• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produktivitas Tegakan

Berdasarkan Tabel 3 produktivitas masing-masing petak ukur penelitian yaitu luas bidang dasar (LBDS), volume tegakan, riap volume tegakan dan biomassa kayu bawang memiliki hubungan yang berbanding lurus.

Tabel 3Produktivitas kayu bawang pada setiap petak ukur penelitian

No. Pola tanam Umur Kerapatan LBDS Volume Riap volume Biomassa PUP (tahun) (pohon/ha) (m²/ha) (m³/ha) (m³/ha/tahun) (ton/ha)

1 KB + Ps 8 811 18,4 155,9 19,5 87,3 2 KB + Ps 8 811 21,1 203,1 25,4 113,7 3 KB + Ps 8 722 15,6 122,6 15,3 68,6 4 KB + Kp 13 133 12,6 164,1 12,6 91,9 5 KB + Kp 12 233 13,3 157,1 13,1 87,9 6 KB + Kp 9 467 10,2 94,0 10,5 52,7 7 KB + Kp 7 289 5,4 48,5 6,9 27,2 8 KB + Kp 9 467 10,8 102,8 11,4 57,6 9 KB + Kp 12 378 17,5 202,3 16,9 113,3 10 KB + Kp 10 522 16,4 158,1 15,8 88,5 11 KB + Kp 9 322 9,2 90,3 10,0 50,6 12 KB + Kp 7 344 9,4 95,3 13,6 53,4 13 KB + Kp 7 211 7,4 81,3 11,6 45,5 14 KB + Kp 7 544 11,3 99,6 14,2 55,7 15 KB + Kp 7 256 6,2 55,7 8,0 31,2 16 KB + Kp + Kr 7 711 11,1 98,9 14,1 55,4 17 KB + Kp + Kr 7 922 13,9 113,6 16,2 63,6 18 KB + Kp + Kr 7 444 10,6 101,5 14,5 58,8 19 KB + Kp + Kr 6 778 9,0 61,6 10,3 34,5 20 KB + Kp + Kr 6 533 9,7 72,6 12,1 40,7 21 KB + Kp + Kr 6 311 6,8 50,1 8,3 28,0 22 KB + Kp + Kr 4 344 4,5 27,8 7,0 15,6 23 KB + Kp + Kr 6 189 6,7 50,8 8,5 28,4 24 KB + Kp + Kr 3 289 2,8 15,0 5,0 8,4 25 KB + Kp + Kr 3 289 2,9 15,3 5,1 8,5 Rataan 7,5 452,8 10,5 97,5 12,2 54,7 Ket: KB = Kayu bawang, Ps = Pisang, Kp = Kopi, Kr = Karet

Petak ukur penelitian tersebut memiliki umur yang berbeda dan ditanam dengan kerapatan yang berbeda-beda pula. Pertambahan umur tanaman akan

menyebabkan produktivitas semakin meningkat (Gambar 9), sedangkan dengan meningkatnya kerapatan berarti jumlah pohon per hektarnya semakin banyak, sehingga produktivitas juga meningkat.

Gambar 9 Hubungan umur terhadap volume kayu bawang

Gambar 10 Hubungan kerapatan terhadap volume kayu bawang

Hubungan kerapatan terhadap produktivitas kayu bawang, yaitu volume kayu bawang, disajikan pada Gambar 10. Semakin tinggi kerapatan suatu tegakan

maka volume kayu bawang semakin meningkat. Menurut Davis et al. (2001) pada

tingkat kerapatan yang tinggi pertumbuhan individu tanaman akan menurun tetapi total pertumbuhan per satuan luas akan meningkat, sedangkan pada tingkat kepadatan yang lebih rendah, total pertumbuhan persatuan luas akan menurun

27

namun pertumbuhan individu tanaman meningkat, sehingga dapat menghasilkan kayu lebih berharga. Sampai dengan saat ini, kayu bawang dimanfaatkan untuk kayu pertukangan maka yang diperlukan pertumbuhan individu tanaman yang meningkat dengan pengaturan ruang tumbuh bagi tanaman sehingga mendapatkan pertumbuhan optimum dalam satuan luas.

