• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

DAFTAR PUSTAKA 71 LAMPIRAN

xii

Halaman 1. Distribusi Karakteristik Individu Pegawai Pusdiklat Departemen

Komunikasi dan Informatika ... 49

2. Persepsi Responden terhadap Hubungan antar Manusia dalam

Pusdiklat Kominfo ... 50 3. Komunikasi Internal Komunikasi Organisasi Pegawai Pusdiklat Kominfo ... 53 4. Komunikasi Eksternal Komunikasi Organisasi Pegawai Pusdiklat Kominfo ... 56 5. Motivasi Kerja Pegawai Pusdiklat Kominfo ... 59 8. Koefisien Korelasi Karakteristik Individu dengan Motivasi Kerja ... 61 9. Uji Khi Kuadrat Jenis Kelamin dengan Motivasi Kerja ... 62 11. Korelasi Hubungan Antar Manusia dengan Motivasi ... 63 12. Korelasi Komunikasi Organisasi dengan Motivasi Kerja ... 66

xiii

1. Hubungan Antar Manusia ... 8

2. Konsep Hirarkhi Kebutuhan Menurut A.H Maslow ... 23

3. Model Harapan mengenai Motivasi ... 26

4. Kerangka Berpikir ... 34

xiv

Halaman

1. Surat Keterangan Penelitian ... 76

2. Kerangka Teoritis dalam Penyusunan Definisi Operasional ... 77

3. Hasil Reliabilitas Instrumen Penelitian ... 80

4. Uji Khi Kuadrat Jenis Kelamin dengan Motivasi Kerja ... 81

5. Hasil Uji Korelasi Rank Spearman ... 82

6. Rekapitulasi Nilai untuk Analisis ... 90

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tata pemerintahan yang baik (good governance) merupakan isu yang paling mengemuka dalam pengelolaan administrasi publik dewasa ini. Tuntutan gencar misalnya aksi-aksi demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah provinsi di Indonesia yang dapat dilihat pada pemberitaan media televisi nasional (TVRI) maupun swasta (SCTV, RCTI) serta pada media cetak surat kabar mengemas hal tersebut. Aksi-aksi demonstrasi ini dimulai sejak digulirkannya reformasi pada tahun 1998 sampai dengan sekarang yang dilakukan oleh masyarakat kepada pemerintah untuk melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan yang baik adalah sejalan dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat, disamping adanya pengaruh globalisasi. Pola-pola lama penyelenggaraan pemerintahan tidak sesuai lagi bagi tatanan masyarakat yang telah berubah. Oleh karena itu, tuntutan itu merupakan hal yang wajar dan sudah seharusnya direspon oleh pemerintah dengan melakukan perubahan-perubahan yang terarah dan terwujudnya penyelenggaraan pemerintah yang baik.

Upaya mewujudkan pemerintahan yang baik memerlukan dukungan kualitas sumber daya manusia yang baik. Masalah sumber daya manusia dalam suatu organisasi merupakan masalah kepegawaian. Walaupun kita telah berada dalam abad teknologi infromasi, dimana kegiatan-kegiatan manusia sudah dipermudah oleh mesin-mesin berteknologi tinggi tetapi faktor manusia tetap merupakan faktor yang sangat penting dan yang paling menentukan dalam setiap organisasi.

Peranan Pegawai Negeri sangat penting dan menentukan, karena Pegawai Negeri adalah Aparatur Negara, Abdi Negara dan Abdi Masyarakat sebagai pelaksana kebijakan pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan di masa kini dan masa yang akan datang (Nainggolan, 1987).

Untuk mencapai tujuan yang diinginkan sudah barang tentu akan ditemui berbagai hambatan-hambatan yang merupakan masalah dalam proses kerjasama, terutama dalam hal untuk mewujudkan hasil kerja yang efisien, sehingga dapat mengganggu kelancaran tugas pokok. Menyadari akan peranan Pegawai Negeri

yang sangat penting maka Pegawai Negeri dituntut untuk bekerja dengan sebaik- baiknya. Demikian pula halnya Pegawai Negeri yang menjalankan tugas di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika.

