• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.8 Hasil Pengujian Stabilitas Fisik

4.8.5 Hasil Uji Cycling test

Metode uji stabilitas cycling test dilakukan pada suhu yang berbeda pada interval waktu sehingga sediaan dalam kemasannya akan mengalami stress yang bervariasi. Pengujian dilakukan dengan menyimpan sediaan pada suhu 4°C selama 24 jam lalu dipindahkan pada suhu 40°C selama 24 jam, perlakuan ini disebut 1 siklus dan dilakukan sebanyak 6 siklus (Firmansyah dan Indah, 2020).

Tabel 4. 19 Hasil cycling test sediaan nanoemulgel

Formula Hasil cycling test

Warna Bau Pemisahan Fase

F1 Hp Kh -

F1:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (6000rpm) F2:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (9000rpm) F3:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit

(12000rpm)

F4:Nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit (15000rpm)

Hp : Hijau Pekat (-) : Tidak terdapat

Kh : Khas (+) : Terdapat

(a) Hasil cycling test sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit sebelum cycling test

(b) Hasil cycling test sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit setelah cycling test

Gambar 4.16 Cycling test

Dari Tabel 4.19 dan Gambar 4.16 pada a dan b dapat disimpulkan bahwa nanoemulgel F1, F2, F3, F4 stabil secara fisik terhadap uji cycling test. Hal ini dapat dilihat bahwa nanoemulgel F1, F2, F3, F4 tidak menunjukkan adanya perubahan warna, bau, dan tidak terjadi pemisahan fase setelah dilakukan uji cycling test.

Sedangkan untuk emulgel menunjukkan terjadinya pemisahan fase setelah dilakukan uji cycling test. Sehingga dapat disimpulkan bahwa emulgel tidak stabil setelah dilakukan uji cycling test. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan emulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit tidak tahan terhadap perubahan stress bervariasi yaitu perubahan suhu yaitu suhu tinggi dan suhu rendah.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Kombinasi ekstrak daun pegagan (Centella asiatica L.) Urb dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dapat diformulasikan ke dalam bentuk sediaan nanoemulgel dan mempunyai sifat fisik yang memenuhi syarat evaluasi nanoemulgel dan stabil secara fisik.

2. Terdapat pengaruh kecepatan pengadukan terhadap ukuran partikel pada formulasi sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan (Centella asiatica L.) Urb dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.), dimana semakin tinggi kecepatan pengadukan maka semakin kecil ukuran partikel yang dihasilkan.

3. Sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan (Centella asiatica L.) Urb dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter zona hambat yang termasuk dalam kategori kuat yaitu F3 sebesar 13,00mm±0,06 dan F4 sebesar 13,23mm±0,32.

4. Sediaan nanoemulgel, emulgel, dan ekstrak memiliki daya hambat yang kuat terhadap bakteri Staphylococcus aureus yaitu F3 sebesar 13,00mm±0,06 dan F4 sebesar 13,23mm±0,32; emulgel sebesar 11,67mm±0,1; ekstrak sebesar 11,6mm±0,1 dan betadine sebesar 10,83mm±0,45.

5.2 Saran

Kepada peneliti selanjutnya disarankan:

1. Untuk melakukan formulasi sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan (Centella asiatica L.) Urb dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dengan variasi konsentrasi formula, lamanya pengadukan dan suhu pembuatan.

2. Untuk melakukan uji lanjutan seperti uji in-vivo sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan (Centella asiatica L.) Urb dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) terhadap hewan uji dan juga uji iritasi terhadap sukarelawan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S.A., Euis, H.H., Lukman, M., Yana, M.S., Lia, D.J., dan Didin,M.

2008. Tumbuh-Tumbuhan Obat Indonesia Jilid I. Bandung: Penerbit ITB.

Halaman 131

Adam, S. 1992. Dasar-dasar mikrobiologi dan parasitologi untuk perawat.

Jakarta: EGC.

Adi, D. A., dan Ardiansyah. 2020. Eksplorasi dan Pemanfaatan Biodiversitas dalam Menunjang Pembangunan Nasional Berkelanjutan. Prosiding Seminar Nasional Biologi.

Allen, L.V., 2002, The Art, Science, and Techology of Pharmaceutical Compounding, 2nd edition, America Pharmaceutical Association, Washington D.C, Halaman 302.

Ambrose DCP., Manickavasagan A., and Naik R. (2016). Leafy medicinal herbs:

botany, chemistry, postharvest technology and uses, Leafy Medicinal Herbs: Botany, Chemistry, Postharvest Technology and Uses. London:

CABI. doi: 10.1079/9781780645599.0000.An Update. Pharmaceutical Technology.

