PERATURAN DAERAH NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK
D. Peranan DPRD Dalam Pengawasan Peraturan Daerah Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik
B.4. DPRD Dalam Undang-Undang No.18 Tahun 1965
Pada tanggal 1 september 1965 diundangkan UU No.18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah RI. Diberlakukannya UU No.18 Tahun 1969 dipicu oleh lemahnya posisi kepala daerah dalam UU No.1 Tahun 1957.35 UU No.18 Tahun 1965 ini merupakan gabungan atau pencakupan dari segala pokok unsur-unsur pemerintahan daerah.
Dibandingkan dengan Undang-undang sebelumnya posisi DPRD dalam Undang-undang ini sangat minim.36 Bentuk dan susunan pemerintahan daerah terdiri dari: Kepala Daerah dan DPRD. Kepala Daerah melaksanakan politik pemerintahan dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Mentri Dalam Negeri menurut hierarki yang ada. kepala daerah juga dibantu oleh wakil kepala daerah dan badan pemerintahan harian. Pimpinan DPRD dalam menjalankan tugasnya bertanggung jawab kepada kepala daerah. DPRD menetapkan peraturan-peraturan daerah untuk kepentingan daerah atau untuk melaksanakan peraturan-peraturan perundangan yang lebih tinggi tingkatannya yang pelaksanaannya ditugaskan kepada daerah. Anggota-anggota Badan Pemerintahan Harian (BPH) adalah pembantu kepala daerah dalam urusan dibidang tugas pembantuan dalam
34
Isbodroini Suyanto, “Otonomi Daerah dan Fenomena Etnosentrisme,” h. 247
35
M.R.Khairul Muluk, Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah, h. 134
36
BN Marbun, DPRD Pertumbuhan dan Cara Kerjanya (Jakarta: Pustaka Sinar harapan, 2006), h.76
pemerintahan. Angota BPH memberikan petimbangan kepada kepala daerah, baik diminta maupun tidak.
B.5. DPRD Dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1974
Hadirnya UU No.5 Tahun 1974 dilatarbelakangi oleh runtuhnya rezim Orde Lama yang di pimpin oleh Presiden Soekarno dan digantikan oleh Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden soeharto. Pergantian rezim ini terjadi setelah UU No.18 Tahun 1965 relatif baru diberlakukan. Dan pergolakan politik yang meletus melalui peristiwa G 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia (PKI) telah menunda berlakunya UU No.18 Tahun 1965 tersebut.
Menurut pasal 13 UU No.5 Tahun 1974: “Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah”. Dengan demikian maka dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah ada pembagian yang jelas dalam kedudukan yang sama tinggi antara Kepala Daerah dan DPRD, yaitu Kepala Daerah memimpin eksekutif dan DPRD bergerak dalam bidang legislatif. Akan tetapi DPRD tidak boleh mencampuri urusan eksekutif. Dan dalam Undang-undang ini tidak mengenal lembaga BPH atau DPD.37
Sifat UU No.5 Tahun 1974 sangat sentralistik hal ini bisa dilihat dari kedudukan Kepala Daerah yang ditentukan oleh pusat tanpa bergantung dari hasil pemilihan oleh DPRD. Kepala Daerah hanya bertanggung jawab kepada pusat dan tidak kepada DPRD. Ia hanya memberikan laporan kepada DPRD dalam tugas
37
BN Marbun, DPRD Pertumbuhan dan Cara Kerjanya (Jakarta: Pustaka Sinar harapan,
bidang pemerintahan daerah, Sehingga DPRD tidak mempunyai kekuasaan terhadap Kepala Daerah.38
B.6. DPRD Dalam Undang-Undang No.22 Tahun 1999
Lahirnya gerakan reformasi dengan tuntutan demokratisasi, telah membawa perubahan pada segi kehidupan masyarakat dan termasuk didalamnya perubahan dalam pola hubungan pusat-daerah. Sistem pengelolaan pemerintahan daerah di Indonesia juga memasuki babak baru diera pemerintahan Habibie. Tuntutan dan wacana didaerah bahwa pemerintahan daerah perlu memiliki otonomi yang luas dalam merumuskan, mengelola, dan mengevaluasi kebijakan publik terakomodasi.39
DPR secara resmi mengesahkan UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah pada 21 April 1999, yang mengubah secara drastis UU No.5 Tahun 1974 ketika penyelenggaraan dilakukan secara sentralistis, tawaran otonomi luas dan desentralisasi atau yang dikenal dengan otonomi daerah menjadi penyejuk hampir semua daerah pemberian otonomi ysng luas diyakini mampu mencegah terjadinya disintegrasi bangsa.40
