• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBACA AYAT–AYAT CINTA 2 DAN MEMIKIRKAN HABIBURRAHMAN

EL SYIRAZY

Hanung Triyoko

Head of Language Center, IAIN Salatiga/[email protected]

S

aya menulis makalah ini sebagai kritik sastra atas novel Ayat-Ayat Cinta 2 Karya Habiburakhman El Shirazy untuk memuaskan keinginan berbagi kesan dan pesan sebagai alumni jurusan Sastra Inggris, penikmat novel, sekaligus pembaca karya-karya Kang Abik yang penasaran terhadap kabar akan difilmkannya novel tersebut segera.

Kritik sastra dalam pengertian yang ditawarkan oleh Morner dan Rausch (1998:121) adalah kegiatan menjabarkan, menafsirkan, dan menilai suatu karya sastra. Terdapat begitu banyak cara melakukan kritik sastra sehingga tulisan seseorang tentang karya sastra tertentu dalam format penyajian bagaimanapun dapat dianggap sebagai kritik sastra, bahkan pun sekedar seruan “waduuh, bagimana ini kok akhir ceritanya begini ...?”. Pada tataran akademik kemudian disepakati cara-cara tertentu yang akan membantu pembaca memahami cara pandang atau tujuan seorang kritikus dama kegiatan kritik sastranya. Hal ini kemudian melahirkan tuntutan penghadiran teori-teori kritik sastra yang ternyata juga sangat beraneka rupa.

Dalam sejarahnya pengolongan kritik sastra dalam dua kelompok utama yakni kritik sastra formal dan kritik sastra kultural, dianggap mencukupi sampai akhirnya dijumpai tulisan tulisan kritik sastra yang secara sengaja mencampuradukkan keduanya. Kritik sastra formal adalah kritik sastra yang hanya memusatkan perhatian kepada karya sastra tersebut atau melihat karya sastra sebagai dunia tersendiri yang memenuhi tuntutan keberadaanya sendiri sehingga suatu karya sastra hanya dapat ditafsirkan atau dinilai berdasarkan terpenuhi ataupun tidaknya wujud dunia karya sastra dalam karya sastra tersebut. Kritik sastra kultural adalah kritik sastra yang memusatkan perhatian terhadap keterkaitan antara budaya dan karya sastra atau bahwa karya sastra selalu terkait dengan budaya dalam arti yang paling luas dari penulis karya satra tersebut atau budaya masyarakat yang melingkupi kehidupan penulis karya

154 Hanung Triyoko

Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea

sastra tersebut. Kritikus karya sastra yang menggabungkan pendekatan kritik sastra formal dan struktural meyakini bahwa karya sastra memang merupakan dunia tersendiri dengan eksistensi sendiri mengikuti cirinya namun demikian dunia tersendiri dari karya satra tersebut tidak pernah hadir dalam titik nol atau dalam kondisi hampa. Pada titik inilah saya menuliskan kritik sastra ini.

Saya menuliskan kritik sastra atas novel Ayat-ayat Cinta 2 karya Habibburakhman El­shirazy kali ini dengan didasarkan pandangan bahwa karya sastra hadir sebagi dunia tersendiri akan tetapi karya satra selalu memiliki pintu-pintu penghubung dengan dunia-dunia lainya, baik dunia-dunia yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra itu ataupun dunia-dunia masa depan yang setiap waktu terhubung dengan karya sastra tersebut begitu karya sastra tersebut dinikmati ataupun dibaca sehingga peran pembaca karya sastra tidak kalah pentingnya dengan peran dari pencipta karya sastra itu sendiri. Saya tentu mengawali kegiatan kririk sastra atas novel Ayat-ayat Cinta 2 dengan membacanya, pada saat saya membaca inilah novel tersebut hadir sebagai teks yang bisa saya perlakukan sebagai dunia yang terpisah dari dunia Habibburakhman El­shirazy yang menciptakannya atau dunia masyarakat yang budayanya melatarbelakangi penciptaan novel tersebut karena saya memiliki kuasa untuk secara subyektif memaknai novel tersebut inilah yang disebut teori reader response dalam kritik sastra. Teori Reader Response untuk kegiatan kritik sastra ini dipelopori oleh Stanley Fish (1970) yang saat itu membuat pernyataan kontroversial namun fenomenal yakni “Karya sastra itu ada dan bermakna hanya apabila karya sastra tersebut dibaca”. Melalui pernyataan inilah anggapan pembaca sastra itu sama pentingnya dengan penulis sastra memperoleh pijakan yang kuat.

