• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2003. Pada Hari Anak: Mari Dengar Suara Anak Jalanan. www.kompas-

cetak.com. [diakses tanggal 26 Agustus 2008].

Anonim. 2004. Model Pemberdayaan Anak Jalanan Berbasis Keluarga dengan Pendekatan Multisystem.Departemen Sosial. Jakarta: UMJ Press.

Anonim. 2006. Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan. Jakarta: Departemen Sosial.

Anonim. 2007. Anak Jalanan. http://www.kksp.or.id [diakses tanggal 17 November 2007].

Baron, Robert A. 2004. Psikologi Sosial. Penerjemah Ratna Djuwita dkk. Jakarta: Erlangga.

Burns, R.B. 1993. Konsep Diri: Teori, Pengukuran, Perkembangan, dan Perilaku. Penerjemah Eddy. Jakarta: Arcan.

Handoyo dkk. 2004. Profil Anak Jalanan Perempuan di Kota Semarang (Kebutuhan, Motivasi dan Aspirasinya). Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

Hartini dkk. 2001. Profil IQ dan EQ Anak Rentan Jalanan dalam Jurnal Penelitian Dinamika Sosial volume 2 nomor 3. Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Hasbiansyah, O. 1997. Konsep Diri dan Kepemimpinan KB Dalam Pembinaan Institusi Masyarakat Pedesaan (Kasus di kabupaten DT II Sumedang Propinsi Jawa Barat). Tesis. Bogor: Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Karnaji dkk. 2001. Studi Tentang Penyusunan Model Pembinaan dan Pemberdayaan Anak Jalanan dalam Jurnal Penelitian Dinamika Sosial volume 2 nomor 3. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Airlangga.

Marliana, Wina. 2006. Analisis Tingkat Kekerasan pada Anak Jalanan (Kasus Anak Jalanan Binaan RPA Gessang Ghosyaari, Bogor, Jawa Barat). Skripsi. Bogor: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. IPB.

Moeko, Norman. 2008. Anak Jalanan, Negara Kok Tiba-tiba Lupa?.

www.sinarharapan.com. [diakses tanggal 26 Agustus 2008].

Muslim, Mudaris dan Siti Mardiyati.2004. Identifikasi Problem Pribadi dan Konsep Diri Anak Jalanan yang Belajar di SD dan SMP. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Purwaningsih. 2003. Keadaan Lingkungan Keluarga dan Sosial serta Perilaku Anak Jalanan di Kota Bogor. Skripsi. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. IPB.

Puspasari, Amaryllia. 2007. Mengukur Konsep Diri Anak. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Rakhmat, Jalaludin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ruslan, Rosady. 2006. Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Singarimbun, masri dan Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.

Soe’oed, R. Diniarti. F.1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga dalam T.O Ihromi (Penyunting). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sugiharto, Sri Tjahjorini. 2001. Persepsi Anak Jalanan Terhadap Bimbingan Sosial Melalui Rumah Singgah di Kotamadya Bandung. Tesis. Bogor: Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan. IPB.

Suparlan, Supardi. 1993. Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Sutinah. 2001. Anak Jalanan Perempuan:Studi Kualitatif tentang Strategi Bertahan Hidup dan Tindak Kekerasan Seksual yang Dialami Anak Jalanan Perempuan di Kota Surabaya dalam Jurnal Penelitian Dinamika Sosial volume 2 nomor 3. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Airlangga.

Syahril dkk. 2000. Kajian Terhadap Kehidupan dan Perilaku Anak-anak Jalanan Serta Dampak Sosial yang Ditimbulkannya. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu.

Tauran. 2000. Studi Profil Anak Jalanan Sebagai Upaya Perumusan Model Kebijakan dalam Jurnal Administrasi Negara volume 1 nomor 1.

Yudi, Kespa Krismituhu. 2006. Analisis Peran Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan (kasus Rumah Singgah Rumah Kita, Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat). Skripsi. Bogor: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. IPB.

Lampiran 1. Kegiatan Belajar di Rumah Singgah Yayasan Titian Mandiri

Kegiatan Belajar Paket B (Kejar Paket B)

Kegiatan Belajar Paket B (Kejar Paket B)

Lampiran 2. Responden Anak Jalanan di beberapa Lokasi Penelitian

Pintu rel kereta Kebon Pedes Di depan Pusat Perbelanjaan Jogja

Di depan Pusat Perbelanjaan Hypermart

Lampiran 3. Lokasi Penelitian

Jl. Sholeh Iskandar di depan Pusat Perbelanjaan Hypermart

Lampu merah Jl. Baru

Lampiran 5. Kasus Anak Jalanan. Kasus 1

Syahrul adalah anak jalanan laki-laki yang berusia 18 tahun. Dia turun ke jalan sejak umur 13 tahun. Dari awal dia turun ke jalan dia bekerja sebagai pengamen. Pada awalnya dia hanya memakai alat kecrekan saja pada saat mengamen sedangkan sekarang dia sudah memakai gitar. Syahrul masih tinggal dengan kedua orang tuanya. Walaupun dia tidak sekolah formal, Syahrul mengikuti kegiatan belajar di Yayasan Titian Mandiri. Dia mengikuti kegiatan belajar tersebut untuk mendapatkan ijazah. Ijazah ini akan digunakan untuk melamar kerja ditempat lain.