Aktivitas organisasi yang efektif memerlukan hubungan kerjasama secara manusiawi diantara pegawai dalam suatu organisasi, kerjasama dapat diwujudkan apabila antara anggota saling mengadakan hubungan dengan kata lain dibutuhkan komunikasi. Komunikasi diantara pegawai dalam suatu organisasi merupakan aktivitas yang selalu harus ada, karena komunikasi adalah sarana yang digunakan bagi pimpinan, baik secara formal maupun informal, untuk berdiskusi, bertukar pikiran, memberikan arahan kepada bawahan dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Hicks dan Gullet (1987), bahwa organisasi disusun untuk mengerjakan tugas-tugas dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang mana didalamnya para manajer, para bawahan, rekan-rekan yang setaraf, serta lingkungan eksternal perlu dijalin hubungan dan komunikasi yang efektif. Karena komunikasi merupakan faktor yang utama dalam menjalin hubungan dalam organisasi.

Komunikasi yang terjadi antara pegawai khususnya antara pimpinan dan bawahan menciptakan hubungan yang harmonis dalam suatu organisasi. Komunikasi antara seseorang dengan orang lain yang terjadi dalam lingkungan kerja untuk memperoleh kepuasan kedua belah pihak untuk menimbulkan semangat kerja, menjalin kerjasama, meningkatkan disiplin dan meningkatkan produktivitas.

Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam organisasi karena merupakan persepsi keseluruhan pegawai atas sifat-sifat komunikasi dalam suatu organisasi. Komunikasi merupakan refleksi kolektif suasana perasaan pegawai, maka kondisi ini pada akhirnya dapat mempengaruhi perilaku kerja.

Setiap pegawai dalam memberikan respon terhadap lingkungan kerjanya akan berbeda-beda antara satu dengan lain. Respon ini memberikan dorongan atau motivasi yang berbeda-beda pula dalam bekerja. Hal ini sangat berpengaruh, baik terhadap peningkatan kemampuan kerja masing-masing individu maupun terhadap efisiensi kerja dilingkungan instansi secara keseluruhan. Pace dan Faules (2005) menyebutkan bahwa iklim komunikasi sebuah organisasi dapat mempengaruhi

cara hidup pegawai, kepada siapa pegawai bicara, siapa yang disukainya, bagaimana perasaanya, bagaimana perkembangannya, apa yang ingin dicapai dan bagaimana caranya menyesuaikan diri dengan organisasi.

Iklim komunikasi yang penuh persaudaraan mendorong para anggota organisasi berkomunikasi secara terbuka, rileks, ramah tamah dengan anggota lain. Sedangkan iklim yang negatif menjadikan anggota tidak berani berkomunikasi secara terbuka dengan penuh rasa persaudaraan (Muhammad, 2004).

Dengan demikian dalam iklim komunikasi organisasi yang baik akan mendorong pegawai berpartisipasi, terbuka memiliki perasaan bebas dalam tukar menukar informasi dan berkomunikasi, sehingga diharapkan dapat menimbulkan dan memacu motivasi kerja para pegawai. Iklim yang sehat juga mencerminkan kemampuan organisasi dalam mengantisipasi terjadinya konflik.

Sedangkan organisasi dengan iklim yang defensif akan menyebabkan informasi cenderung bersikap tertutup dalam menyampaikan informasi, tidak merasa bebas berkomunikasi, berhati-hati atau takut-takut dalam mengeluarkan pendapat atau pernyataan, sehingga mempengaruhi moral kerja pegawai. Oleh karena itu, perhatian dalam suatu organisasi, maka diduga akan membawa dampak yang tidak baik bagi masing-masing individu dalam organisasi maupun pada tempat organisasi tempat individu bekerja. Dengan kata lain apabila iklim komunikasi organisasi tidak mendapat perhatian yang serius diduga akan menyebabkan motivasi kinerja organisasi menjadi rendah yang berujung pada sulitnya pencapaian efektifitas organisasi.

Keberhasilan pembangunan dibidang komunikasi dan informatika sangat tergantung kepada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang menguasai dan mampu memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi dan informatika. Pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dibidang komunikasi dan informatika antara lain dilaksanakan oleh Pusat Diklat Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika yang berlokasi di Jl. Kelapa Dua Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Pusdiklat Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika yang sudah ada sejak tahun 2004 adalah unit organisasi setingkat eselon II yang berada

