• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

5.1.2. Saran Praktis

Peneliti juga menyarankan media massa di Indonesia untuk membuat program-program televisi yang tidak hanya sekedar menghibur, namun terlebih penting mampu mengajarkan nilai-nilai moral baik bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, peneliti juga berharap media dalam membuat program televisi tidak hanya mempertimbangkan apa yang disukai khalayak, melainkan mempertimbangkan dampak negatif yang mungkin timbul secara khusus bagi kepentingan khalayak.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Y. (2012, April 3). AMATAN: MISTIK DI LAYAR KACA. Retrieved from Remotivi: http://www.remotivi.or.id/amatan/186/Mistik-di-Layar-Kaca Baran, S. J., & Davis, D. K. (2010). Teori Komunikasi Massa: Dasar,

Pergolakan, dan Masa Depan. Jakarta: Salemba Humanika.

Bungin, B. (2007). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan. Jakarta: Putra Grafika.

Burton, G. (2008). Yang Tersembunyi di Balik Media: Pengantara Kepada Kajian

Media. Yogyakarta: Jalasutra.

Chakraborty, P. (2014). The Law of Karma and Salvation. I(III), 193-195. http://www.ijhsss.com/files/Poulami-chakraborty_753b0sh3.pdf

Chariri, A. (2009). Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.

Croteau, D., & Hoynes, W. (2003). Media Society: Industries, Image and

Audience. Thousand Oaks: Pineforge Press.

Crouch, M., & Heather, M. (2006). The logic of small samples in interview-based qualitative research. Social Science Information, 45(4), 483–499.doi: 10.1177/0539018406069584

Durham, M. G., & Kellner, D. M. (2001). Media and Cultural Studies Keyworks. USA: Blackwell Publishers.

Griffin, E. (2005). A First Look at Communication Theory (5th ed.). New York: McGraw-Hill.

Hadi, I. P. (2009). Penelitian khalayak dalam perspektif reception analysis. Scriptura, 2(1), 1-7.

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/iko/article/viewFile/16951/169 36

Iskandar. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Gaung Persada Press. Jensen, K. B. (1999). Reception Analysis: Mass Communication as The Sosial

Production of Meaning dalam A Handbook of Qualitative Mathodologies for Mass Communication Research. London: Routledge.

Martin, J. (2007). Audiences and Reception Theory. Retrieved from http://juliemartin.org/juliemartin-audiencesreception.pdf

Mast, J. (2016). ‘Reality TV’, what is in a name? Negotiating the ‘real’ in ‘reality

shows’: production side discourses between deconstruction and reconstruction, 1-17.doi:10.1177/0163443716635860

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). An expanded sourcebook qualitative

data analysis. London: SAGE Publications Ltd.

Moleong, L. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Morissan, M. A. (2008). Manajemen Media Penyiaran. Jakarta: Kencana. Morley, D. (1995). Television, Audience and Cultural Studeis. London:

Routledge.

Mulyana, D. (2001). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D., & Rakhmat, J. (2005). Komunikasi Antarbudaya (Panduan

Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya). Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Mulyana, D., & Solatun. (2013). Metode Penelitian Komunikasi: contoh-contoh

penelitian kualitatif dengan pendekatan praktis. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Neuman, W. (2014). Social Research Methods Qualitative and Quantitative

Approaches. Essex: Pearson.

Patton, M. Q. (2002). Qualitative Research and Evaluation Methods (Third ed.). California: Sage Publications.

Putranto, H. et al. (2006). Cultural Studies: Tantangan Bagi Teori-Teori Besar

Kebudayaan. Depok: Koekoesan.

Raco, J. (2010). Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik dan

Keunggulannya. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Samovar, L. A., Porter, R. E., & McDaniel, E. R. (2010). Communication

Between Cultures (6th ed.). Boston: Wadsworth.

Samovar, L. A., Porter, R. E., & McDaniel, E. R. (2010). Komunikasi Lintas

Budaya, Edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika.

Sukoharsono, E. G. (2006). Alternatif Riset Kualitatif Sains Akuntansi: Biografi, Phenomenologi, Grounded Theory, Critical Ethnografi dan Case

Study. Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Malang.

C Centre for Indonesian Accounting and Management Research.

Stokes, J. (2013). How to Do Media and Cultural Studies. London: SAGE Publications, Ltd.

Storey, J. (2007). Pengantar Komprehensif Teori dan Metode Cultural Studied

dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.

