• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP PETANI TERHADAP PHT Apakah petani pernah mendengar istilah PHT?

a.Pernah b.Belum pernah Sumber: a.Televisi b.Surat kabar c.Radio d.Petani lain e.Petugas pertanian f. Lainnya………... Ketertarikan terhadap PHT: a.Tertarik b.Tidak tertarik c.Ragu-ragu

Dasar pengambilan keputusan dalam mengendalikan hama dan penyakit: e.Pengalaman sendiri

f. Petugas pertanian g.Petani lain

h.Lainnya... Manfaat apa yang petani rasakan dari program PHT?

... ... ... Kritik, saran, dan harapan petani terhadap program PHT:

... ... ...

Lampiran 2 Rekapitulasi karakteristik usahatani SLPHT

Nama responden Desa Jenis lahan Luas total (m2) Luas untuk padi (m2) Varietas

Supriadi Mekarsari Sawah 8000 5000 Inpari 13

Sukandar Mekarsari Sawah 6000 6000 Inpari 10

H. Aa Jumaedi Mekarsari Sawah 5000 3000 Ciherang

H. Andung Mekarsari Sawah 10 000 10 000 Inpari 13

Ahmad Mekarsari Sawah 500 500 Inpari 10

Sarta Mekarsari Sawah 10 000 5000 Inpari 10

Enoh Mekarsari Sawah 2500 2500 Inpari 28

Suganda Mekarsari Sawah 10 000 10 000 Inpari 13

Anduy Mekarsari Sawah 7500 5000 Inpari 13

Edi Habasri Mekarsari Sawah 1000 1000 Inpari 13

Majan Suburjaya Sawah 10 000 5000 Inpari 13

H. Abdullah Suburjaya Sawah 10 000 5000 Ciherang, Inpari 13

H. Maji Suburjaya Sawah 5000 3000 Inpari 13

H. Margata Suburjaya Sawah 5000 5000 Inpari 13

Uning Suburjaya Sawah 6500 6500 Inpari 13

Udin Suburjaya Sawah 6000 5000 Inpari 13

H. Maja Suburjaya Sawah 5000 5000 Inpari 13

Nasim Suburjaya Sawah 3000 3000 Inpari 13

Nasir Suburjaya Sawah 3000 3000 Inpari 13

Ota Suburjaya Sawah 5000 5000 Inpari 13

Jumlah 119 000 93 500

Lampiran 3 Rekapitulasi karakteristik usahatani nonSLPHT

Nama responden Desa Jenis lahan Luas total (m2) Luas untuk padi (m2) Varietas

Adi Suardi Purwasari Sawah 5000 2500 Mekongga

Bohi Purwasari Sawah 5000 2500 Mekongga

Mista Purwasari Sawah 5000 2500 Ciherang

Jakim Purwasari Sawah 2000 1250 Ciherang, Inpari 10

Idas Purwasari Sawah 1250 1250 Mekongga

Ukar Purwasari Sawah 5000 2500 Ciherang, Inpari 10

Surya Purwasari Sawah 2500 2500 Ciherang

H. Soleh Purwasari Sawah 10 000 2500 Ciherang

Hapi Purwasari Sawah 4000 3750 Mekongga

Nasa Purwasari Sawah 2500 1250 Mekongga

Agus Ciherang Sawah 25 000 25 000 Inpari 13

Oleh Ciherang Sawah 3000 3000 Inpari 13

Dedi Ciherang Sawah 5000 4000 Inpari 13

Uca Ciherang Sawah 7000 6000 Inpari 13

Udas Ciherang Sawah 7000 7000 Inpari 13

Ohan Ciherang Sawah 5000 5000 Inpari 13

Enda Ciherang Sawah 7000 7000 Inpari 13

Namat Ciherang Sawah 5500 3000 Inpari 13

Emad Ciherang Sawah 5000 5000 Inpari 13

Ade Ciherang Sawah 2500 2500 Inpari 13

Jumlah 114 250 90 000

Lampiran 4 Biaya dan pendapatan usahatani petani SLPHT

Nama responden

Biaya produksi per luas lahan garapan * Rp 1 000.00

Perolehan per hektar (kg) Benih Pupuk padat Pupuk cair Pestisida Tenaga kerja Biaya total

