• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAGIAN ALOKASI WAKTU KBM

BAB IV PAPARAN DATA

PEMBAGIAN ALOKASI WAKTU KBM

Jam (wis) kegiatan Penanggung Jawab

KBM

(19.0

0-

23.00 wis)

19.00 – 19.30 Lalaran bersama Semua

19.30 – 20.00 Musyawarah Tindak Lanjut/ Pendalaman dari hasil musyawarah pada siang hari

Ro’is

20.00 – 20.30 Memaknai Kitab Mustahiq/ Munawwib 20.30 – 21.00 Penjelasan Materi

21.00 – 21.30 Istirahat Semua

21.30 – 22.00 Musyawarah Tindak Lanjut/ Pendalaman dari hasil musyawarah pada siang hari

22.00-23.00 Memaknai dan Penjelasan Materi

Untuk menunjang pembelajaran utama yang telah dijalankan, pimpinan MHM Lirboyo mengintruksikan kepada dewan Mustahiqqin masing-masing kelas untuk mengadakan pengajian bandongan di luar jam sekolah yang ditujukan untuk menambah wawasan siswa. Kitab yang dibalah (dibacakan) diusahakan kitab yang menunjang pelajaran di sekolah. Sebenarnya, lingkup pengajian ini mulanya diprioritaskan untuk siswa didik dari Mustahiq yang ngorek (membacakan) kitab tersebut, namun siswa lain juga diperkenankan mengikuti.

Disamping itu, pimpinan MHM juga memberi tugas tambahan kepada dewan Mustahiqqin agar memberikan perhatian dan sekaligus waktu tambahan pengajaran, seperti layaknya les privat. Tambahan pengajaran ini diprioritaskan untuk siswa yang memiliki kemampuan daya tangkap tinggi dan siswa yang daya tangkapnya rendah. Untuk siswa dengan daya tangkap tinggi, tambahan waktu pembelajaran berfaidah untuk lebih mengembangkan potensi siswa yang terpendam, hal mana mungkin proses KBM di kelas dirasa kurang memadai. Adapun tambahan waktu pembelajaran siswa yang ber-daya tangkap rendah

berfaidah untuk menuntun siswa mengejar ketertinggalan pemahaman dari siswa lain.

Kebijakan lain yang menunjang efektifitas pembelajaran di MHM Lirboyo adalah larangan bagi siswa yang masih kelas Tsanawiyah dan

Ibtida’iyah merangkap/ mengikuti perkuliahan. Kebijakan ini diambil agar siswa

tidak terpecah konsentra-sinya dalam mempelajari dan mendalami pelajaran di MHM Lirboyo, disamping itu juga karena pelaksanaan perkuliahan bersamaan dengan jam musyawarah, yaitu jam 11.00-13.00 wis.

Disamping itu, siswa juga dilarang untuk mengikuti pengajian kitab bandongan yang tingkat kesulitannya diatas kemampuan siswa. Larangan ini terpampang dengan jelas di atas pintu masuk masjid Lawang Songo sebelah timur dengan redaksi: Santri dilarang nderek pengajian kitab engkang dereng pangkat-ipun “. Larangan ini muncul dari alm. KH. Marzuqi Dahlan dan alm. KH. Mahrus Ali sebagai bentuk antisipasi merebaknya siswa yang mengaji kitab dengan bobot tinggi padahal siswa tersebut belum mampu memahaminya, agar tidak terjadi pemahaman yang keliru atas kandungan kitab.

Dalam konteks buku ajar, MHM Lirboyo melakukan inovasi dengan mewajibkan menulis ulang teks kitab tertentu. Tahapan teknisnya adalah siswa menulis ulang kitab-kitab tersebut di buku tulis khusus dalam format yang sama persis dengan format di kitab. Kemudian buku yang berisi tulisan salinan dari kitab itulah yang digunakan siswa dalam memaknai dan mencatat keterangan dari Mustahiq. Berhubung saking banyaknya kitab yang harus ditulis, beberapa siswa mensiasati dengan menulis kitab jauh-jauh hari sebelum materi yang

ditulis itu diajarkan, sebagian menggunakan waktu liburan puasa dan hari raya

‘Idul Fitri untuk menulis kitab yang akan diajarkan pada tahun depan.

Kewajiban menulis/ menyalin ulang kitab ini didasarkan pada pertimbangan bahwa

Untuk keperluan evaluasi, pimpinan MHM Lirboyo mengagendakan acara Temu Wicara pada tiap akhir kwartal dengan para Mustahiq. Pada kesempatan tersebut, para Mustahiq per-tingkatan kelas dimintai laporan dan diajak sharing terkait dengan perkembangan siswa, pelajaran dan kondisi di kelas masing-masing. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar yang telah lewat untuk dicarikan solusi pemecahan masalahnya dan kemudian diimplementasikan pada kwartal selanjutnya. Seringkali Mufattisy dan Mudier memberi arahan teknis-implementatif dalam pengajaran berdasarkan kendala-kendala yang dihadapi oleh dewan mustahiq.91 Sering kali dikatakan bahwa agenda Temu Wicara sebagai momen memperbarui motivasi dan orientasi mengajar.

