KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Apriyanto E. 2003. Pertumbuhan kayu bawang (Protium javanicum Burm. F)
pada tegakan monokultur kayu bawang di Bengkulu Utara. Jurnal Ilmu-
Ilmu Pertanian Indonesia 5(2): 64-70.
Arsyad S. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.
Bungin B. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif, Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Daniel TW, Helms JA, Baker F. 1987. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Marsono D,
penerjemah; Oemi HS, editor. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Principles of Silviculture.
Davis LS, Johnson KN, Bettinger PS, Howard TE. 2001. Forest Management, To
Sustain Ecological, Economic, and Sosial Values. Forth Edision. New York: MC Graw-Hill Book Co.
Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu. 2003. Budidaya Tanaman Kayu Bawang. Bengkulu: Dishut Provinsi Bengkulu.
Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2006. Data potensi hutan rakyat di Indonesia. Jakarta: Departemen Kehutanan.
Hakim et al. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bandar Lampung: Universitas
Lampung.
Hardjowigeno S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: Akademika Pressindo.
Haygreen JG, Bowyer JL. 1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Indrawan. 1999. Pendugaan biomassa pohon dengan model fractal branching pada hutan sekunder di Rantau Pandan Jambi [skripsi]. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Indriyanto. 2008. Pengantar Budi Daya Hutan. Jakarta: Bumi Aksara. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Bumi Aksara.
Johnson RA, Wichern DW. Applied Multivariate Statistical Analysis. USA:
Prentice Hall International, Inc.
Kementerian Lingkungan Hidup. 2007. Status lingkungan hidup Indonesia 2006. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup.
Kramer PJ, Kozlowski TT. 1960. Physiology of Trees. New York: Mc. Graw-Hill
Book Company.
Nuriyatin N, Apriyanto E, Satriya N dan Saprinurdin. 2003. Ketahanan lima jenis kayu berdasarkan posisi kayu di pohon terhadap serangan rayap. Jurnal Ilmu- Ilmu Pertanian Indonesia 5(2): 77-82.
41
Odum, E HLM. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Samingan T, Penerjemah.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari:
Fundamentals of Ecology.
Riyanto HD. 2001. Kayu bawang berpotensi untuk kayu pertukangan. Prosiding
Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang 12 November 2001. Palembang: 118-120.
Rusdiana O. 2007. Siklus nitrogen pada hutan tanaman pinus di hutan pendidikan Gunung Walat, Sukabumi [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Salisbury FB, Ross CW. 1995a. Fisiologi Tumbuhan (jilid 2). Lukman DR,
Sumaryono, penerjemah. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Terjemahan dari: Plant Physiology.
_____________________. 1995b. Fisiologi Tumbuhan (jilid 3). Lukman DR,
Sumaryono, penerjemah. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Terjemahan dari: Plant Physiology.
Siahaan H, Herdiana N, Rahman T, Sagala N. 2006. Peningkatan pertumbuhan bibit kayu bawang (Protium javanicum Burm. F) dengan aplikasi arang
kompos dan naungan. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai
Teknologi Reboisasi Padang 20 September 2006. Padang: 165-170.
Siahaan H, Herdiana N, Rahman T. 2008. Pengaruh periode dan ruang simpan
terhadap perkecambahan benih kayu bawang. Jurnal Penelitian Hutan
Tanaman 5 (2) : 83-90.
Siahaan H. 2009. Model pertumbuhan tegakan kayu bawang (Protium javanicum
Burm F.) pada berbagai pola tanam dan kerapatan tegakan [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Soekotjo W. 1976. Silvika. Bogor: Proyek Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, Institut Pertanian Bogor
Soerianegara I, Indrawan A. 2008. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor: Laboratorium Ekologi Hutan, Institut Pertanian Bogor.
Sosef MSM, Hong LT, Prawirohatmodjo S (Editor). 1998. Plant Resources of
South-East Asia. Bogor: Prosea 5(3).
Suhendang E. 1990. Hubungan antara dimensi tegakan hutan tanaman dengan faktor tempat tumbuh dan tindakan silvikultur pada hutan tanaman Pinus merkusii Jungh. Et De Vriese di Pulau Jawa [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Sumadi A, Siahaan H, Rahman T. 2007. Potensi pengembangan hutan tanaman
industri kayu pertukangan jenis kayu bawang di Bengkulu. Prosiding
Seminar Hasil-Hasil Penelitian: Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Pkln. Balai:21 Agustus 2007. Bogor: 133-136.
