• Tidak ada hasil yang ditemukan

CONTOH BLANKO PENILAIAN MUSYAWARAH

Dalam dokumen pembaruan sistem pendidikan salaf di pon (1) (Halaman 92-101)

BAB IV PAPARAN DATA

CONTOH BLANKO PENILAIAN MUSYAWARAH

Adapun mekanisme kontrol dan penilaian kelas ada di lampiran. Sebenarnya, kegiatan musyawarah tidak hanya dilaksanakan pada jam musyawarah diatas. Musyawarah juga dilaksanakan pada jam sekolah dan pada jam luar sekolah (jam ekstra), meliputi:

a. Musyawarah pada jam sekolah, yang dilaksanakan pada waktu pra-KBM. Kegiatan ini dilaksanakan setelah selesainya kegiatan lalaran bersama. Musyawarah ini ditujukan sebagai tindak lanjut dari musyawarah sebelumnya untuk elabolasi dan eksplorasi lebih lanjut dalam forum yang lebih besar, yaitu dalam lingkup satu kelas.

b. Musyawarah jam ekstra dilaksanakan di luar jam sekolah dan jam musyawarah. Sebagian besar dilaksanakan pada malam hari selekas

rampung dari KBM di MHM. Karena memang kegiatan santri di pesantren Lirboyo sangat padat. Di waktu pagi, siang sampai sore para santri mengisi waktunya dengan mengikuti pengajian bandongan masyayikh/ asatidz, menulis kitab, ber-organisasi, menjalankan tugas sebagai santri khodim/ ndalem101, maupun kegiatan pribadi masing-masing. Kategori musyawarah ini pun bermacam-macam, meliputi:

1) Musyawaroh yang ditangani oleh Lajnah Bahtsul Masa’il Lirboyo.

Dalam pelaksanaannya, musyawarah dibagi kedalam dua tingkatan, yaitu musyawarah tingkatan kitab Fathul Qorib (untuk tingkatan Tsanawiyah) dan al-

Mahalli (untuk tingkatan ‘Aliyah). Musyawarah untuk tingkatan Tsanawiyah dan ‘Aliyah ini mengambil pokok pembahasan pada disiplin ilmu Fiqih, karena siswa telah dibekali berbagai pisau analisis hukum, sehingga siswa dipandang mampu untuk memecahkan problem waqi’iyah dari sudut pandang hukum Islam.

Hal ini berbeda dengan materi musyawarah untuk tingkatan Ibtida’iyah

yang lebih menekankan pada disiplin ilmu Nahwu dan Shorof. Dengan pertimbangan bahwa fondasi keilmuan paling elementer dalam jenjang pendidikan pondok pesantren adalah ilmu Nahwu dan Shorof. Kedua ilmu tersebut dipandang sebagai kunci dari segala ilmu, mengingat kedua ilmu sangat berperan dalam kemampuan siswa menelaah berbagai referensi disiplin ilmu yang lain.

101 Santri khodim/ ndalem adalah santri yang mengabdikan dirinya untuk membantu

keperluan masyayikh maupun dzurriyah. Ada yang bertugas mengurus sawah/ kebun, menjaga warung/ toko, kebersihan rumah tangga Kiai, maupun lainnya.

2) Musyawaroh yang ditangani oleh PPK (pengurus pusat kelas)

3) Musyawaroh yang ditangani oleh jam’iyah

4) Musyawaroh yang ditangani oleh pondok unit

Agar musyawarah dapat berjalan dengan efektif dan efisien, M3HM telah mengadakan pembinaan-pembinaan khusus kepada ro’is pada setiap awal tahun.

Kegiatan ini biasa disebut dengan penataran kero’isan. Isi materi penataran kero’isan bisa dilihat di lampiran.

Upaya M3HM dalam memajukan musyawarah juga nampak dengan dibentuknya TIMSUS (Tim Khusus). Tugas pokok TIMSUS ini adalah membina siswa

Ibtida’iyah secara khusus dalam teknis musyawarah yang benar, cara murodi, dan cara berargumen. TIMSUS beranggotakan siswa-siswa pilihan dari tingkat Tsanawiyah.

d. Muhafadzhoh

Muhafadzhoh secara etimologi berarti menjaga102, sedangkan dalam pemakaian di MHM Lirboyo muhafadzhoh berarti kegiatan ngelalar/ lalaran (membaca berulang kali) inti materi pelajaran tertentu yang ditujukan untuk mempermudah dan memperkuat hafalan terhadap materi pelajaran tersebut.

