• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.10 Antibakteri

2.10.4 Mekanisme Kerja Antibakteri

a. Menghambat sintesis dinding sel dengan merusak lapisan peptidoglikan yang menyusun dinding sel bakteri Gram positif maupun Gram negatif

b. Merusak membran plasma dengan mengubah permeabilitas membran plasma sel bakteri

c. Menghambat sintesis protein dengan menghambat translokasi peptidil-tRNA dari situs A ke situs P dan menyebabkan kesalahan pembacaan mRNA

d. Menghambat sintesis asam nukleat dengan menghambat transkripsi dan replikasi mikroorganisme

e. Menghambat sintesis Metabolit esensial dengan adanya kompetitor berupa antimetabolit, yaitu substansi yang secara kompetitif menghambat metabolit mikroorganisme karena memiliki struktur yang mirip dengan substrat normal bagi enzim metabolisme (Pratiwi, 2008).

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental dengan tahapan penelitian yaitu pengumpulan rimpang kunyit dan daun pegagan, pembuatan dan karakterisasi simplisia rimpang kunyit dan daun pegagan, pembuatan ekstrak rimpang kunyit dan daun pegagan, skrining fitokimia, uji aktivitas antibakteri ekstrak rimpang kunyit dan ekstrak daun pegagan. Kemudian diformulasi kedalam bentuk sediaan nanoemulgel dengan menggunakan konsentrasi kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun pegagan yang telah ditentukan. Kemudian uji antibakteri sediaan nanoemulgel. Kemudian evaluasi fisik sediaan yang terdiri dari : pemeriksaan organoleptik, daya sebar, homogenitas, penentuan ukuran partikel, pengukuran pH, pengukuran viskositas, pengujian stabilitas. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fitokimia, Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Farmasi Fisik, dan Laboratorium Farmasetika Dasar Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah aluminium foil, autoklaf (Express Equitment), batang pengaduk, beaker glass (Iwaki), benang wol, bunsen, blender, blue type, cawan petri (Normax), cawan penguap, climatic chamber (Memmert), cork borer, erlenmeyer, gelas ukur, high speed homogeniser FSH-2A, inkubator (Memmert), jangka sorong, jarum ose, kaca objek, kapas, kertas perkamen, kertas saring, kurs porselen, Laminar Air Flow Cabinet (Astec HLF 1200 L), lumpang dan alu, kurs porselen, lemari pengering, magnetic bar,

magnetic stirrer (Boeco Germany), mikro pipet (Eppendorf), mikroskop, neraca analitik (Ohaus), oven (Memmert), particle size analyzer (Fritsch Analysette 22 Nanotec), pencadang kertas, pH meter (Hanna Instrument), pinset, pipet tetes, rotary evaporator (Heidolph), spatula,spektrofotometer UV-VIS (Orion Aquamate 8000), spindel, sudip, tabung reaksi (Iwaki), viskometer NDJ-8S, yellow type.

3.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah akuades,daun pegagan, karbopol 940 (Nipest 40), DMSO (Emsure), etanol 96% (Emprove),etanol p.a,natrium metabisulfit,nutrient agar (Oxoid), nutrient broth (Himedia), metil paraben (Ozzie), rimpang kunyit,Span 80,TEA (Merck), Tween 80 (Merck),VCO (Virgin Coconut Oil). Bakteri uji : Staphylococus aureus

3.2 Preparasi Sampel 3.2.1 Pengumpulan Sampel

Sampel yang digunakan adalah daun pegagan yang diperoleh dari Desa Hutaginjang Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara dan rimpang kunyit yang diperoleh dari Padang Bulan,Kecamatan Medan Baru Kota Medan.

3.2.2 Identifikasi Sampel

Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Medanense, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara (USU).

