• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asmarantaka RW. 2009. Pemasaran Produk-Produk Pertanian dalam Bunga Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. Editor Nunung Kusnadi dkk. Bogor: IPB.

[BPS Kabupaten Humbang Hasundutan] Badan Pusat Statistik Kabupaten Humbang Hasundutan. 2011. Humbang Hasundutan dalam Angka 2010. Dolok sanggul: BPS Kab. Humbang Hasundutan.

[BPS Provinsi Sumatera Utara] Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. 2011. Sumatera Utara dalam Angka 2010. Medan: BPS Provinsi Sumut. Dahl DC dan I Hammond. 1977. Market and Price Analysis The Agricultural

Industry. United State: Mc. Graw-Hill, Inc.

Dede. 1998. Kajian Pengelolaan Hutan Rakyat Kemenyan dan Peranannya Terhadap Pendapatan Rumah Tangga di Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara (Studi Kasus di Desa Sosor Tambok) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

[FAO] Food and Agriculture Organization. 2001. Monograph on benzoin (Balsamic resin from Styrax spesies). Bangkok: FAO.

Jayusman, R. Pasaribu, dan W. Sipayung. 1999. Budidaya Kemenyan (Styrax spp) Pedoman Teknis. Buletin Konifera Vol.2 No. 1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan. Balai Penelitian Kehutanan Pematang Siantar.

Ketaren S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Balai Pustaka. Kuswandi. 2005. Meningkatkan Laba Perusahaan Melalui Pendekatan Akuntansi

Keuangan dan Akuntansi Biaya. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Leonard S. 2008. Analisis Biaya Usaha Madu Odeng di Desa Bantar Jaya,

Kabupaten Bogor, Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Limbong WM dan P Sitorus. 1987. Pengantar Tataniaga Pertanian. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Michon G. 2005. Domesticating Forests: How farmers Manage Forest Resources. Indonesia : Center for International Forestry Research The World Agroforestry Centre.

Nugroho B. 2002. Analisis Biaya Proyek Kehutanan. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB.

Nurbayuto T. 2011. Analisis Usahatani dan Tataniaga Caisin (brasica rapa cv) (Studi Kasus Gabungan Kelompok Tani Bunga Wortel di Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor) [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

40

Panggaribuan, E. 2004. Variasi Tingkat Semai pada Uji Keturunan Kemenyan Durame (Styrax benzion Dryand) [skripsi]. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Rajagukguk K. 2009. Analisis Faktor Penyebab Penurunan Intensitas Pengelolaan Hutan Kemenyan [skripsi]. Medan: Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Sasmuko SA. 1995. Sifat Fisis dan Kimia Getah Kemenyan. Buletin Penelitian Kehutanan. Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli Pematang Siantar. Volume 11 Nomor 2.

Sasmuko SA. 2003. Potensi Pengembangan Kemenyan Sebagai Komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu Spesifik Andalan Propinsi Sumatera Utara. Makalah Seminar Nasional Himpunan Alumni – IPB dan HAPKA Fakultas Kehutanan IPB. Wilayah Regional Sumatera. Medan.

Sinaga ELY. 2009. Kajian Pengambilan Keputusan Dalam Pengelolaan Hutan Kemenyan (Styrax spp) di Desa Sibaganding [skripsi]. Medan: Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Soekartawi, Soeharjo A. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Perkembangan Petani Kecil. Dillon JL, Hardaker JB, penerjemah; Jakarta: UI Press. Terjemahan dari: Farm Management Research for Small Development.

Sitompul M. 2011. Kajian Pengelolaan Hutan Kemenyan (Styrax sp.) di Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Tarigan JB dan Ginting M. 2005. Pemisahan Sinamil Alkohol dari Kemenyan Sumatera (Styrax Benzoin) dengan Metode Campuran Dua Pelarut (N-Heksana: Isopropil Alkohol) pada Temperatur ± 60 °C. Jurnal Komunikasi Penelitian Vol. 17 (5). Medan: Fakultas MIPA USU Medan.

