• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA KEHUTANAN

LIAR) YANG DILAKUKAN OLEH ADELIN LIS (DIREKSI KEUANGAN PT.KEANG NAM DEVELOPMENT)

A. POSISI KASUS

2. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

Dalam menyusun sebuah dakwaan diperlukan ketelitian dan ketepatan olaeh karena surat dakwaan yang merupakan dasar dalam menentukan batas-batas pemeriksaan hakim70.Oleh karena itu untuk menentukan sahnya suatu surat dakwaan haruslah memenuhi syarat formil dan syarat matril. Syarat formil adalah dimana dalam surat dakwaan harus disebut nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan tersangka. Sedangkan syarat matril adalah diman dalam surat dakwaan harus berisi uraian secara cermat, jelas dan lengkap mngenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tindak pidana itu dilakukan.71

70

Ansori Sabuan,dkk,Hukum Acara Pidana,Angkasa, Bandung:1990, hal. 121 71

Jaksa Penuntut Umum dalam menyusun dakwaan terhadap kasus PT.KNDI ini sendiri telah memenuhi syarat-syarat matril dan formil. Adapun dakwaan yang diajukan oleh JPU dalam menjerat PT.KNDI adalah dengan menggunakan dakwaan komulatif berlapis atau lebih dikenal dengan dakwaan campuran/gabungan. Pada asasnya bentuk dakwaan campuran/gabungan ini merupakan bentuk dakwaan kumulatif, yang masing-masing dapat berdiri/terdiri pula dari dakwaan subsidairitas atau alternatif atau dapat pula antara bentuk subsidaritas dengan kumulatif. Pembuktian masing-masing lapisan tersebut disesuaikan dengan bentuk lapisannya, yaitu bila lapisannya bersifat subsidairitas, pembuktiannya harus dilakukan secara berurutan mulai lapisan yang teratas sampai lapisan yang dinggap terbukti. Akan tetapi bila lapisannya terdiri dari sifat alternatif, pembuktiannya dapat langsung dilakukan terhadap dakwaan yang paling dinggap terbukti.72

1. Bentuk dakwaan komulatif memberikan kewajiban pada JPU untuk membuktikan semua dakwaan, baik Dakwaan KESATU dan Dakwaan KEDUA. Pada prinsipnya, dalam sebuah dakwaan komulatif, terdapat beberapa aturan pidana yang didakwakan dan semuanya harus dibuktikan. Secara umum bentuk dakwaan ini hampir sama

Oleh karena dalam penyusunan dakwaan PT.KNDI ini menggunakan lapisan yang bersifat subsidairitas maka bentuk dakwaannya yaitu dalam bentuk Dakwaan Kesatu-Primair; Kesatu-Subsidair dan Kedua-Primair; Kedua-Subsidair,dan Lebih susider lagi.

Terdapat beberapa poin kritis dalam pengajuan dakwaan seperti diatas.

72

Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana Normatif, Teoritis,Praktik dan Permasalahannya, Alumni Bandung:2007, hal. 124

dengan dakwaan subsider dan dakwaan alternatif. Perbedaan mendasar terletak pada kewajiban membuktikan semua pidana yang didakwakan. 73

2. Bentuk dakwaan seperti ini sangat berhubungan dengan terminologi concursus seperti diatur pada Pasal 63 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Dengan kata lain dakwaan digunakan jika terjadi komulasi, dalam artian baik itu Komulasi Perbuatan ataupun Komulasi Pelaku.74

b. Sistem pemidanaan adalah sistem absorbsi, yakni hanya menjatuhkan satu hukuman pidana, yakni Pidana terberat, sesuai dengan Pasal 63 ayat (1) KUHPidana.

terdapat beberapa karakteristik terkait bentuk Dakwaan Komulatif dalam Concursus ini yaitu: a. Ada satu perbuatan yang melanggar beberapa ketentuan pidana.

c. Dibutuhkan kecermatan dalam menentukan apakah concursus tersebut benar-benar merupakan concursus idealis. Persyaratan terpenting adalah, harus diyakinkan, bahwa secara nyata hanya ada satu perbuatan, namun secara ideal terjadi pelanggaran beberapa aturan pidana. 75

Perbuatan terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 UU R.I Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan

a. Kesatu Primair 73 www.google.com 74

Harun M. Husein, Surat Dakwaan; Teknik Penyusunan, Fungsi dan Permasalahan, Rineka Cipta, Jakarta: 2005. Hal. 80

75

UU R.I Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU R.I Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke - 1 KUHP Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Subsidair

Perbuatan terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Jo. Pasal 18 UU R.I No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU R.I No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU R.I No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke - 1 KUHP Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

b. Kedua

Primair

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 50 ayat (2) Jo. Pasal 78 ayat (1), ayat (14) UU Nomor : 41 Tahun 1999 Jo. UU Nomor : 19 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU Nomor : 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Subsidair

Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dengan Pasal 50 ayat (3) huruf h Jo. Pasal 78 ayat (7), ayat (14) UU Nomor : 41 Tahun 1999 Jo. UU Nomor : 19 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU Nomor : 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Jo. Pasal 42 PP No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 50 ayat (3) huruf f Jo. Pasal 78 ayat (5), ayat (14) UU Nomor : 41 Tahun 1999 Jo. UU Nomor : 19 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU Nomor : 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

3. Tuntutan

1. Menyatakan Terdakwa ADELIN LIS bersalah melakukan tindak pidana “Korupsi” secara bersama-sama dan berlanjut sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU R.I. No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU R.I. No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU R.I. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana danbersalah melakukan tindak pidana “Kehutanan” secara bersama-sama dan berlanjut sebagaimana diatur dalam Pasal 50 ayat (2) jo Pasal 78 ayat (1), ayat (14) UU Nomor 41 Tahun 1999 jo UU Nomor 19 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana sebagaimana dalam Dakwaan Kesatu Primair dan Kedua Primair;

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa ADELIN LIS dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) tahun dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan sementara dengan perintah Terdakwa tetap ditahan dan denda Rp.1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) subsidair 6 (enam) bulan kurungan dan membayar uang pengganti secara tanggung renteng dengan Ir. OSCAR SIPAYUNG dan Ir. WASHINGTON PANE, Msc, Ir. BUDI ISMOYO dan Ir. SUCIPTO LUMBAN TOBING sebesar Rp.119.802.393.040,00 (seratus sembilan belas milyar delapan ratus dua juta tiga

ratus sembilan puluh tiga ribu empat puluh rupiah) dan US$ 2.938.556,24 (dua juta sembilan ratus tiga puluh delapan ribu lima ratus lima puluh enam koma dua puluh empat US dollar) dengan ketentuan apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan, setelah memperoleh kekuatan hukum tetap Terdakwa tidak dapat melunasi uang pengganti tersebut maka hartanya disita dan apabila hartanya tidak cukup maka diganti dengan hukuman penjara selama 5 (lima) tahun ;

3. Ke 16 (keenam belas) barang bukti yang berupa surat-surat dan alat-alat lainnya yang disertakan JPU untuk menguatkan dakwaannya dalam perkara ini juga digunakan dalam berkas perkara Ir. Budi Ismoyo.

4. Membebankan biaya perkara kepada negara