Paham positivisme merupakan salah satu bentuk dari berbagai paham yang terdapat dalam aliran/paham empirisme (Phillips, dalam Keeves & Lakomski, 1999). Dengan demikian, positivisme merupakan bagian dari empirisme. Semua hal yang ada dalam positivisme adalah murni empirisme. Sekalipun demikian, hal ini tidak dapat diartikan bahwa semua bentuk empirisme ada dalam positivisme. Meskipun begitu, ada pernyataan menarik yang dikemukakan oleh Francis Schrag, yaitu bahwa positivisme berarti hal yang berbeda untuk orang yang berbeda. Jadi, sebenarnya apa dan bagaimanakah positivisme itu? Bagaimana pula perkembangan paham positivisme? Masalah tersebut akan dikupas satu persatu pada artikel ini.
Dalam bagian ini diuraikan berbagai hal meliputi sejarah perkembangan aliran positivisme, komparasi positivisme kuantitatif dan positivisme kualitatif (dipandang dari segi cirinya, tugas, latar belakang perkembangannya, pendekatan yang digunakan, uji kebenaran dan perkembangan mutakhir dari keduanya). Hal mengenai pengaruh positivisme terhadap perkembangan pengetahuan manusia dan ilmu pengetahuan, juga diuraikan pada bagian ini.
Sejarah Perkembangan Aliran Positivisme
Orang yang pantas dinobatkan sebagai tokoh positivisme adalah Frenchman Comte (atau August Comte), yang hidup pada masa 1798 – 1857. Comte lahir tanggal 19 Januari 1798 di Montpellir, dari keluarga Katholik yang fanatic. Tahun 1814 Comte masuk sekolah politeknik di Paris untuk mempelajari ilmu-ilmu eksak. Untuk melengkapi pelajarannya di politeknik serta untuk memperoleh latar belakang ensiklopedia yang kuat, ia belajar
sajarah dan biologi. Selang beberapa tahun kemudian ia menjadi sekretaris bangsawan Perancis, Hendri de Saint Simon. Orang ini sangat giat dalam bidang social terkait dengan masalah-masalah social yang timbul akibat industri yang berkembang pada waktu itu. Simon sangat berpengaruh terhadap pemikiran Comte serta memberi inspirasi pertama kepadanya mengenai masalah sosial. Pada tahun 1830 Comte bersama temannya, bekas murid politeknik mendirikan association politechniqu untuk mempercepat perkembangan pengetahuan ilmu positif. Karya utama Comte adalah cours de philosophie positif yang terdiri dari 6 jilid (1830-1842). Dalam bukunya ia mengemukakan pendapatnya tentang perkembangan fikiran manusia yang terdiri dari 3 tahap yaitu: tahap teologis, tahap metafisi, dan tahap positif.
Tahap teologis merupakan tahap perkembangan pikiran manusia yang paling awal, yang
menyatakan bahwa pengetahuan manusia didasarkan pada kepercayaan akan adanya penguasa adikodrati yang mengatur dan menggerakkan gejala-gejala alam. Tahap kedua yaitu tahap metafisis, yang menyatakan bahwa pengetahuan berdasar pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip abstrak yang menggantikan kedudukan kuasa-kuasa adikodrati. Metafisik merupakan pengetahuan puncak pada masa itu. Tahap ketiga adalah tahap positif. Tahap ini menyatakan bahwa pengetahuan manusia berdasar atas fakta-fakta. Berdasar observasi, dan dengan menggunakan rasionya manusia, masa positif ini dapat menentukan relasi-relasi persamaan dan atau urutan yang terdapat pada fakta-fata. Pengetahuan positif adalah pengetahuan yang tertinggi kebenarannya yang dicapai oleh manusia. Pada akhir hidupnya Comte berusaha untuk membangun agama baru atas dasar filsafat positifnya. Agama tanpa teologi ini mengagumkan akal dan mendambakan kemanusiaan dengan semboyan cinta sebagai prinsip, teratur sebagai basis dan kemajuan sebagi tujuan.