Faktor-Faktor Tempat Tumbuh

Perbedaan umur, kerapatan dan faktor tempat tumbuh sangat mempengaruhi produktivitas kayu bawang, maka dilakukan pengelompokan petak ukur penelitian untuk mengkaji hubungan faktor-faktor tempat tumbuh terhadap

produktivitas kayu bawang dengan principal component analysis (PCA).

Pengelompokkan petak ukur penelitian didasarkan kemiripan karakteristik yang dimilikinya.

Gambar 11 Biplot hubungan antara faktor-faktor tempat tumbuh terhadap produktivitas kayu bawang

Kontribusi First Component (PC1) sebesar 36,4 % dan Second Component (PC2) sebesar 14,9 %. Dengan demikian dapat dikatakan sebanyak 51,3 % dari varian dapat tercermin dalam kedua PC tersebut. Gambar 11 menyajikan pola

penyebaran petak ukur penelitian sepanjang sumbu PC1 dan PC2, terdapat 4 kelompok. Petak ukur penelitian 14, 19, 20, 21, 22, 24 di kelompok I; 7, 11, 12, 13, 15, 18, 23, 25 di kelompok II; 2, 16, 17 di kelompok III; 1, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10 di kelompok IV.

Kelompok IV memiliki nilai PC1 dan PC2 yang semakin tinggi, kelompok I memiliki nilai PC1 dan PC2 yang semakin rendah, sedangkan kelompok II dan III salah satu PCnya ada yang rendah dan ada yang tinggi. Produktivitas kayu bawang, salah satunya dapat dilihat dari volume. Berdasarkan gambar biplot di atas, menunjukkan kecenderungan umur dan kerapatan berkorelasi positif dengan volume kayu bawang. Tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata volume tertinggi

hingga terendah berturut-turut adalah kelompok IV sebesar 144,6 m3/ha,

kelompok III sebesar 138,5 m3/ha, kelompok II sebesar 67,3 m3/ha dan kelompok

I sebesar 54,5 m3/ha. Tingginya rata-rata volume kelompok sangat dipengaruhi oleh rata-rata umur kayu bawang, kelompok IV adalah 10,1 tahun, kelompok III adalah 7,3 tahun, kelompok II adalah 6,6 tahun dan kelompok I adalah 5,3 tahun.

29

Tabel 4 Data faktor-faktor tempat tumbuh pada setiap kelompok

Faktor Satuan

Tempat Tumbuh 14 19 20 21 22 24 Rata2 7 11 12 13 15 18 23 25 Rata2 2 16 17 Rata2 1 3 4 5 6 8 9 10 Rata2

