• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI

2.2. Teori dan Konsep yang digunakan

2.2.1. Cultural Studies dan Studi Resepsi Khalayak

Cultural studies atau studi kebudayaan mulai dikenal melalui

publikasi buku The Uses of Literacy karya Richard Hoggart, serta The Long

Revolution dan Culture and Society 1780-1950 karya Raymond Williams.

Hoggart dan Williams sama-sama mampu membaca bentuk budaya dalam budaya populer, seperti lagu atau fiksi populer, menggunakan metode kritik teks. Pembacaan bentuk budaya diawali dari menghubungkan teks dengan budaya dan individu dalam masyarakat. Cara sebuah budaya terbentuk dilihat sebagai suatu keseluruhan (Turner, 1990, h. 10). Disebutkan juga oleh Storey (2007, h. 2) bahwa objek kajian cultural studies adalah budaya yang dipahami sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari. Budaya populer menempati posisi sentral dalam proyek cultural studies, di mana menurut Stuart Hall, budaya populer diartikan sebagai tempat di mana hegemoni muncul dan berlangsung, tempat di mana sosialisme boleh diberi legalitas.

. Selain Hoggart, Williams, dan Hall, sejarah cultural studies juga kemudian dilanjutkan oleh E.P. Thompson dan Birmingham Centre for Contemporary Cultural Studies yang membuat studi ini semakin dikenal sebagai British cultural studies (Turner, 1990, h. i).

Cultural studies mulanya dapat dipahami melalui pemikiran Raymond

rajutan makna keseharian dalam nilai, norma, adat dan ungkapan materialis serta simbolis secara bersamaan saling dipertukarkan dan dihayati bersama-sama dalam kehidupan menjadi makna-makna yang dipertukarkan berbersama-sama”. Williams juga menjelaskan tiga ranah budaya yang ditulisnya dalam buku The

Long Revolution. Pertama, penyempurnaan diri manusia tertuju pada makna

pokok universal tertentu. Kedua, kehidupan dihayati sebagai teks kebudayaan yang mencatat struktur imajinasi, pengalaman, dan pemikiran manusia. Ketiga, kajian budaya merupakan usaha mengonstruksi perasaan dalam adat, kebiasaan, dan struktur mentalitas untuk menghayati kehidupan (Putranto, 2006, h. 4-6).

Menurut Turner (1990, h. 11-12), bahasa merupakan aspek mendasar yang digunakan untuk memahami sistem budaya dalam cultural studies. Karenanya, studi ini bukan sebuah teori tentang kebudayaan, melainkan teori bahasa. Ferdinand de Saussure yang merupakan pencetus teori bahasa, melihat bahasa sebagai sebuah mekanisme yang menentukan bagaimana individu memutuskan apa yang menurutnya sebuah objek, sehingga fungsi bahasa adalah mengorganisasi, mengonstruksi, dan menyediakan akses menuju realita. Realita sendiri terbentuk secara relatif karena pembentukkannya melalui konstruksi bahasa dalam budaya.

Pengkajian bahasa dalam budaya selain dilakukan dengan membaca bahasa logis, juga dilakukan dengan studi tanda dalam semiotika. Saussure mengembangkan kajian sistem tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja di masyarakat. Tanda atau kode ditentukan melalui kesepakatan

anggota-anggota kelompok budaya, sehingga yang dapat membawa pesan dan memaknai kode suatu budaya adalah mereka yang merupakan bagian dari kelompok budaya itu sendiri. Kode dengan pesan dan makna di dalamnya disebut teks (Putranto, 2006, h. 4-5).

Menurut Putranto (2006, h.10), cultural studies bermaksud membaca fenomena dinamika kebudayaan yang di dalamnya mengandung kode-kode dan menafsirkan posisi kode dalam teks. Selain membaca, cultural studies juga dapat membedah ideologi dan wacana tersirat di balik pengungkapan budaya dalam tayangan televisi.

