• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOGOR

2010

DAFTAR PUSTAKA

Apriyanto E. 2003. Pertumbuhan kayu bawang (Protium javanicum Burm. F)

pada tegakan monokultur kayu bawang di Bengkulu Utara. Jurnal Ilmu-

Ilmu Pertanian Indonesia 5(2): 64-70.

Arsyad S. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.

Bungin B. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif, Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Daniel TW, Helms JA, Baker F. 1987. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Marsono D,

penerjemah; Oemi HS, editor. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Principles of Silviculture.

Davis LS, Johnson KN, Bettinger PS, Howard TE. 2001. Forest Management, To

Sustain Ecological, Economic, and Sosial Values. Forth Edision. New York: MC Graw-Hill Book Co.

Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu. 2003. Budidaya Tanaman Kayu Bawang. Bengkulu: Dishut Provinsi Bengkulu.

Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2006. Data potensi hutan rakyat di Indonesia. Jakarta: Departemen Kehutanan.

Hakim et al. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bandar Lampung: Universitas

Lampung.

Hardjowigeno S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: Akademika Pressindo.

Haygreen JG, Bowyer JL. 1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Indrawan. 1999. Pendugaan biomassa pohon dengan model fractal branching pada hutan sekunder di Rantau Pandan Jambi [skripsi]. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Indriyanto. 2008. Pengantar Budi Daya Hutan. Jakarta: Bumi Aksara. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Bumi Aksara.

Johnson RA, Wichern DW. Applied Multivariate Statistical Analysis. USA:

Prentice Hall International, Inc.

Kementerian Lingkungan Hidup. 2007. Status lingkungan hidup Indonesia 2006. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup.

Kramer PJ, Kozlowski TT. 1960. Physiology of Trees. New York: Mc. Graw-Hill

Book Company.

Nuriyatin N, Apriyanto E, Satriya N dan Saprinurdin. 2003. Ketahanan lima jenis kayu berdasarkan posisi kayu di pohon terhadap serangan rayap. Jurnal Ilmu- Ilmu Pertanian Indonesia 5(2): 77-82.

41

Odum, E HLM. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Samingan T, Penerjemah.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari:

Fundamentals of Ecology.

Riyanto HD. 2001. Kayu bawang berpotensi untuk kayu pertukangan. Prosiding

Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang 12 November 2001. Palembang: 118-120.

Rusdiana O. 2007. Siklus nitrogen pada hutan tanaman pinus di hutan pendidikan Gunung Walat, Sukabumi [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Salisbury FB, Ross CW. 1995a. Fisiologi Tumbuhan (jilid 2). Lukman DR,

Sumaryono, penerjemah. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Terjemahan dari: Plant Physiology.

_____________________. 1995b. Fisiologi Tumbuhan (jilid 3). Lukman DR,

Sumaryono, penerjemah. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Terjemahan dari: Plant Physiology.

Siahaan H, Herdiana N, Rahman T, Sagala N. 2006. Peningkatan pertumbuhan bibit kayu bawang (Protium javanicum Burm. F) dengan aplikasi arang

kompos dan naungan. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai

Teknologi Reboisasi Padang 20 September 2006. Padang: 165-170.

Siahaan H, Herdiana N, Rahman T. 2008. Pengaruh periode dan ruang simpan

terhadap perkecambahan benih kayu bawang. Jurnal Penelitian Hutan

Tanaman 5 (2) : 83-90.

Siahaan H. 2009. Model pertumbuhan tegakan kayu bawang (Protium javanicum

Burm F.) pada berbagai pola tanam dan kerapatan tegakan [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Soekotjo W. 1976. Silvika. Bogor: Proyek Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi, Institut Pertanian Bogor

Soerianegara I, Indrawan A. 2008. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor: Laboratorium Ekologi Hutan, Institut Pertanian Bogor.

Sosef MSM, Hong LT, Prawirohatmodjo S (Editor). 1998. Plant Resources of

South-East Asia. Bogor: Prosea 5(3).

Suhendang E. 1990. Hubungan antara dimensi tegakan hutan tanaman dengan faktor tempat tumbuh dan tindakan silvikultur pada hutan tanaman Pinus merkusii Jungh. Et De Vriese di Pulau Jawa [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Sumadi A, Siahaan H, Rahman T. 2007. Potensi pengembangan hutan tanaman

industri kayu pertukangan jenis kayu bawang di Bengkulu. Prosiding

Seminar Hasil-Hasil Penelitian: Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Pkln. Balai:21 Agustus 2007. Bogor: 133-136.