Hingga saat ini pkiran saya selalu merujuk kepada Habiburrakhman sebagai penulis novel Islami Indonesia pertama melalui karyanya Ayat-ayat Cinta (2004), atas dasar yang mungkin sama yang digunakan akademisi satra di eropa untuk merujuk Rokeya Sakhawat Hossain sebagai penulis kisah fiksi pertama dari kalangan Muslim melalui novelnya Sultana’s dream (1905) karena keduanya Habibburachman El­Shirazy juga Rokeya yang pertama kali menyajikan tema-tema Islam dan tokoh-tokoh Islam sebagai inti cerita atau yang menyajikan lived religion istilah yang dipopulerkan David Hall (1997) yang merujuk kepada keimanan atau perilaku sehari-hari pemeluk agama. Pengertian novel Islami dalam kritik sastra ini mengikuti pengertian bahwa novel-novel Habibburachman El­Shirazy menyajikan cerita tentang keimanan tokoh­tokoh Muslim serta perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari bukan merujuk kepada ciri-ciri pembeda novel Islami dibandingkan novel lainnya.

Terus-terang saya sangat menikmati membaca novel ini meski setebal 690 halaman namun saya akui setiap halamannya menyajikan gaya penceritaan yang jelas hanya bisa dilakukan oleh novelis yang terampil dan berhasil. Detail penggambaran lokasi, pemilihan kata, penokohan, serta penjalinan peristiwa, keseluruhannya memerangkap saya untuk terus membaca tanpa sedikitpun

Hanung Triyoko 155

Membaca Ayat-Ayat Cinta 2 dan Memikirkan Habiburrahman El Syirazy

kemalasan untuk sengaja melompat ke halaman-halaman tertentu yang saya butuhkan sekedar untuk mendapatkan struktur cerita yang disajikan Kang Abik, tentu saja pengalaman saya sebagai penikmat novel dan sarjana sastra memberi saya ketrampilan yang cukup untuk itu. Saya benar-benar memilih untuk membaca tiap kalimat karena saya akui Kang Abik lihai menyajikan kalimat-kalimat yang gampang dicerna, namun tetap terbingkai indah dalam penyajiannya dan kuat dalam pemaknaannya. Inilah yang disepakati banyak orang sebagai kekuatan karya-karya Kang Abik.

Membaca novel Ayat-Ayat Cinta 2 benar-benar membawa saya kepada perjalanan magis ke Inggris, ke kota Edinburgh persisnya, karena meski saya belum pernah kesana dan hanya membaca novel itu saja, saya seolah-olah telah mengakrabi sudut-sudut kota itu bahkan sanggup membayangkan kemegahan tata kota plus tipikal bangunan-bangunan yang menjadi landmark atau ciri kas kota tersebut dengan mengandalkan uraian setiap tempat yang melatarbelakangi penceritaan novel ini. Hal ini membuat saya berpikir akan seberapa berhasil kah sang sutradara yang bertanggung jawab dalam ikranisasi (proses penyajian dalam layar lebar/pem­film­an) novel ini karena saya tahu sutradara manapun dihadapkan kepada pilihan-pilihan ekspresi seni, pembiayaan, tenggat waktu yang disediakan produser, plus idealisme penulis novel.

Kompromi-kompromi yang mesti dilakukan sang sutradara dapat saja mengorbankan salah satu atau beberapa aspek tersebut demi tuntutan atas aspek lainnya. Berkaca dari pengalaman saya menonton film Ayat-Ayat Cinta (AAC), ikranisasi novel jilid pertama seri Ayat-Ayat Cinta, saya kecewa dengan hilangnya begitu banyak bayangan akan tokoh-tokoh cerita yang saya ciptakan sendiri akibat detail penggambaran tokoh oleh Kang Abik dalam novel. Ketika perwatakan tersebut diperankan dalam film saya dipaksa melihat tokoh­ tokoh cerita yang saya mesti mengenalinya kembali. Sederhananya saya tidak menemukan ‘kecantikan’, ‘kewibawaan’, ‘kepiluan’, bahkan ‘ketulusan’ yang disajikan dalam novel ada dalam film.

