Kajian berbagai Artifak di Asia Tenggara Abad ke-18 dan
Ilustrasi 1: a Contoh kreasi hiasan kubah masjid berbentuk khat thuluth, khat ini tertulis Surahal-Fatihah dari hasil karya Irfan Ali Nasrudin tahun 2001,
se orang kaligrafer alumni Universitas IslamNegeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogya karta [Sumber:http://www.facebook.com/profile.php]. b. Contoh kreasi seni kaligrafi berbentuk lambang MTQ keXVI tingkat nasional di Yogyakarta, tahun 1991 [Sumber: Zainul Muttaqin, 1992:135]. c. Karya seni kaligrafi lukis kontemporer sebagai kreasi yang sangat cantik dan menakjubkan. Kandungannya ialah Wa lillahi mulku al-samawati wa al-ard, hasil karyaPoniman seorang khattat kontemporer kenamaan Indonesia pendatang baru [Sumber:http://www.kali- grafi.kaligrafer.com/2016/01/100karyaterbarukaligrafikontemporer.html]. Realisasi Penerapan Tulisan Arab Melayu dan Seni Kaligrafi dalam Seni Warisan Khazanah Nusantara
Ada beberapa bukti sejarah yang dapat menunjukkan tentang penggunaan tulisan Armaldan seni kaligrafi yang wujud di bumi Nusantara. Bukti ini lebih berupa inskripsi dan manuskrip Islam yang tersebar di bumi Asia Tenggara. Bendabenda peninggalan sejarah ini bertulisan Armal dan seni kaligrafi dalam berbagai jenis dan bentuknya. Bukti ini dijumpai bermula dari abad-abad awal kedatangan Islam ke Nusantara sehingga abad ke-19 M. Pada prinsipnya seseorang yang hendak menulis manuskrip pada zaman dahulu perlu menggunakan tulisan tangan, mereka perlu memastikan bahwa tulisan yang akan digunakan ada lah terbaik, jelas dan mudah dibaca. Setelah semua alat tulis lengkap dan dalam ke- adaan yang baik, kertas yang hendak ditulis juga perlu disediakan dengan baik seperti garis untuk teks tulisan, garis tepi, garis atas dan bawah. Garisan-garisan ini akan membantu penulis membatasi penulisan mereka dalam setiap halamannya, dan menjadikan setiap halaman mempunyai pembagian teks yang seimbang. Sebagaimana manuskrip Arab, kebanyakan manuskrip Melayu juga mempunyai ruang pinggir, kanan dan kiri teks yang agak lebih lebar. Hal ini bagi memudahkan kerja penjilidan dan juga catatan nota yang dilakukan oleh pembaca.
Biasanya pada halaman pertama dalam naskah atau manuskrip, sering terdapat ruang yang mempunyai jarak atas lebih besar berbanding halaman lainnya. Bagian ini selalunya ditinggalkan untuk dijadikan hiasan yang akan
Makmur Haji Harun, Kastolani 111
Analisis Penggunaan Tulisan Jawi (Arab Melayu) dan Kaligrafi dalam Artifak-Artifak Nusantara
dibuat selepas semua teks selesai ditulis. Kemudian perkataan Bismillah misalnya, bukan saja digunakan untuk pembuka bicara secara lisan tetapi juga digunakan sebagai awal pembuka penulisan. Perkataan ini digunakan kepada hampir kesemua manuskrip Melayu baik salinan, terjemahan atau karya tempatan. Terdapat beberapa gaya penulisan Bismillah yang digunakan di dalam manuskrip Nusantara, antara gaya yang sering digunakan ialah dengan memanjangkan huruf ba atau terdapat juga gaya memanjangkan huruf sin sebelum mim. Di samping itu, biasanya dalam badan teks manuskrip Melayu ada dua jenis warna pena yang menjadi pilihan penulisnya, yaitu hitam dan merah. Hitam merupakan pilihan utama, manakala merah akan digunakan sewaktu menulis sebuah manuskrip yang mempunyai dua bahasa yaitu Arab, Melayu, Banjar, Jawa, Mandailing atau Bugis dan lain sebagainya. Teknik ini biasanya digunakan dalam manuskrip terjemahan. Bahasa Arab misalnya akan ditulis dengan tinta merah bagi memudahkan pembaca mengenal teks asal sebelum terjemahan atau keterangan diberikan oleh penulis yang ditulis bertinta hitam. Terdapat juga penulis lain menggunakan tinta merah untuk perkataan pertama bagi menandakan ayat baru. Sedangkan bagian penutup biasanya juga mempunyai gaya penulisan tersendiri di mana teks pada halaman tersebut akan menjadi semakin tirus dan runcing sehingga ke perkataan terakhir bagi manuskrip tersebut yakni perkataan tamat.
