BAB IV PAPARAN DATA
PEMBAGIAN BAGIAN KELAS Tingkatan
Kelas
Bagian Sub-Kelas Jumlah Siswa
I Tsanawi A 1 42 2 41 3 38 B 1 37 2 45 3 39 4 40
Ketika jatuh tempo perpindahan kwartal, Mustahiq yang mengajar di kelas bagian A-1 dirolling mengajar di kelas A-2, Mustahiq yang semula mengajar di kelas A-2 dirolling mengajar di kelas A-3, begitu seterusnya terjadi rolling ketika terjadi pergantian kwartal.
Walaupun menggunakan sistem kwartal, namun untuk pelaksanaan ujian tetap diselenggarakan tiap setengah tahun, atau dalam kata lain disebut semester, yang meliputi semester ganjil dan semester genap. Rangkaian ujian semester ganjil meliputi koreksian kitab dan ujian utama, sedangkan rangkaian ujian semester genap meliputi muhafadzhoh, korekian kitab dan ujian utama.
2) Pengajar
Jalannya proses KBM tentulah tak bisa lepas dari peran pengajar/ pendidik. Di MHM Lirboyo, pengajar diklasifikasikan menjadi dua, yaitu Mustahiq dan Munawwib. Secara etimologi, Mustahiq berarti ‘orang yang
yang mengampu pelajaran pokok87, seperti fiqih, nahwu, shorof, tauhid dan lain- lain pada satu kelas tertentu. Di sekolah formal istilah Mustahiq ini dikenal
dengan istilah ‘Guru Kelas’. Banyaknya mata pelajaran yang diampu Mustahiq
secara otomatis menjadikan jam mengajar Mustahiq sangat banyak. Rata-rata jam mengajar Mustahiq adalah 5 (lima) hari dalam satu minggu. Bahkan ada yang setiap hari mempunyai jam tatap muka.
Intensitas tatap muka Mustahiq yang begitu besar berimplikasi pada eratnya jalinan komunikasi antara Mustahiq dan siswa. Inilah yang menjadi alasan kontribusi Mustahiq atas anak didiknya dalam proses pendidikan sangat tinggi. Karena Mustahiq tak hanya mengemban tugas menyampaikan materi ajar belaka, namun juga bertanggung jawab atas baik-buruknya siswa yang dimanajeri olehnya, dzhohiron wa bathinan. Mulai dari menyampaikan dan memahamkan pelajaran, mengontrol dan mengembangkan musyawarah kelas, bertanggung jawab atas kedisiplinan dan keaktifan siswa kelasnya, ketercapaian target belajar dan hafalan, bahkan urusan akhlaq siswa. Dari sini nampak kesesuaian arti harfiyah kata Mustahiq dengan tugasnya, bahwa Mustahiq adalah orang yang berhak –dalam arti bertanggung jawab dan bertugas- atas pendidikan anak asuhnya.
Mustahiq adalah pengajar yang sering diistilahkan ‘bapak asuh’ dalam
perihal pendidikan di pesantren Lirboyo yang secara khusus mendapat tugas
87 Prosentase pelajaran pokok yang diampu oleh Mustahiq bervariasi nilainya. Pada tingkat Ibtida’iyah, prosentase rata-rata 17 %. Pada tingkat Tsanawiyah 17-25 %, sedangkan pada tingkat Aliyah berkisar 33-42 %. Nilai-nilai ini juga berarti besarnya intensitas tatap muka Mustahiq dalam suatu kelas.
ngancani bibinahu88 (menemani belajar) siswa-siswa tertentu sampai menamatkan jenjang terakhir, yaitu kelas III Aliyah. Dalam jenjang karirnya,
setiap tahun Mustahiq juga mengalami ‘kenaikan kelas’ sebagaimana siswa
didiknya. Begitu seterusnya sampai tamat kelas III Aliyah. Bahkan ada beberapa Mustahiq yang setelah tamat mengulangi mengajar lagi dari bawah, sampai pada akhirnya ia tamat sebagai Mustahiq sebanyak dua kali.
Sedangkan Munawwib merupakan pengajar di MHM sebagai pendamping Mustahiq yang mengampu mata pelajaran non-pokok, seperti Akhlaq, Tafsir, Hadits, Sejarah, Bahasa, dan lain-lain. Ikatan emosional antara Munawwib dan siswa memang tidak terlalu besar, sekalipun demikian peran Munawwib tentu tak bisa dipandang sebelah mata. Ini dikarenakan sebagian besar Munawwib merupakan pengajar senior atau bahkan masyayikh dan dzurriyah (keluarga kiai) yang pada umumnya merupakan eks. Mustahiq yang telah tamat (rampung mengajar sampai kelas 3 Aliyah).
