• Tidak ada hasil yang ditemukan

Critical ethnography

Dalam dokumen Filsafat Ilmu dan Penelitian (Halaman 74-80)

Teori Kritis dalam Penelitian

6. Critical ethnography

Critical ethnography merupakan hasil proses dialektika, pada satu sisi tumbuh dari ketidakpuasan dengan struktur masyarakat berupa kelas sosial, patriarkhat dan rasialis, sehingga manusia sebagai pelaku sosial human tidak dapat tampil. Yang tampil hanyalah representasi kelas, ras dan gender. Di sisi lain demokratisasi tanpa pembedaan kelas, ras dan gender tidak pernah tampak muncul.

7. Feminisme

Diawali dengan tuntutan perempuan dalam hal hak yang sama atau emansipasi dalam politik, yakni hak untuk memilih dan menolak diskriminasi. Selanjutnya berkembang menjadi era feminisme sosial, yaitu tuntutan hak emansipasi dalam bidang ekonomi, sosial dan politik.

Kedudukan Teori Kritis dalam Kegiatan Penelitian

Beberapa kedudukan teori kritis dalam kegiatan penelitian21 adalah:

(1) Tujuan penelitian: Kritik dan transformasi, pemulihan dari emansipasi, pembongkaran mitos dan pertumbuhan kemampuan perubahan sosial bagi masyarakat.

(2) Teori: Kritik harus mampu mengungkap kondisi yang sebenarnya dan membantu masyarakat melihat dunia dengan cara yang lebih baik.

(3) Hakekat pengetahuan: Pandangan yang bersifat histories-struktural.

(4) Akumulasi pengetahuan: Revisionisme sejarah, generalisasi berdasar kesamaan. (5) Lingkup eksplanasi: Campuran antara nomotetik dan ideografik.

(6) True explanation: Kesediaan masyarakat mengubah dunia.

21 Salim, Idem.

(7) Kedudukan peneliti: Intelektual transformatif yang berperan sebagai advokasi dan sebagai aktivis.

(8) Penilaian kualitas penelitian: Tanggungjawab terhadap situasi sosial, politik, ekonomi, budaya etnik, dan gender; Pembongkaran ketidaktahuan dan salah pengertian; Pendorong transformasi dalam struktur sosial.

Kritik Teori Kritis

Berikut ini merupakan kritik Teori Kritis terhadap teori lainnya, yakni terhadap:

(1) Teori Marxian, teori kritis sangat terganggu oleh pemikir Marxis penganut determinisme ekonomi mekanistik. Mereka tidak menyatakan bahwa determinis ekonomi keliru (ketika memusatkan perhatian di bidang ekonomi), tetapi seharusnya juga perhatian pada aspek kehidupan sosial yang lain. Selanjutnya aliran kritis meralat ketidakseimbangan ini dengan memusatkan perhatiannya pada bidang cultural.

(2) Positivisme, cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah dengan mengabaikan aktor. Sedangkan teori kritis lebih memusatkan perhatian pada aktivitas manusia maupun cara-cara aktivitas tersebut mempengaruhi struktur sosial yang lebih luas. Positivisme berwatak konservatif, tidak mampu menantang system yang ada. Berpuas diri hanya menilai alat untuk mencapai tujuan, tidak menilai tujuan. Positivisme menyebabkan aktor dan ilmuan sosial menjadi pasif. (3) Sosiologi, menjadikan metode ilmiah sebagai tujuan di dalam dirinya sendiri dan

menerima status quo. Aliran kritis berpandangan bahwa sosiologi tidak serius mengkritik masyarakat, tidak berupaya merombak struktur sosial masa kini dan telah melepaskan kewajibannya untuk membantu rakyat yang ditindas oleh masyarakat masa kini.

(4) Masyarakat modern, dimana rasionalitas sebagai perkembangan dominan dalam dunia modern. Aliran kritis berpandangan bahwa dalam masyarakat modern penindasan dihasilkan oleh rasionalitas yang menggantikan eksploitasi ekonomi sebagai masalah sosial dominan. Menurut teori kritis, rasionalitas formal tidak mencerminkan perhatian mengenai cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Inilah sebagai cara berfikir teknokratis. Aliran kritis memandang masyarakat modern penuh dengan ketidakrasionalan. Gagasan ini diberi nama ‘irrasionalitas dari rasional formal’. Mereka perhatian pada salah satu bentuk rasionalitas formal, yakni teknologi modern.