Filsafat positivistic mulai berkembang abad 19, diantarkan oleh Comte. Berbeda dengan teori empirisme yang menerima pengalaman obyektif dan juga menerima pengalaman batin, positivisme hanya membatasi pada pengalaman yang obyektif atau pengalaman lahir. Comte berjasa dalam hal menciptakan ilmu sosiologi dan pengaruh filsafatnya meluas di Inggris seperti pada John Stuart Mill dan Herbert, Spencer. Mill mencoba memberi dasar psikologis dan logis bagi positivisme, sedangkan Spencer menyatakan bahwa filsafat harus dapat mempersatukan segala macam gejala, dan prinsip filsafat ini adalah hokum evolusi yang diterapkan oleh Spenser di segala lapangan ilmu.
Filsafat pada pertengahan abad 19 dikuasai oleh aliran materialisme yang mengatakan bahwa realitas itu terdiri dari materi. Semua benda atau kejadian adalah proses meteriil. Materialisme mengakui metafisik, sedang positivisme tidak bisa menerima hal itu, dan hanya membatasi pada fakta.
Lahirnya Positivisme
Aliran positivisme yang paling awal merupakan positivisme paling elementer, yaitu received view pada abad 19. Dalam positivisme elementer, empiri yang direkam sebagai fakta, terbatas pada hal-hal yang dapat ditangkap dengan panca indera kita, dan indera kita pasif. Fakta-fakta yang ditangkap dinyatakan dalam bahasa tertentu, misalnya
L (language) untuk bahasa, K untuk kasus dan sebagainya. Secara mendasar positivisme
selanjutnya berkembang menjadi 2, yaitu positivisme kualitatif (abad 19) dan positivisme kualitatif modern elementer atau positivisme elementer abad 20.
1. Positivisme kualitatif abad 19 M, yang menelaah hubungan fakta satu dengan fakta lain (fact received view: FRV), menggunakan landasan teori sosial universalisme atau teori sosial partikularisme histories, dengan memposisikan negara timur sebagai
negara yang primitif dan Negara Barat sebagai negara maju, yang menjadi acuan perkembangan.
2. Positivisme kualitatif modern elementer. Pada tahap ini tetap digunakan telaah hubungan antar FRV, dengan menggunakan causa relation, yaitu dengan menggunakan analogi dengan gejala alam fisika (positivisme fisikalis). Positivisme inilah yang selanjutnya kami sebut sebagai positivisme fisikalis. Positivisme ini mengakui kebenaran substantif dan kebenaran instrumentatif untuk membangun causa relationnya. Dengan berkembangnya kesadaran positivisme kolonial, causa relation
ditelaah dalam konteks sosial paralelisme emansipatorik, dan menolak emansipasi atau segragasi.
Komparasi positivisme Kuantitatif dan positivisme kualitatif
Positivisme dibagi dalam dua kelompok, yaitu positivisme kuantitatif dan positivisme kualitatif. Perbedaan diantara keduanya adalah yang disajikan sebagai berikut.
Uraian Positivistik Kuantitatif (Mathematica Logic)
Positivistik Kualitatif (Phylosophycal logic)
Ciri - Fakta indrawi
- Mengakui kebenaran rasional empiric obyektif
- Fakta indrawi
- Mengakui kebenaran rasional empiric obyektif
Latar Belakang
- Mathematica Logic
- Berangkat dari tesis aika matematik induktif, dan logikanya isomorfisme kehidupan dengan konsep mtematik yaitu dengan konsep-konsep probabilitas, dan homogenitas.
- Dikembangkan dengan mathematic logic dengan dua mainstream yaitu logika matematik induktif dan logika matematik induktif.
- Positivisme kuantitatif tumbuh dari positivisme logic.
- Phylosophycal Logic
- Dikembangkan dari
phylosophycal logic menjadi rasional conctructive empirik
obyektif dengan
mengembangkan logika bahasa untuk mencari makna dibalik
fakta bahasa, dan
phenomenological mencari makna subyektif interpretit. - Mendesain keilmuan dan
penelitian berdasar teori ilmu social tertentu serta menguji dan mengembangkannya dengan fakta rasional empiric obyektif, sedangkan logika bahasa
mencari makna dibalik fakta, dan phenomenological logic membangun makna dan kebenaran.
