• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sesudah Indonesia Raya

4.2. Crescendo Lagu-lagu Perjuangan

Sepeninggal W.R. Soepratman di tahun 1938, hampir tidak muncul lagu perjuangan yang baru. Tetapi pada masa pendudukan Jepang mulai hadir

generasi pemusik baru. Di Jawa generasi berikutnya ialah Ismail Marzuki, Kusbini, Bintang Sudibyo, R. Soenarjo, H. Mutahar, R.A.J. Soedjasmin dan lain-lain. Beberapa waktu kemudian muncul pula para pemusik asal Tapan-uli dengan latar belakang pengetahuan dan praktisi musik klasik barat yang cukup andal. Para pemusiknya ialah Cornel Simandjuntak, Amir Pas-aribu, J.A. Dungga, Liberty Manik, Binsar Sitompul dan W. Lumban Tobing.

Awalnya mereka, bersama sejumlah seniman bidang lainnya bergabung dalam Badan Pusat Kesenian Indonesia (BPKI) yang diresmikan pada 6 Ok-tober 1942. Organisasi ini terdiri atas anggota pengurus, antara lain Sanoe-si Pane (Ketua), Mr. Soemanang (Sekretaris), Winarno, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, Kusbini, Bintang Sudibyo, Kamajaya, S. Sudjono, Basuki Abdullah, Dr. Poerbatjaraka, Mr. Djoko Sutomo (Ketua Perhimpunan Ke-senian Jawa “Anggono Raras”), Ki Hadjar Dewantara, Mr. Achmad Subar-djo, Soetardjo Kartohadikoesoemo, K.H. Mas Mansur, dan seorang bangsa Jepang Ichiki, yang masing-masing sebagai anggota dan badan pengawas.

Tetapi kemudian badan ini dilebur menjadi Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) milik pemerintah Jepang. Maksudnya, lembaga itu dapat mengawasi dan menguasai organisasi itu dengan fasilitas subsidi dari pe-merintah Jepang. Melalui organisasi inilah, para seniman Indonesia terli-bat langsung membuat lagu-lagu propaganda Asia Timur Raya. Para seni-man ditugasi mengadakan konser keliling di seluruh tanah air menghibur penduduk sambil menyebarluaskan propaganda Jepang-Indonesia demi suksesnya Negara Kesatuan Asia Timur Raya.26

Karenanya tidak mengherankan jika, Cornel Simandjuntak, salah seorang komponis pejuang, mencipta lagu atas dasar pesanan Jepang. Ketika Je-pang membentuk pasukan kuli yang dinamakan romusha – “remuk rusak,”

kata orang-orang desa ketika itu – yang dikirim ke belakang garis depan perang di Pasifik dan Asia Tenggara, sejalan dengan itu Cornel menggubah Bekerja, Ke Pabrik dan Ayunkan Palu Bikin Kapal. Sementara, untuk pasukan cadangan, Jepang membentuk pasukan Peta (Pembela Tanah Air), dan oleh Cornel digubahnya lagu Mars Pasukan Sukarela.27 Tetapi di tengah situasi se-perti itu seniman Cornel Simandjuntak dan Kusbini berhasil menyusupkan lagu-lagu patriotisme dan nasionalisme yang lembut seperti Citra dan Padi

26 Wisnu Mintargo. “Lagu Propaganda dalam Revolusi Indonesia: 1945-49” dimuat dalam situs web https://media.neliti.com/media/publications/11749-ID-lagu-propaganda-da-lam-revolusi-indonesia-1945-1949.pdf

27 Hersri Setiawan. “Cornel Simanjuntak Cahaya, Datanglah!”, dimuat dalam situs web https://indoprogress.com/2014/06/cornel-simandjuntak-cahaya-datanglah/

Menguning.28 Sementara seniman Alfred Simanjuntak oleh karena menulis lagu Bangun Pemudi Pemuda sempat masuk dalam daftar hitam untuk dibu-nuh oleh tentara Jepang.

Sesudah kemerdekaan ada banyak lagu perjuangan yang tercipta. Setelah Indonesia Raya, terdapat Bagimu Neg’ri ciptaan Kusbini, Maju Tak Gentar, dan Sorak-sorak Bergembira ciptaan Cornel Simandjuntak, Bangun Pemudi Pemuda ciptaan Alfred Simanjuntak dan sebagainya. Salah satu lagu per-juangan yang cukup kontroversial adalah lagu berjudul Darah Rakyat yang konon diciptakan oleh seorang pejuang bernama Legiman Harjono pada bulan September 1945. Seperti dicatat Soe Hoek Gie dalam bukunya, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Pada 19 September 1945, saat rapat raksasa di Lapangan Ikada, Jakarta, lagu Darah Rakyat dituliskan di selebaran dan dibagi-bagikan ke ratusan ribu massa.

