• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Kearifan Lokal Masyarakat Nelayan di Indonesia

pengendalian lingkungan laut melalui sistem pengelolaan berbasis masyarakat yang dapat meningkatkan partispasi masyarakat. Pemerintah harus melakukan pendekatan terhadap masyarakat yang akan berdampak positif pada kesejahteraan umum masyarakat.

Masyarakat harus merasa bertanggung jawab, berpartisipasi, dan turut menjaga kelestarian sumberdaya laut dari kegiatan-kegiatan yang dapat merusak lingkungan. Inti dari permasalahan partisipasi masyarakat adalah dengan melakukan kerjasama antara pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan memanfaatkan serta membiayai pembangunan karena masyarakat tidak dapat bekerja secara sendiri dalam mengatasi masalah lingkungan laut dan menjaga lingkungan laut, sehingga pemerintah harus ikut ambil peran dalam menjaga lingkungan dan mengatasi masalah yang terjadi.

1. Seke di Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara

Menurut Wahyono, et al., (1992) dalam Biasane (2004) yang dikutip oleh Saryani (2010) menyatakan Seke merupakan kearifan tradisional dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang dijumpai di desa Para, kabupaten Sangihe. Dalam organisasi Seke terdapat istilah lokal mengenai keanggotaan berdasarkan fungsi dan tugasnya masing-masing yaitu : Lekdeng, Tatalide, Seke Kengkang, Matobo, Tonaas, Mandore, dan Mendoreso. Lekdeng artinya anggota, sedangkan Tatalide adalah sebutan untuk anggota yang ditugaskan memegang Talontong (tongkat yang digunakan untuk menjaga Seke agar posisinya tegak lurus di atas permukaan laut). Seke Kengkang merupakan sebutan untuk anggota yang berada di atas perahu tempat meletakkan Seke (perahu Kengkang). Matobo adalah anggota yang bertugas menyelam dan melihat posisi gerombolan ikan sebelum Seke diturunkan ke laut. Tonaas merupakan sebutan untuk seorang pemimpin pengoperasian Seke, sedangkan wakilnya disebut Tonaseng Karuane. Mandore adalah orang yang selalu membangunkan anggota Seke setiap kali pergi beroperasi dan membagi hasil tangkapan kepada anggota. Mendoreso adalah sebutan untuk orang yang menjadi bendahara organisasi Seke.

Bagi hasil ini didasarkan atas beberapa pertimbangan antara lain adalah : a) Bagi hasil tangkapan diberikan kepada warga desa yang sudah

berkeluarga (termasuk janda/duda).

b) Bagi hasil tangkapan untuk warga desa yang belum berkeluarga

c) Bagi hasil tangkapan yang didasarkan atas status sosial tertentu, antara lain seperti : kepala desa, guru, pendeta, perawat, dan sebagainya

d) Bagi hasil tangkapan diberikan menurut status keanggotaan dalam organisasi Seke.

Menurut Satria, et al., (2002) dalam Biasane (2004) yang dikutip oleh Saryani (2010), menegaskan bahwa organisasi tradisional Seke telah menerapkan konsep bagi hasil layaknya organisasi modern. Ada dua pelajaran yang dapat diambil dari pengelolaan sumber daya ikan yang dilakukan oleh organisasi tradisional Seke ini, diantaranya adalah :

a) Seke mengatur sekelompok masyarakat untuk senantiasa memberikan perhatian kepada distribusi dan alokasi pemanfaatan sumberdaya alam, khususnya ikan, kepada seluruh anggota masyarakat. Hal ini tercermin pada pembagian waktu dan lokasi untuk setiap kelompok Seke dalam suatu periode waktu tertentu (misalnya satu minggu). Dengan demikian, konflik pemanfaatan di antara masyarakat akan tereleminasi.

b) Selain distribusi penangkapan ikan, tradisi Seke mengajarkan juga pentingnya kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terlihat dari sistem bagi hasil yang diterapkan. Seluruh komponen masyarakat mendapat bagi hasil dari penangkapan ikan yang diperoleh oleh sebuah kelompok Seke tertentu. Dalam konteks modern, sistem distribusi pendapatan seperti ini mencirikan adanya konsep pemanfaatan yang kuat di kalangan masyarakat Para.

2. Awig-Awig di Desa Kedonganan Kec. Kuta, Pulau Bali

Awig-awig merupakan sekumpulan aturan lokal yang dibuat berdasarkan kesepakatan masyarakat bersama untuk mengatur perilaku sehari-hari dalam bermasyarakat. Awig-awig berbentuk aturan tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sejak dahulu, Desa Kedonganan dikenal sebagai desa nelayan karena mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan dan wilayahnya yang berada di sekitar Pantai Kedonganan. Nelayannya pun masih banyak yang memakai alat tangkap dan jukung tradisional.

Untuk mengatur perilaku nelayan, maka diberlakukan pula Awig-awig mengenai pengaturan kehidupan masyarakat nelayan khususnya dalam pengaturan penangkapan ikan. Awig-awig yang dibuat atas kesepakatan tokoh masyarakat, ketua nelayan dan beberapa nelayan setempat ini sudah ada sejak dulu namun ada yang mengalami beberapa perubahan karena menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Aturan dalam Awig-awig tersebut mempunyai tingkatan norma yang berbeda dan mempunyai sanksi sebagai wujud kontrol sosial (Widyastini, 2013).

