Pembangunan Masyarakat & Corporate Social Responsibility (CSR)
4.2 Corporate Social Responsibility (CSR) 1 Konsep dan Definis
Saat ini dalam dunia bisnis seringkali disinggung tentang tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungannya, hal ini terutama dikaitkan dengan lingkungan hidup maupun lingkungan sosial. Tanggung jawab sosial perusahaan(Corporate Social Responsibility)merujuk pada semua hubungan yang terjadi antara sebuah perusahaan dengan semua stakeholder, termasuk didalamnya adalah pelanggan atau customers, pegawai, komunitas, pemilikatau investor, pemerintah, supplier bahkan juga kompetitor. Tanggung jawab perusahaan juga merupakan konsep dimana perusahaan tersebut secara sukarela menyumbangkan sesuatu ke arah masyarakat yang lebih sejahtera dan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Korporasi yang berdiri pada suatu lahan dan area! tertentu dalam sebuah komunitas tentunya akan selalu bereaksi terhadap pola kehidupan komunitas lokal yang ada di lingkungan perusahaan tersebut berada. Sehingga mau tidak mau perusahaan akan berakulturasi dengan berbagai kebudayaan, pola hidup dan juga kesukubangsaan. Strategi-strategi beradaptasi yang dilakukan perusahaan salah satunya adalah dengan melakukan community development yang selain sebagai ketentuan perusahaan dalam kontekscorporate social responsibility,juga sebagai kebutuhan dari korporasi yang bersangkutan agar dapat dengan baik beraktivtas di lingkungannya (Rudito &. Famiola, 2007). Dalam dunia bisnis yang terbatas, baik sumber daya maupun daya dukung kehidupan -sebagai contoh, hanya 2% dari total air di bumi yang mampu dimanfaatkan dan pada saat yang sama dua milyar manusia kekurangan air bersih - dan bila kita menginginkan standar kehidupan yang lebih baik serta berkelanjutan bagi generasi mendatang, suatu perilaku dunia bisnis yang bertanggung jawab menjadi amat penting. CSR, oleh karena itu mungkin dapat menjadi salah satu solusi terhadap masalah tersebut (Tanaya, 2004).
Lalu apakah sebenarnya yang dimaksud dengan CSR itu ?
Didalam pembahasan tentang CSR, sejatinya tidak ada definisi tunggal tentang konsep ini. Berikut adalah beberapa pengertian yang cukup berpengaruh dan datang dari tiga lembaga besar dunia yang mencoba mendefinisikan CSR.
World council for Sustainable Development menyebut CSR sebagai:
"continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of live of the workforce and their families as well as of the local community and society at large".
World Bank;
.,"CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their reresentatives, the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development".
European Union:
"CSR is a concept whereby companies integrate social and environment concerns in their business operations and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basis".
CSR pada dasarnya adalah aktivitas yang perusahaan untuk mencapai keseimbangan antara aspek ekonomi (pencapaian profit) di satu sisi dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial di sisi lain. Dengan'kata lain, CSR adalah aktivitas yang mengejartriple bottom lineyang terdiri dari 3P (Suharto, 2007). Selain mengejar profit untuk kepentingan shareholders perusahaan juga hams memperhatikan stakeholders, yakni terlibat dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat(People),serta berpartisipasi aktif dalam msnjag3 lingkungan (Planet). Semuanya ini dengan tujuan akhir demi terciptanya pembangunan berkelanjutan(sustainable development)(Pambudi, 2005).