Undang-undang ini mencoba untuk menciptakan pola hubungan yang demokratis antara pusat dan daerah, undang-undang otonomi daerah ini bertujuan untuk memberdayakan daerah dan masyarakatnya serta mendorong daerah agar dapat merealisasikan aspirasinya. Penguatan masyarakat dilihat dengan
38
Isbodroini Suyanto, “Otonomi Daerah dan Fenomena Etnosentrisme,” h. 252
39
L. Misbah Hidayat, Reformasi Administrasi Kajian Komparatif Pemerintahan Tiga
Presiden (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama, 2007), h. 39
40
J.Kaloh, Mencari Bentuk Otonomi Daerah Suatu Solusi Dalam Menjawab Kebutuhan
diberdayakannya DPRD. Dan Gubernur sebagai eksekutif daerah bertanggung jawab kepada DPRD sedangkan Bupati/Walikota kepada DPRD Kabupaten/DPRD Kota.
UU No.22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah sangat strategis. Karena kebijakan desentralisasi dalam undang-undang tersebut merupakan bagian dari kebijakan demokratisasi pemerintahan. Karena itu, penguatan peran DPRD, baik dalam proses legislasi maupun pengawasan atas jalannya pemerintahan daerah, perlu dilakukan. Menurut UU No.22 Tahun 1999, posisi DPRD sejajar dengan pemerintahan daerah, bukan sebagai bagian dari pemerintaha daerah seperti yang berlaku sebelumnya sesuai UU No.5 Tahun 1974 yang menyatakan DPRD bukan berkedudukan sebagai badan legislatif tetapi bersama dengan kepala daerah merupakan pemerintah daerah (local goverment).41
Pasal 16 dari UU ini menyatakan bahwa DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan pancasila, DPRD sebagai badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari pemerintah daerah. Di samping itu kuatnya kedudukan DPRD juga dinyatakan dalam pasal 18 dari UU ini juga dinyatakan beberapa tugas dan wewenang DPRD untuk memilih Kepala Daerah dan wakilnya, memilih utusan Daerah, mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Daerah dan wakilnya dimana DPRD.42
41
Baban Sobandi, DKK, Desentralisasi dan Tuntutan Penataan Kelembagaan Daerah
(Bandung: Humaniora, 2006), h. 117
42
B.7. DPRD Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004
Pada tahun kelima implementasi UU No.22 Tahun 1999 tepatnya tahun 2004 pada masa kepresidenan Megawati, dengan berbagai latar belakang pertimbangan sebagai akibat dari dampak implementasi UU tersebut, muncul kehendak pemerintah untuk mengadakan revisi untuk undang-undang tersebut, yang akhirnya memunculkan undang-undang pemerintahan daerah yang baru, yaitu UU No.32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. UU 22 Tahun 1999 dinilai kurang demokratis dan dalam tataran konsep kurang membagi secara jelas tugas dan kewenangan, hubungan antar strata pemerintah, dan perimbangan keuangan. Pola hubungan DPRD dan Kepala Daerah kurang berlangsung baik karena dalam praktiknya DPRD mendominasi, sehingga memunculkan ketidakstabilan pemerintahaan daerah.43
Dalam Undang-undang ini juga diatur mengenai pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan daerah yang dilakukan oleh lembaga pemerintah daerah yaitu pemerintah daerah dan DPRD. Kepala daerah dan kepala pemerintah daerah dipilih secara demokratis. Sehingga DPRD sudah tidak memiliki wewenang lagi untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah, dan pemilihan secara demokratis dalam undang-undang ini yaitu pemilihan secara langsung oleh rakyat. Kepala daerah dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh seorang wakil kepala daerah, dan perangkat daerah. Penyelenggaraan pilkada langsung dilaksanakan oleh komisi
43
J.Kaloh, Mencari Bentuk Otonomi Daerah Suatu Solusi Dalam Menjawab Kebutuhan
pemilihan umum daerah (KPUD), KPUD bertanggung jawab kepada DPRD setempat. Setipa usulan KPUD harus berdasarkan pengesahan DPRD.44
Hubungan antara pemerintah daerah dan DPRD merupakan hubungan kerja yang kedudukannya setara dan bersifat kemitraan, kedudukan setara bermakna sejajar dan tidak saling membawahi. Kemitraan bermakna bahwa antara pemerintah daerah dan DPRD adalah sama-sama mitra sekerja dalam membuat kebijakan daerah untuk melaksanakan fungsi masing-masing sehingga antar kedua lembaga ini membangun hubungan kerja yang sifatnya mendukung.
