KERANGKA HUKUM HAK MASYARAKAT ADAT DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA HUTAN
B. Hak Masyarakat Asli Dalam Konvensi Internasional
2. Covenan Internasional 1966 Memperluas Perlindungan Hak Masyarakat
Kovenan Internasional Tahun 1966 yang memperluas perlindungan hak hak masyarakat mengharuskan negara-negara untuk mengambil tindakan positif untuk melindungi individu-individu dari diskriminasi. Hal tersebut, seperti telah dinyatakan oleh Alfredsson, “orang-orang yang merupakan bagian dari minoritas dan masyarakat asli akan memperoleh keuntungan dari kesetaran kenyamanan dan peraturan-peraturan yang non-diskriminatif41”.
Komite Hak Asasi Manusia telah memberi pernyataan bahwa prinsip non-diskriminatif di Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik membutuhkan partisipasi negara untuk tidak hanya mengambil tindakan perlindungan, tapi juga affirmative action dalam upaya untuk menjamin kenyamanan positif dari persamaan hak. Affirmative action mengharuskan negara-negara untuk membuat perbedaan perlakuan, meski demikian, sewaktu Komite Hak Asasi Manusia mengamati, “tidak semua perbedaan perlakuan akan mengakibatkan diskriminasi, jika kriteria untuk perbedaan tersebut beralasan dan jika tujuannya adalah untuk mencapai sebuah tujuan yang sah42”
Haruslah diperhatikan bahwa prinsip non-diskriminasi yang diberikan pada instrumen-instrumen di atas berlaku untuk keuntungan individual terhadap hak-hak yang dimaksud. Adalah jelas dari perkataan dari instrumen tersebut: “setiap orang….” Atau “semua orang….” Dapat dimengerti,
40 Ragna Adalsteinsson, and Pall Thorhallson, “Article 27”, in Gudmundur Alfredsson and Asbjorn Eide (eds.), The Universal Declaration of human Rights: A Common Standard of
Achievement, 1999.
41 Alfredsson, Gudmundur, “Group Rights, Prefential Treatment and The Rule Law, “ Paper Presented to The Law & Society Trust Consultation on Group & Minority Rights, 1995, hlm.5.
42 Komite Hak Asasi Manusia, General Comment 18: Non-Discrimination, 10/11/89, hlm.10-13.
karena hampir semua hak-hak yang dimajukan oleh instrumen-instrumen tersebut adalah hak-hak individu. Bagaimanapun, melihat dari perlindungan masyarakat asli sebagai kelompok, standar-standar persamaan perlakuan dan non-diskriminatif di atas gagal.
Sedangkan dalam dua kovenan dimana tidak terdapat peraturan pada hak atas properti, hak dilindungi dengan instrumen-instrumen non-diskriminasi. Dalam Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik itu sendiri, hak atas properti, seperti hak lainnya, secara “tidak langsung” dilindungi dalam pasal 26. “sebagai suatu ketentuan non-diskriminasi yang berdiri sendiri, ketentuan ini memberikan perlindungan dari diskriminasi dalam menikmati seluruh hak-hak, termasuk hak atas properti, meskipun hak atas properti tidak diketahui sebagai hak spesifik dalam konvensi tersebut43. Konvensi Internasional Ras dan Non-Diskriminasi seperti halnya konvensi dalam menghilangkan semua bentuk diskriminasi terhadap wanita, juga melindungi hak atas properti dari perlakuan diskriminasi dan segala bentuk yang serupa. Jadi, pasal 5 menjamin hak-hak setiap orang atas persamaan hukum tanpa membedakan ras, warna kulit atau bangsa atau asal suku, termasuk fasilitas atas “hak untuk memiliki sendiri properti seperti layaknya memiliki property bersama-sama”, dan “hak untuk mewarisi44”.
Komite Hak Asasi Manusia, pada komentar umumnya Pasal 27 Konvensi Internasional Hak sipil dan Politik, mengamati pentingnya hubungan masyarakat asli, dan merupakan hak mereka untuk itu, dengan tanah dan sumberdaya alam, dalam manifestasi dan pelaksanaan hak-hak budaya mereka45. Bagaimanapun, program-program yang berkaitan dengan sumberdaya alam dalam banyak kasus telah merusak budaya masyarakat asli. Relokasi akibat penggunaan tanah mereka, telah mencabut mereka dari setting budaya mereka. Industri minyak, tambang dan penebangan hutan telah menghancurkan budaya mereka dan mengorbankan budaya dan kesucian tempat mereka dan menurunkan kualitas lingkungan mereka.
