• Tidak ada hasil yang ditemukan

a Gambar salinan surat Raja Ambon masa dalampembuangan, bertulisan Armal yang stabil, surat ini bertanggal1658 M[Sumber:Hashim Musa,

Kajian berbagai Artifak di Asia Tenggara Abad ke-18 dan

Ilustrasi 2: a Gambar salinan surat Raja Ambon masa dalampembuangan, bertulisan Armal yang stabil, surat ini bertanggal1658 M[Sumber:Hashim Musa,

1998: 17-18]. b. Sekilas gambaran sekeping naskah Syair Singapura Terbakar yang ditulis oleh Abdullah Munsyi menggunakan tulisan Armal standart [Sumber: http://www.manuskripmelayu.com]. c. Contohgambaran naskah manuskrip asal Hukum Kanun atau Undang-undang Melaka[Sumber: Perpustakaan Negeri Melaka (PNM), Melaka, Malaysia].

Pembahasan, Dapatan dan Cadangan

Berikut beberapa pembahasan mengenai dapatan kajian yang perlu penulis kemukakan agar perbincangannya dapat dijadikan sebagai bahan dalam membahasanalisis penggunaan tulisan Jawi (Arab Melayu)dan seni kaligrafi dalam artifak-artifak yang tersebar luas di Nusantara, seperti huraian berikut:

Pembahasan

Hasil kajian penulis secara keseluruhannya, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa penggunaan tulisan Jawi (Arab Melayu) dan seni kaligrafi dalam artifak­ artifak secara menyeluruh yang wujud di Nusantara sekitar abad ke-18 dan ke- 19, penulis dapati paling banyak digunakan untuk tulisan manuskrip, naskah, teks-teks lama, walaupun didapati juga di tempat lain seperti ukiran kayu, uang, peti, keramik, bangunan, surat, surat perjanjiandan lain sebagainya. Tulisanini juga menjadi tulisan pilihan utama yang digunakan menulis pelbagaimanuskrip di Nusantara pada tersebut karena ia diterima secara meluas sebagai dasar agama Islam. Selain itu, karena ada beberapa faktor. Pertama, tulisan Armal menjadi tulisan dan bahasa perantara antara sesama suku bangsa yang berdomisili di bumi Nusantara.Kedua, dalam pilihan model tulisan masyarakat Nusantara telah menjadikanhuruf Arab sebagai bentuk tulisan pilihanuntuk menjadi tulisannya walaupunmereka perlu menambahkanenam huruf tabahan lagi sebagai pelengkap mewakili lisannya orang Melayu. Ketiga, seperti yang kita ketahui, bahwa memang sukar mendapatkan tenaga ahli yang mahir untuk menuliskan Jawi atau seni kaligrafi ini, namun jenis tulisan ini tetap diutamakan juga oleh penulis-penulis setempat karena pengaruh keberkahan yang mereka

118 Makmur Haji Harun, Kastolani

Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea

rasai di dalamnya sebab ia bersumber dari al­Qur’an, al­Hadis, pepatah Arab dan kata-kata hikmah.

Kemudian keempat, kecendrungan peminat tulisan Armal yang tidak terlalu banyak di bumi Nusantara tetapitulisan ini menjadi jenis tulisan yang didukung oleh keindahan huruf seni kaligrafi yang menjadi sumber kesenian Islam tersebut, maka ia tetap menjadi satu khazanah yang sangatbernilai harganya sampai akhir zaman. Kelima, tulisan Armalini selain dipengaruhi oleh huruf Arab, ia juga didukung dengan seni khat sangat populer kehalusan seninya yang berasal dari bumi Asia Barat, selain bentuknnya berwibawa, coraknya bersusun-susun, memiliki segi estetika menarik, memaparkan motif keindahan kaedah menakjubkan. Tetapi betapapun indahnya tulisan seni khat ini, ia tetap mendatangkan kesukaran kepada orang yang tidak biasa dengan selok belok kaligrafi tersebut yangmemerlukan keahlian khusus dalam menulisnya.