UU No.32 Tahun 2004 dinilai sebagai Undang-undang yang demokratis karena kepala daerah dan DPRD dipilih langsung oleh rakyat. Dan pembagian wewenang serta tugas tidak saling tumpang tindih satu sama lain, keduanya membangun korelasi kerja yang saling menguntungkan dan bertanggung jawab untuk membuat kebijakan publik.
C.Refleksi Peran DPRD Dalam Otonomi Daerah
Peran DPRD dalam otonomi daerah yang dimuat dalam undang-undang pemerintahan daerah selalu berubah arah kebijakannya, ini dikarenakan adaptasi pelaksanaan otonomi daerah terhadap pemerintah pada awal kemerdekaan belum stabil, sehingga dari awal kemerdekaan hingga sekarang kebijakan Peran DPRD dalam otonomi daerah berbeda-beda.
UU No.1 tahun 1945 merupakan undang-undang pertama tentang pemerintahan daerah, DPRD pada ketika itu disebut Komite Nasional Daerah yang
44
Muhammad Labolo, Memahami Ilmu Pemerintahan Suatu Kajian, Teori, Konsep dan
pada mulanya adalah badan yang merupakan duplikasi komite nasional pusat untuk daerah-daerah, Komite nasional daerah lalu berubah menjadi badan perwakilan rakyat daerah (BPRD) yang menjadi badan legislatif.
Maka UU No.22 Tahun 1948 sudah ada pembentukan DPRD dan DPD untuk mengatur urusan rumah tangganya sendiri. Kepala daerah diangkat oleh pemerintah pusat dari calon yang diajukan DPRD dan bertindak selaku ketua DPD. Dan DPD yang menjalankan urusan pemerintahan daerah bertanggung jawab kepada DPRD baik secara kolektif maupun sendiri, sehingga posisi kepala daerah sangat bergantung kepada DPRD. Dalam UU No.
1 Tahun 1957 ditentukan bahwa kepala daerah hanya bertanggung jawab kepada DPRD.45 Perubahan mendasar terjadi lagi dengan di Undangkannya UU No.18 Tahun 1965 dibentuk BPH untuk membantu Kepala daerah dan DPRD dalam menjalankan tugasnya bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Pergantian kepemimpinan nasional dan pemerintahan akibat G-30-S PKI, mengakibatkan terhambatnya pelaksanaan UU No. 18 Tahun 1965 dan di gantikan oleh UU No.5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah di bawah pimpinan Presiden Soeharto yang menggantikan Presiden Soekarno, sistem pemerintahan daerah menggunakan tiga asas pemerintahan yaitu: desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. BPH dihapuskan didalam pemerintahan daerah, tidak dilaksanakannya hak angket DPRD yang dapat mengganggu keutuhan Kepala
45
Negara, Kepala Daerah tidak bertanggung jawab kepada DPRD, tetapi secara hierarki kepada Presiden46.
