• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Kasus Posisi Dominan melalui Pemilikan Saham 1 Kasus Cineplex

PENDEKATAN EKONOMI DALAM MEMAHAMI PERSAINGAN USAHA

PERILAKU PELAKU USAHA UNTUK MENJADI POSISI DOMINAN MELALUI PEMILIKAN SAHAM YANG BERTENTANGAN DENGAN UU

D. Contoh Kasus Posisi Dominan melalui Pemilikan Saham 1 Kasus Cineplex

Kasus Cineplex 21 yang dibawa ke KPPU dan Terdaftar dengan No 05/KPPU-L/2002 berawal dari laporan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Yayasan Monopoly Watch (YMW). Pelapor dengan suratnya tertanggal 5 Juli 2002 yang disampaikan kepada Komisi pada tanggal 5 Juli 2002, menyatakan bahwa dalam bidang perfilman dan perbioskopan ditemukan adanya dugaan kuat pelanggaran terhadap UU No. 5 Tahun 1999 yaitu Monopoli Bioskop yang dilakukan oleh Group 21, yang mengakibatkan persaingan bisnis curang . Bahwa karena itu Pelapor meminta kepada Komisi untuk melakukan pemeriksaan.

Data dan informasi lain yang didapatkan dari proses pemeriksaan dan penyelidikan tersebut adalah sebagai berikut :

a. PT. CIF dan PT. SPEF terintegrasi secara vertikal dengan PT.NSR dalam rangkaian jasa pendistribusian dan penayangan film impor MPA (Motion Pictures Association, sebuah asosiasi produsen film-film yang dikenal sebagai Major Camponies, antara lain: Columbia Picture, 21th Century Fox, Buena Vista International, Metro Golden Meyer, dll), namun

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007.

USU Repository © 2009

penguasaan tersebut dibawah 50% dari keseluruhan film Import sehingga bukan merupakan integrasi vertical sebagaimana yang dimaksud pasal14 UU No.5 Tahun 1999

b. Perjanjian yang dibuat oleh PT.CIF atau PT.SPEF dengan beberapa anggota MPA tidak memuat persyaratan-persyaratan mengenai keharusan untuk memasok kembali film kepada pihak tertentu dan atau pada tempat tertentu, atau mengenai keharusan PT.CIF dan PT.SPEF untuk bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pihak MPA, atau mengenai harga atau potongan –potongan tertentu dengan syarat membeli barang dan atau jasa lain atau tidak akan membeli film dari produsen lain, sehingga perjanjian tersebut bukan merupakan perjanjian tertutup sebagaimana yang diatur pasal 15 UU no.5 tahun 1999

c. PT.CIF dan PT.SPEF telah menguasai distribusi film impor MPA, namun penguasaan tersebut kurang dari 50% keseluruhan film impor pada tahun 2001 dan 2002, sehingga kegiatan yang dilakukan PT.CIF dan PT.SPEF bukan merupakan kegiatan monopoli sebagaimana yang dimaksud Pasal 17 No.5/1999

d. Jumlah film yang dimpor oleh PT.CIF dan PT.SPEF tidak lebih 50 % dari keseluruhan film impor, sehingga bukan merupakan kegiatan monopsoni sebagaimana dimaksud pasal 18 UU no.5/1999

e. Film-film impor yang ditayangkan di bioskop-bioskop milik PT.NSR tidak bersifat sama –sama eksklusif artinya film-film tersebut juga bisa ditayangkan di bioskop non-21 pada saat bersamaan dan tidak ada paksaan bagi importer film untuk memasok filmnya ke bioskop Group 21, sehingga

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007.

USU Repository © 2009

bukan merupakan suatu kegiatan monopsoni sebagai mana dimaksud pasal 18 UU NO.5/1999

f. PT.CIF dan PT.SPEF mendistribusikan film impor kepada group 21 dan kepada bioskop non-21 berdasarkan pertimbangan teknis dan ekonomis, sehingga bukan merupakan praktek diskriminasi sebagaimana dimaksud pasal 19 UU No.5/1999

g. Penguasaan film impor oleh PT.CIF dan PT.SPEF adalah kurang dari 50% sehingga PT.CIF dan PT.SPEF tidak berada pada posisi monopoli dan karena itu tidak berada pada posisi dominant sebagaimana dimaksud Pasal 25 UUno.5/1999

