KONFLIK DI TANGKAHAN
C. Konflik Yang Terjadi Di Tangkahan
2. Macam Konflik di Tangkahan
Konflik merupakan suatu perbedaan cara pandang. Bentuk konflik bisa berupa keluhan saja sampai pada tingkat kekerasan dan perang. Walker
22 Wawancara dengan Wak Yun, Tokoh Masyarakat Tangkahan yang pernah menjadi pemandu di Taman Nasional Bukit Lawang, di Tangkahan, pada tanggal 15 Februari 2006.
23 Wawancara dengan Taufik Ramadhan, mantan anggota Forsolima, sekarang aktif di LPT Tangkahan, pada acara Sheared Learning, di Tangkahan pada tanggal 14 Februari 2006.
dan Daniels mengupas dengan seksama berbagai definisi konflik yang memperlihatkan bahwa konflik ternyata merupakan suatu wacana yang dikonstruksikan secara sosial dan bisa dipandang dari berbagai sudut.24
Dalam penelitian ini konflik didefinisikan sebagai suatu perwujudan cara pandang antara berbagai pihak terhadap obyek yang sama. Titik berat dalam penelitian ini adalah konflik kehutanan yang telah muncul ke arena publik, terutama yang terjadi di kawasan Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser.
Konflik yang terjadi biasanya melibatkan beberapa pihak seperti perusahaan dan masyarakat, antara anggota masyarakat, antara perusahaan yang satu dengan yang lain dan juga antara masyarakat dengan pemerintah. Dalam penelitian ini konflik-konflik yang terjadi di kawasan konservasi sangat beragam. Di kawasan tersebut, ditelusuri dan dianalisa konflik apa saja yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan terjadinya, apa faktor penyebabnya, dan bagaimana tingkat eskalasi dan penyelesaian yang pernah diupayakan. Konflik yang terjadi di kawasan Tangkahan melibatkan beberapa pihak.
Pertama, konflik antara masyarakat lokal dengan pihak Balai Taman
Nasional Gunung Leuser, Resort Tangkahan. Konflik antara kedua pihak tersebut sangat terlihat ketika masyarakat lokal sebagian mencoba untuk ikut melakukan praktek perambahan hutan. Bahkan secara individual mereka dijadikan alat bagi para cukong kayu dalam menghadapi pihak aparat Balai taman Nasional. Namun hal tersebut secara perlahan semakin berkurang, bahkan saat ini relatif tidak ada karena masyarakat sudah semakin sadar akan manfaat pentingnya konservasi di kawasan Tangkahan dan manfaat ekowisata di kawasan Tangkahan.
Kedua, konflik antara pengungsi asal Aceh dengan pihak Balai
Taman Nasional. Konflik ini bermula dengan pasca DOM di Aceh. Setelah peristiwa tersebut banyak sebagian warga yang tidak aman mencoba untuk bertahan hidup dengan menempati kawasan untuk tempat tinggal sementara. Di kawasan Tangkahan jumlah pengunsi asal Aceh memang relatif tidak banyak, sekitar 50-75 KK yang menyebar di kedua desa yaitu di Desa Namo Sialang sebanyak 45 KK dan 30 KK di Desa Sei Serdang. Saat ini jumlah pengungsi tersebut sudah 40 % direlokasi untuk dikembalikan ke daerah asal, dan sebagian juga kembali menempati lahan di kawasan Taman Nasional yang lain terutama di kawasan Sekoci dan Sei Lepan. Pada awal tahun 2000, akibat kondisi politik di daerah Aceh Utara dan Aceh Timur yang kurang kondusif, telah terjadi perpindahan penduduk (pengungsi) dari daerah tersebut ke wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kondisi ini diduga telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu, dengan dalih sedang memperjuangkan lahan Taman Nasional Gunung Leuser untuk menampung
24 Daniels, S.E and Warker, Working Throught Environmental Conflict: The Collaborative Learning Approach, (Westport: Praeger Publishers, 2001), hlm.3-5.
pengungsi asal Aceh tersebut dan kemudian melakukan pemungutan dana sebesar Rp. 500.000,- per pancang (per 2 hektar) sebagai kompensasi atas pengusahaan lahan.
Ketiga, konflik antara calo tanah, pembeli tanah, perambah hutan dengan
pihak Balai Taman Nasional Gunung Leuser. Konflik ini terjadi karena adanya perambahan dengan pola jual beli lahan di kawasan Tangkahan. Dimana lahan dari masyarakat biasanya dikuasai oleh masyarakat di luar kedua desa tersebut.
