 4 Juni 2013. Plafon pinjaman untuk Term Purchase Program tahap I, II, dan III masing-masing sebesar Rp500.000 yang akan jatuh tempo masing-masing pada tanggal-tanggal 20 Juni 2013, 20 Mei 2014, dan 2 Maret 2017.

Pada tanggal 20 April 2013, Bank telah melakukan penyelesaian atas pinjaman yang diterima dari Bank Mutiara sebesar Rp150 miliar. Pinjaman dari Bank Mutiara sebelumnya merupakan fasilitas pinjaman ditujukan untuk pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kepada debitur Bank dengan suku bunga per tahun sebesar 7,75% tetap selama dua tahun. Di samping itu, Bank juga menerima fasilitas pinjaman dari Bank

BCA yang ditujukan untuk pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kepada debitur Bank. Plafon pinjaman sebesar Rp2 triliun dengan tingkat suku bunga 7,50% per tahun.

Selama tahun 2013, posisi pinjaman yang diterima oleh Bank BTN mengalami peningkatan sebesar 5% dari Rp6,74 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp7,07 triliun pada tahun 2013. Peningkatan tersebut disebabkan dari efek bersih peningkatan pinjaman dari PT Sarana Multigriya Finansial sebesar Rp500 miliar melalui purchase program per tanggal 20 Juni 2013 dengan pelunasan pinjaman dari Bank Mutiara yang telah jatuh tempo sebesar Rp150 miliar yang dilakukan pada tanggal 20 April 2013.

Ekuitas

 

2013 2012 Kenaikan

dalam jutaan Rupiah %

Modal Saham 5.282.427 5.178.220 2

Tambahan modal disetor – bersih 2.025.764 1.793.503 13

Opsi saham 10.600 103.054 -90

Keuntungan (kerugian) yang belum direalisasiatas efek-efek

dan obligasi pemerintah yang tersedia untuk dijual – bersih (90.046) 29.058 -410 Saldo laba yang telah ditentukan penggunaannya 2.765.847 1.811.074 53

Saldo Laba belum ditentukan penggunaannya 1.562.161 1.363.962 15

Jumlah Ekuitas 11.556.753 10.278.871 12

Pada tahun 2013, total ekuitas meningkat sebesar 12% lebih tinggi yang terutama didorong oleh pertumbuhan modal saham sebesar 2% dan pertumbuhan agio saham sebesar 13%, yang berasal dari eksekusi opsi saham sebesar Rp104,21 miliar yang telah disetor penuh dan pertumbuhan laba sebesar 15%. Untuk merealisasikan eksekusi opsi saham

tersebut, Bank telah menerbitkan 208.413.000 lembar saham biasa atas nama seri B dengan nilai nominal Rp500 (Rupiah penuh) per saham dasar. Dengan penambahan saham baru akibat opsi saham dan pertumbuhan laba bersih, ekuitas meningkat sebesar 12% lebih tinggi pada tahun 2013.

Struktur Modal

Rata-rata tingkat suku bunga: 2013 2012

dalam persentase (%)

Struktur Modal Bank:

Kewajiban 91 92

Ekuitas 9 8

Aktiva 100 100

Pada tahun 2012, aktiva Bank dibiayai oleh 92% dari kewajiban dan 8% dari ekuitas. Sedangkan pada tahun 2013 aktiva Bank dibiayai oleh 91% dari kewajiban dan 9% dari ekuitas. Sejalan dengan peranan eksistensi Bank BTN guna mendukung program pemerintah untuk mengadakan ketersediaan kebutuhan perumahan, Bank telah berperan sebagai penyalur keuangan antara pemerintah, investor dan masyarakat. Pemerintah dan investor menyalurkan pendanaan yang dicatat sebagai liabilitas dan ekuitas dan Bank menyalurkan pendanaan dalam bentuk produk pembiayaan, yang dialokasikan kepada perumahan pada khususnya, yang merupakan aset portofolio Bank. Selanjutnya, guna mengurangi perbedaan selisih periode antara aset sebagai pemanfaatan pendanaan dan sumber pendanaan itu sendiri, Bank mendanai sebagian besar asetnya dalam bentuk liabilitas dengan jangka waktu yang lebih pasti, seperti simpanan dari nasabah dalam bentuk deposito berjangka.

Sesuai dengan Peraturan BI, modal Bank terdiri dari:

Dalam dokumen Bank Tabungan Negara 2013 (Halaman 148-150)

Dokumen terkait