Widiyastuti Yuli, Djumidi, Sutjipto, dan J. Ria Hutapea. 1995. Beberapa aspek etnobotani kemenyan (Styrax benzoin Dryand) di Tapanuli Utara dalam Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani II. Yogyakarta: IPI. Yuniandra F. 1998. Pengolahan Hutan Rakyat Kemenyan (Styrax sp) dan

Pemasaran Getahnya di Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Zuska F. 2005. Kebun Argoforestry Kemenyan di Tapanuli Utara: Upaya Rakyat Memanfaatkan Sumber Daya Alam Hutan Secara Alami. Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI Edisi 01. Medan: Antropologi FISIP USUS.

42

Lampiran 2 Produksi kemeyan di Kabupaten Humbang Hasundutan

Tahun Luas (ha) Produksi (ton) Peningkatan (%)1) 2011 3947,00 867,83 0,13 2010 4006,50 866,73 -4,71 2009 4081,00 909,55 -30,31 2008 4221.00 1305,13 13,45 2007 3829,50 1150,38

Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Humbang Hasundutan (2011)

1)

44

Lampiran 3 Rugi laba produksi kemenyan dari 1 petani desa sampean

Komponen Satuan Saluran

utama

Saluran lain

Luas areal ha 5 5

Produksi kemenyan kg/tahun 201,60 201,60 Kemenyan tahir kg/tahun 67,20 67,20 Kemenyan super kg/tahun 134,40 134,40 Harga jual

Kemenyan tahir Rp Ribu/kg 50,00 54,00 Kemenyan super Rp Ribu/kg 90,00 97,00

Pendapatan Rp Juta/tahun 15,46 16,67

Kemenyan tahir Rp Juta/tahun 3,36 3,63 Kemenyan super Rp Juta/tahun 12,10 13,04

Biaya Rp Juta/tahun 4,99 5,99

Biaya produksi Rp Ribu/kg 24,76 24,76

Biaya tataniaga Rp Ribu/kg 5,00

45

Lampiran 4 Margin tataniaga, farmer's share dan rasio keuntungan biaya tataniaga kemenyan tahir

No Lembaga Tataniaga

Saluran utama Saluran lain

Kemenyan tahir Kemenyan super Kemenyan tahir Kemenyan super Ruiah/ kilogram Persentase (persen) Ruiah/ kilogram Persentase (persen) Ruiah/ kilogram Persentase (persen) Ruiah/ kilogram Persentase (persen) 1 Petani Harga jual 50000 55,56 90000 64,26 56000 62,22 97000 69,26 Biaya 5000 5,56 5000 3,57 2 Pengumpul Desa Harga beli 50000 55,56 90000 64,26 Harga jual 54000 60,00 95000 67,83 Biaya 2000 2,22 2000 1,43 Keuntungan 2000 2,22 3000 2,14 Margin 4000 4,44 5000 3,57 3 Pengumpul Kecamatan /Kabupaten Harga beli 54000 60,00 95000 67,83 56000 62,22 97000 69,26 Harga jual 70000 77,78 115000 82,11 70000 77,78 115000 82,11 Biaya 5000 5,56 5000 3,57 2500 2,78 2500 1,79 Keuntungan 11000 12,22 15000 10,71 11500 12,78 15500 11,07 Margin 16000 17,78 20000 14,28 14000 15,56 18000 12,85 4 Pengolah Harga beli 70000 77,78 115000 82,11 70000 77,78 115000 82,11 Harga jual 90000 100,00 140050 100,00 90000 100,00 140050 100,00 Biaya 10000 11,11 10000 7,14 10000 11,11 10000 7,14 Keuntungan 10000 11,11 15050 10,75 10000 11,11 15050 10,75 Margin 20000 22,22 25050 17,89 20000 22,22 25050 17,89

Total Biaya Tataniaga 17000 18,89 17000 12,14 17500 19,44 17500 12,50 Total Keuntungan 23000 25,56 33050 23,60 21500 23,89 30550 21,81 Total Marjin Tataniaga 40000 44,44 50050 35,74 34000 37,78 43050 30,74

46

Lampiran 5 Saluran utama (main line) rantai pemasaran kemenyan desa sampean tahun 2012