Muhafadzhoh merupakan program wajib di MHM Lirboyo yang rutin dilaksanakan saban hari, yaitu sebelum jam KBM berlangsung. Disamping itu, juga diagendakan muhafadzhoh mingguan yang dilaksanakan secara kolektif (gabungan antar kelas dalam satu tingkatan) setelah jam sekolah pada satu hari

102 Kamus al-Munawwir, hlm. 279

tertentu dalam satu minggu. Muhafadzhoh mingguan ini dipusatkan di gedung al-Muhafadzhoh.

Di luar jam sekolah dan program wajib muhafadzoh dari MHM, siswa juga secara mandiri mengadakan kegiatan lalaran pada saat longgar. Sebagian besar melaksanakan lalaran di maqbaroh masyayikh Lirboyo, masjid Lirboyo, lokal kelas maupun tempat lain yang nyaman dan tidak mengganggu konsentrasi. Adapun waktunya sangat bervariasi, ada yang memanfaatkan waktu setiap setelah sholat wajib, di pagi hari ketika pikiran fresh dan rileks, ataupun waktu yang lain.

Banyaknya program MHM Lirboyo yang terkait dengan hafalan ini menunjukkan keseriusan MHM menjaga dan mengamalkan tradisi ulama’ as- salaf as-sholih untuk menjaga kemurnian ajaran

Adapun materi pelajaran yang menjadi bahan muhafadzhoh adalah

nadzhom ‘Uqudul Juman, al-Jauhar al-Maknun, Alfiyah ibn Malik, Tahsrif Lughowi dan Tashrif Ishtilahy, 103. Mengamati dari data diatas, ada benang merah yang ditemukan bahwa semua bahan muhafadzhoh sebenarnya merupakan trah/ rumpun disiplin ilmu alat (ilmu ketatabahasaan bahasa Arab).

Fenomena ini menjadi menarik dan penting untuk dicermati, mengingat tujuan utama pendidikan pondok pesantren adalah mengantarkan santri untuk menjadi insan yang tafaqquh fi ad-din (memahami hukum agama Islam) dan

berkepribadian Islami, hal mana secara spesifik kedua misi ini menjadi ‘otoritas’

standar kompetensi dari ilmu fiqih dan akhlaq.

Menanggapi atas tanda tanya besar tersebut, Bapak .... menjelaskan:

e. Koreksian Kitab

Sebagaimana diketahui, bahwa buku ajar utama dan – bisa dibilang – satu-satunya di pondok pesantren salaf adalah kitab kuning. Kitab kuning ini juga populer dikenal dengan sebutan kitab gundhul. Disebut gundhul (Indonesia: botak) karena kitab ini dicetak tanpa menggunakan harakat maupun makna/ terjemah. Asal mula penyebutan gundhul ini adalah sebagai ‘respon’ dari kitab yang sudah diberi makna gandhul104 dengan format penulisan sedemikian

rupa sehingga ‘menjelmakan’ kitab yang ber-rambut105 (mempunyai rambut). Sehingga kitab yang masing kosong dari makna gandhul ini disebut kitab gundhul.

Karena menggunakan bahasa asing (bahasa Arab) sebagai bahasa pengantarnya, maka mutlak dibutuhkan media untuk memahami isi kandungan kitab kuning. Adapun media tersebut adalah bahasa Jawa yang dikemas dalam rumusan-rumusan tertentu dan ditulis menggunakan aksara Pegon di bagian bawah teks kitab kuning. Hal mana kegiatan memaknai kitab kuning dengan tata cara seperti diatas populer disebut dengan ngabsahi/ ngesahi kitab.

Di pondok pesantren Lirboyo tradisi ngabsahi/ ngesahi (memberi makna) kitab ini masih terasa sangat kental, baik ketika kegiatan pengajian kitab di madrasah, pengajian bandongan/ wethonan, maupun di sesi sorogan. Ketika kiai membacakan kitab, semua santri terlihat serempak memaknai kitab mereka

104 Disebut gandhul (indonesia: menggantung) karena makna dari sebuah teks Arab

dituliskan tepat di bawah teks itu sendiri, sehingga seakan-akan makna itu ‘menggantung’ di bawah teks Arab.