Anief. (1996). Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Halaman 129, 139-140, 144-145.

Ansel, H. C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Jakarta:

Penerbit UI Press. Halaman 158, 387-389.

Anu HV, Amat ALS, Sasputra IN, 2019. Perbandingan Efektivitas Ekstrak Pegagan (Centella asiatica L.) Urban) dengan Salep Gentamisin Terhadap Penyembuhan Luka Insisi Tikus Putih Sprague Dawley. Jurnal Cendana Medikal. 18(2).

Ariani, L.W., dan Wulandari. 2020. Stabilitas Fisik Nanogel Minyak Zaitun (Olea europaeae). Jurnal Ilmiah Cendekia Eksakta. 5(2): 101-108.

Artanti N, Dewi TR, Maryani F, 2014. Pengaruh Lokasi dan Pelarut Pengekstraksi Terhadap Kndungan Fitokimia Dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Pegagan (Centella asiatica L. Urb). JKTI. 16(2).

Arundina I, Suardita K. Efek pegagan (Centella asiatica L) terhadap proliferasi mesenchymal stem cell. Dentofasial 2014; 13(1): 43-7.

Asmara, A., Daili, S. F., Noegrohowati, T., dan Zubaedah, I. 2012. Vehikulum Dalam Dermatoterapi Topikal. Media Dermato-Venereologica Indonesiana. 39(1): 28.

Attwood, D., 2002, Pharmaceutics, In The Science of Dosage Form Design 2nd ed.,Edited by Aulton, M. E., Churchill Livingstone: Edinburgh.

Azzahra F, Hayati M. Uji aktivitas ekstrak daun pegagan (Centella asiatica (L).

urb) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. J B-Dent 2018;

5(1): 9-19.

Basera, K., Bhatt, G., Kothiyal, P., dan Gupta, P. (2015). Nanoemulgel: A Novel Formulation Approach for Topical Delivery of Hydrophobic Drugs.

World Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 4(10): 1872- 1876.

Besung INK, 2009. Pegagan (Centella asiatica) sebagai alternatif pencegahan penyakit infeksi pada ternak. Buletin Veteriner Udayana. 1(2): 61-67.

Bhanu, P.V., Shanmugam, V., dan Lakshmi, P.K. 2011. Development and

Optimization of Novel Diclofenac Emulgel for Topical Drug Delivery.

Pharmace Globale (IJCP). 9(10): 1-4.

Bouchemal, K., Briancon, S., Perrier, F dan Fessi, H. 2014. Nanoemulsion Formulation Using Spontaneuous Emulsification: Solvent,Oil and Surfactant Optimisation.International Journal of Pharmaceutics. Vol 280(1-2).

Chellapa, P., Mohamed, A. F., Keleb, E. I., Elmahgoubi, A., Eid, A. M., Issa, Y.

S., dan Elmarzugi, N. A. 2015. Nanoemulsion and Nanoemulgel as a Topical Formulation. IOSR Journal of Pharmacy. 5(10): 43-45.

Darma TV, Santoso ML, Riyanto, 2017. Pengaruh Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica) Terhadap Siklus Estrus Mencit (Mus musculus L.) Dan Sumbangannya Terhadap Pembelajaran Biologi SMA. Jurnal Pembelajaran Biologi. 4(1).

Davis, W. W. dan T. R. Stout. 1971. Disc plate methods of microbiological antibiotic assay. Microbiology 22: 659-665.

Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI, Halaman. 7 – 8.

Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Halaman 5.

Dewi, R., Anwar, E., Yunita, K.S. 2014. Uji Stabilitas Fisik Formula Krim yang Mengandung Ekstrak Kacang Kedelai (Glycine max). Universitas Indonesia, Depok.

Ditjen POM. 1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI. Halaman 1-11.

Eid, A. M., El-Enshasy, H. A., Aziz, R., dan Elmarzugi, N. A. 2014. Preparation, Characterization, and Anti-Inflammatory Activity of Swietenia macrophylla Nanoemulgel. Journal of Nanomedicine and Nanotechnology. 5(2): 1-2, 5.

Endarini, L.H. 2016. Buku Ajar: Farmakognosi dan Fitokimia. Jakarta:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 145

Evizal, R. 2013. Tanaman Rempah dan Fitofarmaka. Bandar Lampung: Lembaga Penelitian Universitas Lampung. Halaman 36-37.

Firenzuoli, F., Gori, L. 2007. Herbal Medicine Today: Clinical and Research Issues. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine. Vol 4(S1): 37- 40.

Firmansyah, D. dam Indah, S. 2020. Formulasi Dan Uji Stabilitas Ekstrak Etanol Daun Lidah Buaya (Aloe vera L.) Konsentrasi 1% Dan 4%. Medimuh.