Sumber: Suharto (2007:105)
Garnbar 4.2: Triple Bottom Lines dalam Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Tanggung jawab sosial perusahaan bermula dari kisah sukses entitas bisnis produsen kosmetik The Body Shop untuk membangun kepercayaan publik melalui implementasi tanggung jawab sosial perusahaan. Pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan(Corporate Social Responbility/CSR), diawali berupa kegiatan filantropi dan pengembangan komunitas, umumnya dikemas untuk sebagai upaya promosi. Selain itu -lebih dari sekadar promosi- semakin berkembang pula pandangan bahwa keunggulan bersaing bisa dihasilkan dengan memadukan berbagai pertimbangan sosial dan lingkungan dalam strategi bisnis. Kemajuan upaya ini digambarkan dari survey yang dilakukan Booth-Harris Trus Monitor yang menunjukkan mayoritas konsumen akan meninggalkan suatu produk yang mempunyai citra buruk atau diberitakan
Profit (keuntungan Planet (Keberlanjutan Lingkung an Hidup) People (Kssejahte raan Manusia/Ma
Hamann dan Acutt dalam artikel "How Should Civil Society (and The Government) Respond to "Corporate Social Responsibility1 ?", menelaah ada dua motivasi utama yang mendasari kalangan bisnis menerima konsep CSR. Pertama, akomodasi, yaitu kebijakan bisnis yang hanya bersifat kosmetik, superficial, dan parsial. CSR dilakukan untuk memberi citra sebagai korporasi yang tanggap terhadap kepentingan sosial. Singkatnya, realisasi CSR yang bersifat akomodatif tidak melibatkan perubahan mendasar dalam kebijakan bisnis korporasi sesungguhnya. Kedua, legitimasi yaitu motivasi yang bertujuan untuk mempengaruhi wacana. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa motivasi ini berargumentasi wacana CSR mampu memenuhi fungsi utama yang memberikan keabsahan pada sistem kapitalis dan lebih khusus kiprah para korporasi raksasa. Telaah Hamann dan Acutt sangat relevan dengan situasi implementasi CSR di Indonesia dewasa ini. Khususnya dalam kondisi keragaman pengertian konsep dan penjabarannya dalam program-program berkenaan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Keragaman pengertian konsep CSR adalah akibat logis dari sifat pelaksanaannya yang berdasarkan prinsip kesukarelaan. Tidak ada konsep baku yang dapat dianggap sebagai acuan pokok baik di tingkat global maupun lokal.
Secara internasional saat ini tercatat sejumlah inisiatif code of conduct implementasi CSR. Inisiatif itu diusulkan, baik oleh organisasi internasional independen (Sullivan Principles, Global Reporting Initiative), organisasi negara (Organization for Economic Cooperation and Development), juga organisasi non-pemerintah (Caux Roundtables), dan Iain-Iain. Sedangkan di Indonesia, belum terdapat acuan yang legal. Bahkan peraturan tentang pembangunan komunitas (community development/CD) saat ini masih dalam bentuk draft yang diajukan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Selain gambaran itu, tampak pula kecenderungan pelaksanaan CSR di Indonesia yang sangat tergantung pada chief executive officer (CEO) korporasi. Artinya, kebijakan CSR tidak otomatis selaras dengan visi dan misi korporasi. Jika CEO memiliki kesadaran moral bisnis berwajah manusiawi, besar kemungkinan korporasi tersebut menerapkan kebijakan CSR yang layak. Sebaliknya, jika orientasi CEO-nya hanya pada kepentingan kepuasan pemegang saham (produktivitas tinggi, profit besar, nilai saham tinggi) serta pencapaian prestasi pribadi, boleh jadi kebijakan CSR sekadar kosmetik. Sifat CSR yang sukarela, absennya produk hukum yang menunjang dan lemahnya penegakan hukum telah menjadikan Indonesia sebagai negara ideal bagi korporasi yang memang memperlakukan CSR sebagai kosmetik.
Bagaimanapun, pelaksanaan CSR sebagai upaya perusahaan memaksimalkan tingkat pengembalian investasi melalui sejumlah kegiatan dan inisiatif sosial yang berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungannya harus disambut baik. Hal ini dapat dijadikan tujuan akhir bahwa pelaksanaan CSR adalah menempatkan entitas bisnis dalam upaya pembangunan berkelanjutan. Karena itu, tanggung jawab sosial itu seharusnya menginternalisasi pada semua bagian kerja pada suatu pekerjaan. Dengan demikian, CSR itu seharusnya merupakan keputusan strategis perusahaan sejak awal dari mendesain produkyang ramah lingkungan, hingga pemasaran, dan pengoianan limbah. Dan secara eksternal CSR juga memastikan jangan sampai perusahaan justru mengurangi kesejahteraan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Artinya, tanggung jawab sosiai perusahaan (CSR) itu perlu diupayakan di lingkungan internal dan eksternal. Pada lingkungan internal, perusahaan misalnya bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, memperhatikan kesejahteraan karyawan serta menjalankan manajemen yang beretika. Untuk pelaksanaan CSR pada lingkungan eksternal, berawa! dari filosofi, perusahaan mengolah sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM) pada hakekatnya adalah milik publik serta bertangung jawab memberi manfaat pada masyarakat.