Meskipun dapat mengkaji budaya dari sisi medianya, Stokes (2013, h. 44) menekankan bahwa cultural studies berfokus pada khalayak, yaitu membahas pemaknaan dan penggunaan media bagi khalayak. Storey (2007, h. 6) juga menyebutkan bahwa terdapat dialektika antara proses produksi dan aktivitas konsumsi. Untuk memahami budaya khalayak, dibutuhkan informasi dari kedua belah pihak. Dari sisi konsumen dibutuhkan perhatian terhadap detail produksi, distribusi, dan konsumsi budaya, sementara dari sisi produsen dibutuhkan pengetahuan tentang praktik produksi melalui pertanyaan-pertanyaan tentang makna, kesenangan, efek ideologis, dan lain-lain (Storey, 2007, h.7).

Studi khalayak media telah ada sejak 1930 melalui penelitian efek isi media massa pada sikap publik, di mana khalayak masih dianggap bersikap pasif. Pada 1960, studi khalayak berkembang hingga timbul teori Uses &

Gratifications, di mana khalayak dianggap menggunakan media massa untuk

memenuhi kebutuhannya (Hadi, 2009, h. 2). Sejak masa itu, studi khalayak muncul dan tidak lagi dianggap asing oleh dunia.

Resepsi khalayak merupakan salah satu studi yang mempelajari hubungan antara media dan khalayak. Pasalnya, media berperan sebagai fasilitator, penyaring, dan pemberi makna sebuah informasi, sementara khalayak merupakan partisipan aktif dalam membangun dan menginterpretasikan makna atas apa yang mereka baca, dengar, dan lihat sesuai dengan konteks budaya sehingga mampu mengkonstruksi pesan yang ia terima dari media.

… khalayak adalah partisipan aktif dalam membangun dan menginterpretasikan makna atas apa yang mereka baca, dengar dan lihat sesuai dengan konteks budaya. Isi media dipahami sebagai bagian dari sebuah proses dimana common sense dikontruksi melalui pembacaan yang diperoleh dari gambar dan teks bahasa. Sementara, makna teks media bukan lah fitur yang transparan, tetapi produk interpretasi oleh pembaca dan penonton. (John Street dalam Hadi, 2009, h. 3)

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa makna teks media bukan fitur yang transparan, melainkan produk interpretasi khalayak.

Stuart Hall adalah salah satu pencetus studi khalayak media yang berkontribusi dalam menciptakan teori resepsi khalayak atau sering juga disebut teori pemaknaan khalayak. Awalnya, tujuan Stuart Hall menciptakan teori ini adalah untuk memberdayakan orang-orang yang terpinggir yang punya sedikit kesempatan untuk menentukan arah hidup mereka dan sedang berjuang untuk bertahan. Hall memandang media sebagai alat ideologi yang

kuat, yang dimanfaatkan untuk menyokong dominasi atau melayani pihak berkuasa serta mengeksploitasi masyarakat miskin. Keinginan Hall untuk membuka topeng ketidakseimbangan kekuasaan di dalam masyarakat menjadi asal usul terbentuknya teori ini (Griffin, 2005, h. 378,368).

Stuart Hall menaruh perhatian pada peran media dan kemampuan mereka untuk membentuk opini publik mengenai masyarakat yang terpinggirkan, termasuk orang di luar kulit putih dan orang miskin. Orientasi ini menjadi dasar kajian budaya atau sering disebut kajian khalayak yang didefinisikan sebagai perspektif teoretis yang berfokus bagaimana budaya dipengaruhi oleh budaya yang kuat dan dominan. Kajian khalayak berkaitan dengan sikap, pendekatan, dan kritik sebuah budaya. Teori ini menekankan bahwa media menjaga pihak yang berkuasa untuk tetap berkuasa, sementara pihak yang kurang berkuasa menerima mentah-mentah apa yang diberikan kepada mereka berupa cara berpikir dominan kaum elite (West & Turner, 2013, h. 63).