Supriadi 0 500 0 40 890 1,430 7000 Sukandar 0 820 0 0 825 1,645 5250 H. Aa Jumaedi 0 1,197 0 0 1,125 2,322 6300 H. Andung 0 1,020 70 0 980 2,070 7000 Ahmad 0 500 0 0 730 1,230 7000 Sarta 0 380 0 0 725 1,105 7200 Enoh 0 600 0 0 975 1,575 6300 Suganda 0 1,210 90 0 880 2,180 8000 Anduy 0 500 0 0 930 1,430 7800 Edi Habasri 0 525 0 0 710 1,235 8000 Majan 0 1,160 18 50 1,000 2,228 8800 H. Abdullah 0 1,300 0 50 1,200 2,550 8300 H. Maji 0 540 20 20 720 1,300 7800 H. Margata 0 580 20 25 1,000 1,625 7500 Uning 0 1,125 20 50 1,000 2,195 8800 Udin 0 1,080 20 20 680 1,800 7200 H. Maja 0 840 20 25 1,000 1,885 8000 Nasim 0 760 20 25 960 1,765 7700 Nasir 0 520 20 20 770 1,330 7300 Ota 0 1,330 20 50 1,000 2,400 8800 Rata-rata 0 824.35 16.90 18.75 905 1,765 7502.5 71

Lampiran 5 Biaya dan pendapatan usahatani petani nonSLPHT

Nama responden

Biaya produksi per luas lahan garapan * Rp 1 000.00

Perolehan per hektar (kg)

Benih Pupuk padat Pupuk cair Pestisida Tenaga kerja Biaya total Adi Suardi 0 904 280 0 1,650 2,834 6000 Bohi 0 1,020 0 50 1,860 2,930 6000 Mista 0 920 176 160 1,280 2,536 4000 Jakim 0 2,144 0 100 1,580 3,824 6400 Idas 0 1,088 0 280 1,120 2,488 6000 Ukar 0 1,040 172 56 1,460 2,728 3200 Surya 0 908 0 120 1,330 2,358 4800 H. Soleh 0 1,760 360 80 1,000 3,200 4000 Hapi 0 690 0 105 935 1,730 3000 Nasa 0 552 352 120 722 1,746 2700 Agus 0 675 0 600 600 1,875 3000 Oleh 0 742 0 100 640 1,482 5600 Dedi 0 1,462 32 200 800 2,494 3500 Uca 0 565 0 100 800 1,465 3400 Udas 0 682 0 100 1,500 2,282 3700 Ohan 0 852 0 100 720 1,672 2600 Enda 0 517 0 100 1,200 1,817 3200 Namat 0 787 0 100 594 1,481 6600 Emad 0 565 0 100 700 1,365 2600 Ade 0 904 0 100 1,600 2,604 5300 Rata-rata 0 938.85 68.60 133.55 1,104.55 2,245.55 4280 72

Lampiran 6 Pengetahuan petani responden tentang budidaya tanaman

Pernyataan SLPHT (%) nonSLPHT (%)

B a S a TT a B a S a TT a

Biji untuk benih sebaiknya berasal dari tanaman sehat 100 0 0 100 0 0

Saat pemupukan, air sawah tidak menggenang supaya sebagian pupuk tidak

hilang karena menguap dan terbawa air 100 0 0 100 0 0

Pupuk kandang menggemburkan tanah 100 0 0 100 0 0

Pemupukan lengkap adalah campuran urea dengan TSP dan KCL 100 0 0 60 40 0

a

B = Benar. S = Salah. TT = Tidak Tahu.