1(1) : 9

Fitriansyah, S.N., dan Gozali, D. 2014. Formulasi dan Evaluasi Fisik Sediaan Krim Pelembab Dimethylsilanol Hyaluronate dengan Penambahan Basis Nano dan Fase Minyak Kelapa Murni. Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology. 3(1): 31-41.

Furi, T. A. dan Coniwanti, P. 2012. Pengaruh Perbedaan Ukuran Partikel dari Ampas Tebu dan Konsentrasi Natrium Bisulfit (NaHSO3) pada Proses Pembuatan Surfaktan. Jurnal Teknik Kimia. 4(18): 55.

Gadhave, A. D., 2014, Nanoemulsions: Formation, Stability and Applications, IJRSAT, 2 (3), 38-43.

Garg, A., Aggarwal, D., Garg, S., dan Singla, A.K. (2002). Spreading of Semisolid Formulation: An Update. Pharmaceutical Technology. Halaman 29,556-567.

Gullota, A., Saberi, A. H., Nicoli, M. C., and McClements, D. J., 2014, Nanoemulsion-Based Delivery Systems for Polyunsaturated (ω-3) Oils:

Formation Using a Spontaneous Emulsification Method, J. Agric. Food Chem., 62, 1720-1725.

Gunawan, D., dan Mulyani, S. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi). Jilid I.

Yogyakarta: Penerbit Swadaya. Halaman 70.

Guntarti, A., Sholehah, K., Irna, N. dan Fistianingrum, W., 2015, Penentuan Parameter Non Spesifik Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana) Pada Variasi Asal Daerah. Farmasains. 2(5): 202-207.

Gupta, Y, K. and M. H. V. Kumar. 2006. Effect of Centella asiatica L. On pentylenetetrazole-induced kindling, cognition and oxidative stress in rats.

Journal Pharmacology Biochemistry and Behavior.(3) : 579-58.

Harwansh, R. K., Mukherjee, P. K., Bahadur, S dan Biswas, R. 2015. Enhanced permeability of ferulic acid loaded nanoemulsion based gel through skin against UVA mediated oxidative stress. Life Sciences.141, 202–211.

Hermawan, A., 2007, Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Dengan Metode Difusi Disk, Artikel Ilmiah, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga Surabaya.

Indrayanto, G. 1987. Produksi Metabolit Sekunder dengan Teknik Kultur Jaringan Tanaman. Seminar Nasional Metabolit Sekunder. PAU Bioteknologi- Universitas Gajah Mada. pp. 4-6

Jagtap NS, Khadabadi SS, Ghorpade DS, Banarase NB, Naphade SS.

Antimicrobial and antifungal activity of centella asiatica (l.)urban, umbeliferae. Research J. Pharm. and Tech. 2009; 2(2).

Jain, A., Gautam, S.P., Gupta, Y., Khambete, H., dan Jain, S. 2010. Development and Characterization of Ketoconazole Emulgel for Topical Drug Delivery. Dermatological Pharmacia Sinica. 1(3): 221-231.

Jawetz, Ernest. 1996. Mikrobiologi Kedokteran edisi 20. Jakarta: EGC.

Journal of Pharmacy & Pharmacognosy Research. 2(4), 73-92.

Kammona O, Costas K. 2012. Recent advances in nanocarrier-based mucosal delivery of biomolecules. Journal of Controlled Release. 161: 781-794.

Kemenkes RI. 2017. Farmakope Herbal Indonesia. Edisi II. Jakarta:

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 268-271.

Khullar, R., Nimrata, S., Seema, S., dan Rana, S. 2012. Emulgels: A Surrogate Approach For Topically Used Hydrophobic Drugs. International Journal of Pharmaceutical and Biological Sciences. 1(3): 117-128.

Koroleva, M. Y., and Yurtov, E. V., 2012, Nanoemulsions: the properties, methods of preparation and promising applications, Russian Chemical Reviews, 81 (1), 21-43.

Kristanti NA, 2010. Potensi Ektrak Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) Dosis Tinggi Sebagai Antifertilitas Pada Mencit (Mus musculus) Betina.

skripsi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Malang.

Kristina N.N, Noveriza R, Syahid R.S, Rizal M, 2007. “Peluang Peningkatan Kadar Kurkumin pada Tanaman Kunyit dan Temulawak”. Balai

Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik.

http://balito.litbang.deptan.go.id//edisikhusus/2007_01/edisikhusus2007_0 1_01.pdf halaman 1,2- 5

Kurnianto S, Kusnanto, Padoli, 2017. Penyembuhan Luka Bakar Pada Tikus Putih Dengan Menggunakan Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica) 25% dan Ekstrak Daun Petai Cina (Leucaena leucocephala) 30%. Jurnal Ilmiah Kesehatan. 10(2).