Para pelaku bisnis membutuhkan dukungan dari lingkungannya. Oleh karena itu, sikap responsif terhadap kebutuhan iingkungan menjadi keharusan untuk dipenuhi dan dilaksanakan. Selain tuntutan yang tertera pada regulasi, tidak bisa diabaikan pula tuntutan iingkungan yang tidak secara langsung
disebutkan dalam peraturan publik. Keadaan ini, tergantung pada lingkungan karena dengan meluasnya tuntutan publik serta menguatnya kesadaran pelaku usaha untuk menjalankan CSR, antara lain tampak pada dibentuknyaWorld Business Council for Suistainable Development(WBCSD). Pada hakikatnya, musuh terbesar bagi lingkungan adalah kemiskinan. Oleh karena itu, jika pada suatu kawasan yang kaya sumber daya alam, beroperasi perusahaan internasional yang meraup keuntungan besar, tetapi masyarakat di lingkungan sekitarnya didera kemiskinan, menunjukkan ketidakadilan sosiai. Untuk menciptakan keadilan sosiai dibutuhkan kerja sama antara perusahaan, pemerintah, dan komunitas yang mencakup masyarakat dan organisasi non pemerintah. Persoalannya, di kawasan-kawasan kaya yang rakyatnya miskin, bisakah perusahaan, pemerintah, dan komunitas bekerja sama sebagai mitra yang dapat saiing mempercayai ?
Dari laporan penelitian terbaruJournal Compilation,digambarkan bahwa aktivitas CSR di Inggris dinilai jauh lebih maju dibandingkan kegiatan serupa di Amerika Serikat; karena kesadaran perusahaan-perusahaan di Inggris untuk melakukan CSR lebih terdorong karena kontrol aktif para pemangku kepentingan (karyawan, pimpinan manajemen, pemilik perusahaan, konsumen, pemerintah, lembaga non pemerintah, dan perguruan tinggi). Dalam konteks ini, para pemegang saham meyakini keunggulan kopetitif untuk berinvestasi pada perusahaan yang aktif menjalankan kegiatan CSR, sedangkan pimpinan manajemen terdorong oleh norma etika bisnis (Kompas, 1 September 2006).
Hingga saat ini memang masih belum terdapat cetak biru tentang Corporate Social Responsibility, namun ada beberapa hal umum yang biasanya terkait dengan tanggung jawab dari sebuah perusahaan yakni:
1. Board of Director mempunyai komitmen dan mendorong kegiatan Corporate Social Responsibility.
2. UU setempat dan peraturan perpajakan juga mendukungnya. Pendapat dariSfa/ce/7/?o/derharusdipertimbangkan.
3. Kegiatan ekonomi sosial dan kinerja lingkungan serta akibatnya diawasi dan di laporkan ke publik. Ada standar yang tinggi untuk pelatihan pekerja yang ditujukan untuk meningkatkan kewaspadaan adanya tanggung jawab perusahaan.
Di lain pihak, beberapa ahii juga berpendapat bahwa wilayah tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), ternyata tidak hanya sekedar pembinaan usaha kecil dan pengembangan masyarakat dan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) saja, namun lebih luas daripada itu. Pada intinya adalah terjalin keharmonisan komunikasi antara perusahaan dengan stakeholders. Perusahaan memiliki tiang-tiang tanggung jawab yang harus selalu dijaga agar tetap tegak sehingga bisa menopang keberadaan perusahaan di masyarakat. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mempunyai tanggung jawab ekonomis dan legal saja. Namun juga bagaimana mewujudkan tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Dalam seminar sehari bertema Peningkatan Citra Perusahaan melalui Program CSR, 1 Juni 2004 di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, mengemuka paradigma tentang CSR dan sisi-sisi tanggung jawab perusahaan terhadapstakeholders.