- Positivisme kualitatif tumbuh dari positivisme social dan positivisme universal
Tugas - Membuktikan dan mengem- bangkan teori ilmu tertentu dengan menggunakan teori ilmu tertentu dengan menggunakan teori matematik
- Mendesain pengembangan ilmu dan penelitian untuk mencari kebenaraan empiric, rasional, obyektif
- Mencari kebenaran kausal relation empiric obyektif untuk membuktikan teori-teori ilmu social seperti teori budaya, universalisme (abad 19 M), kemudian teori budaya partikularisme (abad 20M). - Mencari kebenaran rasional
konstruktif empiric obyektif antara lain teori polotik, teori konflik, teori sosiologi, fungsionalisme, teori psikologi, behaviorisme, psikoanalisis, humanisme, teori sejarah, deskriptif atau rekonstruksi. Pendekatan
yang digunakan
Matematika logic sampai perkembangan mutahir mencakup:
1. Logika matematik induktif terdiri dari
Uji korespondensi antar variable sehingga terjadi pengolahan dari empiric parsial dengan teknik matematik recursion agar dapat diperoleh pembacaan yang lebih bermakna. 2. Logika matematik
axiomatic dikembangkan menjadi logika deduktif set teori dikembangkan lebih lanjut implementasinya dengan aljabar dengan matematik modern menjadi struktural modeling.
Phylospohical mathematical logicika: mencakup logica semantikal, logika rasional empiric factual, logika hermeneutic, logika phenomenology, interpretif induktif, interpretif deduktif. Interpretif deduktif menggunakan pendekatan kualitatif berarti memilih positivisme kualitatif atau memilih salah satu phylosophycal logic.
3. Logika klasil all are completely infinite, dijadikan finite dengan menggunakan konstruktif matematik logic yang seluruhnya finite. Menggunakan pendekatan kuantitatif berarti memperhatikan banyak acuan dari perkembangan mutahir logika matematik baik induktif maupun deduktif.
Uji Kebenaran Kebenaran korespondensi 1. Uji kebenaran
korespondensi adalah uji kebenaran kuantitatif, kebenaran construct atau kebenaran kuantitatif mutahir. Berpikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan secara empiric dengan sesuatu yang lain secara matematik kotespondensi. Relevan dibuktikan dengan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta satu dengan fakta
yang lain. Ada
perkembangan matematik logic baru tentang
kebenaran yaitu
kebenaran construct. 2. Logika matematik induktif
elementer menguji korespondensi antar variable. Melalui korespondensi antar variable dapat dicari makna yang lebih jauh, dengan pengolahan recursion melalui teknik transposisi rotasi dan pembuatan berragam matrik, sehingga tampil dalam suatu konstruk
1. Kebenaran positivisme kualitatif kausal relation, kebenaran kausalrelation antar empiric factual merupkan logika positifisme kualitatif sejak abad 19 masehi.sampai medio abad 20 masehi. Telaah kualitatif positivistic mendasarkan pada bukti adanya sejumlah empiric factual yang ditata dalam hubungan sebab akibat, sehingga kerangka fakir adanya bukti hubungan sebab akibat antara fakta empiric satu dengan lainnya menjadi landasan telaah positifisme kualitatif.
2. Kebenran positivisme kualitatif rasional konstruktifempirik obyektif merupakan positivisme
kualitatif mutakhir
mengembangkan kausal relation empiric obyektif menjadi rasional konstruktif empiric.obyektif.Positivisme kualitatif abad 19 masehi tunduk pad bukti kebenaran empiric antar jenis. Selain itu menuntut keserasian empiric dengan rasio. Bukti kebenaran empirikantar jenis tidak cukup perlu dicari konstruknya.
3. Positivisme logic kualitatif ilmu social yang membangun dan mengembangkan teori social
korespondensi lebih bermakna dalam wujud factor nilai regresi dan lainnya.