Keenam, untuk memasyarakatkan penggunaan tulisan Armal dan kaligrafi ini, maka masyarakat Nusantara perlu banyak menggunakan ayat­ayat al­Qur’an dan al-Hadis sebagai bahan bacaan dan tulisan mereka. Selain berpahala ketika membaca dan mentilawahnya, tetapi juga menjadi pedoman hidup bagi masyarakatnya. Selain itu, ketujuh bagi umat Islam di bumi Nusantara, demi menambahkan lagi variasi seni kaligrafi dan tulisannyamaka perlu juga membiasakanuntuk membaca karya-karya warisan khazanah lama agar karya- karya tersebutdapat menggugah hati para pembacanya.Kedelapan, sebagai tujuan estetika, tulisan Armal dan seni kaligrafi perlu dipelbagaikan gaya dan bentuk seninyaseperti digunakan untuk menghasilkan karya ukiran kayu sebagai karya, karena karyaukiran terutama ukiran jati merupakan kayu keras dan tahan lama untuk sesebuah ukiran, namun mudah untuk diukirtetapi sangat mahal harganya. Oleh karena itu, adanyatulisan ini yang diperkaya dengan kreativitas seni kaligrafi Islam sebagai bahan utama dalam karya tulisan berbagai artifak di Nusantara, diharapkan juga agar dapat menjadi penentu kemajuan seni dan budaya masyarakatnya dari waktu ke waktu selain tetap menjaga nilai-nilai luhur, adat dan istiadat bangsa, agama dan negara.

Dapatan

Dapatan kajian ini diharapkan dapat memaparkan analisis mendalam mengenai karya­karya tulisan Jawi (Arab Melayu) dan seni kaligrafi Islam yang banyak digunakandalam menghasilkan pelbagai karya seni dan artikfak yang mencakupi manuskrip, naskah, teks, ukiran kayu, dan lain sebagainya selain mampu menjadi salah satu wacana ilmu yang dapat mengungkapkan kekayaan khazanah dan warisan seni tulisan dalam masyarakat Islam di Nusantara. Oleh sebab itu, maka hasil karya tulisan dan seni ini lebih banyak memaparkan penggunaan jenis-jenis seni khat terpilih yang biasanya sengaja digunakan untuk menulis ayat­ayat al­Qur’an dan al­Hadis atau artifak­artifak lama sebagai aspek terpenting tulisan dan hiasannya. Hanya sayang sekali karya tulisan Armal ini

Makmur Haji Harun, Kastolani 119

Analisis Penggunaan Tulisan Jawi (Arab Melayu) dan Kaligrafi dalam Artifak-Artifak Nusantara

masih tidak banyak peminatnya dalam masyarakat setempat, terutama yang mau menjadikannya sebagai bacaan utama jika dibandingkan dengan huruf latin baik di kantor, sekolah, rumah, kediaman, pondok pesantren dan lain- lainnya. Padahal karya-karya tulisan Armal tersebut sudah pernah populer penggunaanya di Nusantara ketika dulu terutama pada abad ke-17, 18 dan ke-19.

Selain itu, keberadaan tulisan Armalini digunakan menjadi petikan ayat­ayat bersumber asli darial­Qur’an dan al­Hadis, bentuknya yang sangat menarik, coraknya sesuai dijadikan sebagai hiasan berciri khas seni budaya setempat. Selain itu, karya­karya tulisan Armal dan seni kaligrafi ini jugamampu menampilkan corakseni warisan masyarakatnya yangbernilai tinggi perlu terus dilestarikan sehingga kapanpun, baik dalam bentuk ukiran di dinding-dinding masjid, sekolah, kantor, mimbar, mihrab, rehal, dan lain sebagainya. Malahan dalam hal ini kesan atau faedah seninya semakin terasa bagi masyarakat Islam yang senantiasa menjunjung tinggi seni budaya setempat. Sedangkan proses penulisan Armal dan kaligrafi tidak semestinya mengetengahkan bahan­bahan karya yang mahal semata-mata, tetapi perlu juga memunculkan bahan karya yang agak murah selama terjaga kualitas dan kuantitasnya sebagai tulisan diperlukan oleh masyarakatnya. Selain itu, perlu tetap terus menjaga ketelitian tulisannya dan harus senantiasa menjaga kaedah yang digunakannya dalam penulisan. Barangkali dengan menjaga ini semua akan terhasilkan karya-karya tulisan berwibawa di masa akan datang. Sedangkan para penulisArmal dan kaligrafi yang telah berjasa mencipta kreasi tulisan indah ini akan tetap dicatat sebagai pengisi sejarah dalam hidup mereka dan masyarakatnya. Walaupun mereka ini, ada yang sebagian hidup sederhana dan pas-pasan, ada juga yang terkenal dan ada pula yang kurang dikenal, malah mungkin banyak lagi yang tidak diketahui siapa penulisnya.

