• Tidak ada hasil yang ditemukan

UANG DALAM EKONOMI ISLAM

1.Sejarah Uang Dalam Islam

1.2. Masa Pra Islam

Pada masa sebelum datangnya islam, mata uang yang digunakan sebuah alat pembayaran dalam transaksi perdagangan adalah Dinar (Uang Emas) dan dirham (uang perak). Uang Dinar Emas dan Dirham Perak dikenal sejak zaman Romawi dan Persia, kedua negara tersebut merupakan dua negara adidaya yang cukup besar pada masa itu.

Dinar (emas) dalam sejarah dunia pertama kali diperkenalkan melalui Romawi kuno pada tahun 211 SM. Menurut hukum islam, uang dinar dipergunakan setara 4,25 gram emas 22 karat dengan diameter 23 milimeter sedangkan Dirham 2,975 gram perak murni. Karena dinar adalah mata uang yang dipergunakan sebagai alat tukar pembayaran transaksi ekonomi pada masa itu dan juga nilainya stabil yang disebabkan adanya kadar emas dalam mata uang tersebut.

1.3. Masa Rasulullah dan Sahabat

Pada masa Rasulullah SAW dan sahabat mereka membuat suatu kebijakan terhadap perekonomian. Dalam hal transaksi mereka menetapkan alat pembayaran yang digunakan kaum muslimin pada saat itu berupa dinar dan dirham dan juga dijadikan sebagai standar ukuran hukum syar‘i.

Kemudian pada tahun 20 H, Khalifah Umar r.a memerintahkan unntuk mencetak uang baru mengikuti gaya dirham Persia dengan sedikit modifikasi. Dimana ditambah lafadz yang ditulis dengan huruf Arab gaya Kufi, seperti lafadz Bismillah dan Bismillahi Rabbi.

Pada masa Khalifah Ali r.a mata uang islam memiliki ciri khusus baru, namun peredarannya terbatas karena kondisi politik ketika itu yang kacau dimana khalifah lebih terfokus pada masalah politik yaitu nperang unta dan perang siffin.

1.4. Masa Kekhalifahan s.d Turki Usmani

Pada zaman Muawiyah, mata uang gaya persia juga dicetak dengan mencantumkan grafik dan pedang. Pada zaman ini pemerintah mengeluarkan dirham dengan mencantumkan nama khalifah.

Mata uang yang beredar saat itu belum berbentuk bulat seperti uang logam sekarang. Baru pada zaman Ibnu Zubair dicetak mata uang berbentuk bulat, dengan peredaran terbatas di Hejas. Pada tahun 72-74 H, Bishri bin Marwan mencetak mata uang yang disebut atawiyah.

Sedangkan pada zaman Abdul Malik (76 H), pemerintahan mendirikan percetakan uang antara lain di Dara‘bjarb, Suq Ahwaz, Sus, Jay, Manadar, Maysan, Ray dan Abarqubadh. Mata uang khalifah dicetak secara terorganisir dangan kontrol pemerintah.

2.Uang Emas Dalam Pandangan Syariah

Kata zahab yang berarti emas disebut dalam Quran sebanyak 8 kali. Tetapi hanya satu yang memberikan ancaman kepada orang yang mengumpulkan dan menyimpan emas, karena tidak memanfaatkannya di jalan yang benar. Ayat ini merupakan ayat umum yang memerintahkan bahwa kekayaan yang disimbolkan dalam bentuk emas dan perak harus diinfakkan sebagiannya di jalan Allah. Bisa jadi kekayaan itu juga berbentuk uang emas dan perak. Masalah emas sebagai mata uang dapat kita lihat pada sejarah Nabi SAW yang sekilas telah dijelaskan dalam sub bab sebelumnya. Pada zaman itu mata uang yang digunakan untuk bertransaksi adalah emas dan perak. Sebenarnya mata uang ini dibentuk dan dicetak oleh Kekaisaran Romawi. Dan sepanjang kehidupannya, Nabi tidak merekomendasikan perubahan apapun terhadap mata uang. Artinya Nabi dan para sahabat yang

MODUL EKONOMI ISLAM JILID 1 (EDISI REVISI) 58

menjadi khalifah sesudahnya membenarkan praktek ini. Dalam ilmu hadist hal ini disebut Hadist Af_al dan Taqrir, yaitu jenis hadist yang tidak diucapkan, tetapi dilakukan atau tidak diucapkan. Ini membuat ulama berijtihad bahwa sistem mata uang emas dan perak adalah sistem mata uang yang benar.