Idealnya tentu saja apabila kang Abik sebagai penulis novel sekaligus juga adalah sutradara dan produser film sehingga Kang Abik memiliki lebih banyak keleluasaan dalam menghadirkan novelnya dalam format film. Saya mendoakan kalaupun film Ayat-Ayat Cinta 2 belum juga menempatkan Kang Abik dalam posisi ideal demikian setidaknya film ini akan lebih berhasil dari film Ayat-Ayat Cinta seri pertama dalam menghadirkan secara utuh nuansa dan peristiwa- peristiwa yang terlebih dahulu disajikan dalam benak pembaca novel yang tentu saja jauh lebih sulit mempertimbangkan banyaknya jalinan peristiwa dalam 690 halaman novel tersebut dalam durasi tayang antara 90 sd 120 menit film. Untuk yang belum membaca novel Ayat-Ayat Cinta 2, jelas anda tidak akan terbebani dengan upaya otomatis pembandingan penyajian cerita dalam novel dan film karenanya anda diharapkan bisa menikmati filmnya lebih leluasa.

156 Hanung Triyoko

Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea

Membaca novel Ayat-Ayat Cinta 2 memang memberi saya semacam reafirmasi atau penegasan kembali atau istilah yang paling sederhana semangat baru untuk mencintai Islam karena novel ini gamblang menyajikan perwujudan nilai-nilai Islam berupa kedisiplinan, kepercayaan diri tinggi dibarengi kepasrahan terhadap kekuasaan Ilahiyah, kedermawanan, kemantapan hati dalam membela dan memperjuangkan kebenaran, persaudaraan dalam kemanusiaan serta nilai-nilai Islami lainnya yang menopang prinsip ajaran kebaikan dalam Islam kaitannya dengan hubungan antar makhluk dengan Tuhannya (habluminallah) dan hubungan antar manusia (habluminannas).

Keseluruhan nilai ideal Islami tersebut ditampilkan melalui tokoh Fahri dan bagian perbagian lainnya dari nilai-nilai Islami tersebut dinukilkan melalui perwatakan tokoh-tokoh lainnya seperti Paman Hulusi, si sopir yang jujur dan teguh dalam pertaubatannya atas dosa-dosa masa lalu. Sabina, perempuan misterius yang ternyata si Aisha istri Fahri yang hilang, yang setia dan rela mengorbankan apapun demi kehormatannya. Hulya, perempuan yang cerdas, ramah, namun tetap menempatkan suami dan keluarga sebagai prioritas utama, yang membuat Fahri siap menikah kembali setelah bertahun-tahun meredam duka dan kerinduan akibat kehilangan istrinya Aisha. Misbah, teman Fahri, yang kritis dalam berpikir, penuh perhitungan, namun selalu perduli terhadap kesulitan orang lain meski dirinya sendiri tidak dalam kondisi terbaik untuk siap sedia menolong orang lain.

Dengan cara perwatakan tokoh­tokoh cerita versi Kang Abik yang demi kian saya jadi berpikir apakah benar yang dikatakan orang-orang yang menganggap karya-karya Kang Abik tidak pantas disejejarkan dengan karya- karya sastra Indonesia yang masterpiece yang dapat dianggap sebagai karya agung kesustraan Indonesia? Atau bahwa Ayat-Ayat Cinta 2 tidak layak dianggap mewakili budaya dan interaksi sosial sebagai cerminan kehidupan masyarakat Muslim yang diwakili pemuda Muslim asal Indonesia bernama Fahri dan dipamerkan ke dunia?

Saya teringat salah satu kritik atas novel Ayat-Ayat Cinta seri pertama yang best seller waktu itu oleh Ayu Utami yang dimuat dalam media online detiknews pada Minggu 23 Maret 2008 pukul 12.32 WIB yang diberi judul Ayat-Ayat Cinta Pengecut yang diantaranya menyebutkan bahwa hanya kelompok sastrawan Muslim yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena yang memuji­muji novel tersebut, bahwa novel tersebut hanya berusaha menyenangkan orang (mungkin lebih mengena lagi kalau disebut orang Muslim) dengan menyampaikan apa yang ingin Muslim dengar, bukan yang Muslim tidak ingin dengar dengan cara menyajikan cerita yang happy ending, menetapkan perwatakan tokoh utama yang tidak memiliki cela, juga dengan mematikan tokoh-tokoh penopang cerita lainnya kapan pun dikehendaki untuk segera mengurai kerumitan konflik cerita dan menghindari penolakan pembaca terhadap peristiwa-peristiwa dalam novel yang dianggap mempromosikan nilai-nilai yang oleh sebagian besar masyarakat

Hanung Triyoko 157

Membaca Ayat-Ayat Cinta 2 dan Memikirkan Habiburrahman El Syirazy

Indonesia dianggap tidak umum terjadi di kehidupan keseharian.