Van Noordjwik et al. 2002. Carbon stock assessment for a forest to coffie conversion landscape in Sumber Jaya (Lampung Indonesia): From Allometric Equation to Land Use Change Analysis. Science In China 45: 75-86.

Winarno B, Waluyo EA. 2007. Potensi pengembangan hutan rakyat dengan jenis tanaman lokal. Di dalam: Hendromono, I Anggraeni, dan K M Sallata,

editor. Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian: Optimalisasi Peran Iptek

dalam Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Pkln. Balai:21 Agustus 2007.

Lampiran 1 Profil tegakan pola tanam kayu bawang dikombinasikan dengan pisang

Lampiran 3 Profil tegakan pola tanam kayu bawang dikombinasikan dengan kopi dan karet

1 2002 8 102° 15' 09,6" BT; 03° 43' 57,8" LS 0 - lempung liat berpasir 3 m x 3 m Agroforestri: kayu bawang + pisang 2 2002 8 102° 15' 10,3" BT; 03° 43' 58,6" LS 0 - liat 3 m x 3 m Agroforestri: kayu bawang + pisang 3 2002 8 102° 15' 11,0" BT; 03° 43' 58,3" LS 5 Timur lempung liat berpasir 3 m x 3 m Agroforestri: kayu bawang + pisang 4 1997 13 102° 11' 15,9" BT; 03° 35' 36,6" LS 25 Utara lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 5 1998 12 102° 11' 15,4" BT; 03° 35' 36,8" LS 25 Utara lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 6 2001 9 102° 10' 48,7" BT; 03° 35' 06,8" LS 25 Utara liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 7 2003 7 102° 10' 48,3" BT; 03° 35' 07,4" LS 40 Barat liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 8 2001 9 102° 10' 47,7" BT; 03° 35' 06,7" LS 25 Barat liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 9 1998 12 102° 10' 52,0" BT; 03° 35' 02,4" LS 10 Barat liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 10 2000 10 102° 11' 20,4" BT; 03° 35' 43,9" LS 45 Selatan lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 11 2001 9 102° 11' 15,7" BT; 03° 35' 43,9" LS 40 Utara lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 12 2003 7 102° 11' 00,9" BT; 03° 31' 19,1" LS 0 - liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 13 2003 7 102° 11' 01,3" BT; 03° 31' 18,3" LS 56 Utara lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 14 2003 7 102° 10' 51,0" BT; 03° 31' 15,2" LS 55 Timur lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 15 2003 7 102° 11' 52,5" BT; 03° 31' 51,7" LS 35 Selatan lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi 16 2003 7 102° 11' 19,2" BT; 03° 30' 52,0" LS 5 Timur liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 17 2003 7 102° 11' 19,4" BT; 03° 30' 53,2" LS 7 Timur lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 18 2003 7 102° 11' 19,2" BT; 03° 30' 54,2" LS 11 Timur lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 19 2004 6 102° 12' 07,2" BT; 03° 31' 08,1" LS 47 Utara lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 20 2004 6 102° 12' 06,7" BT; 03° 31' 09,3" LS 46 Barat lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 21 2004 6 102° 10' 34,2" BT; 03° 31' 23,4" LS 48 Timur lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 22 2006 4 102° 10' 34,9" BT; 03° 31' 22,6" LS 44 Barat lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 23 2004 6 102° 10' 33,7" BT; 03° 31' 20,9" LS 35 Barat lempung liat berpasir Acak Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 24 2007 3 102° 12' 06,2" BT; 03° 31' 11,8" LS 0 - lempung liat berpasir 3 m x 12 m Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet 25 2007 3 102° 12' 08,1" BT; 03° 31' 12,7" LS 0 - lempung liat berpasir 3 m x 12 m Agroforestri: kayu bawang + kopi + karet

Lampiran 5 LBDS total pada setiap petak ukur penelitian

No. Pola tanam LBDS (m²/ha)

