• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel

PUSDIKLAT Sub bidang

Diklat Kepemimpinan Bidang Penyelenggaraan Sub Bag Kepegawaian Bagian TU Sub Bag Keuangan Sub bidang Diklat Fungsional Sub bidang Diklat Tekhnis Bidang

Program dan Evaluasi

Sub bidang Diklat Sub bidang Kerjasama Sub bidang Evaluasi Lapangan Kelompok Jabatan Fungsional Sub Bag Umum

Jumlah pegawai Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika sampai dengan akhir tahun 2005 adalah 85 orang pegawai terdiri dari pejabat struktural 13 orang dan fungsional 35 orang dan non struktural 37 orang pegawai.

Deskripsi Karakteristik Individu

Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika

Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 85 orang meliputi seluruh pegawai yang bekerja di Pusat Diklat Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika. Dalam penelitian ini umur dihitung berdasarkan usia responden pada saat penelitian dilakukan yang dihitung dari tahun kelahiran dan dibulatkan ke tahun terdekat. Pegawai Departemen Kominfo yang menjadi responden pada penelitian ini berada pada kisaran umur 32 sampai 55 tahun.

Kisaran umur responden di Pusdiklat Kominfo terbanyak ada pada rentang umur 47 sampai 57 tahun. Pada umur tersebut tampaknya responden adalah pegawai-pegawai senior yang sudah paham dengan kondisi dan kinerja organisasi Departemen Kominfo. Dengan demikian diharapkan komunikasi yang terjalin juga sudah baik dan tampaknya kedekatan dalam satu unit kerja sudah dekat satu sama lainnya.

Pegawai pada Pusdiklat Kominfo sebagai responden pada penelitian ini adalah berjumlah 85 orang dengan proporsi 69 orang dengan jenis kelamin laki- laki dan 16 orang responden perempuan. Walaupun dengan proporsi yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan diharapkan memberikan jawaban yang diinginkan dalam penelitian ini.

Latar belakang pendidikan responden beragam sesuai dengan posisinya masing-masing di lingkungan Pusdiklat Departemen Kominfo. Secara umum dapat dilihat biasanya komunikasi antar manusia lebih intensif ketika memiliki kesamaan rutinitas dan kewajiban dalam tugas. Distribusi terbesar adalah pada pegawai dengan pendidikan SLTA dan S1. Misalnya pegawai dengan pendidikan dan jabatan yang sama kurang sering berhubungan karena berbeda divisi. Namun beragamnya tingkat pendidikan pada satu unit kerja memungkinkan untuk

berkomunikasi satu sama lain. Komunikasi sudah pasti terjalin antara pihak-pihak tersebut. Deskripsi karakteristik individu responden dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Deskripsi Karakteristik Responden

No Karakteristik Jumlah Responden Persentase

1 Umur (tahun) Muda (27 - < 37) 1 1,2 Setengah baya (37 - 46) 39 45,9 Tua 47 – 57 45 52,9 Total 85 100,0 2 Jenis Kelamin Laki-laki 69 81,2 Perempuan 16 18,8 Total 85 100,0 3 Tingkat Pendidikan SD 0 0.0 SLTP 2 2.4 SLTA 35 41.2 Diploma/sarmud 10 11.8 Sarjana/S1 33 38.8 Pascasarjana 5 5.9 Total 85 100,0

4 Masa Kerja (tahun)

2 – 12 4 4.7 13 – 23 48 56.5 24 – 34 33 38.8 Total 85 100,0 5 Jabatan Struktural 13 15.3 Fungsional 35 41.2 Non struktural 37 43.5 Total 85 100,0 6 Golongan Kepangkatan Golongan Kepangkatan I 0 0.0 Golongan Kepangkatan II 1 1.2

Golongan Kepangkatan III 69 81.2

Golongan Kepangkatan IV 15 17.7

Total 85 100,0

Tabel 1 terlihat bahwa pegawai di Pusdiklat Kominfo umumnya sudah cukup lama bekerja di Departemen Kominfo dengan persentase terbesar 56,5 persen pada kategori 13 sampai 23 tahun. Berdasarkan waktu yang cukup lama tersebut, maka hubungan komunikasi antar manusia yang terjadi sudah cukup baik dan sudah saling mengenal karakter masing-masing. Biasanya pegawai yang sudah senior sudah sering pindah unit kerja sehingga mempunyai banyak pengalaman berkomunikasi dengan banyak tipe manusia yang berbeda.