3.2.3 Pengolahan Sampel

Daun pegagan dan pada rimpang kunyit yang digunakan pada penelitian ini adalah induk kunyit kemudian dibersihkan dari kotoran yang melekat dengan

cara dicuci dengan air mengalir, ditiriskan, lalu ditimbang berat basahnya dan dikeringkan di lemari pengering pada suhu 50- 60º C sampai daun pegagan dan rimpang kunyit kering. Daun pegagan dan rimpang kunyit dianggap kering bila sudah rapuh kalau diremas, kemudian disortasi kering dan berat kering daun pegagan dan rimpang kunyit ditimbang, lalu sampel di blender sampai menjadi serbuk dan ditimbang beratnya. Serbuk simplisia disimpan didalam kantung plastik yang tertutup rapat.

3.3 Karakterisasi Simplisia 3.3.1 Pemeriksaan Makroskopik

Simplisia daun pegagan dan rimpang kunyit diamati sifat morfologi bentuk, warna, dan bau untuk pemeriksaan makroskopik.

3.3.2 Pemeriksaan Mikroskopik

Serbuk simplisia rimpang kunyit ditaburkan diatas kaca objek lalu ditetesi dengan akuades dan daun pegagan ditetesi dengan kloralhidrat dan ditutup dengan kaca penutup , kemudian diamati dibawah mikroskop.

3.3.3 Penetapan Kadar Air

Toluen sebanyak 200 ml dan akuades 2 ml dimasukkan ke dalam labu alas bulat, dirangkai alat destilasi lalu didestilasi toluen selama 2 jam untuk penjenuhan toluen. Serbuk simplisia daun pegagan dan rimpang kunyit ditimbang masing-masing sebanyak 5 gram lalu dimasukkan ke dalam labu alas bulat yang berisi toluen jenuh, dipanaskan selama 15 menit. Setelah toluen mulai mendidih, diatur penyulingan dengan kecepatan lebih kurang 2 tetes tiap detik, hingga sebagian besar air tersuling, kemudian dinaikkan kecepatan penyulingan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air tersuling, bagian dalam pendingin dicuci dengan

toluen jenuh air, lanjutkan penyulingan selama 5 menit. Dinginkan tabung penerima hingga suhu ruang. Baca volume air setelah air dan toluen memisah sempurna. Kadar air dihitung dalam % v/b (Kemenkes RI, 2017).

3.3.4 Penetapan Kadar Sari Larut Air

Serbuk simplisia daun pegagan dan rimpang kunyit masing-masing ditimbang sebanyak 5 gram, lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer, tambahkan 100 ml air jenuh kloroform, dikocok berkali-kali selama 6 jam pertama, dibiarkan selama 18 jam. Disaring, diuapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan pada suhu 105°C dan ditara, panaskan sisa pada suhu 105°C hingga bobot tetap. Dihitung kadar dalam % sari larut air (Kemenkes RI, 2017).

3.3.5 Penetapan Kadar Sari Larut Etanol

Serbuk simplisia daun pegagan dan rimpang kunyit masing-masing ditimbang sebanyak 5 gram lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer, tambahkan 100 ml etanol, dikocok berkali-kali selama 6 jam pertama, dibiarkan selama 18 jam. Disaring, diuapkan 20 mL filtrat hingga kering dalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan pada suhu 105°C dan ditara, panaskan sisa pada suhu 105° hingga bobot tetap. Dihitung kadar dalam % sari larut etanol (Kemenkes RI, 2017).

3.3.6 Penetapan Kadar Abu Total

Serbuk simplisia daun pegagan dan rimpang kunyit masing-masing ditimbang sebanyak 2 gram dimasukkan ke dalam krus porselen yang telah dipijar dan ditara. Dipijar kurs porselen perlahan-lahan hingga arang habis, pemijaran dilakukan pada suhu 600°C selama 3 jam. Lalu didinginkan dan ditimbang. Kadar

abu total dihitung terhadap berat serbuk simplisia rimpang kunyit yang diuji, dinyatakan dalam %b/b (Kemenkes RI, 2017).

3.3.7 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam

Abu yang diperoleh dari penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, kemudian dikumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam, saring menggunakan kertas saring whatmann, dicuci dengan air panas, lalu dipijar dalam krus hingga bobot tetap pada suhu 600°C selama 3 jam.

Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap berat serbuk simplisia rimpang kunyit yang diuji, dinyatakan dalam % b/b (Kemenkes RI, 2017).