(5) Kultur, dimana teoritisi kritis melontarkan kritik pedas terhadap ‘industri kultur’, yakni struktur yang dirasionalkan dan dibirokratisasikan (misalnya jaringan TV) yang mengendalikan kultur modern. Mereka mengkhawatirkan mengenai kepalsuannya yang dibayangkan sebagai sekumpulan paket gagasan yang diproduksi secara massal dan disebarkan ke tengah-tengah massa melalui media. Demikian pula teoritisi kritis terganggu oleh pengaruh yang bersifat menentramkan, menindas dan membius dari industri kultur terhadap rakyat. Aliran kritis tertarik dan kritis terhadap ‘industri pengetahuan’ yang mengacu pada entitas-entitas yang berhubungan dengan produksi pengetahuan (Univ dan Lemlit) yang menjadi struktur otonom di dalam masyarakat. Dimana otonomi itu membuat mereka dapat memperluas, melampaui mandatnya, dan menjadi struktur yang opresif yang hanya tertarik untuk menyebarluaskan pengaruhnya ke seluruh masyarakat.

Kontribusi Utama Teori Kritis

1. Subyektivitas

►Kontribusi terbesar aliran kritis adalah usahanya untuk mengorientasikan teori Marxian ke arah subyektif.

►Kontribusi subyektif aliran kritis pada tingkat individu dan kultural.

►Minat aliran kritis kepada kebudayaan telah bergeser kepada ‘superstruktural’ kultural, dari bukannya ‘basis’ ekonomi. Faktor yang memotivasi pergeseran ini meliputi aspek dari realitas sosial terutama kultur, disamping itu tentunya juga oleh perubahan eksternal dalam masyarakat.

►Salah satu perhatian aliran kritis pada tingkat cultural adalah apa yang disebut Habermas (1975) sebagai legitimasi didefinisikan sebagai system ide yang dihasilkan oleh system politik dan secara teoritis oleh system lainnya, untuk mendukung eksistensi system.

►Selain minat cultural, aliran kritis juga membahas aktor dan kesadaran mereka serta apa yang terjadi pada mereka di dunia modern.

2. Dialektika

Pada tingkat yang paling umum, pendekatan dialektika berarti fokus pada ‘Totalitas Sosial’. Paul Connerton memberi pengertian yang baik tentang pendekatan kritis terhadap totalitas sosial: ‘Tidak ada aspek parsial dari kehidupan sosial dan tidak ada fenomena yang terisolasi yang dapat dipahami, kecuali ia dikaitkan dengan sejarah secara keseluruhan, kepada struktur sosial yang dibayangkan sebagai entitas global’ (1976).

Kritik terhadap Teori Kritik

Kritik yang diberikan kepada Teori Kritik meliputi hal berikut ini:

(1) Teori kritis dituduh bersifat ahistoris, meneliti berbagai peristiwa tanpa banyak memperhatikan konteks sejarah dan komparatifnya (misalnya Nazisme 1930-an, Pemberontakan mahasiswa 1960-an).

(2) Aliran kritis umumnya mengabaikan ekonomi.

(3) Teoritisi kritis cenderung berargumen bahwa kelas pekerja telah hilang sebagaimana halnya kekuatan revolusioner (Pandangan yang bertentangan dengan analisis Marxian tradisional).

Penerapan dan Implikasi Teori Kritis

•Kebijakan Negara dan Kebijakan Sosial. •Kontrol Sosial. •KajianGender. •Pendidikan. •Psikologi Sosial. •Sosiologi Pendidikan. •Politik. •Gerakan Sosial.

•Budaya Pop, Analisis Wacana, Media Massa. •Ras dan Etnisitas.

Kriteria Penilaian Kualitas Penelitian pada teori Kritis

•Keterkaitan dengan situasi historis. •Penyadaran.

•Kesatuan Teori dan Praksis.

•Tanggung jawab terhadap situasi sosial, politik, ekonomi, budaya, etnik, gender, dan sosial.

•Pembongkaran ketidaktahuan dan salah pengertian. •Pendorong transformasi dalam struktur sosial.

Penelitian tentang Kelanjutan Studi bagi Siswi Hamil

Metode Kuantitatif: Untuk mengungkap sikap masyarakat terhadap kesempatan

melanjutkan studi bagi siswi hamil, dan merumuskan pola alternatif pendidikan siswi hamil dengan menggunakan angket.

Metode kualitatif: Untuk mengungkap permasalahan sikap siswi hamil terhadap

kehamilannya dan pola alternatif pendidikan.dan untuk mengungkap sikap orang tua terhadap siswi hamil dengan teknik wawancara mendalam serta observasi.Teknik FGD untuk mengungkap pendapat tokoh agama dan masyarakat.

Alur Penelitian Kualitatif Siswi Hamil Melanjutkan Studi

•Memilih Setting. •Menemukan Subyek.

•Menciptakan Hubungan Baik dengan siswi hamil. •Pengumpulan Data.

•Menganalisis Data.

•Mengontrol keabsahan Data. •Menyusun Laporan.

Dalam dokumen Filsafat Ilmu dan Penelitian (Halaman 74-80)

Dokumen terkait