Ketinggian tempat m dpl 91 106 106 90 88 108 98,2 50 68 106 95 86 86 78 108 84,6 24 86 86 65,3 24 23 46 46 56 56 45 68 45,5 Kelerengan % 55 47 46 48 44 0 40 40 40 0 56 35 11 35 0 27,1 0 5 7 4 0 5 25 25 25 25 10 45 20 Keterbukaan kanopi % 8,5 42,6 54,1 26,4 10,6 27,9 28,3 45.8 50,3 10,9 9,1 13,6 13,1 16 26,6 23,2 4,4 11,8 11,7 9,3 4,6 5,5 2,3 2.5 42.7 44,1 44,2 4,4 18,8 Bulk density g/cm³ 0,9 1 1 0,9 1 0,9 1 0,9 1 1 1 1 1 1 0,9 1 1,1 1,1 1 1 1,2 1,2 1 1,1 0,9 0,9 0,9 1 1 Liat % 15,8 32,1 27,9 15,8 33,4 34 26 36 25,7 36,1 33,4 25,7 21,5 33,4 21,6 29,2 44,7 38,1 21,5 34,7 25,6 25,6 27,1 25,7 43,9 36 36 25,7 30,7 Debu % 15,3 17,3 15,2 15,3 13,1 4,5 13,4 8,9 8,7 6,7 13,1 8,7 11 13,1 8,9 9,9 25,7 11 6,6 14,4 9,1 9,1 13,2 15,2 9,5 8,9 8,9 8,7 10,3 Pasir % 69 50,6 56,9 69 53,2 61,5 60,1 55,1 65,6 57,3 53,2 65,6 67,5 53,2 69,5 60,9 30,3 51 71,9 51 65,2 65,2 59,7 59,1 51,7 55,1 55,1 65,6 59,6 pH 4 3,5 3,8 4 4,1 4,3 4 3,8 4,2 4,1 4,1 4,2 3,8 4,1 4 4 4 4 4,3 4,1 4,2 4,2 4,4 3,9 4,5 3,8 3,8 4,2 4,1 KTK me/100g 8,3 9,2 11,1 8,3 11,5 11,5 10 12,4 14 10,8 11,5 14 11,5 11,5 14,3 12,5 9,2 6,7 7,6 7,9 7,6 7,6 11,5 12,7 9,5 12,4 12,4 14 11 KB % 44,4 34,5 18,6 44,4 45,3 26,2 35,6 30,4 30,5 26,8 45,3 30,5 19,4 45,3 43,6 34 30,6 35,4 38,3 34,8 30,8 30,8 64,2 40,8 22,5 30,8 30,8 30,5 35,1 BO kg/m² 2,7 1,9 4 2,7 5,1 3,7 3,3 3,8 4,6 3,8 5,1 4,6 5,2 5,1 4,4 4,6 2,4 0,2 3,9 2,2 3,4 3,4 4,5 3,3 3,7 3,8 3,8 4,6 3,8 C-organik % 1,6 1,1 2,3 1,6 3 2,2 1,9 2,2 2,6 2,2 3 2,6 3 3 2,6 2,6 1,4 0,1 2,3 1,3 2 2 2,6 1,9 2,2 2,2 2,2 2,6 2,2 N total % 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,2 0,1 0,2 0,2 0,2 0,1 0,2 0,2 0,1 0,2 0,2 0,1 0,1 0,2 0,1 0,2 0,2 0,2 0,1 0,1 0,2 0,2 0,2 0,2 Umur tahun 7 6 6 6 4 3 5,3 7 9 7 7 7 7 6 3 6,6 8 7 7 7,3 8 8 13 12 9 9 12 10 10,1 Kerapatan pohon/ha 544 778 533 311 344 289 467 289 322 344 211 256 444 189 289 293 811 711 922 815 811 722 133 233 467 467 378 522 467 Volume m³/ha 99,6 61,6 72,6 50,1 27,8 15 54,5 48,5 90,3 95,3 81,3 55,7 101,5 50,8 15,3 67,3 203,1 98,9 113,6 138,5 155,9 122,6 164,1 157,1 94 102,8 202.3 158,1 144,6

Topografi dan Iklim Mikro

Pengukuran topografi meliputi ketinggian tempat dan kelerengan, serta iklim mikro dilihat dari keterbukaan kanopi. Ketinggian tempat, kelerengan dan keterbukaan kanopi memiliki kecenderungan berkorelasi negatif dengan produktivitas kayu bawang, ditunjukkan dengan garis vektor ketinggian tempat, kelerengan dan keterbukaan kanopi yang membentuk sudut tumpul dengan produktivitas kayu bawang (Gambar 11). Dengan meningkatnya ketinggian tempat, kelerengan dan keterbukaan kanopi akan menurunkan produktivitas kayu bawang. Kelompok I dan II memiliki rata-rata ketinggian tempat, kelerengan dan keterbukaan kanopi yang lebih tinggi dari kelompok III dan IV (Tabel 4) sehingga kelompok III dan IV produktivitasnya lebih tinggi.

Ketinggian tempat berkorelasi negatif terhadap produktivitas. Menurut Soekotjo (1976) ketinggian lahan dari permukaan laut berpengaruh terhadap keadaan lingkungan tempat tumbuh tanaman, terutama suhu, kelembaban, kadar oksigen di udara dan di tanah. Keadaan lingkungan tempat tumbuh itulah yang selanjutnya berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon.

Peningkatan kelerengan suatu lahan akan meningkatkan aliran permukaan yang akhirnya dapat menyebabkan hilangnya atau terangkutnya tanah di

permukaan (erosi). Menurut Hakim et al. (1986) erosi akan mempengaruhi

produktivitas tanaman.

Keterbukaan kanopi berkaitan dengan penerimaan intensitas cahaya matahari. Salisbury & Ross (1995) menyatakan jika keterbukaan kanopi dalam kondisi maksimal, maka faktor yang menjadi pembatas efektivitas proses fotosintesis adalah ketersediaan air dari lingkungan sehingga akan mempengaruhi produktivitas tanaman.

