Affandi, Bratha, Denny. Menyusuri Bekasi Raya Jejak Reportase. Bekasi: Rinjani Kita: 2009
Dagun, Save M. Kamus Besar Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara (LPKN), 1997
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bekasi. Risalah Kota Bekasi. Bekasi: Pemkot Bekasi, 2009
Djohan, Djohermansyah. “Fenomena Etnosentrisme Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah”dalam Haris, Syamsuddin, ed. Desentralisasi dan Otonomi Daerah, Desentralisasi, Demokrasi, Akuntabilitas Pemerintahan Daerah. Jakarta: Lipi Press, 2007
Dwi, Jowijoyo, Nugroho, Riant. Kebijakan Publik Formulasi Implementasi dan Evaluasi. Jakarta: Gramedia, 2004
Hidayat, Misbah L. Reformasi Administrasi Kajian Komparatif Pemerintahan tiga Presiden. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007
Jeddawi, Murtir. Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah Analisis Kewenangan, Kelembagaan, Manajemen Kepegawaian, dan Peraturan Daerah. Yogyakarta: Kreasi Total Media, 2008
Kaloh, J. Mencari Bentuk Otonomi Daerah Suatu Solusi Dalam Menjawab Kebutuhan Lokal dan Tantangan Global. Jakarta: PT. Renika Cipta, 2007
Kansil, C.S.T, Dkk. Hukum Administrasi Daerah. Jakarta: Jala Permata Aksara, 2009
Labolo, Muhammad. Memahami Ilmu Pemerintahan Suatu Kajian, Teori, Konsep, dan Pengembangannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006
Marbun, BN. Kamus Politik. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007
Marbun, BN. DPRD Pertumbuhan dan Cara Kerjanya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2006
Muluk, M.R. Khairul. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. Malang: Bayu Media, 2006
Oentarto, Dkk. Menggagas Format Otonomi Daerah Masa Depan. Jakarta: Samitra Media Utama, 2004
Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik Di Kota Bekasi
Peraturan Tata Tertib DPRD Kota Bekasi N0.26 Tahun 2006
Program Pembangunan Daerah Kota Bekasi 2001-2005. Bekasi: Bagian Humas dan Protokol Bekerjasama Dengan Tim Sosialisasi Visi dan Misi kota Bekasi, 2000
Pratikno. “Pengelolaan Hubungan Pusat dan Daerah” dalam Haris, Syamsuddin, ed. Desentralisasi dan Otonomi Daerah, Desentralisasi, Demokrasi, Akuntabilitas Pemerintahan Daerah. Jakarta: Lipi Press, 2007
Putra, Fadillah. Membumikan Konsep Devolusi Dalam Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah Di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2006
Rasyid, Ryaas, M. “Otonomi Daerah: Latar Belakang dan Masa Depannya” dalam Haris, Syamsuddin, ed. Desentralisasi dan Otonomi Daerah, Desentralisasi, Demokrasi, Akuntabilitas Pemerintahan Daerah. Jakarta: Lipi Press, 2007
Risalah Rapat Paripurna Penetapan dan Penandatanganan Hasil Pembahasan Panitia Khusus 28 dan Persetujuan DPRD Kota Bekasi Tentang Laporan Perhitungan Anggaran (LPA) Tahun Anggaran 2006. Bekasi: 22 Agustus 2007
Rosyada, Dede, Dkk. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2003
Sarundajang. Arus Balik Kekuasaan Pusat Ke Daerah. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002
Sarundajang. Babak Baru Sistem Pemerintahan Daerah. Jakarta: Kata Haspa, 2005 Sobandi, Baban, Dkk. Desentralisasi dan Tuntutan Kelembagaan Daerah.