adanya reformasi 1998 menjadi arus balik kewenangan pusat kepada daerah, tuntutan untuk diterapkannya otonomi daerah yang tidak sentralistis di tuangkan dalam UU No.22 Tahun 1999 yang menggantikan UU No.5 tahun 1974, undang-undang ini juga menjadi babak baru bagi perjalanan otonomi daerah dan kepemimpinan Presiden Soeharto yang digantikan Oleh Habibie. UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah memberikan peran sentral kepada DPRD dalam menentukan jalannya pemerintahan daerah ditandai dengan besarnya kewenangan DPRD dalam memilih dan menetapkan Kepala daerah dan memposisikan Kepala daerah untuk bertanggung jawab kepada DPRD, apa bila tidak bertanggung jawab maka DPRD dapat mengusulkan pemberhentian kepala daerah yang bersangkutan.
UU No.5 Tahun 1974 dinilai gagal dalam mewujudkan hak-hak daerah dalam mengembangkan daerahnya sendiri, karena masih terkontrol oleh pusat. Salah satu perubahan yang sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan didaerah berdasarkan UU No.22 Tahun 1999 adalah dipisahkannya secara tegas antara institusi Kepala Daerah dengan DPRD. UU No. 22 tahun 1999 secara tegas menetapkan bahwa didaerah dibentuk DPRD sebagai lembaga legislatif daerah dan
46
Sarundajang, Babak Baru Sistem Pemerintahan Daerah (Jakarta: Kata Hasta, 2005), h. 118-119
pemerintah daerah sebagai badan eksekutif daerah yang terdiri dari Kepala Daerah beserta perangkat daerah47.
Dan seiring perjalanan otonomi daerah maka UU No. 22 Tahun 1999 di revisi pada masa pemerintahan Megawati dengan penerapan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam undang-undang ini DPRD tidak mempunyai kekuasaan penuh terhadap Kepala Daerah, karena Kepala Daerah dipilih oleh rakyat lewat pemilu sehingga pertanggungjawabannya langsung kepada rakyat. Pola hubungan DPRD dan kepala daerah sebagai mitra dan bekerja sama untuk mengembangkan daerah otonomnya sendiri.
Negara Indonesia di bawah pemerintahan orde baru kurang lebih 30 tahun menerapkan pelaksanaan sistem yang sentralistik ini kemudian melakukan gelombang protes dari tahun 1997 sampai 1998. Banyaknya tuntutan agar ada perbaikan pola hubungan kerja antara pemerintah pusat dan daerah dan memberikan peran DPRD sebagimana mestinya, akhirnya dikeluarkanlah UU No.22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang membuat posisi DPRD kuat sebagai lembaga legislatif.
Penerapan otonomi daerah, sesuai dengan ketetapan MPR No.IV/MPR/2000 tentang pemerintahan daerah telah dilaksanakan sejak tanggal 1 januari 2001.48 Pelaksanaan otonomi daerah secara demokratis bisa dilihat dalam pelaksanaan pemilihan umum secara langsung untuk memilih anggota DPRD sebagai lembaga
47
Sarundajang, Arus balik Kekuasaan Pusat Ke Daerah (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002), Cet.4, h. 7
48
Mardiyanto, “Penerapan Otonomi Daerah Di jawa Tengah: Masalah Desentralisasi,
Demokratisasi Dan Akuntabilitas” dalam Syamsuddin Haris (editor), Desentralisasi dan Otonomi
legislatif, dan pemilihan kepala daerah yang sejak juni 2005 di sebagian negara Indonesia. Pemilihan kepala daerah disinyalir untuk memperkokoh demokrasi dan sebagai bagian program desentralisasi yang berkesinambungan, yang menjadikan kepala daerah bertanggung jawab kepada pemilihnya langsung bukan kepada DPRD, seperti yang dituangkan dalam UU No.32 Tahun 2004 yang berpotensi besar untuk memperkuat tata pemerintahan.