h. Meskipun berada dalam posisi dominant sebagaimana dimaksud Pasal 25 ayat 2 di sebagaian besar kota, namun tidak ditemukan bukti adanya penetapan syarat-syarat perdagangan untuk mencegah dan atau menghalangi konsumen memperoleh jasa penayangan film yang bersaing dengan atau membatasi pasar atau menghambat eplaku usah bioskop lainnya yang berpotensi menjadi pasaingnya sehingga tidak memenuhi ketentuan pasal 25 UU No.5/1999

i. Harris Lesmanadsan Suryo Suherman menduduki jabatan rangkap pada jabatan-jabatan srtategis di beberapa perusahaan importer dan atau perusahaan bioskop yang hal ini berpotensi besar untuk timbulnya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, akan tetapi sampai dengan berakhirnya pemeriksaan majelis Komisi belum menemukan cukup bukti untuk menyatakan perangkapan jabatan tersebut mengakibatkan terjadinya

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007.

USU Repository © 2009

praktek monopoli dan persaingan tidak sehat, sebagaimana dimaksud Pasal 26 UU No.5/1999

j. PT.NSR terbukti memiliki saham mayoritas di beberapa perusahaan yang bergerak dibidang perbioskopanyaitu PT. Intra Mandiri dan PT. Wedu Mitra di pasar yang bersangkutan yaitu di Surabaya. Bioskop-bioskop yang dimiliki kedua perusahaan tersebut menguasai lebih dari 50% pangsa pasar, sehingga kepemilikan saham PT.NSR tersebut memenuhi ketentuan pasal 27 UU no.5/1999

k. Tidak ditemukan bukti bahwa PT. NSR melakukan kegiatan pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat (2) UU no.5/1999

l. Ada upaya Pemerintah Kota Makassar untuk mengatur tata edar film di makassar.

m. Pengunduran diri Harris Lasmana dan Sonny Suherman dari jabatan direksi di beberapa perusahaan yang memiliki keterkaitan erat dalam bidang pendistribusian dan penayangan film patut dicatat sbagai itikad baik untuk mengurangi potensi penyalahgunaan perangkapan jabatan.

Dari data dan informasi yang didapatkan, KPPU menjatuhkan putusan sebagai berikut:

Amar Putusan KPPU Perkara nomor : 05/KPPU-L/2002

1. Menyatakan Terlapor I yaitu PT. Camila Internusa Film dan Terlapor II yaitu PT. Satrya Perkasa Ethestika Film tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 15, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27 UU No.5/1999

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007.

USU Repository © 2009

2. Menyatakan Terlapor III yaitu PT. Nusantara Sejahtera Raya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 15, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 25, Pasal 26 UU No.5/1999

3. Menyatakan Terlapor I yaitu PT. Camila Internusa Film, Terlapor II yaitu PT. Satrya Perkasa Ethestika Film dan Terlapor III yaitu PT. Nusantara Sejahtera Raya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 14 UU No.5/1999

4. Menyatakan terlapor III yaitu PT. Nusantara Sejahtera Raya terbuktim secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 27 UU No.5/1999

5. Memerintahkan Terlapor III yaitu PT. Nusantara Sejahtera Raya kepada untuk mengurangi kepemilikan sahamnya di PT. Intra mandiri dan atau di PT. Wedu Mitra dalam bentuk menjual atau mengalihkan saham kepemilikannya kepada pihak lain sehingga tidak melanggar pasal 27 dalam waktu 48 hari terhitung sejak tanggal dibacakanya putyusan ini 6. Menghukum Terlapor III yaitu PT. Nusantara Sejahtera Raya untuk

membayar denda Rp.1.000.000.000 (satu milyar rupiah) apabila terlapor III tidak melaksanakan dictum 5 (lima) di atas

7. Menghukum untuk membayar denda keterlambatan sebesar o,1% dari nilai denda yang dikenakan setiap hari keterlambatan tidak melaksanakan dictum 6 (enam)hingga hari ke-60

8. Apabila batas waktu sebagaimana yang dimaksud dalam dictum 7 terlewati, maka Putusan ini akan diserahkan kepada penyidik untuk dilakukan penyidikan sesuai peraturan yang berlaku.

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007.

USU Repository © 2009

Menurut Noorca, hanya ada satu perusahaan dalam 21CG, PT Nusantara Sejahtera Raya (NSR), yang oleh Majelis KPPU dinyatakan terbukti melanggar Pasal 27 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pelarangan Praktik Monopoli dan Persaingan Pasal ini berisi pelarangan "penguasaan saham mayoritas pada beberapa perusahaan yang menguasai pangsa pasar lebih dari 50 persen". Karena itu, NSR diperintahkan untuk mengurangi sahamnya di PT Intra Mandiri dan PT Wedu Mitra di pasar yang sama di Surabaya, Jawa Timur.