3. Panglima Laot di Aceh

Adat meulaot (melaut) adalah adat turun temurun yang telah dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk mengambil hasil laut. Demi terciptanya keamanan dan kenyamanan dalam mengambil hasil laut dibentuklah aturan-aturan tertentu yang harus dijalani oleh para pelaut. Melaut mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam masyarakat Aceh. Maka ditunjuklah seorang penanggungjawab ialah seorang Panglima Laot. Panglima Laot merupakan suatu institusi Adat yang mengatur tentang tata cara meupayang (penangkapan) ikan di laut. Biasanya Panglima Laot akan dipilih oleh Keuchik. Pengelolaan konservasi laut yang telah dilakukan Pengelolaan yang telah dilakukan di Pelabuhan Lampulo telah berlangsung lama dengan cara menjalankan peraturan yang telah dibuat oleh Pawang Laot agar tidak merusak ekosistem laut (Apriana, 2015).

Terdapat aturan yang mengikat komunitas masyarakat nelayan di Pelabuhan Lampulo, terdiri dari kegiatan yang boleh dikerjakan dan tidak boleh dikerjakan. Kegiatan yang boleh dikerjakan antara lain : Boleh mengambil hasil laut di daerah sendiri dan wilayah yang telah ditentukan oleh pemerintah dan Kenduri laot digelar untuk menandai akan dimulainya musim melaut, merayakan pergantian panglima laot Lampulo, dan dijadikan sebagai salah satu wadah aspirasi para nelayan Aceh khususnya nelayan Lampulo untuk menyampaikan

keluhan serta masalah yang mereka hadapi baik mengenai kelangkaan BBM untuk boat mereka dan lain sebagainya kepada pemerintah yang hadir pada pelaksanaan acara tersebut. Kenduri laot dilaksanakan secara bergotong-royong untuk mempersiapkan tempat, makanan dan minuman, sajian adat, dan melayani tamu undangan yang hadir (Apriana, 2015).

Kegiatan yang tidak boleh dikerjakan antara lain : Hari Jumat tidak boleh pergi ke laut karena Syariat Islam menjalankan ibadah, Tidak boleh bongkar muatan pada hari Jumat, Wanita dilarang pergi melaut, dan Selama kenduri laot berlangsung, para nelayan dilarang melaut selama tiga hari (Apriana, 2015).

4. Sasi di Maluku

Sasi mengacu pada pengelolaan sumberdaya alam secara tradisional dan termasuk larangan panen pada sumberdaya darat maupun laut. Peraturan sasi melarang pemanenan hasil hutan atau hasil laut yang belum waktunya dipanen secara gegabah, akan tetapi peraturan itu juga berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Bailey dan Zerner (1992) mengatakan bahwa sasi berasal dari kata “saksi” (witness) yang berarti larangan terhadap panen, penangkapan, atau pengambilan tanpa izin terhadap sumberdaya tertentu yang secara subsisten atau ekonomis bermanfaat bagi masyarakat. Menurut Kissya (1993), sasi pada hakekatnya merupakan suatu upaya untuk memelihara tatakrama hidup bermasyarakat, termasuk upaya ke arah pemerataan pembagian atau pendapatan dari hasil sumberdaya alam sekitar kepada seluruh warga atau penduduk setempat (Kuwati, 2014)

Pelaksanaan sasi dimulai dengan dilakukannya rapat bersama masyarakat, pemuka kampung, tokoh adat, dan tokoh agama, untuk menentukan zona wilayah sasi. Melalui rapat tersebut ditetapkan sumberdaya atau wilayah yang tertutup dari kegiatan eksploitasi, dan hal tersebut dinamakan tutup sasi.

Artinya, selama tutup sasi tidak diperkenankan seorangpun untuk mengambil

atau merusak habitat sumberdaya tersebut, sampai waktu yang kemudian diperbolehkan kembali atau biasa disebut dengan masa buka sasi (Burdam, 2013 dalam Kuwati, 2013).

Keputusan buka sasi dilakukan berdasarkan rapat desa. Pengusahaan zona sasi ini dilakukan oleh desa, bukan individu. Dalam rapat desa ditentukan jumlah orang (tenaga kerja) yang terlibat langsung dalam eksploitasi sumberdaya zona sasi. Tenaga kerja yang terlibat dibayar dengan uang hasil penjualan ikan yang ditangkap atau produk yang diambil. Setelah dikurangi dengan ongkos produksi lainnya, sisa uang hasil penjualan adalah milik desa. Penggunaan uang ini adalah untuk kepentingan sarana dan prasarana umum (Andhamari et al., 1991 dalam Nikijuluw, 1994 yang dikutip oleh Kuwati, 2014).

5. Mane’e di Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara

Mane’e merupakan kearifan lokal masyarakat nelayan di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, yang berupa pengaturan masa penangkapan ikan dalam rangka menjaga kelestarian sumberdaya kelautan dan perikanan di wilayahnya, yaitu dengan cara membuat larangan menangkap ikan pada masa-masa tertentu, serta pembuatan sejenis sistem bendungan hanya dilakukan pada saat masa-masa tertentu yang diperbolehkan oleh ketua adat (Santara, 2011).

Dari berbagai potensi kearifan lokal diatas merupakan kegiatan yang berbasis pemberdayaan kearifan lokal harus tetap dijaga dan dipertahankan keberadaannya. Hal ini bertujuan agar segala kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya hayati di kawasan pesisir dan laut dapat dilakukan dengan bijaksana dan terkontrol dengan baik. Sehingga masyarakat dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, tradisi, aturan-aturan adat yang berlaku, karena itu kepatuhan dan ketaatan terhadap peran kearifan lokal sangat tinggi pula (Santara, 2011).

Dokumen terkait