Pegawai di jabatan non struktural dengan persentase terbesar yaitu 43,5 persen, sedangkan tenaga fungsional dengan persentase 41,2 persen. Hal ini

mengindikasikan bahwa responden berada pada lingkungan kerja yang berbeda- beda dan menjalin kerjasama dengan pihak eksternal atau antara unit kerja.

Dilihat dari Tabel 1 bahwa sebagian besar responden berada pada kepangkatan golongan III dengan persentase sebesar 81,2 persen. Hal ini menunjukkan bahwa manusia sebagai pegawai memiliki banyak kesempatan pada berbagai arah komunikasi baik vertikal, horizontal dan diagonal. Golongan III biasanya lebih luwes bergaul baik keatas maupun berkomunikasi dengan bawahan.

Hubungan antar Manusia dalam Organisasi Pusdiklat Departemen Kominfo

Kantor merupakan pusat pengolahan keterangan, tempat para pejabat berkumpul untuk merundingkan segala sesuatu untuk kepentingan kantor, tempat para pegawai menyelesaikan pekerjaan administrasi atau tata usaha (Wursanto, 1987).

Tabel 2 menunjukkan bahwa kondisi keserasian antara tujuan organisasi dengan tujuan manusia menurut pegawai dilingkungan kerja Pusdiklat Departemen Kominfo termasuk cukup baik walaupun ada sebagian yang ragu- ragu terhadap kondisi keserasian tersebut dengan persentase sebesar 54,1 persen. Hal ini disebabkan karena tujuan organisasi Pusdiklat umumnya merupakan hal- hal baku yang sudah disusun sedemikian rupa untuk periode tertentu sehingga ada yang sesuai dengan tujuan pegawai namun juga ada yang bertentangan atau adakalanya pegawai harus mengikuti dan setelah menjalani aturan dalam pencapaian tujuan tersebut pegawai merasa senang melaksanakannya. Pegawai merasa senang menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu, dan ada kerjasama antara atasan dan bawahan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi, disini ada penghargaan atas pencapaian tugas oleh bawahan, dan atasan tidak senang apabila produktivitas kerja bawahan menurun.

Tabel 2. Hubungan antar Manusia dalam Pusdiklat Kominfo No X2 Kategori Kisaran Skor (*) Jumlah Σ (%) 1 Keserasian

Sangat tidak setuju 5 – 9 0 0,0

Tidak setuju 10 – 14 0 0,0 Ragu-ragu 15 – 19 46 54,1 Setuju 20 – 24 36 42,4 Sangat setuju 25 3 3,5 Total 85 100,0 2 Hubungan Kerjasama tidak resmi

Sangat tidak setuju 4 – 7 1 1,2

Tidak setuju 8 – 11 17 20,0 Ragu-ragu 12 – 15 53 62,4 Setuju 16 – 19 14 16,5 Sangat setuju 20 0 0,0 Total 85 100,0 3 Kerjasama resmi

Sangat tidak setuju 4 – 7 0 0,0

Tidak setuju 8 – 11 1 1,2 Ragu-ragu 12 – 15 28 32,9 Setuju 16 – 19 53 62,4 Sangat setuju 20 3 3,5 Total 85 100,0 4 Suasana kerja

Sangat tidak setuju 5 – 9 0 0,0 Tidak setuju 10 – 14 0 0,0 Ragu-ragu 15 – 19 20 23,5 Setuju 20 – 24 60 70,6 Sangat setuju 25 5 5,9 Total 85 100,0 5 Manusia bawahan

Sangat tidak setuju 4 – 7 0 0,0

Tidak setuju 8 – 11 4 4,7 Ragu-ragu 12 – 15 23 27,1 Setuju 16 – 19 55 64,7 Sangat setuju 20 3 3,5 Total 85 100,0 6 Perlengkapan