Lampiran 7 Pengetahuan petani responden tentang pestisida dan penyemprotan

Pernyataan SLPHT (%) nonSLPHT (%)

B a S a TT a B a S a TT a

Membaca label pestisida sebelum menggunakannya 100.00 0.00 0.00 89.47 10.53 0.00

Pada saat menyemprot, seharusnya berjalan searah dengan arah angin 100.00 0.00 0.00 89.47 10.53 0.00

Pada saat aplikasi pestisida, tubuh harus sehat dan fit 100.00 0.00 0.00 100.00 0.00 0.00

Memilih tempat kerja yang bersih, terang, dan berventilasi baik untuk

mencampur pestisida 100.00 0.00 0.00 100.00 0.00 0.00

Menggunakan pakaian/perlengkapan pelindung jika hendak bekerja dengan

pestisida 100.00 0.00 0.00 21.05 78.95 0.00

Pencucian tangki bekas menyemprot tidak boleh dilakukan di kolam/sungai 100.00 0.00 0.00 21.05 78.95 0.00

Untuk menghindari keracunan pestisida, penyemprotan tidak dilakukan

menjelang panen 100.00 0.00 0.00 100.00 0.00 0.00

Menyimpan pestisida di tempat khusus dan aman bagi siapa pun, terutama

anak-anak 100.00 0.00 0.00 100.00 0.00

0.00

a

B = Benar. S = Salah. TT = Tidak Tahu.

Lampiran 8 Sikap kecenderungan petani dalam mencampur pestisida

Pernyataan SLPHT (%)

a

nonSLPHT (%) a

S b TS b R b S b TS b R b

Semua jenis pestisida dapat dicampur 0 100 0 89.47 10.53 0

Pencampuran pestisida menghemat waktu 100 0 0 100 0 0

Pencampuran pestisida perlu dilakukan bila pertanaman diserang berbagai jenis

hama dan penyakit secara bersamaan 100 0 0 100 0 0

Pencampuran pestisida mengurangi biaya pelaksanaan penyemprotan 100 0 0 100 0 0

Kelemahan dari pestisida yang dicampur adalah daya bunuhnya menurun 50 50 0 0 100 0

Dengan mencampur pestisida, beberapa jenis hama dan penyakit dapat

dikendalikan sekaligus 100 0 0 100 0 0

a

Jumlah responden untuk petani SLPHT = 20 orang dan petani nonSLPHT = 20 orang.

b

S = Setuju. TS = Tidak Setuju. R = Ragu-ragu.

Lampiran 9 Sikap petani terhadap pengendalian nonkimiawi

Pernyataan SLPHT (%)

a

nonSLPHT (%) a

S b TS b R b S b TS b R b

Pergiliran tanaman membantu mengurangi serangan OPT 55 5 40 75 10 15

Musuh alami perlu dilestarikan 85 0 15 30 30 40

Memusnahkan sisa tanaman sakit membantu menekan serangan penyakit 100 0 0 55 45 0

Pada saat dipertanaman menjumpai ulat, ulat diambil dan dimatikan 85 10 5 55 40 5

Menyiangi gulma dengan tangan atau alat 100 0 0 100 0 0

Setelah melakukan pemanenan, jerami padi biasanya dibakar 0 100 0 0 100 0

a

Jumlah responden untuk petani SLPHT = 20 orang dan petani nonSLPHT = 20 orang.

b

Lampiran 10 Sikap kerasionalan petani dalam penggunaan pestisida

Pernyataan SLPHT (%)

a

nonSLPHT (%) a

S b TS b R b S b TS b R b

Bila harga hasil panen meningkat, penyemprotan dilakukan lebih sering 25 75 0 31.57 68.43 0 Hanya dengan penyemprotan bejadwal, dapat menyelamatkan hasil

panen 83.33 8.33 8.33 94.74 5.26 0

Adanya tetangga yang menyemprot, menunjukkan bahwa kita perlu

menyemprot 58.33 41.67 0 26.32 73.68 0

Penyemprotan pestisida perlu seawal mungkin begitu ada gejala serangan 100 0 0 94.74 5.26 0 Bila tersedia cukup uang untuk membeli pestisida, penyemprotan

sebaiknya secara berjadwal 33.33 58.33 8.33 36.84 63.16 0

Bila setelah penyemprotan turun hujan, maka keesokan harinya

pertanaman perlu disemprot lagi 8.33 91.67 0 15.79 84.21 0

a

Jumlah responden untuk petani SLPHT = 20 orang dan petani nonSLPHT = 20 orang.

b

S = Setuju. TS = Tidak Setuju. R = Ragu-ragu.

