• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. KESIMPULAN DISKUSI DAN SARAN

II. D. Mahasiswa

II.D. MAHASISWA

II.D.I Defenisi Mahasiswa Baru

Berdasarkan peraturan pemerintah nomor 60 tahun 1999 (dalam

Sudarman, 2004) mahasiswa didefinisikan sebagai peserta didik yang terdapat dan

belajar pada perguruan tinggi tertentu dengan persyaratan harus memiliki surat

tanda belajar pendidikan tingkat menengah atas dan memiliki kemampuan yang

dipersyaratkan oleh Perguruan Tinggi yang bersangkutan.

Menurut Monks (2001) mahasiswa adalah kalangan muda berusia antara

18-21 tahun. Selanjutnya Kenniston (dalam Santrock, 1999) mendefinisikan

mahasiswa sebagai masa transisi dari usia remaja ke usia dewasa yang ditandai

dapat disamakan dengan usia remaja karena pada usia remaja perjuangan hidup

individu adalah untuk menemukan identitas atau arti diri. Sedangkan pda saat

mahasiswa perjuangan hidup lebih ke arah pengembangan atau pembentukan

otonomi diri serta keterlibatan sosial.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa merupakan

peserta didik yang terdaftar dan belajar di Perguruan Tinggi dengan rentang usia

antara 18-21 tahun.

II.D.2. Berbagai penyesuaian Pada Mahasiswa

Penyesuaian diri dalam lingkungan kehidupan sangat penting artinya agar

terjadi keseimbangan dan tidak ada tekanan yang bisa mengganggu berfungsinya

suatu aspek kepribadian. Menurut Kartono (1985) masa mahasiswa merupakan

masa yang penuh dengan tantangan dan kesukaran, masa yang menuntut remaja

untuk menentukan sikap dan pilihan, dan masa yang menuntut kemampuan untuk

menyesuaikan diri.

Mahasiswa yang berada pada masa remaja lanjut memang menghadapi

berbagai kesulitan penyesuaian diri dan tidak semua mampu mengatasinya sendiri

bahkan banyak mahasiswa yang membutuhkan bantuan baik dalam menyesuaikan

diri dengan statusnya yang baru sebagai mahasiswa dan berbagai persoalan dalam

pergaulan maupun dalam studi. Menurut Gunarsa (2000) ada beberapa masalah

penyesuaian diri yang dialami oleh mahasiwa di Perguruan Tinggi, yaitu :

1. Perbedaan sifat pendidikan di SMU-Perguruan Tinggi

Isi kurikulum di Perguruan Tinggi biasanya lebih sedikit dari pada isi

kurikulum di SMU. Namun materi perkuliahan di perguruan tinggi jauh

lebih banyak dibandingkan dengan materi pelajaran yang ada di SMU,

sehingga mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan cara belajar dan

pengumpulan informasi yang lebih efektif dibandingkan dengan cara

belajar di SMU. Jika mahasiswa senang dengan bidang yang dipilih,

kelanjutan studi dan semangat belajar terjamin akan lebih lancar. Tetapi

apabila mahasiswa tidak menyukai studinya, maka semangat belajarnya

akan menurun dan dapat menimbulkan gangguan pada kepribadian dan

fungsi kehidupannya.

b. Disiplin

Di Perguruan Tinggi disiplin yang diterapkan biasanya tidak seketat

disiplin yang ada di SMU karena mahasiswa dianggap sudah lebih dewasa

dan mereka dituntut untuk bertanggung jawab atas apa yang telah mereka

lakukan. Longgarnya disiplin di Perguruan Tinggi akan mengubah cara

belajar mahasiswa sehingga dapat menyebabkan kesulitan tersendiri.

c. Hubungan mahasiswa-dosen

Pola hubungan yang ada di Perguruan Tinggi sangat berbeda dengan

hubungan yang ada di SMU. Dialog langsung pada tingkat awal

perkuliahan dimana jumlah mahasiswa biasanya besar, cenderung jarang

dilakukan diruangan perkuliahan. Pada tingkat yang lebih tinggi dimana

jumlah mahasiswa sudah mulai berkurang, hubungan dosen-mahasiswa

bisa terjamin dalam bentuk dialog yang lebih baik. Karena itu mahasiswa

masih banyak menggunakan cara tradisional yakni dosen hanya

menerangkan tanpa memperdulikan apakah mahasiswanya mengerti atau

tidak.

2. Hubungan Sosial

Pada masa remaja lanjut, pola pergaulan sudah bergeser dari pola pergaulan

yang homoseksual kearah heteroseksual. Seiring dengan pergeseran dari

dependensi ke independensi, mahasiswa merasa lebih bebas bergaul. Masalah

pergaulan bisa menjadi masalah yang cukup rumit, baik mengenai percintaan,

kesulitan penyesuaian diri dan keterlibatan dalam pengaruh kelompok

pergaulan yang bersifat negatif.

3. Masalah Ekonomi

Sekalipun mahasiswa sudah bisa melepaskan diri dari ketergantungan secara

psikis, namun mereka masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.

Mereka tidak bebas dalam menggunakan uang yang diberikan orang tua pada

mereka. Jika studi lancar dan orang tua cukup mampu untuk membiayai

perkuliahan maka masalah keuangan tidak akan menjadi suatu masalah bagi

mahasiswa yang bersangkutan. Tetapi sebaliknya jika studi tidak lancar dan

perekonomian orang tua kurang mendukung, maka mahasiswa akan

mengalami konflik antara keinginan untuk meneruskan kuliah di satu pihak

dan keinginan bekerja dipihak lain. Kebanyakan mahasiswa mendahulukan

salah satu dari pilihan tersebut sehingga yang lain kurang diperhatikan. Jika

permasalahan ini terus berlanjut tanpa ada penyelesaian yang memuaskan

maka proses studi mahasiswa akan terhambat.

Antara bakat dan minat dengan kesempatan yang ada sering kali menimbulkan

masalah yang rumit. Seringkali ditemukan mahasiswa memasuki Perguruan

Tinggi dengan keadaan terpaksa karena salah pilih jurusan. Hal ini akan

mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa terutama dalam menekuni

jurusannya tersebut. Oleh kartena itu mahasiswa perlu diberikan bimbingan

dan pengarahan agar dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan kampusnya.

Sehubungan dengan masalah penyesuaian diri ini maka mahasiswa perlu

diberikan bimbingan baik oleh penasehat akademik maupun oleh dosen. Menurut

Crow & Crow (dalam Gunarsa, 2000) mahasiswa perlu diberikan bimbingan

karena bimbingan memiliki fungsi dasar sebagai cara yang digunakan untuk

membantu individu dalam menghadapi situasi yang bermasalah.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa masalah-masalah yang

dihadapi mahasiswa di Perguruan Tinggi umumnya berkaitan dengan perbedaan

sifat pendidikan antara SMU dengan Perguruan Tinggi, hubungan sosial, masalah

ekonomi, dan pemilihan bidang jurusan, sehingga mahasiswa perlu diberikan

bimbingan baik oleh penasehat akademik maupun dari dosen.

II. E. HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN PENYESUAIAN DIRI DENGAN

Dokumen terkait