Kusmiyati & Agustini, N. W. S., 2007, Uji Aktivitas Antibakteri dari Mikroalga Porphyridium cruentum, Biodiversitas, 8, 1412-03.

L, Lusi. 2011. Cara Mengetahui Ukuran suatu Partikel. Banten: Nanotech Indonesia.

Laverius, M. F. 2011. Optimasi Tween 80 dan Span 80 sebagai Emulsifying Agent serta Carbopol sebagai Gelling Agent dalam sediaan Emulgel Photoprotector Ekstrak Teh Hijau (Camellia sinensis L.): Aplikasi Desain Faktorial. Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Sanata Dharma. Depok.

Lay, B. W., Sugiyo, H. 1994. Analisis mikroba di laboratorium. Jakarta: Raja Grafindo Persada Halaman: 34, 72, 73.

Liantari DS. Effect of wuluh starfruit leaft extract for Streptococcus mutans growth. J Majority 2014; 3(7): 27-32.

Lieberman, H.A., Rieger, M.M., dan Banker, G.S., (Eds), 1996, Pharmaceutical Dosage Form:Disperse System, volume 1, 2 th ed., Marcel Dekker Inc., New York, hal. 57, 115.

Mahdi, E. S., Sakeena, M. H. F., Abdulkarim, M., Sattar, M., Noor, A. M., &

Abdullah, G. 2011. Formulation and in vitro release evaluation of newly synthesized palm kernel oil esters-based nanoemulsion delivery system for 30% ethanolic dried extract derived from local Phyllanthus urinaria for skin antiaging. International Journal of Nanomedicine, 2499.

Mambang, D.E.P., Rosidah, dan Suryanto. 2014. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tempe Terhadap Bakteri Bacillus subtillis dan Staphylococcus aureus.

Jurnal Teknologi. Halaman 34,56

Marks, Dawn B, Allan D Marks and Collen M. Smith. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar Sebuah Pendekatan Klinis. EGC. Jakarta

Martin, A., Swarbrick, J., danCammarata, A. (2009 Farmasi Fisik Dasar-Dasar Kimia Fisik dalam Ilmu Farmasetik.Edisi Ketiga Jakarta: Universitas Indonesia. Halaman 1095-1096.

Maryunani, Anik. (2013). Perawatan Luka (Modern Woundcare) Terlengkap dan Terkini. Jakarta : In Media

Maulidya S, Sari A. 2016. Formulasi Sediaan Salep Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit (Curcuma longa Linn) SEL Vol. 3No. 1 Juli 2016: 16-23

Mirza I., Riyadi H., Khomsan A., Marliyati SA., Damayanthi E. dan Winarto A.

(2013). The Effect of Ethanol Extract of Gotu Kola Leaf (Centella asiatica (L.) Urban) on Hematological Profile , Activities , and Cognitive Function. Jurnal Kedokteran Hewan, 7(2): 137– 140. doi:

10.21157/j.ked.hewan.v7i2.927.

Mita, N. 2015. Formulasi Krim Dari Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.) Berkhasiat Antioksidan. Journal Trop. Pharmacy Chemistry. 3(1): 18.

Moerfiah, Muztabadihardja, Dewi PS, 2014. Efektivitas Sediaan Salep Ekstrak Herba Pegagan (Centella asiatica (L) Urb) Untuk Penyembuhan Luka Pada Mencit Jantan (Mus musculus albinus). Fitofarmaka. 4(1).

Mohammed, M. 2004. Optimation of Chlorphenesin Emulgel Formulation. The AAPS Journal. 6(3):1-7.

Montenegro, L. 2014. Nanocarriers for skin delivery of cosmetic antioxidants.

Morison, Moya J.,2004, Manajemen Luka, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Muadifah, A., Amalia, E.P., dan Nur, L. 2019. Aktivitas Gel Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus. Jurnal SainHealth. 3(1): 46.

Mukhriani. 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa Aktif.

Jurnal Kesehatan. 7(2): 361-363.

Mulia, K., Rosalia, M. A., Ramadhan, Krisanti, E. A. 2017. Formulation And Characterization Of Nanoemulgel Mangosteen Extract In Virgin Coconut Oil For Topical Formulation. RSCE 2017: 3..

Oryza, A. 2010. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Pegagan (Centella asiatica (L). Urb.) Terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan Metode Bioautografi. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Pangemanan, A., Fatimawali., Budiarso. F. 2016. Uji daya hambat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas sp.Jurnal eBiomedik (eBM).Volume 4, Nomor 1.

