• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.16 Uji Stabilitas Sediaan

3.16.2 Cycling Test

Sampel nanoemulgel disimpan pada suhu 4±2°C selama 24 jam, lalu dipindahkan ke dalam oven yang bersuhu 40±2°C selama 24 jam. Perlakuan ini adalah satu siklus. Percobaan diulang sebanyak 6 siklus dan diamati adanya pemisahan fase. Kondisi fisik nanoemulgel dibandingkan setelah percobaan dengan kondisi fisik nanoemulgel sebelumnya (Wihelmina, 2011).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Identifikasi Tanaman

Identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanense, Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara menyatakan bahwa tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun pegagan (Centella asiatica L.) Urb. dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) yang dapat dilihat pada Lampiran 1 dan 2.

4.2 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Serbuk Simplisia dan Ekstrak Daun Pegagan dan Rimpang Kunyit

4.2.1 Hasil pemeriksaan makroskopik serbuk simplisia

Hasil pemeriksaan makroskopik dari simplisia daun pegagan adalah berbentuk ginjal, pada ujung daun bergerigi, berbentuk seperti ginjal, tetapi sering kali terlipat atau mengerut, warna daun hijau kekuningan, tekstur daun kasar serta agak tebal, memiliki bau yang tidak terlalu tajam.

Hasil pemeriksaan makroskopik dari simplisia rimpang kunyit adalah berupa irisan melintang ringan, bentuk melengkung tidak beraturan, berwarna kuning, dan berbau khas.

4.2.2 Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia

Hasil pemeriksaan mikroskopik dari simplisia daun pegagan adalah secara umum tersusun atas jaringan epidermis, mesofil, dan jaringan pengangkut. Sifat terpenting daun adalah susunan selnya yang kompak dan adanya kutikula dan stomata. Stomata dapat ditemukan di kedua sisi daun (daun amfistomatik), atau hanya di satu sisi yakni disebelah atas atau adaksial (daun epistomatik), atau lebih sering di sebelah bawah atau sisi abaksial (daun hipostomatik) .

Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia rimpang kunyit terdapat adanya amilum, parenkim korteks berisi bahan berwarna kuning, rambut penutup, parenkim stele, berkas pengangkut,periderm.

4.2.3 Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia dan ekstrak

Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia dan ekstrak dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2, dan lampiran perhitungan pada Lampiran 7 dan 8.

Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Daun Pegagan No berturut-turut adalah 9,9948% dan 9,9933% dimana telah memenuhi persyaratan Farmakope Herbal Indonesia, yaitu tidak lebih dari 10% karena apabila melebihi persyaratan, maka simplisia akan mudah ditumbuhi jamur pada saat penyimpanan dan menyebabkan mutu simplisia menjadi menurun. Penentuan kadar air juga terkait dengan kemurnian ekstrak. Kadar air yang terlalu tinggi (> 10%) menyebabkan tumbuhnya mikroba yang akan menurunkan stabilitas ekstrak (Saifudin dkk., 2011).

Kadar sari larut air dari serbuk simplisia daun pegagan sebesar 31,1716%

dan kadar sari larut etanol diperoleh 7,0421% dimana telah memenuhi persyaratan menurut Farmakope Herbal Indonesia, yaitu tidak kurang dari 15,4% untuk kadar sari larut air dan tidak kurang dari 4,4% untuk kadar sari larut etanol. Pengujian kadar sari larut air bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa kimia yang bersifat polar sedangkan penetapan kadar sari larut etanol bertujuan untuk mengetahui kadar sari yang larut dalam pelarut polar maupun nonpolar. Berdasarkan kepolaran dan kelarutan, senyawa yang bersifat polar akan mudah larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa non polar akan mudah larut dalam non polar (Depkes RI, 2000).

Kadar abu total dari serbuk simplisia dan ekstrak daun pegagan berturutturut adalah 7,1448% dan 4,7456%, dimana telah memenuhi persyaratan menurut Farmakope Herbal Indonesia, yaitu tidak lebih dari 11,6% untuk serbuk simplisia dan tidak lebih dari 16,6% untuk ekstrak daun pegagan. Tingginya kadar abu menunjukkan tingginya kandungan mineral internal didalam daun pegagan itu sendiri. Semakin tinggi kadar abu yang diperoleh maka kandungan mineral dalam bahan juga semakin tinggi (Utami, dkk., 2017).