105 Rambut dalam hal ini adalah isti’aroh (personifikasi) dari tulisan terjemah yang ditulis

menggunakan aksara pegon (aksara Arab ala Jawa) dan biasanya ditulis memanjang sehingga menyerupai rambut.

masing-masing. Format duduk mereka pun serempak, yaitu duduk bersila dengan memangku kitab menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanan mereka sibuk menulis makna. Inilah diantara tradisi pokok pondok pesantren yang masih mengurat akar sampai sekarang.

Setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam memaknai kitab, yaitu: memberi tanda tarkib106, memaknai mufrodat (kosa kata bahasa Arab) yang dianggap sulit, dan memberi tanda ruju’ dlomir107.

Ada satu warna dari tradisi memaknai kitab di pesantren Lirboyo yang mungkin tidak ditemui di pondok pesantren lain, yaitu selalu menulis lengkap makna yang dibacakan oleh masyayikh/ ustadz. Hal ini menjadikan kitab santri Lirboyo selalu penuh dengan makna, ruju’ dlomir atau sekedar tanda tarkib. Yang menjadikan tradisi ini berbeda dengan tradisi di pondok pesantren lain adalah penekanan pentingnya – baca: wajib – memaknai kitab. Hal mana dijumpai di pondok pesantren lain tidak ada penekanan seperti itu, karena memegang prinsip kebolehan tidak memaknai pada lafadz kitab kuning yang sudah ma’lum (dimengerti maknanya). Sebagai contoh perbandingan adalah pondok pesantren al-Anwar Sarang, Rembang, yang memegang prinsip

‘pantang’ memaknai kitab kuning kecuali memang tidak tahu artinya.108

106 Tarkib adalah jabatan kata dalam tata bahasa Arab, misalnya fa’il (subjek), maf’ul bih

(objek), dzhorof zaman (kata keterangan waktu), dan lain-lain.

107Ruju’ dlomir merupakan istilah untuk menyebut sebuah proses dimana kandungan kata

ganti (dlomir) mengarah (ruju’) kepada sesuatu yang tertentu (marji’), biasanya sesuatu tersebut telah disebutkan sebelumnya, bisa berupa perorangan, kelompok, benda, suatu kejadian, atau mungkin lainnya. Biasanya dituliskan dengan tanda yang khas dan unik.

108 Seringkali dilandasi dengan dalil لْعِلْع ُ لي الصُ ُ رل ا لي الصُ ُ رل (ilmu sejati itu ada di hati/

memori otak, bukannya di tulisan). Dalil ini berarti anjuran untuk memahami, meresapi dan menghafal ilmu yang diajarkan, agar setiap kali muncul permasalahan, tanpa repot-repot mencari- cari/ membuka-buka kitab bisa langsung mengetahui jawabannya, sehingga tidak terus-menerus mengandalkan kitab/ buku. Tradisi tidak memaknai kitab ini sebenarnya juga berkeinginan kuat untuk melatih para santri dalam membaca kitab kosongan.

Hal ini tak lepas dari petuah pengasuh Lirboyo, KH. Marzuqi Dahlan,

yang berbunyi: “ padange kitab dadi petenge ati, petenge kitab dadi padange ati”109

. ( kitab yang ‘terang’ [karena tidak diberi makna atau tidak banyak tulisan

penjelas sehingga kelihatan ‘terang’] berimplikasi pada suramnya hati [hati

menjadi suram karena tidak memahami ilmu], sedangkan kitab yang gelap [dikarenakan diberi makna atau banyak tulisan penjelas sehingga kelihatan

‘gelap’] berimplikasi pada bersinarnya hati [hati menjadi bersinar karena bisa memahami ilmu] ).