Sifat-Sifat Tanah

Sifat-sifat tanah meliputi sifat fisik dan kimia tanah pada setiap petak ukur penelitian. Pengukuran sifat fisik tanah meliputi bulk density, kandungan pasir, debu dan liat tanah. Sedangkan sifat kimia tanah meliputi pH, KTK, KB, BO, C-Organik dan N Total. Berdasarkan Gambar 11, sifat fisik tanah lebih berperan

31

liat tanah berkorelasi positif, sedangkan kandungan pasir tanah, KTK, KB, BO, C-organik berkorelasi negatif. Korelasi negatif BO terhadap produktivitas berkaitan dengan peningkatan kelerengan, ditunjukkan vektor BO yang membentuk sudut sempit dengan vektor kelerengan. Peningkatan kelerengan akan menyebabkan erosi semakin meningkat. Kerusakan yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi berupa kemunduran sifat kimia dan biologi tanah seperti kehilangan unsur hara dan BO, dan meningkatnya kepadatan dan ketahanan penetrasi tanah, menurunnya kapasitas infiltrasi tanah serta kemampuan tanah menahan air. Akibat dari peristiwa ini adalah menurunnya produktivitas tanah, dan berkurangnya pengisian air bawah tanah (Arsyad 2006). Para ahli menyakini bahwa sifat fisik tanah lebih penting pengaruhnya dalam pertumbuhan dibanding

sifat kimia dan biologi tanah. Hakim et al. (1986) menyatakan tekstur tanah akan

mempengaruhi sifat tanah yang lain seperti struktur, porositas, kapasitas memegang air dan bulk density.

Tabel 4 menunjukkan rata-rata bulk density dan kandungan pasir, liat, debu tanah pada setiap kelompok hampir sama. N total dan pH tidak menunjukkan korelasi terhadap produktivitas kayu bawang (vektor N total dan pH

hampir membentuk sudut 900), hal ini dapat disebabkan N total dan pH tanah pada

setiap petak ukur penelitian seragam. Petak ukur penelitian yang digunakan memiliki karakteristik tempat tumbuh yang hampir seragam, yang ditunjukkan oleh banyaknya petak ukur berada di dekat perpotongan antara PC1 dan PC2 di titik 0. Petak ukur yang berada di tengah-tengah tersebut, memiliki nilai yang dekat dengan rata-rata faktor tempat tumbuh. Hal ini menunjukkan bahwa variasi data sifat-sifat tanah yang ada belum cukup menerangkan variasi tempat tumbuh.

Petak ukur penelitian yang digunakan memiliki pH tanah berkisar 3,8-4,5. Kriteria penilaian hasil analisis tanah menunjukkan bahwa kisaran pH tersebut tergolong tanah sangat masam (≤4,5). Kapasitas tukar kation (KTK) petak ukur penelitian berkisar 6,7-14,3 me/100g. Nilai KTK tersebut menunjukkan kemampuan menjerap dan mempertukarkan kation-kation dengan akar tanaman di lokasi penelitian termasuk rendah. Kejenuhan basa (KB) petak ukur penelitian tergolong sangat rendah hingga sedang. Kandungan bahan organik (BO) berkisar 0,2-5,2 kg/m2 dan C-organik 0,1-3%, termasuk sangat rendah hingga sedang

(Sulaeman et al. 2005). Berdasarkan data di atas, kayu bawang merupakan tanaman yang mampu tumbuh pada tanah tidak subur, dengan KTK rendah dan tanah yang masam. Hal ini sesuai dengan jenis tanah di lokasi penelitian termasuk tanah ultisol. Tanah ini umumnya berkembang dari bahan induk tua, tanah bersifat masam dan kejenuhan basa rendah (Hardjowigeno 2003).

Perlakuan Silvikultur yang telah dilakukan oleh Masyarakat

Kayu bawang telah lama dikembangkan di lahan masyarakat secara turun

temurun. Pada mulanya menanam kayu bawang merupakan tradisi

mempersiapkan bahan kayu bangunan rumah anak mereka dan menjadi investasi masa mendatang. Berdasarkan Tabel 5 menyajikan perlakuan silvikultur kayu bawang yang dilakukan masyarakat pada setiap kelompok meliputi pengadaan benih, pengadaan bibit, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan.