Para spekulan tanah (penjual lahan) di kawasan Tangkahan dan sekitarnya, berdasarkan jaringan organisasi dan sistem kerjanya dapat terbagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu :25
1. Spekulan Tanah Besar.
Kelompok spekulan tanah besar ini memiliki jaringan organisasi dan system kerja yang terkoordinir secara rapi. Memiliki anggota sindikat jual beli lahan dari mulai buruh (massa pekerja lapangan), mandor (pengaman lapangan), ketua kelompok (coordinator lapangan), kontak person (penghubung/ pemasar lahan), backing/pelindung (pengatur kebijakan) dan pemodal kuat (perorangan s/d skala perusahaan).
2. Spekulan Tanah Kecil.
Kelompok spekulan tanah kecil ini melakukan aksi pengkaplingan dan penjualan lahan (TNGL) dengan bekerja secara sendiri-sendiri dan tidak memiliki jaringan kerja secara rapi. Bekerja secara insidentil dengan memanfaatkan ruang–ruang lahan (TNGL) yang berada di dalam dan/ di luar wilayah penguasaan (teritorial) kelompok spekulan tanah besar. Dalam proses jual beli lahan (TNGL) di kawasan Tangkahan dan sekitarnya, juga melibatkan kelompok pembeli. Berdasarkan skala luas pembelian lahan, kelompok ini terbagi atas 2 (dua) kelompok, yaitu :26
1. Pembeli Skala Besar
Kategori pembeli skala besar adalah berdasarkan luasan lahan (TNGL) yang dibeli dan diusahai, yaitu berkisar antara 10 s/d 100 hektar. Kelompok ini berasal dari 3 wilayah yaitu Binjai, Stabat dan Medan. Kelompok ini melakukan pembelian lahan (TNGL) melalui kelompok spekulan tanah besar.
2. Pembeli Skala Kecil
Kategori pembeli skala kecil adalah berdasarkan skala luasan lahan (TNGL) yang dibeli dan diusahai berkisar antara 2 s/d 10 hektar. Kelompok ini berasal dari beberapa wilayah Kecamatan di Kabupaten
25 Wiratno, “Penanganan Konflik di Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser,” Buletin Jejak Leuser, (Volume 6, 2006), hlm.12-14.
Langkat dan ada juga yang berasal dari Medan. Kelompok ini melakukan pembelian lahan (TNGL) melalui kelompok spekulan besar dan ada juga yang melalui kelompok spekulan tanah kecil.
Keempat, konflik antara PT. Perkebunan Nusantara II dengan Balai
taman Nasional Gunung Leuser. Konflik ini terjadi antara PT. Perkebunan Nusantara II yang terletak di kawasan Tangkahan. Tumpang tindih lahan perkebunan di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser khususnya wilayah Tangkahan oleh perusahaan perkebunan sebagaimana tersebut di atas, diperkirakan telah terjadi sejak tahun 1984 s/d 1990. Hal ini berdasarkan perkiraan umur tanaman Kelapa Sawit yang saat ini telah mencapai usia ± 15 s/d 21 tahun. Operasi pengamanan hutan gabungan bersama Tim Koordinasi Pengamanan Hutan I Wilayah Sumatera Utara, melakukan pemusnahan/penumbangan tanaman Kelapa yang berada di dalam Taman Nasional Gunung Leuser Kawasan Besitang. Namun tidak sampai tuntas, karena perusahaan mengajukan keberatan dan melakukan penuntutan hukum kepada Balai Taman Nasional Gunung Leuser melalui proses peradilan di Pengadilan Negeri Stabat.
Perbedaan penafsiran tapal batas Taman Nasional Gunung Leuser. Perbedaan letak pal batas Taman Nasional Gunung Leuser di kawasan Tangkahan atas hasil Orientasi Batas sepanjang yang dilaksanakan pada tahun 2003 dengan hasil rekontruksi batas yang dilaksanakan tahun 1992/1993 pada lokasi yang sama dan dilaksanakan oleh Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan. Hasil orientasi batas kawasan yang dilaksanakan pada tahun 2003, mengembalikan letak pal batas kawasan yang sesuai dengan hasil tata batas perubahan fungsi kawasan Tangkahan menjadi Taman Nasional Gunung Leuser di Kabupaten Langkat.27
Apabila dilihat dari jenis konflik yang pernah terjadi, khusus mengenai pengelolaan kawasan ekowisata Tangkahan, peta konflik dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok.