Van Noordjwik et al. 2002. Carbon stock assessment for a forest to coffie conversion landscape in Sumber Jaya (Lampung Indonesia): From Allometric Equation to Land Use Change Analysis. Science In China 45: 75-86.
Winarno B, Waluyo EA. 2007. Potensi pengembangan hutan rakyat dengan jenis tanaman lokal. Di dalam: Hendromono, I Anggraeni, dan K M Sallata,
editor. Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian: Optimalisasi Peran Iptek
dalam Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Pkln. Balai:21 Agustus 2007.
Lampiran 1 Profil tegakan pola tanam kayu bawang dikombinasikan dengan pisang
Lampiran 3 Profil tegakan pola tanam kayu bawang dikombinasikan dengan kopi dan karet
1 2002 8 102° 15' 09,6" BT; 03° 43' 57,8" LS 0 - lempung liat berpasir 3 m x 3 m Agroforestri: kayu bawang + pisang 2 2002 8 102° 15' 10,3" BT; 03° 43' 58,6" LS 0 - liat 3 m x 3 m Agroforestri: kayu bawang + pisang 3 2002 8 102° 15' 11,0" BT; 03° 43' 58,3" LS 5 Timur lempung liat berpasir 3 m x 3 m Agroforestri: kayu bawang + pisang 4 1997 13 102° 11' 15,9" BT; 03° 35' 36,6" LS 25 Utara lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 5 1998 12 102° 11' 15,4" BT; 03° 35' 36,8" LS 25 Utara lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 6 2001 9 102° 10' 48,7" BT; 03° 35' 06,8" LS 25 Utara liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 7 2003 7 102° 10' 48,3" BT; 03° 35' 07,4" LS 40 Barat liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 8 2001 9 102° 10' 47,7" BT; 03° 35' 06,7" LS 25 Barat liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 9 1998 12 102° 10' 52,0" BT; 03° 35' 02,4" LS 10 Barat liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 10 2000 10 102° 11' 20,4" BT; 03° 35' 43,9" LS 45 Selatan lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 11 2001 9 102° 11' 15,7" BT; 03° 35' 43,9" LS 40 Utara lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 12 2003 7 102° 11' 00,9" BT; 03° 31' 19,1" LS 0 - liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 13 2003 7 102° 11' 01,3" BT; 03° 31' 18,3" LS 56 Utara lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 14 2003 7 102° 10' 51,0" BT; 03° 31' 15,2" LS 55 Timur lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 15 2003 7 102° 11' 52,5" BT; 03° 31' 51,7" LS 35 Selatan lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 16 2003 7 102° 11' 19,2" BT; 03° 30' 52,0" LS 5 Timur liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 17 2003 7 102° 11' 19,4" BT; 03° 30' 53,2" LS 7 Timur lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 18 2003 7 102° 11' 19,2" BT; 03° 30' 54,2" LS 11 Timur lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 19 2004 6 102° 12' 07,2" BT; 03° 31' 08,1" LS 47 Utara lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 20 2004 6 102° 12' 06,7" BT; 03° 31' 09,3" LS 46 Barat lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 21 2004 6 102° 10' 34,2" BT; 03° 31' 23,4" LS 48 Timur lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 22 2006 4 102° 10' 34,9" BT; 03° 31' 22,6" LS 44 Barat lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 23 2004 6 102° 10' 33,7" BT; 03° 31' 20,9" LS 35 Barat lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 24 2007 3 102° 12' 06,2" BT; 03° 31' 11,8" LS 0 - lempung liat berpasir 3 m x 12 m Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 25 2007 3 102° 12' 08,1" BT; 03° 31' 12,7" LS 0 - lempung liat berpasir 3 m x 12 m Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet
Lampiran 5 LBDS total pada setiap petak ukur penelitian
No. Pola tanam LBDS (m²/ha)
PUP Kayu Pisang Kopi Karet Total
Bawang
1 Kayu bawang + Pisang 18,4 1,6 - - 20,0 2 Kayu bawang + Pisang 21,1 2,6 - - 23,7 3 Kayu bawang + Pisang 15,6 2,2 - - 17,9 4 Kayu bawang + Kopi 12,6 - 0,6 - 13,2 5 Kayu bawang + Kopi 13,3 - 0,2 - 13,5 6 Kayu bawang + Kopi 10,2 - 0,1 - 10,3 7 Kayu bawang + Kopi 5,4 - 0,1 - 5,5 8 Kayu bawang + Kopi 10,8 - 0,1 - 10,9 9 Kayu bawang + Kopi 17,5 - 0,7 - 18,2 10 Kayu bawang + Kopi 16,4 - 0,5 - 16,9 11 Kayu bawang + Kopi 9,2 - 0,3 - 9,5 12 Kayu bawang + Kopi 9,4 - 0,7 - 10,1 13 Kayu bawang + Kopi 7,4 - 1,2 - 8,6 14 Kayu bawang + Kopi 11,3 - 0,4 - 11,7 15 Kayu bawang + Kopi 6,2 - 0,3 - 6,5 16 Kayu bawang + kopi + Karet 11,1 - 0,4 2,7 14,2 17 Kayu bawang + kopi + Karet 13,9 - 0,1 2,7 16,8 18 Kayu bawang + kopi + Karet 10,6 - 0,5 3,1 14,1 19 Kayu bawang + kopi + Karet 9,0 - 0,2 0,7 9,9 20 Kayu bawang + kopi + Karet 9,7 - 0,3 0,8 10,7 21 Kayu bawang + kopi + Karet 6,8 - 0,3 1,9 9,0 22 Kayu bawang + kopi + Karet 4,5 - 0,6 4,4 9,5 23 Kayu bawang + kopi + Karet 6,7 - 0,6 0,7 8,0 24 Kayu bawang + kopi + Karet 2,8 - 0,9 1,1 4,7 25 Kayu bawang + kopi + Karet 2,9 - 0,9 1,1 4,8
PUP Kayu Pisang Kopi Karet Tumbuhan Total
Bawang bawah
1 Kayu bawang + Pisang 87,3 0,8 - - 4,1 92,3 2 Kayu bawang + Pisang 113,7 1,3 - - 3,9 119,0 3 Kayu bawang + Pisang 68,6 1,2 - - 4,0 73,9 4 Kayu bawang + Kopi 91,9 - 2,3 - 2,7 96,8 5 Kayu bawang + Kopi 87,9 - 0,7 - 3,1 91,7 6 Kayu bawang + Kopi 52,7 - 0,4 - 2,8 56,0 7 Kayu bawang + Kopi 27,2 - 0,4 - 4,0 31,5 8 Kayu bawang + Kopi 57,6 - 0,4 - 3,2 61,2 9 Kayu bawang + Kopi 113,3 - 2,8 - 2,9 119,0 10 Kayu bawang + Kopi 88,5 - 2,0 - 3,2 93,7 11 Kayu bawang + Kopi 50,6 - 1,0 - 3,5 55,0 12 Kayu bawang + Kopi 53,4 - 2,7 - 1,1 57,2 13 Kayu bawang + Kopi 45,5 - 4,8 - 0,4 50,7 14 Kayu bawang + Kopi 55,7 - 1,5 - 0,6 57,8 15 Kayu bawang + Kopi 31,2 - 1,1 - 1,8 34,0 16 Kayu bawang + kopi + Karet 55,4 - 1,7 22,7 0,8 80,5 17 Kayu bawang + kopi + Karet 63,6 - 0,5 22,9 1,2 88,3 18 Kayu bawang + kopi + Karet 58,8 - 1,8 25,6 1,3 87,5 19 Kayu bawang + kopi + Karet 34,5 - 0,9 2,2 0,9 38,5 20 Kayu bawang + kopi + Karet 40,7 - 1,0 2,3 1,3 45,3 21 Kayu bawang + kopi + Karet 28,0 - 1,1 8,4 0,8 38,4 22 Kayu bawang + kopi + Karet 15,6 - 2,1 61,3 0,6 79,6 23 Kayu bawang + kopi + Karet 28,4 - 2,2 2,2 0,5 33,4 24 Kayu bawang + kopi + Karet 8,4 - 3,4 3,6 0,4 15,8 25 Kayu bawang + kopi + Karet 8,5 - 3,5 3,6 0,4 16,0
ABSTRACT
EFRATENTA KATHERINA DEPARI. Relationship between Growth Site
Factors and Silvicultural Treatment on Productivity of Kayu Bawang (Dysoxylum
mollissimum Blume) in People’s Forest of Bengkulu. Under Direction of ISTOMO and OMO RUSDIANA.