3.4 Skrining Fitokimia 3.4.1 Pemeriksaan Alkaloida

Serbuk simplisia daun pegagan dan rimpang kunyit masing-masing ditimbang sebanyak 0,5 gram, ditambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan diatas penangas air selama 2 menit. Didinginkan dan disaring, filtrat dipakai untuk percobaan sebagai berikut:

1. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes larutan pereaksi Meyer akan terbentuk endapan berwarna putih atau kuning.

2. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes larutan pereaksi Bouchardat akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam.

3. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan dengan 2 tetes larutan pereaksi Dragendorff akan terbentuk endapan berwarna merah atau jingga.

Ekstrak yang mengandung alkaloida jika sekurang-kurangnya terbentuk endapan dengan menggunakan dua golongan larutan percobaan yang digunakan.

Tetapi jika reaksi 1 dan 2 hanya terjadi kekeruhan dilanjutkan pemeriksaan

berikut. Sebanyak 8 ml filtrat ditambahkan 2 ml ammonia pekat dan dikocok dengan 5 ml campuran eter-kloroform (3:1) dan dibiarkan memisah, diambil lapisan eterkloroform ditambahkan natrium sulfat anhidrat, disaring dan diuapkan filtrat didalam gelas arloji diatas penangas air, dilarutkan residunya dengan sedikit HCl 2N. Sampel dikatakan positif alkaloida jika terjadi endapan atau kekeruhan paling banyak dua dari tiga percobaan diatas (Depkes RI, 1989).

3.4.2 Pemeriksaan Flavonoida

Serbuk simplisia daun pegagan dan rimpang kunyit masing-masing ditimbang sebanyak 10 gram kemudian di ditambahkan 100 ml air panas, didihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas. Filtrat yang diperoleh kemudian di ambil 5 ml lalu ditambahkan 0,1 g serbuk Mg dan 1 ml HCl pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok, dibiarkan memisah. Flavonoida positif jika terjadi warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol (Depkes RI, 1989).

3.4.3 Pemeriksaan Tanin

Serbuk simplisia daun pegagan dan rimpang kunyit masing-masing ditimbang 0,5 gram, disari dengan 10 ml air suling dan disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna. Sebanyak 1 ml larutan diambil dan ditambahkan 1 sampai 2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Jika terjadi warna hijau, biru atau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Depkes RI, 1989).

3.4.4 Pemeriksaan Glikosida

Serbuk simplisia daun pegagan dan rimpang kunyit masing-masing ditambahkan dengan 15 ml HCl 10%, kemudian dipanaskan selama 10 menit dan disaring. Filtrat disari tiga kali, tiap kali dengan 5 ml eter. Sari dikumpulkan dan ditambahkan natrium sulfat anhidrat, saring (larutan uji). Larutan uji diuapkan

pada suhu tidak lebih dari 50°C, kemudian ditambahkan dengan 2 ml metanol dan diuapkan. Hasil penguapan dilarutkan dengan 1 ml air dan 8 tetes Molish.

Kemudian ditambahkan dengan hati-hati 1 ml asam sulfat P. Hasil positif terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas cairan (reaksi Molish) (Ditjen POM, 1995).

3.4.5 Pemeriksaan Saponin

Serbuk simplisia daun pegagan dan rimpang kunyit masing-masing dimasukkan 0,5 gram ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml akuades panas, didinginkan dan dikocok kuat-kuat selama 10 detik. (Jika zat diperiksa berupa sediaan cair, diencerkan 1 mL sediaan yang diperiksa dengan 10 mL akuades dan kocok kuat-kuat selama 10 menit); terbentuk buih yang bertahan selama tidak kurang dari 10 menit, setinggi 1 cm sampai 10 cm. Pada penambahan 1 tetes asam klorida 2 N, buih tidak hilang (Depkes RI, 1989).