Panwar, A.S., Upadhyay, N., Bairagi, M., Gujar, S., Darwhekar, G.N., dan Jain, D.K. 2011. Emulgel : A Review. Asian Journal of Pharmacy and Life Science. 3: 333-343.

Patel, J., Patel, A., Raval, M., dan Sheth, N., 2011. Formulation and Development of a Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System of Irbesartan. Journal of Advanced Pharmaceutical Technology & Research. 2: 9–16.

Pelczar MJ & ECS Chan. (1988). Dasa rdasar Mikrobiologi 2. Jakarta: UI Press.

Permadi A, 2008. Membuat Kebun Tanaman Obat. Jakarta: Pustaka Bunda (Grup Puspa Swara), Anggota Ikapi. Halaman 45-46.

Pratiwi, Sylvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Yogyakarta: Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada: Erlangga.

Putri, M.H., Sukini dan Yodong. 2017. Mikrobiologi Keperawatan Gigi. Jakarta:

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 11, 30, 309.

Rajesh H. et al., 2013. Phytochemical Analysis Of Methanolic Extract Of Curcuma Longa Linn Rhizome, International Journal Of Universal Pharmacy And Bio Sciences, ISSN 2319-8141

Ramadhan, NS., Rasyid, R., Elmatris. 2015. Daya Hambat Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiarica) yang Diambil di Batusangkar Terhadap Pertumbuhan Kuman Vibrio Cholerae secara Invitro. Jurnal Kesehatan Andalas 2015; 4(1). Padang: Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Saifudin, A., Rahayu., Teruna. 2011. Standarisasi Bahan Obat Alam. Yogyakarta:

Graha Ilmu

Salager, J.R., Marquez, L., Mira, I., Perez, M., Ramirez, M., Tyrode, E., Zambrano, N., Choplin, L. (2001). Emulsification Efficiency Related to The Combination of Mechanical Energy Input and System Formulation and Composition Variables. International Symposium on Mixing in Industrial Processes, 280-284.

Schultz, S., Wagner, G., Urban, K., and Ulrich, J., 2004, High-Pressure Homogenization as a Process for Emulsion Formation, Chem. Eng.

Technol., 27 (4), 361-368.

Shah, P., Bhalodia, D., dan Shelat, P. 2010. Nanoemulsions: A Pharmaceutical aReview. Systematic Reviews in Pharmacy. 1(1): 26-30.

Shakeel F., Baboota S., Ahuja A., Ali J., Faisal M.S., dan Shafiq S., 2008, Stability Evaluation of Celecoxib Nanoemulsion Containing Tween 80,Thai Journal Pharm. Sci,32: 4-9.

Sinko, P.J. (2014). Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika. Edisi Kelima. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Sjamsuhidajat, R and Wim de jonh. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi Jakarta1: EGC.

Somboonwong J, Thanamittramanee S, Jariyapongskul A, Patumraj S: Wound healing activities of different extracts of Centella asiatica in incision and burn wound models: an experimental animal study. J Med Assoc Thai 2016, 83:417–425.

Suariadi. 2004. Perawatan Luka. Cetakan I. Cv. Sagung Seto. Jakarta.

Sudarmi K, Darmayasa IB, Muksi IK. Uji fitokima dan daya hambat ekstrak daun juwet (Syzygium cumini) terhadap pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus ATCC. Jurnal Simbiosis.

2017;2(47-51).

Sudarmi K, Darmayasa IB, Muksi IK. Uji fitokima dan daya hambat ekstrak daun juwet (Syzygium cumini) terhadap pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus ATCC. Jurnal Simbiosis. 2017;2(47-51).

Sumayyah, S. dan Salsabila, N. 2017. Obat Tradisional : Antara Khasiat dan Efek Sampingnya. Majalah Farmasetika. 2(5): 2.

Suriadi. 2007. Manajemen Luka. Romeo Grafika. Pontianak

Susanto, R.C. dan Made, A.M. 2013. Penyakit Kulit dan Kelamin. Yogyakarta:

Nuha Medika. Halaman 1-4, 8-9, 11, 13.

Sutardi. 2016. Kandungan bahan aktif tanaman pegagan dan khasiatnya untuk meningkatkan sistem imun tubuh. J litbang pertanian.

Tsabitah A,W., Abdul K, Z ., , Dwi A, N,. Optimasi Carbomer, Propilen Glikol, dan Trietanolamin Dalam Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Kembang Bulan (Tithonia diversifolia). Majalah Farmaseutik Vol. 16 No. 2: 111-118. Hal 12-113

Turnip, N. U. M. B., Nurdianti., dan Dwicahya, C. A. 2020. Uji Efektivitas Antibakteri Sediaan Salep Dari Ekstrak Daun Kersen (Muntingia Calabura L.) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus. Jurnal Farmasimed (Jfm), 2(2), 85-90.