Pasal 27 dari Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik menjaga hak atas budaya dengan rujukan khusus terhadap minoritas. Pasal ini menyebutkan “[D]i negara-negara yang memiliki etnis, agama atau
bahasa minoritas, individu yang masuk dalam minoritas tersebut tidak boleh diingkari haknya, pada komunitas dengan anggota lain dalam kelompok mereka, untuk menikmati budaya mereka, untuk menyatakan dan mempraktekkan agama mereka, atau menggunakan bahasa mereka sendiri.” Adalah penting untuk memperhatikan bahwa selama masyarakat
asli “jumlahnya kurang dari setengah dari populasi negara, mereka
43 Ibid.,hlm. 372
44 Pasal 5(d) Konvensi ILO No.169
45 Human Rights Committee, General Comment 23L Ther Rights of Minorities (Article 27): 08/04/94.
dapat memberikan menggunakan hak minoritas jika mereka mau, seperti dibuktikan oleh kerangka hukum Komite Hak Asasi Manusia dibawah pasal 27.46” Bagaimanapun, “hak fungsi minoritas sebagai standar minimum yang diperlukan dalam perlakuan kelompok-kelompok masyarakat asli. Sebuah lingkungan internasional yang lebih ekspansif, lebih berfungsi terhadap keuntungan masyarakat asli haruslah dicapai.47”
Pasal 27 dibentuk dalam cara yang negatif seperti kemerdekaan dari interfensi tidak boleh disangkal, bahwa tindakan positif oleh negara juga diperlukan untuk melindungi identitas sebuah minoritas dan hak-hak dari anggotanya48.
Pasal 27 Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik, menunjukkan dirinya dalam berbagai bentuk, termasuk jalan hidup tersendiri yang diasosiasikan dengan penggunaan sumberdaya tanah. Sehingga hak atas kebudayaan mungkin memasukkan aktivitas tradisional seperti menangkap ikan, berburu, pertanian dan hak untuk hidup di alam49.
Hak untuk tidak di-diskriminasi berhubungan dengan persamaan hak di hadapan hukum. Sebagai konsep fundamental pada hak asasi manusia, kedua prinsip ini telah dijamin dalam beberapa instrumen, seperti Universal
Declaration of Human Rights (Pasal 2 dan 7), Kovenan Internasional tentang
Hak-Hak Sipil dan Politik (Pasal 2 dan 7), Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Pasal 2 ayat (2) dan (3) dan Pasal 3) dan Konvensi tentang Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Ras.”
Komite Hak Asasi Manusia telah memberi pernyataan bahwa prinsip non-diskriminatif di Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik membutuhkan partisipasi negara untuk tidak hanya mengambil tindakan perlindungan, tapi juga affirmative action dalam upaya untuk menjamin kenyamanan positif dari persamaan hak. Affirmative action mengharuskan negara-negara untuk membuat perbedaan perlakuan, meski demikian, sewaktu Komite Hak Asasi Manusia mengamati, “tidak semua perbedaan perlakuan akan mengakibatkan diskriminasi, jika kriteria untuk perbedaan tersebut beralasan dan jika tujuannya adalah untuk mencapai sebuah tujuan yang sah50
“Haruslah diperhatikan bahwa prinsip non-diskriminasi yang diberikan pada instrumen-instrumen di atas berlaku untuk keuntungan individual terhadap hak-hak yang dimaksud. Adalah jelas dari perkataan dari instrumen
46 Gudmundur Alfredsson, “Indigeneous Peoples and Autonomy”, in Suksi, M (ed.),
Autonomy: Application and Implications, 1998, hlm.126.
47 Thornberry, dalam Enny Soeprapto, Instrumen Hukum Internasional Mengenai Hak Minoritas dan Masyarakat Hukum Adat, (Jakarta: Komnas HAM, 2005), hlm. 13
48 Human Rights Committee, dalam Ibid., hlm. 15.
49 Kitok v. Sweden (Communication No. 197/1985) dan Bernard Ominayak, Chief of the Lubicon Lake Band v. Canada (Communication No. 167/1984).