Bandung: Humaniora, 2005
Somadireja, Nevi. Lensa Wakil Rakyat Sebuah Perjalanan Aspirasi Warga Kota Bekasi Anggota DPRD Kota Bekasi Masa Bhakti 2004-2009. Bekasi: Sekretariat DPRD Kota Bekasi, 2009
Syaukani, Dkk. Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003
Suyanti, Isbodroini. “ Otonomi Daerah dan Fenomena Etnosentrisme” ” dalam Haris, Syamsuddin, ed. Desentralisasi dan Otonomi Daerah, Desentralisasi, Demokrasi, Akuntabilitas Pemerintahan Daerah. Jakarta: Lipi Press, 2007
Tjandra, Willy R. Praksis Good Governance. Sewon Bentol: pondok Edukasi, 2006 Wasistiono, Sadu dan Ondo, Riyani, ed. Etika Hubungan Legislatif Eksekutif.
Bandung: Fokus Media, 2003
Wasistiono, Sadu, Wiyoso, Yonatan. Meningkatkan Kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Bandung: Fokus Media, 2009
Wibowo, Chotim, Dkk. Setahun Duet Kepemimpinan Akhmad-Mochtar. Bekasi: Satu Visi, 2004
Zainie, Abdullah. Membumikan Konsep Devolusi Dalam Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah Di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2006
Internet
Http:// www. Kota Bekasi.go.id diakses pada tanggal 17 November 2009
Http:// www. Jatisari, Hunian Kota Bekasi. Html. Diakses pada tanggal 27 Januari 2010
Wawancara
Wawancara Dengan Bapak Ir. Muhammad Hasim Affandi, Selaku Anggota DPRD Periode 2004-2009 dan Juga Ketua Pansus Peraturan Daerah Pelayanan Publik, Tanggal 2 Juni 2010 Juni 2010 Juni 2010
Wawancara Dengan Bapak Jaya Ekosetiawan SH, Selaku Lurah Jati Luhur Kecamatan Jati Asih Kota Bekasi.
Sahla (S): Assalamualaikum pa?
Pak, Affandi (A): Walaikumsalam Wr.Wb...
S: saya sahla pa, mahasiswa yang telpon, saya datang untuk mewawancarai bapak, mengenai perda pelayanan publik di Kota Bekasi pa.
A: oiya... Public service y, perubahan dengan adanya perda ini sekarang dibuatlah BPPT (Badan Pelayanan Perizinan Terpadu) yang terbentuk tahun 2008 dulu yang berkaitan dengan dinas-dinas tidak terpadu. Jadi adanya BPPT agar semua dinas bersatu dalam unit pelayanan satu atap. Dulu jika mau mengurus IMB urutannya, untuk rumah tinggalnya itu harus kedinas lalu keluar blanko izin tetangga terus ke RT, RW, lalu distempel Lurah dan Camat baru kedinas lagi. Setelah adanya perda ini sekarang tidak, sekarang langsung KBPPT dan meminta surat keterangan dari tetangga terus kelurah dan camat langsung KBPPT lagi.
S: jadi pak, sebenarnya faktor apa yang melatar belakangi perda public service ini pa?
A: untuk membentuk badan, kantor, dinas dan sayap-sayapnya yang harus dipayungi perda, yang dirumuskan oleh pansus dan disahkan. Karna perda ini berkaitan dengan public. Agar masyarakat mudah dalam pelayanan dan perizinannya. Dan dinas juga tidak boleh memonopoli, harus ke BPPT dulu. Adanya perda ini juga agar pelayanan untuk masyarakat berkualitas dan tidak dipersulit. Intinya sekarang ini adanya unit pelayanan satu atap yang namanya BPPT, dan perda ini untuk menetapkan SPM dalam pelayanan dan perizinan yang merupakan implementasi otonomi daerah.
S: bagaimana dengan peran DPRD pa, dalam penyusunan perda ini?