Dawuh diatas secara eksplisit menganjurkan betapa urgennya menulis makna kitab maupun penjelasan-penjelasan lainnya dalam rangka membantu pemahaman dan mengingatkan kembali penjelasan yang terlupakan. Bahwa

manusia adalah ‘makhluk pelupa’, hal ini dipahami betul oleh masyayikh Lirboyo dengan mewajibkan memaknai kitab, agar makna kitab itu bisa menjadi pengingat di kemudian hari tatkala lupa, pemantap hati ketika ragu akan makna yang benar, maupun sebagai bukti otentik kesinambungan (sanad) silsilah mengaji dengan masyayik.

Manfaat memaknai kitab secara dramatis diungkapkan oleh seorang

santri sebagai berikut: “makno gandhul iku ibarat alat gandhulane awake dewe mbesok neng masyarakat” (makna gandhul di kitab itu bagaikan tumpuan kita ketika bermasyarakat kelak).

Akhirnya, sebagai follow up dari urgensi memaknai kitab sebagaimana dijelaskan di atas adalah dengan diterapkannya kewajiban memaknai kitab di

109 Dalil lain yang senafas dengan dawuh ini adalah ليادْاعللع ْلد اباا لِلت علَةاِ (ilmu itu bagaikan hewan

MHM Lirboyo. Adapun sebagai instrumen kontrol dilakukan program koreksian kitab pada setiap menjelang ujian semester.

Dalam pelaksanaan program koreksian kitab ini, semua kitab masing- masing siswa dikumpulkan menjadi satu. Kitab-kitab itu ditumpuk rapi

sedemikian rupa menurut ‘derajat keilmuan’ kitab, dalam hal ini kitab mata pelajaran tafsir ditempatkan teratas, disusul hadits, tauhid, tashawwuf, fiqih,

akhlak, nahwu, shorof, balaghah, ‘arudl, dan seterusnya. Sikap ini adalah

cerminan penghargaan atas kitab yang telah mentradisi kuat di pondok pesantren. Masing-masing kitab ini dibuka pada halaman pertama dari batasan kitab yang diajarkan, kemudian satu persatu kitab dikoreksi kelengkapan maknanya oleh korektor yang dalam hal ini adalah pengajar kelas lain. Kitab yang lengkap maknanya diberi tanda stempel tamm, dan oleh karenanya si empunya kitab berhak untuk mengikuti ujian semester. Sebaliknya, kitab yang tidak lolos tidak diberi stempel, dengan konsekuensi harus nembel (melengkapi makna yang kosong) kitabnya terlebih dahulu, baru setelah itu diperbolehkan mengikuti ujian semester sebelum. Adapun ketentuan-ketentuan dalam koreksian kitab bisa dilihat pada lampiran.

Dengan adanya koreksian kitab ini, proses KBM di kelas menjadi sangat tertunjang sehingga menjadi lebih kondusif. Dari pengamatan peneliti pada pelaksanaan KBM, seluruh siswa secara simultan memaknai kitab mereka masing-masing tanpa satu pun siswa yang menelantarkan kitabnya tanpa dimaknai. Fenomena ini secara tidak langsung juga turut andil dalam menumbuhkan kesadaran siswa akan menunaikan kewajibannya sebagai pelajar secara umum, khususnya dalam memaknai kitab.

f. Bahtsul Masa’il

Secara etimologi, bahtsul masa’il terdiri dari dua kata, yaitu bahtsu yang berarti membahas, dan al-masa’il yang bermakna beberapa masalah. Dalam konteks keilmuan Islam, terminologi bahtsul masa’il merujuk pada sebuah forum diskusi untuk mencari dan memberikan jawaban atau solusi Islam terhadap problematika-problematika aktual (al-masâ’il al-wâqi’iyyah).110

Di pesantren Lirboyo terdapat suatu badan khusus yang menangani

kegiatan bahtsul masa’il, yaitu Lajnah Bahtsul Masa’il Pondok Pesantren

Lirboyo (LBM P2L). Pendirian LBM P2L ini merupakan ikhtiyar dan upaya meningkatkan kwalitas dan kreatifitas siswa melalu pengembangan forum

bahtsul masa’il, kajian kitab kuning maupun forum kajian ilmiah lain, yang dimaksudkan untuk mempersiapkan siswa siap dan mampu menjawab masalah- masalah waqi’iyah.

110

BAB V

Dalam dokumen pembaruan sistem pendidikan salaf di pon (1) (Halaman 92-101)

Dokumen terkait