Syeikh Taqyuddin An-Nabhani memberikan beberapa alasan mengapa mata uang yang benar menurut Islam hanya emas:

1. Ketika Islam melarang praktek penimbunan harta, Islam hanya mengkhususkan larangan tersebut intik emas dan perak, padahal harta (mal) itu mencakup semua barang yang bisa dijadikan kekayaan.

2. Islam telah mengaitkan emas dan perak dengan hukum-hukum yang baku dan tidak berubah- ubah. Ketika Islam mewajibkan diyat tersebut dengan ukuran tertentu dalam bentuk emas. 3. Rasulullah SAW telah menetapkan emas dan perak sebagai uang, dan beliau menjadikan

hanya emas dan perak sajalah sebagai standar uang.

4. Ketika Allah SWT mewajibkan zakat uang, maka Allah telah mewajibkan zakat tersebut untuk emas dan perak, kemudian Allah menentukan nishab zakat tersebut dengan nishab emas dan perak.

5. Hukum-hukum tentang pertukaran mata uang yang terjadi dalam transaksi uang, hanya dilakukan dengan emas dan perak. Semua transaksi dalam bentuk finansial yang dinyatakan dalam Islam hanya dinyatakan dengan emas dan perak.

Alasan-alasan ini bisa dimaklumi jika melihat hadist-hadist Nabi SAW tentang transaksi yang melibatkan emas, misalnya:

 Dari Ubadah bin Shamit r.a Nabi SAW berkata: _Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya?ir dengan sya?ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, hendaklah sama banyaknya, tunai dan timbang terima. Apabila berlainan jenisnya boleh kamu jual sekehendakmu asal tunai.

 Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: (Boleh menjual) tamar dengan tamar, gandum dengan gandum, sya?ir dengan sya?ir, garam dengan garam, sama sebanding, tunai dengan tunai. Barang siapa menambah atau minta tambah maka telah berbuat riba kecuali yang berlainan warnanya. (HR. Muslim).

 Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, bersabda: (boleh menjual) emas dengan emas dengan setimbang, sebanding, dan perak dengan perak setimbang sebanding. (HR. Ahmad, Muslim Nasa?I).

 Dari Abi Bakrah r.a Nabi SAW melarang (menjual) perak dengan perak, emas dengan emas, kecuali sama. Dan Nabi menyuruh kami membeli perak dengan emas sesuka kami dan membeli emas dengan perak sesuka kami pula. (HR. Bukhari-Muslim).

Para ulama memberikan berbagai tafsir terhadap hadist-hadist diatas, namun yang disepakati diantara mereka adalah bahwa tidak boleh hukumnya tukar-menukar barang yang sama jenisnya dengan timbangan yang berbeda. Sebagian ulama mengatakan bahwa disebutkannya emas dan perak diantara barang-barang makanan dalam hadist tersebut , tidak lain adalah karena emas dan perak adalah uang. Sebab jarang terjadi orang yang membeli (menukar) perhiasan dari emas dengan beras atau kurma, kecuali untuk jaminan terhadap suatu transaksi perdagangan.

Dalam kajian fiqih, memang tidak didapati secara khusus hukum yang mengatakan bahwa mata uang harus (wajib) terbuat dari emas dan perak. Nampaknya bagi para ulama hal yang semacam itu sudah merupakan asumsi yang tidak perlu dibicarakan lagi (taken for granted). Justru yang banyak menjadi pembicaraan ulama adalah praktek di sekitar uang emas dan perak, misalnya nilai tukar antara emas dengan perak yang sering berubah-ubah, sehingga Nasir Muhammad bin Qalawun, sultan yang sezaman dengan Ibnu Taimiyyah, pernah melarang masyarakat melakukan jual beli emas. Demikian pula Imam Ghazali pernah mencela praktek dalam masyarakat sezamannya yang mencampur emas dengan benda lain sehingga emas yang dipakai untuk mata uang tidak murni lagi. Akibatnya masyarakat cenderung melepas emas yang tidak murni ke peredaran dan menyimpan

MODUL EKONOMI ISLAM JILID 1 (EDISI REVISI) 59

emas yang murni untuk dipakai sebagai perhiasan. Nampaknya atas dasar ini AlMaqrizi menyimpulkan dalam kitabnya bahwa uang (emas) yang buruk menggeser uang yang bagus dari peredaran.