BAB III
GAMBARAN UMUM TENTANG KOTA BEKASI
A.Sejarah Kota Bekasi
Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri. Itulah sebutan Bekasi tempo dulu sebagai ibukota Kerajaan Tarumanagara (358-669 M). Luas kerajaan ini mencakup wilayah Bekasi, Sunda Kelapa, Depok, Cibinong, Bogor, hingga kewilayah sungai Cimanuk di Indramayu. Menurut para ahli sejarah dan filologi, letak Dayeuh Sundasembawa atau jayagiri sebagai ibukota Tarumanagara adalah diwilayah Bekasi sekarang.49
Dayeuh Sundasembawa merupakan daerah asal maharaja Tarusbawa (669-723 M) pendiri Kerajaan Sunda (disebut pula Kerajaan Pajajaran) yang seterusnya menurunkan raja-raja sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragamulya, raja Sunda yang terakhir.50
49
Pemerintah Kota Bekasi, Selayang Pandang Kota Bekasi 2007 (Bekasi: Badan Infokom
Kota Bekasi, 2007), h. 8
50
Kata Bekasi diduga berasal dari suku kata Chandrabhaga, salah satu suku kata dalam Prasasti Tugu. Dalam bahasa sansakerta Chandra berarti Bulan, dan Bhaga berarti Bahagia. Menurut Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, seorang pakar bahasa, kata Chandra dalam bahasa Jawa Kuno sama dengan kata Sasi. Sehingga Chandrabhaga juga identik dengan Sasibhaga, jika dilafalkan terbalik menjadi bhagasasi, yang lambat laun menjadi Bekasi.51
Wilayah bekasi tercatat sebagai daerah yang banyak memberi informasi tentang keberadaan Tatar Sunda pada masa lampau. Diantaranya dengan ditemukannya empat prasasti yang dikenal dengan Prasasti kabantenan. Keempat prasasti ini merupakan keputusan (piteket) dari Sri baguda Maharaja (Prabu siliwangi, Jayadewa 1482-1521 M) yang ditulis pada lima lempeng tembaga. Sejak abad kelima masehi pada masa Kerajaan tarumanagara, abad kedelapan Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Pajajaran pada abad ke-14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu daerah strategis, yakni penghubung antar daerah ke Pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta).
Ketika Belanda datang merebut Jayakarta pada 31 mei 1619 dan nama jayakarta diubah menjadi Batavia. Bekasi pada zaman Hindia belanda hanya merupakan kewedanaan (district) yang termasuk dalam regenshaf (kabupaten) Meester Cornelis. Saat itu kehidupan sistem kemasyarakatan, khususnya sektor ekonomi dan pertanian didominasi dan dikuasai oleh para tuan tanah keturunan cina, sehingga dengan kondisi tersebut seolah-olah bekasi mempunyai bentuk
51
Denny Bratha Affandi, Menyusuri Bekasi Raya Jejak Reportase (Bekasi: Rinjani Kita, 2009), h. 3
pemerintahan ganda yaitu pemerintahan tuan tanah didalam pemerintahan colonial. Kondisi ini berlangsung hingga kependudukan Jepang.52
Pada bulan maret 1942 pemerintah Hindia belanda menyerah tanpa syarat kepada bala tentara dai Nippon. Tentara pendudukan jepang melaksanakan japanisasi disemua sektor kehidupan. Nama Batavia diganti dengan nama Jakarta. Regenschap Meester Cornelis menjadi Ken Jatinegara yang daerahnya meliputi Gun Bekasi, Gun Cikarang, Gun kemayoran, dan Gun Mataram.53
Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 struktur pemerintah kembali berubah nama, Ken menjadi Kabupaten, Gun menjadi Kewedanaan, Son menjadi Kecamatan dan Kun menjadi Desa./Kelurahan. Dalam upaya pertahanan perang gerilya menghadapi agresi Belanda, maka Saat itu Ibu Kota kabupaten Jatinegara selalu berubah-ubah, mula-mula di Tambun, lalu Cikarang, kemudian Bojong (Kedung Gede).