Kayu bawang (Dysoxylum mollissimum Blume) is a local species which is
considered as superior in Bengkulu and is used as construction wood. Wood of this species is resistant toward termite attack, has aroma like onion, and is bitter. Kayu bawang has good quality wood, belongs to resistance level B, or resistance level which ranges from fairly resistant to resistant toward termite attack. Kayu bawang has straight stem and is categorized as fast growing species. Planting of kayu bawang has varied productivity. This research was aimed at determining the relationship between growth site factors and silvicultural treatments on productivity of kayu bawang. This study conducted on communities forest in North and Central Bengkulu District, Province of Bengkulu. In this research, principal component analysis was used and silvicultural treatment was analyzed descriptively in qualitative manner. Research results showed that growth site factors which were negatively correlated with productivity of kayu bawang in the research location were slope, altitude, and percentage of light intensity. The optimum planting of kayu bawang in the research location was at slopes ranging between 0-20%, altitude ranging between 23-65 m asl, and percentage of light intensity ranging between 9-19%. Productivity of kayu bawang at poor condition of growth site could be improved through appropriate silvicultural treatment. Silvicultural treatments which had been practiced by the people were still not good yet. Planting stocks being planted were usually originated from natural regeneration. Planting was done in irregular manner (random). Activities of soil tillage, weeding, and prunning were seldom practiced. Besides that, activities of replanting of failure, fertilizer application and thinning were never conducted. Key words: Dysoxylum mollissimum, growth site factors, silvicultural treatment,
Tumbuh dan Perlakuan Silvikultur terhadap Produktivitas Kayu Bawang (Dysoxylum mollissimum Blume) di Hutan Rakyat Bengkulu. Dibimbing oleh ISTOMO dan OMO RUSDIANA.
Pembangunan hutan rakyat merupakan salah satu upaya untuk menyediakan bahan baku dalam memenuhi kebutuhan kayu konsumsi nasional, hal ini dikarenakan semakin menurunnya persediaan bahan baku dari hutan alam produksi. Strategi meningkatkan produksi kayu dapat dilakukan membangun dan memperluas hutan rakyat di berbagai daerah. Jenis kayu yang telah dikembangkan di hutan rakyat antara lain sengon, pulai, gmelina, mindi, kayu afrika dan kayu bawang.
Kayu bawang (Dysoxylum mollissimum Blume) adalah jenis lokal
unggulan di Bengkulu dimanfaatkan untuk kayu pertukangan. Kayu jenis ini memiliki keunggulan tahan terhadap serangan rayap, mempunyai aroma seperti bawang dan pahit. Kayu bawang memiliki kualitas kayu baik, termasuk tingkat ketahanan B atau tingkat ketahanan cukup tahan sampai tahan terhadap serangan rayap. Kayu bawang memiliki batang lurus dan tergolong jenis cepat tumbuh. Kayu bawang telah dikembangkan di hutan rakyat. Penanaman kayu bawang pada hutan rakyat memiliki produktivitas yang beragam. Perbedaan tersebut diduga disebabkan oleh perbedaan perlakuan silvikultur dan faktor-faktor tempat tumbuh yang dapat mempengaruhi produktivitas tanaman.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan faktor-faktor tempat tumbuh dan perlakuan silvikultur terhadap produktivitas kayu bawang, serta mengkaji perlakuan silvikultur kayu bawang yang telah dilakukan masyarakat. Penelitian dilaksanakan di hutan rakyat kayu bawang yang terdapat di tiga Desa, yaitu Desa Pasar Pedati di Kabupaten Bengkulu Tengah, Desa Sawang Lebar dan Desa Dusun Curup di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Analisis tanah dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Waktu penelitian dilaksanakan bulan Maret sampai April 2010.
Pengumpulan data vegetasi meliputi tanaman budidaya dan tumbuhan bawah. Data yang dikumpulkan pada tanaman budidaya adalah jenis, diameter (cm) dan tinggi (m). Data-data hasil pengukuran tersebut digunakan untuk menghitung luas bidang dasar, volume, riap volume dan biomassa, sedangkan data tumbuhan bawah adalah biomassa tumbuhan bawah. Gambaran masing-masing pola tanam yang ada di lokasi penelitian dengan membuat profil tegakan
menggunakan Spatially Explicit Individual-based Forest Simulator (SExI-FS).