3.4.6 Pemeriksaan Triterpenoid/Steroid

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 1 gram lalu dimaserasi dengan 20 ml eter selama 2 jam, di saring, filtrat di uapkan dalam cawan penguap dan pada sisanya di tambahkan 2tetes pereaksi Lieberman-Bourchard. Apabila terbentuk warna ungu atau merah yang berubah menjadi biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroida/triterpenoida (Depkes RI, 1989).

3.5 Pembuatan Ekstrak

3.5.1 Pembuatan Ekstrak Daun Pegagan

Serbuk simplisia daun pegagan sebanyak 300 gram dimasukkan ke dalam maserator (botol), tambahkan 10 bagian pelarut (etanol). Rendam selama 6 jam pertama sambil sesekali diaduk, kemudian diamkan selama 18 jam. Pisahkan

maserat dengan cara filtrasi. Ulangi proses penyarian sekurang-kurangnya satu kali dengan jenis pelarut yang sama dan jumlah volume pelarut sebanyak setengah kali jumlah volume pelarut pada penyarian pertama. Dikumpulkan semua maserat, kemudian diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental.

Dihitung rendemen yang diperoleh yaitu persentase bobot (b/b) antara rendemen dengan bobot serbuk simplisia yang digunakan dengan penimbangan. Rendemen harus mencapai angka sekurang-kurangnya sebagaimana ditetapkan pada masingmasing monografi ekstrak (Kemenkes RI, 2017).

3.5.2 Pembuatan Ekstrak Rimpang Kunyit

Serbuk simplisia rimpang kunyit sebanyak 300 gram dimasukkan ke dalam maserator (botol), tambahkan 10 bagian pelarut (etanol). Rendam selama 6 jam pertama sambil sesekali diaduk, kemudian diamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara filtrasi. Ulangi proses penyarian sekurang-kurangnya satu kali dengan jenis pelarut yang sama dan jumlah volume pelarut sebanyak setengah kali jumlah volume pelarut pada penyarian pertama. Dikumpulkan semua maserat, kemudian diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental.

Dihitung rendemen yang diperoleh yaitu persentase bobot (b/b) antara rendemen dengan bobot serbuk simplisia yang digunakan dengan penimbangan. Rendemen harus mencapai angka sekurang-kurangnya sebagaimana ditetapkan pada masingmasing monografi ekstrak (Kemenkes RI, 2017).

3.6 Sterilisasi Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan disterilkan terlebih dahulu sebelum dipakai.

Media pertumbuhan disterilkan menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit, sedangkan alat-alat gelas disterilkan dengan oven pada suhu 170°C

selama 1 jam. Jarum ose disterilkan dengan menggunakan lampu bunsen (Lay, 1994).

3.7 Pembuatan Media 3.7.1 Nutrient Agar

Media Nutrient Agar (NA) ditimbang sebanyak 28 gram, dilarutkan dengan air suling sebanyak 1000 ml, kemudian dipanakan diatas hotplate hingga bening. Selanjutnya disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121⁰C selama 15 menit (merk : Oxoid).

3.7.2 Nutrient Broth

Media Nutrient Broth (NB) ditimbang sebanyak 13 gram, kemudian dilarutkan dengan 1000 ml akuades dan disterilisasi dengan autoklaf pada 121⁰C selama 15 menit (merk : Himedia).

3.8 Pembiakan Bakteri 3.8.1 Penyiapan Bakteri

Koloni bakteri Staphylococcus aureus diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

3.8.2 Pembuatan Stok Kultur Bakteri Staphylococcus aureus

Sebanyak satu ose dari biakan murni Staphylococcus aureus diinokulasi pada permukaan agar miring. Biakan diinkubasi pada suhu 37°C selama 18-24 jam (Ditjen POM,1995).

3.8.3 Peremajaan Bakteri Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus diambil satu ose dari stok kultur, lalu diinokulasi pada media Nutrien Agar (NA) miring, kemudian diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam (Yusriana,dkk.,2014).

3.9 Penyiapan Inokulum Bakteri

3.9.1 Pembuatan Inokulum Bakteri Staphylococcus aureus

Satu koloni bakteri Staphylococcus aureus diambil, lalu disuspensikan ke dalam 10 ml Nutrient Broth steril, kemudian diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Lalu diukur kekeruhan larutan pada panjang gelombang 580 nm sampai diperoleh transmitan 25% (Mambang, dkk., 2014).