Thomas, D. R. (2006). A General Inductive Approach for Analyzing Qualitative Evaluation Data. American Journal of Evaluation, 27(2), 237-246. doi:10.1177/1098214005283748

Turner, G. (2002). British Cultural Studies: An Introduction (Third Edition). London: Routledge.

West, R., & Turner, L. H. (2013). Pengantar Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika.

Yazan, B. (2015). Three Approaches to Case Study Methods in Education: Yin, Merriam, and Stake. The Qualitative Report, 20(2), 134-152. Retrieved from http://www.nova.edu/ssss/QR/QR20/2/yazan1.pdf

Lampiran berikut ini terdiri dari:

1. Formulir konsultasi skripsi

2. Catatan lapangan hasil observasi prasyuting dan syuting Karma 3. Lembar informed consent Informan 1-5 selaku khalayak

4. Transkrip wawancara (open coding) Informan 1: Ratnasari 5. Transkrip wawancara (open coding) Informan 2: Iwan

6. Transkrip wawancara (open coding) Informan 3: Oey Lian Hoa 7. Transkrip wawancara (open coding) Informan 4: Sugihartini Veronica 8. Transkrip wawancara (open coding) Informan 5: Gunawan Tedja 9. Axial coding dari wawancara Informan 1-5

10. Transkrip wawancara Informan Kunci: Yunita, Kelly, dan Yudith Ary Prasetyo selaku pihak tim Karma ANTV

Catatan Lapangan Hasil Observasi Tanggal : Selasa, 26 Juni 2018 Waktu: 13.30 – 15.30 WIB

Tempat : Studio ANTV Kampus Institut Bisnis Nusantara, Jakarta Timur

Hasil :

Peneliti melakukan pengamatan proses syuting Karma dengan maksud membuktikan kebenaran ucapan informan kunci. Sebelum memulai wawancara dengan Yudith Ary Prasetyo, peneliti meminta izin untuk menonton syuting Karma. Setelah mendapat izin, peneliti diberi tahu bahwa syuting akan mulai pada pukul 14.00. Peneliti pun melakukan wawancara dengan Yudith selama 30 menit sembari duduk di sofa depan studio. Setelah wawancara, waktu menunjukkan pukul 13.29. Yudith pamit untuk melakukan persiapan syuting. Peneliti masih menunggu syuting mulai di tempat yang sama.

Pukul 14.35, 30 orang partisipan Karma dan penonton yang tadinya duduk di lantai lobby gedung dan seorang bintang tamu perempuan diminta masuk ke dalam ruang studio oleh tim Karma. Di dalam studio sudah ada para tim Karma, Robby Purba, dan Roy Kiyoshi. Peneliti pun ikut masuk ke dalam studio lalu duduk di dekat pintu masuk. Seorang floor director mengarahkan para partisipan untuk duduk tenang, tidak memperbolehkan mereka untuk duduk dengan memangku tangan di mimbar, memastikan mereka semua sudah menitipkan barang-barang dan telepon genggamnya ke tim Karma, dan meminta mereka mengarahkan wajah ke depan.

Sekitar 20 menit kemudian, syuting dimulai dengan Robby Purba mengucapkan kata pembuka (opening). Pembukaan singkat itu diulang sebanyak dua kali rekaman. Setelah itu, Robby melanjutkan kata pengantar untuk masuk ke partisipan pertama yang adalah bintang tamu pada hari itu, lalu kamera merekam zoom

in ke arah bintang tamu yang duduk di bangku partisipan. Rekaman dihentikan.

Bintang tamu diminta turun ke floor dan berdiri di sebelah kiri Robby, serta tim Karma memasukkan sebuah mimbar ke dalam studio dan diletakkan di depan mereka berdua. Rekaman berlanjut dengan Robby meminta bintang tamu tersebut bercerita tentang pengalamannya diganggu menggunakan ilmu gaib oleh mantan pacarnya. Setelah bercerita singkat, Robby memanggil Roy Kiyoshi. Rekaman dihentikan. Setiap selesai satu kali rekaman, rekaman akan diulang di layar yang dipantau oleh tim Karma.