50 Komite Hak Asasi Manusia, General Comment 18: Non-Discrimination, 10/11/89, hlm.10-13.
tersebut: “setiap orang….” Atau “semua orang….” Dapat dimengerti, karena hampir semua hak-hak yang dimajukan oleh instrumen-instrumen tersebut adalah hak-hak individu. Bagaimanapun, melihat dari perlindungan masyarakat asli sebagai kelompok, standar-standar persamaan perlakuan dan non-diskriminatif di atas gagal.”
Sedangkan dalam dua kovenan dimana tidak terdapat peraturan pada hak atas properti, hak dilindungi dengan instrumen-instrumen non-diskriminasi. Dalam Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik itu sendiri, hak atas properti, seperti hak lainnya, secara “tidak langsung” dilindungi dalam pasal 26. “sebagai suatu ketentuan non-diskriminasi yang berdiri sendiri, ketentuan ini memberikan perlindungan dari diskriminasi dalam menikmati seluruh hak-hak, termasuk hak atas properti, meskipun hak atas properti tidak diketahui sebagai hak spesifik dalam Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik51. Konvensi Penghapusan Diskriminasi Ras seperti halnya konvensi dalam menghilangkan semua bentuk diskriminasi terhadap wanita, juga melindungi hak atas properti dari perlakuan diskriminasi dan segala bentuk yang serupa. Jadi, pasal 5 dari Konvensi Penghapusan Diskriminasi Ras menjamin hak-hak setiap orang atas persamaan hukum tanpa membedakan ras, warna kulit atau bangsa atau asal suku, termasuk fasilitas atas “hak untuk memiliki sendiri properti seperti layaknya memiliki property bersama-sama”, dan “hak untuk mewarisi52”.
Komite Hak Asasi Manusia, pada komentar umumnya Pasal 27 Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik, mengamati pentingnya hubungan masyarakat asli, dan merupakan hak mereka untuk itu, dengan tanah dan sumberdaya alam, dalam manifestasi dan pelaksanaan hak-hak budaya mereka53. Bagaimanapun, program-program yang berkaitan dengan sumberdaya alam dalam banyak kasus telah merusak budaya masyarakat asli. Relokasi akibat penggunaan tanah mereka, telah mencabut mereka dari setting budaya mereka. Industri minyak, tambang dan penebangan hutan telah menghancurkan budaya mereka dan mengorbankan budaya dan kesucian tempat mereka dan menurunkan kualitas lingkungan mereka.
Pasal 27 Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik menjaga hak atas budaya dengan rujukan khusus terhadap minoritas. Pasal ini menyebutkan “Di negara-negara yang memiliki etnis, agama atau bahasa minoritas, individu yang masuk dalam minoritas tersebut tidak boleh diingkari haknya, pada komunitas dengan anggota lain dalam kelompok mereka, untuk menikmati budaya mereka, untuk menyatakan dan mempraktekkan agama mereka, atau menggunakan bahasa mereka sendiri.”
51 Ibid.,hlm. 372
52 Pasal 5(d) Konvensi ILO No.169
53 Human Rights Committee, General Comment 23L Ther Rights of Minorities (Article 27): 08/04/94.
Memperhatikan bahwa selama masyarakat asli “jumlahnya kurang dari setengah dari populasi negara, mereka dapat memberikan menggunakan hak minoritas jika mereka mau, seperti dibuktikan oleh kerangka hukum Komite Hak Asasi Manusia dibawah pasal 27 Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik.54” Bagaimanapun, “hak fungsi minoritas sebagai standar minimum yang diperlukan dalam perlakuan kelompok-kelompok masyarakat asli. Sebuah lingkungan internasional yang lebih ekspansif, lebih berfungsi terhadap keuntungan masyarakat asli haruslah dicapai55”.
Pasal 27 dibentuk dalam cara yang negatif seperti kemerdekaan dari interfensi tidak boleh disangkal, bahwa tindakan positif oleh negara juga diperlukan untuk melindungi identitas sebuah minoritas dan hak-hak dari anggotanya56.
Pasal 27 Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik, menunjukkan dirinya dalam berbagai bentuk, termasuk jalan hidup tersendiri yang diasosiasikan dengan penggunaan sumberdaya tanah. Sehingga hak atas kebudayaan mungkin memasukkan aktivitas tradisional seperti menangkap ikan, berburu, pertanian dan hak untuk hidup di alam57.
3. Konvensi ILO 1989 Mengatur Perlindungan Masyarakat Asli dan Suku