Pada waktu itu Bupati Kabupaten Jatinegara adalah Bapak Rubaya Suryanata Miharja. Kemudian saat kependudukan oleh tentara Belanda, Kabupaten Jatinegara dihapus kedudukannya dikembalikan seperti zaman Regenschap Meester Cornelis yaitu menjadi kewedanaan. Kewedanaan Bekasi termasuk daerah Batavia En Omelanden sedangkan batas bulak kapal ketimur termasuk wilayah Negara Federal sesuai Staatsblad Van Nederlandschindie 1948 Nomor 178 Negara Pasundan.
52
Dewan Perwakilan rakyat Daerah Kota Bekasi, Risalah Kota Bekasi , (Bekasi: Pemkot Bekasi, 2009), h. 2
53
Ketika proklamasi dikumandangkan, rakyat dikota-kota sekitar Jakarta termasuk Bekasi, menyambut dengan suka cita. Pergerakan melawan kekejaman Jepang di Bekasi yang muncul dimana-mana sampai menimbulkan peristiwa yang kemudian dikenal sebagai ‘Tragedi Kali Bekasi’ pada 19 Oktober 1945 dan peristiwa “Bekasi Lautan Api” pada 23 November 1945. 54
Dalam proses selanjutnya, ketika situasi semakin membaik, Bekasi yang merupakan kewedanaan bagian dari kabupaten Jatinegara dikritisi oleh rakyat dan tokoh masyarakat dengan membentuk Panitia Amanat Rakyat Bekasi. Pada 17 Januari 1950 mereka menggelar rapat raksasa yang juga dihadiri 40.000 rakyat Bekasi.55 Mereka menyampaikan hasrat dan pernyataan sebagai berikut:
1. Rakyat Bekasi tetap berdiri di belakang Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Rakyat Bekasi mengajukan usul kepada Pemerintah Pusat agar Kabupaten Jatinegara menjadi Kabupaten Bekasi.
Setelah tiga kali pembicaraan dari Februari sampai Juni 1950, akhirnya Mohammad Hatta sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat (RIS) menyetujui pembentukan Kabupaten Bekasi. Berdasarkan UU No. 14 Tahun 1950 Tanggal 15 Agustus 1950 terbentuklah Kabupaten Bekasi. Pada saat itu Kabupaten Bekasi terdiri dari empat Kewedanaan, 13 Kecamatan, dan 95 Desa, mulai saat itu pula kecamatan cibarusah masuk kedalam wilayah Kabupaten Bekasi. Angka-angka
54
Pemerintah Kota Bekasi, Selayang Pandang Kota Bekasi 2007, h. 9
55
Chotim Wibowo, Dkk, Setahun Duet Kepemimpinan Akhmad-Mochtar (Bekasi: Satu
tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi. Moto Kabupaten Bekasi adalah “Swatantra Wibawa Mukti” selanjutnya mulai Tahun 1960 kantor Kabupaten Bekasi pindah dari Jatinegara ke Bekasi (Jl. H Juanda). Dengan Bupati pertama R. Suhandar Umar, SH.56
Perkembangan Kabupaten Bekasi meningkat dari tahun ketahun, sebagai Kota penyangga Ibu Kota Jakarta dan kabupaten Bekasi mulai diperhitungkan dari segi perekonomian dan politik, perkembangan dari pemerintahan pada saat itu menuntut adanya pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat, maka pada Tahun 1982 saat Bupati dijabat oleh Bapak H. Abdul Fatah, komplek perkantoran pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Bekasi yang semula berlokasi di JL. Ir. H. Juanda dipindahkan ke Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 1 Bekasi.57
Tuntutan kehidupan masyarakat perkotaan memerlukan adanya pelayanan khusus, dan perkembangan Kecamatan Bekasi menuntut dimekarkannya Kecamatan Bekasi menjadi Kota Administratif Bekasi. Bagaimana Kecamatan Bekasi menjadi Kota Bekasi akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.