Penghadiran peristiwa poligami oleh Kang Abik dalam Ayat-Ayat Cinta seri pertama, misalnya. Poligami yang dikisahkan diinginkan oleh istri pertamanya Aisha, yang dituruti oleh Fahri, namun segera Maria, istri kedua Fahri, dimatikan dalam cerita untuk segera mengembalikan kebahagiaan pembaca dan menyudahi kerumitan cerita yang mungkin saja muncul akibat poligami tersebut. Strategi pembangunan struktur cerita yang melibatkan kematian tokoh yang menurut saya jamak dilakukan para novelis dan seringkali justru menjadi titik dramatisasi elegan oleh Ayu Utami dianggap sebagai bagian kepengencutan Kang Abik dalam menyampaikan nilai-nilai yang dipercayainya sendiri tentang poligami.

Saya berpikir mengapa pula hal nyaris serupa dilakukan Kang Abik dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2. Novel ini juga menghadirkan penggalan peristiwa poli- gami sebagai penopang cerita tapi lalu sang novelis, Kang Abik, ‘mematikan’ istri kedua seolah-olah Kang Abik memang belum nyaman benar mengkisahkan kehidupan keluarga poligami.

Dikisahkan Fahri dengan segala alasan personalnya yang masuk akal menikahi Hulya, seperti alasan ketidaktahuan Fahri bahwa Sabina yang wajah- nya buruk rupa yang selama ini dia selamatkan dari tindakan hina mengemis di jalanan adalah Aisha, istrinya yang hilang. Alasan bahwa Fahri akhirnya tidak harus menerima ataupun menolak permintaan Syaikh Utsman guru yang sangat dihormatinya untuk menikahi Yasmin, wanita janda yang juga bagian dari keluarga besar Syaikh Utsman, karena tiba­tiba Yasmin sendirilah yang membatalkan perjodohan tersebut. Tidak kalah pentingnya alasan bahwa Hulya sejak awal memang menarik perhatian Fahri karena kemampuan bermain biola dan gerak gerik Hulya lainnya yang terus mengingatkan Fahri terhadap sosok Aisha istrinya yang telah menghilang sekian lama dan memang Hulya dan Aisha memang masih kerabat dekat.

Kembali dalam Ayat-Ayat Cinta 2 ada perwatakan tokoh yang tanpa cela pada diri Fahri, ada peristiwa poligami, meski dengan mudah pembaca cenderung mengabaikan peristiwa poligami tersebut. Saat pernikahan Fahri dan Hulya berlangsung, Sabina hanyalah perempuan buruk rupa yang karena niat baik Fahri dikembalikan kepada kehidupan yang terhormat dari kehidupan sebelumnya yang mengemis menggelandang. Sabina bukanlah Aisha istri Fahri yang hilang. Sabina pada saat sesuatu yang seharusnya disebut poligami itu terjadi hanyalah perempuan misterius yang sejak awal sedikit demi sedikit dilekatkan perwatakan Aisha melalui perilaku dan kebiasaan kesehariannya sehingga pembaca yang sadar akan mulai mengganggapnya Aisha. Dengan kelihaian gaya penceritaan Kang Abik Sabina baru benar-benar pada akhirnya diketahui tidak lain dan tidak bukan adalah Aisha istri Fahri yang hilang setelah Hulya, istri kedua Fahri, mati membela sahabat non-muslimnya Kaira dari perampokan.

Sabina atau Aisha istri pertama Fahri memilih menjaga kehormatannya sebagai istri Fahri dari perkosaan saat dipenjara oleh tentara Israel dengan

158 Hanung Triyoko

Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea

cara merusak wajah cantiknya. Sabina tidak mampu untuk berterus-terang kepada Fahri bahwa dirinyalah Aisha istri yang selama ini dirindukannya dengan wajahnya yang buruk rupa karena Sabina takut Fahri dan yang lainnya menganggapnya perempuan yang tidak tahu berterimakasih dan kelewatan apabila dia mengaku sebagai Aisha. Dengan ketidaktahuan Fahri bahwa Sabina adalah Aisha, secara teknis poligami tersebut tidak dilakukan oleh Fahri tetapi secara teknis pula poligami tersebut terjadi dan direlakan terjadi oleh Sabina yang sebenarnya Aisha istri Fahri.