2. Kasus Temasek Holding

Kasus Temasek sendiri bermula ketika anak usahanya yakni Singapore Technologies Telemedia (STT) Singapura membeli 41,94% saham Indosat, perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia, senilai US$631 juta (Sin$970 juta) pada 2002. Pembelian saham itu membawa masalah bagi STT karena menjadikan Temasek sebagai pemegang saham ganda atas perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Pasalnya, selain di Indosat, Temasek juga memiliki saham sebesar 35% di Telkomsel melalui anak perusahaannya, SingTel. Dalam hal penguasaan pangsa pasar, Telkomsel dan Indosat bisa dibilang mendominasi. Telkomsel menguasai 56,72%, Indosat 27,71%, dan berikutnya Excelcomindo (XL) dengan 15,57%. Jika ditotal, Telkomsel dan Indosat menguasai 84,4% pangsa pasar telepon selular GSM. Jadi, secara tidak langsung, Temasek menguasai sekitar 80% pangsa pasar selular di Indonesia. 111

KPPU menganggap, melalui kepemilikan silang (cross ownership) ini, terdapat indikasi bahwa Temasek melanggar Pasal 27 UU No. 5/1999 tentang

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007.

USU Repository © 2009

Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dengan kepemilikan silang dan penguasaan pangsa pasar yang cukup besar itu, tidak membuat Telkomsel dan Indosat berkompetisi secara sehat dan efektif.

Setelah diketahui bahwa Temasek menguasai pasar di bidang telekomunikasi dan struktur kepemilikan saham Temasek diatas, maka dapat dikatakan Temasek berada dalam posisi dominan dalam bidang telekomunikasi. Karena, dengan menguasai mayoritas kepemilikan saham di bidang telekomunikasi itu, Temasek dapat mendominasi susunan anggota direksi dan komisaris. Akibatnya, Temasek berada dalam posisi sentral untuk mendorong dan mengarahkan rencana dan strategi perusahaan-perusahaan terkait. Keadaan demikian sangat berpotensi menimbulkan praktek monopoli dan atau persaingan yang tidak sehat.

Hal ini dapat dilihat sebagaimana dituangkan dalam Shareholder Agreement dalam divestasi saham PT Indosat Tbk. Disebutkan bahwa dalam pemilihan dewan komisaris dan direksi ditetapkan berdasarkan simple majority. Akibatnya, Kementrian Negara BUMN sebagai kuasa pemegang saham seri A atau saham

golden share namun memiliki jumlah kepemilikannya kecil hanya dapat

mencalonkan komisaris dan direksi masing-masing hanya satu orang. Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa efektifnya kepemilikan atas saham seri A tersebut dan seberapa besar pengaruh satu orang direksi atau komisaris yang dicalonkan oleh Kementrian BUMN tersebut untuk dapat mengubah kebijakan PT Indosat Tbk tersebut apabila bertentangan dengan kebijakan dari STT?

Meskipun sebagai pemegang saham seri A Kementrian BUMN memiliki hak veto, tetapi dengan komposisi kepemilikan yang kecil tersebut dan pemilihan

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007.

USU Repository © 2009

dewan komisaris dan dewan direksi ditentukan dengan simple majority, hak veto itu sulit untuk dapat dilaksanakan. Karena, memiliki saham golden share tanpa menjadi pemegang saham mayoritas maka saham golden share tersebut menjadi tidak berarti karena haknya hanya untuk pencalonannya satu orang direksi dan komisaris, pada akhirnya yang memutuskan adalah RUPS dengan simple

majority.

Namun kepemilikan Temasek di kedua perusahaan telekomunikasi tersebut tidak langsung karena yang membeli saham Telkomsel dan Indosat adalah dua perusahaan yang berbeda dan mandiri yang terafiliasi dengan Temasek dimana temasek memiliki saham mayoritas di keduanya, apakah kepemilikan secara tidak langsung melalui anak perusahaan sebuah perusahaan adalah seperti apa yang dimaksud dalam pengertian yang ada pada pasal 27 UU no. 5 Tahun 1999. KPPU sampai dengan saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap kasus tersebut.

