Sesudah Indonesia Raya
4.3. Decrescendo Lagu-lagu Perjuangan
Memasuki periode Orde Baru, nyaris tidak ada lagu-lagu perjuangan yang baru. Lagu Puing yang ditulis oleh Nortier Simanungkalit, komponis seang-katan Subronto Atmodjo, pada tahun 1966 tidak cukup kuat menggam-barkan kehendak cinta tanah air, baik dari segi melodi maupun lirik se-bagaimana berikut ini:
Di Puing Peninggalan Kebesaran Negeriku/ Pemandangan memancarkan cinta pada tanahku
Di sana kami bisikkan kasih cinta nan syahdu/ Meninggalkan puing hati membina sukma baru
Hai puing yang teduh menyejukkan hati risau/ Tak slalu aku dapat bersimpuh di bawah naungmu
Tugas kami slalu memanggil untuk tanah airku O Gusti pencipta cinta
Bajakan smangat ku/ Tempa aku abdi tanah air
Biar perih luka mengoyak dada/ Aku berjuang terus hingga bahagia, abadi.
Bahkan, jika ingin ditelisik lebih jauh, tema perjuangan bangsa dan cinta tanah air pada masa Orde Baru lebih mengarah pada tema pembangunan
dan seruan berbakti pada negara. Ini tampak pada misalnya Mars Pemilu yang ditulis oleh komponis angkatan ‘45 Mochtar Embut pada 1971:
Pemilihan umum telah memanggil kita/ Sluruh rakyat me-nyambut gembira/ Hak demokrasi Pancasila/ Hikmah In-donesia merdeka/ Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya/
Pengemban ampera yang setia/ Di bawah Undang-Undang Dasar ’45/ Kita menuju ke pemilihan umum
Begitu juga dengan lagu Mars Keluarga Berencana, yang ditulis pula oleh Mochtar Embut:
Keluarga berencana sudah waktunya/ Janganlah diragukan lagiKeluarga berencana besar maknanya/ Untuk hari depan nan jayaPutra putri yang sehat/ Cerdas dan kuat/ Kan menjadi ha-rapan bangsa
Ayah ibu bahagia rukun raharja/ Rumah tangga tentram sen-tosa
Warna yang sama ditunjukkan pula oleh lagu Mars Angkatan Bersenjata Re-publik Indonesia:
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/ Setiap saat, siap se-diaMempertahankan, menyelamatkan/ Negara Republik Indone-sia!Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/ Setiap saat, siap se-diaMempertahankan, menyelamatkan/ Negara Republik Indone-sia!Tanah air kita indah cemerlang/ Bila kita olah rakyatpun senang.
Bersatu dengan rakyat, bekerja/ Membangun serentak!
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/ Setiap saat, siap se-diaMempertahankan, menyelamatkan/ Negara Republik Indone-sia!
Keadaan yang demikian ini melahirkan semacam reaksi dari banyak musisi maupun pecinta musik, yang tidak melihat adanya keindahan dalam lagu-lagu mars tersebut. Orientasi kepada alam sebagai representasi dari cinta tanah air yang hilang pada lagu lagu mars Orde Baru, dihidupkan melalui lagu-lagu populer kritik sosial dengan cita rasa musikalitas progressive rock atau art rock. Guruh Sukarnoputra dengan Guruh Gypsy hadir di periode awal Orde Baru dengan mengajukan komposisi paduan musik-musik tradi-sional dan orkestrasi barat. Seolah-olah Guruh menggugat orientasi indi-vidual Orde Baru dengan orientasi kealaman musik.
Namun musik Guruh Gypsy tidaklah mudah dipahami, dan kelewat canggih bagi rakyat Indonesia kebanyakan. Gugatan kritik sosial yang mengemuka sebenarnya muncul di tahun 1979 dalam sebuah lagu Bahana Jelata yang dibawakan oleh Rudi Damhudi. Sebagian dari lagu tersebut menyatakan:
dunia semakin kelam tiada belas memandang, hai ningrat lihat sini hidup yang penuh noda duri/ tiada banding kaya dengan jelata/ hari hari santap jelaga sampai mati menjadi bangkai/
mana sejahtera mana sentosa ibu pertiwi
Ini menarik karena kosakata “ibu pertiwi” kembali dipergunakan walau dalam lagu populer. Seolah lirik lagu ini berdialog dengan lirik lagu “Ibu Pertiwi”, yang ditulis oleh Ismail Marzuki dua dasawarsa sebelumnya:
Kulihat Ibu Pertiwi/ Sedang bersusah hati/ Air matanya ber-linang/ Mas intannya terkenang
Pertanyaan yang senada dengan Rudi Damhudi lalu diajukan lagi oleh God Bless pada 1982 dalam lagu Balada Sejuta Wajah: “Adakah hari esok mak-mur sentosa bagi wajah wajah yang menghiba”. Pertanyaan-pertanyaan dari lagu-lagu kritik sosial ini menjadi penting oleh karena situasi so-sial-ekonomi yang berlangsung pada masa Orde Baru berseberangan de-ngan semangat lagu-lagu mars yang diperdengarkan oleh pemerintah.