Saya berpikir keras mengapa Kang Abik kembali memilih ‘mematikan’ salah satu tokoh dalam ceritanya dan menampilkan ide poligami secara ter selu- bung sebagaimana yang dilakukannya lewat seri pertama novel Ayat-Ayat Cinta? Saya sering berpikir bahwa pilihan ‘mematikan’ tokoh penopang cerita memang menjadi ciri atau setidaknya kegemaran Kang Abik dalam menjalin peristiwa-peristiwa dalam novel-novel karyanya yang terbingkai dalam plot cerita yang berbasis konflik yang rumit dan panjang, yang terasa benar perbesaran intensitas pertentangan antara protagonist dan antagonist menuju klimax namun pendek fase denoument atau anti-climaxnya karena kematian tokoh penopang cerita tersebut sebagaimana yang pembaca temukan dalam novel Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta 1 dan 2, Bumi Cinta, meski ada juga novel karya Kang Abik, Bidadari Bermata Bening, yang tidak membuktikan kegemaran Kang Abik ‘mematikan’ tokoh penopang cerita. Pun demikian saya tidak menyetujui kritik terhadap kegemaran Kang Abik ‘mematikan’ tokoh tersebut hanya dikaitkan dengan upaya Kang Abik untuk menyajikan happy ending atau situasi yang di- ideal-kan para pembaca pada setiap cerita yang dikisahkannya karena dalam pikiran saya Kang Abik gemar ‘mematikan’ tokoh karena kepentingan yang lebih besar daripada sekedar menyenangkan pembaca.

Menurut saya, Kang Abik sebagai seorang novelis, mengerti betul apa yang bisa dilakukannya sekaligus bagaimana dia melakukannya dengan novel sebagai media dakwah. Daripada menyetujui pernyataan Ayu Utami bahwa Sastrawan yang bernafsu menyampaikan kebenaran itu tidak menarik, saya memilih untuk menyetujui pernyataan Ayu Utami yang lain bahwa novel, apapun kisah di dalamnya, adalah kerajinan kata-kata dan pengakuan Kang Abik bahwa novelnya adalah novel dakwah memberikannya keleluasaan untuk lebih bernafsu mempromosikan kebenaran sesuai keyakinannya.

Membaca perwatakan Fahri yang tanpa cela sehingga begitu banyak wanita yang jatuh hati kepadanya dalam serial novel Ayat-Ayat Cinta 1 dan 2, membaca dan bahkan ikut merasakan kebanggaan Fahri ketika tampil luar biasa dalam debat di Oxford sehingga memenangkan dukungan hadirin dalam forum akademik yang amat disegani dunia tersebut sehingga mereka tidak lagi melihat Islam secara keliru sebagai agama para teroris, agama penebar kebencian, namun sebagai agama cinta, agama yang mempromosikan ‘toleransi yang hakiki, toleransi yang anggun’ (Ayat-Ayat Cinta 2 hlm. 574), membuat saya berpikir bahwa

Hanung Triyoko 159

Membaca Ayat-Ayat Cinta 2 dan Memikirkan Habiburrahman El Syirazy

Kang Abik punya alasan yang serius dan masuk akal menampilkan perwatakan dan peristiwa-peristiwa yang dialami Fahri yang demikian mencengangkan atau membuat iri para lelaki atau pemuda pembaca novel ini. Kang Abik bahkan tidak begitu memperdulikan kritik terhadap gaya penokohan yang bombastis ini.

Saya berpikir Kang Abik adalah novelis yang memang sejak awal mempertaruhkan karir kepenulisannya untuk dakwah. Novel-novel karya Kang Abik, keseluruhannya ditulis dengan niatan untuk mendakwahkan nilai-nilai Islam sehingga setiap novel Kang Abik akan lebih mencerminkan tema-tema dakwah tertentu dibandingkan dengan upaya Kang Abik untuk dijuluki orang sebagai sastrawan, novelis nomer 1, novelis best seller, dll.