langsung dibawah Menteri Komunikasi dan Informatika, dengan pembinaan teknis dan administratif oleh Sekretaris Jenderal Departemen Komunikasi dan Informatika. Pusdiklat Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika mempunyai fungsi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi para pegawai dilingkungan Departemen Komunikasi dan Informatika. Melihat dari fungsinya, maka tugas dari Pusdiklat pegawai ini erat hubungannya dengan pemberian pelayanan pada pegawai dilingkungan Departemen Komunikasi dan Informatika. Dengan demikian kepuasan para peserta pendidikan dan pelatihan sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan yang diberikan. Motivasi untuk mewujudkan kualitas pelayanan yang baik perlu ditumbuhkan pada diri pegawai. Pegawai yang termotivasi dalam bekerja diharapkan akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan pekerjaanya pada produktivitas hasil kerja yang baik. Salah satu kondisi yang dapat diciptakan dalam rangka mewujudkan motivasi kerja pegawai yang tinggi adalah dengan melaksanakan hubungan manusiawi (Human relations) diantara pegawai.

Kondisi nyata yang dihadapi oleh Pusdiklat Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika dari hasil laporan evaluasi kinerja tahun 2005 yang dilaporkan oleh Tim evaluasi kinerja dari Biro kepegawaian dan Organisasi Departemen Komunikasi dan Informatika bahwa Pusdiklat Pegawai dalam memberikan pelayanan sebagai aparatur pegawai negeri sipil belum optimal. Masih ditemukan beberapa indikasi dari para pegawai sebagai berikut: adanya rasa malas, kurang bersemangat dalam menghadapi tugas sehari-hari, adanya tugas yang tidak diselesaikan tepat waktunya, kurangnya disiplin terhadap jam kerja yang telah ditentukan, kurang rasa tanggung jawab terhadap suatu pekerjaan. Data laporan dari tim evaluasi kinerja menunjukan masih ada beberapa hambatan pada kinerja pegawai dengan angka rata-rata 75% (sumber Biro Kepegawaian dan Organisasi Departemen Komunikasi dan Informatika, 2005).

Hambatan-hambatan pada kinerja pegawai itulah yang perlu dicarikan jalan pemecahannya, agar pegawai yang kurang bersemangat dan sering melanggar disiplin terhadap jam kerja dalam menjalankan tugas serta kurang rasa tanggung jawab pada suatu pekerjaan di Pusdiklat Pegawai Departemen Komunikasi dan

Informatika dapat termotivasi dan ditingkatkan kinerjanya sehingga mereka benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik dan penuh tanggung jawab. Untuk memotivasi pegawai adalah tugas atasan, terutama didalam mengarahkan para pegawai menuju tujuan organisasi yang diinginkan. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Widjaya (1996) “ Para pemimpin mempunyai tugas utama untuk mengetahui pengaruh-pengaruh yang dapat mendorong orang yang dipimpinnya agar bersedia bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada orang-orang yang dipimpinnya. Sebab salah satu tugas pokok seorang pemimpin adalah menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya dan memberikan bimbingan untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.

Uraian diatas mengungkapkan pentingnya faktor-faktor komunikasi yang berhubungan dengan meningkatkan kinerja organisasi, oleh karena itu perlu untuk dikaji bagaimana faktor-faktor komunikasi yang terbentuk di Pusdiklat Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika Jakarta, dan sejauh mana faktor-faktor komunikasi yang berhubungan dengan motivasi kerja organisasi.

Perumusan Masalah

Suksesnya pelaksanaan fungsi-fungsi dan tercapainya tujuan organisasi bukan hanya disebabkan karena fasilitas, sarana, barang modal, dan alat bantu lainnya. Tetapi juga terutama hubungan kerjasama yang baik antara atasan dengan bawahan, antara bawahan dengan atasan serta atasan dengan atasan dan bawahan dengan bawahan dalam suatu organisasi. Tidaklah mudah untuk terwujudnya kerjasama yang baik akan terciptanya tujuan organisasi.

Salah satu faktor yang menentukan efektifitas organisasi adalah faktor- faktor komunikasi dalam organisasi. Komunikasi vertikal, komunikasi horizontal dan komunikasi diagonal yang memungkinkan terciptanya iklim komunikasi yang dapat mendorong tumbuhnya motivasi kerja yang tinggi pada diri pegawai perlu ditumbuh kembangkan. Hal tersebut tidaklah mudah, karena ketika para pegawai memasuki suatu organisasi mereka membawa karakteristik personalnya seperti latar belakang, budaya, pengalaman, dan harapan-harapan yang berbeda-beda kedalam satuan organisasi. Hal ini akan mempengaruhi persepsi dan interpretasi pegawai terhadap lingkungan yang sedang dihadapi ketika berhubungan dan

berkomunikasi. Para pegawai akan mempresepsikan lingkungan tersebut secara berbeda-beda pula. Sebagaimana yang dikatakan Rakhmat (2001), bahwa yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu.