B. Penjelasan Singkat Pemekaran Kota Bekasi Dari Kabupaten Bekasi
Kota Bekasi berasal dari pemekaran Kabupaten Bekasi, yang awalnya menjadi kecamatan Kabupaten Bekasi. Kecamatan Bekasi merupakan kecamatan yang lebih berkembang dibandingkan kecamatan lain yang ada di Kabupaten Bekasi. Berkembangnya kecamatan Bekasi dikarnakan kantor Kabupaten bekasi yang berada di kecamatan Bekasi dan adanya tuntutan kehidupan masyarakat
56
Dewan Perwakilan rakyat Kota Bekasi, Risalah Kota Bekasi, h. 6
57
perkotaan yang memerlukan pelayanan khusus, akhirnya perkantoran pemerintah daerah Kabupaten Bekasi di pindahkan dari kecamatan Bekasi karena perkembangan kecamatan Bekasi menuntut dimekarkannya kecamatan Bekasi.
Berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 48 Tahun 1981 kecamatan Bekasi ditingkatkan statusnya menjadi Kota Administratif Bekasi yang meliputi 4 (empat) kecamatan yaitu: Kecamatan Bekasi Barat, Bekasi Timur, Bekasi Utara, dan Bekasi Selatan, keseluruhannya meliputi 18 (delapan belas) Kelurahan serta 8 (delapan) Desa. Peresmianya dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 April 1982.
Walikota administratif Bekasi pertama dijabat oleh Soedjono (1982-1988), selanjutnya pada Tahun digantikan oleh Drs. Andi R. Sukardi (1988-1991), dan pada Tahun 1991 Walikota administratif Bekasi dijabat oleh Drs. H. Kailani AR. Sampai Tahun 1997.58
Dengan adanya kebijakan konsep BOTABEK (Bogor Tangerang Bekasi) yang merupakan pelaksanaan inpres Nomor 13 Tahun 1976 membawa pengaruh besar terhadap perkembangan Kota Administrasi Bekasi. Sebagai kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara maka Kota Administratif Bekasi dan kecamatan-kecamatan sekitarnya yang berada dalam wilayah kerja Kabupaten Bekasi mengalami perubahan sangat pesat, sehingga memerlukan peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana sebagai syarat pengelolaan wilayah.
58
Perkembangan yang ada telah menunjukan bahwa Kota Administratif Bekasi mampu memberikan dukungan kemampuan dan menggali potensi diwilayahnya untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, maka melalui UU No. 9 Tahun 1996 Kota Administratif Bekasi ditetapkan menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bekasi dengan wilayah kerjanya meliputi: wilayah kerja Kota administratif Bekasi yaitu Kecamatan Bekasi Barat, Bekasi Timur, Bekasi Utara, dan Kecamatan Bekasi Selatan ditambah dengan wilayah kerja Kecamatan Pondokgede, Jatiasih, Bantargebang, dan Kecamatan pembantu Jatisampurna. Keseluruhannya meliputi 23 Desa dan 27 Kelurahan.
Selaku pejabat Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi dijabat oleh Drs. H. Kailani AR, selama satu tahun. Selanjutnya berdasarkan hasil pemilihan terhitung mulai tanggal 23 Pebruari 1998 Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi Definitif yang pertama dijabat oleh Drs. H. Nonon Sonthanie.
Dalam perkembangan telah terjadi perubahan dalam jumlah dan status Kelurahan/Desa. Berdasarkan surat Menteri Dalam Negeri No. 140/2848/puod tanggal 3 September 1998 dan keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat No. 50 Tahun 1998 telah terjadi perubahan status 6 Desa menjadi 2 Kelurahan baru, sehingga jumlah Desa/Kelurahan di Kotamadya Daerah Tingkat II Bekasi menjadi 52 terdiri dari 35 Kelurahan dan 17 Desa.
Dengan diberlakukannya UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah terjadi perubahan paradigma dalam penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah di Indonesia. Seiring dengan itu Nomenklatur Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Bekasi berubah menjadi Pemerintahan Kota Bekasi, selanjutnya sebagai tindak lanjut pelaksanaan Otonomi Daerah berdasarkan UU No.22 Tahun 1999 dan UU No.25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Kewenangan