Adapun dapatan lain, terutama realisasi penerapan tulisan Armal yang ditemui di pelbagai bentuk, tempat, corak dan bahan-bahan lainnyayang dapat diabadikan di berbagai mediadan bahan telah digunakan oleh orang Melayu dan masyarakatnya di Nusantara. Di antaranya seperti poster, mata uang, uang logam, uang kertas, duit emas, cop mohor, surat pelantikan, surat sumpah, surat ikrar, permasyhuran kemerdekaan, surat kepada penduduk-penduduk tanah Melayu, surat watikah, pingat kejuaraan, darjah kebesaran, ahli mangku negara, panglima mangku negara, johan mangku negara, johan setia mahkota, piring, piring keramik bergelasir, piring besar, keramik, cangkir, teko, potbunga berhias, pot bunga Cina, pot bunga, tempat sirih, piring keramik bergelasir, piring tembaga, kendi tanah, kendi tembaga, kotak barang perhiasan, peti kayu, gantang, dulang besar, pundi, tempat perasapan, periuk tembaga, sarung keris, mata keris, meriam lela, lembing, tombak, pedang, pedang Turki, senjata, senapan, kain batik, kain hias bertulis, kain selendang, baju sulaman, baju sadariah, kain limar, bendera, lambang negeri atau negara, logo, pintu, tiang, peralatan ilmu falak, ukiran perahu, kayu ukir, rehal, kotak nelayan, lemari, pintu gerbang,

120 Makmur Haji Harun, Kastolani

Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea

gapura, panel ukiran, panel penanda perahu, keranda mayat, bingkai photo dan lain sebagainya.

Cadangan

Berikut beberapa pembahasan lanjut sebagai cadangan yang perlu penulis kemukakan agar dapat dijadikan sebagai bahan memajukan tulisan Jawi (Arab Melayu) dan seni kaligrafi di Nusantara.Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa hampir semua Provinsi dan Negeri tidak hanya di Indonesia dan Malaysia, kalau mengikut perancangan pemerintah terutama kurikulum yang sudah diterapkan di sekolah-sekolah agama di Malaysia, maka tidak mustahil akan dapat melahirkan penulis-penulisArmalyang handal bercirikan adat dan tradisi Nusantara, tetapi dengan tetap komitmen harus terus menerapkan tulisan Arab dan seni kaligrafi ini di sekolah­sekolah agama dan umum.Selain itu, diharapkan juga negara Malaysia dan Brunei Darussalam agar dapat menjadi ikutan oleh daerah­daerah lain di Indonesia sehingga di negara­negara ASEAN lainnya dalam menerapkan penggunaan tulisan Jawi secara meluas oleh semua lapisan masyarakatnya.Perlunya penerapan tulisan Armal dan seni kaligrafi atautulisan huruf Arab di berbagai tempat dan bahan, agar dapat mengangkatnyamenjadi khazanahwarisan yang berharga dan bernilai tinggi oleh semua kalangan.

Selain dicadangkan juga agar dapat memantau kegiatan penulisan dan pengkaryaan supaya semua perhiasan dan tulisan yang dibuat semuanya betul dan menarik terhindar dari sebarang kesalahan sehingga mampu memberikan kesan luaran dan dalaman bagi pecintanya. Selain itu, harus terus dielakkan karya­karya tersebut dari ‘asal jadi’ dengan cara perlu terus mencari penulis dan kaligrafer yang betul-betul berbakat dan menguasai kaedah penulisan khat dan Arab yang betul. Mengharapkan juga kepada para pengajar dan peminat muda untuk lebih meningkatkan lagi kemahiran penulisan Armal dan penulisan kaligrafinya, dimulai dari tingkat SD, SMP, SMA sehingga perguruan tinggi dan dewasa. Perlu senantiasa memilih ayat­ayat al­Qur’an dan al­Hadis yang dipelbagaikan lagi kecantikan kaligrafinya. Sekiranya menggunaan ejaan Arab penggunaannya perlu dipastikan betul, khususnya menyangkut nama masjid, sekolah, pondok pesantren, universitas dan lain sebagainya kemudian aktivitas penulisan ini perlu terus dipertandingakan dan dilestarikan sampai kapanpun.