Lampiran 11 Sikap kepedulian petani terhadap dampak pestisida

Pernyataan SLPHT (%)

a

nonSLPHT (%) a

S b TS b R b S b TS b R b

Tanaman yang sering disemprot pestisida dapat mengandung racun

sehingga berbahaya bagi konsumen 91.67 8.33 0 94.74 5.26 0

Berkurangnya udang dan berbagai jenis ikan di sungai berkaitan dengan

penggunaan pestisida di pertanaman 100 0 0 100 0 0

Penyemprotan yang terlalu sering dapat menyebabkan hama dan penyakit

resisten terhadap pestisida 91.67 0 8.33 84.21 15.79 0

Pestisida yang digunakan telah memperoleh ijin dari pemerintah sehingga

tidak berbahaya bagi kesehatan 8.33 91.67 0 36.84 63.16 0

Penyemprotan pestisida tidak hanya membunuh hama/penyakit, tetapi

juga dapat membunuh makhluk lain yang berguna di pertanaman 75 0 25 100 0 0

a

Jumlah responden untuk petani SLPHT = 20 orang dan petani nonSLPHT = 20 orang.

b

S = Setuju. TS = Tidak Setuju. R = Ragu-ragu.

Lampiran 12 Produktivitas dan produksi padi Indonesia tahun 2001-2011 Tahun Luas panen (ha) Produktivitas (ku/ha) Produksi (ton)

2001 11 499 997 43.88 50 460 782 2002 11 521 166 44.69 51 489 694 2003 11 488 034 45.38 52 137 604 2004 11 922 974 45.36 54 088 468 2005 11 839 060 45.74 54 151 097 2006 11 786 430 46.20 54 454 937 2007 12 147 637 47.05 57 157 435 2008 12 327 425 48.94 60 325 925 2009 12 883 576 49.99 64 398 890 2010 13 253 450 50.15 66 469 394 2011 13 203 643 49.80 65 756 904

Lampiran 13 Kegiatan selama penelitian: (A) proses wawancara petani di lahan, (B) proses wawancara petani dengan mendatangi rumah petani secara langsung, (C) Petani memperhatikan gambar contoh gejala penyakit di lahan padi

A B

Lampiran 14 Contoh spesimen yang diperlihatkan pada petani: (A) beberapa hama penting tanaman padi, (B) beberapa musuh alami hama penting tanaman padi, (C) gambar beberapa penyakit penting pada tanaman padi, dan (D) beberapa predator hama penting tanaman padi

A

B C

ROSI ROSIDAH JAJILI. Survei Evaluasi Pelaksanaan Program Pemasyarakatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Petani Padi di Kecamatan Dramaga, Bogor. Dibimbing oleh DADAN HINDAYANA.

Padi merupakan bahan makanan pokok sebagian besar rakyat Indonesia. Salah satu strategi pencapaian sasaran produksi untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional diupayakan melalui pengurangan kehilangan hasil dengan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Penggunaan pestisida dalam pengendalian OPT merupakan teknik pertanian konvensional yang menimbulkan berbagai dampak negatif baik terhadap lingkungan maupun kesehatan. Pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan langkah alternatif berwawasan lingkungan untuk mengatasi OPT. Program PHT dikembangkan mulai tahun 1989 melalui sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT) yang kini telah berjalan lebih dari 20 tahun. Perlu dilakukan survei dan evaluasi terhadap program tersebut untuk mengetahui tingkat keberhasilan program PHT yang dilakukan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner terstruktur pada petani SLPHT dan nonSLPHT. Data sekunder sebagai data pendukung meliputi data keadaan umum lokasi dari kantor Kecamatan setempat dan data pelaksanaan program PHT yang diperoleh dari Dinas Pertanian Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi penyebaran program PHT dari petani SLPHT ke petani nonSLPHT, namun dalam skala kecil dan tidak berkelanjutan. Program PHT saat ini masih berjalan walaupun terkendala oleh keterbatasan sarana dan biaya operasional. Teknologi PHT sudah memasyarakat di kalangan petani secara meluas melalui informasi petani alumni SLPHT dan kegiatan pelatihan lain, seperti sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SLPTT). Konsep PHT digeser dengan konsep pengelolaan tanaman terpadu (PTT) yang secara prinsip tidak berbeda dengan PHT. Pengetahuan, sikap dan tindakan petani SLPHT tentang konsep PHT lebih baik daripada petani nonSLPHT, baik dalam budidaya tanaman, penggunaan pestisida, pengetahuan tentang hama dan penyakit serta musuh alami, maupun pengendalian OPT secara nonkimiawi.

