Pemecahan Masalah dalam Penelitian
C. Implementasi dalam Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
3. Pemecahan masalah dalam pembelajaran di sekolah
Ada juga yang menyatakan bahwa memecahkan masalah (problem solving)
merupakan sesuatu dalam hidup setiap manusia dan tiap hari sepuluh dua puluh kali ia memecahkan masalah. Ia berpikir bagaimana menjelaskan kemacetan lalulintas, bagaimana mengatur waktunya, bagaimana mengatasi kenakalan anaknya, bagaimana mengatasi tugas-tugas yang diberikan guru di sekolah, dan sebagainya. Hidup kita penuh dengan berbagai masalah ada yang banyak kita kenal, ada pula yang baru bagi kita.
Di sekolah siswa-siswa terus menerus dihadapkan dengan berbagai masalah dalam tiap mata pelajaran. Memecahkan masalah memerlukan pemikiran dengan menggunakan dan menghubungkan berbagai aturan-aturan yang telah kita kenal menurut kombinasi yang berlainan. Dalam memecahkan masalah sering harus dilalui berbagai langkah seperti mengenal setiap unsur dalam masalah itu, mencari aturan-aturan yang berkenan dengan masalah itu dan dalam segala langkah perlu ia berpikir.
Untuk memecahkan suatu masalah diperlukan waktu ada kalanya sebentar, ada kalanya lama, bergantung pada kompleksitas masalah itu. Ada masalah yang baru bagi seseorang akan tetapi tidak baru lagi bagi orang lain. Tampaknya memecahan masalah terjadi secara tiba-tiba, pada saat persoalan itu menjadi terang bagi seorang yang disebut
“insight”. Suatu masalah tidak terpecahkan dengan ulangan-ulangan. Ternyata masalah yang terpecahkan melalui problem solving mantap dan sukar dilupakan, apalagi bila mengenai pemikiran pada taraf “tinggi”. Kemampuan memecahkan masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain (Nasution, 2000 : 139). Dalam pemecahan masalah harus didukung oleh tipe belajar dari bawahnya. Pemecahan masalah dapat dipandang sebagai bentuk penerapan prinsip-prinsip pada tingkat tingginya (Dececco JP, 1977: 5)
Di dalam perilaku kognitif, proses pemecahan masalah dapat diklasifikasikan dalam kategori “penerapan“ (application). Istilah penerapan biasa pula dipakai dalam taksonomi untuk kategori pemahaman (comprehension), tetapi mempunyai pengertian yang berbeda. Suatu masalah dalam kategori pemahaman memerlukan pengetahuan abstraksi yang cukup baik yang pemakaiannya dapat didemonstrasikan secara benar bila tugas tertentu (spesifik) dikerjakan. Lebih dari itu masalah di dalam kategori penerapan adalah sesuatu yang baru bagi siswa, ia akan menerapkan abstraksi apa yang cocok tanpa harus menunjukkan abstraksi mana yang benar atau tanpa harus memperlihatkan bagaimana menggunakannya dalam situasi itu (Silverius, 1995: 45).
Selanjutnya Suke Silverius, (1991) menyatakan bahwa dalam jenjang kemampuan penerapan dituntut kesanggupan menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode- metode, prinsip-prinsip, serta teori-teori dalam situasi baru dan kongkrit. Situasi di mana ide, metode dan lain-lain yang dipakai itu harus baru, karena apabila tidak demikian, maka kemampuan yang diukur bukan lagi penerapan pada umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving) (Silverius, 1995: 46).
Pemecahan masalah dapat dipandang sebagai bentuk penerapan prinsip-prinsip, di mana nilai keberhasilan suatu pemecahan masalah di dalam memperoleh pengetahuan
baru sebagai hasil belajar konsep dan prinsip (Marcelo Alonso, 1992 : 2). Lebih lanjut Gagne berpendapat, seperti dikutip oleh Dececco, (1977) bahwa pemecahan masalah sangat berhubungan dengan belajar prinsip. Pemecahan masalah menggambarkan penguasaan pengetahuan yang sebenarnya.
Agar pemecahan masalah ini dikuasai secara baik dan benar oleh siswa, maka harus ditempuh langkah-langka (prosedur) belajar pemecahan masalah tertentu. Ada enam langkah yang harus ditempuh oleh siswa dalam belajar yakni :
(1) Survei masalah; analisis situasi masalah potensial untuk hal yang dipelajari. (2) Deskripsi masalah; penyajian pernyataan yang jelas atas hal yang dipelajarai. (3) Diskusi masalah.