A: perannya tentu besar, DPRD harus menelaah apakah ini penting untuk masyarakat, dan peda ini penting untuk masyarakat. Sebenarnya perda itu ada dua macam yang digolkan DPRD, pertama perda yang diajukan eksekutif bisa perda baru, atau perubahan perda yang sudah ada. Kedua, perda dari anggota dewan, yaitu hak inisiatif, disini kita melihat mana perda yang dibutuhkan oleh masyarakat. Lalu DPRD harus melihat bahwa perda ini tidak bertentangan dengan UU, Perpu, Kepres, Kepmen dan Perda, DPRD juga melakukan
S: lalu pak, seperti apa DPRD mensosialisasikan Perda ini ke masyarakat?
A: itu bukan tugas kita sebenarnya, tugas DPRD itu ada tiga, legislasi, controling dan budgeting. DPRD harus melihat dalam perda ini pihak mana yang lebih bersinggungan dengan masyarakat. Dan perda ini yang lebih bertanggung jawab adalah dinas-dinas, dan pelayananya adalah kelurahan dan kecamatan. Semestinya, dengan adanya integritas dan good goverment minimal harus terpampang lah perda ini, agar masyarakat yang datang ke instansi tersebut bisa melihatnya. Dan seharusnya bukan hanya DPRD yang bertanggung jawab mensosialisasikan, BPPT, dinas dan kelurahan juga bertanggung jawab.
S: bukankah sosialisasi perda bisa dilakukan pada masa reses pa, dan sebenarnya ada anggaran atau tidak untuk memperbanyak perda agar masyarakat tahu?
A: oh.. iya, sebenarnya sebelum perda ini disahkan sudah ada edaran dari eksekutif yang diberikan kedinas-dinas dan instansi terkait. Dalam dinas juga ada humasnya yang seharusnya mensosialisasikan ini, sehingga tiga bulan saat perda ini disahkan sudah ada sosialisasi, dan ini yang tidak dilakukan, kalaupun dilakukan, jarang masyarakat yang tahu. Untuk anggaran, ada anggarannya dalam APBD ada jika perda ini untuk kepentingan publik diperbanyak. Terkadang kesadaran masyarakat untuk tahu juha masih kurang. Dan masa reses ini kurang efektif karena tidak boleh dilaksanakan pada hari libur. Reses digunakan pada hari kerja saat masyarakatnya mempunyai kesibukan, seperti kantor dll. S:lalu bagaimana Pa, peran DPRD dalam pengawasan perda ini?
A: pengawasan di DPRD dibilang lemah juga tidak, biasanya pengawasan dilakukan jika ada pelanggaran, setelah ada laporan dari masyarakat, DPRD juga tidak bisa konsisten mengawasi perda pelayanan publik ini, karna perda yang dibuat oleh DPRD juga banyak, sehingga sulit untuk mengontrol implementasi perda. Dan cara DPRD dalam pengawasan perda ini dengan melakukan kunjungan kerja kekelurahan, atau dinas. Dan DPRD membuat tim independent yang namanya uji petik untuk melihat adanya pelanggaran atau tidak terhadap pelaksanaan perda.
S: dalam perda ini pa, pihak-pihak apa saja yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan perda?
kecamatan dan kelurahan. BPPT ini adalah UPSA yang mengkoordinasi dinas dan instansi terkait.
S: terimakasih bapak, atas waktunya, apa yang bapak jelaskan akan sangat bermanfaat untuk saya, maaf jika saya merepotkan.
A: iya,, tidak apa-apa semoga bermanfaatnya.
Demikian hasil wawancara penulis dengan narasumber, dan ini bukan merupakan hasil rekayasa dari penulis.
Bekasi, 2 Juni 2010
Sahla (S): Assalamualikum Pa Lurah.... Pa Lurah (L): Walaikumsalam...
S: maksud kedatangan saya kesini pa, untuk melihat pelaksanaan perda pelayanan publik, memang jika dilihat dalam unsur SKPD kelurahan merupakan instansi terbawah, tapi sebenarnya mempunyai peranan yang penting dalam memberikan pelayanan masyarakat.