Rumusan

Pendalaman mengenai tulisan Jawi (Arab Melayu) dan seni kaligrafi yang berkembang dari waktu ke waktu, selain mengetahui pertumbuhannya, juga perlu mengetahui penerapan dan aplikasinya dalam berbagai bahan atau benda yang mencakupi segala aspek kehidupan masyarakatnya di Nusantara. Melalui pembahasan dalam makalah ini diharapkan dapat mengungkap mengenai realisasi tulisan Armal dan seni kaligrafi di Nusantara yang berasal

Makmur Haji Harun, Kastolani 121

Analisis Penggunaan Tulisan Jawi (Arab Melayu) dan Kaligrafi dalam Artifak-Artifak Nusantara

dari warisan khazanah nenek moyang mereka. Selain itu, dapat melihat bagaimana pengaruh dan perkembangan tulisan ini yang ada pada naskah atau teks sebagai penerapan bahasa lokal digunakan menjadi alat komunikasi dalam komunitas masyarakatnya sebagai orang Melayu untuk berinteraksi antara satu dengan lainnya, karena bahasa tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan tulisan itu sendiri apalagi ia sering menunjukkan sebagai identitas bangsanya sejak berzaman lamanya. Malahan dengan adanya penerapan bahasa Melayu dan tulisan Armal sebagai tulisan yang menjadi kunci perkembangan ilmu sosio budaya yang digunakan sebagai alat menggambarkan seni budaya sesuatu masyarakat melalui naskah, teks dan manuskrip mereka. Oleh karena itu, untuk memahaminya dengan baik dan sempurna, maka perlu pengetahuan sejarah perkembangan bahasa dan tulisan itu sendiri agar dapat mengenal penerapannya di kawasan yang menjadi tempat kajiannya yakni di Asia Tenggara.

Sedangkan faktor kebahasaan tersebut juga menjadi satutantangan ter- sendiri yang sangat menarik untuk dibicarakan dalam makalah ini, karenadalam membahas sebuah bahasa akan erat kaitannya dengan tulisan yang sering menjadi pengangan utama sesebuah bangsa dan negara yang berperadaban. Kemudian pembahasan yang menjadi tumpuan kajian makalah ini di antaranya ialah faktor pengembang dan aplikasi kreasi tulisan Armaldi berbagai bahan, naskah dan manuskrip yang dijumpai di bumi Nusantara. Selanjutnya perbincangan mengenai sejarah kreasi dan realisasi penerapan tulisan Armal dan seni kaligrafi Islam yang penggunaannya beragam dalam berbagai seni warisan Asia Tenggara, seperti: Batu nisan, batu bersurat Terengganu, lembaran surat, manuskrip, surat perjanjian, naskah-naskah, undang-undang negara, hikayat, syair-syair, dan penerapan tulisan Jawi di berbagai bentuk, tempat, corak, dan bahan-bahan lainnya serta lain-lain bentuk seni warisan bangsa Nusantara. Semoga kesemua pemaparan tersebut dapat memberikan pengetahuandan pengalaman penting dari sekian banyak kekayaan khazanah budaya masyarakatnya.

Referensi

Al­Qur’an dan Terjemahannya. (1986). Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia.

A. Halim Ali & Norazimah Zakaria. (2017). Serat wajah histiografi Melayu. Tanjong Malim: Institut Peradaban Melayu.

Ab. Razak Ab. Karim. (2003). Melestarimanuskrip Melayu. Kuala Lumpur: Per­ pusta kaan Negara Malaysia.

Abd. Rahman Hamzah. (2008). Khat & Jawi mutiara kesenian Islam sejagat. Johor: UTM Press.