Makna adalah sifat mendasar bahwa komunikasi adalah tentang apa yang normal, apa yang merupakan hiburan, apa yang merupakan berita, apa yang penting, apa yang bernilai, dan apa yang perlu dipercayai individu. Makna-makna tersebut dapat ditemukan oleh individu dalam proses komunikasi. Dari makna yang diperoleh individu, lahirlah efek-efek yang mungkin terjadi pada individu tersebut (Burton, 2008, h. 34).

Dalam proses komunikasi, individu dapat membangun pemaknaan yang berbeda-beda. Individu bukan penerima pasif yang menerima apa saja yang ditawarkan dan makna bukan sesuatu yang secara langsung diberikan pada individu (Burton, 2008, h. 39). John Fiske dalam Croteau & Hoynes (2003, h. 272) juga menyatakan bahwa teks media tidak terbuka begitu saja melainkan memiliki batasan interpretasi yang berbeda-beda tiap khalayak. Oleh karena itu, pemaknaan dapat disimpulkan sebagai bagian dari proses komunikasi yang melibatkan individu membangun makna atas pesan yang ia terima. Setiap individu memiliki pemaknaan yang berbeda atas pesan yang sama.

Teori studi resepsi khalayak Stuart Hall menyebut dua bagian penting dalam hubungan antara media dan khalayak, yaitu produsen pesan (encoder) dan penerima pesan (decoder). Hall dalam Martin (2007, h. 1), menyatakan bahwa media sebagai encoder memproduksi pesan berdasarkan idealisme dan pandangan mereka. Begitu juga khalayak sebagai decoder menerima pesan berdasarkan idealisme dan pandangan mereka. Hal ini memungkinkan terjadinya miskomunikasi atau kesalahpahaman khalayak terhadap apa yang awalnya menjadi intensi media.

Ada tiga momen proses bagaimana media menyampaikan pesan kepada khalayak dengan istilah encoding-decoding dari Hall (Storey, 2007, h.12-13):

1. Momen pertama: Pada momen produksi media (encoding), para profesional media yang terlibat di dalamnya menentukan bagaimana peristiwa sosial ‘mentah’ diproduksi oleh media dalam wacana.

2. Momen kedua: Realitas diolah melalui mediasi dan bahasa sehingga terbentuk makna dan pesan pada suatu wacana.

3. Momen ketiga: Momen pemaknaan teks media (decoding) dilakukan oleh khalayak secara bebas dan dimaknai berdasarkan ideologi khalayak.

Proses pemaknaan pada momen ketiga dipengaruhi oleh dua faktor terutama, yaitu komunikasi dan budaya. Budaya mempengaruhi pemberian maupun penangkapan makna. Dua orang dengan budaya sama akan memaknai sesuatu dengan hampir sama dan dapat mengekspresikan diri, pikiran, perasaan mereka dengan dimengerti satu sama lain. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi, antara lain: usia, kepercayaan, kebudayaan, jenis kelamin, pengalaman, suasana hati saat menerima pesan, dan lain-lain (Griffin, 2005, h, 370).

Khalayak aktif berperan memaknai teks media yang diterimanya, untuk itu Hall menciptakan premis-premis dari model encoding-decoding sebagai berikut (Morley, 1995, h. 85):

1. Peristiwa yang sama dapat dikirimkan atau diterjemahkan lebih dari satu cara.

2. Pesan selalu mengandung lebih dari satu potensi pembacaan. Tujuan pesan dan arahan pembacaan memang ada, tetapi itu tidak akan bisa menutup hanya menjadi satu pembacaan saja: mereka masih polisemi (secara prinsip masih memungkinkan munculnya variasi interpretasi). 3. Memahami pesan juga merupakan praktik yang problematik,

sebagaimana itu tampak transparan dan alami. Pengiriman pesan secara satu arah akan selalu diterima atau dipahami dengan cara yang berbeda.