3.10 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak

3.10.1 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak Rimpang Kunyit Dengan Berbagai Konsentrasi

Ekstrak rimpang kunyit ditimbang 0,5 g, lalu ditambahkan dimetil sulfoksida(DMSO) sebanyak 5 ml dan diaduk hingga larut dan didapat konsentrasi 100mg/ml (10%) kemudian dibuat pengenceran dengan konsentrasi 2,5 mg/ml, 5 mg/ml, 10mg/ml.

3.10.2 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak Daun Pegagan Dengan Berbagai Konsentrasi

Ekstrak daun pegagan ditimbang 0,5 g, lalu ditambahkan dimetil sulfoksida(DMSO) sebanyak 5 ml dan diaduk hingga larut dan didapat konsentrasi 100mg/ml (10%) kemudian dibuat pengenceran dengan konsentrasi 27,5 mg/ml, 25 mg/ml, 20 mg/ml.

3.11 Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak

3.11.1 Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Rimpang Kunyit Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan memipet 100 µL inokulum bakteri Staphylococcus aureus kedalam cawan petri steril, kemudian tuang 15 ml media Nutrien Agar (NA) steril dalam cawan petri, digoyang secara perlahan- lahan untuk menyebarkan biakan bakteri secara merata kemudian dibiarkan

sampai media memadat. Masing-masing dari kertas cakram steril dipindahkan ke konsentrasi ekstrak rimpang kunyit. Kertas cakram yang terlah direndam dipindahkan dengan pinset steril ke medium NA yang sudah berisi bekteri Staphylococcus aureus secara aseptik. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam dan diamati hasil diameter daerah bening di sekitar pencadang menggunakan jangka sorong dengan satuan mm. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali (Turnip, dkk., 2020).

3.11.2 Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Pegagan Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan memipet 100 µL inokulum bakteri Staphylococcus aureus kedalam cawan petri steril, kemudian tuang 15 ml media Nutrien Agar (NA) steril dalam cawan petri, digoyang secara perlahan- lahan untuk menyebarkan biakan bakteri secara merata kemudian dibiarkan sampai media memadat. Masing-masing dari kertas cakram steril dipindahkan ke konsentrasi ekstrak daun pegagan. Kertas cakram yang terlah direndam dipindahkan dengan pinset steril ke medium NA yang sudah berisi bekteri Staphylococcus aureus secara aseptik. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam dan diamati hasil diameter daerah bening di sekitar pencadang menggunakan jangka sorong dengan satuan mm. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali (Turnip, dkk., 2020).

3.11.3 Pembuatan Larutan Uji Kombinasi Ekstrak Rimpang Kunyit dan Daun Pegagan Dengan Berbagai Konsentrasi

Kombinasi ekstrak dilakukan untuk mencari konsentrasi kecil yang mempunyai daya hambat yang kuat untuk diformulasikan dalam sediaan nanoemulgel. Berdasarkan diameter daya hambat masing-masing dari ekstrak, maka persentase kombinasi yang memungkinkan adalah 3%. Ini adalah

konsentrasi minimal dari kombinasi yang mempunyai peluang mempunyai diameter daya hambat yang kuat. Kombinasi ekstrak dilakukan dengan cara menggabungkan masing-masing konsentrasi ekstrak daun pegagan dan ekstrak rimpang kunyit dengan daya hambat yang kuat dengan daya hambat yang lemah.

Ekstrak rimpang kunyit ditimbang 0,5 g, lalu ditambahkan dimetil sulfoksida(DMSO) sebanyak 5 ml dan diaduk hingga larut dan didapat konsentrasi 100mg/ml (10%) kemudian dibuat pengenceran dengan konsentrasi 2,5 mg/ml, 5 mg/ml, 10mg/ml.