3. Positifistik logic adalah logika yang hanya mengakui kebenaran rasional empiric indrawi
obyektif yang
berkembang dalam ilmu pengetahuan alam sejak abad 18 masehi dan sebelumnya. Pada abad 19 masehi positivistic logic diadopsi oleh ilmu social humaniora. Positivistik logic adalah logika yang membangun pembuktiannya berdasar fakta received view atau fakta yang diterima pasif dan pengamatan tanpa intervensi ide manusia. Diterima pasif artinya tidak ad intervensi dan tidak ada interpretasi manusia. 4. Makna kuantitatif positivistic adalah menguji kebenaran dengan menggunakan matematik induktif kalkulus universal yang menguji relevansi antar jenis (variable).
tertentu, universalisme, teori konflik atau lainnya dan menggunakan data rasional empiric indriawi obyektif untuk pembuktian dan pengembangan teori social tertentu. Kebenaran positivisme kualitatif dibuktikan dengan mencari kausal relation rasional antar empirikfaktual satu dengan lainnya. .
Perkembangan
mutakhir Positivisme logic kuantitatifmembangun dan mengembangkan ilmunya baik untuk social maupun ilmu pengeahuan alam dengan menggunakan data rasional empiric indriawi obyektif
dengan teknik uji
mendasarkan teori
matematika untuk
pengembangn ilmunya. Perkembangan terakhir matematika logic yaiitu set
Perkembangan logika maretiil/ empiric dimulai dari cabang positivistic matematika induktif mulai abad 18 untuk IPA..logika positivistik kualitatif klasik pada abad 19 dan positivisme kualitatif modern pada abad 20 untuk ilmu social humaniora.Sampai saat ini logika positivistic dikelompokkan menjadi, positivistic logic, philosophical logic, matematicam logic, postmodern logic, phragmatical logic.
teori oleh Shelah, 1991. Recursion reori oleh Shonfield, 1993. Model teori Hodges, 1988. dilanjutkan dengan implementasi statistic dengan karya du Toit dkk, 2000-2001, yang memiliki model dan program LISREL, dengan implementasi dalam tes and measurement serta program item respon theory oleh der Hinder dan Hambleton dkk yang dikembangkan mulai tahun 1977.
Paradigma positivisme kuantitatif
Makna kuantitatif positivistic adalah menguji kebenaran dengan menggunakan matematik induktif kalkulus universal yang menguji relevansi antar jenis (variable). Logika matematik induktif dikembangkan oleh studi IPA sejak abad 18 (dan mungkin sebelumnya) dan diadopsi oleh ilmu social dan humaniora sejak akhir abad 19, dan abad 20. Perkembangan mutahir matematik logika sejak 1960 sampai akhir abad 20 ada dalam dua minstream yaitu matematik induktif dan matematik axiomatik. Makna kuantitatif realisme baru adalah menguji kebenaran konstrutivistik dengan logika matematik mutahir yang berkembang sejak tahun 1960an sampai menjelang akhirabad 20.
Kebenaran konstrutivistik dapat dijangkau dengan : (1) logika matematik induktif yang dikembangkan dengan recursion theory dan logika matematik axiomatic yang dikembangkan menjadi logika matematik set teori dan logika matematik model teori; (2) logika klasik yang mengakui all are completely infinite, dikembangkan menjadi dua yaitu
logic of mathematic consistency system disebut juga matematika proof theory dan logic of
mathematic constructive konsistensi dengan system yang disebut juga paradigma.
Sampai abad 16 masehi logika Aristoteles masih terus dibenahi untuk dipakai sebagai alat bukti kebenaran. Pada abad 18 masehi ilmuwan sadar bahwa model uji relevansi dan variabel dari Aristoteles tidak lagi memadai untuk menguji relevansi antar variable yang dibutuhkan untuk menguji relevansi antar variable yang dibutuhkan untuk menguji eksperimen IPA. Sistem pembuktian axiomatic matematik Euclides dan Archinides mengorganisasikan pembuktian kebenaran teorema yang mengikuti kebenaran asumtif, dan asumtif aksiomanya digunakan sejak awal perkembangan IPA, sehingga berkembang logika axioma teorema dan postulat.
Construct logic axiomatic deduktif berangkat dari sesuatu yang finite yang sudah
self evidence dan construct logic induktif berangkat dari asumsi homogenitas dan asumsi
adanta isomorfisme atau kesamaan bentuk antara matematik dan kehidupan. Logika deduktif aristoteles membuktikan kebenaran dengan silogisme deduktif kategori. Menguji relasi formal antar proposisi dan memperoleh kebenaran formal. Logika aksiomatik Euklides dan Archimides membuktikan kebenaran material dengan menggunakan aksioma sebagai asumsi yang self evidence dan sejak dikenalnya probabilitas berkembang logika matemaik induktif. Model matematika induktif inilah yang akhirnya lebih marak sejak abad 18 sampai adab 20 untuk studi IPA, kemudian disempurnakan mulai medio abad 20 sampai perkembangan mutakhir.