Kadar abu tidak larut asam dari serbuk simpilisia dan ekstrak daun pegagan berturut-turut adalah 1,1579% dan 0,9574%, dimana telah memenuhi persyaratan menurut Farmakope Herbal Indonesia, yaitu tidak lebih dari 2,3%

untuk serbuk simplisia dan tidak lebih dari 2,3% untuk untuk ekstrak daun pegagan. Kadar abu tidak larut asam mencerminkan adanya kontaminasi mineral atau logam yang tidak larut asam dalam suatu produk. Tingginya kadar abu tidak larut dalam asam menunjukkan adanya kandungan silikat yang berasal dari tanah

atau pasir, tanah dan unsur logam perak, timbal dan merkuri (Guntarti dkk., 2015).

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Rimpang Kunyit No

0,2282% 0,0665% Tidak lebih dari 0,9%

Tidak lebih dari 0,1%

Hasil penetapan kadar air dari simplisia dan ekstrak rimpang kunyi berturut turut adalah 9,9923% dan 9,3253% dimana telah memenuhi persyaratan Farmakope Herbal Indonesia, yaitu tidak lebih dari 10% karena apabila melebihi persyaratan, maka simplisia akan mudah ditumbuhi jamur pada saat penyimpanan dan menyebabkan mutu simplisia menjadi menurun. Penentuan kadar air juga terkait dengan kemurnian ekstrak. Kadar air yang terlalu tinggi (> 10%) menyebabkan tumbuhnya mikroba yang akan menurunkan stabilitas ekstrak (Saifudin dkk., 2011).

Kadar sari larut air dari serbuk simplisia rimpang kunyit sebesar 16,7972%

dan kadar sari larut etanol diperoleh 19,7137% dimana telah memenuhi persyaratan menurut Farmakope Herbal Indonesia, yaitu tidak kurang dari 11,5%

untuk kadar sari larut air dan tidak kurang dari 11,4% untuk kadar sari larut etanol. Pengujian kadar sari larut air bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa

kimia yang bersifat polar sedangkan penetapan kadar sari larut etanol bertujuan untuk mengetahui kadar sari yang larut dalam pelarut polar maupun nonpolar.

Berdasarkan kepolaran dan kelarutan, senyawa yang bersifat polar akan mudah larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa non polar akan mudah larut dalam non polar (Depkes RI, 2000).

Kadar abu total dari serbuk simpilisia dan ekstrak rimpang kunyit berturutturut adalah 7,2613 dan 0,2981%, dimana telah memenuhi persyaratan menurut Farmakope Herbal Indonesia, yaitu tidak lebih dari 8,2% untuk serbuk simplisia dan tidak lebih dari 0,4% untuk ekstrak rimpang kunyit. Tingginya kadar abu menunjukkan tingginya kandungan mineral internal didalam rimpang kunyit itu sendiri. Semakin tinggi kadar abu yang diperoleh maka kandungan mineral dalam bahan juga semakin tinggi (Utami, dkk., 2017).

Kadar abu tidak larut asam dari serbuk simpilisia dan ekstrak rimpang kunyit berturut-turut adalah 0,2282% dan 0,0665%, dimana telah memenuhi persyaratan menurut Farmakope Herbal Indonesia, yaitu tidak lebih dari 0,9%

untuk serbuk simplisia dan tidak lebih dari 0,1% untuk untuk ekstrak rimpang kunyit. Kadar abu tidak larut asam mencerminkan adanya kontaminasi mineral atau logam yang tidak larut asam dalam suatu produk. Tingginya kadar abu tidak larut dalam asam menunjukkan adanya kandungan silikat yang berasal dari tanah atau pasir, tanah dan unsur logam perak, timbal dan merkuri (Guntarti dkk., 2015).

4.3 Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia dan Ekstrak Daun Pegagan dan Rimpang Kunyit

Hasil skrining fitokimia serbuk simplisia dan ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan Tabel 4.4

Tabel 4.3 Hasil Skrinning Daun Pegagan

No Uraian Simplisia Daun Pegagan Ekstrak Daun Pegagan

1 Alkaloid + +

2 Flavonoid + +

3 Saponin + +

4 Triterpenoid/Steroid + +

5 Tanin + +

Keterangan: (+) positif : mengandung golongan senyawa

Hasil yang diperoleh dari Tabel 4.3 menunjukkan bahwa serbuk simplisia dan ekstrak daun pegagan mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, saponin, triterpenoid/steroid dan tanin. Senyawa alkaloid, tanin, dan flavonoid yang memiliki kandungan sebagai antibakteri.