Sedangkan bahan pula yang selalu digunakan untuk menulis manuskrip Nusantara ialah pena, tinta dan kertas. Pena yang digunakan oleh para penulis Melayu biasanya diperbuat dari batang pelepah batang resam. Batang resam ialah sejenis pohon dari keluarga paku pakis yang besar dan kebanyakannya tumbuh di kawasan hutan terutamanya di kawasan dingin seperti di kawasan tanah tinggi. Pelepah daun batang resam diambil dan dibersihkan sebelum dipotong mengikut ukuran dan mata pena yang diperlukan oleh penulis. Selain itu, jika terdapat nama penulis, tempat, waktu dan tanggal di bagian ini ia dinamakan kolofon. Akan tetapi terdapat juga manuskrip yang tidak mempunyai kolofon. Satu lagi bahan dasar penting diperlukan untuk menulis ialah kertas. Dalam penulisan manuskrip, kertas yang sering digunakan bukan seperti kertas biasa yang didapati pada hari ini. Kertas di Nusantara dikenali dengan nama dluwang/deluwang yang diperbuat dari lapisan kulit pohon seperti mulberi yang diketuk sehingga lepek selepas lapisan dalam kulit pohon tersebut direndam sehingga lembut. Kertas ini mempunyai tekstur dan tahan lama, selain dari kertas deluwang, bahan lain yang sering juga digunakan untuk menulis ialah: kayu, daun nipah, bambu, dan daun lontar. Permukaan setiap bahan yang digunakan untuk menulis menggunakan tinta serta pena perlulah licin dan tidak terlalu kesat karena ia akan mengganggu proses penulisan, bahkan tulisan yang dihasilkan tidak jelas dan sukar untuk dibaca. Selain kertas deluwang, kertas yang diimpor dari luar negara terutamanya dari Barat, seperti Belanda, Perancis, Jerman dan Inggeris. Kertas-kertas impor ini kebanyakannya ditandai dengan cap produksitersendiri yang dikenal anti air.
112 Makmur Haji Harun, Kastolani
Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea
Manuskrip Nusantara merupakan lambang keintelektualan para cendekiawan bangsa Melayu tempo dulu. Kegiatan penulisan dan penghasilan manuskrip di berbagai bidang bagi mewariskan ilmu dan pengetahuan mereka mengenai sesuatu perkara kepada generasi seterusnya. Antara bidang penulisan manuskrip Melayu yang sering diangkat ialah bidangkeagamaan yang terdiri dari ilmu tauhid, tajwid, fiqih, tasawuf, akhlak, filsafat, sejarah dan lainlainnya. Manakala dalam bidang tradisi Melayu tempatan pula sering dibahas mengenai hikayat, seni, budaya, perubatan atau tib dan lain sebagainya. Manuskrip adalah nama yang diberikan kepada naskah penulisan yang bertulisan tangan. Manakala tulisan yang sering digunakan dalam penulisan pula adalah tulisan Jawi atau juga sering disebut Armal. Tulisan Jawi ini adalah tulisan yang diadaptasikan dari huruf-huruf Arab dan Parsi sebanyak 30 huruf dengan ditambahkan sebanyak enam huruf bagi membentuk perkataan dan pertuturan yang sesuai dengan bahasa Melayu. Pada abad ke16 dianggap sebagai zaman perkembangan yang sangat berarti dalam penulisan manuskrip ini selepas masyarakatnya di kawasan Nusantara telah menguasai tulisan sepenuhnya dan diterima bersamaan kedatangan agama Islam itu sendiri di Asia Tenggara.