Semangat keutamaan individual yang digaungkan oleh pemerintah Orde Baru seperti ditertawakan oleh Iwan Fals dalam lirik lagu Sore Tugu Pan-coran. Lagu ini bercerita tentang si Budi, anak kecil yang bersusah payah berjualan koran di dekat Tugu Pancoran. Refrein dari lagu itu berbunyi:
“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu/ Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu/ Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal”
Dalam hal ini, Iwan Fals seperti melakukan pembalikan tentang konsep alam yang pada masa Sukarno dipuja sebagai sumber ke-mulia-an Indo-nesia, lalu pada masa Orde Baru diabaikan, maka konsekuensinya alam itu sesuatu yang menindas anak-anak.
Nada kritik sosial yang lebih tajam muncul dari lagu-lagu aktivis maha-siswa di era akhir 1980an. Salah satunya adalah lagu Aku Anak Indonesia yang digubah oleh seniman aktivis Yayak “Kencrit” Yatmaka. Lirik lagu itu berbunyi demikian:
Aku anak Indonesia/ Aku punya cita-cita/ Punya sawah, pun-ya mobil/ Jadi menteri atau bupati
Aku anak Indonesia/ Aku cinta Pancasila/ Apa daya uang tak punya/ sekolah pun aku binasa
Indonesia kaya raya/ mengapa aku menderita/ tapi aku tetap gembira/ karna Indonesia merdeka
Konsep tentang alam di sini menjadi sesuatu yang mengambang, sesuatu yang dipertanyakan oleh karena situasi sosial ekonomi seperti meniada-kan alam. Ini memang satu kondisi yang di satu sisi membingungmeniada-kan dan di sisi yang lain menyedihkan. Ia membingungkan karena hampir seluruh pemasukan pemerintah Indonesia pada masa Orde Baru berasal dari in-dustri ekstraktif sumber daya alam, kayu dan minyak. Tetapi, lagu-lagu yang dikeluarkan oleh pemerintah Orde Baru cenderung mengabaikan keberadaan Alam. Pun ia menyedihkan karena Alam dan Ibu Pertiwi lalu seperti tidak memiliki ke-Mulia-an seperti yang tercantum dalam stanza kedua Indonesia Raya.
Keadaan di muka di dalam banyak hal lalu disuarakan oleh puisi-puisi Ren-dra, seperti misalnya yang berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa yang salah satu baitnya berbunyi:
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya: “Lantas maksud baik saudara untuk sia-pa?”Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya:
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ? Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan, ataukah alat penindasan?
Di awal tahun 1990an sebuah lagu ‘kebangsaan’ tandingan muncul dari kalangan gerakan mahasiswa. Lagu tersebut merupakan karangan bebe-rapa mahasiswa Universitas Gadjah Mada, saat menggencarkan aksi mogok makan menuntut demokratisasi lembaga pemerintahan mahasiswa di kampus tersebut. Aksi tersebut dilaksanakan di suatu malam November 1991. Lagu itu berjudul Darah Juang, yang digubah oleh John Tobing, sedang liriknya dibuat oleh Budiman Sudjatmiko dan Dadang Juliantara:
Di sini negeri kami, tempat padi terhampar/ samudranya kaya raya, negeri kami subur Tuhan
Di negeri permai ini, berjuta rakyat bersimbah luka/ anak ku-rus tak sekolah, pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar/ Bunda relakan darah juang kami, padamu kami berjanji
Menariknya lagu ini berkumandang di setiap demonstrasi mahasiswa pada periode 1990-an dengan disertai Sumpah Mahasiswa yang berbunyi:
Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah:
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah:
Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah:
Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan
Kemunculan lagu dan Sumpah Mahasiswa di muka, kontan menggegerkan iklim politik pemerintahan Orde Baru. Ini karena lagu Darah Juang walau-pun tidak berirama mars sebagaimana Indonesia Raya, tetapi mengambil
kembali ruang cinta tanah air, ruang ke-alam-an yang terkubur, ditimbun oleh lagu-lagu mars pemerintah Orde Baru yang mengabaikan alam. Se-mentara Sumpah Mahasiswa menegaskan kembali hakikat kepemudaan yang pernah tumbuh di awal masa pergerakan di awal abad ke-20. Kon-tan, tuduhan dan stigma ‘pemberontak’ atau ‘komunis’ dilekatkan kepada semua aktivitas mahasiswa yang menyuarakan kedua ‘nyanyian’ perju-angan itu, kendati para aktivis tersebut juga menyanyikan Indonesia Raya dan mengibarkan bendera Merah-Putih. Bahkan, di dalam banyak aktivitas demonstrasi yang dilakukan oleh aktivis mahasiswa pada periode 1990-an, berbagai penangkapan dan pemenjaraan dilakukan oleh aparat kepolisian ataupun aparat militer pemerintah Orde Baru. Singkatnya, semangat cinta tanah air, semangat perjuangan direbut oleh aktivis tahun 1990an, dan se-mangat ini semakin diperkuat dengan munculnya puisi Wiji Thukul yang berjudul Peringatan:
Peringatan jika rakyat pergi ketika penguasa pidato kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa kalau rakyat bersembunyi dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri penguasa harus waspada dan belajar mendengar bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata: lawan!