Lagu Darah Rakyat dinyanyikan oleh ratusan ribu massa yang mengikuti rapat raksasa di Lapangan Ikada, di samping lagu Indonesia Raya, Maju Tak Gentar, dan Bagimu Negeri. Liriknya adalah sebagai berikut:

Darah Rakyat masih berjalan/ Menderita sakit dan miskin Pada datangnya pembalasan/ Rakyat yang menjadi hakim (2x) Hayo, hayo bergerak sekarang / Kemerdekaan ‘tlah datang Merah warna panji kita / Merah warna darah rakyat (2x) Kami bersumpah pada rakyat/ Kemiskinan pasti hilang Kaum kerja akan memerintah / Dunia Baru Pasti Datang (2x) Hayo, hayo bergerak sekarang / Kemerdekaan ‘tlah datang Merah warna panji Kita / Merah warna darah rakyat (2x)

Lagu ini populer hingga keluar Jawa. Seperti diceritakan oleh Amiruddin Noer dalam bukunya, Putri Melayu: Kisah Cinta dan Perjuangan Seorang Ga-dis Melayu di Tengah Kecamuk Pembantaian, lagu Darah Rakyat juga populer di Sumatra, tepatnya di daerah Sumatra Utara. Lagu ini dinyanyikan oleh pemuda revolusioner, laskar rakyat, dan gerakan buruh. Hampir di semua truk yang mengangkut pejuang menuju medan perang bergema lagu ini.

28 Hersri Setiawan. Memoar Pulau Buru hal 218.

Namun, seiring dengan meletusnya banyak revolusi sosial di daerah, ter-masuk peristiwa tiga daerah (revolusi sosial yang bergolak di tiga daerah, yaitu Brebes, Pemalang, dan Tegal), revolusi sosial di Solo, revolusi sosial di Sumatra Timur, lagu Darah Rakyat yang menimbulkan akibat kekerasan dan anarki, pelan-pelan mulai dilarang.29

Pada periode 1950-1960an generasi komponis baru muncul. Salah satu yang mengemuka adalah Subronto Atmodjo. Dibesarkan dari lingkungan yang dekat dengan musik gamelan, Subronto menimba teori musik awal-nya bukan dari sekolah musik, melainkan dari membaca artikel teori musik Amir Pasaribu di majalah-majalah Zenith, Horison, dan sebagainya. Selain itu Subronto bergaul akrab dengan tokoh-tokoh musik pada waktu itu, tanpa melewatkan kesempatan untuk berguru dan menimba ilmu penge-tahuan musik dari beliau-beliau. Tokoh-tokoh musik tahun 1952-54 antara lain Amir Pasaribu, Sutisna, R.A.J. Sudjasmin, Sudharnoto, Mochtar Embut.

Salah seorang dari mereka itu serta-merta memberinya nama ”Subakat”, karena dalam pandangannya Subronto memang berbakat musik sangat tinggi. Dalam menggubah lagu ia berprinsip, bertauladan kepada Cornel Simandjuntak, bahwa musik atau nada-nada mengabdi pada lirik atau

29 “Sekilas Sejarah Lagu Darah Rakyat”, diambil dari situs web http://www.berdikarion-line.com/sekilas-sejarah-lagu-darah-rakyat/

Rakyat memobilisasi diri untuk rapat raksasa di Lapangan Ikada

kata-katanya, maka tekanan kata harus dinyatakan juga dalam tekanan musik. Kalau menjumpai suatu sajak/syair/puisi yang dinilainya kuat untuk dibikin musik, dia mengatakannya dengan ”puisi ini menyanyi”.

Menurut komponis Alfred Simanjuntak, Subronto adalah komponis yang tak bisa diajak kompromi terhadap ciptaannya. Misalnya, pada 1962 se-buah grup paduan suara dalam membawakan ciptaan Subronto mengubah sebuah kata. Langsung ia, yang mendengar dari seorang temannya, me-nyambar sepeda menuju tempat latihan. Entah bagaimana, akhirnya grup tersebut bersedia membawakan ciptaan Subronto sesuai dengan aslinya.