Dia mempunyai adik yang juga bekerja sebagai pengamen yang bernama Syaiful (17 tahun). Syaiful dulunya adalah seorang bandar narkoba khususnya pil leksotan. Namun dalam melaksanakan aktivitasnya sebagai penjual pil leksotan, Syahrul tidak pernah mengadukan pekerjaan adiknya kepada kedua orang tua mereka. Selain itu, Syahrul mempunyai grup band yang namanya masih sering berganti-ganti. Grup ini terbentuk bersama temannya yang juga bekerja sebagai anak jalanan yaitu Barok (17 tahun). Walaupun adiknya, Syaiful dan temannya Barok pernah terlibat dengan kasus narkoba, tetapi Syahrul tetap tidak terpengaruh dengan ikut-ikutan mengkonsumsi narkoba.

Syahrul mengatakan sebagai anak jalanan haruslah berpakaian rapi dan bersih. Menurutnya, sebisa mungkin sebagai pengamen penampilan harus menarik. Hal ini agar tidak mempermalukan sesama pengamen lainnya. Dia beranggapan dengan berpakaian rapi dan bersih penumpang tidak akan merasa risih dengan keberadaan pengamen di angkutan tempat mereka berada. Oleh karena itu dilihat dari pengamatan, penampilan Syahrul cukup rapi dan bersih bahkan dia terkadang menggunakan sepatu pada saat mengamen.

Syahrul pernah mendengar penumpang mengatakan bahwa anak muda yang mengamen itu malas. Namun dalam hal ini dia tidak setuju karena menurutnya bekerja sebagai pengamen merupakan kerja keras. Menurutnya menjadi pengamen sangat melelahkan karena harus bolak-balik turun angkutan umum dari pagi hingga siang dan harus menyanyikan minimal dua lagu tiap sekali naik angkutan umum.

Selain itu hubungan Syahrul dengan orang tuanya pun cukup baik. Sehabis mengamen dia sering berkumpul bersama kedua orang tuanya dan bercerita tentang saat-saat dia mengamen pada siang harinya. Orang tua Syahrul juga sering menanyakan kejadian-kejadian yang dialami Syahrul pada saat dia mengamen dan sering berpesan bahwa Syahrul harus berhati-hati ketika mengamen. Dalam hal cita-cita, Syahrul ingin bekerja di sektor formal. Dia ingin bekerja di kantor karena menurutnya bekerja di kantor tidak perlu merasakan panasnya sinar matahari.

Kasus 2

Responden yang kedua bernama Eneng (13 tahun). Eneng adalah satu- satunya anak perempuan di keluarganya. Kedua orang tuanya tidak bekerja. Ibunya menderita penyakit kanker rahim yang sering kambuh jika dia bekerja terlalu keras. Sedangkan ayahnya menderita penyakit paru-paru. Eneng mempunyai tiga kakak laki-laki. Kakaknya yang pertama sudah menikah dan

mempunyai satu orang anak namun tidak bekerja. Kakaknya yang kedua juga bekerja sebagai pengamen dan masuk penjara karena kasus narkoba. Sedangkan kakaknya yang ketiga juga bekerja sebagai pengamen namun hasil yang diperolehnya lebih banyak digunakan untuk membeli rokok dan jajan dibandingkan untuk keluarganya.

Eneng mengamen dari pagi hingga sore untuk keperluan keluarganya. Eneng mengikuti kegiatan belajar di Yayasan Titian Mandiri sejak umur enam tahun, namun ketika berumur 12 tahun, dia berhenti karena malu dengan ukuran tubuhnya yang lebih besar dari teman-temannya. Penampilan fisik Eneng dekil dan kotor. Dia merasa dirinya jelek karena kulitnya hitam akibat terkena sinar matahari ketika sedang mengamen. Eneng beranggapan bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang berkulit putih. Eneng tidak merasa malu berteman dengan teman-temannya.

Eneng merasa bangga dengan dirinya sendiri sebagai pengamen. Hal ini dikarenakan dia bisa menghasilkan uang untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Dia tidak merasa bahwa pekerjaan sebagai pengamen adalah suatu hal yang hina karena mengamen merupakan pekerjaan yang halal dan tidak merugikan orang lain. Dia juga merasa bahwa Tuhan masih mencintainya walaupun hidup dalam kemiskinan. Namun demikian, dia jarang menjalankan ibadah karena sering melupakan waktu solat.

Dokumen terkait