L: ya betul, karna sebenarya kelurahan ini adalah instansi pengumpul, yang banyak mengurusi tugas pembuatan KTP, KK, Surat Pindah.. dll
S: berapa hari pa dalam pembuatan KTP, apakah sesuai dengan perda ketentuan SPMnya adalah 14 hari?
L: ya disini sesuai dengan perda, seperti yang tadi saya bilang, kelurahan ini adalah instansi pengumpul, jika ada yang membuat KTP, pendaftarannya disini dengan persayaratan yang sudah kumplit, lalu kita bawa ke kecamatan, dan terakhir ke dinas kependudukan, kecuali untuk pelayanan khusus yaitu progresif, satu hari bisa langsung jadi.
S: bagaimana dengan pembiayaannya pa, di perda itu gratis kan?
L: disini gEErrraatiisss... kecuali yang progresif, pembiayaannya 100.000. kelurahan lain mungkin juga sama y seperti ini.
S: apa menurut bapa tidak ada kendala dalam pelaksanaan perda?
L: selama ini tidak ada kendala, semua berjalan sesuai dengan perda, jika ada kendala keterlambatan misalnya, itu karena IT yang kurang.
kekelurahan semua persayaratannya sudah kumplit. Jika belum prosesnya akan lama.
S: terima kasih atas waktu, dan penjelasannya pa L: ya sama-sama ya.
Demikian hasil wawancara penulis dengan narasumber, dan ini bukan merupakan hasil rekayasa dari penulis.
Bekasi, 3 Juni 2010
Nama : Sri Sahlawati
NIM : 105033201155
Jurusan : Ilmu Politik
Fakultas : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Telah melakukan kegiatan wawancara dengan Lurah Jatiluhur Kecamatan Jatiasih Bekasi untuk melihat pelaksanaan perda dalam kelurahan, dalam rangka penyelesaian tugas akhir karya ilmiah (Skripsi) S1 yang berjudul “DPRD Dalam Otonomi Daerah Studi Analisis Terhadap Peranan DPRD Kota Bekasi Dalam Penyusunan dan Pengawasan Peraturan Daerah Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik”
Demikian surat keterangan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Bekasi, 14 Juni 2010.
merupakan Undang-undang pemerintahan daerah yang pertama setelah kemerdekaan. Undang-undang tersebut didasarkan pada pasal 18 UUD 1945. Pada dasarnya dalam UU No.1 Tahun 1945 tersebut, meneruskan sistem yang diwariskan oleh pemerintah kolonial Belanda.
pada pokoknya Undang-Undang ini mengubah Komite Nasional Daerah menjadi Badan Perwakilan Daerah. Wewenang BPRD tersebut adalah: Pertama, kemerdekaan untuk mengadakan peraturan-peraturan untuk kepentingan daerahnya (otonomi). Kedua, Pertolongan kepada Pemerintah atasan untuk menjalankan peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah itu (medebewind dan self goverment = sertat antara dan pemerintahan sendiri). Ketiga, membuat peraturan mengenai suatu hal yang diperintahkan oleh undang-undang umum, dengan ketentuan bahwa peraturan itu harus disahkan terlebih dahulu oleh pemerintahan atasan (wewenang antara otonomi dan selfgovernment).
Komite Nasional Daerah bertindak sebagai badan legislatif dan anggotanya-anggotanya diangkat oleh pemerintah pusat. Komite tersebut memilih lima orang dari anggotanya untuk bertindak selaku badan eksekutif yang dipimpin oleh kepala daerah untuk menjalankan dua fungsi utama yaitu sebagai kepala daerah otonom dan sebagai wakil pemerintah pusat di daerah yang bersangkutan.
DPRD Dalam Undang-Undang No.22 Tahun 1948
Undang-undang No.1 Tahun 1945 yang mengatur tentang pemerintahan daerah di Indonesia, ternyata dipandang kurang memuaskan, karena isinya sangat sederhana.