Sangat tidak setuju 3 – 5 0 0,0

Tidak setuju 6 – 8 0 0,0 Ragu-ragu 9 – 11 5 5,9 Setuju 12 – 14 65 76,5 Sangat setuju 19 15 17,6 Total 85 100,0 7 Penempatan tugas

Sangat tidak setuju 3 – 5 0 0,0

Tidak setuju 6 – 8 0 0,0

Ragu-ragu 9 – 11 17 20,0

Setuju 12 – 14 58 68,2

Sangat setuju 19 10 11,8

Total 85 100,0

Keterangan * = Skor sudah disetarakan

Pernyataan responden terhadap hubungan kerjasama tidak resmi antar pegawai di lingkungan Pusdiklat Kominfo cukup bervariasi, ada yang menganggap tidak bagus, ada yang ragu-ragu dan setuju bahwa aktivitas kerjasama tidak resmi pegawai berjalan dengan lancar. Disini terlihat bahwa kegiatan tidak hanya dilakukan dalam forum dan kerjasama resmi saja tetapi juga melakukan interaksi dalam rangka kerjasama tidak resmi. Ada hal-hal lain yang didiskusikan antar pegawai pada jam-jam istirahat, melakukan kegiatan olahraga

bersama antara atasan dengan bawahan, ada pekerjaan-pekerjaan lain yang diberikan diluar jam kerja dan itu adalah kerjasama diluar pekerjaan di Kominfo. Selain itu kadang-kadang pegawai bersama-sama berekreasi keluar kota. Tampaknya disini interaksi antar pegawai tidak terlalu kaku hanya untuk urusan- urusan resmi.

Hubungan kerjasama resmi antar pegawai yang berkaitan dengan pencapaian tujuan organisasi di departemen Kominfo termasuk dalam kategori cukup baik dimana sebanyak 62,4 persen responden setuju terhadap aktivitas kerjasama resmi antar pegawai di Kominfo. Banyak atasan yang selalu memberikan semangat kerja kepada bawahan dengan melakukan kunjungan ke bagian-bagian unit kerja, mengkoordinir dan mengevaluasi laporan pekerjaan masing-masing bawahan. Hubungan resmi dalam hal rapat mingguan yang dilaksanakan setiap hari jumat dan dihadiri oleh seluruh pegawai di lingkungan terkait. Adanya pembinaan pegawai yang dilakukan dalam rapat bulanan menambah kreativitas dan menjaga hubungan baik antar elemen dalam lingkungan organisasi Kominfo.

Sebanyak 70,6 persen pegawai Pusdiklat Kominfo setuju suasana kerja yang cukup menyenangkan membantu pegawai dalam melaksanakan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Hal ini terlihat dari Tabel 2 bahwa suasana menyenangkan seperti saling pengertian antar pegawai, dan kesempatan bawahan untuk berkreasi tanpa otoritas yang terlalu kaku dari atasan. Penghargaan atas pekerjaan yang dilakukan dan tantangan pekerjaan yang memacu kreativitas tampaknya dipandang perlu oleh bawahan sehingga meningkatkan etos kerja pegawai dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Sikap atasan yang ramah dan kekeluargaan sangat perlu dalam menciptakan suasana yang menyenangkan, sehingga bawahan ke kantor tidak hanya datang menunaikan kewajiban tetapi melakukan pekerjaan dengan bersemangat dan penuh tanggung jawab.

Pegawai pada tingkat bawahan harus diperlakukan dengan baik sebagaimana tata kerja yang harus dianut oleh organisasi. Terlihat dari Tabel 2 sebesar 70,6 persen pegawai Pusdiklat Kominfo setuju perlakuan atasan terhadap bawahan cukup baik. Artinya atasan cukup profesional dalam memberikan tugas- tugas kepada bawahannya dengan tidak memberikan tugas diluar kemampuan

bawahannya. Memberikan waktu kepada bawahan untuk menyelesaikan tugas dan memberikan dispensasi-dispensasi tertentu untuk pekerjaan-pekerjaan yang rumit dan membutuhkan waktu lama. Dengan demikian atasan dapat dikatakan memperlakukan bawahan sebagai manusia bukan mesin yang tak pernah lelah dan atasan disini mendampingi bawahan dalam melaksanakan tugas-tugasnya sehingga karyawan merasa diperlakukan dengan baik oleh atasannya.