Perlakuan silvikultur kayu bawang yang dilakukan masyarakat pada setiap petak ukur penelitian masih kurang baik. Sumber benih yang digunakan berasal

dari pohon di sekitar desa, dengan kriteria pohon dengan umur ≥ 15 tahun,

memiliki kenampakan batang tinggi, lurus, bebas cabang tinggi dan kulit batang

retak-retak setelah berumur ≥ 15 tahun. Bibit yang ditanam umumnya berasal dari

anakan alam di bawah tegakan. Jarak tanam dilakukan tidak beraturan (acak). Kegiatan pengolahan tanah, penyiangan, pemangkasan masih jarang dilakukan. Sedangkan kegiatan penyulaman, pemupukan dan penjarangan tidak pernah dilakukan.

33

Tabel 5 Perlakuan silvikultur kayu bawang yang telah dilakukan masyarakat

Ket: √ = dilakukan pada setiap petak ukur penelitian 24, 25, dst = nomor petak ukur

Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV

Pengadaan Benih Sumber benih a. Bersertifikat - - - - b. Tdk bersertifikat √ √ √ √ (phn di sekitar desa) Penanganan benih a. Pengunduhan - dipetik - - - - - dipungut di bwh phn √ √ √ √ b. Ekstraksi 24 25 2 1, 3, 4, 5, 9 Pengadaan Bibit Asal bibit a. Benih - tanam langsung 14 12, 13, 18 16, 17 - disemai (polybag) 24 25 2 1, 3, 4, 5, 9 b. Anakan alam - tanam langsung 19, 20, 21, 22 7, 11, 15, 23 6, 8, 10 - polybag Seleksi bibit 24 25 2 1, 3, 4, 5, 9 Persiapan Lahan Alat yang digunakan

a. Alat berat - - - - b. Konvensional - tebas √ √ √ √ - bakar √ √ √ √ Pengolahan tanah a. Penggemburan tanah 24 15, 25 2 1, 3, 4, 5, 9 - cangkul 24 15, 25 2 1, 3, 4, 5, 9 - cara lainnya b. Tdk dilakukan 14, 19, 20, 21, 22 7, 11, 12, 13, 18, 23 16, 17 6, 8 Pemupukan a. Ya b. Tdk √ √ √ √ Penanaman Pola tanam a. Monokultur b. Campuran - Ky bwg + Tan semusim 2 1, 3 - Ky bwg + Kopi 14 7, 11, 12, 13, 15 4, 5, 6, 8, 9, 10 - Ky bwg + Kopi + Karet 19, 20, 21, 22, 24 18, 23, 25 16, 17 Jarak tanam a.Ya 24 25 2 1, 3 b. Tdk (acak) 14, 19, 20, 21, 22 7, 11, 12, 13, 15, 18, 23, 25 16, 17 4, 5, 6, 8, 9, 10 Pemeliharaan Penyiangan a. Alat konvensional √ √ √ √ b. Herbisida c. Waktu penyiangan - 2 x 1 thn, selama 2 thn - - - - - 6 x 1 thn, selama 6 thn - - 2 1, 3 - 6 x 1 thn, selama 1 thn 24 11, 12, 13, 15, 25 - 9,10 - 4 x 1 thn, selama 1 thn 19, 20, 21, 22 7, 18, 23 16, 17 4, 5, 6, 8 - 3 x 1 thn, selama 1 thn 14 - - sesuai kebutuhan √ √ √ √ Penyulaman a. Ya - - - - b. Tdk √ √ √ √ Pemupukan a. Kayu bawang - - - - b. Tanaman pertanian 24 25 2 1, 3 Pemangkasan a. Ya 14 12, 13, 15 2 1, 3, 4, 5, 6, 9 b. Tdk 19, 20, 21, 24 7, 11, 18, 23, 25 16, 17 6, 8, 10 Penjarangan a. Ya - - - - b. Tdk √ √ √ √

Rata-rata volume (m³/ha) 54,5 67,3 138,5 144,6

Rata-rata volume kayu bawang kelompok III dan IV sebesar 138,5 m3/ha

dan 144,6 m3/ha, lebih tinggi dibandingkan rata-rata volume kayu bawang

terendah kelompok I dan II sebesar 54,5 m3/ha dan 67,3 m3/ha. Hal ini dikarenakan pada kelompok III dan IV telah melakukan perlakuan silvikultur yang lebih baik dari kelompok lainnya. Bibit ditanam pada kelompok III dan IV umumnya berasal dari benih yang disemai di polybag, sedangkan kelompok lainnya bibit berasal dari benih yang ditanam lagsung ke lapangan atau anakan alami yang ditanam tanpa proses seleksi bibit. Pada kegiatan persiapan lahan kelompok III dan IV telah melakukan kegiatan penggemburan tanah, penyiangan gulma dilakukan lebih rutin. Pemupukan kayu bawang di lokasi penelitian belum pernah dilakukan, sedangkan pemupukan pada tanaman pertanian, masih sedikit masyarakat yang melakukanya. Pemberian pupuk pada tanaman pertanian akan berpengaruh juga pada tanaman kayu bawang.