Ulaen, Selfie P.J., Banne, Yos Suatan & Ririn A., 2012, Pembuatan Salep Anti Jerawat dari Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), Jurnal Ilmiah Farmasi, 3(2), 45-49.

Utami, Y.P., Umar, A.H., Syahruni,R., Kadullah, I. 2017. Standardisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Leilem (Clerodendrum minahassae Teisjm. &

Binn.). Journal of Pharmaceutical and Medicinal Sciences. 2 (1): 32- 39.

Voight, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Soewandhi, S.N., dan Widianto, M.B., Gadjah Mada University Press, Yogyakarta., pp. 141 – 145, 316 – 434.

Wasitaatmadja, S.M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Penerbit UI Press. Halaman 112-117.

Widiastuti, R.K. (2008). Uji penurunan kadar glukosa darah ekstrak etanol herba daun sendok (Plantago mayor L.) pada tikus jantan yang diberi glukosa.

Skripsi . Universitas Muhammadiyah Surakarta. 1-4.

Wihelmina, C. E. 2011. Pembuatan dan Penentuan Nilai SPF Nanoemulsi Tabir Surya Menggunakan Minyak Kencur (Kaempferia galanga L.) sebagai Fase Minyak. Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Indonesia. Jakarta Wijayakusuma, H.M.H.,1992. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. Jakarta:

Pustaka Kartini.

Winarto WP, Surbakti M, 2005. Khasiat & Manfaat Pegagan: Tanaman Penambah Daya Ingat. Cetakan 4. Jakarta: Agromedia Pustaka

Wooster TJ, Golding M, Sanguansri P. 2008. Impact of oil type on nanoemulsion formation and Ostwald ripening stability. Langmuir. 24(22):12758–

12765.

Wulandari, E.R., Indri, H., dan Dwi, H. 2011. Daya Repelan Gel Minyak Atsiri Bunga Kenanga (Cananga odorata (Lmk) Hook.f & Thoms) Dalam Basis Cmc Na, Terhadap Nyamuk Aedes aegypt. Pharmacy. 8(1).

Wuryandari, T., Sugihartini, N., Kintoko. 2019. Emulgel Formulation of Purified Extract of Moringa (Moringa oleifera L.) Leaf. Fol Med Indones. 55(1) :17-24.

Yuliati. 2016. Uji Efektivitas Ekstrak Kunyit Sebagai Antibakteri Dalam Pertumbuhan Bacillus sp Dan Shigella dysentriae Secara In Vitro. Jurnal Profesi Medika: 1(1): 26 dan Industri Pangan. 25(1): 116.

Zhang, L., Zhang, I., Zhang, M., Pang, Y., Li, Z., Zhao, A., dan Feng, J. 2015.

Self-Emulsifying Drug Delivery System and the Applications in Herbal Drugs. Drug Delivery. 22(4): 475-477.

LAMPIRAN Lampiran 1. Hasil Identifikasi Tumbuhan

Lampiran 2. (Lanjutan)

Serbuk Simplisia (300 gram)

dicuci dengan etanol p.a 1,5 L diaduk sebentar

didiamkan disaring

digabung

dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu 50 ℃ dipekatkan ekstrak dengan oven pada suhu 40 ℃

Maserat II

Maserat I Ampas

Lampiran 2. Bagan Alir Penelitian

a. Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Pegagan dan Rimpang Kunyit

dimasukkan ke wadah maserasi dimasukkan etanol p.a sebanyak 3 L direndam selama 6 jam, sambil diaduk sesekali

didiamkan selama 18 jam terlindung dari cahaya

b.Bagan Alir Pembuatan Nanoemulsi Ekstrak Etanol Daun Pegagan dan Rimpang Kunyit

Aquadest

ditimbang

dimasukkan kedalam lumpang ditimbang Span 80 dan VCO ditambahkan sedikit demi sedikit Span 80 dan VCO ke dalam lumpang sambil digerus hingga halus dan homogen

didihkan di hotplate

dilarutkan Metil Paraben dan Natrium Metabisulfit dalam akuades hingga larut

diaduk campuran dengan homogenizer

ditambahkan Tween 80 sedikit demi sedikit kedalam larutan saat kondisi hangat

diaduk campuran dengan homogenizer dengan kecepatan 400 rpm

Fase Minyak Fase Air

ditambahkan fase minyak setetes demi setetes ke dalam fase air

c. Alir Pembuatan Sediaan Nanoemulgel Ekstrak Etanol Daun Pegagan dan

dilarutkan Metil Paraben dan Natrium Metabisulfit dalam akuades hingga larut dituangkan kedalam lumpang