Adanya efektivitas antimikroba dari ekstrak daun pegagan berkaitan dengan senyawa metabolit sekunder yang terkandung didalamnya yaitu flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid, dan alkaloid. Senyawa flavonoid memiliki kemampuan membentuk kompleks dengan protein bakteri melalui ikatan hidrogen. Keadaan ini menyebabkan struktur dinding sel dan membrane sitoplasma bakteri yang mengandung protein menjadi tidak stabil sehingga sel bakteri menjadi kehilangan aktivitas biologinya. Selanjutnya, fungsi permeabilitas sel bakteri akan terganggu dan sel bakteri akan mengalami lisis yang berakibat pada kematian sel (Azzahra, 2018).

Senyawa tanin sebagai antimikroba dapat terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu menghambat enzim antimikroba dan meghambat pertumbuhan bakteri dengan cara bereaksi dengan membrane sel dan menginaktivitas enzim- enzim esensial atau materi genetik. Selanjutnya, senyawa tannin dapat membentuk komplek dengan protein melalui interaksi hidrofobik sehinga dengan adanya

ikatan hidrofobik akan terjadi denaturasi dan akhirnya metabolism sel terganggu (Azzahra,2018).

Mekanisme kerja saponin sebagai antibakteri yaitu dengan mendenaturasi protein . karena zat aktif permukaan saponin mirip deterjen maka saponin dapat digunakan sebagai antibakteri dimana tegangan permukaan dinding sel bakteri akan diturunkan dan permeabilitas membran bakteri dirusak. Kelangsungan hidup bakteri akan terganggu akibat rusaknya membran sel. Kemudian saponin akan berdifusi melalui membran sitoplasma sehingga kestabilan membran akan terganggu yang menyebabkan sitoplasma mengalami kebocoran dan keluar dari sel yang mengakibatkan kematian sel (Azzahra, 2018).

Mekanisme aktivitas antimikroba dari triterpenoid dengan merusak fraksin lipid membran sitoplasma, sehingga akan mengganggu proses terbentuknya membran atau dinding sel. Sebagai akibatnya membran atau dinding sel tidak terbentuk atau terbentuk tidak sempurna.

Senyawa alkaloid memiliki aktivitas antibakteri dengan cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut.

Tabel 4.4 Hasil Skrinning Rimpang Kunyit

No Uraian Simplisia Rimpang Kunyit Ekstrak Rimpang Kunyit

1 Alkaloid + +

2 Flavonoid + +

3 Saponin + +

4 Triterpenoid/Steroid + +

5 Tanin + +

Keterangan: (+) positif : mengandung golongan senyawa

Hasil yang diperoleh dari Tabel 4.4 menunjukkan bahwa serbuk simplisia

dan ekstrak rimpang kunyit mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, saponin, triterpenoid/steroid dan tanin. Senyawa alkaloid, tanin, dan flavonoid yang memiliki kandungan sebagai antibakteri. Mekanisme kerja metabolit sekunder yaitu alkaloid, tanin, dan flavonoid sebagai antibakteri yaitu dengan menggangu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel bakteri tersebut (Hasanah, 2018).

Kunyit merupakan salah satu tanaman rempah-rempah yang berfungsi sebagai antibakteri. Kunyit mengandung berbagai senyawa antara lain kurkumin dan minyak atsiri. Minyak atsiri ini dapat digunakan sebagai antibakteri karena mengandung gugus fungsi hidroksil dan karbonil yang merupakan turunan fenol.

Turunan fenol ini akan berinteraksi dengan dinding sel bakteri, selanjutnya terabsorbsi dan penetrasi ke dalam sel bakteri, sehingga menyebabkan presipitasi dan denaturasi protein yang melisiskan membran sel bakteri. Aktivitas antibakteri curcumin adalah dengan cara menghambat proliferasi sel bakteri (Yuliati, 2016).

4.4 Hasil Ekstraksi Daun Pegagan dan Rimpang Kunyit

Hasil ekstraksi dari 300 gram simplisia daun pegagan menggunakan etanol p.a sebanyak 4,5 liter yaitu sebanyak 25,45 gram dengan rendemen 8,4833%.

Hasil ekstraksi rimpang kunyit memenuhi persyaratan Farmakope Herbal 2017 yaitu tidak kurang dari 7,3%.