Pemanenan

Tanaman kayu bawang telah dapat dipanen pada umur 15-20 tahun. Namun seiring dengan meningkatnya kebutuhan kayu untuk berbagai penggunaan, saat ini kayu bawang mulai dipanen umur 12 tahun ke atas, dan ada juga kayu bawang yang dipanen masih umur 10 tahun.

Hasil penebangan kayu bawang, apabila untuk pemakaian sendiri kayu dari tanaman kayu bawang disimpan dan disusun rapi di bawah rumah tinggi (rumah panggung) atau dijemur kemudian disusun di bawah atap. Hal ini dilakukan dengan tujuan kayu tetap kering, terlindung dari air hujan sehingga tidak cepat lapuk. Namun ada juga masyarakat yang menjual kayu secara langsung kepada pedagang kayu bawang yang ada di desa atau kepada pedagang depot kayu yang berada di Kota Bengkulu.

Harga kayu bawang yang telah dibuat menjadi papan atau kasau per m3 di

lokasi penelitian untuk panjang 2 m sekitar Rp. 1.800.000,- dan 4 m sekitar Rp. 2.100.000,-, sedangkan harga di depot kayu per m3 kayu kayu bawang tersebut dijual ke masyarakat untuk panjang panjang 2 m sekitar Rp. 2.200.000,- dan 4 m sekitar Rp. 2.500.000,- . Sedangkan, harga jual dari depot kayu ke masyarakat di kota Bengkulu, per m3 kayu meranti panjang 4 m sekitar Rp. 2.800.000,-. Selisih harga kayu bawang dan kayu meranti yang tidak terlalu jauh

35

dan kelangkaan kayu meranti di hutan alam menyebabkan kebutuhan kayu bawang untuk kayu bangunan semakin meningkat. Pengembangan hutan rakyat kayu bawang dapat digunakan mengatasi masalah meningkatnya kebutuhan kayu bangunan. Budidaya kayu bawang oleh masyarakat juga bermanfaat dalam meningkatkan perekonomian masyarakat yang membudidayakannya.

Pemanfaatan tanaman kayu bawang

Pemanfaatan tanaman kayu bawang berupa pemanfaatan kayu dan non- kayu. Daun kayu bawang dapat dimanfaatkan untuk obat sakit perut, pucuk daunnya dapat dilalap dan ada juga masyarakat yang menggunakan pucuk daunnya untuk campuran tempoyak (makanan khas Bengkulu yang bahan utamanya adalah durian yang difermentasikan).

Kayu bawang telah lama digunakan untuk bahan kayu bangunan di Provinsi Bengkulu dan menjadi andalan kayu pertukangan saat ini. Berdasarkan pengalaman masyarakat, kayu bawang yang tua dapat bertahan puluhan tahun (Gambar 12a). Kayu bawang memiliki serat kayu yang halus sehingga mudah diolah dan permukaan kayunya memiliki corak yang khas, sehingga kayu bawang juga dapat digunakan untuk meubel.

(a) (b)

Gambar 12 Rumah masyarakat yang dibangun menggunakan kayu bawang sebagai bahan kayu bangunan

Gambar 13 Lemari yang dibuat dari kayu bawang

Hubungan antara Faktor-Faktor Tempat Tumbuh dan Perlakuan Silvikultur terhadap Produktivitas Kayu Bawang

Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan hubungan faktor-faktor tempat tumbuh dan perlakuan silvikultur terhadap produktivitas kayu bawang pada setiap kelompok petak ukur penelitian. Kelompok I-IV memiliki volume rata-rata yang berbeda. Perbedaan tersebut disebabkan rata-rata umur dan kerapatan, faktor- faktor tempat tumbuh dan perlakuan silvikultur yang berbeda pada setiap kelompok.