Rekaman kembali dimulai setelah floor director dan beberapa tim Karma yang berkeliling memberi masukan pada para talent. Syuting dilanjutkan dan kali ini Robby meminta Roy memilih satu orang partisipan untuk turun ke floor. Roy menyebutkan kisah hidup seseorang secara singkat lalu menyebutkan tanggal lahirnya. Kamera

zoom in mengarah ke partisipan tersebut. Syuting dihentikan. Partisipan diminta turun

lagi. Robby meminta partisipan menceritakan kisah hidupnya. Partisipan mulai berbicara menceritakan kisah hidupnya. Roy membuka suara. Dari pengamatan peneliti, tidak ada dari mereka yang berbicara sembari melihat script.

Informan : Ratnawati

Usia : 50 tahun

Status : Menikah

Hari, tanggal : Kamis, 7 Juni 2018 (wawancara pertama) & Rabu, 13 Juni 2018 (wawancara kedua) Waktu : 15.49 WIB (wawancara pertama) &

12.08 WIB (wawancara kedua)

Lokasi : Rumah informan – Citra Garden 1 Extension, Kalideres, Jakarta Barat

R: Informan S: Peneliti

Transkrip Analisis

S: Boleh tolong sebutkan nama, usia?

R: Nama Ratnawati, usia 50 tahun, pekerjaan wiraswasta, pendidikan terakhir D3 Akuntansi, agama Katolik.

S: Oke. Terus kalo saat ini kesibukan tante apa aja? R: Kesibukan sekarang yaa wiraswasta, ngurusin usaha konveksi.

S: Kalau di luar itu mungkin, ibu rumah tangga? R: Iya, ibu rumah tangga paling.

S: Ada ngurus anak mungkin?

R: Anak sudah gede-gede dan kebetulan anak udah di luar kota semua.

S: Ooo, oke.

R: Sekolah di luar kota semua.

S: Em, kalau misalnya tante kan bilang agama Katolik ya.

R: He em.

S: Ada banyak kegiatan agama, ikut gak sih tante? R: Ya.. sebatas lingkungan lah saya ikut. Kegiatan-kegiatan di lingkungan.

S: Oo, aktifnya di mana kalau boleh tau? R: Lingkungan.

S: Jadi apanya?

R: Oh, seksi.. seksi sosial. S: Seksi sosial.. oo oke.

R: He em. Di kepengurusan di lingkungan.

S: Itu.. bisa dibilang aktif pegang jabatan juga mungkin?

R: Pegang ini apa.. bendahara kas sosial.

R berusia 50 tahun, berprofesi wiraswasta, berpendidikan terakhir D3 Akuntansi, menganut agama Katolik.

Kesibukannya saat ini mengurus usaha konveksi dan menjadi ibu rumah tangga.

R aktif dalam kegiatan lingkungan yang berkaitan dengan agamanya.

R memegang jabatan sebagai bendahara kas seksi sosial.

R tidak selalu pergi ke gereja, kadang-kadang saja jika tidak ada urusan.

S: Oo gitu. Oke, kalau ke gereja, setiap minggu ke gereja pasti yah?

R: Eee… Kadang-kadang iya, kadang-kadang nggak. Kalau lagi ada urusan nggak pergi. Hahaha. S: Oo gitu hahaha.

R: Tapi cukup beriman hahaha.

S: Hahaha.. oke oke. Em, oke. Kemudian, seberapa sering sih tante nonton TV?

R: Nonton TV tuh saya bisanya cuma malem aja sepulang kerja. Kalau dari pagi sampai sore tu saya gak bisa, kan kan kerja kita, ya. Paling ee.. di atas jam 7 baru bisa santai nonton TV. Gitu.

S: Biasa jam 7 sampe jam berapa nonton TV nya tan?

R: Sekitar em.. ee.. yang jam 8. Itu saya selalu nonton DAAI TV. Itu kan ada ee apa, story kisah nyata, ya gak? Abis itu ee.. udeh. Nonton sampe ya.. sampe ya jam-jam 12.. jam-jam 11.. jam-jam 1.. udah. Gitu.

S: Itu setiap hari tante nonton TV pasti? R: Iya. He em.

S: Oh.. Senin sampai Minggu?

R: Emm.. Senin sampe Jumat. Kalau Sabtu kita seringnya keluar. Kalo gak ke mana-mana nonton TV. Kalau ada kegiatan di luar, kita gak nonton TV. Kadang kan Sabtu pergi, pulang malem.. S: Minggu juga gitu?

R: Minggu juga sama. Kalau kita lagi di rumah nonton, kalau lagi pergi ngga. Biasa kan kita Sabtu Minggu pergi sama temen lah, pergi sama keluarga lah, atau pergi ke mana. Kadang kan kalau pergi kan pulangnya sampe malem-malem gitu.