Fasilitas yang menunjang di departemen Kominfo tampaknya cukup lengkap dan sangat membantu kinerja organisasi dilihat dari sebanyak 76,5 persen pegawai terhadap kelengkapan fasilitas tersebut. Dengan adanya fasilitas diharapkan pekerjaan yang dilaksanakan menjadi lebih efektif dan efisien. Tabel 2 menunjukkan bahwa pegawai setuju pekerjaan mereka sudah cukup sesuai dengan kemampuan dan latar belakang pendidikan masing-masing. Beberapa usaha seperti meningkatkan kemampuan karyawan melalui pelatihan-pelatihan yang diadakan di Pusdiklat pegawai sudah mulai mencapai sasarannya. Hasil akhir yang diharapkan adalah pegawai mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan yang diharapkan.

Komunikasi Organisasi Pegawai Pusdiklat Kominfo

Ruang lingkup komunikasi organisasi antara lain terdiri dari komunikasi internal dan komunikasi eksternal seperti arah komunikasi yaitu komunikasi vertikal, horizontal dan diagonal, gaya komunikasi antara lain komunikasi langsung dan komunikasi tidak langsung, serta saluran komunikasi yang terdiri dari media cetak dan media elektronik.

Komunikasi Internal Pegawai Pusdiklat Departemen Kominfo

Komunikasi yang terjadi didalam lingkungan organisasi sendiri, secara struktural akan terjadi komunikasi yang bervariasi dan terjadi interaksi yang berbeda-beda pula seperti terlihat pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3. Komunikasi Internal Pegawai Pusdiklat Kominfo

No Komunikasi Internal X3.1

Kategori Kisaran Skor (*)

Jumlah

Jiwa (%)

1 Arah Komunikasi

Komunikasi vertikal

Sangat tidak setuju 7 – 12 0 0.0

Tidak setuju 13 -17 0 0,0 Ragu-ragu 18 – 23 7 8,2 Setuju 24 – 29 68 80,0 Sangat setuju 30 – 35 10 11,8 Total 85 100,0 Komunikasi horizontal

Sangat tidak setuju 5 – 9 0 0,0 Tidak setuju 10 -14 0 0,0 Ragu-ragu 15 -19 42 49,4 Setuju 20 -24 41 48,2 Sangat setuju 25 2 2,4 Total 85 100,0 Komunikasi diagonal

Sangat tidak setuju 5 – 9 0 0,0 Tidak setuju 10 -14 6 7,1 Ragu-ragu 15 -19 53 62,3 Setuju 20 -24 26 30,6 Sangat setuju 25 0 0,0 Total 85 100,0 2 Gaya Komunikasi Komunikasi langsung

Sangat tidak setuju 5 – 9 1 1,2 Tidak setuju 10 -14 52 61,2 Ragu-ragu 15 -19 32 37,6 Setuju 20 -24 0 0,0 Sangat setuju 25 0 0,0 Total 85 100,0 Komunikasi tidak langsung

Sangat tidak setuju 5 – 9 16 18,8 Tidak setuju 10 -14 56 65,9 Ragu-ragu 15 -19 12 14,1 Setuju 20 -24 1 1,2 Sangat setuju 25 0 0,0 Total 85 100,0 3 Saluran Komunikasi Media cetak

Sangat tidak setuju 10 – 18 37 43,5 Tidak setuju 19 – 27 46 54,1 Ragu-ragu 28 – 36 2 2,3 Setuju 37 – 45 0 0,0 Sangat setuju 46 -50 0 0,0 Total 85 100,0 Media elektronik

Sangat tidak setuju 8 – 14 19 22,3 Tidak setuju 15 – 21 52 61,1 Ragu-ragu 22 – 28 14 16,5

Setuju 29 – 35 0 0,0

Sangat setuju 36 – 40 0 0,0

Total 85 100,0

Keterangan * = Skor sudah disetarakan

Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa komunikasi internal di departemen Kominfo secara vertikal sudah cukup baik dimana 80,0 persen pegawai pusdiklat Kominfo setuju terhadap hal tersebut. Arah komunikasi secara vertikal dilihat dari hubungan dan interaksi seorang bawahan dengan atasannya seperti bawahan merasa bebas berbicara dengan atasan, dan atasan memperhatikan saran yang

disampaikan oleh bawahan, bawahan bisa melaporkan permasalahan yang dihadapi oleh bawahan dengan membantu mencarikan solusi mencari jalan keluar permasalahan tersebut.