Nasional Pusat, Pada tanggal 10 Juli 1948 ditetapkan Undang-undang No.22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-undang ini menetapkan Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) dan Dewan Pemerintah Daerah (DPD) sebagai instansi pemegang kekuasaan tertinggi, sedangkan kepala daerah diberi kedudukan sebagai ketua dan anggota Dewan Pemerintah Daerah, dan tidak lagi menjadi ketua DPRD. Kekuasaan pemerintah daerah berada ditangan DPRD. DPD bertanggung jawab kepada DPRD dan dapat dijatuhkan DPRD atas mosi tidak percaya. Kepala daerah dalam UU ini mempunyai posisi lemah karena tergantung pada DPRD.
DPRD Dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1957
Yang menjadi dasar dikeluarkannya UU No.1 Tahun 1957 dikarenakan perkembangan ketatanegaraan maka undang-undang tentang pokok-pokok pemerintahan daerah yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri, perlu diperbaharui sesuai dengan bentuk negara kesatuan. Dan perlu dilakukan dalam suatu undang-undang yang berlaku untuk seluruh Indonesia.
DPRD dalam Undang-undang ini memiliki hak dan kewajiban yang semakin luas, DPD dan Kepala Daerah dipilih oleh DPRD, sehingga kedua badan ini harus bertanggung jawab kepada DPRD. Kepala daerah bertindak selaku ketua DPD, namun kekuasaan tertinggi di daerah terletak ditangan DPRD. DPRD membuat kebijakan daerah dan DPD bertugas untuk melaksanakannya.
pokok-pokok pemerintahan daerah RI. Diberlakukannya UU No.18 Tahun 1969 dipicu oleh lemahnya posisi kepala daerah dalam UU No.1 Tahun 1957. UU No.18 Tahun 1965 ini merupakan gabungan atau pencakupan dari segala pokok unsur-unsur pemerintahan daerah.
Dibandingkan dengan Undang-undang sebelumnya posisi DPRD dalam Undang-undang ini sangat minim. Bentuk dan susunan pemerintahan daerah terdiri dari: Kepala Daerah dan DPRD. Kepala Daerah melaksanakan politik pemerintahan dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Mentri Dalam Negeri menurut hierarki yang ada. kepala daerah juga dibantu oleh wakil kepala daerah dan badan pemerintahan harian. Pimpinan DPRD dalam menjalankan tugasnya bertanggung jawab kepada kepala daerah. DPRD menetapkan peraturan-peraturan daerah untuk kepentingan daerah atau untuk melaksanakan peraturan perundangan yang lebih tinggi tingkatannya yang pelaksanaannya ditugaskan kepada daerah. Anggota-anggota Badan Pemerintahan Harian (BPH) adalah pembantu kepala daerah dalam urusan dibidang tugas pembantuan dalam pemerintahan. Anggota BPH memberikan petimbangan kepada kepala daerah, baik diminta maupun tidak.
A.Kesimpulan
1. Adanya gelombang reformasi tahun 1998, membawa perubahan terhadap sistem pemerintahan, tuntutan agar dikembalikannya fungsi DPRD sebagai bagian dari pemerintah daerah diakomodasi UU No.22 Tahun 1999. Peran DPRD kemudian sangat besar. DPRD mempunyai tugas untuk memberikan pelayanan publik terhadap masyarakatnya, pelayanan yang prima dan berkualitas.
2. Tahun 2007, ketika masa bakti anggota DPRD 2004-2009 berjalan, DPRD Kota Bekasi melakukan proglam legislasi untuk penyelenggaraan pelayanan publik. Peran DPRD besar dalam penyusunannya, dimulai dengan membentuk dasar hukum peraturan daerah, membentuk tim pansus, melakukan kunjungan kerja, rapat dengan eksekutif dan legislatif. Melakukan sosialisasi ke instansi terkait pelayanan publik.