S: Oke. Tante emang tontonan favoritnya apa? R: DAAI TV. Yang kisah nyata itu.

S: Mutiara Indonesia bukan?

R: Bukan. DAAI TV yang jam 8 dan jam 9. S: Tiap hari juga ya?

R: Itu tiap hari. S: Oh, drama?

R: He em. Kisah nyata. DAAI TV. Saya lebih seneng nonton itu. Sinetron Indonesia saya gak suka.

S: Oke. Kalau Karma nonton dong tante?

Biasanya R menonton TV sepulang kerja di atas jam 7 malam.

R menonton TV setiap hari, termasuk akhir pekan, kecuali sedang tidak di rumah.

Tontonan favorit R adalah kisah nyata di DAAI TV pukul 20.00 dan 21.00 WIB.

R tidak suka menonton sinetron Indonesia.

R: Karma nonton. Sebenernya itu pun gak sengaja. Sebenernya saya gak khusus nonton Karma. Bukan khusus. Eee.. ceritanya lagi iseng.. pencet.. ee.. pertama yang suka nonton suami saya. Tapi saya waktu dia nonton, ah saya bodo amat lah, saya gak gitu.. ini. Soalnya saya sama film Indonesia, saya gak begitu ini. Apalagi banyak yang settingan, settingan, settingan kayak gitu. Jadi tu gak bikin saya tertarik. Tadinya yang nonton pertama suami saya. Terus eh pas suami saya lagi pergi, saya sendirian di kamar. Ah saya iseng ah, nonton itu. Pas mencet itu, eh ini. Saya ngikutin. Eh kok seru juga ya. Akhirnya di situ jadi keterusan.

S: Jadi bisa dibilang sekarang udah rutin nih nonton Karma?

R: Iya, betul.. Itu Senin sampe Minggu. Hahaha. S: Oh Senin sampe Minggu nonton Karma terus ya.. hahaha.. Kalau menurut tante emang tayangan Karma tuh gimana sih?

R: Nah, itu saya sendiri juga bingung. Bingungnya begini ya. Itu antara settingan atau fakta saya bingung tuh sampe sekarang. Soalnya kalo ee.. jujur, tayang-tayangan yang lain, yang lain-lain ya, seperti Termehek-mehek yang dulu atau yang.. Atau terus apa itu yang Uya Kuya, itu kan semua settingan, disetting ya. Kalo karena ini saya bingung antara settingan atau nggak. Itu itu itu.. ee.. ganjalan gua tuh di situ.

S: Tapi kalau dari tante sendiri, menurut tante yang mana yang asli, yang mana yang kayaknya gak mungkin nih asli?

R: Menurut saya, mungkin.. Mungkin ada cerita begitu tapi namanya dunia pertelevisian mungkin ada ditambah-tambahin, dibumbu-bumbuin, dikemas.. ee.. bagaimana supaya menarik jadi tontonan.

S: Menurut tante jadi kisah aslinya sebenernya benar, tapi dibumbuin lagi, ditambahin lagi.. R: Nah betul.. ditambahin lagi, dikemas.. Ibarat kata begini. Mungkin kejadiannya seperti ini. Ada kejadian seperti ini. Yang saya percaya Roy Kiyoshi anak indigo.

S: Itu percaya?

R menonton Karma. Awalnya R tidak tertarik dengan Karma karena berpikir film Indonesia banyak yang setting-an, namun suatu hari ia iseng nonton. Sejak itu, ia merasa Karma seru dan terus nonton.

R menonton Karma setiap hari, dari Senin-Minggu.

R bingung alias tidak yakin apakah Karma juga setting-an seperti reality show lainnya atau bukan setting-an.

R merasa mungkin ada yang ditambah, dibumbui, dikemas supaya Karma menarik untuk ditonton.

R percaya bahwa Roy Kiyoshi adalah anak indigo.

R: Itu saya percaya. Nah, nah mungkin karena dia anak indigo, dia mengalamin hal-hal yang.. yang hanya dia yang tau dong? Kayak kita kan gak bisa. Nah, mungkin ee.. dikemas ama.. ama production

house, ee.. ditambahin, diiniin, dikemas sebagai

tontonan, supaya menarik. Menurut saya begitu. Tapi kalo untuk yah.. ini untuk ini yah.. Boleh lah, jadi menurut saya.