Bertitik tolak dari uraian diatas maka masalah umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik individu serta faktor-faktor komunikasi yang berhubungan dengan meningkatkan motivasi kinerja organisasi dilingkungan suatu organisasi.

Selanjutnya dirumuskan rincian masalah dalam bentuk pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana deskripsi karakteristik individu, hubungan antar manusia, komunikasi organisasi dan motivasi kinerja organisasi (Kasus di Pusdiklat Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika) ?

2. Sejauh mana hubungan karakteristik individu dengan motivasi kinerja organisasi (Kasus di Pusdiklat Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika) ?

3. Sejauh mana hubungan antara ”hubungan antar manusia” dengan motivasi kerja pegawai (Kasus di Pusdiklat Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika)?

4. Bagaimana hubungan komunikasi organisasi dengan motivasi kerja pegawai (Kasus di Pusdiklat Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika) ?

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis deskripsi karakteristik individu, hubungan antar manusia, komunikasi organisasi dan motivasi kerja organisasi.

2. Menganalisis sejauh mana hubungan karakteristik individu dengan motivasi kerja pegawai.

3. Menganalisis sejauh mana hubungan antara ”hubungan antar manusia” dengan motivasi kerja pegawai.

4. Menganalisis hubungan komunikasi organisasi dengan motivasi kerja pegawai.

Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Sebagai sumber informasi tambahan bagi ilmu komunikasi dibidang Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan.

2. Sebagai bahan kajian penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan komunikasi dan motivasi kinerja organisasi.

3. Sebagai masukan bagi Departemen Komunikasi dan Informatika pada umumnya dan bagi pimpinan Pusdiklat Pegawai khususnya agar dapat menciptakan dan mengoptimalkan hubungan antar pegawai dan komunikasi yang kondusif dalam rangka meningkatkan motivasi kinerja pegawai.

TINJAUAN PUSTAKA

Hubungan Antar Manusia

Hubungan antar manusia (Human Relations) adalah hubungan kemanusiaan yang harmonis, tercipta atas kesadaran dan kesediaan melebur keinginan individu demi terpadunya kepentingan bersama (Hasibuan, 2005). Tujuannya adalah menghasilkan integrasi yang cukup kukuh, mendorong kerjasama yang produktif dan kreatif untuk mencapai sasaran bersama.

Hubungan antar manusia (Human Relations) akan tercipta serta terpelihara dengan baik, jika ada kesediaan melebur sebagian keinginan individu demi tercapainya kepentingan bersama yang didasarkan atas saling pengertian, harga menghargai, hormat menghormati, toleransi menghargai pengorbanan dan peranan yang diberikan setiap individu anggota kelompok/karyawan. Untuk jelasnya pengintegrasian dan terciptanya hubungan dapat digambarkan skema sebagai berikut :

Gambar 1. : Hubungan Antar Manusia

Penjelasan :

a. Lingkaran I adalah kepentingan-kepentingan organisasi dan untuk inilah organisasi didirikan oleh pimpinan.

b. Lingkaran II adalah keinginan-keinginan individu karyawan dan untuk inilah karyawan bersedia bekerja pada organisasi.

c. Bagian A adalah kepentingan-kepentingan organisasi yang dilebur oleh atas kesediaan pimpinan (benefit and service) demi tujuan bersama.

d. Bagian C adalah keinginan-keinginan individu karyawan yang dilebur atas kesediaan dari karyawan demi tujuan bersama.

e. Bagian B adalah pernyataan kepentingan organisasi dan keinginan individu karyawan yang harus dilakukan secara bersama.

f. Semakin besar kemauan melebur kepentingan dan keinginan anggota organisasi, semakin baik hubungan antar manusia di dalam organisasi tersebut untuk mencapai tujuan bersama.

g. Jika hubungan antar manusia didalam organisasi semakin serasi, tujuan bersama akan lebih mudah dicapai dengan hasil yang lebih memuaskan.

Menurut Effendy (1993) pengertian “human relations” dalam arti luas maupun sempit :

Hubungan antar manusia (human relations) dalam arti luas adalah komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan, sehingga menimbulkan kebahagiaan dan kepuasan hati pada kedua belah pihak. Jadi human relations dalam arti luas dilakukan dimana saja.