Pada abad ini, ada ratusan malah ribuan manuskrip ditulis di pelbagai daerah di Nusantara, terutama di istana-istana dan pusat-pusat pemerintahan. Sedangkan antara bidang penulisan manuskrip yang sering diketengahkan dalam masyarakatnya adalah mencakupi segala bidang. Koleksi manuskrip Nusantarabertulisan Armal yang diperkirakan berjumlah ratusan bahkan ribuan judul manuskrip yang tulisan tangannya berbahasa Armal dan bahasa-bahasa lainnya. Hal ini telah membuka ruang penyelidikan khusus dalam bidang literatur Nusantara. Antara judul-judul yang sering dirujuk ialah Sulalatus Salatin, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Indera Putera, Panji Semirang, Bsutanul al-Salatin, Bustanul al-Katibin, Taj al-Salatin, Syair Singapura Terbakar dan lain-lainnya. Selain terdapat banyak bukti-bukti sejarah lain seperti artifak-artifak yang dijadikan peninggalan tulisan dan bahasa Nusantara dengan menggunakan gaya seni khat beragam. Peninggalan tersebut baik merakamkan ayatayat suci alQur’an, hadith, do’a do’a dan lain sebagainya. Adapun penulisannya tersebut, ada yang ditulis di atas berbagai bahan seperti batu nisan, batu bersurat, dinding-dinding, bangunan, masjid, istana, rumah.Malahan ada juga yang diabadikan di atas kulit, kertas, kain, pedang, senjata, uang, rehal dan lain-lainnya. Adapun jenis-jenis seni khatnya yang terpilih seperti khat kufi, thuluth, nasakh, diwani, farisi, riq’ah, ta’liq dan nasta’liq. Berikut contoh bukti sejarah tersebut sebagaiartifak-artifak penting mengikut huraiannyasecara terperinci seperti di bawah ini:
Batu nisan, batu nisan adalah sejenis batu yang banyak dijumpai di makam-makam kuno di Asia Tenggara seperti yang ada di wilayah Aceh, Sumatera. Batu nisan ini diukir oleh orang-orang Aceh sejak abad ke-15 hingga 19 yang akhirnyatersebar luas hampir di seluruh tanah air. Bentuk dan ragam hias batu nisan ini adalah gabungan dari kesenian yang wujud di rantau ini
Makmur Haji Harun, Kastolani 113
Analisis Penggunaan Tulisan Jawi (Arab Melayu) dan Kaligrafi dalam Artifak-Artifak Nusantara
sebelum kedatangan Islam. Tulisan yang biasanya dipahat mencatatkan tanggal dan nama si mati, petikanayatayat alQur’an dan puisi bertemakan kematian. Bahkan ada sebagian masyarakat setempat menganggap batu nisan ini sebagai keramat (Hashim Musa, 1998: 13). Ada terdapat dua jenis batu nisan yang dijumpai di Aceh masa itu yaitu yang berbentuk bujur telur biasanya adalah untuk mayat perempuan, bentuk bulat bersegi pula biasanya untuk mayat kaum lelaki. Pada asalnya batu nisan diperbuatdari batu jenis geranit merah yang dibuat oleh tukang di Aceh. Dikatakan juga bahwa kuburan yang terawal menggunakan batu nisan di Aceh adalah makam Sultan Malik al-Salleh pada zaman pemerintahan kerajaan Islam Samudera Pasai yang mangkat pada tahun 1297 M, setelah itu, barulah diikuti makam-makan lainnya di Nusantara.
Batu bersurat atau prasastiyang terdapat di Negeri Terengganu, batu bersurat ini menandai awal kedatangan Islam ke Nusantara seawal 1303 M lagi, batu ini tertanggal4 Rajab 702 H bersamaan dengan 22 Februari 1303 M yang merupakan teksberbahasa Melayu pertama ditemui tertulisan dalam ejaan Armal (Jamaludin Idris, 2009: 29), mempunyai bentuk seni khat yang menghampiri gaya khat thuluth, yaitu khat yang dicipta padaabad ke7 M semasa Dinasti Umayyah. Seni khat ini mencapai pembentukannya yang sempurna terakhir pada abad ke-9 M. Namun gaya khat thuluth ini bergerak ke arah muhaqqaq dan rayhani. Batu bersurat Terengganu adalah berwarna hitam bersisi empat segi, dipenuhi tulisan Jawi setiap sisinya. Sementara tulisan dalam batu bersurat ini terlihat bahwa bentuk tulisannya seperti belum stabil karenaukuran dan bentuk abjadnya masih lagi tidak seimbang. Wan Ali Hj Wan Mamat (1987: 84) menamakan tahap awal tulisan Jawi itu sebagai ”archaic hand” dengan ciri-ciri tulisan yang tidak stabil dengan bentuk dan ukuran abjadnya masih lagi tidak seimbang dengan menggunakan gaya seni khatnya masih lagi tidak tetap dan bahkan tiada hiasan indah sehingga terkesan tidak menarik. Mengandungi pahatan tulisan yang membincangkan tentang undang-undang Allah SWT dan mengandungi hukuman terhadap kesalahan zina serta undang-undang lainnya menyangkut tetang keagamaan seperti utang piutang dan lain-lainnya.