ditaburkan Karbopol 940 di atasnya didiamkan selama 24 jam

digerus sambil ditetesi TEA sedikit demi sedikit hingga terbentuk massa yang homogen dan transparan pengaduk magnetik dengan kecepatan 400 rpm

diteteskan secara perlahan nanoemulsi ke dalam beaker glass sambil diaduk dengan homogenizer

dihomogenkan mengunakan homogenizer dengan variasi kecepatan 6000 rpm, 9000 rpm, 12000 rpm, 15000 rpm selama 10 menit pada suhu kamar hingga homogen Nanoemulgel Ekstrak Etanol

Daun Pegagan dan Rimpang Kunyit

Lampiran 3. Hasil Pemeriksaan Makroskopik Serbuk dan Simplisia a. Hasil Pemeriksaan Makroskopik Serbuk dan Simplisia Daun Pegagan

Gambar Daun Pegagan Gambar simplisia daun pegagan

Serbuk simplisia daun pegagan Ekstrak kental

b. Hasil Pemeriksaan Makroskopik Serbuk dan Simplisia Rimpang Kunyit

Gambar rimpang rimpang kunyit Simplisia

Lampiran 3.Lanjutan

Serbuk simplisia Ekstrak kental

Lampiran 4. Hasil Pemeriksaan Mikroskopik Serbuk Simplisia

a. Hasil Pemeriksaan Mikroskopik Serbuk dan Simplisia Daun Pegagan

Stomata

Rambut Kelenjar

b. Hasil Pemeriksaan Mikroskopik Serbuk dan Simplisia Rimpang Kunyit

a. Berkas pengangkut b. Rambut penutup c. Periderm

c. d. Amilum e. Parenkim stele f. Parenkim korteks

Lampiran 5. Perhitungan % Rendemen Ekstrak Etanol 1. Daun Pegagan ( Centella asiatica L.) Urb.

% Rendemen Ekstrak Daun Pegagan = 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘

𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠i𝑚𝑝𝑙i𝑠i𝑎

= 24,45 × 100%

300

= 8,4833%

2. Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.)

% Rendemen Ekstrak Kunyit = 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘

𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠i𝑚𝑝𝑙i𝑠i𝑎

= 44,17 × 100%

300

= 14,7233%

× 100%

× 100%

Lampiran 6. Perhitungan Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Serbuk Simplisia dan Ekstrak Daun Pegagan ( Centella asiatica L.) Urb.

a. Karakterisasi Serbuk Simplisia 1. Kadar air Simplisia Daun Pegagan

% Kadar = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎i𝑟 (𝑚𝑙)

% Rata-rata Kadar air Simplisia Daun Pegagan = 9,9956%+9,9948%+9,9942%

3

= 9,9948%

2. Kadar Abu total Simplisia Daun Pegagan

% Kadar = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑏𝑢 (g)

% Rata-rata Kadar abu total Simplisia Daun Pegagan = 7,1789+7,6523+6,6033 3

= 7,1448%

3. Kadar Abu tidak larut asam Simplisia Daun Pegagan

% Rerata Kadar abu tak larut asam Simplisia Daun Pegagan

= 0,7598%+1,6944%+1,0197%

3

= 1,1579%

4. Kadar sari larut air Simplisia Daun Pegagan

% Kadar = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑟i (g)

% Rerata Kadar sari larut air Simplisia Daun Pegagan

=30,6800%+31,4193%+31,2356%

3

= 31,1716%

5. Kadar sari larut etanol Simplisia Daun Pegagan

% Rerata Kadar sari larut etanol Simplisia Daun Pegagan

= 5,0894%+8,5781%+7,4589%

3

= 7,0421%

b.Karakterisasi Ekstrak Daun Pegagan 1. Kadar air Ekstrak Daun Pegagan

% Kadar = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎i𝑟 (𝑚𝑙)

% Rata-rata Kadar air Ekstrak Daun Pegagan

= 9,9936%+9,9946%+9,9972%

3

= 9,9933%

2. Kadar Abu total Ekstrak Daun Pegagan

% Rata-rata Kadar abu total Ekstrak Daun Pegagn = 5,0756%+4,7645%+4,3969%

3

= 4,7456%

3. Kadar Abu tidak larut asam Ekstrak Daun Pegagan

% Kadar = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑏𝑢 (g)

Lampiran 7. Perhitungan Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Serbuk Simplisia dan Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.)

a. Karakterisasi Serbuk Simplisia 1. Perhitungan Penetapan Kadar Air

No. Berat Sampel (g) Volume Air (ml)

