• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS EKSTRINSIK: PSIKOLOGI SASTRA

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin, 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Malang: IKIP Malang.

Endaswara, Suwardi.2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra Teori, Langkah dan

Penerapannya. Yogyakarta: Media Pressindo.

Ernawati, Lissa. 2010. Novel Rojak Karya Fira Basuki: Analisis Psikologi Sastra. Skripsi Sarjana. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Feist, Jess dan Gregory J. Fesit. 2010. Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.

Hasan, M.Iqbal, 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Luxemburg, Jan van, Mieke Bal dan Willem G.Weststeijn. 1984.Pengantar Ilmu Sastra.

Terjemahan Dick Hartoko.Jakarta: Gramedia.

Pradopo, Rahmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya.

Yogyakarta: Pustaka Belajar

Semi, M. Atar. 1984. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.

Siswanto,Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1994. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kisah_Tiga_Negara (yang didownload pada tanggal3 maret 2011,9:14 PM)

LAMPIRAN

Sinopsis

Kisah tiga kerajaan dimulai dipenghujung Dinasti Han, Dinasti yang paling berpengaruh dalam sejarah Cina. Pada saat itu Kaisar kurang mendapat simpati dari rakyat kerana tidak cakap dalam memerintah sehingga muncul berbagai pemberontakan sebagai bentuk ketidakpuasan rakyat terhadap Kaisar. Masa Dinasti Han juga terkenal sebagai masa pemerintahan kasim. Suatu hari di distrik Zhu dipasang pengumuman tentang mobilisasi umum. Liu Bei, Zhang Fei dan Guan Yu bertemu disaat mereka tertarik untuk mengikuti mobilisasi umum yang ada di pengumuman tersebut. Karena merasa memiliki banyak persamaan ketiganya mengangkat diri menjadi saudara.

Sosok mereka bertiga semakin menonjol dengan berhasilnya menumpas pemberontakan sanggul kuning dengan bekerja sama dengan seorang bernama Cao Cao. Setelah berhasil menumpas pemberontak Liu Bei bersama kedua saudaranya menghadap kaisar tetapi keberhasilan mereka tidak dihargai oleh Kaisar dengan hanya memberi Liu Bei jabatan sebagai wedana di daerah Anxi.

Pada tahun 189 saat Kaisar Lingdi lengser dari jabatannya sebagai Kaisar Ling. para menteri kemudian merencanakan untuk membunuh Jenderal He Jin, paman dari anak Kaisar Lingdi, Liu Bian sebagai pewaris tahta untuk mencegah He Jin. He Jin juga memerintahkan Dong Zhuo untuk kembali ke ibu kota Luoyang untuk menghabisi para menteri serta kasim yang ingin merebut kekuasaan itu. Sebelum Dong Zhuo sampai, He Jin sudah dibunuh dahulu oleh para menteri di dalam istana. Hal ini membuat Dong Zhuo memiliki peluang besar untuk maju mengambil kesempatan mempergunakan pangeran

sebagai tameng untuk mengalihkan kekuasaan ke tangannya. Dong Zhuo semakin berani dengan hadirnya seorang jendral yang tangguh bernama Lu Bu. Yuan Shao kemudian menghimbau para jenderal penguasa daerah untuk melawan kelaliman Dong Zhuo. Usahanya membawa hasil, Dong Zhuo melarikan diri dan mendirikan kembali kekuasaannya di daerah Chang’an. Namun Wang Yun bersama Lu Bu berhasil membunuh Dong Zhuo.

Setelah Dong Zhuo berhasil dijatuhkan Dinasti Han semakin melemah dengan hilangnya kewibawaan Kaisar di depan rakyatnya sendiri. Hal ini mengakibatkan semakin tingginya persaingan para gubernur untuk saling memperluas daerah kekuasaannya. Diantara mereka Cao Cao dan Yuan Shao yang paling menonjol. Cao Cao mendirikan pasukannya sendiri dengan berpusat di kota Chenliu, ia menumpas pemberontak. Dengan memiliki orang-orang pandai dan berbakat disisinya Cao Cao semakin memperkuat posisinya dan berhasil memperluas daerah kekuasaannya. Sementara disisi lain Liu Bei dan kedua saudaranya yang berhasil membantu Tiao Qian melawan serangan Cao Cao diberikan amanat untuk memimpin kota Xu Zhou.

Sementara itu Cao Cao yang berperang melawan Lu Bu ternyata kalah dalam peperangan kembali menyusun strategi baru untuk mengalahkan Lu Bu dan berhasil mengalahkan Lu Bu. Lu Bu yang kalah perang meminta perlindungan pada Liu Bei di daerah Xu Zhou. Liu Bei dengan senang hati menerima kehadiran Lu Bu.dan menempatkan Lu Bu di kota kecil bernama Xiaopei. Cao Cao yang mengetahui hal ini segera menyusun rencana untuk mengadu domba Liu Bei dan Lu Bu karena kebersamaan keduanya sangat membahayakan dirinya. Cao Cao mengatur siasat dengan mengirim surat atas nama kaisar untuk menyingkirkan orang-orang jahat termasuk Lu Bu. Tetapi

Liu Bei tahu bahwa ini hanya tipu muslihat yang tujukan Cao Cao untuk mengadu domba mereka berdua. Tapi sayangnya Lu Bu yang polos ragu akan ketulusan hati Liu Bei dan masuk ke dalam jebakan Cao Cao menghianati Liu Bei. Pada akhirnya Lu Bu mati ditangan Cao Cao.