Kata kunci: Padi, organisme pengganggu tanaman (OPT), pengendalian hama terpadu (PHT), sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT).

Latar Belakang

Padi merupakan bahan makanan pokok sebagian besar rakyat Indonesia karena 95% penduduk Indonesia mengkonsumsi beras. Tingginya kebutuhan konsumsi beras disebabkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia beranggapan bahwa beras merupakan bahan makanan pokok yang belum dapat digantikan keberadaannya. Keterikatan pada beras sebagai pangan pokok pada gilirannya menimbulkan masalah, yaitu bertambahnya jumlah penduduk diiringi dengan besarnya konsumsi beras di Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengimbangi peningkatan konsumsi beras tersebut, maka produksi beras secara nasional harus ditingkatkan pula (Muslim 2008).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2011), pada tahun 2011 terjadi penurunan produktivitas padi yang cukup signifikan dari 50.15 ku/ha menjadi 49.80 ku/ha. Turunnya produktivitas padi berkorelasi positif dengan penurunan produksi padi nasional. Produksi padi pada tahun 2011 sebesar 65 756 904 ton dengan luas lahan panen 13 203 643 ha, menurun dari 66 469 394 ton pada tahun 2010 dengan luas lahan 13 253 450 ha. Kebutuhan beras per kapita per tahun penduduk Indonesia sekitar 139 kg. Angka konsumsi beras masyarakat Indonesia lebih besar dibandingkan dengan negara lain di dunia. Dengan demikian, kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah merupakan kebijakan yang baik untuk memperkuat cadangan beras dan memenuhi konsumsi dalam negeri.

Upaya peningkatan produktivitas padi secara nasional sudah dimulai sejak tahun 1969, namun selama lebih dari 3 dekade Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan beras dalam negeri sehingga masih tergantung pada impor. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai macam kendala dalam peningkatan produktivitas padi, di antaranya konversi lahan pertanian, teknologi, hama dan penyakit tanaman, perubahan iklim, dan bencana alam (Wardhani 1992).

Salah satu strategi pencapaian sasaran produksi untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional diupayakan melalui pengurangan kehilangan hasil dengan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Pengendalian OPT

dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya menggunakan varietas unggul, cara mekanis, biologi, kimiawi, dan sistem budidaya yang baik tetapi masih sering dijumpai penggunaan cara kimiawi menjadi pilihan pertama (Djojosumarto 2008).

Pengendalian secara kimiawi dengan aplikasi pestisida merupakan cara paling praktis, ekonomis, dan efisien, namun menimbulkan beberapa dampak negatif di antaranya menimbulkan masalah kesehatan, pencemaran, dan gangguan keseimbangan ekologis. Dampak sosial ekonomi dari penggunaan pestisida yang tidak terkendali menyebabkan biaya produksi menjadi tinggi dan menimbulkan biaya sosial, misalnya biaya pengobatan dan hilangnya hari kerja jika terjadi keracunan. Dampak bagi kesehatan di antaranya dapat mengakibatkan keracunan baik akut maupun kronis. Bagi kelestarian lingkungan, penggunaan pestisida dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, terjadinya resistensi pada hama, terbunuhnya organisme bukan sasaran, timbulnya ledakan hama kedua, adanya residu racun pada tanaman, dan terjadinya resurjensi hama seperti yang terjadi pada tahun 1985 (Djojosumarto 2008).