Hubungan kekeluargaan yang diciptakan antara atasan dan bawahan dengan saling menghargai membantu mencairkan suasana dan perbedaan jabatan diantara keduanya. Pemimpin atau atasan tampaknya menerapkan hubungan baik dengan bawahan untuk memudahkannya mengkaji kinerja organisasi dalam sisitim pengelolaan organisasinya. Menurut beberapa atasan mereka memiliki tindakan pribadi dalam merefleksikan sebuah komitmen terhadap organisasi.

Hubungan antar pegawai disebut dalam kerangka sebagai komunikasi horizontal, terlihat pada Tabel 3 pernyataan pegawai bervariasi yaitu sebanyak 48,2 persen pegawai setuju namun sebanyak 49,4 masih ragu-ragu tentang aktivitas komunikasi horizontal di Pusdiklat Kominfo ini. Menurut pengamatan di Pusdiklat kecenderungan kurang baiknya hubungan horizontal ini dilihat dari kerjasama antar pegawai yang masih kurang, dalam hal diskusi juga tampaknya antar pegawai masih belum terlalu banyak, hal ini disebabkan karena masing- masing memiliki pekerjaan yang berbeda-beda sehingga tidak terlalu banyak yang perlu didiskusikan dengan pihak yang tidak terkait langsung seperti rekan pada unit kerja yang sama. Jika dilihat pada kerja sama dalam satu pekerjaan pun tampaknya masih kurang adanya koordinasi antar pegawai sehingga cenderung masing-masing bekerja sendiri. Terlihat bahwa masih terdapat persaingan antara pegawai dan sifat manusia pegawai masih sangat tinggi dalam hal ini oleh karena itu responden memandang bahwa tidak perlu adanya kerjasama dengan rekan sekerja, tetapi cukup dengan menyelesaikan tugas masing-masing tepat pada waktunya dan semaksimal mungkin.

Atasan harus mengkoordinasi dan mendampingi pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan sehingga perlu komunikasi yang intensif dalam rangka mendapatkan informasi dalam lingkungan kerja yang dibawahinya. Namun sepertinya seorang atasan di Pusdiklat Kominfo lebih banyak punya otoritas hanya pada unit kerja terkait sehingga dalam komunikasi antarpersonal lebih banyak ditujukan dengan lingkungan kerja yang terbatas. Sehingga disini komunikasi diagonal tampaknya belum terlalu intensif, oleh karena itu sebanyak 62,3 persen

pegawai merasa ragu atas komunikasi diagonal antar unit kerja di lingkungan Pusdiklat Kominfo.

Gaya komunikasi dapat dilihat pada Tabel 3, komunikasi langsung menurut pegawai Pusdiklat Kominfo sebanyak 61,2 tidak setuju, artinya pegawai masih perlu meningkatkan intensitas komunikasi langsung dalam kinerja organisasi Pusdiklat Kominfo. Hal ini mengindikasikan bahwa bawahan masih merasa ragu dalam proses komunikasi secara langsung dengan atasan, dan keterbukaaan dalam situasi dan kondisi pekerjaan belum optimal sehingga belum cukup terbuka dalam setiap permasalahan dan perkembangan pekerjaan di Pusdiklat Kominfo.

Komunikasi tidak langsung dilihat dari tidak adanya dari keterbukaan atasan dalam menjelaskan tugas-tugas kepada bawahannya dan selalu menyembunyikan permasalahan dan situasi yang terjadi di lingkungan unit kerjanya seperti terlihat pada Tabel 3 bahwa sebanyak 65,9 persen pegawai tidak setuju . Hal-hal yang berkaitan dengan promosi jabatan dan tidak tanggapnya atasan terhadap gagasan dan keluhan dari bawahan membuat komunikasi menjadi kurang baik. Kekurang harmonisan hubungan tersebut tampaknya berdampak pada komunikasi menjadi kurang intens dan masih adanya rasa segan yang memicu adanya ketidakpercayaan antar manusia.