Liu Bei yang masih keturunan kaisar akhirnya mendapatkan kembali statusnya secara resmi sebagai paman Kaisar(Huang Shu) dan mendapatkan pangkat jendral sayap kiri. Hal ini membuat Cao Cao kembali merasa terancam. Diam-diam Liu Bei mengatur rencana untuk menjatuhkan Cao Cao atas permintaan Kaisar. Cao Cao lengah dengan menganggap bahwa Liu Bei hanya berdiam diri tidak mempedulikan masalah Negara lagi hingga pada satu hari Cao Cao mengundang Liu Bei ke rumahnya. Dalam pertemuan itu Cao Cao secara terang-terangan mengakui bahwa dirinya adalah pahlawan.

Yuan Shao memulai ekspansi wilayah ke selatan, namun berhasil dipukul mundur oleh Cao Cao. Dengan kekuatan yang saling berimbang Cao Cao dan Yuan Shao kembali berperang dengan kekalahan di pihak Cao Cao.Setelah beberapa kali kalah perang dengan Cao Cao akhirnya Yuan Shao meninggal dunia dan kedudukannya digantikan oleh anaknya.

Kali ini Cao Cao yang memanfaatkan keadaan Liu Bei yang gagal meminta bantuan dari Yuan Shao memutuskan untuk menyerang Liu Bei dan mengambil alih kota yang diduduki Liu Bei. Liu Bei dan kedua saudaranya terpencar, Guan Yu yang pada saat itu ditugaskan untuk menjaga istri dan anak Liu Bei malah mendapatkan perlindungan dari Cao Cao. Bukan tanpa alasan Cao Cao memberikan perlindungan pada Guan Yu, justru karena Cao Cao merasa tertarik dengan kehebatan Guan Yu di medan perang

membuatnya merasa saying untuk membunuh Guan Yu. Setelah mengetahui keberadaan Liu Bei Guan Yu memutuskan untuk menyusul saudaranya itu.

Bersamaan dengan kembalinya Guan Yu dan Zhang Fei disisinya Liu Bei perlahan-lahan menyusun kekuatan kembali ditambah lagi hadirnya seorang yang pandai bernama Dan Fu membuat Liu Bei beberapa kali memenangkan peperangan melawan Liu Bei. Cao Cao merasa heran dengan keadaan ini, bagaimana mungkin dia bisa kalah terhadap Liu Bei. Setelah diteliti ternyata Dan Fu berada di balik semua kemenangan Liu Bei. Tanpa piker lagi Cao Cao juga menginginkan orang ini bekerja dengannya. Dengan cara menyandra ibu Dan Fu akhirnya dengan terpaksa Dan Fu bekerja dengan Cao Cao. Namun sebelum pergi Dan Fu memberitahu Liu Bei orang yang lebih pandai darinya untuk bekerja dengan Liu Bei. Liu Bei lalu menemui Zhuge Liang dan berhasil membuat Zhuge Liang setuju bekerja dengannya. Dengan kepandaian Zhuge Liang Liu Bei semakin terang-terangan dalam memperluas daerah kekuasaaannya dan Liu Bei semakin mengembangkan sayapnya

Lalu tak lama setelah itu tiba-tiba datang utusan yang berasal dari Negara Wu bagian Timur bernama Lu Su ingin mengajak Liu Bei bekerja sama untuk melawan Cao Cao. Lu Su berniat untuk meminjam jasa Zhuge Liang demi menyelamatkan daerahnya dari serangan pasukan Cao Cao. Sesampainya di negara Wu Zhuge Liang di hadapkan dengan penasehat negara itu yang bernama Zhou Yu yang terus menerus berusaha mencelakainya hanya karena Zhuge Liang lebih cerdas darinya.

Setelah berhasil membantu negara Wu Zhuge Liang pun kembali ke sisi Liu Bei membantu Liu Bei untuk menghadapi serangan dari Cao Cao dalam perang. Mereka berhasil memukul mundur pasukan Cao Cao ditambah lagi serangan dari negara Wu

dalam waktu yang bersamaan membuat Cao Cao kewalahan karena diserang terus menerus oleh pihak lawan membuat pasukannya patah semangat. Dalam perjalanannya melarikan diri, Cao Cao bertemu dengan Guan Yu. Guan Yu yang mengingat jasa Cao Cao dulu yang pernah memberinya perlindungan saat kalah perang memutuskan untuk melepaskan Cao Cao.

Peristiwa dimana angkatan perang Cao Cao yang berjumlah hampir 1.000.000 kini hanya tersisa 28 orang menjadi salah satu peristiwa penting dan dikenang dalam sejarah Tiongkok. Peristiwa ini lebih dikenal masyarakat dengan peristiwa ‘The Battle of Red Cliffs’ yang mana mengubah peta kekuatan Liu Bei, Cao Cao, dan Sun Quan. Pada akhir cerita dikisahkan bahwa yang berhasil menjadi Kaisar hanya Liu Bei sedangkan Cao Cao mati terbunuh dalam perang.

Dokumen terkait