Pada tahun 1985 terjadi letusan hama wereng batang cokelat di pusat tanaman padi di Jawa Tengah dan jalur pantai utara Jawa yang meliputi ribuan hektar lahan sawah. Banyak petani mengalami gagal panen karena sawahnya

“terbakar” oleh hama tersebut. Peristiwa ini diakibatkan oleh penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama wereng batang cokelat yang saat itu telah mendapat izin untuk pengendaliannya. Secara ilmiah pestisida-pestisida tersebut terbukti mendorong resurjensi hama wereng batang cokelat. Untuk mengamankan swasembada beras, Presiden atas nama Pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 1986 tentang Pengendalian Hama Wereng Cokelat Padi. Melalui peraturan tersebut, Presiden menginstruksikan untuk menerapkan PHT dalam pengendalian hama wereng batang cokelat dan hama-hama padi lainnya, melarang penggunaan 57 formulasi insektisida untuk tanaman padi, melaksanakan koordinasi untuk peningkatan pengendalian wereng cokelat, dan melakukan pelatihan petani dan petugas tentang PHT. Oleh karena itu, perhatian terhadap alternatif pengendalian hama nonkimiawi serta metode pengendalian hama

terpadu (PHT) semakin besar. Hal ini bertujuan menurunkan pemanfaatan dan ketergantungan terhadap pestisida sintetik (Untung 2007).

Pengendalian hama terpadu (PHT) adalah suatu cara pendekatan, cara berfikir atau falsafah pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang bertanggung jawab. Program tersebut telah membawa Indonesia diakui oleh dunia bahwa Indonesia telah berhasil mengembangkan PHT. Konsep PHT berusaha untuk mendorong, mengkombinasikan, dan mamadukan beberapa macam faktor pengendalian untuk menekan populasi hama dan memperkecil kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh serangan hama. Secara prinsip, konsep PHT berbeda dengan konsep pengendalian konvensional yang sangat tergantung pada penggunaan pestisida. PHT bukan suatu konsep yang anti penggunaan pestisida melainkan alternatif terakhir jika semua teknologi PHT sudah tidak efektif, pestisida masih diperlukan tetapi sangat selektif (Krestiani 2010).

Sejak tahun 1989 program PHT dikembangkan melalui sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT) pada tanaman padi. Perencanaan dan persiapan kegiatan pelatihan PHT dilakukan di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) oleh suatu tim yang terdiri atas para pakar PHT dari FAO, Departemen Pertanian, dan Universitas (UGM, IPB, dan UNHAS). Indonesia dikenal di seluruh dunia sebagai pencetus dan pionir dalam melaksanakan program SLPHT dalam skala besar. Petani dengan segala keterbatasannya dapat meningkatkan kualitas dan dedikasinya menjadi penerap konsep PHT yang dapat dibanggakan. Pola SLPHT telah diterima oleh FAO, organisasi pangan dan pertanian dunia, serta diterapkan dan dikembangkan di sebagian besar negara berkembang di benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin (Untung 2007).

Di tingkat Internasional, Indonesia dikenal sebagai negara pelopor PHT dan Pemerintah Indonesia telah menjadikan PHT sebagai kebijakan nasional, namun terdapat beberapa kendala dalam pemasyarakatan program tersebut. Walaupun demikian, program PHT diharapkan dapat berjalan dengan sendirinya, yaitu melalui informasi dari petani SLPHT kepada petani nonSLPHT. Akibat kurangnya penyebaran program PHT, dikhawatirkan para petani alumni SLPHT menjadi kurang percaya diri terhadap program PHT sehingga mereka kembali ke

teknik pertanian konvensional yang bergantung pada penggunaan pestisida. Oleh karena itu, perlu dilakukan survei dan evaluasi terhadap tingkat keberhasilan program PHT, salah satunya di Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor yang telah menerapkan strategi pengendalian OPT melalui implementasi program PHT pada tanaman pangan terutama padi.