Hubungan antar manusia (human relations) dalam arti sempit adalah komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam situasi kerja (work situation) dan dalam organisasi kekaryaan

(work organization) dengan tujuan untuk menggugah kegairahan dan kegiatan

bekerja dengan semangat kerja sama yang produktif dengan perasaan bahagia dan puas hati. Sedang tujuannya adalah untuk menggiatkan seseorang (orang-orang) bekerja dengan semangat kerjasama, produktif, dengan hati puas dan senang. Dari definisi diatas kiranya dapat diuraikan bahwa tujuan kegiatan “hubungan manusiawi “ adalah untuk menumbuhkan gairah kerja dan kerjasama yang baik untuk mencapai hasil yang semaksimal mungkin.

Oleh karena itulah, Maier (Effendy, 1993) menyatakan :

Dengan Human relations dapat diusahakan untuk menghilangkan rintangan-rintangan komunikasi, mencegah salah pengertian dan mengembangkan segi konstruktif sifat tabiat manusia, sehingga dengan adanya human relations ini maka para pegawai sebagai petugas pelaksana tugas digairahkan dan digerakan kearah yang lebih baik.

Selanjutnya Effendy (1993) menyatakan, dipandang dari sudut pemimpin yang bertanggung jawab untuk memimpin suatu kelompok, hubungan antar

manusia adalah interaksi orang-orang yang menuju suatu situasi kerja yang memotivasikan mereka untuk bekerja sama secara produktif maupun sosial.

Jelas bahwa ciri khas hubungan antara personalia yang sifatnya manusiawi. Manusia yang berinteraksi itu terdiri dari jasmani dan rohani, yang beraksi dan berbudi, yang selain merupakan makhluk pribadi juga makhluk sosial, maka dalam melakukan hubungan manusiawi harus memperhitungkan diri manusia dengan segala kompleksitasnya itu.

Musanef (1998) menyatakan bahwa tidak dapat disangkal adanya kenyataan dalam praktek bahwa untuk sebagian kegagalan yang dialami oleh pimpinan dalam suatu usaha yang baik dalam instansi pemerintah maupun swasta disebabkan oleh tidak dijalankannya suatu “hubungan manusiawi” yang baik antara keseluruhan orang-orang dalam organisasi yang bersangkutan, yang mengakibatkan ketimpangan dan tidak adanya keharmonisan dalam menanggapi kebijaksanaan- kebijaksanaan pimpinan dan akhirnya timbulah sabotase dan rasa enggan untuk bertanggung jawab dari pegawai-pegawainya.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan “hubungan antar manusia” maka :

1. Dapat diusahakan untuk menghilangkan rintangan-rintangan komunikasi. 2. Mencegah salah pengertian yang dapat menimbulkan kesimpangsiuran. 3. Mengembangkan segi konstruktip sifat tabiat manusia.

4. Menciptakan keharmonisan dalam menanggapi kebijaksanaan-kebijaksanaan pimpinan.

5. Mencegah timbulnya sabotase atau rasa enggan untuk bertanggung jawab dari pegawai bawahannya.

Adapun dasar pemikiran “hubungan manusiawi” seabagai metode yang penting untuk mengadakan kerjasama, adalah karena di dalam setiap usaha kerjasama terdapat sebagian individu yang berbeda. Oleh karena itu di dalam organisasi, dimana titik sentral “hubungan manusiawi”, maka karyawan itu harus ditinjau dari segi individu dalam kelompok.

Siagian (1986) menyebutkan “hubungan manusiawi” adalah keseluruhan rangkaian hubungan, baik yang bersifat formal antara atasan dengan bawahan, atasan dengan atasan serta bawahan dengan bawahan yang laian yang harus dibina

dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tercipta suatu team work dan suasana kerja yang intim dan harmonis dalam rangka pencapaian tujuan.

Kemudian untuk melengkapi pengertian “hubungan antar manusia” yang lebih dikemukakan, berikut adalah :

Dari sudut pandangan yang terbatas, “hubungan antar manusia” sebagai suatu bidang kegiatan manusia untuk pengintegrasian orang-orang kedalam suatu suasana kerja sedemikian rupa sehingga secara produktif, koperatif dan dengan menimbulkan kepuasan ekonomi, psikologis dan sosial.