S: Tapi kalau yang Roy-nya ngomong gitu, kan dia suka bilang saya melihat ada gini gini gini.. gitu.. terus dia kasih saran gitu.. Itu tante percaya apa yang dia omong?

R: Percayanya.. percaya. Karena yang dia ngomong kan selalu kita harus berbuat kebaikan. Kebaikan.. kebaikan.. ee.. kebaikan.. kebaikan.. selalu kan dia iniin kita ee.. memberi saran ke partisipannya, ya kamu harus berbuat begini.. berbuat kebaikan, berbuat kebaikan.. nah gitu. S: Jadi tante percaya ya..

R: He em.

S: Oke, jadi menurut tante yang menarik dari tayangan Karma apa sih, yang bikin tante nonton terus?

R: Ee.. gini. Dari kisah pertama saya nonton, terus sampe saya nonton itu, gini. Setiap orang itu kadang mengalamin suatu masalah. Nah di situ ada pemecahannya. Setiap hari kan masalahnya berbeda-beda. Nah, itu yang bikin saya nonton. Karena setiap hari masalahnya berbeda-beda. Entar ada yang masalah keluarga, entar ada masalah persaingan bisnis, entar ada masalah.. setiap hari kan partisipannya itu masalahnya banyak gitu loh, kompleks. Nah, itu yang bikin aku jadi nonton tiap hari di situ. Pengen tau gitu.

S: Pengen tau.. R: He em.

S: Kalo Karma ini kan banyak tentang hal yang mistisnya juga ya.. yang ntar tiba-tiba ada kuasa gelap, atau apa segala macem. Itu pandangan tante tentang hal-hal tersebut gimana sih? Hal gaib? R: Ada. Ada. Percaya atau tidak. Believe or not. Emang ada dunia lain di luar kita, gitu. Percaya saya. Yang gaib-gaib gitu percaya saya.

R menganggap mungkin isi tayangan Karma dikemas oleh production house supaya menarik.

R percaya pada apa yang dikatakan oleh Roy Kiyoshi karena Roy dianggap selalu menyarankan orang berbuat kebaikan.

R tertarik dan terus nonton Karma karena ingin tahu pemecahan masalah yang berbeda-beda setiap harinya yang diberikan melalui Karma.

S: Percaya ya. Jadi kalo misalnya tadi kan beberapa episodenya ada tuh yang partisipannya kesurupan atau tiba-tiba mimisan apa kenapa, menurut tante itu bener?

R: Iya. S: Bener ya. R: He em.

S: Kalau tante sendiri ada pengalaman tentang.. pengalaman spiritual gitu gak sih?

R: Enggak.

S: Oke. Kalau pandangan tante setelah nonton Karma.. Mungkin sebelum nonton Karma udah percaya atau belum sama dunia spiritual seperti ini? Dan setelah nonton apa mungkin semakin percaya.. atau malah semakin takut.. apa gimana? R: Setelah menonton Karma, saya jadi.. meyakini gini loh. Apa yang akan kita tanam, itu yang akan kita tuai. Jadi, sebisa mungkin saya dalam hidup ini jangan menanam karma buruk.

S: Itu yang tante tangkep ya? R: Hem.

S: Kalo misalnya menurut tante masyarakat Indonesia saat ini gimana sih dalam hal berkaitan dengan dunia mistisnya?

R: Oo jujur, kalo rakyat Indonesia itu masih kental soal mistisnya. Kita boleh percaya tidak percaya. Banyak mitos-mitos terutama di Jawa, ee.. di ratu pantai selatan.. dan lain-lain, itu benar adanya. Saya percaya banget. Kita.. lu ah blablabla.. Tapi itu kenyataan, kadang kejadiannya itu nyata. S: Jadi kira-kira..

R: Kental banget. Kental banget kalo untuk Indonesia.

S: Oke, jadi hal positif apa sih yang tante dapet dari menonton Karma?

R: Hal positifnya itu, bebalik lagi menjadi eee... kayak ck.. jadi kayak saya untuk.. Iya ya, kalau kita ee.. ee.. jadi orang ye harus menanam.. selalu menanam karma baik supaya mendapatkan karma baik. Kita jangan menanam Karma buruk. Kalau kita menanam karma buruk, yang kita tuai juga karma buruk. Gitu. Jadi apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Apa yang kita perbuat sekarang itu, nanti istilahnya tuh.. yang akan datang kita akan

R percaya dengan peristiwa gaib yang terjadi di tayangan Karma.