Petani Kemenyan 1. Harga jual - super= Rp. 90000/kg - tahir = Rp. 50000/kg 2. Biaya produksi = Rp. 24758,42/kg Pengumpul Tingkat Kecamatan/Kabupaten 1. Harga jual - super = Rp. 115000/kg - tahir = Rp. 70000/kg 2. Biaya tataniaga (penyusutan produk, transportasi, komunikasi) = Rp. 5000/kg 3. Keuntungan - super = Rp. 15000/kg - tahir = Rp. 11000/kg 4. Marjin - super = Rp. 20000/kg - tahir =Rp.16000/kg Pengumpul Tingkat Desa

1. Harga jual - super = Rp. 95000/kg - tahir = Rp. 54000/kg 2. Biaya tataniaga (penyusutan produk, transportasi, komunikasi) = Rp. 2000/kg 3. Keuntungan - super = Rp. 3000/kg - tahir = Rp. 2000/kg 4. Marjin - super = Rp. 5000/kg - tahir = Rp. 4000/kg Pengolah 1. Harga jual a. super - Kasar (>70%) = Rp. 150000/kg - Kacangan (15-17%) = Rp. 135000/kg - Jagungan (2-5%) = Rp. 120000/kg - Berasan (2-5%) = Rp. 85000/kg - Pasiran (<2%) = Rp. 70000/kg - Tepung (<1%) = Rp. 45000/kg b. tahir = Rp. 90000/kg

2. Biaya tataniaga (muat-bongkar, sortasi, penyusutan produk, transportasi dan retribusi, komunikasi) = Rp. 10000/kg 3. Keuntungan a. super = Rp. 15000/kg b. tahir = Rp. 10000/kg 4. Marjin - super = Rp. 25000/kg - tahir = Rp. 20000/kg Eksportir

47

Lampiran 6 Saluran lain (secondary line) rantai pemasaran kemenyan desa sampean tahun 2012

Petani Kemenyan 1. Harga jual - super= Rp. 97000/kg - tahir = Rp. 56000/kg 2. Biaya produksi = Rp. 24758,42/kg 3. Biaya Tataniaga (penyusutan produk, transportasi) = Rp. 5000/kg Pengumpul Tingkat Kecamatan/Kabupaten 1. Harga jual - super = Rp. 115000/kg - tahir = Rp. 70000/kg

2. Biaya tataniaga (penyusutan produk, transportasi, komunikasi) = Rp. 2500/kg 3. Keuntungan - super = Rp. 15500/kg - tahir = Rp. 11500/kg 4. Marjin - super = Rp. 18000/kg - tahir = Rp. 14000/kg Pengolah 1. Harga jual a. super - Kasar (>70%) = Rp. 150000/kg - Kacangan (15-17%) = Rp. 135000/kg - Jagungan (2-5%) = Rp. 120000/kg - Berasan (2-5%) = Rp. 85000/kg - Pasiran (<2%) = Rp. 70000/kg - Tepung (<1%) = Rp. 45000/kg b. tahir = Rp. 90000/kg

2. Biaya tataniaga (muat-bongkar, sortasi, penyusutan produk, transportasi dan retribusi, komunikasi) = Rp. 10000/kg 3. Keuntungan a. super = Rp. 15000/kg b. tahir = Rp. 10000/kg 4. Marjin a. super = Rp. 25000/kg b. tahir = Rp. 20000/kg Eksportir

48

Lampiran 7 Batang, pohon dan anakan kemenyan

Batang pohon kemenyan Pohon kemenyan

Lanjutan

Gambar 1 Pohon dan anakan kemenyan.

Lampiran 8 Penyadapan, pengambilan getah dan peralatan pemanenan kemenyan

Pengambilan getah kemenyan Peralatan pemanenan getah kemenyan

50

Lampiran 9 Kemenyan di pengumpul desa, pasar dan pengolah

Kemenyan di pengumpul desa Kemenyan di pasar

ii

ABSTRACT

EXAS DANIEL LUMBAN GAOL. Profitability Analysis and Market Chain of Benzoin in Sampean Village, Humbang Hasundutan District, North Sumatera. Under direction of BINTANG C.H. SIMANGUNSONG.