3. Pengawasan DPRD Kota Bekasi terhadap peraturan daerah pelayanan publik, kurang dimaksimalkan dengan baik, dengan alasan bahwa perda yang dihasilkan DPRD banyak, sehingga sulit untuk mengkontrol pengawasan tiap peraturan daerah. Namun DPRD melakukan pengawasan pelayanan publik dengan melakukan kunjungan kerja ke instansi terkait dari BPPT, Dinas sampai kekelurahan.
B. Saran
Dengan adanya peraturan daerah Kota Bekasi tentang penyelenggaraan pelayanan publik, diharapkan adanya peningkatan kualitas dan pelayanan terhadap masyarakat, DPRD sebagai lembaga legislatif yang dalam UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah bersifat sejajar dan kemitraan dengan lembaga eksekutif, mempunyai fungsi bukan hanya dalam membuat peraturan daerah saja, melainkan juga ada anggaran dan pengawasan.
DPRD Kota Bekasi sebagai lembaga legislatif juga harus mengoptimalisasi fungsinya. Setelah pembentukan peraturan daerah tentang penyelenggaraan pelayanan publik, ada baiknya DPRD kota bekasi juga mensosialisasikan kepada masyarakat, sosialisasinya juga bukan hanya pada saat sidang paripurna saat pengesahan peraturan daerah tetapi juga terjun langsung kedaerah pemilihnya, selama ini masa reses terlihat seperti seremonial saja, karena yang didatangi hanya sekelompok kecil dari masyarakat. Dan DPRD Kota Bekasi juga harus berperan sebagai pengawas, jangan sampai habis ditetapkan peraturan daerah dilupakan begitu saja. Harus ada pengawasan dalam jangka panjang, yang nantinya bisa dievaluasi apakah peraturan daerah ini sudah sesuai dengan pelayanan terhadap masyarakat atau perlu diperbaiki lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, Bratha, Denny. Menyusuri Bekasi Raya Jejak Reportase. Bekasi: Rinjani Kita: 2009
Dagun, Save M. Kamus Besar Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara (LPKN), 1997
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bekasi. Risalah Kota Bekasi. Bekasi: Pemkot Bekasi, 2009
Djohan, Djohermansyah. “Fenomena Etnosentrisme Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah”dalam Haris, Syamsuddin, ed. Desentralisasi dan Otonomi Daerah, Desentralisasi, Demokrasi, Akuntabilitas Pemerintahan Daerah. Jakarta: LIPI Press, 2007
Dwi, Jowijoyo, Nugroho, Riant. Kebijakan Publik Formulasi Implementasi dan Evaluasi. Jakarta: Gramedia, 2004
Hidayat, Misbah L. Reformasi Administrasi Kajian Komparatif Pemerintahan tiga Presiden. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007
Jeddawi, Murtir. Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah Analisis Kewenangan, Kelembagaan, Manajemen Kepegawaian, dan Peraturan Daerah. Yogyakarta: Kreasi Total Media, 2008
Kansil, C.S.T, Dkk. Hukum Administrasi Daerah. Jakarta: Jala Permata Aksara, 2009
Kansil, C. S. T. Pokok-Pokok Administrasi Di Daerah, Jakarta: Aksara Baru, 1979 Labolo, Muhammad. Memahami Ilmu Pemerintahan Suatu Kajian, Teori, Konsep,
dan Pengembangannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006
Marbun, BN. Kamus Politik. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007
, DPRD Pertumbuhan dan Cara Kerjanya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2006
Muluk, M.R. Khairul. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. Malang: Bayu Media, 2006
Mawardi Sindung Oentarto, Dkk. Menggagas Format Otonomi Daerah Masa Depan. Jakarta: Samitra Media Utama, 2004
Nurhasim Mochammad, ed., Kualitas Keterwakilan Legislatif: Kasus Sumbar, Jateng, Jatim, Jatim dan Sulsel. Jakarta: P2P LIPI, 2001
Pemerintah Kota Bekasi, Selayang Pandang Kota Bekasi 2007. Bekasi: Badan Infokom Kota Bekasi, 2007
Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik Di Kota Bekasi