Abdul Ghani Samsudin.et.al. (2001). Seni dalam Islam. Petaling Jaya: Intel Multi- media dan Publication.

122 Makmur Haji Harun, Kastolani

Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea

Abdul Hadi. WM.et.al. (1995). Seni rupa kontemporer Istiqlal. Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal.

Abdul Karim Husain. (1971).Seni kaligrafi khat nasakhi: Tuntunan menulis halus huruf ’Arab dengan metode komparatif. Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya. Ahmad Shah Mohd. Noor. (1977). Hikayat raja-raja Pasai. Penyelenggaraan A.H.

Hill: Suatu Analisa. T.tp.

Ali Akbar. (1995). Kaedah menulis kaligrafer & karya-karya master. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Amat Juhari Moian. (1996). Perancangan bahasa: Sejarah aksara Jawi. Kuala Lumpur: Dewan bahasa dan Pustaka.

Anas Hj. Ahmad. (1984). SasteraMelayulamadanbaru. Selangor: Syarikat Cahaya. Asma Hj. Omar. (1991). Bahasa Melayu abad ke-16: Suatu analisis berdasarkan teks

Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Bayard Dodge. (ed. dan terj.). (1970). The fihrist of al-Nadim: A Tenth century survey

of Muslim culture. London: Columbia University Press.

C. Israr. (1985). Dari teks klasik sampai ke kaligrafi Arab. Jakarta: Yayasan Masagung. Dewan Bahasa dan Pustaka. (1988). Daftar ejaan rumi-Jawi. Kuala Lumpur: DBP. Didin Sirajuddin, AR. (1985). Seni kaligrafi Islam. Jakarta: Pustaka Panjimas. Didin Sirojuddin, AR. (1992). Dinamika kaligrafi Islam. (Terj). Jakarta: Darul Ulum

Press.

Didin Sirojuddin, AR. (1994), Potret dan potensi pengembangan seni kaligrafi Islam di

Indonesia.Jakarta: LPTQ Nasional.

Didin Sirajuddin, AR. (1995). Sekeliling kaligrafi. Seni kaligrafi al-Quran dan usaha

pengembangan di Indonesia. Jakarta: LEMKA, UIN Syarif Hidayatullah. Didin Sirojuddin, AR.(1995), Kaligrafi dalam karya lukis Indonesia mutakhir di antara

modifikasi gaya kaligrafi tradisional.Sarasehan Kaligrafi Islam SCTV. Jakarta: Taman Ismail Marzuki.

Didin Sirojuddin, AR (2007).Koleksi karya master kaligrafi Islam.Jakarta: Darul Ulum Press.

Ekadjati, Edi Suhardi. (1999). Katalog induk naskah-naskah Nusantara jilid 5A: Jawa Barat koleksi lima lembaga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Ensiklopedi Islam. (1994). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Faridah binti Che Husain. (2000). Seni kaligrafi Islam di Malaysia sebagai pencetus

tamadun Melayu Islam. (Thesis Sarjana, Fakulti Sastra dan Sains Sosial, Universiti Malaya, Kuala Lumpur).

Fauzi Salim Afifi. (2002). Cara mengajar kaligrafi, pedoman guru. Jakarta: Darul Ulum Press.

Gallop, Annabel T., (1994). The legacy of the Malay letters: Writing traditions of Indonesia. London: The British Library.

Makmur Haji Harun, Kastolani 123

Analisis Penggunaan Tulisan Jawi (Arab Melayu) dan Kaligrafi dalam Artifak-Artifak Nusantara

Ghazali Darusalam. (2001). Sumbangan sarjana dalam tamadun Islam. Kuala Lum­ pur: Utusan Publication and Distributors Sdn. Bhd.

Hamzuri. (1989). Batik klasik. Yogyakarta: Djambatan.

Hasan Muarif Ambary. (1998), Menemukan peradaban jejak arkeologis dan historis Islam Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Hasan Qasim. (1990).Jamaliah khat al-naskhi.Beirut: Dar al­Qalam.

Hashim bin Awang (ed.). (1992). Sesaka VII. Terengganu: Lembaga Museum Negeri Terengganu.