The benzoin forest in Indonesia were traditionally managed to produce benzoin resin, one of non-timber forest products. Lack of farmer’s access to the market and a fluctuated benzoin resin prices were major disincentives in the benzoin forest management. This study was conducted at Sampean village, Humbang Hasundutan district, one of major benzoin forest location in North Sumatera, and tried to determine a production cost of benzoin resin, calculate a farmer’s profit, analyze farmer’s share and describe benzoin resin market chain.

The results showed there are about 60 families with total benzoin forest area of 350 ha at Sampean village. Of which, 15 families were then interviewed and observed. An average benzoin forest area managed by each family was about 5 ha with benzoin resin production of 201.6 kg per year (super benzoin of 134.4 kg and tahir benzoin of 67.2 kg). The production cost to produce those benzoin resin were estimated about Rp4.99 million/year. With benzoin resin prices of super of Rp90 thousand/kg and of tahir of Rp50 thousand/kg, each farmer would generate a revenue of Rp15.46 million per year, or a profit of Rp10.47 million per year.

If farmers take into account their labor spent in this activity as part of their production cost, then total production cost increase to Rp13.99 million per year. Hence, farmer’s profit was drastically decline to Rp1.47 million/year, which was much lower compare with profit/income generated from other sectors, such as agriculture (rice plant) and crops (coffee estates).

The results also showed there were 2 kinds of benzoin resin market chains, a main line (farmers – local collectors – district collectors – processors – exporters) and a secondary line (farmers – district collectors – processors – exporters). The most efficient of market chain and the highest farmer’s share was found at a secondary line. They were Rp43 thousand/kg and 69.29% for super benzoin, respectively; and Rp34 thousand/kg and 62.22% for tahir benzoin, respectively.

Keywords: benzoin forest, benzoin resin, production cost, farmer’s share, market chain, non-timber forest products.

iii EXAS DANIEL LUMBAN GAOL. Analisis Profitabilitas dan Tataniaga Kemenyan di Desa Sampean, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Dibimbing oleh BINTANG C.H. SIMANGUNSONG.

Hutan kemenyan di Indonesia dikelolah secara tradisional untuk menghasilkan kemenyan, salah satu hasil hutan bukan kayu. Kurangnya akses petani ke pasar dan berfluktuasinya harga kemenyan merupakan penyebab utama hutan kemenyan tidak dikelolah secara intensif. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sampean Kabupaten Humbang Hasundutan, salah satu lokasi hutan kemenyan utama di Sumatera Utara dengan tujuan untuk menghitung biaya produksi, menghitung keuntungan petani, menganalisis farmer’s share dan menggambarkan tataniaga kemenyan.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat 60 kk yang mengelola hutan kemenyan seluas 350 ha di Desa Sampean. Lima belas keluarga di antaranya kemudian diwawancarai dan diamati dalam penelitian ini. Rata-rata luas hutan kemenyan yang dikelolah oleh setiap keluarga adalah 5 ha dengan produksi kemenyan setiap tahun sebesar 201.6 kg (kemenyan super sebesar 134.4 kg dan kemenyan tahir sebesar 67.2 kg). Biaya produksi untuk menghasilkan kemenyan tersebut diperkirakan sebesar Rp4.99 juta/tahun. Setiap petani akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp15.46 juta/tahun atau keuntungan sebesar Rp10.47 juta/tahun dengan harga kemenyan super Rp90 ribu/kg dan kemenyan tahir Rp50 ribu/kg.

Jika petani memperhitungkan tenaga yang dicurahkannya di dalam pemanenan kemenyan sebagai komponen dari biaya produksi maka biaya produksi total meningkat menjadi Rp13.99 juta/tahun. Hal ini menyebabkan keuntungan petani menurun secara drastis ke Rp1.47 juta/tahun yang mana keuntungan ini jauh lebih rendah dibandingkan keuntungan yang akan diperoleh petani tersebut jika bekerja di sektor lain, seperti sektor pertanian (tanaman padi) dan sektor perkebunan (perkebunan kopi).

Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat 2 macam saluran tataniaga kemenyan, saluran utama (petani – pengumpul desa – pengumpul kecamatan/ kabupaten – pengolah – eksportir) dan saluran lain (petani – pengumpul kecamatan/kabupaten – pengolah – eksportir). Saluran tataniaga yang paling efisien dan farmer’s share paling tinggi ditemukan pada saluran lain. Nilainya secara berturut-turut Rp43 ribu/kg dan 69.29% untuk kemenyan super; dan berturut-turut Rp34 ribu/kg dan 62.22% untuk kemenyan tahir.

Kata kunci: hutan kemenyan, getah kemenyan, biaya produksi, farmer’s share, tataniaga, hasil hutan bukan kayu.

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Permasalahan pemanfaatan hasil hutan yang tidak lestari mengakibatkan semakin terbatasnya sumber daya hutan yang dapat dimanfaatkan demi memenuhi kebutuhan hidup manusia. Isu lingkungan global, seperti global climate change dan meningkatnya kerusakan hutan telah mendorong kompetisi penggunaan hasil hutan sebagai bahan berbagai produk agar lebih dimanfaatkan hasilnya secara efisien dan bertanggung jawab. Indonesia sebagai negara yang dijuluki mega biodiversity country justru mengalami kesulitan dalam mengelola sumber daya yang ada. Salah satu hasil hutan yang sampai saat ini pengelolaannya masih sangat lamban berkembang ialah kemenyan asal Kabupaten Humbang Hasundutan. Nama perdagangan internasional kemenyan adalah gum benjamin, tetapi kemenyan lebih dikenal dengan sebutan haminjon oleh masyarakat batak yang tinggal di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Pohon kemenyan tidak banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman kemenyan di Indonesia terbatas dijumpai di Kabupaten Humbang Hasundutan dengan di daerah lain. Dalam jumlah yang terbatas, kemenyan didapat di Sumatera Selatan, Thailand, Laos, Kamboja dan Vietnam, yang disebut siam benzoin. Pada tahun 2010, Tapanuli Utara memproduksi kemenyan sebanyak 3623.28 ton dan Humbang Hasundutan sebanyak 866.73 ton (BPS Provinsi Sumatera Utara 2011). Di Kabupaten Humbang Hasundutan dari 10 kecamatan yang ada 6 kecamatan di antaranya terdapat sebaran tanaman kemenyan, Dolok Sanggul merupakan kecamatan yang memiliki luas hutan kemenyan paling besar (BPS Kabupaten Humbang Hasundutan 2011).

Berdasarkan informasi laporan dan artikel terdahulu diketahui bahwa jumlah produksi kemenyan setiap tahun mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh kondisi pohon kemenyan yang sudah uzur dan produktivitasnya menurun serta adanya konflik lahan kemenyan. Menurut Sitompul (2011), pengelolaan hutan kemenyan menghadapi banyak permasalahan yang kebanyakan, di antaranya

kurangnya informasi pasar, harga getah kemenyan yang tidak stabil dan belum adanya budi daya intensif terhadap pengelolaan hutan kemenyan.

Dalam hal pemasaran, petani kurang menikmati hasil dari penjualan getah kemenyan karena menerima marjin keuntungan yang lebih rendah dibandingkan dengan para pengumpul. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat membuat petani beralih ke usaha lain. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sampean Kecamatan Dolok Sanggul karena tempat tersebut merupakan sentra pengelolaan hutan kemenyan di Kabupaten Humbang Hasundutan.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan penelitian adalah:

1. Menghitung biaya produksi dan tingkat keuntungan usaha kemenyan di tingkat petani.

2. Mengidentifikasi lembaga dan saluran yang ada pada tataniaga kemenyan.

3. Menganalisis efisiensi tataniaga kemenyan pada setiap saluran.

1.3 Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi Pemerintah Kabupaten dan semua pihak yang terkait dalam mengembangkan kemenyan.

3

BAB II

Dokumen terkait