Ekstrak daun pegagan ditimbang 0,5 g, lalu ditambahkan dimetil sulfoksida(DMSO) sebanyak 5 ml dan diaduk hingga larut dan didapat konsentrasi 100mg/ml (10%) kemudian dibuat pengenceran dengan konsentrasi 27,5 mg/ml, 25 mg/ml, 20 mg/ml. Untuk mendapatkan konsentrasi 3% dilakukan variasi kombinasi yaitu 2,75%-2,5%,2,5%-0,5%,2%-1% yang dapat dilihat pada tabel 3.1.

Ekstrak Daun Pegagan Ekstrak Rimpang Kunyit

3%

27,5 mg/ml (2,75%) 2,5 mg/ml (0,25%) 25 mg/ml (2,5 %) 5 mg/ml (0,5%)

20 mg/ml (2,0%) 10 mg/ml ( 1%)

3.11.4 Pengujian Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Rimpang Kunyit Dan Daun Pegagan Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan memipet 100 µL inokulum bakteri Staphylococcus aureus kedalam cawan petri steril, kemudian tuang 15 ml media Nutrien Agar (NA) steril dalam cawan petri, digoyang secara perlahan-

lahan untuk menyebarkan biakan bakteri secara merata kemudian dibiarkan sampai media memadat. Masing-masing dari kertas cakram steril dipindahkan kedalam pengenceran ekstrak. Kertas cakram yang terlah direndam dipindahkan dengan pinset steril ke medium NA yang sudah berisi bakteri Staphylococcus aureus secara aseptik. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam dan diamati hasil diameter daerah bening di sekitar pencadang menggunakan jangka sorong dengan satuan mm. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali (Turnip dkk., 2020).

3.12 Formulasi Sediaan

3.12.1 Formulasi Sediaan Nanoemulgel Kombinasi Ekstrak Rimpang Kunyit dan Daun Pegagan

Formulasi sediaan nanoemulgel ekstrak etanol kombinasi rimpang kunyit dan daun pegagan diawali dengan pembuatan nanoemulsi, dan basis gel secara terpisah, kemudian ditambahkan nanoemulsi ke dalam basis gel untuk menambah kekentalan dan meningkatkan kenyamanan pada aplikasinya melalui kulit. Pada formulasi sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun pegagan, persentase komposisi bahan dalam sediaan dimodifikasi dari formula nanoemulgel yang telah dilakukan pada penelitian sebelumnya. Pada penelitian sebelumnya, Mulia dkk (2017) melakukan penelitian tentang formulasi dan karakterisasi nanoemulgel ekstrak manggis dalam minyak kelapa murni untuk formulasi topikal. Komposisi bahan yang digunakan dalam penelitian tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3. 2 Persentase komposisi bahan dalam sediaan nanoemulgel pada penelitian Mulia, dkk (2017).

Formula Nanoemulgel Jumlah Bahan

(%b/b)

Minyak Kelapa Murni 7,12 Gel Basis Gel

Xanthan gum 1,03

Aquades 48,30

Phenoxyethanol 0,72

3.12.2 Pembuatan Sediaan Nanoemulsi Kombinasi Ekstrak Rimpang Kunyit dan Daun Pegagan

Pada penelitian ini dilakukan modifikasi formula dari penelitian Mulia, dkk (2017) dengan melakukan uji pendahuluan (orientasi). Orientasi yang dilakukan untuk mengetahui kesesuaian komposisi rasio konsentrasi terhadap VCO dan Surfaktan yang digunakan untuk menghasilkan sediaan nanoemulsi kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun pegagan yang transparan dan stabil.

Hasil orientasi formula nanoemulsi kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun pegagan dengan rasio Ekstrak : VCO : Surfaktan yang sesuai yaitu 1:3:6 yang dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3. 3 Persentase komposisi bahan dalam nanoemulsi kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun pegagan

Bahan Nanoemulsi Jumlah Bahan (%b/b)

Ekstrak Kombinasi 3

Formulasi nanoemulsi kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun

pegagan dibuat dengan metode emulsifikasi energi tinggi menggunakan homogenizer bertekanan tinggi yang memiliki tahapan sebagai berikut:

1. Disiapkan Fase Minyak, yaitu ekstrak rimpang kunyit dan ekstrak daun pegagan digerus terlebih dahulu lalu dituang perlahan-lahan Span 80 sambil digerus agar tercampur rata, kemudian dituang perlahan-lahan Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil) sambil digerus agar tercampur semua.