Hasil ekstraksi dari 300 gram simplisia rimpang kunyit menggunakan etanol p.a sebanyak 4,5 liter yaitu sebanyak 44,17 gram dengan rendemen 14,7233%. Hasil ekstraksi rimpang kunyit memenuhi persyaratan Farmakope Herbal 2017 yaitu tidak kurang dari 11,0%.

4.5 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Pegagan, Ekstrak rimpang kunyit dan Kombinasi Ekstrak Daun Pegagan dan rimpang kunyit Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak daun pegagan, ekstrak rimpang kunyit, dan kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit efektif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Untuk hasil diameter daya hambat ekstrak daun pegagan dan ekstrak rimpang kunyit dapat dilihat pada Tabel 4.5, sedangkan hasil diameter daya hambat kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Pelarut ekstrak atau kontrol negatif yang digunakan adalah Dimethylsulfoxide (DMSO). Hasil dari penelitian ini menunjukkan tidak terbentuknya zona hambat yang menandakan tidak adanya aktivitas antibakteri dari DMSO. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya bahwa DMSO tidak mampu menghambat pertumbuhan bakteri (Sari,2017).

Menurut Davis dan Stout, respon hambat bakteri yang dilihat berdasarkan diameter zona bening dikategorikan menjadi 4 kelompok yaitu dikategorikan lemah apabila diameter zona hambat sebesar 5 mm atau kurang, dikategorikan sedang apabila diameter zona hambat sebesar 5-10 mm, dikategorikan kuat apabila apabila diameter zona hambat sebesar 10-20 mm dan dikategorikan sangat kuat apabila diameter zona hambat sebesar 20 mm atau lebih.

Tabel 4.5 Hasil pengukuran diameter zona hambat pertumbuhan Staphylococcus aureus ekstrak daun pegagan dan ekstrak rimpang kunyit

Ekstrak Konsentrasi Diameter daerah

hambatan (mm)* Keterangan: (*) : Hasil rata-rata tiga kali pengukuran

Gambar 4.1 Pengaruh konsentrasi daun pegagan dan ekstrak rimpang kunyit terhadap daya hambat bakteri Staphylococcus aureus

Dari tabel 4.5 dan gambar 4.1 dapat kita lihat bahwa uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun pegagan terhadap Staphylococcus aureus dengan konsentrasi ekstrak 2%, 2,5% dan 2,75% dan rimpang kunyit dengan konsentrasi 1% ,0,5% ,0,25% menunjukkan bahwa ekstrak dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. 27,5mg/ml-2,5mg/ml 25mg/ml-5mg/ml 20mg/ml-10mg/ml

Konsentrasi Ekstrak

Diamter daya hambat (mm)

Tabel 4.6 Hasil pengukuran diameter zona hambat pertumbuhan Staphylococcus aureus kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit

Konsentrasi Kombinasi

Konsentrasi Ekstrak Kombinasi Diameter daerah hambatan (mm)* Keterangan: (*) : Hasil rata-rata tiga kali pengukuran

Gambar 4.2 Pengaruh konsentrasi kombinasi ekstrak daun pegagan dan

rimpang kunyit terhadap daya hambat bakteri Staphylococcus aureus

Berdasarkan hasil yang tertera pada Tabel 4.6 dan gambar 4.2 uji aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol daun pegagan dan ekstrak etanol rimpang kunyit terhadap Staphylococcus aureus dengan kombinasi konsentrasi ekstrak 2,75% - 0,25%; 2,5% - 0,5% dan 2% - 1% menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak etanol daun pegagan dan ekstrak etanol rimpang kunyit dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.

Rerata diameter zona hambat yang diperoleh dikategorikan menurut Davis dan Stout (1976), sebagai berikut: diameter zona hambat >20 mm dikategorikan

Kombinasi Ekstrak Daun Pegagan-Rimpang Kunyit 12

sangat kuat, zona hambat 10 – 20 mm dikategorikan kuat, zona hambat 5 – 10 mm dikategorikan sedang, dan zona hambat >5 dikategorikan lemah. Dalam hal ini kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit pada konsentrasi 2,75% - 0,25%; 2,5% - 0,5% dan 2% - 1% dikategorikan kuat, namun dapat kita lihat pada konsentrasi 2,5%-0,5% didapatkan daya hambat yang lebih besar daripada konsentrasi yang lain.