Saluran komunikasi yang dipakai dalam penyelesaian tugas-tugas di unit kerja terlihat pada Tabel 3, bahwa pegawai belum cukup mengoptimalkan saluran komunikasi yang dimilikinya baik media cetak maupun elektronik. Saluran komunikasi yang ada belum optimal penggunaannya karena hanya melalui memo, surat, bulletin, surat edaran, buku pedoman dan laporan serta beberapa media cetak lainnya. Sedangkan saluran media elektronik yang digunakan dalam membantu penyelesaian tugas diunit kerja, pada setiap ruangan sudah tersedia telepon dan fasilitas internet, email dan mesin fax. Untuk presentasi dan rapat sudah menggunakan film, slide dan foto yang tersedia di masing-masing sub unit. Para pegawai rata-rata sudah memiliki HP namun tidak banyak digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan di Pusdiklat karena pegawai memiliki rutinitas yang sama dan memiliki intensitas pertemuan yang sama setiap harinya.

Komunikasi Eksternal Pegawai Departemen Komunikasi dan Informatika

Komunikasi eksternal adalah komunikasi yang terjadi antar anggota organisasi dengan unit kerja luar instansi yang meliputi arah komunikasi, gaya komunikasi dan saluran komunikasi.

Tabel 4. Komunikasi Eksternal Pegawai di Pusat Diklat Kominfo

No Komunikasi Eksternal X3.2 Kategori Kisaran Skor (*) Jumlah Jiwa (%) 1 Arah Komunikasi Komunikasi vertical

Sangat tidak setuju 5 – 9 0 0,0

Tidak setuju 10 -14 65 76,5 Ragu-ragu 15 -19 20 23,5 Setuju 20 -24 0 0,0 Sangat setuju 25 0 0,0 Total 85 100,0 Komunikasi horizontal

Sangat tidak setuju 5 – 9 4 4,7

Tidak setuju 10 -14 66 77,6 Ragu-ragu 15 -19 15 17,6 Setuju 20 -24 0 0,0 Sangat setuju 25 0 0,0 Total 85 100,0 2 Gaya Komunikasi Komunikasi diagonal

Sangat tidak setuju 5 – 9 1 1,2

Tidak setuju 10 -14 68 80,0 Ragu-ragu 15 -19 16 18,8 Setuju 20 -24 0 0,0 Sangat setuju 25 0 0,0 Total 85 100,0 Komunikasi langsung

Sangat tidak setuju 5 – 9 4 4,8

Tidak setuju 10 -14 47 55,3 Ragu-ragu 15 -19 33 38,9 Setuju 20 -24 1 1,2 Sangat setuju 25 0 0,0 Total 85 100,0 Komunikasi tidak langsung

Sangat tidak setuju 6 – 10 13 15,3

Tidak setuju 11 – 15 49 57,6 Ragu-ragu 16 – 20 23 27,0 Setuju 21 – 25 0 0,0 Sangat setuju 26 – 30 0 0,0 Total 85 100,0 3 Saluran Komunikasi Media cetak

Sangat tidak setuju 9 – 16 38 44,7 Tidak setuju 17 – 24 44 51,8 Ragu-ragu 25 – 32 1 1,2 Setuju 33 – 40 2 2,4 Sangat setuju 41 – 45 0 0,0 Total 85 100,0 Media elektronik

Sangat tidak setuju 8 – 14 19 22,3

Tidak setuju 15 – 21 53 62,3

Ragu-ragu 22 – 28 12 14,1

Setuju 29 – 35 1 1,2

Sangat setuju 36 - 40 0 0,0

Total 85 100,0

Pada Tabel 4 menunjukkan bahwa dari pegawai Pusdiklat Kominfo, sebanyak 76,5 persen tidak setuju bahwa komunikasi vertikal dengan pihak eksternal sudah cukup efektif dilakukan oleh responden sebagai pegawai di departemen Kominfo. Kerjasama yang dilakukan dengan pihak luar apalagi dengan pihak yang lebih tinggi kedudukannya sepertinya belum terlalu sering dilakukan dan informasi-informasi tidak banyak yang disampaikan ke pihak luar seperti LAN dan pihak eksternal lainnya. Hubungan vertikal dengan pihak luar lebih sulit dibandingkan dengan pihak internal.