Dari hasil seminar tersebut mengemuka rumusan bahwa perusahaan tidak hanya mempunyai tanggung jawab ekonomis dan legal saja. Perusahaan dipandang belum cukup sukses apabila hanya mengutamakan perolehan profit dan mampu memenuhi kewajiban-kewajiban yang bersifat legal, seperti membayar pajak, persyaratan Amdal, kemasyarakatan, dan Iain-Iain. Dalam hal ini, Chrysanti Hasibuan Sedyono, misalnya menyodorkan penjelasan Model Empat Sisi CSR, yaitu adanya empat tanggung jawab perusahaan yang bersifat ekonomis, legal, ethical, dan discreationary. Selain kewajiban ekonomis dan legal, juga ada kewajiban-kewajiban lain terhadap stakeholders di luar
pemegang saham, yang jangkauannya melebihi kewajiban-kewajiban bersifat ekonomis dan legal. Dalam tanggung jawab etis, perusahaan harus memenuhi kaidah-kaidah normatif. Seperti berlakufair, transparan, tidak membeda-bedakan ras dan gender, dan tidak korupsi. Dalam wilayah tanggung jawab selanjutnya bersifatdiscretionary,yaitu tanggung jawab yang sebetulnya tidak harus dilakukan alias tidak wajib, tetapi dilakukan atas kemauan sendiri.
Sebagai tindak lanjutnya - tahun 2004 - Pertamina berkomitmen menyalurkan dana untuk PKBL sebesar Rp 500 miliar!. Walaupun penyaluran dana ini harus melalui prosedur dan aturan seperti tertuang di dalam Kepmen BUMN No. Kep-236/MBU/2003. Kepmen ini yang menaungi program PKBL di seluruh BUMN. Dana dari program kemitraan disalurkan dalam bentuk pinjaman untuk membiayai modal kerje para pengusaha kecil. PK (program kemitraan) juga mengalokasikan dana untuk membiayai pendidikan, pelatihan, pemagangan, pemasaran, promosi, dan hal-hai lain yang menyangkut peningkatan produktivitas mitra binaan. Juga pengkajian dan penelitian. Status bantuan ini hibah. Sementara untuk program bina lingkungan (BL) sendiri digunakan untuk tujuan yang memberikan manfaat kepada masyarakat di wilayah usaha BUMN. Alokasinya adalah untuk korban bencana alam, pendidikan dan pelatihan, peningkatan kesehatan, pengembangan prasarana dan sarana umum, serta sarana ibadah.
Karena tanggung jawab sosial perusahaan itu tidak sekedar PKBL, maka misalnya ada tanggung jawab agar perusahaanfurniturememperhatikanecolabeiing,agar tanggung jawab perusahaan tidak semena-mena terlibat dalam pembabatan hutan. Sampai-sampai ada sebuah perusahaan sepatu yang dikritik habis-habisan oleh LSM dunia hanya karena memperlakukan karyawannya secara tidak baik. Sehingga LSM tersebut menganjurkan untuk memboikot produk sepatu perusahaan tersebut.
Dari uraian di atas, komitmen Pertamina dalam urusan ini, patut mendapatkan dukungan profesionalisme dan implementasi CSR yang sesuai paradigma dan kaidah-kaidah yang tepat. Bagaimanapun, tentu tak mudah melakukan ini semua tanpa suatu kerja keras dan ketuiusan semua pihak secara sinergis dan terpadu di dalam perusahaan. Sesuai program PKBL, sebagai salah satu bagian dari kegiatan CSR harus di-push dan digerakkan lebih cepat. Dengan demikian, perlu adanya komunikasi antara Pusat dengan daerah. "Dengar, pasang telinga" apa yang mereka inginkan agar pelaksanaan PKBL ini sesuai sesuai dengan yang diharapkan dan sesuai dengan keinginan masyarakat di daerah. Karena dengan memperhatikancorporate community relationship,membangun hubungan yang manis dan harmonis dengan masyarakat - diharapkan CSR yang lebih efektif