Kalaupun kemudian Kang Abik memang termasuk novelis terlaris, hal itu malah semakin meyakinkan dirinya bahwa strategi dakwahnya melalui menulis novel memang tepat. Saya berpikir Kang Abik tidak akan kawatir dikritik sebagai novelis yang cerita-ceritanya mulai gampang ditebak karena pola penokohan yang berpusat pada kepahlawanan lelaki, asalkan pembaca novelnya terus bertambah, setidaknya tidak berkurang. Dalam kegiatan dakwah, jumlah orang yang dapat dijangkau itu hal terpenting. Saya berpikir Kang Abik juga tidak akan risau menjangkau keragaman pembaca novel-novelnya sehingga lebih banyak orang non Muslim yang juga menjadi penggemar novel-novelnya karena Kang Abik sadar betul bahwa menjangkau isi kepala seluruh Muslim di Indonesia sehingga Muslim Indonesia menjalani kehidupan Islami sebagaimana yang dicita-citakan Kang Abik dalam dakwahnya bukan perkara yang mudah dan sudah terus menerus menyita perhatiannya.

Tema dakwah Ayat-Ayat Cinta 2 yang saya kenali melalu pembacaan seluruh rangkaian peristiwa penopang cerita adalah Islam Rahmatan Lil Alamin. Jelas dalam Ayat-Ayat Cinta 2 ini dikisahkan semua perjuangan Fahri untuk melawan prasangka prejudice atau bahkan pelabelan sterotype bahwa Islam adalah agama para teroris, agama penebar kebencian. Ayat-Ayat Cinta 2 adalah perjuangan Fahri untuk senyata-nyatanya menyajikan bukti bahwa Islam adalah agama orang-orang yang cinta damai, agama cinta yang menjadi rahmat tidak hanya bagi Muslim tetapi bagi seluruh umat manusia.

Untuk mendakwahkan Islam Rahmatan Lil Alamin Kang Abik tentu harus menyajikan situasi dimana ajaran Islam dimengerti dan dilaksanakan sepenuhnya oleh setidaknya seorang Muslim dan dirinya memiliki segala kemungkinan untuk membantu sebanyak mungkin orang dan mengatasi sebanyak mungkin jenis persoalan. Karena itu dihadirkanlah sosok Fahri yang pandai, disiplin, kaya, namun sekaligus dermawan untuk menjadi figure Muslim ideal yang didakwahkan Kang Abik sehingga semua lelaki Muslim terinspirasi atau membangun semangat ‘kalau Fahri bisa mengapa saya tidak?’. Benar sekali endorsement dari Prof. Dr. Yunahar, Waketum MUI, di halaman cover novel Ayat-Ayat Cinta 2 bahwa “ini bukanlah sekadar novel, tapi sebuah cita-cita dan pemikiran besar”.

160 Hanung Triyoko

Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea

Fahri menyayangi dengan tulus dan menolong nenek Catarina yang Yahudi. Fahri membelanjakan tabungannya cukup banyak untuk memastikan Keira yang Kristen, yang sangat membenci kaum Muslim, agar tidak menghancurkan hidupnya sendiri dengan menjadi pelacur dan mengapai cita-citanya. Fahri menempuh studi sampai ke tingkat doktor dalam bidang studi Islam di Eropa, menulis begitu banyak artikel tentang Islam di Jurnal Internasional dalam bahasa Inggris dan berdebat di forum akademik paling bergengsi di Oxford, itu semua adalah peristiwa-peristiwa yang pada akhirnya benar-benar menyajikan perwujudan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin dan itu semua menjadi mungkin dilakukan oleh karena gaya penokohan Fahri yang dipilih Kang Abik. Untuk kepentingan cerita semata mungkin Kang Abik tidak perlu menghadirkan sosok Fahri sedemikian rupa tanpa cela tetapi untuk kepentingan dakwah, Kang Abik melakukannya.

Saya memikirkan apa yang diandalkan Kang Abik sehingga mampu meng- hasilkan begitu banyak novel-novel Islami best seller dan kaget luar biasa karena pemikiran saya untuk pertanyaan tersebut justru juga menghasilkan jawaban mengapa Kang Abik dalam novel seri Ayat-Ayat Cinta 1 dan 2 meng hadirkan sekelumit kisah praktik poligami.