Ruang merebut kembali ini bisa tercipta sebenarnya oleh karena ke-beradaan pemerintah Orde Baru yang cenderung melemahkan demokrasi
dan partisipasi rakyat, dan mencipta kesenjangan sosial yang tajam. Di per-mukaan kondisi sosial perkotaan terlihat tidak ada masalah, dan semuanya seperti berjalan aman-aman saja. Tetapi di balik itu semua, berlangsung se-jumlah pengekangan kebebasan dan pengawasan terhadap siapa pun yang berani melancarkan kritik terhadap keberadaan pemerintah Orde Baru.
Kekerasan yang dijalankan sebagai cara untuk melancarkan pembangunan banyak berpengaruh pada munculnya ketidakpuasan dari kalangan masya-rakat bawah. Politik kekerasan dan intimidasi terhadap kritisisme berkem-bang sebagai sebuah kultur politik resmi negara Orde Baru.
Keadaan di muka yang kemudian melahirkan ruang-ruang diskusi kecil, ruang-ruang berbagi pengetahuan terkait berbagai macam kritik terhadap pemerintahan Orde Baru, maupun pengetahuan tentang kesejarahan In-donesia. Tidak bisa dipungkiri kehadiran novel-novel tetralogi Pramoedya Ananta Toer, dan Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno berikut wacana sejarah Indonesia yang ditulis oleh berbagai intelektual kritis dari dalam dan luar negeri seperti misalnya Arief Budiman dan Ben Anderson, sangat berpengaruh terhadap pembentukan kesadaran kritis. Ruang-ruang terse-but, yang kerap diselenggarakan secara sembunyi-sembunyi juga yang melahirkan berbagai macam bentuk organisasi perlawanan, dan pener-bitan alternatif, mengingat pemerintah Orde Baru sangat ketat menyensor semua bentuk publikasi media massa.
Awalnya munculnya perlawanan-perlawanan dari kalangan mahasiswa da-lam bentuk demonstrasi dengan sumpah dan lagu di muka kerap dianggap oleh aparat pemerintah Orde Baru sebagai bentuk kenakalan remaja. Teta-pi begitu perlawanan-perlawanan tersebut mulai bersentuhan dengan ma-cam-macam problem kesenjangan sosial yang dialami oleh masyarakat, se-bagaimana yang terjadi pada kaum tani Kedung Ombo di akhir 1980an dan kaum buruh di Medan, Bogor, Solo, Surabaya sekitar 1992-1995, maka ope-rasi intelijen pemerintah Orde Baru diberlakukan untuk menumpas per-lawanan-perlawanan tersebut. Gerak perlawanan ini semakin mendapa-tkan dukungan ketika kalangan jurnalis bereaksi menolak pemberedelan terhadap majalah Tempo, Editor dan tabloid Detik, setelah sebelumnya ter-jadi pemberedelan terhadap tabloid Monitor. Bahkan, gelombang perla-wanan ini semakin membesar dan menguat ketika terjadi huru-hara 27 Juli 1996, saat massa rakyat pendukung Partai Demokrasi Indonesia menolak kepemimpinan PDI Soerjadi dan lebih memilih Megawati Sukarnoputri sebagai pimpinan mereka. Ini masih ditambah lagi dengan sejumlah ke-resahan dari pimpinan partai politik non Golkar di daerah yang waswas
dengan operasi pemerintah untuk memenangkan pemilu 1997.
Karenanya ketika terjadi gelombang gerakan mahasiswa pada 1998 di ber-bagai kota di seluruh Indonesia, sebenarnya itu merupakan konsekuensi dari proses ‘pengambilalihan’ wacana kebangsaan dari tangan pemerintah Orde Baru ke tangan rakyat. Indonesia Raya seperti kembali menemukan rohnya, ketika disandingkan dengan nyanyian lagu Darah Juang dan peng-ucapan Sumpah Mahasiswa.