Lembaran surat, helaian atau lembaran surat seperti surat Raja Ambon dalam pembuangannya adalah ditulis di Makassar pada tahun 1658 M, tempat raja Ambon Kimelaha Salahak Abdul Kadir dan pengikutnya melarikan diri setelah ditaklukkan Belanda. Kimelaha meminta bantuan East India Company, berdasarkan perjanjian yang dibuat tiga abad lalu. Dengan bahasa yang penuh emosi namun halus, ia juga mengingatkan agar Inggris memperlihatkan martabatnya. Surat ini juga mempunyai bentuk tulisan yang stabil, rapi dan tersusun, dengan gaya tulisan khat nasakh yang terpengaruh oleh gaya khat ta’liq, yaitu jenis khat yang menjadi dituliskan yang sangat menonjol dalam penulisan manuskrip-manuskrip di Nusantara seterusnya. Adapun manuskrip-manuskrip Nusantarapada abad-abad ke-18 dan ke-19 Myang kebanyakan dikaji mempunyai gaya jenis khat nasakh terpengaruh dari jenis khat ta’liq, kecuali satu manuskrip
114 Makmur Haji Harun, Kastolani
Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea
dari naskahHukum Kanun Melaka yang mempunyai gaya khat ta’liq mirip ke arah nasta’liq.Ada juga satu manuskrip yang mempunyai gaya khat nasakh murni yaituHidayat al-salikinyang dikarang pada tahun 1192 H/1778 M (Naskah yang dikaji tercetak pada tahun1935 M) (Hashim Musa, 1998: 17-18). SedangkanSurat perjanjian jugabanyak ditulis dalam Armal seperti surat jual beli lada yang bertanggal 1600 M, surat perjanjian ini antara Tun Jawa dengan dua seorang kapten kapal Belanda, surat ini mempunyai bentuk tulisan sejenis khat yang mirip ke arah khat nasakh, yaitu tulisan dengan lenggok huruf penuh dan setara di atas atau bawah garisnya, lenggok huruf-hurufnya tidak memanjang ke kiri secara horizontal. Bahkan bentuk tulisannya belum lagi stabil sepenuhnya dari segi ukuran, lenggok garisan dan rupanya, bahkan terdapat pembatalan yang menunjukkan ketidak rapian dalam penulisannya sehingga terlihat kurang cantik.
Manuskrip, merupakan dasar penting penyebaran tulisan Armal di Nusantara seperti manuskrip Sulalatul-Salatin (Sejarah Melayu) merupakan karya agung yang cukup hebat ketika ituditulis menggunakan bahasa Melayu dengan bertulisan abjad dan huruf Jawi. Manuskrip Sulalatul-Salatin dikarang oleh Tun Sri Lanang yang sangat dikenali karena karyanya tersebut merangkumi beragam sejarah masyarakat Melayu, Jawa, Brunei, Patani dan Campa. Kebenaran tentang beliau sebagai penulis asal atau sekedar penyunting kitab tersebut tidak dapat dipastikan dengan tepat. Namun menurut Syeikh Nuruddin al-Raniri, ulama dan penasihat agama di Kesultanan Aceh, telah memperakui bahwa Tun Sri Lanang adalah sebagai pengarang dan penyusun manuskrip ini karena beliau kenal rapat dengannya. Manuskrip tersebut telah dapat disiapkan penulisan dan penyuntingannya dalam waktu dua tahun yakni pada tahun1614 M selepas tanggal penulisannya yang dimulai tahun1612 M. Manuskrip ini dinyatakanjuga sebagai satu sumber terkaya dan terlengkap menceritakan mengenai sejarah bangsa-bangsa yang mendiami bumi Nusantara. Bahkan dikatakan bahwaSulalatul-Salatin ada 29 versi, dengan kepelbagaian versinya telah membuatkan kita dapat membaca pelbagai versi tentang sejarah Sultan Mansur Syah yang dilagendakan perkawinannya dengan Puteri Jawa dan Puteri Pahang. Begitu juga dengan peminangan Sultan Mahmud Syah terhadap Puteri Gunung Ledang yang diubah oleh penyalin kepada Sultan Mansur Syah mungkin karena kekagumannya terhadap Sultan Mansur Syah dengan harapan dapat meningkatkan lagi citra Sultan, namun tidak menyedari tentang interpretasi cerita tersebut sehinggadapat mengurangkan kewibawaan seorang Sultan. Antara perubahan lain berlaku dalam manuskrip ini adalah adanya perubahan watak Hang Jebat yang bertarung dengan Hang Tuah telah diubah kepada Hang Kasturi di versi lainnya.