PUP Kayu Pisang Kopi Karet Total

Bawang

1 Kayu bawang + Pisang 18,4 1,6 - - 20,0 2 Kayu bawang + Pisang 21,1 2,6 - - 23,7 3 Kayu bawang + Pisang 15,6 2,2 - - 17,9 4 Kayu bawang + Kopi 12,6 - 0,6 - 13,2 5 Kayu bawang + Kopi 13,3 - 0,2 - 13,5 6 Kayu bawang + Kopi 10,2 - 0,1 - 10,3 7 Kayu bawang + Kopi 5,4 - 0,1 - 5,5 8 Kayu bawang + Kopi 10,8 - 0,1 - 10,9 9 Kayu bawang + Kopi 17,5 - 0,7 - 18,2 10 Kayu bawang + Kopi 16,4 - 0,5 - 16,9 11 Kayu bawang + Kopi 9,2 - 0,3 - 9,5 12 Kayu bawang + Kopi 9,4 - 0,7 - 10,1 13 Kayu bawang + Kopi 7,4 - 1,2 - 8,6 14 Kayu bawang + Kopi 11,3 - 0,4 - 11,7 15 Kayu bawang + Kopi 6,2 - 0,3 - 6,5 16 Kayu bawang + kopi + Karet 11,1 - 0,4 2,7 14,2 17 Kayu bawang + kopi + Karet 13,9 - 0,1 2,7 16,8 18 Kayu bawang + kopi + Karet 10,6 - 0,5 3,1 14,1 19 Kayu bawang + kopi + Karet 9,0 - 0,2 0,7 9,9 20 Kayu bawang + kopi + Karet 9,7 - 0,3 0,8 10,7 21 Kayu bawang + kopi + Karet 6,8 - 0,3 1,9 9,0 22 Kayu bawang + kopi + Karet 4,5 - 0,6 4,4 9,5 23 Kayu bawang + kopi + Karet 6,7 - 0,6 0,7 8,0 24 Kayu bawang + kopi + Karet 2,8 - 0,9 1,1 4,7 25 Kayu bawang + kopi + Karet 2,9 - 0,9 1,1 4,8

PUP Kayu Pisang Kopi Karet Tumbuhan Total

Bawang bawah

1 Kayu bawang + Pisang 87,3 0,8 - - 4,1 92,3 2 Kayu bawang + Pisang 113,7 1,3 - - 3,9 119,0 3 Kayu bawang + Pisang 68,6 1,2 - - 4,0 73,9 4 Kayu bawang + Kopi 91,9 - 2,3 - 2,7 96,8 5 Kayu bawang + Kopi 87,9 - 0,7 - 3,1 91,7 6 Kayu bawang + Kopi 52,7 - 0,4 - 2,8 56,0 7 Kayu bawang + Kopi 27,2 - 0,4 - 4,0 31,5 8 Kayu bawang + Kopi 57,6 - 0,4 - 3,2 61,2 9 Kayu bawang + Kopi 113,3 - 2,8 - 2,9 119,0 10 Kayu bawang + Kopi 88,5 - 2,0 - 3,2 93,7 11 Kayu bawang + Kopi 50,6 - 1,0 - 3,5 55,0 12 Kayu bawang + Kopi 53,4 - 2,7 - 1,1 57,2 13 Kayu bawang + Kopi 45,5 - 4,8 - 0,4 50,7 14 Kayu bawang + Kopi 55,7 - 1,5 - 0,6 57,8 15 Kayu bawang + Kopi 31,2 - 1,1 - 1,8 34,0 16 Kayu bawang + kopi + Karet 55,4 - 1,7 22,7 0,8 80,5 17 Kayu bawang + kopi + Karet 63,6 - 0,5 22,9 1,2 88,3 18 Kayu bawang + kopi + Karet 58,8 - 1,8 25,6 1,3 87,5 19 Kayu bawang + kopi + Karet 34,5 - 0,9 2,2 0,9 38,5 20 Kayu bawang + kopi + Karet 40,7 - 1,0 2,3 1,3 45,3 21 Kayu bawang + kopi + Karet 28,0 - 1,1 8,4 0,8 38,4 22 Kayu bawang + kopi + Karet 15,6 - 2,1 61,3 0,6 79,6 23 Kayu bawang + kopi + Karet 28,4 - 2,2 2,2 0,5 33,4 24 Kayu bawang + kopi + Karet 8,4 - 3,4 3,6 0,4 15,8 25 Kayu bawang + kopi + Karet 8,5 - 3,5 3,6 0,4 16,0

Dokumen terkait