Dari beberapa definisi diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa diantara para ahli terdapat adanya persamaan pendapat yakni adanya hubungan yang harmonis antara bawahan dengan bawahan, antara bawahan dengan atasan.

Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa disamping persamaan-persamaan yang ada diantara definisi tersebut diatas, juga terdapat adanya perbedaan- perbedaan ini adalah dalam bidang pemakaian istilah saja, akan tetapi tujuan” hubungan antar manusia” dalam arti sempit dimaksudkan untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan serasi dengan rekan-rekan pegawai lainnya dan dengan pimpinannya sehingga terbina hubungan kerja yang tinggi dan bentuk kerja sama yang rapi dan saling menguntungkan.

Kecakapan dan Kegiatan-kegiatan Hubungan Antar Manusia

Kecakapan dan pengetahuan yang dibawa oleh pekerja ke tempat kerja sering tidak menjamin bahwa ia akan bekerja dengan baik, selektif dan produktif. Mungkin pimpinan atau para pimpinan dalam organisasi itu masih perlu kesediaannya untuk mengerjakan pekerjaannya dengan tekun, rajin dan bergairah, tidak malas serta membuang waktu secara percuma.

Setiap pekerja mempunyai sifat, sikap dan tingkah laku yang berbeda dan ini dipertemukan dalam suatu organisasi, dalam suasana kerja sama sifat, sikap dan prilaku yang berbeda tersebut harus dapat dipadu menjadi suatu kekuatan kerja sama yang ampuh dan tangguh, berjalan searah, sesama menuju pencapaian tujuan organisasi, kerja. Untuk tercapainya tujuan itu maka perlu diadakan suatu pendekatan, yaitu dengan “hubungan antar manusia”. Agar maksud dan tujuan “hubungan antar manusia” tersebut dapat terlaksana dengan baik, maka perlu

menerapkan atau memperhatikan prinsip-prinsip “hubungan antar manusia” itu sendiri.

Sepuluh prinsip “hubungan antar manusia” yang sering disebut dengan istilah “The Ten Commandement of Human Relations”. Selanjutnya Siagian (1986). Sepuluh prinsip tersebut adalah :

1. Harus ada sinkronasi antara tujuan organisasi dengan tujuan-tujuan individu didalam organisasi tersebut.

2. Suasana kerja yang menyenangkan

3. Informalitas yang wajar dalam hubungan kerja. 4. Manusia bawahan bukan mesin

5. Kembangkan kemampuan sampai tingkat yang maksimal 6. Pekerjaan yang menarik dan pentuh tantangan.

7. Pengakuan dan penghargaan atas pelaksanaan tugas dengan baik. 8. Alat perlengkapan yang cukup.

9. “The Right Man in The Right Place”

10.Balas jasa harus setimpal dengan jasa yang diberikan.

Kegiatan “hubungan antar manusia” adalah motivasi, bagaimana motivasi para karyawan untuk bekerja secara memuaskan untuk dapat mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas para karyawan dalam bekerjasama dalam rangka menuju sasaran yang telah direncanakan, dalam hal ini komunikasi memegang peranan penting.

Memotivasi dan berkomunikasi merupakan kegiatan “hubungan manusiawi” yang pokok disamping kegiatan atau aspek lainnya. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Devis (Effendy, 1993) yang menyatakan bahwa :

Dipandang dari sudut pemimpin yang bertanggung jawab untuk memimpin suatu kelompok hubungan antar manusia adalah interaksi orang-orang yang menuju suatu kerja yang memotivasikan mereka untuk bekerja sama untuk produktif dengan perasaan puas baik ekonomis, psikologis, maupun sosial.

Komunikasi Organisasi

Salah satu faktor yang amat menentukan dalam proses manajemen dan kepemimpinan adalah komunikasi. Dalam komunikasi itulah dapat diwujudkan hubungan dalam lingkungan organisasi dan hubungan ke luar.

Komunikasi merupakan salah satu aspek terpenting dalam aktivitas manajerial. Tanpa komunikasi yang baik, lingkungan organisasi akan menjadi kaku dan beku (Statis) dan dengan pihak luar akan terpencil. Oleh karena hakekat manajemen dan kepemimpinan adalah untuk mencapai tujuan tertentu melalui kerja sama dengan orang lain, maka sudah tentu diantara Manusia-manusia yang bekerja sama itu harus ada komunikasi.

Dokumen terkait