Naskahdanteks, merupakan sebuah karya sastra sejarah yang mengandungi asal usul tentang raja-raja Melayu yang memerintah di daerah atau negeri di bumi Nusantara serta membincangkan tentang adat resam dan
Makmur Haji Harun, Kastolani 115
Analisis Penggunaan Tulisan Jawi (Arab Melayu) dan Kaligrafi dalam Artifak-Artifak Nusantara
budaya negeri tertentu. Seperti naskahMisa Melayu yang ditulis berbentuk prosa dan puisiyang menggunakan tulisan Armal. Misa Melayu ini juga merupakan teks sastra sejarah Melayu yang amat penting karena menceritakan salasilah Raja-raja di Negeri Perak padaabad ke-18 M. Naskahnya mempunyai keistimewaan tersendiri berbanding teksteks histiografi lainnya, karena isi kandungannya dikatakan tidak mengandungi unsur-unsur mitos dan legenda. Sebaliknya, isi kandungan naskah sepenuhnya merupakan fakta sejarah masa pemerintahan Sultan Mudzaffar, Sultan Iskandar, Sultan Mahmud dan Sultan Alauddin. Pengarangnya adalah Raja Chulan ibn Almarhum Raja Abdul Hamid ibn Almarhum Sultan Mansur Syah. Tiada tanggal tepat mengenai waktu kelahirannya, namun ada pendapat menyebutkan bahwa beliau lahir dan hidup antara tahun 1720-1787 M. Sewaktu era pemerintahan Mudzaffar Syah III (1728- 1752 M), Raja Chulan telah diberi pangkat sebagai Raja Kecil Besar, kemudian dinaikkan pangkat menjadi Raja Bendahara, Negeri Perak. Jabatan terakhir beliau adalah menjadi Raja Muda Perak pada tahun 1773 M dan beliau mangkat pada tahun 1787 M, kemangkatannya dipercayai dibunuh oleh seorang suami yang menuntut bela tetapi ada juga kenyataan menyebutkan bahwa baginda mangkat secara biasa saja (Sanusi Samid, 1986: 193). Mengenai tanggal penulisan naskahMisa Melayu adayang menyebutkan manuskrip ini ditulis pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Zulkarnain di penghujung abad ke-18 M dan selesainya penulisan tahun 1836 M bersamaan 1252 H. Kemudian diperkirakan telah dikitabah dan disalin semula oleh penulis-penulis lainnya sehingga terdapat dua tanggal berbeda darinaskah suntingan R.O. Winstedt mengenai tanggal akhir penulisannya sesuai pernyataan yang berbunyi ... tamatlah Hikayat Misa Melayu ini ... seribu dua ratus lima puluh dua [bersamaan T.M. 1836].
Undang-undang negara, ada juga bentuk peraturan yang bertulisan Armal seperti Undang-undang Laut Melaka, diperkirakan disusun pada tahun1655 M, mempunyai dua bentuk tulisan berbeda versi yang ditulis jelas oleh dua juru tulis berlainan. Bagian awalnya tertulis dalam jenis khat mirip kepada nasakh yang dipengaruhi oleh gaya khat ta’liq. Bentuk tulisannya tidak begitu stabil dan seimbang dari segi ukuran, ruang dan susunannya, lenggok hurufnyapun tidak begitu sempurna bentuknyayang menyebabkan seni khatnya agak tidak beraturan. Bagian akhir manuskrip ini tertulis jenis khat yang menghampiri khat ta’liq, dengan bentuk tulisan agak stabil dan seimbang dari segi ruang dan ukuran abjadnya. Kedua-dua tulisan tersebut kelihatannya ditulis dengan kecepatan yang sangat cepat sehingga terkesan tergesa-gesa. Selain manuskrip tersebut, ada juga manuskrip berbentuk undang-undang, sepertiUndang- undang Melaka atau lebih dikenal dengan sebutanHukum Kanun Melakayang pada mulanya merupakan peraturan tidak bertulis, baru kemudian ditulis atas perintah Sultan yang memerintah ketika itu agar dapat dibaca dengan jelas oleh semua kalangandan tulisan Armalnya menggunakan huruf-huruf Arab yang agak stabil dan sempurna.