Tujuan

Survei ini bertujuan menganalisis tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan petani dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman; serta menganalisis dan mengevaluasi tingkat keberhasilan program PHT pada petani padi di Kecamatan Dramaga, Bogor.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari survei ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tingkat keberhasilan program PHT serta menyediakan pangkal data petani padi SLPHT dan nonSLPHT di Kecamatan Dramaga, Bogor.

Tanaman Padi

Sejarah

Padi merupakan tanaman pangan rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada tahun 3000 SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100 sampai 800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, dan Vietnam (Surowinoto 1983).

Biologi

Padi tergolong tanaman setahun, bentuk batang berongga dan beruas-ruas, pada setiap ruas batang tumbuh satu helai daun yang memanjang seperti pita. Pelepah daun membungkus ruas batang dan pada ujung batang terbentuk sebuah malai (Sumartono et al. 1972).

Tanaman padi termasuk divisi Spermatophyta, sub divisi Angiospermae, kelas Monotyledonae, ordo Graminales, famili Graminae, genus Oryza dan spesies Oryza spp.. Spesies padi terdiri atas dua golongan yaitu Utilissima (padi biasa) dan Glutinosa (padi ketan). Pembagian ini berdasarkan atas perbedaan fisik dan kimia dari endospermanya (Surowinoto 1983).

Menurut Siregar (1981) terdapat 25 spesies Oryza, yang terkenal adalah

O. sativa dengan dua subspesies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran yang memerlukan penggenangan.

Varietas Indica umumnya memiliki batang yang tinggi, daunnya besar berwarna hijau muda, tumbuhnya menggantung, respon pupuk terutama nitrogen kurang baik dan peka terhadap panjang hari (dalam hal pembungaan), varietas ini biasanya mempunyai produksi rendah. Varietas Sinica umumnya memiliki batang lebih pendek, tumbuh agak tegak, respon pupuk nitrogen sangat baik dan

mempunyai produksi tinggi. Jenis Indica cenderung menghasilkan butir beras yang lebih pendek dan konstistensi nasinya lekat (Ika dan Soemarno 1986).

Varietas unggul nasional berasal dari Bogor yaitu Pelita I/1, Pelita I/2, Adil dan Makmur (dataran tinggi), Gemar, Gati, GH 19, GH 34, dan GH 120 (dataran rendah). Varietas unggul introduksi dari International Rice Research Institute (IRRI) Filipina adalah jenis IR atau PB yaitu IR 22, IR 14, IR 46, dan IR 54 (dataran rendah); PB32, PB 34, PB 36, dan PB 48 (dataran rendah). Varietas unggul baru (VUB) padi sawah, seperti: IR36, Cisadane, IR 42, Cisokan, IR64, Ciliwung, IR66, Memberamo, Cibodas, Digul, Maros, Cimalaya Mucul, Way Apo Buru, Widas, Ciherang, Cisantana, Tukad Petanu, Tukad Balian, Tukad Unda, Celebes, Kalimas, Bondojudo, Silungonggo, Singkil, Sintanur, Konawe, Batang Gadis, Ciujung, Conde, Angke, Wera, Sunggal, Cigeulis, Luk Ulo, Cibogo, Batang Piaman, Batang Lembang, Pepe, Logawa, Mekongga, Sarinah, Aek Sibundong, Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, Inpari 4, Inpari 5 Merawu, Inpari 6 Jete, Inpari 7 Lanrang, Inpari 8, Inpari 9 Elo, dan Inpari 10 Laeya. VUB padi tipe baru seperti: Cimelati, Gilirang, Ciapus, dan Fatmawati. VUB padi hibrida seperti: Maro, Rokan, Hipa 3, Hipa 4, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, Hipa 7, dan Hipa 8 Pioneer. VUB padi ketan seperti: Lusi, Ketonggo, Setail, dan Ciasem. VUB padi gogo seperti: Cirata, Towuti, Limboto, Danau Gaung, Batutegi, Situ Patenggang, dan Situ Bagendit. VUB padi rawa pasang surut seperti: Banyuasin, Batanghari, Dendang, Indragiri, Punggur, Martapura, Margasari, Siak Raya, Air Tenggulang, Lambur, Mendawak, Inpara 1, Inpara 2, dan Inpara 3 (Suprihatno et al. 2009). Syarat Tumbuh