Hashim Musa. (1999). Sejarah perkembangan tulisan Jawi. Kuala Lumpur: DBP. Ibnu Khaldun. (T.th). Muqaddimah. Mesir: Mustafa Muhammad. Jld 1.

Ibrahim Saad. (1974). Kesusateraan Melayu: Satu pengenalan. Kuala Lumpur: Utusan Melayu.

Ilham Khoiri. (1999). al-Qur’an dankaligrafi Arab. Jakarta: Logos.

Ismail Hamid. (1985). Peradaban Melayu dan Islam. Kuala Lumpur: Fajar Bakti. Ismail Hussein (1984). Sejarah pertumbuhan bahasa kebangsaan kita. Kuala Lumpur:

DBP.

Isma`il Raji al­Faruqi dan Lois Lamya` al­Faruqi. (1986). The cultural atlas of Islam. New York: Macmillan Publishing Company.

Jainal Sakiban. (2005). Seni khat: Keindahan dalam kepelbagaian sejarah, tokoh dan karya.Kajang Selangor: Synergymate.

Jones, Rusell, ed. (1987). Hikayat raja Pasai. Petaling Jaya: Penerbit Fajar Bakti. Kamal Ariffin. (1981). Ikhtisar sejarah sastera Melayu klasik dan moden. Kuala

Lumpur: BTC. Publishing House.

Kamil Baba. (1983). Ruh al-khat al-’Arabi. Beirut: Dar al­Ilm wa al­Malayin.

Kang Kyoung Seouk. (1990). Perkembangan tulisan Jawi dalam masyarakat Melayu. Kuala Lumpur: DBP.

Kamus besar bahasa Indonesia. (1988). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kamus Dewan (edisi baru). (2010). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Mahmud Buchari. (1985). AD. Pirous. Bandung: Galeri Decenta.

Makmur. (2006). Seni kaligrafi Islam Jambi: Satu kajian kes. (Thesis Sarjana, Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor).

Makmur. (2011). Sejarah perkembangan seni khat di Nusantara: Kajian perbandingan di museum kesenian Islam Malaysia dan yayasan restu (Malaysia) dengan lembaga

dan pondok kaligrafi al-Qur’an LEMKA (Indonesia). (Thesis P.hD, APIUM, Kuala Lumpur).

Manja Mohd. Ludin, A. Suhaimi Hj. Mohd. Nor. (1995). Aspek-aspek kesenian Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

124 Makmur Haji Harun, Kastolani

Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea

Martin, B. et.al. (T.th). Belajar melukis batik. Yogyakarta: Nurcahaya.

Maria Indra Rukmi. (1997). Penyalinan naskah Melayu di Jakarta pada abad XIX. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Mohd Taib Osman. (1972). Laporan naskhah-naskhah dan alatan-alatan budaya Melayu di beberapa pusat pengajian di Great Britain dan Jerman Barat. T.tp. Molen, W. Van der. (1985). Sejarah perkembangan aksara Jawa. Yogyakarta:

Javanologi.

Muhammad Bukhari Lubis dan Ali Haji Ahmad. (2006). Transliterasi kata Arab- Parsi-Turki. Kuala Lumpur: Utusan Publication & Distributors Sdn. Bhd. Muhammad Bukhari Lubis, Makmur Haji Harun dan Alizah binti Lamri. (2013).

Jawi: Warisan warga Alam Melayu. Tanjong Malim: Penerbit Mentari.

Muhammad Yusuf Hashim. (1988). Persejarahan Melayu Nusantara. Kuala Lumpur: Teks Publishing Sdn. Bhd.

Mustafa Haji Daud. (1990). Tamadun Islam. Kuala Lumpur: Utusan Publications dan Distributors Sdn. Bhd.

Nabilah Lubis. (2001). Naskah, teks dan metode penelitian filologi. Jakarta: Yayasan Media Alo Indonesia.

Nik Hassan Suhaimi. (2000). Kesenian Melayu: Roh Islam dalam penciptaan. Mohd Taib. T.tp.

Oloan Situmorang. (1988). Seni rupa Islam pertumbuhan dan perkembangannya. Bandung: Angkasa.

Othman Mohd. Yatim. (1989). Seni khat warisan Islam. Kuala Lumpur: DBP. Perpustakaan Negara Malaysia. (1984). Bibliografi dalam bibliografi manuskrip

Melayu. Kuala Lumpur: Perpustakaan Negara Malaysia.