Ada tiga kategorisasi yang mempengaruhi produksi pesan maupun pemaknaan khalayak menurut Stuart Hall dalam Durham & Kellner (2001, h. 168), yaitu framework of knowledge, relations of production, dan technical

infrastructure. Awalnya, tiga kategorisasi ini dari sisi encoder membentuk

struktur makna dalam proses encoding hingga menjadi sebuah wacana yang ‘berarti’, kemudian wacana tersebut membentuk struktur makna 2 dalam

proses decoding, dan berakhir menjadi tiga kategorisasi yang sama dari sisi

decoder. Tiga kategorisasi ini penting karena menjadi awal dan akhir proses encoding-decoding. Penjelasan ini dapat dilihat melalui diagram di bawah

Gambar 2.1.

Diagram proses encoding-decoding Stuart Hall

(Sumber: Durham & Kellner, 2001, h. 168)

Keberhasilan suatu pertukaran komunikasi tergantung pada derajat kesimetrisan yang terbangun antara produsen pesan dan penerima pesan. Besar kecilnya derajat ini ditentukan oleh perbedaan struktural relasi dan posisi antara media dan khalayak. Semakin banyak perbedaan, semakin besar pula distorsi dan ketidaksepahaman yang terjadi (Durham & Kellner, 2001, h. 169).

Kembali mendukung pernyataan awal bahwa makna bukan fitur yang transparan, wacana yang dimaknai oleh khalayak bukan merupakan peristiwa sosial ‘mentah’, melainkan sebuah terjemahan diskursif dari suatu peristiwa.

produksi: pertama oleh pelaku encoding dari bahan ‘mentah’ kehidupan sehari-hari; kedua oleh khalayak dalam kaitannya dengan lokasinya pada wacana lainnya. Hall menyatakan bahwa momen encoding-decoding mungkin tidak benar-benar simetris. Dengan kata lain, apa yang dimaksudkan dan apa yang diterima bisa jadi berbeda, tergantung dari kondisi eksistensinya (Storey, 2007, 14).

Khalayak akan memaknai suatu peristiwa hanya jika peristiwa tersebut menyertakan interpretasi dan pemahaman terhadap wacana. Jika makna tidak diartikulasikan dalam praktik, artinya peristiwa yang disiarkan oleh media tidak ada efek bagi khalayak (Storey, 2007, h. 13). Selain itu, teori ini memiliki kelemahan, yaitu tidak mampu memprediksi kapan dan di mana penolakan terhadap ideologi media terjadi, tidak ada standar kebenaran dalam produksi pesan media maupun pemaknaannya, serta tidak adanya pengadilan banding melainkan melakukan analisis budaya berdasarkan tindakan iman dan preferensi pribadi (Griffin, 2005, h. 376).

Pada hasil akhirnya, pesan yang dimaknai oleh khalayak akan tergolong dalam tiga kategorisasi. Hall membuat kategori penafsiran khalayak terhadap wacana yang diberitakan oleh media, antara lain (Durham & Kellner, 2001, h. 174-175):

Khalayak memaknai pesan sesuai dengan ideologi dominan yang hendak disampaikan oleh media. Posisi ini menunjukkan bahwa media dan khalayak berada di bawah aturan, asumsi, dan bias budaya yang sama. 2. Penafsiran negoisasi

Khalayak memaknai pesan dengan menerima ideologi dominan secara umum, namun tetap membuat penafsiran alternatif sesuai dengan kondisi sosial khalayak. Posisi ini menunjukkan bahwa media mampu menafsirkan pesan dari khalayak dengan konteks budaya dominan dan pandangan masyarakat.

3. Penafsiran oposisi

Khalayak memaknai pesan secara berlawanan karena pesan yang disampaikan oleh media bertolak belakang dengan ideologi atau kondisi sosial khalayak. Posisi ini menunjukkan bahwa khalayak mampu menafsirkan pesan dengan melihat sebagaimana dimaksudkan oleh media, namun berdasarkan kepercayaan sosial khalayak serta maksud yang mungkin tidak disengaja oleh media.

Dokumen terkait