116 Makmur Haji Harun, Kastolani
Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea
Hikayat, merupakan bentuk manuskrip yang dipercayai kitab tertua di dalam kesusastraan Melayu. Ia merupakan hikayat hasil temuan sekitar abad ke- 16 M. Manuskrip berbentuk hikayat ini dipercayai salah satu hasil salinan semula dari tulisan sebelumnya. Yakni Hikayat Raja-raja Pasai yang merupakan karya sastra bersifat sejarah tertua dari zaman Islam di Nusantara. Dalam naskahhikayat tersebut diceritakan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi antara tahun 1250- 1350 M. Zaman ini adalah masa pemerintahan Raja Merah Silu yang kemudian masuk Islam dan mengganti namanya dengan sebutan Malik al-Soleh. Naskah hikayat ini merupakan satu-satunya peninggalan sejarah zaman kerajaan Pasai yang pernah berjaya ketika dulu di Nusantara. Menurut perkiraan Russel Jones hikayat ini ditulis pada abad ke-14 M. Hikayat ini juga mencakup masa dari berdirinya kesultanan Samudera Pasai sampai penaklukan yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit. Selain itu, isi dan kandungan dariHikayat Raja-raja Pasai ini menceritakan unsur-unsur legalisasi susunan keluarga memerintah, menyatakan asal-usul sakral keluarga tersebut.
Manuskrip syair, tulisan Armal juga ditemui dalam bentuk syair, seperti Syair Singapura Terbakar adalah karya paling tua pernah diciptakan oleh Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi yang lebih dikenal dengan nama Abdullah Munsyi. Karya ini dikatakan ditulis karena adanya kejadian ketika Singapura dimakan api dengan kebakaran besar yang terjadi pada masa kolonial Inggris dan kejadian ini dijadikkan sebagai karya syair tahun 1830 M, ditulis dengan menggunakan huruf Armal yang cantik, namun baru diterbitkan untuk khalayak ramai di tahun 1843 M oleh Mission Press, Singapura berbentuk cop, yakni cop batu Jawi yang disertai cetakan huruf latin. Syair ini ditulis selepas Abdullah Musnyi mengalami kebakaran terbesar di Singapura dan beliau sempat menggambarkan kelakuan menarik manusia bersama dengan gambaran terang mengenai kejadian-kejadian tragis menimpah mereka ketika kejadian kebakaran tersebut. Abdullah Munsyi juga memiliki karya lain yang juga berbentuk puisi. Beliau bercerita dalam syair tersebut mengenai peristiwa kebakaran yang terjadi di Singapura, yaituSyair Kampung Gelam Terbakar ditulis pada tahun1847 M. Sebelum terbitnya satu kajian yang lebih serius oleh Amin Sweeney (2006) terhadap Syair Singapura Terbakar dan Syair Kampung Gelam Terbakar, kedua karya ini sering mengelirukan pembaca. Kekeliruan tersebut terjadi karena edisi-edisi kedua karya tersebut sangat langkah sehingga susah untuk dilakukan pendekomentasian terhadap isi dan kandungan keduanya. Selain itu, kebanyakan sarjana Belanda dan Inggris yang meneliti kedua karya tersebut mendasarkan penelitian mereka kepada deskripsi Abdullah sendiri tentang itu di dalam karya prosanya yang sangat terkenaldan ditulis pada tahun 1845 M. Berikut beberapa contoh gambaran manuskrip dan artifak bertulisan Armal yang dutemu di kawasan Nusantara:
c b
Makmur Haji Harun, Kastolani 117
Analisis Penggunaan Tulisan Jawi (Arab Melayu) dan Kaligrafi dalam Artifak-Artifak Nusantara
a b c
Ilustrasi 2: a. Gambar salinan surat Raja Ambon masa dalampembuangan,