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007. USU Repository © 2009 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dalam bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Posisi Dominan Berdasarkan Pasal 1 angka 4 Undang Undang No.5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah keadaan dimana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa pasar yang dikuasai, atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi diantara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan kepada akses pasukan atau penjualan, serta kemampuan untuk

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007.

USU Repository © 2009

menyesuaikan pasokan atau permintaan barang atau jasa tertentu. Memiliki posisi dominant di pasar tidaklah dilarang namun bagi pelaku usaha yang memiliki posisi dominant pada suatu pasar dilarang mengunakan posisi dominant baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk :

g. Menetapakan syarat-syarat perdagangan dengan tujuan untuk mencegah dan menghalangi konsumen memperoleh barang dan atau jasa yang bersaing, dari segi harga maupun kualitas; atau

h. Membatasi pasar dan pengembangan teknologi; atau

i. Menghambat pelaku usaha lain yang berpotensi menjadi pesaing untuk memasuki pasar bersangkutan.

2. Pemilikan Saham dalam UU no.40 tahun 2007 menyangkut penyertaan modal pelaku usaha dalam sebuah perusahaan bahwa pemilik saham sebuah perusahaan dianggap juga sebagai bagian dari pemilik perusahaan itu dimana pemilik saham sebuah perusahaan mempunyai suara dalam menentukan segala sesuatu yang menyangkut perusahaan. Oleh karena itu dalam tiap-tiap akta pendirian suatui Perseroan Terbatas (PT) pasti disebutkan jumlah modal perseroan yang terbagi dalam jumlah saham-saham. Dalam rangka pengumpulan modal dalam jumlah besar sebuah PT mengeluarkan saham. PT pada permulaannya tidak menerima pamasukan dari uang langsung atau tenaga atau prestasi seseorang kecuali dalam bentuk saham. Jadi saham sebagai alat legitimasi, merupakan tanda bukti diri bagi orang yang namanya tercantum pada saham tersebut atau bagi orang yang memegangnya, untuk menuntut segala hak yang melekat pada surat saham itu. Adapun kewajiban utama dari pemegang saham ialah menyetor penuh harga saham yang telah

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007.

USU Repository © 2009

diambil dan disanggupinya, ke dalam kas perseroan. Kewajiban-kewajiban lainnya biasanya ditetapkan dalam anggaran dasar atau khusus, tetapi hal ini tiodak boleh dipaksakan untuk ditetapkan atau datur walaupun dengan cara mengubah anggaran dasar. Dalam Pasal 52 UU No.40/2007 ditentukan bahwa kepada pemegang saham diberikan bukti pemilikan saham untuk saham yang dimilikinya.

3. Mengenai posisi dominant yang berkaitan dengan pemilikan saham diatur pada bagian Ketiga , pasal 27 dimana pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar bersangakutan yang sama, atau mendirikan beberapa perusahaan yang memiliki kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar yang sama apabila kepemilikan tersebut mengakibatkan (a) Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50 % (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu .(b) Dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75 % (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. Pasal 27 tidak menganut pendekatan Rule Of Reason, karena hal ini tidak mensyaratkan terjadinya monopoli dan atau persaingan tidak sehat, jadi bila unsur-unsur penguasaan 50% atau 75% terpenuhi, maka tindakan tersebut sudah dapat dikenakan pasal pasal 27 ini. Jadi pasal27 ini termasuk dalam kategori perse illegal.

B. Saran

Manahan : Perilaku Pelaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham Yang Bertentangan Dengan UU No.5/1999, 2007.

USU Repository © 2009

1. Bahwa Undang Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Yang ada sekarang ini belumlah sempurna masih banyak hal –hal yang belum diatur oleh undang- undang ini khususnya mengenai posisi dominan. Pasal yang mengatur tentang posisi dominant yang ada belumlah sempurna karena belumlah ada tentang standar yang jelas untuk mengukur jika pelaku usaha berada dalam posisi dominan.

2. Dan mengenai saham mayotitas perlu diatur lebih jelas lagi tentang saham mayoritas terutama menyangkut batasannya. Dengan munculnya kasus Temasek terlihat bahwa perlu diatur juga tentang kepemilikan silang yang dapat mengakibatkan posisi dominan.

3. Perlunysa Revisi Undang Undang No.5 Tahun 1999 tentang Larangan praktek monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat karena setelah tujuh tahun berlaku dalam prakteknya masih banyak kelemahan dalam penegakan hukum persaingan usaha.