Kelompok III dan IV merupakan kelompok yang memiliki volume rata- rata yang lebih tinggi adalah 138,5 m3/ha dan 144,6 m3/ha, bila dibandingkan kelompok I dan II sebesar 54,6 m3/ha dan 67,3 m3/ha. Tingginya volume rata-rata kelompok III dan IV disebabkan rata-rata umur dan kerapatan yang lebih tinggi, rata-rata ketinggian tempat, kelerengan dan keterbukaan kanopi yang lebih rendah serta perlakuan silvikultur yang telah dilakukan lebih baik dibanding kelompok I dan II. Produktivitas kayu bawang optimal di lokasi penelitian pada kelerengan berkisar 0-20%, ketinggian tempat berkisar 23-65 m dpl dan keterbukaan kanopi berkisar 9-19%.

Faktor tempat tumbuh lainnya seperti rata-rata bulk density, kandungan liat, debu, pasir, pH, KTK, KB, BO, C-organik, dan N total tidak menunjukkan perbedaan yang jauh di antara kelompok. Hal ini disebabkan oleh sifat-sifat tanah yang hampir sama pada setiap petak ukur penelitian.

37

Tabel 6 Hubungan faktor-faktor tempat tumbuh dan perlakuan silvikultur terhadap produktivitas kayu bawang

Tabel 6 menunjukkan 54,5% petak ukur penelitian kelompok III dan IV bibitnya berasal dari benih yang disemai di polybag, 54,5% dilakukan kegiatan pengemburan tanah, 27,3% ditanam menggunakan jarak tanam, 27,3% dilakukan kegiatan pemupukan pada tanaman pertanian dan 63,6% dilakukan pemangkasan. Bila dibandingkan dengan kelompok I dan II, persentase petak ukur penelitian yang dilakukan kegiatan yang dapat meningkatkan produktivitas lebih tinggi. Hal ini diduga menyebabkan produktivitas kelompok III dan IV lebih tinggi.

Penggunaan polybag akan mempermudah mengontrol pertumbuhan bibit. Menurut Indriyanto (2008) pengemburan tanah bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik tanah agar drainase dan aerasi tanah menjadi baik. Kegiatan penyiangan gulma telah dilakukan pada setiap petak ukur penelitian untuk mengendalikan

Satuan Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV

Umur tahun 5,3 6,6 7,3 10,1

Kerapatan phn/ha 467 293 815 467

Faktor Tempat Tumbuh

Ketinggian tempat m dpl 98,2 84,6 65,3 45,5 Kelerengan % 40 27,1 4 20 Keterbukaan kanopi % 28,3 23,2 9,3 18,8 Bulk density g/cm³ 1 1 1 1 Liat % 26 29,2 34,7 30,7 Debu % 13,4 9,9 14,4 10,3 Pasir % 60,1 60,9 51 59,6 pH 4 4 4,1 4,1 KTK me/100g 10 12,5 7,9 11 KB % 35,6 34 34,8 35,1 BO kg/m² 3,3 4,6 2,2 3,8 C-organik % 1,9 2,6 1,3 2,2 N total % 0,1 0,2 0,1 0,2 Perlakuan Silvikultur Pengadaan bibit (disemai di polybag) Penggemburan tanah Jarak tanam Penyiangan gulma Pemupukan tan. pertanian Pemangkasan

Rataan Volume m³/ha 54,5 67,3 138,5 144,6

54,5% 100% 27,3% 63,6% 14,2% 27,3% 14,2% 54,5% 100% 21,4% 14,2% 28,6%

gulma agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Sedangkan pemangkasan bertujuan memperoleh kayu berkualitas, yaitu batang dengan bebas cabang yang tinggi dan bebas dari mata kayu atau mata kayu yang kecil. Pemberian pupuk pada tanaman pertanian akan menambah unsur hara pada lahan sehingga berpengaruh juga pada tanaman kayu bawang.

Perlakuan silvikultur penting untuk diperhatikan. Pada kondisi tempat tumbuh yang rendah, produktivitas kayu bawang dapat ditingkatkan dengan perlakuan silvikutur yang baik. Pada tempat yang kelerengannya curam, konservasi tanah dan air dapat dilakukan dengan menggunakan penanaman

39

Dokumen terkait