(4) Pembatasan masalah; isolasi bagian-bagian masalah yang secara menguntungkan dapat dipecahkan.
(5) Rencana tindakan; persiapan hipotesis yang cocok untuk penyelidikan.
(6) Analisis dan pembatasan lebih lanjut pengujian-pengujian hipotesis untuk mengidentifikasi hasil pemecahan masalah yang paling mungkin (Bloom BS, 1987 :52).
Hal lain yang dapat dikatakan bahwa pemecahan masalah merupakan suatu proses belajar yang tergantung pada perbedaan individu, di mana kondisi yang harus ada dalam diri siswa adalah kemampuan untuk mengingat kembali aturan-aturan atau abstraksi yang telah dipelajari sebelumnya yang berkaitan dengan pemecahan masalah itu.
Kondisi individupun mempengaruhi kecepatan pemecahan masalah. Kondisi yang mempengaruhi pemecahan masalah yakni; (1) banyaknya aturan-aturan yang dikuasai itu, (2) kecepatan untuk mengingat kembali aturan-aturan itu, (3) kecepatan atau kelancaran siswa memikirkan hipotesis (kreaktivitas), (4) ketajaman siswa membedakan
konsep-konsep, (5) memandang masalah itu sebagai suatu hal dalam kategori yang lebih umum dan dengan demikian membutuhkan kebenaran jawabannya (Nasution, 2000: 173).
Ada juga yang mengatakan bahwa proses pemecahan masalah dapat memberikan siswa belajar menemukan bagaimana menggabungkan kaidah atau aturan-aturan yang sudah dipelajari sebelumnya untuk menghasilkan pemecahan masalah, dan masalah itu baru bagi si belajar tersebut. Dan untuk menghasilkan kemampuan memecahkan masalah, siswa dituntut seharusnya; (1) ketentuan atau aturan (dalil dan kaidah) yang diperlukan harus sudah dikuasai oleh siswa, dan (2) situasi soal atau masalah yang diberikan kepada siswa itu ialah yang belum pernah dijumpainya (Margareth, 1994 :222).
Ulangan tidak memegang peranan dalam pemecahan masalah. Sekali masalah itu dipecahkan, soal-soal yang bersamaan dapat juga dipecahkan. Hasil belajar dengan memecahkan masalah ini sukar di lupakan dan dapat dimanfaatkan pada berbagai situasi lainnya yang termasuk dalam kategori tertentu.
Dalam pemecahan masalah belajar sering memerlukan instruksi verbal yang membimbingnya untuk menemukan jawabannya. Akan tetapi petunjuk itu dapat diberikan oleh siswa itu sendiri kepada dirinya. Kemampuan memberi petunjuk kepada diri sendiri itu juga merupakan hasil belajar. Kemampuan itu disebut strategi pemecahan masalah. Strategi dipelajari sendiri oleh individu dan biasanya tidak termasuk sebagai bagian dari tujuan pelajaran. Belum banyak kita ketahui tentang strategi belajar bertalian dengan pelajaran di sekolah. Namun strategi merupakan bagian penting dalam pemecahan masalah dan dalam pelajaran umumnya, misalnya mengajukan pertanyaan berkenan dengan apa yang dibaca mempertinggi banyaknya bahan yang diingat. Mungkin ada bermacam-macam jenis strategi seperti, strategi mengingat, strategi mengamati, strategi membentuk hipotesis, dan sebagainya yang diperlukan dalam pemecahan masalah.
Banyak masalah berupa tugas diberikan guru kepada siswa, semua informasi yang dibutuhkan siswa disediakan dalam buku pelajaran. Dan biasanya siswa hanya boleh memberikan satu jawaban yang dianggap benar. Struktur-struktur masalah yang sangat berguna untuk membantu siswa menjawab tujuan-tujuan sesuai prosedur yang sudah ditentukan, namun demikian tidak semua masalah berdasarkan kenyataan. Banyak masalah identik yang disebut struktur masalah yang jelek dengan kata lain suatu masalah tidak benar-benar serius. Untuk struktur masalah seperti ini, siswa harus:
(1) Mengorganisasikan informasi untuk memahami masalah. (2) Mengklasifikasi masalah itu sendiri.
(3) Memperoleh semua informasi yang dibutuhkan. (4) Merekognisi jawaban yang mungkin benar.