R tidak punya pengalaman spiritual.

Setelah R nonton Karma, R meyakini apa yang ditanam akan dituai.

R meyakini bahwa masyarakat Indonesia masih sangat kental kaitannya dengan dunia mistis.

Pesan yang ditangkap R dari Karma adalah orang harus selalu menanam karma baik supaya mendapat karma baik. Apa yang ditanam, itu yang dituai. Apa yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan.

pertanggungjawabkan. Jadi setelah nonton Karma, saya harus nanam Karma baik.

S: Nah, pandangan ini sebenernya sudah ada sejak sebelum nonton Karma atau setelah nonton Karma jadi diperteguh lagi, apa gimana?

R: Nah, memang pelajarannya kayak.. kadang kan kita inget, karma loh karma.. kan kita suka, orang sebelum ada film Karma ni kan, lu jangan gitu, karma loh entar.. Nah kita sering-sering denger Karma kan. Karma, karma, karma gitu kan. Nah, setelah ada film Karma ini, semakin menguatkan kita bahwa Karma itu ada.

S: Memang ada ya.

R: Karma itu ada dan kita harus percaya, apa yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan. WAWANCARA KEDUA // 13 JUNI 2018 S: Tante Ratna asal lahirnya di mana? R: Kudus.

S: Oh di Kudus.. R: Iya.

S: Terus selama hidup sampai hari ini, pernah tinggal di mana aja sih?

R: Saya lahir di Kudus, dari kecil sampai SMA di Kudus. Kuliah taon 86 di Semarang sampai selesai kuliah, sampai kerja, sampai taon 92 di Semarang. Taon 93 sampai sekarang di Jakarta.

S: Berarti udah di tiga kota ya? R: He em.

S: Terus selama di tiga kota ini pernah gak sih ngalamin yang kayak.. kan kemarin si om juga bilang, banyak apa, kalau yang di daerah tuh banyak yang mistis gitu-gitu, pernah ngalamin gak sih tante?

R: Kalo selama saya tinggal sih fine-fine aja ya. Gak, gak, saya gak ada ngalamin yang mistis-mistis sih.

S: Kalo misalnya ngeliat sendiri orang lain yang mengalami gitu pernah?

R: Enggak juga.

S: Oh gak pernah? Tapi cuma denger-denger dan percaya?

Melalui Karma, kepercayaan R semakin kuat bahwa karma itu ada.

R pernah tinggal di Kudus, Semarang, dan Jakarta.

R kembali mengatakan bahwa ia tidak pernah mengalami

R: Ya.. Denger-denger eh kalau ke tempat ini gini gini gini.. Paling kalo kita udah tau begitu ya jaga sikap.. kita ati-ati sendiri.. gitu aja.

S: Meskipun belom pernah ngalamin, percaya aja ya?

R: Percaya, percaya.

S: Terus kan tante juga agama Katolik ya. R: Ya, betul.

S: Sejak kapan tante menganut agama Katolik? R: Tahun 9.. sebelumnya sih sudah ya kita.. kalau yang benar-benar dibaptis secara Katolik 93. S: Sebelumnya apa tante?

R: Sebelumnya nih, waktu kecil ikut orangtua Buddha, waktu kecil ikut orangtua Buddha itu sampai SD, Konghucu, ya ikut orang tua. Abis itu ya sama temen, tetangga, diajak ke sekolah minggu Kristen, nah kebetulan itu deket rumah. Ya ikut ajalah namanya masih kecil, yuk ikut sekolah mingguuu. Pergi ikut rame-rame sama temen itu sampe S.. SD sampai saya.. sampai saya kuliah ya, sampai saya kuliah. Tapi belum dibaptis. Terus taon 90 berapa gitu, baru Katolik terus belajar belajar belajar belajar belajar.. belajar.. apa ee.. agama apa, baru bener-bener dibaptis taon 93. S: Terus seberapa sering sih tante beribadah gitu misalnya di agama Katolik sekarang ini?

R: Kalo beri-beri-beri-beri.. maksudnya tiap minggu ke gereja gitu yah?

S: Yah, antara.. boleh ke gereja juga atau boleh yang sendiri..

R: Ooh, kalo sendiri kan banyak yah. Sendiri kadang tuh, saya sering novena. Novena kan macem-macem ya, ada Hati Kudus Yesus, ada

Dokumen terkait