Dalam hal keaktifan dan kedisiplinan di Madrasah Tsanawiyah MHM, pimpinan dan pengajar sangat menekankan dapat dika

b. Musyafahah dan Tamrin

Musyafahah secara etimologi berarti ‘berbicara mulut ke mulut, berdialog’.92 Dalam istilah MHM Lirboyo, musyafahah berarti review atau testing yang dilakukan pengajar kepada daya ingat siswa atas materi pelajaran

91 Wawancara Bapak A. Mutohar. 92 Al-Munawwir, hlm. 730.

yang telah lampau dengan cara tanya-jawab secara langsung. Kegiatan ini merupakan inovasi baru yang belum terencanakan secara teratur, sehingga pelaksanaanya pun sangat bergantung pada kemauan pengajar masing-masing.

Melihat kecendrungan ini, maka pimpinan MHM mengintruksikan kepada pengajar agar secara berkala mengadakan testing (musyafahah), misalnya setiap 2 (dua) minggu sekali. Waktu untuk mengadakan musyafahah diambilkan dari jam musyawarah.93

Adapun tamrin merupakan ‘ujian mini’ yang dilaksanakan setiap hari Senin pada hisshoh ula. Tamrin ini pada sekolah umum sering disebut dengan

‘ulangan/ ujian harian’. Dalam setiap tamrin, materi yang diujikan adalah satu

mata pelajaran tertentu, dan setiap minggunya materi tamrin berganti secara estafet dengan mata pelajaran lain.

Berbeda dengan musyafahah yang dalam pelaksanaannya kurang begitu berjalan, pelaksanaan tamrin terlihat lebih terstruktur dan terencana rapi. Ini terlihat dari pelaksanaan tamrin yang menggunakan buku khusus tamrin yang disediakan oleh MHM. Disamping itu, pada dewan Mustahiqqin tingkatan kelas masing-masing juga ditunjuk salah satu Mustahiq yang menjadi koordinator tamrin. Mustahiq ini bertugas mengkoordinir pembuat soal tamrin dan pelaksanaan tamrin secara keseluruhan. Bahkan, nilai tamrin menjadi salah satu aspek input penilaian dalam raport MHM.

93 Wawancara Bapak Irfan Zidni

c. Musyawaroh

Musyawaroh (diskusi) merupakan sebuah tradisi menyampaikan sekaligus mendengarkan pendapat dalam Islam yang telah digalakkan sejak Nabi Muhammad SAW. Ini terbukti dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang secara spesifik berisi anjuran melaksanakan musyawaroh.

Dalam konteks MHM Lirboyo, musyawaroh merupakan salah satu pilar penting yang memegang peranan strategis dalam upaya menunjang pemahaman, pendalaman dan pengembangan materi-materi yang telah diajarkan serta mengasah mental dan kemampuan siswa dalam berdiskusi dan berargumentasi. Program musyawaroh di MHM Lirboyo ini diinisiasi oleh KH. Zamroji94 pada tahun 1947 M.95 Pada awalnya program ini hanyalah program sunnah, dalam arti tidak diwajibkan. Namun melihat kurangnya antusias siswa dalam mengikuti program ini dan memandang dampak positif yang dirasakan dengan adanya program musyawaroh, maka dalam perkembangannya program ini menjadi program wajib sebagai satu-kesatuan kumulatif pendidikan di MHM Lirboyo.

Diantara dampak positif dari program musyawaroh adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh ...

Adapun komponen personalia yang terlibat dalam kegiatan musyawarah meliputi ro’is/ moderator, katib/ notulis, perumus, mushohhih, dan peserta musyawarah. Masing-masing personalia dalam forum musyawarah memiliki

94 KH. Zamroji merupakan Mudier MHM Lirboyo tahun 1942 1950. 95 MHM, HSPK, hlm. xi.

hak, larangan dan kewajiban yang harus ditaati agar musyawarah berjalan khidmat.96

Dalam pelaksanaannya, tata laksana musyawarah tersusun sistematis. Acara musyawarah dimulai dari pembahasan hal yang prinsip dan berlanjut ke pengembangan. Secara rinci tahapan tata laksana yang biasa dijalankan dalam setiap kegiatan musyawaroh adalah sebagai berikut:

1. Pembacaan kitab serta murad (tarjamah dan inti permasalahan)-nya, 2. Penyimpulan materi bahasan,

3. Pertanyaan sekitar Tarkib,

4. Pertanyaan sekitar Tarjamah dan murad (pengertian), serta 5. Pertanyaan yang berkaitan dengan materi bahasan.

Adapun penekanan pemteknis

Pada kegiatan musyawaroh tersebut, biasanya siswa dalam satu kelas membentuk beberapa halaqoh (kelompok belajar) yang dipimpin seorang ro’is. Forum halaqoh ini disebut musyawaroh kelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan maksimal 7 (tujuh) orang.