3) Pengajaran
Strategi pertama yang dilakukan dalam konteks pembelajaran di MHM Lirboyo Tsanawiyah adalah pembagian siswa ke dalam kelas. Pembagian ini ruti dilaksanakan setiap tahun, tepatnya di awal tahun. Pembagian yang dimaksud adalah pengoplosan (pengacakan secara random) siswa
ini menggunakan adalah Seperti dijelaskan diatas, pimpinan MHM Lirboyo hanya memberikan pembekalan kepada dewan pengajar berupa fondasi
88 Ngancani bibinahu (menemani belajar) merupakan istilah Jawa yang bernada merendah
penataan hati dan niat dalam motivasi mengabdikan diri sebagai pengajar, tanpa memberikan pengarahan metode pengajaran tertentu. Dengan demikian, pengajar baik Mustahiq maupun Munawwib menjalankan tugasnya dengan berpedoman pada petuah pimpinan MHM dan kebijakan yang digariskan di HSPK, seperti dalam hal kurikulum, tata tertib maupun alokasi waktu.
Dalam teknis pengajaran, dewan Mustahiqqin89 melakukan interpretasi atas kebijakan institusional dan intruksional di HSPK menjadi strategi pengajaran praktis. Diantara strategi pengajaran praktis yang dihasilkan adalah batasan materi pelajaran dan hafalan siswa yang harus dicapai dalam tatap muka periode tertentu.
Terkait dengan metode pengajaran, pimpinan MHM memberikan kepercayaan dan otoritas sepenuhnya kepada para pengajar untuk mengelola, menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran yang akan digunakan oleh mereka sesuai dengan kemampuan dan keyakinannya akan suatu metode pengajaran, serta mempertimbangkan kebutuhan dan situasi-kondisi siswa. Hal ini tercermin dari penjelasan Bapak A. Mutohar bahwa “terkait trik ataupun teknis mengajar tidak secara eksplisit diarahkan oleh pimpinan MHM. Pimpinan MHM dalam hal ini hanya memberikan penekanan fondasi penataan hati dan niat dalam motivasi mengabdikan diri sebagai pengajar.”90.
89 Dewan Mustahiqqin adalah perkumpulan mustahiq-mustahiq dalam satu tingkatan kelas.
Dewan ini secara rutin mengadakan pertemuan untuk sharing dan membahas segala perkembangan yang terjadi di kelasnya masing-masing.
90 A. Mutohar, wawancara, dewan mustahiq merangkap seksi keamanan MHM Lirboyo, 21
Hal prinsip yang diketengahkan dalam penyampaian pelajaran adalah agar Mustahiq dan Munawwib menjelaskan materi dengan mencukupkan keterangan yang tertulis di dalam kitab dan dengan gaya penjelasan yang standar. Hal ini dilakukan agar semua siswa dapat menangkap penjelasan yang disampaikan, baik siswa dengan intelegensi tinggi, sedang maupun rendah.
Pimpinan MHM juga menekankan agar dewan pengajar, baik Mustahiq maupun Munawwib senantiasa mempersiapkan diri dengan matang sebelum memberikan pengajaran, baik dalam hal penguasaan materi dan pengembangannya, maupun strategi pengajaran yang akan dilakukan. Hal ini secara efektif dipatuhi dan dijalankan oleh segenap dewan pengajar.
Melihat kecendrungan bahwa Mustahiq mempunyai latar belakang dan kualitas individual yang berbeda, hal yang lumrah terjadi adalah beragamnya model pengajaran yang diterapkan Mustahiq. Mustahiq yang hobi ber-bahtsul masa’il misalnya, terlihat cenderung lebih mengarahkan siswa didiknya untuk lebih mengembangkan kegiatan musyawarah dalam kelas. Begitu juga Mustahiq yang hobi membaca literatur umum, terlihat sering berupaya mengorelasikan perkembangan dunia luar dengan materi pelajaran.
Adapula Mustahiq yang hobi pada mata pelajaran tertentu, terdapat kecendrungan lebih bersemangat untuk mengeleborasi mata pelajaran tersebut. Hal berbeda terjadi sebaliknya, Mustahiq yang kurang menguasai mata pelajaran tertentu cenderung memberikan pengajaran yang sekenanya.
TABEL 5