Data kondisi tempat tumbuh meliputi data primer dan data sekunder. Data sekunder berupa data suhu, kelembaban udara dan curah hujan yang diperoleh dari BMKG Stasiun Klimatologi Pulau Baai Bengkulu. Data primer berupa topografi, keterbukaan kanopi, sifat-sifat tanah. Data perlakuan silvikultur kayu bawang yang telah dilakukan masyarakat dengan wawancara berupa tanya-jawab sistematis meliputi pengadaan benih, pengadaan bibit, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. Pengumpulan data perlakuan
silvikultur yang telah dilakukan masyarakat dilakukan melalui studi literatur dan
wawancara semi terstruktur dengan snowball sampling.
Data-data perlakuan silvikultur yang diperoleh ditabulasikan dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif adalah uraian secara verbal terhadap data-data hasil penelitian yang ditujukan untuk penjelasan agar mudah dipahami, dimana data kualitatif dapat berupa tabel, kalimat atau gambar. Hubungan antara faktor-faktor tempat tumbuh terhadap produktivitas kayu
bawang dapat dilakukan dengan principal component analysis (PCA)
menggunakan program Minitab 15.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor tempat tumbuh yang berkorelasi negatif dengan produktivitas kayu bawang di lokasi penelitian adalah kelerengan, ketinggian tempat dan keterbukaan kanopi. Penanaman kayu bawang yang optimal di lokasi penelitian pada kelerengan berkisar 0-20%, ketinggian tempat berkisar 23-65 m dpl dan keterbukaan kanopi berkisar 9-19%. Produktivitas kayu bawang pada kondisi tempat tumbuh yang rendah dapat ditingkatkan dengan perlakuan silvikultur yang baik. Perlakuan silvikultur yang telah dilakukan masyarakat masih belum baik. Bibit yang ditanam umumnya berasal dari anakan alami serta jarak tanam yang digunakan tidak beraturan (acak). Kegiatan pengolahan tanah, penyiangan, pemangkasan masih jarang dilakukan, sedangkan penyulaman, pemupukan dan penjarangan tidak pernah dilakukan masyarakat.
Kata kunci: Dysoxylum mollissimum, faktor-faktor tempat tumbuh, perlakuan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan hutan rakyat merupakan salah satu upaya untuk menyediakan bahan baku dalam memenuhi kebutuhan kayu konsumsi nasional, hal ini dikarenakan semakin menurunnya persediaan bahan baku dari hutan alam produksi. Status lingkungan hidup Indonesia tahun 2006 menyatakan kebutuhan
kayu nasional 57,1 juta m3/tahun dengan kemampuan hutan alam dan hutan
tanaman untuk menyediakan sebesar 45,8 juta m3/tahun (Kementerian
Lingkungan Hidup 2007), maka terjadi defisit kebutuhan kayu sebesar 11,3 juta m3/tahun. Strategi mengurangi defisit kebutuhan kayu yang terjadi
adalah membangun dan memperluas hutan rakyat di berbagai daerah. Luas hutan rakyat di Indonesia tercatat sampai dengan tahun 2006 adalah 1.272.505,61 ha (Direktorat Jenderal RLPS 2006). Jenis kayu yang telah dikembangkan di hutan rakyat antara lain sengon, pulai, gmelina, mindi, kayu afrika dan kayu bawang.
Kayu bawang (Dysoxylum mollissimum Blume) merupakan tanaman hutan
unggulan lokal Bengkulu yang telah lama dikenal dan dikembangkan terutama di Kabupaten Bengkulu Utara (Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu 2003). Kayu jenis ini memiliki keunggulan tahan terhadap serangan rayap, mempunyai aroma seperti bawang dan pahit. Nuriyatin et al. (2003) menyatakan kayu bawang memiliki kualitas kayu baik, termasuk tingkat ketahanan B atau tingkat ketahanan cukup tahan sampai tahan terhadap serangan rayap. Apriyanto (2003) menambahkan kayu bawang memiliki batang lurus dan tergolong jenis cepat tumbuh. Kayu dari jenis ini dapat dimanfaatkan untuk kayu pertukangan (Riyanto 2001).
Sebagai kayu pertukangan, volume pohon kayu bawang adalah hal penting untuk diperhatikan. Volume pohon dapat digunakan sebagai penduga produksi hasil kayu. Produksi hasil kayu dipengaruhi pertumbuhan pohon. Kramer & Kozlowski (1960) menyatakan pertumbuhan pohon sangat ditentukan oleh interaksi antara tiga faktor yaitu genetik, tempat tumbuh dan perlakuan silvikultur. Pengaruh ketiga faktor tersebut akan nampak pada produktivitas tegakan.