Ro’is merupakan istilah yang ditujukan bagi siswa yang memimpin jalannya musyawarah, seperti moderator, hanya saja tugas ro’is lebih kompleks. Secara berurutan ia bertugas memulai musyawarah, menjelaskan murod (arti pelajaran) dan mengupayakan ketercapaian pemahaman teman dalam

96 Penjelasan terkait kewajiban, larangan dan hak masing-masing personalia dalam

kelompoknya. Selanjutnya ro’is bertugas memberikan perluasan dan pendalaman pemahaman dari kitab syarah yang telah ia baca dan setelah itu ia memimpin jalannya diskusi kelompok.97

Di kelas Ro’is merupakan sebuah jabatan struktural yang ditugaskan kepada siswa-siswa tertentu yang berprestasi secara akademik. Dalam struktural kero’isan, terdapat jabatan Ro’is ‘Am (kepala ro’is) sebagai pimpinan dan ro’is

anggota. Ro’is anggota ini bertugas untuk menjadi ro’is musyawarah pada satu mata pelajaran tertentu. Atau dengan kata lain, di setiap mata pelajaran terdapat

ro’is khusus yang bertugas memimpin ketika mata pelajaran tersebut

dimusyawarahkan. Biasanya per-mata pelajaran mempunyai ro’is khusus lebih dari satu. Dalam satu periode tertentu diagendakan rolling personalia ro’is maupun bidang mata pelajaran yang diampu. Dengan adanya pengangkatan ro’is ini pada akhirnya merangsang siswa untuk belajar secara aktif dan mandiri.

Materi yang dimusyarahkan pada jam musyawarah adalah materi pelajaran yang diajarkan oleh Mustahiq/ Munawwib pada pertemuan sebelumnya. Adapun jadwal musyawarah menyesuaikan jadwal KBM di setiap harinya. Teknisnya, pelajaran yang dimusyawarahkan pada hari ini adalah pelajaran yang dijadwalkan pada KBM hari besok. Hal ini dilakukan agar pelajaran yang telah diajarkan telah diserap seutuhnya oleh siswa, dan kalaupun ada kendala pemahaman akan diatasi oleh pengajar terlebih dahulu sebelum berlanjut ke materi lain.

97 M3HM, Materi Sidang DPM-MU & Brifing Kontrol Musyawarah, (Kediri: M3HM,

Halaqoh musyawaroh kelas ini sangat membantu dalam pembangunan mental menyuarakan pendapat, mengatur dan mempertahankan argumen serta mencerna pendapat orang lain. Maka sebenarnya tugas memimpin musyawarah ini tak hanya menjadi otoritas ro’is saja, namun menjadi tugas semua santri. Maka sering kali secara periodik santri lain diberikan kesempatan untuk mero’isi

musyawarah. Hal ini secara gamblang dijelaskan oleh Bapak Irfan Zidni, “

tujuan dari adanya pembagian kedalam kelompok-kelompok adalah agar semua siswa –tak hanya ro’is saja- juga bisa murodi pelajaran. Maka dari itu M3HM menganjurkan agar setelah ro’is menjelaskan murod, masing-masing siswa diberi kesempatan untuk latihan murodi.”98

Tujuan utama dari pelaksanaan musyawarah adalah pemerataan pemahaman materi pelajaran. Dalam rangka mencapai pemahaman yang merata itu, M3HM menganjurkan agar pembahasan utama dalam musyawarah adalah terkait dengan materi pokok. Adapun teknisnya sebagai berikut:

1. Untuk pelajaran yang berisi nadzhom, maka yang ditekankan adalah setidak-tidaknya pemahaman atas nadzhom itu sendiri, sementara qouluhu (keterangan pengkayaan nadzhom) bisa dieksplorasi lagi pada kesempatan lain.

2. Untuk pelajaran yang bersifat deskriptif, agar sekiranya ro’is membuat skema ringkas terkait komponen-komponen pokok, agar siswa lain dapat dengan mudah memahami pelajaran.

Manfaat musyawarah yang paling utama untuk siswa adalah dapat memahami pelajaran.99 Begitu besarnya manfaat dari musyawarah ini, maka tak heran jika pengajar sangat antusias dengan mengawasi jalannya musyawarah secara langsung serta memberi pembinaan dan ta’zir (hukuman) kepada siswa yang tidak mengikuti musyawarah. Program musyawarah di MHM dilaksanakan pada jam 14.00 s/d 16.00

wis (untuk tingkat Ibtida’iyah) dan jam 11.00 s/d 13.00 wis (untuk tingkat Tsanawiyah dan ‘Aliyah). Program ini secara konsep terus mengalami

pembenahan, diantaranya adalah pembenahan distribusi waktu musyawarah sebagai berikut:

TABEL 6

Dokumen terkait