4.6 Hasil Formulasi Sediaan 4.6.1 Formulasi nanoemulgel

Nanoemulgel merupakan gabungan nanoemulsi dengan basis gel, sehingga dalam formulasi nanoemulgel, sediaan Nanoemulsi Kombinasi Ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit yang transparan, dengan konsentrasi ekstrak kombinasi 3% (Daun pegagan 2,5% : rimpang kunyit 0,5%) harus dibuat terlebih dahulu, kemudian dicampurkan dengan basis gel (konsentrasi 1%) perbandingan 45:55 kemudian dihomogenkan dengan menggunakan homogeniser dengan variasi kecepatan pengadukan 6000rpm, 9000rpm, 12000rpm, dan 15000rpm selama 10 menit pada suhu kamar hingga homogen sehingga menjadi sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit yang berwarna hijau pekat, berbau khas, dapat dilihat pada Gambar 4.3.

F1 F2 F3 F4

Gambar 4.3 Sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit awal pembuatan

Keterangan:

F1:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (6000rpm) F2:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (9000rpm) F3:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit

(12000rpm)

F4:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (15000rpm)

4.6.2 Formulasi Emulgel

Pada penelitian ini sediaan emulgel yang dihasilkan berwarna hijau pekat dan berbau khas yang dapat dilihat pada Gambar 4.4. Pada formulasi ini bahan aktif yang digunakan ialah ekstrak etanol daun pegagan dan rimpang kunyit, sedangkan fase minyak terdiri dari virgin coconut oil dan span 80; fase air terdiri dari metil paraben, natrium metabisulfit , tween 80, dan akuades ; dan fase gel terdiri dari karbomer 940, TEA dan akuades. Virgin coconut oil dalam formulasi ini berfungsi sebagai fase minyak, karbomer 940 sebagai basis gel, TEA sebagai bahan pengental, span 80 dan tween 80 sebagai surfaktan.

Gambar 4.4 Sediaan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit awal pembuatan

4.7 Hasil Evaluasi Sediaan 4.7.1 Hasil Organoleptis

Hasil pemeriksaan organoleptis sediaan nanoemulgel yaitu berwarna hijau pekat, sedikit kental, beraroma khas dan sediaan emulgel berwarna hijau pekat,

Emulgel

sedikit kental, beraroma khas.

4.7.2 Hasil Pemeriksaan Homogenitas

Pengujian homogenitas dilakukan dengan cara mengoleskan nanoemulgel dan gel pada gelas objek. Nanoemulgel yang baik tidak terdapat butiran kasar pada kaca objek (Depkes RI, 1995). Data hasil uji homogenitas nanoemulgel dan emulgel dapat dilihat pada Gambar 4.5.

F1

Gambar 4.5 Hasil pemeriksaan homogenitas sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang Kunyit

Keterangan:

F1:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (6000rpm) F2:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (9000rpm) F3:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit

(12000rpm)

F4:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (15000rpm)

Pada Gambar 4.5 dapat dilihat bahwa sediaan nanoemulgel dan emulgel yang telah diformulasi tidak ditemukan adanya butiran kasar sehingga dapat disimpulkan bahwa sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun pegagan adalah homogen.

4.7.3 Hasil Penentuan Emulsi

Dari hasil penentuan tipe emulsi pada Tabel 4.7 dan Gambar 4.6 semua sediaan nanoemulgel menghasilkan warna biru yang terdispersi merata sehingga

menunjukkan bahwa nanoemulgel bertipe emulsi minyak dalam air. Penentuan tipe emulsi sediaan dilakukan dengan penambahan sedikit demi sedikit biru metilen ke dalam sediaan, jika larut sewaktu diaduk, maka emulsi tersebut adalah tipe minyak dalam air (Depkes RI, 1985).

Tabel 4. 7 Hasil Penentuan Tipe Emulsi

NO Formula Metil Biru

Merata Tidak Merata

1 F1  -

2 F2  -

3 F3  -

4 F4  -

5 Emulgel  -

F1 F2 F3 F4 Emulgel

Gambar 4.6 Hasil uji Tipe emulsi sediaan nanoemulgel Keterangan:

F1:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (6000rpm) F2:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (9000rpm) F3:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit

(12000rpm)

F4:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (15000rpm)

Uji tipe emulsi menggunakan dispersi zat warna yaitu metilen biru.

Metilen biru merupakan zat warna yang larut dalam air sehingga sediaan dengan tipe minyak dalam air akan larut dalam metilen biru, sedangkan sediaan dengan tipe air dalam minyak akan menampilkan butiran butiran biru yang tidak larut dalam senyawa polar (Mita, 2015).