Salah satu lagunya yang cukup mengemuka adalah yang berjudul Suburlah Tanah Airku. Karyanya ini dianggap oleh beberapa musikus sebagai ciptaan berkualitas dan tahan zaman. Beberapa hari sebelum ia meninggal, sebuah grup paduan suara membawakan lagu itu di TVRI Jakarta dengan penjelas-an bahwa pada dasawarsa 1950-penjelas-an nampenjelas-anya dikenal luas sebagai pencipta lagu, pemimpin paduan suara, dan komponis.

Suburlah subur tanah airku/ Tanah pusaka kelahiranku Sawah ladangmu hijau selalu/ Sungai lautmu luas membiru Oh indah alangkah indah berseri/ Bermandi cahya sang surya pagiBumi persada luas meraya/ Tempat bersujud patuh setia Pertiwi curahan bela/ Indonesia subur bahagia

Hijau nyiurmu melambai-lambai/ Ditiup angin sepanjang pantai

Kuning padimu masak mengurai/ Dipeluk alam sejuk dan da-maiOh Ibu Pertiwi kandungan sukma/ Pengisi jiwa haus dahaga Tumpah darah tempatku terpuja/ Selama hidup tetap kubela Abadi subur sentosa/ Indonesia kamu sejahtera

Lagu-lagu perjuangan yang sejaman pada 1950-60an juga diwarnai dengan perkembangan situasi politik nasional dan internasional. Semisal terkait Konferensi Asia-Afrika muncul lagu Asia Afrika Bersatu yang digubah oleh komponis Sudharnoto, yang juga menggubah lagu mars Garuda Pancasila yang kita kenal sekarang. Lalu, terkait pelaksanaan Undang-Undang Bagi Hasil dan Undang-Undang Pokok Agraria muncul lagu Di Kaki-kaki Gunung Tangkuban Perahu. Begitu juga dengan lagu Mars Radio Republik Indonesia yang liriknya berbunyi:

Semboyan kami angkasawan RRI/ Sekali di udara tetap di udara

Semenjak Empat Lima tak pernah berhenti Patuh dan setia berjiwa Pancasila

Tri Prasetya landasan kerjanya/ Ampera tujuan utama Penuh pengabdian pada revolusi/ Demi Tuhan demi pertiwi Sekali di udara tetap di udara

Kendati demikian terdapat juga lagu-lagu memorial perjuangan seperti Di Sela-sela Rumput Hijau yang digubah oleh Maladi, ataupun Pantang Mundur yang digubah oleh Ismail Marzuki.

Secara umum lagu-lagu perjuangan adalah lagu-lagu yang dapat mem-bangkitkan semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air, memiliki arti nilai-nilai penegakan demokrasi yang berkeadilan. Substansi yang digam-barkan pada lagu-lagu perjuangan bahwa pesan moral dan keterlibatan hati yang disampaikan ternyata semakin relevan sepanjang waktu, bukan kian pudar dan jauh dari tuntutan zaman. Persoalannya kemudian sering kali lagu-lagu perjuangan itu dinyanyikan tanpa dijelaskan asal-usulnya dan bagaimana sejarahnya. Karenanya, sesering apa pun lagu itu diperde-ngarkan belum selalu dapat menumbuhkan nilai-nilai yang terdapat dalam lagu tersebut.

Poster Revolusi 45 (gambar Affandi dan teks Chairil Anwar)

Sekalipun demikian, penting untuk kemudian memahami bahwa lagu-lagu perjuangan di periode revolusi dan pascarevolusi kemerdekaan, secara umum menekankan perihal cinta tanah air, cinta pada upaya membela tanah air, dan cinta pada persaudaraan antar bangsa-bangsa. Ini satu hal yang cukup menarik, karena dengan demikian apa yang ditulis oleh W.R.

Soepratman terkait “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya” seperti memberikan pencerahan pada lagu-lagu perjuangan selanjutnya. Bahkan, jika kita perhatikan sebagian lirik dari lagu memorial perjuangan seperti Sepasang Mata Bola yang ditulis Ismail Marzuki pada 1946: “Lindungi aku pahlawan dari pada si angkara murka” seperti berdialog dengan sebagian lirik lagu Indonesia Raya “Jadi Pandu Ibuku”. Begitu juga dengan lirik “Ham-pir malam di Jogja ketika keretaku tiba” seolah meminta Pandu untuk

“Menjaga Ibu Sejati”.

Itulah sebabnya Indonesia Raya sebenarnya bukan sekadar lagu kebangsaan, tetapi juga inspirasi berbangsa dan bernegara.