Pertama, konflik yang terkait dengan masalah kebijakan. Konflik kebijakan ini antara lain terjadi antara Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) dengan Pemerintah Daerah Langkat mengenai kontribusi LPT pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta peran Pemerintah Daerah dalam mengembangkan pariwisata Tangkahan. Pada sisi Pemda, LPT dianggap tidak berkoordinasi dalam melakukan kegiatannya. Namun demikian dimata LPT, Pemda tidak pernah serius dalam mendorong masyarakat dalam kegiatan wisata di Tangkahan. Mereka menganggap Pemda masih terlalu fokus pada ekowisata di Bukit Lawang. Hal dapat dibuktikan ketidakseriusan Pemda dalam
27 Balai Taman Nasional Gunung Leuser, “Rehabilitasi Tapal batas Kawasan taman Nasional Gunung Leuser,”Siaran Pers, Kantor Balai taman Nasional Perwakilan Medan, 31 Januari 2006.
memberikan papan nama petunjuk menuju kawasan ekowisata Tangkahan yang hanya terdiri 3 buah, anggota LPT dan masyarakat menilai hal tersebut tidak sebanding dengan permintaan Pemda untuk mendapatkan hasil dari retribusi tiket dan parkir.
Kedua, konflik yang terkait dengan pengelolaan aset. Konflik pada
wilayah ini sangat ditentukan oleh kejelasan status, hak dan tanggungjawab salah satu pihak atas sebuah sumberdaya aset yang dikelola. Contoh lihat adalah saat ranger menginginkan pengelolaan aset camping ground yang selama ini dikuasai oleh LPT. Contoh konflik tertutup lainnya adalah soal ketidakjelasan hak menikmati atraksi wisata antara anggota LPT dengan mereka yang bukan LPT, atau warga desa Namo Sialang dan desa Sei Serdang dengan warga desa lainnya. Kasus mengenai hal ini sempat terungkap ketika terjadi perdebatan antara penjaga tiket dengan seorang pengunjung dari desa Sei Serdang yang hanya membayar tiket separoh harga. Menrutnya, ada informasi bahwa warga dua desa ini diperkenankan membayar tiket masuk Rp. 1000,- dari harga resmi Rp. 2000,-.
Ketiga, konflik yang berkaitan dengan kelembagaan LPT. Konflik
dalam kelembagaan LPT bisa saja bersifat tertutup (latent) maupun terbuka (manifest). Struktur organisasi, gaya kepemimpinan dan pola pengambilan keputusan merupakan faktor-faktor yang menentukan konflik terjadi. Dalam LPT, konflik bisa melibatkan antara individu, antar kelompok maupun antar kelompok lain dengan individu. Pemicu konflik bisa saja bersifat personal, namun menjadi naik ke permukaan karena menemukan media yang sesuai untuk dimanfaatkan. Konflik berkaitan dengan program lembaga lain, seperti lembaga Indecon, TNGL, FFI, serta Pemda Langkat adalah merupakan lembaga-lembaga yang memiliki kepentingan atas wisata Tangkahan. Friksi yang terjadi antara masyarakat atau LPT dengan lembaga-lembaga tersebut sejauh ini masih bersifat tertutup. Meskipun ada konflik yang bersifat terbuka, biasanya lebih disebabkan oleh kesalahpamahan, perbedaan persepsi, serta komunikasi yang kurang baik di tingkat pelaksanaan program. Selama ini konflik-konflik tersebut masih dapat dikelola lewat komunikasi dan musyawarah.
Sedangkan apabila dilihat dari kurun waktu sebelum dan sesudah pembentukan LPT Tangkahan, maka konflik dapat dikelompokkan dalam dua kelompok. Pertama, konflik yang terjadi pada pra pembentukan LPT. Konflik ini dapat bersifat terbuka dan tertutup. Konflik yang bersifat terbuka antara lain adalah konflik antara warga yang terlibat penebangan liar dengan pelaku wisata yang pada saat itu masih belum terkoordinasi dengan baik. Konflik terbuka lainnya adalah mengenai masalah pengelolaan lahan perparkiran yaitu antara warga desa dengan Organisasi Kelompok Perparkiran (OKP) dari warga desa lainnya. Disamping itu mengenai masalah perparkiran juga