• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENATALAKSANAAN UMUM 12 3.1 Identitas Pasien

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Hasil pemeriksaan fisik ... 13 Tabel 3.2 Hasil Pemeriksaan Patologi Klinik ... 14 Tabel 3.3 Pemeriksaan Patologi Klinik ... 15 Tabel 3.4 Daftar Obat-Obatan yang Digunakan Pasien ... 16 Tabel 4.1 Daftar Obat-Obat yang Digunakan Tanggal 14 April

2015 ... 19

Tabel 4.2 Pengkajian Tepat Dosis pada tanggal 14 April 2015 ... 21

Tabel 4.3 Pengkajian Efek Samping dan interaksi obat pada tanggal 14 April 2014 ... 22

Tabel 4.4 Daftar Obat-Obat yang Digunakan Tanggal 15dan 16 April 2014 ... 23

Tabel 4.5 Pengkajian Tepat Dosis pada tanggal 15 April 2015 dan 16 April 2015 ... 27

Tabel.4.6 Pengkajian Efek Samping dan interaksi Obat pada tanggal 15 dan 16 April 2015 ... 28

Tabel 4.7 Daftar Obat-obat yang Digunakan Tanggal 17 April 2015 30

Tabel 4.8 Pengkajian Tepat Dosi pada tanggal 17 April 2015 ... 33

Tabel 4.9 Pengkajian Efek Samping dan Interaksi obat pada tanggal 17 April 2015 ... 34

Tabel 4.10 Daftar Obat-obat yang digunakan Tanggal 18 April 2015 dan19 April 2015 ... 36

82

Tabel 4.11 Pengkajian Tepat Dosis pada Tanggal 18 April 2015 dan 19 April 2015 ... 39 Tabel 4.12 Pengkajian Efek Samping dan interaksi obat pada

Tanggal 18 April 2015 dan 19 April 2015 ... 40 Tabel 4.13 Daftar Obat-obat yang Digunakan Tanggal 20 April

2015 ... 41 Tabel 4.14 Pengkajian tepat Dosis pada Tanggal 20 April

2015 ... 44 Tabel 4.15 Pengkajian Efek Samping dan Interaksi obat pada tanggal

83

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan (Siregar dan Amalia, 2004). Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit

(kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara

menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Konsep kesatuan upaya kesehatan ini menjadi pedoman dan pegangan bagi semua fasilitas kesehatan di Indonesia termasuk rumah sakit. Rumah sakit merupakan salah satu dari sarana kesehatan, merupakan rujukan pelayanan kesehatan dengan fungsi utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi pasien (Depkes RI, 2004).

Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinikyang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat (Depkes RI, 2004).

Tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu pelayanan farmasi, mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari paradigma lama drug oriented

84

(berorientasi produk) dengan filosofi pharmaceuticalcare (pelayanan kefarmasian). Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan (Depkes RI, 2004).

Pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat kesehatan adalah pendekatan profesional yang bertanggung jawab dalam menjamin penggunaan obat dan alat kesehatan sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau oleh pasien melalui penerapan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan perilaku apoteker serta bekerja sama dengan pasien dan profesi kesehatan lainnya. Kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah sakit meliputi pengkajian resep, dispensing, pemantauan dan pelaporan efek samping obat, pelayanan informasi obat, konseling, pemantauan kadar obat dalam darah, ronde/visite pasien dan pengkajian penggunaan obat (Depkes RI, 2004).

Visite pasien merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap bersama tim dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuannya adalah menilai rasionalitas obat dengan cara pemilihan obat, menerapkan secara langsung pengetahuan farmakologi terapetik, menilai kemajuan pasien dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain. Pengkajian penggunaan obat merupakan program evaluasi penggunaan obat yang terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin obat- obat yang digunakan sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau oleh pasien. Adapun hal-hal yang menyebabkan ketidakrasionalan obat yaitu peresepan yang boros (extravagant), peresepan berlebihan (over prescribing), peresepan yang kurang (under prescribing), peresepan majemuk (multiple prescribing) dan peresepan yang salah (incorrect prescribing).

85

Peresepan yang tidak rasional berkembang menjadi Drug Related Problem yaitu untreated indication(pasien memerlukan obat tetapi indikasinya kurang tepat), drug therapy used when not indicated (pasien memerlukan terapi obat tetapi mendapat obat yang indikasi tidak ada), improper drug selection (pasien memerlukan terapi obat tetapi mendapat obat yang salah), subtherapeutic

dose(pasien memerlukan terapi obat tetapi dosis obat kurang), failure to receive drug (pasien tidak menggunakan obat karena alasan kepatuhan, ekonomi dan

avaibilitas), overdose or toxic dose(pasien memerlukan terapi obat tetapi mendapat dosis yang berlebihan sehingga takut terjadi keracunan), adverse drug

reaction(pasien mendapat terapi obat tetapi mengalami efek samping obat/alergi)

dan interaction(pasien mendapat obat tetapi kemungkinan ada interaksi obat-obat, obat-hasil tes laboratorium, obat-makanan, obat-obat tradisional).

Masalah-masalah tersebut mengharuskan apoteker melakukan pengkajian penggunaan obat secara rasional sehingga meningkatkan kerasionalan penggunaan obat yang memenuhi persyaratan tepat pasien, tepat obat, tepat indikasi, tepat dosis dan waspada efek samping, dikenal dengan sebutan 4T + 1W.

Dalam rangka menerapkan pelayanan kefarmasian di rumah sakit dan meningkatkan penggunaan obat yang rasional untuk mengatasi Drug Related

Problem maka mahasiswa apoteker perlu diberi perbekalan dan pengalaman

dalam bentuk Praktek Kerja Profesi (PKP) di rumah sakit. PKP di rumah sakit merupakan salah satu praktek pelayanan kefarmasian yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan pasien. Pelayanan kefarmasian difokuskan pada visite pasien dan pengkajian penggunaan obat. Oleh sebab itu, diperlukan peran

86

apoteker untuk memberikan pemahaman kepada pasien dan keluarganya dalam rangka meningkatkan kepatuhan pasien untuk mematuhi pengobatan demi tercapainya tujuan pengobatan berupa kesembuhan yang sempurna dan juga untuk berdiskusi dengan tenaga kesehatan lain dalam hal pemilihan obat untuk memaksimalkan pengobatan pada pasien.

1.2Tujuan

Tujuan dilakukan studi kasus ini adalah:

a. Memantau rasionalitas penggunaan obat pada pasien dengan diagnosa Hernia

Inguinal Lateral Stragulata.

b. Memberi Pelayanan Informasi Obat (PIO) kepada pasien dan keluarga pasien

c. Memberikan masukan dan pertimbangan kepada tenaga kesehatan lain di Rumah Sakit dalam rangka peningkatan rasionalitas penggunaan obat kepada pasien.

87

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dokumen terkait