Adopsi logika matematik untuk ilmu social humaniora
Sejak akhir abad 19M dan 20M, logika matematik mulai diadopsi untuk ilmu social dan humaniora. Positivisme kuantitatif seperti halnya positivisme kualitatif menggunakan logika empirik obyektif, menolak masuknya telaah interpretif, dan menolak value. Causal relation yang dikenal dalam logika kualitatif diganti dengan parameter matematik dalam logika kuantitatif.
Positivisme kritis dan positivisme logic
Positivisme kritis muncul pada akhir abad 19 dengan karya-karya Ernest Mach dan Richard Avenarius. Positivisme logic dikembangkan oleh A.E. Blumberg dan Herbart Feygel (1932). Perkembangan positivisme di Stanford America Serikat menampilkan manifestor positivisme dengan menyebut tentang potivisme Hume dan Mach tentang metode ilmiahnya. Helmmoth dan Einstein tentang logika Leibniz hingga Russel serta moralis Ulalitanian dan Epicurus hingga Mill, dan para sosiolog Feurbach dan Spencer. Metode-metode Positivisme Menurut John Stuart Mill
Mill terkenal dengan metode induksinya yang berangkat dari metode of agreement and of difference. Mill lebih lanjut mengembangkan metode tersebut menjadi 4 metode induktif yaitu: metode of agreement, method of different, methof of concomitant variation, dan
method of redidu. Mill menolak masuknya etika moral dalam pengembangan ilmu.
Menurut Mill ilmu yang valid adalah ilmu yang dilandaskan pada fakta. kemudian positivisme Mill berkembang menjadi paradigma kuantitatif.
Pengaruh Paham Positivisme
Mengukur pengaruh dari suatu pemikiran filsafat amat sulit dilakukan. Namun ada beberapa hal yang keberadaannya dapat dianggap sebagai sesuatu yang telah dipengaruhi positivisme. Pengaruh positivisme khususnya terhadap kebudayaan barat antara lain dapat dilihat dari beberapa hal berikut.
(1) Optimisme masyarakat barat mengenai hari depan umat manusia yang semakin baik (2) Semangat eksploratif dan ilmiah para ilmuwan berkembang sedrmikian rupa sehingga
mendorong lahirnya model-model ilmu pengetahuan positif, yang lepas dari muatan- muatan spekulatif.
(3) Konsepsi yang semakin luas tentang kemajuan dan modernisasi yang menitik beratkan pada kemajuan dan modernisasi bidang ekonomi, fisik dan teknologi (model masyarakat industri).
(4) Menguatnya golongan teknokrat dan industriawan dalam pemerintahan.
Ciri-ciri penganut paham positivisme
(1) Positivist adalah juga empirist, realist, dan penganut obyektivitas.
(2) Meyakini bahwa kebenaran adalah hal yang selalu diidamkan dalam penelitian. (3) Penganut metode eksperimen dan pendukung statistik kuantitatif.
(4) Bersikap skeptis terhadap metode penelitian kualitatif.
(5) Harus merupakan pencinta metode statistic dan lawan bagi studi-studi kualitatif observasional.
(6) Positivist sangat anti metafisik.
Beberapa kritik/Masalah praktis seputar positivisme
(1) Keberhsilan/kemajuan pembangunan fisik/material dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan pembangunan bangsa dan Negara, sementara pembangunan mental spiritual diabaikan.
(2) Masalah etika dan moral dianggap sebagai masalah marginal.
(3) Nilai estetika suatu seni tidak lagi dipandang dari nilai intrinsiknya, melainkan dari nilai ekonominya.
(4) Apabila terjadi situasi yang tidak tertib, maka pihak penguasa akan memaksakan ketertiban, jika perlu dengan cara-cara represif. Hal ini berpeluang menimbulkan berbagai pelanggaran hak asasi manusia.