2
Ukuran produktivitas tegakan tergantung tujuan penggunaannya. Produktivitas bagian tanaman kayu bawang yang bernilai ekonomi dapat diukur dengan riap volume. Apriyanto (2003) menyatakan bahwa penanaman kayu bawang di hutan rakyat secara monokultur pada umur 9 tahun memiliki riap volume 24,42 m3/ha/tahun, yang lebih tinggi bila dibandingkan data penelitian Siahaan (2009) menyatakan rata-rata riap volume kayu bawang umur 9 tahun dengan pola tanam agroforestri kayu bawang dikombinasikan dengan kopi adalah 13,98 m3/ha/tahun dan daur optimalnya pada umur 7 tahun, sedangkan pola agroforestri kayu bawang dikombinasikan dengan kopi dan karet adalah 10,68 m3/ha/tahun dan daur optimalnya pada umur 5 tahun. Perbedaan riap volume diduga disebabkan oleh perbedaan perlakuan silvikultur dan faktor-faktor tempat tumbuh yang dapat mempengaruhi produktivitas tanaman.
Tempat tumbuh sangat kompleks, di mana berbagai faktor berpengaruh timbal balik satu sama lainnya dan dengan tanaman (Soerianegara & Indrawan 2008). Faktor-faktor tempat tumbuh merupakan semua faktor yang berhubungan dan mempengaruhi produktivitas tanaman. Perubahan suatu faktor penyusun tempat tumbuh akan berdampak terhadap produktivitas tanaman. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai hubungan faktor-faktor tempat tumbuh dan perlakuan silvikultur terhadap produktivitas kayu bawang sangat diperlukan sebagai pertimbangan dalam budidaya kayu bawang untuk menghasilkan produktivitas kayu yang optimal dalam rangka memenuhi kebutuhan kayu.
Perumusan Masalah
Kayu bawang adalah jenis lokal yang telah lama dimanfaatkan untuk kayu pertukangan, kayunya tahan terhadap serangan rayap. Kayu bawang merupakan salah satu jenis andalan di Bengkulu yang telah lama dikembangkan terutama di Kabupaten Bengkulu Utara. Kayu bawang mempunyai potensi untuk dikembangkan di hutan rakyat. Penanaman kayu bawang di Bengkulu dengan sistem agroforestri, yaitu pola tanam kayu bawang dikombinasikan dengan tanaman semusim, agroforestri kayu bawang dikombinasikan dengan kopi dan agroforestri kayu bawang dikombinasikan dengan kopi dan karet. Berdasarkan uraian di atas, penanaman kayu bawang pada hutan rakyat memiliki riap volume
yang beragam. Perbedaan tersebut diduga disebabkan oleh perbedaan perlakuan silvikultur dan faktor-faktor tempat tumbuh yang ada. Sampai saat ini, syarat tumbuh dan aspek budidaya dari tanaman kayu bawang masih banyak yang belum diketahui. Padahal, informasi tersebut dibutuhkan sebagai bahan pertimbangan dalam penanaman kayu bawang di hutan rakyat untuk menghasilkan produktivitas kayu bawang yang optimal dalam rangka memenuhi kebutuhan kayu.
Permasalahan pokok yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah: hubungan faktor-faktor tempat tumbuh dan perlakuan silvikultur terhadap produktivitas kayu bawang.
Tujuan Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengkaji hubungan faktor-faktor tempat tumbuh dan perlakuan silvikultur
terhadap produktivitas kayu bawang.
2. Mengkaji perlakuan silvikultur kayu bawang yang telah dilakukan
masyarakat di Bengkulu.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini bermanfaat memberikan informasi mengenai faktor- faktor tempat tumbuh dan perlakuan silvikultur yang berpengaruh terhadap budi daya kayu bawang serta perlakuan silvikultur yang telah dilakukan masyarakat, sehingga dapat menjadi acuan untuk pengembangan kayu bawang dalam rangka memenuhi kebutuhan kayu.
Kerangka Pemikiran
Informasi mengenai hubungan faktor-faktor tempat tumbuh dan perlakuan silvikultur terhadap produktivitas kayu bawang dapat digunakan untuk merumuskan faktor-faktor penduga produktivitas kayu bawang, sehingga menjadi acuan dalam peningkatan produktivitas kayu bawang. Kerangka pemikiran yang dikembangkan dalam menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini, disajikan pada Gambar 1.
5