Atas dasar ini kita dapat berkesimpulan, bahwa mata uang yang ada dalam sejarah Islam adalah emas dan perak. Uang kertas yang ada sekarang bukanlah produk peradaban Islam, karena itu wajar bila terjadi krisis dimana-mana. Uang kertas yang ada sekarang adalah legal tender, yaitu janji pemerintah yang menganggap bahwa itu adalah uang. Jika suatu saat hukum menyatakan ia bukan uang, maka yang tertinggal hanyalah tumpukan kertas berwarna yang tidak bernilai apa-apa. Padahal uang adalah alat tukar yang bisa menggantikan posisi barang bila suatu transaksi berhenti di tengah (uang belum sempat ditukarkan lagi dengan barang lain). Jika orang sedang memegangnya lalu datang pengumuman bahwa uang kertas berhenti sebagai alat tukar dan digantikan oleh beras, misalnya, ia hanya memiliki kertas yang tidak bernilai apa-apa. Selain itu, jika demikian itu dilakukan maka pemerintah bertanggung jawab menyediakan beras sekian banyak untuk mengganti uang tersebut.

3.Perbedaan Konsep Uang Konvensional Dan Konsep Islam

Selain tentang penggunaan dinar dirham sebagai mata uang, perbedaan penting untuk dimengerti mengenai konsep uang antara ekonomi islam dan ekonomi konvensional adalah dalam Islam sudah jelas bahwa uang bukan modal. Sebab uang adalah uang dan modal adalah modal. Tetapi dalam ekonomi konvensional tidak jelas karena mereka mempunyai pengertian yang tidak jelas atas uang. Menurut ekonom konvensional uang dapat diartikan sebagai uang dan juga dapat diartikan sebagai modal.

Perbedaan lain adalah dalam konsep islam karakteristik uang adalah flow concept dan modal adalah stock concept. Sedangkan dalam ekonomi konvensional terdapat beberapa pengertian. Misalnya dalam teori Irving Fisher MV = PT. Fisher mengidentifikasi uang sebagai flow concept. Menurutnya tidak ada hubungan antara permintaan uang untuk memegang uang dengan tingkat bunga.

Dalam kondisi yang sama, kita lihat teori Marshall Pigou M= k P dimana k adalah 1/V. Kedua dasar ekonomi konvensional itu mempunyai dua filosofi yang berbeda. Ketika fisher mengatakan bahwa uang adalah flow concept, Marshall Pegou adalah sebagai stock cocept. Oleh karenanya uang menjadi suatu alat penimbun kekayaan.

Dan juga menurut islam uang adalah barang publik sedangkan modal adalah barang pribadi. Sedangkan dalam konsep ekonomi konvensional uang juga disamakan dengan modal dalam konsep ini adalah barang pribadi.

Menurut Keynes salah seorang ahli ekonomi konvensional terdapat tiga motif dalam memegang yang yaitu untuk transaksi, untuk berjaga-jaga, dan untuk spekulasi. Selain itu menurut ekonomi konvensional fungsi uang ada 3 yaitu sebagai alat tukar-menukar. Sebagai satuan hitung dan sebagai pengukur nilai.

Dalam ekonomi islam dua motif pertama diperbolehkan sedangkan spekulasi dilarang dalam islam. Selain itu fungsi uang yang pertama dan kedua diperbolehkan, sedangkan yang ketiga dilarang.