Komunikasi horizontal yang terlihat pada Tabel 4 menurut pegawai juga tidak baik dimana sebanyak 77,6 persen pegawai mengatakan tidak setuju terhadap kelancaran komunikasi horizontal dengan pihak eksternal. Adanya tanggung jawab masing-masing individu terhadap pekerjaannya tampaknya pegawai fokus pada penyelesaian pekerjaanya sehingga hanya sedikit kerjasama dan diskusi yang dilakukan. Hubungan yang terlalu formal dipandang oleh sebagian pegawai sebagai penyebab kurang lancarnya komunikasi horizontal dengan pihak eksternal tersebut. Komunikasi yang formal menyebabkan informasi yang disampaikan tidak luwes, kaku dan tidak terbuka.

Komunikasi diagonal menurut pegawai Pusdiklat Kominfo juga belum cukup baik dimana sebanyak 80,0 persen mengatakan tidak setuju pada aktivitas komunikasi diagonal dengan pihak eksternal. Disini tampaknya masih kurang intensitas komunikasi antar eselon dan antar unit kerja diluar Pusdiklat sehingga menurut pegawai komunikasi diagonal tersebut masih kurang baik. Ini bisa terjadi karena kurang ada koordinasi antar unit eksternal dengan pihak kominfo.

Tabel 4 menunjukkan bahwa komunikasi langsung dengan pihak eksternal juga dianggap masih kurang dimana sebanyak 55,3 persen mengatakan tidak setuju terhadap kelancaran komunikasi langsung dengan pihak eksternal Pusdiklat Kominfo. Namun menurut beberapa pegawai yang menyatakan ragu-ragu disebabkan karena hubungan langsung dalam konteks ini lebih kepada hubungan interpersonal, dan hanya terbatas mengungkapkan hal-hal yang resmi tidak sampai kepada cara pemecahan masalah yang ada serta saling bertukar informasi.

Dalam hal komunikasi tidak langsung pegawai menjawab tidak setuju sebanyak 51,8 persen, dimana adanya kendala seperti sulit untuk bertemu dan

berkomunikasi langsung terkait dengan kesibukan masing-masing, kurang adanya respon dari pimpinan pihak eksternal dapat dimaklumi karena setiap organisasi punya kebijakan dan wilayah tersendiri yang tidak boleh dicampuri oleh pihak luar. Persoalan-persoalan yang ada juga sulit diungkapkan karena beberapa berpendapat bahwa hal-hal tersebut tidak diungkapkan secara terbuka, cukup didiskusikan secara informal saja.

Saluran komunikasi sebagaimana terlihat pada Tabel 4 terlihat masih kurang dalam hal penggunaan media cetak karena biasanya dengan pihak eksternal adalah menggunakan surat atau laporan jika ada kerjasama antar organisasi. Sedangkan media elektronik yang digunakan cukup banyak yaitu telepon, fax, email dan fasilitas internet tapi sangat jarang digunakan dalam rangka penyelesaian pekerjaan di Pusdiklat Kominfo.

Motivasi Kerja Pegawai Pusdiklat Kominfo

Motivasi menyangkut alasan-alasan mengapa orang mencurahkan tenaga untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Dalam konteks organisasi motivasi merupakan sesuatu yang menyebabkan seseorang berpikir dan bertindak melalui daya tarik yang berupa pemenuhan kebutuhan seseorang dan perilaku untuk bekerja demi mencapai tujuan organisasional. Gambaran tentang motivasi kerja pegawai Pusdiklat Kominfo dapat dilihat pada Tabel 5.