Tanaman padi tumbuh baik pada kisaran suhu 20 sampai 40 oC dengan ketinggian beberapa meter hingga 300 m dpl dan pada lintang 45 oLU sampai 45 oLS. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500 sampai 200 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif. Pada umumnya tanaman padi membutuhkan air dalam jumlah relatif banyak, namun tidak semua fase pertumbuhan membutuhkan air dalam jumlah yang sama.

Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0 sampai 650 m dpl dengan temperatur 22 sampai 27 oC, sedangkan di dataran tinggi 650 sampai 1500 m dpl dengan temperatur 19 sampai 23 oC. Tanaman padi mempunyai dua fase masa kritis, yaitu masa pembentukan anakan (vegetatif aktif) dan fase setelah pembentukan primordia (30 hari sebelum keluar bunga). Tanaman padi memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Jika terjadi kekurangan air pada kedua fase tersebut, maka anakan akan berkurang dan persentase gabah hampa tinggi. Selain itu, angin juga berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merebahkan tanaman (Surowinoto 1983).

Arti Penting dan Manfaat Padi bagi Kehidupan Manusia

Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain (Haryadi 2006).

Padi adalah salah satu bahan pangan pokok yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia sebab di dalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Pangan pokok umumnya banyak mengandung karbohidrat sehingga berfungsi sebagai sumber kalori utama. Di Indonesia, di antara bahan pangan berkarbohidrat yaitu padi-padian, umbi-umbian, dan batang palma, beras merupakan sumber kalori terpenting bagi sebagian besar penduduk. Beras diperkirakan menyumbangkan kalori sebesar 60% sampai 80% dan protein 45% sampai 55% bagi rata-rata penduduk (Haryadi 2006).

Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Oka (1996) mengemukakan bahwa PHT adalah suatu konsep atau pandangan, pendekatan, program, dan strategi ataupun filosofi. Menurut Sembel (2010) program pengendalian hama terpadu (Intergrated Pest Control = Integrated Pest Management) mulai dikembangkan sejak tahun 1950-an. Awalnya hanya memadukan pengendalian kimia dan hayati, namun selanjutnya

dikembangkan dengan memanfaatkan semua teknik pengendalian, yaitu kimia, hayati, kultural, mekanik, dan cara-cara pengendalian lain yang cocok untuk menurunkan populasi hama di bawah garis ambang ekonomi dengan memperhatikan aspek-aspek ekologi, ekonomi, dan sosial.

Prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) sebagaimana dikemukakan oleh Untung (1984) adalah (1) pengendalian hama harus merupakan bagian atau komponen atau subsistem pengelolaan agroekosistem; (2) pengendalian hama harus dilakukan dengan berlandaskan prinsip-prinsip pembangunan pertanian berkelanjutan; (3) strategi pengelolaan agroekosistem berkelanjutan, antara lain pengurangan masukan produksi yang membahayakan, manfaat potensi hayati, penyesuaian pola tanam, dan penekanan pada pengelolaan usaha tani; dan (4) tujuan PHT tidak hanya untuk pengendalian hama saja tetapi mempunyai tujuan komprehensif, antara lain: produksi pertanian makin tinggi, peningkatan kesejahteraan petani, perhatian pada populasi hama dalam keseimbangan, perhatian pada keanekaragaman hayati, pembatasan penggunaan pestisida, pengurangan risiko keracunan pada manusia dan binatang, dan peningkatan daya saing serta nilai tambah produk.

Pemerintah telah menetapkan PHT sebagai kebijakan dasar bagi setiap program perlindungan tanaman. Kebijakan ini merupakan program pemerintah sejak Pelita III sampai sekarang. Dasar hukum penerapan dan pengembangan PHT

Dokumen terkait