Selain itu perbedaan lain adalah mengenai konsep time value of money yang terdapat dalam ekonomi konvensional. Konsep sebenarnya adalah meniru konsep pertumbuhan sel dalam biologi. Sehingga seharusnya konsep ini tidak relevan diterapkan dalam ekonomi. Menurut islam waktulah yang berharga sehingga muncul konsep economic value of time yang digunakan sebagai bantahan atas konsep time value of money. Filosofi dari konsep economic value of time adalah waktu hanya mempunyai nilai ekonomi jika dan hanya waktu yang bersangkutan dimanfaatkan dengan menambah faktor produksi lain. Sehingga menjadi modal dan memperoleh hasil. Hasil dari ... ini berbeda dengan hasil dari uang yang seperti terdapat dalam ekonomi konvensional. Hasil dari modal

MODUL EKONOMI ISLAM JILID 1 (EDISI REVISI) 60

tergantung dari bisnisnya dan berkaitan dengan sektor riil. Sedangkan hasil dari uang diidentifikasikan sebagai hasil dari tingkat bunga yang jelas-jelas dilarang dalam islam.

4.Economic Value of Time

Konsep ini muncul sebagai kritikan atas konsep time value of money yang diajukan pada ekonomi konvensional. Pada ekonomi konvensional konsep time value of money diartikan sebagai uang yang dipegang sekarang lebih berharga dari pada uang di masa datang. Karena sekarang diinvestasikan untuk mendapatkan hasil.

Definisi ekonomi konvensional ini tidak akurat karena setiap investasi selalu mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan hasil bahkan rugi. Itu sebabnya dalam teori keuangan selalu dikenal risk return relationship.

Bagi ekonom konvensional ada dua hal yang menjadi alasan mereka akan konsep ini: a. Sebagai kompensasi akibat inflasi

b. Prefensi melakukan konsumsi sekarang daripada konsumsi masa depan.

Argumen pertama tidak dapat diterima karena hanya satu kondisi saja yang diakomodir oleh konsep ini, yaitu kondisi inflasi saja dan kondisi deflasi tidak dipertimbangkan. Sedangkan argumen kedua pun juga tidak dapat diterima, karena ketidak pastiannya hasil yang akan didapat di masa datang.

5.Ketidakpastian Return

Sebenarnya dalam ekonomi konvensional penerapan time value of money tidak senaif yang dibayangkan. Bila suatu unsur ketidakpastian return ini dimasukkan, ekonom konvensional menyebutkan kompensasi yang didapat dengan discount rate. Jadi istilah discount rate lebih bersifat umum dibandingkan istilah interest rate.

Certainty in Return Uncertainty Return

Disebut interest rate Disebut discount rate

Reak interest rate ditentukan oleh preferensi current consumption seseorang

Nominal interest rate = real interest rate + expected inflation

Discount rate = real interest rate + expected inflation + premium of uncertainty

Dalam ekonomi konvensional ketidakpastian return diubah menjadi suatu hal yang pasri melalui premium for uncertainty. Pada setiap investasi tentu akan selalu ada kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang positif, hasil yang negatif, tanpa hasil. Adanya kemungkinan inilah yang menimbulkan ketidakpastian. Kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang negatif dan tanpa hasil ini yang dipertukarkan dengan yang pasti yaitu premium for uncertainty.

Keadaan inilah yang ditolak dalam ekonomi islam yaitu suatu keadaan mendapatkan hasil tanpa risiko yang harus ditanggung, dan mendapatkan hasil tanpa harus menanggung biaya. Sebenarnya keadaan ini juga ditolak oleh teori keuangan, dengan adanya penjelasan tentang hubungan hasil dan risiko.

Dalam ekonomi islam penggunaan jenis discount rate dalam menentukan harga bayar tangguh dapat digunakan. Hal ini dapat dibenarkan karena:

c. Jual beli dan sewa menyewa adalah sektor riil yang menimbulkan nilai tambah ekonomis.

MODUL EKONOMI ISLAM JILID 1 (EDISI REVISI) 61

ci. Tertahannya hak si penjual (uang pembayaran) yang telah melaksanakan kewajibannya (meyerahkan barang atau jasa), sehingga ia tidak dapat melaksanakan kewajibannya terhadap pihak lain.