% Rata-rata Kadar air Simplisia Kunyit = 9,9890%+9,9994%+9,9886%

3

% Rata-rata Kadar abu total Simplisia Kunyit = 7,2589%+6,8943%+7,2613%

3

= 7,2613%

3. Kadar Abu tidak larut asam Kunyit

No. Berat Sampel (g) Berat Abu (g)

1. 2,0003 0,0047

2. 2,0002 0,0056

3. 2,0011 0,0034

- Kadar abu tidak larut asam = 0,0047 × 100% = 0,2349%

% Rerata Kadar abu tidak larut asam Simplisia Kunyit = 0,2349%+0,2799%+0,1699%

3

= 0,2282%

4. Kadar Sari Larut Air Simplisia Kunyit

No. Berat Sampel (g) Berat Sari (g)

% Rata-rata Kadar air Simplisia Kunyit = 19,1380%+20,6946%+21,3870%

3

= 16,7972%

5. Kadar Sari Larut Etanol Simplisia Kunyit

No. Berat Sampel (g) Berat Sari (g)

% Rerata Kadar Sari Larut Etanol Simplisia Kunyit = 19,7856%+19,3645%+19,9912%

3

= 19,7137 % b. Karakterisasi Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.)

1. Kadar Air Ekstrak Rimpang Kunyit

No. Berat Sampel (g) Berat Abu (g)

% Rata-rata Kadar Air Ekstrak Kunyit = 9,9898%+9,9916%+7,9945%

3

% Rata-rata Kadar Abu Total Ekstrak Kunyit = 0,3799%+0,2698%+0,2447%

3

= 0,2981%

3. Kadar Abu tidak larut Rimpang Kunyit

No. Berat Sampel (g) Berat Abu (g)

% Rerata Kadar Abu Tidak Larut Ekstrak Kunyit = 0,0749%+0,0099%+0,1148%

3

= 0,9574%

Lampiran 8. Hasil pengukuran pH sediaan selama penyimpanan pada suhu kamar

Lampiran 8. (lanjutan)

Penyimpanan (minggu)

pH

Emulgel Rata- rata ±SD

0 6,7 6,7 6,6 6,65 ± 0,05

1 6,7 6,6 6,7 6,65 ± 0,05

2 6,6 6,4 6,5 6,45 ± 0,09

3 6,4 6,6 6,4 6,50 ± 0,11

4 6,5 6,4 6,5 6,45 ± 0,05

5 6,6 6,5 6,6 6,55 ± 0,05

6 6,4 6,3 6,4 6,35 ± 0,05

7 6,3 6,3 6,2 6,25 ± 0,05

8 6,4 6,2 6,3 6,25 ± 0,10

9 6,3 6,3 6,1 6,20 ± 0,11

10 6,3 6,3 6,4 6,35 ± 0,05

11 6,2 6,0 6,3 6,15 ± 0,15

12 6,2 6,0 5,9 5,95 ± 0,15

Lampiran 9. Hasil pengukuran viskositas sediaan pada suhu kamar selama

Penyimpanan (minggu)

Viskositas

12000rpm Rata- rata ±SD

0 499,50 499,40 499,50 499,46 ± 0,05

15000rpm Rata- rata ±SD

0 499,50 499,50 499,50 499,50 ± 0,00

Penyimpanan (minggu)

Viskositas

Emulgel Rata- rata

±SD

0 499,50 499,50 499,50 499,50 ± 0,00

1 499,50 499,50 499,50 499,50 ± 0,00

2 499,50 499,50 499,50 499,50 ± 0,00

3 499,50 499,50 499,50 499,50 ± 0,00

4 499,50 499,50 499,50 499,50 ± 0,00

5 499,40 499,30 499,50 499,40 ± 0,09

6 499,20 499,00 499,30 499,16 ± 0,15

7 498,30 498,00 498,50 498,26 ± 0,25

8 498,00 498,40 498,20 498,20 ± 0,19

9 496,50 496,40 496,30 496,40 ± 0,09

10 490,50 490,00 490,30 490,26 ± 0,25

11 490,00 490,50 490,30 490,26 ± 0,25

12 488,00 488,20 488,30 488,16 ± 0,15

Daya Hambat ekstrak Daun Pegagan ( 2,75%;

2,5%; 2%) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Daya Hambat ekstrak Rimpang Kunyit ( 0,25%;

0,5%; 1%) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus aureus

Lampiran 10. Hasil Pengujian Antibakteri

a. Hasil Pengujian Daya Hambat Ekstrak Daun Pegagan Terhadap Bakteri

a. Hasil Pengujian Daya Hambat Ekstrak Daun Pegagan Terhadap Bakteri