Jika suatu tugas menjadi masalah bagi siswa, dan memiliki satu atau lebih kerumitan yang membuat siswa harus bekerja keras untuk mencari jawaban yang digunakannya. Maka pemecahan masalah yang baik membutuhkan hal-hal berikut dalam hubungannya dengan satu masalah yakni ;
(1) Identifikasi secara jelas suatu yang dihadapi. (2) Mencari alternatif untuk menemukan kesulitan.
(3) Menyeleksi dan mencari validasi dan usaha ekstensif dari berbagai alternatif yang diambil.
(4) Jika beberapa alternatif yang dicoba memiliki jawaban yang pasti, dan dukungan alasan yang tepat selain seleksi yang lain biasanya kesulitannya akan di peroleh (Nitko, 1996 : 185). Hal lain yang dapat diperhatikan dalam mengajarkan pemecahan masalah meliputi ; mengajarkan kemampuan umum mengenai
formulasi masalah, identifikasi kendala, hal apa yang diketahui, dalam menilai, dan memperbaiki teknik memecahkan masalah.
Langkah-langkah berikut ini disarankan dalam merencanakan pembelajaran untuk tujuan kemampuan pemecahan masalah yakni:
1. Menganalisis sifat masalah.
Masalah itu menuntut proses apa ? (pengaturan, transformasi, induksi, analisis, dan
sebagainya).
Hal-hal apa saja yang diketahui dalam masalah dan kendala-kendala pada
pemecahan masalah itu ?
Dalam mengembangkan siasat pemecahan masalah secara optimum, langkah-
langkah apa yang perlu dimasukkan ?
2. Menganalisis tingkah laku pemecahan masalah yang baru belajar.
Pada unsur masalah mana pemecahan masalah yang belajar lazimnya
memusatkan perhatiannya ? Bagaimana itu berbeda dengan unsur-unsur masalah yang diperhatikan pemecahan masalah yang sudah mahir ?
Unsur-unsur masalah yang penting apa yang biasanya diabaikan atau
disalahartikan orang yang baru pandai memecahkan masalah ?
Siasat umum apa yang secara khas dijalankan pemecahan masalah yang
baru yang tidak produktif ?
3. Menyajikan masalah kepada siswa dan melaksanakan langkah-langkah yang sesuai untuk membantu siswa melalui proses pemecahan masalah.
Membantu siswa dalam menangani masalah nyata yang dikemukakan, hal-hal yang
diketahui dalam jumlah minimum, dan kendala-kendala yang berasal dari masalah itu.
Membantu siswa dalam merumuskan sub tujuan, membuat analisa, atau siasat lain
yang cocok untuk masalah itu.
Memberi dorongan pada siswa untuk mengutarakan secara lisan tujuan masalah
untuk memecahkan sebelum memulai mengambil langkah. Jika masalahnya bersifat fisik, dorong siswa untuk memvisualisasi masalah itu dan untuk memeriksa kembali asumsinya tentang kenyataan fisik yang di bawah masalah itu.
Memberikan pengarahan kembali jika perlu. Pada akhir latihan soal, tinjau kembali
siasat dan hal-hal ketentuan yang ditemukan oleh siswa. Nilai siasat yang dicoba diterapkan untuk mengetahui keefektifan dan efisiensinya bagi memperbaiki usaha- usaha siswa selanjutnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemecahan masalah adalah suatu pendekatan dalam proses belajar mengajar yang dipandang sebagai bentuk penerapan prinsip-prinsip pada tingkat tinggi, yang digunakan dalam memecahkan suatu masalah atau persoalan yang dihadapi.
D. Penutup
Akan tetapi adalah sebuah kemajuan dalam ilmu sosial jika teori-teorinya mampu diuji secara empiris dan banyak pengagum Durkheim menekankan tempatnya di dalam perkembangan sosiologi dalam segi ini. Karya Durkheim tetap merupakan karya intelektual yang sangat penting sebagai contoh teori-teori fungsionalis-organis tentang masyarakat yang memiliki dasar empiris.
Dalam ilmu-ilmu sains kemampuan berpikir deduktif dan induktif digabungkan dalam menelaah berbagai persoalan di jagat raya, di mana berbagai masalah dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah sebagai paradigma oleh masyarakat keilmuan maka sejarah kemanusiaan menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat. Metode
ilmiah ini dirintis oleh Copernicus (1473-1543), Kepler (1571-1630), Galileo (1564- 1642), dan Ishak Newton (1642-1727). Jadi pemecahan masalah dengan menggunakan metode ilmiah merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis dan tepat sasaran.