Begitu pula penggunaan discount rate dalam menentukan nisbah bagi hasil, dapat digunakan. Nisbah ini akan dikalikan dengan hasil aktual, bukan hasil yang diharapkan. Transaksi bagi hasil berbeda dengan transaksi jual beli atau sewa menyewa, karena dalam transaksi bagi hasil hubungannya bukan antara penjual dan pembeli atau penyewa dan yang menyewakan. Yang ada adalah hubungan antara pemodal dan yang menggunakan modal tersebut. Sehingga tidak ada pihak yang telah melaksanakan kewajibannya namun masih tertahan haknya. Si pemodal telah melaksanakan kewajibannya yaitu memberikan sejumlah modal, yang memproduktifkan modal juga telah melaksanakan kewajibannya, yaitu memproduktifkan modal tersebut. Hak mereka adalah bagi hasil atas keuntungan, sesuai kesepakatan awal apakah bagi hasil itu akan dilakukan atas pendapatan atau keuntungan.

Certainty in Return Uncertainty in Return

Konvensional Islam Konvensional Islam Suku bunga ditentukan oleh : 1. Preferensi current consumptoin 2. Expected Inflation Keuntungan dalam jual beli / sewa secara tangguh bayar ditentukan: 1. Tingkat keuntungan setiap kali transaksi 2. Frekuensi transaksi dalam satu periode Discount rate ditentukan oleh: 1. Referensi current consumption 2. Expected inflation 3. Premium for uncertainty dengan kata lain actual return dipaksakan harus sama dengan expected returnnya. Discount rate ditentukan atas dasar ekspektasi keuntungan dan digunakan untuk menentukan nisbah bagi hasil. Bagi hasil yang harus dibayar adalah nisbah bagi hasil dikalikan dengan actual returnnya. Dengan kata lain actual return tidak harus sama dengan expected returnnya.

6.Do You Know ?

Rahasia Tersembunyi Uang Kertas Sampai saat ini, semua orang menganggap uang

kertas adalah benar-benar bernilai bahkan orang dapat saling bertikai dan bunuh-bunuhan untuk memperoleh uang kertas itu. Tahukan kita bahwa sebenanya uang kertas itu merupakan surat hutang yang dibuat seolah-olah uang sebenarnya? Pelajaran di sekolah bahkan kuliah hanya mempelajari fungsi uang, istilah nilai intrinsik, nilai nominal dan lainnya, namun pernahkah suatu buku pelajaran yang membahas kelemahan dan keburukan dari jenis uang ini (uang kertas)?. Bila kita ingin mengetahui segala sesuatu tentang uang kertas (fiat money), maka kita sebaiknya

berangkat dari asal mula penggunaan dan peruntukannya.

Beberapa sumber menyatakan bahwa yang pertama mencetak uang kertas adalah kaisar Wu Ti dari Cina yang menggunakan uang kertas pada abad kedua sebelum masehi. Setelah itu penggunaan uang kertas makin meluas hingga ke wilayah eropa dan kertas ini digunakan sebagai bukti kepemilikan logam berharga seperti emas dan perak.

Sebuah milestone menanjaknya popularitas uang kertas ini dimulai oleh para ksatria templar (Knight Templar) pada masa sesudah perang

MODUL EKONOMI ISLAM JILID 1 (EDISI REVISI) 62 salib. Mereka juga mendirikan sebuah lembaga

keuangan bernama Usury (riba).

Setelah Jerusalem jatuh ke tangan pasukan salib pada 1099, banyak peziarah dari eropa yang ingin mengunjungi kota suci ini. Para peziarah biasanya membawa emas sebagai alat tukar (uang) karena memang emas dan perak lah yang menjadi uang resmi pada masa itu. Pada kenyataannya para peziarah ini sering dirampok di tengah perjalanan oleh para perompak yang mengintai jalur eropa-jerusalem. Melihat fenomena ini, Ksatria Templar yang memang bersifat serakah dan tamak menemukan jalan keluar dari masalah ini dengan cara membentuk lembaga keuangan yang melayani simpan pinjam pertama di dunia bernama usury yang arti harafiahnya adalah riba/bunga.