Pusat Dakwah Islamiyah.( 2005). Brunei Darussalam: Pejabat Ugama Brunei Darussalam.

Sanusi Samid. (1986). Sejarah Melayu sebagai satu sumber sejarah, (Zahrah Ibrahim). Sastera sejara interpretasi dan penilaian. Kuala Lumpur: DBP.

Sayyed Hussein Nasr. (1987). Spiritualitas dan seni Islam. Bandung: Mizan.

Sidi Gazalba. (1977). Pandangan Islam tentang kesenian. Kuala Lumpur: Pustaka Antara.

Soebadio, Haryati. (2010). Penelitian naskhah lama Indonesia. Jakarta: Buletin Yaperna.

Suryani NS, Elis. (2006). Teori filologi (Diktat kuliah). Bandung: Fakulti Sastera Unpad.

Sutrisno, Sulastin. (1983). Hikayat Hang Tuah: Kajian struktur dan fungsi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Syahruddin. (2004). Kaligrafi al-Qur’an dan metodologi pengajarannya. Jakarta: Sabit Pluss.

Makmur Haji Harun, Kastolani 125

Analisis Penggunaan Tulisan Jawi (Arab Melayu) dan Kaligrafi dalam Artifak-Artifak Nusantara

Syed Muhammad Naguib al-Attas. (1972). Islam dalam sejarah dan kebudayaan Melayu. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

Teuku Iskandar. (1995). Kesusasteraan klasik Melayu sepanjang abad. Brunei: Penerbit UBD.

Vlatseas, S. (1990). A history of Malaysian architecture. Kuala Lumpur: DBP.

Wan Ali Wan Mamat. (1988). Pemuliharaan buku dan manuskrip. Kuala Lumpur: DBP.

Yasin Hamid Safadi. (1979).Islamic calligraphy. Colorado: Shambhala.

Zainal Abidin Ahmad (Za’ba). (1949). Daftar ejaan Jawi. Tanjong Malim: Pejabat Karang Mengarang Sultan Idris Training College.

Zainul Muttaqin. et.al.(1992). Seni kaligrafi kontemporer. Gontor: Darussalam Press. Zakaria Ali. (1994). Islamic art in southeast Asia. Kuala Lumpur: DBP.

Berita [email protected] Idris, Khamis, 24 Desember 2009.

Buku Cendermata. (1981).PameranSultanTerengganu.Kuala Terengganu: Lembaga Museum Negeri Terengganu.

Buku Cenderamata. (1981). Pameran pertandingan seni khat. Kuala Terengganu: Lembaga Museum Negeri Terengganu.

Brosur Peraduan Seni Khat. (2009). Manifestasi perdana seni khat. Kuala Lumpur: MKIM.

Kompas, Ahad, tanggal, 21 Juni 2009.

Syaiful Adnan.(3Juni 1995).Potensi kaligrafi (ragam).Jakarta: Gatra.

The British Library and British Council. (1990).Surat-surat emas raja-raja Nusantara dari koleksi Inggeris. Jakarta: Yayasan Lontar dan Depart Pariwisata, Pos dan Telekom.

Masjid Pondok Pesantren LEMKA, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, tanggal, 28 Juni 2009.

Muzium Bayt al­Qur’an, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, DKI Jakarta.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, DKI Jakarta, 16 Juli 2016. Pameran Kesenian Islam Museum Negara.Kuala Lumpur.Desember­Januari,

Tgl, 24/12/2009.

http://www.google.com, Kesenian Islam dalam Negara, tanggal, 9 Januari 2016/13 Juni 2017.

http://www.galeri-nasional.or.id/koleksi., tanggal, 15 Maret 2017.

http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/amang.html, tanggal, 13 April 2017.

126 Makmur Haji Harun, Kastolani

Tema II: Literature, Literature Critics and Comparative Discoursea

http://[email protected], tanggal, 15 Maret 2017.

http://[email protected], Kompas Online, Ahad, tanggal, 6 April 1997. http://www.lemka.net/2014/09/ust-isep-misbah-ajarkan-metode-belajar.html.