Berdasarkan Gambar 4.6 dapat dilihat bahwa biru metilen yang ditambahkan ke dalam sediaan terdispersi merata sehingga dapat disimpulkan bahwa tipe sediaan nanoemulgel dan emulgel yaitu minyak dalam air (m/a). Hal ini dikarenakan banyaknya jumlah bahan pada formula yang bersifat hidrofilik dibanding jumlah bahan yang bersifat hidrofobik.

4.7.4 Hasil Pengujian Daya Sebar

Menurut Garg, dkk,. (2002) daya sebar merupakan karakteristik yang penting dalam formulasi dimana dapat menjamin kemudahan pada saat sediaan diaplikasikan di kulit. Pada sediaan semipadat, daya sebar berbanding terbalik dengan viskositas sediaan.

Pengukuran diameter daya sebar dilakukan setelah 1 menit tidak menyebar kembali setelah pemberian beban (Muadifah, dkk., 2019). Daya sebar 5-7 cm menunjukan konsistensi semifluid yang sangat nyaman dalam penggunaan (Wulandari, dkk., 2011).

Daya sebar merupakan karakteristik yang penting dalam formulasi yang menjamin kemudahan saat sediaan diaplikasikan ke kulit yang memengaruhi penerimaan konsumen. Daya sebar sediaan semisolid dipisahkan menjadi semistiff (sediaan semisolid dengan viskositas tinggi) jika diameter penyebaran 3- 5 cm dan semifluid (sediaan semisolid dengan viskositas rendah) jika diameter

penyebaran 5-7 cm. Hal ini disebabkan karena daya sebar dipengaruhi oleh viskositas, dimana semakin tinggi viskositas maka semakin kecil daya sebar (Laverius, 2011).

Sediaan nanoemulgel F1, F2, F3, F4 dan emulgel masih memenuhi persyaratan daya sebar sehingga nyaman dalam penggunaan. Hasil evaluasi daya sebar sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit dapat dilihat pada Tabel 4.8 dan Gambar 4.7.

Tabel 4. 8 Hasil evaluasi daya sebar sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit dengan penambahan beban No Formula

Gambar 4.7 Grafik diameter daya sebar sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit

Keterangan:

F1:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (6000rpm)

Daya Sebar

F2:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (9000rpm) F3:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit

(12000rpm)

F4:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (15000rpm)

4.7.5 Hasil Pengukuran Ph

Kestabilan pH merupakan salah satu parameter penting yang menentukan stabil atau tidaknya suatu sediaan. Derajat keasaman (pH) merupakan pengukuran aktivitas hidrogen dalam lingkungan air. Nilai pH tidak boleh terlalu asam karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit sedangkan jika pH terlalu basa dapat menyebabkan kulit bersisik (Setiawan, 2010; Wasitaatmadja, 1997).

Hasil pengukuran pH sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit pada awal pembuatan dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9 Hasil pengukuran pH sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun pegagan pada awal pembuatan

Formula pH

F1:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (6000rpm) F2:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (9000rpm) F3:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit

(12000rpm)

F4:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (15000rpm)

4.7.6 Hasil Pengukuran Viskositas

Pengukuran viskositas merupakan salah satu faktor penting untuk mengetahui tahanan suatu cairan untuk mengalir, semakin tinggi nilai viskositas, semakin besar tahanannya (Sinko, 2014). Viskositas sediaan dapat dipengaruhi

oleh beberapa hal, seperti proses pengadukan, surfaktan dan kosurfaktan yang digunakan, agen peningkat viskositas yang digunakan, proporsi fase terdispersi, dan ukuran partikel (Ansel, 2005).

Hasil pengukuran viskositas sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit pada awal pembuatan dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Hasil pengukuran viskositas sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit pada awal pembuatan

F1:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (6000rpm) F2:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (9000rpm) F3:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit

(12000rpm)

F4:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (15000rpm)

4.7.7 Hasil Pengukuran Distribusi Ukuran Partikel

Penentuan ukuran partikel merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penyerapan suatu obat melalui kulit. Semakin kecil ukuran partikel akan memudahkan obat melalui lapisan kulit (Basera, dkk., 2015; Asmara, dkk., 2012). Penentuan partikel sediaan nanoemulgel dilakukan dengan menggunakan

Penentuan ukuran partikel merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penyerapan suatu obat melalui kulit. Semakin kecil ukuran partikel akan memudahkan obat melalui lapisan kulit (Basera, dkk., 2015; Asmara, dkk., 2012). Penentuan partikel sediaan nanoemulgel dilakukan dengan menggunakan