Motivasi kinerja organisasi didefinisikan sebagai sejumlah kekuatan yang ada pada diri pegawai yang mendorong mereka untuk bekerja. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan atau keinginan yang mendorong pegawai untuk giat bekerja. Tabel 5 menunjukkan bahwa pernyataan pegawai terhadap kebutuhan fisiologis responden cukup baik dengan sebanyak 47,0 persen menjawab setuju bahwa motivasi kebutuhan fisiologis terpenuhi dalam menjalankan tugas-tugasnya di Pusdiklat Kominfo. Tampaknya pegawai membutuhkan motivasi dalam hal ingin memperoleh insentif tambahan, sehingga mereka melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.

Tabel 5. Motivasi Kerja Pegawai Pusdiklat Kominfo

No Motivasi Kerja X3.2

Kategori Kisaran Skor (*) Jumlah Jiwa (%) 1 Kebutuhan Fisiologis

Sangat tidak setuju 3 – 5 1 1,2

Tidak setuju 6 – 8 9 10,6 Ragu-ragu 9 – 11 30 35,3 Setuju 12 – 14 40 47,0 Sangat setuju 15 5 5,9 Total 85 100,0 2 Kebutuhan Rasa aman

Sangat tidak setuju 4 – 7 1 1,2

Tidak setuju 8 – 11 23 27,0 Ragu-ragu 12 – 45 34 40,0 Setuju 16 – 19 25 29,4 Sangat setuju 20 2 2,4 Total 85 100,0 3 Kebutuhan sosial

Sangat tidak setuju 6 - 10 0 0,0

Tidak setuju 11 – 15 0 0,0 Ragu-ragu 16 – 20 4 4,7 Setuju 21 – 25 59 69,4 Sangat setuju 26 – 30 22 25,8 Total 85 100,0 4 Kebutuhan harga diri

Sangat tidak setuju 5 – 9 0 0,0

Tidak setuju 10 -14 2 2,4 Ragu-ragu 15 -19 39 45,8 Setuju 20 -24 41 48,2 Sangat setuju 25 3 3,5 Total 85 100,0 5 Kebutuhan aktualisasi diri

Sangat tidak setuju 8 – 14 0 0,0

Tidak setuju 15 – 21 0 0,0 Ragu-ragu 22 – 28 13 15,3 Setuju 29 – 35 59 69,4 Sangat setuju 36 - 40 13 15,3 Total 85 100,0 6 Motif

Sangat tidak setuju 8 – 14 0 0,0

Tidak setuju 15 – 21 1 1,2 Ragu-ragu 22 – 28 42 49,4 Setuju 29 – 35 40 47,0 Sangat setuju 36 - 40 2 2,4 Total 85 100,0 7 Harapan

Sangat tidak setuju 8 – 14 0 0,0

Tidak setuju 15 – 21 2 2,4 Ragu-ragu 22 – 28 32 37,6 Setuju 29 – 35 48 56,4 Sangat setuju 36 - 40 3 3,6 Total 85 100,0 8 Insentif

Sangat tidak setuju 6 - 10 1 1,2

Tidak setuju 11 – 15 1 1,2

Ragu-ragu 16 – 20 42 49,4

Setuju 21 – 25 37 43,5

Sangat setuju 26 – 30 4 4,7

Total 85 100,0

Keterangan * = Skor sudah disetarakan

Dalam melaksanakan tugasnya pegawai membutuhkan rasa aman dan jaminan terhadap apa yang telah dilakukannya, namun masih menjawab ragu-ragu sebanyak 40 persen karena pegawai ternyata belum merasa cukup dengan yang

sudah diperoleh dari hasil pekerjaannya. Pengawasan yang terlalu ketat dan menimbulkan ketakutan dalam diri pegawai tampaknya menurunkan semangat pegawai apabila hal ini terus berlanjut diterapkan pada jajaran atasan di Pusdiklat Kominfo.

Kebutuhan sosial yaitu keinginan untuk diterima dalam kelompok, keinginan untuk berpartisipasi, keinginan untuk dapat dianggap penting serta hubungan interpersonal yang baik. Pegawai umumnya merasa membutuhkan pengakuan sosial dari lingkungannya, hubungan baik dengan atasan dan rekan

Dokumen terkait