2. Disiapkan Fase Air dengan melarutkan Metil Paraben dan Natrium Metabisulfit dalam Aquades di beaker glass kemudian dipanaskan di atas hotplate hingga larut sempurna, setelah itu larutan dibiarkan agar suhunya kembali menjadi suhu kamar. Ditambahkan Tween 80 ke dalam fase air sambil diaduk menggunakan pengaduk magnetik pada kecepatan lambat sebesar 400 rpm agar tidak berbusa.

3. Fase minyak diteteskan secara perlahan-lahan ke dalam fase air sambil dihomogenkan dengan pengaduk magnetik pada kecepatan 3000 rpm selama 3 jam pada suhu kamar hingga homogen dan terbentuk nanoemulsi yang transparan.

3.12.3 Pembuatan basis gel

Sebelum dilakukan pembuatan nanoemulgel kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daun pegagan, dilakukan pembuatan basis gel menggunakan karbopol 940 dengan variasi konsentrasi kemudian dipilih konsentrasi karbopol yang terbaik. Pada penelitian ini dilakukan modifikasi komposisi basis gel, konsentrasi karbopol yang digunakan pada orientasi hanya 0,5-1,0%. Setelah dilakukan orientasi, didapatkan konsentrasi karbopol 940 yang sesuai yaitu 1%, karena saat orientasi dengan konsentrasi karbopol 940 0,5% didapatkan hasil sediaan yang

semipadat, daya sebar yang terlalu besar, dan mudah mengalir dan adanya pemisahan fase.

Prosedur pembuatan gel yaitu ditimbang masing-masing bahan terlebih dahulu. Dilarutkan metil paraben dan natrium metabilsulfit dalam akuades panas.

Karbopol 940 ditaburkan di atas akuades panas yang berada di dalam lumpang panas, ditutup dan dibiarkan hingga terdispersi seluruhnya, selanjutnya dihomogenkan di dalam lumpang sambil ditetesi sedikit demi sedikit TEA hingga terbentuk basis gel yang transparan dan homogen. Persentase komposisi bahan untuk pembuatan basis gel dapat dilihat pada Tabel 3.4.

Tabel 3. 4 Persentase komposisi bahan dalam basis gel

Bahan Basis Gel Konsentrasi (%b/b)

Karbopol 940 1

TEA q.s

Aquades 100

3.12.4 Pembuatan Sediaan Nanoemulgel Kombinasi Ekstrak Rimpang Kunyit dan Daun Pegagan

Pembuatan nanoemulgel dibuat dengan mencampurkan sediaan nanoemulsi dan basis gel dengan perbandingan tertentu. Pada orientasi formula nanoemulgel telah dilakukan percobaan pembuatan sediaan dengan berbagai perbandingan nanoemulsi dan basis gel. Hasil orientasi dapat dilihat pada Tabel 3.5.

Tabel 3. 5 Perbandingan Nanoemulsi dan Gel Perbandingan Nanoemulsi : Gel

Keterangan

Nanoemulsi Gel

60 40

sediaan semi padat dan daya sebar yang lebar (> 7cm)

45 55

sediaan semi padat dan daya sebar yang bagus (5-7cm)

50 50

sediaan cair dan daya sebar yang terlalu kecil (< 5cm)

Dari hasil orientasi orientasi tersebut didapatkan hasil perbandingan yang paling sesuai tampilan fisik dan kekentalannya pada perbandingan 45:55 yaitu masih berwarna hijau pekat, sediaan semi padat, mudah mengalir, dan daya sebar yang bagus. Jumlah komposisi bahan dalam nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit dapat dilihat pada Tabel 3.6.

Tabel 3. 6 Persentase komposisi bahan dalam nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan rimpang kunyit

Bahan Nanoemulgel

Prosedur pembuatan sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan

Prosedur pembuatan sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun pegagan dan