Lembaga usury ini memberikan solusi keamanan bagi emas para peziarah dengan cara memberikan secarik kertas dengan sandi tertentu sebagai bukti bahwa peziarah tersebut memiliki emas dalam jumlah tertentu. Emas milik peziarah harus disimpan atau dititipkan kepada lembaga ini dan dapat digunakan untuk pengeluaran selama perjalanan lalu bisa kembali ditukar kembali dengan emas sesampainya di jerusalem atau sekembalinya di eropa, setelah dikurangi dengan biaya administrasi tentunya. Bisa dilihat bahwa sistem usury yang didirikan oleh templar ini sangat mirip dengan sistem perbankan konvensional dewasa ini, oleh karena itu usury disebut sebagai cikal bakalnya sistem perbankan yang digunakan saat ini.

Pada masa itu kekuasaan templar sangat besar, mereka hanya bertanggung jawab langsung kepada paus sebagai penjaga keamanan rute peziarah dari eropa menuju jerusalem. Karena wewenang yang diberikan ini, Templar bisa melakukan pemaksaan terhadap peziarah untuk menitipkan emasnya pada mereka.

Kertas-kertas jaminan memiliki emas yang diterbitkan templar ini merupakan surat hutang atau promis yang kedepannya berevolusi menjadi uang kertas (paper money atau Fiatmoney ). Setelah perjalanan proses yang cukup lama, surat-surat sandi ini semakin banyak beredar dan semakin banyak pula orang yang menggunakannya karena lebih praktis, mungkin bisa disamakan dengan kartu debet atau kartu kredit pada masa kini dimana orang tidak perlu

membawa uang yang sebenarnya, cukup surat hutang yang terus menerus berpindah tangan. Jumlah pengguna surat hutang ini semakin banyak juga disebabkan orang-orang telah percaya bahwa mereka dapat mengambil kembali emasnya bila suatu saat dibutuhkan. Akhirnya surat hutang ini pun berubah menjadi uang kertas yang mulai dianggap sama nilainya dengan emas, padahal uang kertas sama sekali tidak bernilai secara intrinsik. Perhatikan bahwa sistem ini sama persis dengan pengguna kartu debet dan nasabah suatu bank yang yakin uangnya dapat ditarik kembali bila suatu saat dibutuhkan, bedanya adalah dulu uang yang disimpan adalah emas yang merupakan uang sejati sedangkan sekarang uang yang disimpan adalah ―surat hutang‖, artinya terjadi turunan/derivasi sebanyak dua kali pada uang di masa kini (dulu surat hutang dijamin oleh emas, sekarang kartu debet dijamin oleh surat hutang).

Karena orang semakin percaya dengan ―uang‖ ini, maka mereka makin jarang mengambil simpanan emasnya. Hingga keadaan ini, uang kertas masih tidak menimbulkan keburukan karena hanya digunakan sebagai pengganti uang yang sebenarnya. Bencana terjadi ketika para pewaris sistem perbankan templar ini mulai mencetak ―uang‖ lebih banyak lagi melebihi cadangan emas yang dititipkan kepada mereka karena yakin bahwa para pemilik emas tidak akan menarik kembali emasnya secara tiba-tiba dan serentak, dengan kata lain mereka mencetak nota kosong karena memang tidak didukung oleh emas, prinsip sejenis ini disebut fractional reserve requirement.

Bencana apakah yang ditimbulkan oleh kegiatan mencetak uang melebihi cadangan emas ini?. Ketika uang dicetak melebihi jumlah cadangan emas, maka jumlah uang yang beredar di masyarakat akan menjadi besar sehingga menimbulkan inflasi yang menurunkan daya beli masyarakat, terlebih lagi bila jumlah uang yang dicetak jauh melebihi pertumbuhan sektor riil, ini akan berakibat pada hiperinflasi yang pernah terjadi di jerman pada tahun 1922. Bila uang yang dicetak disesuaikan dengan pertumbuhan sektor riil, maka hal ini akan mendukung perekonomian suatu negara, tapi kita selalu mendengar berita bahwa kita mengalami inflasi setiap bulan dan tahun, artinya bank sentral yang

MODUL EKONOMI ISLAM JILID 1 (EDISI REVISI) 63 berhak mencetak uang telah mencetak uang

secara berlebihan yang memiskinkan seluruh masyarakat.

Lebih buruknya lagi, dengan sistem perbankan yang menggunakan uang kertas, maka pihak yang memiliki hak untuk mencetak uang dapat menciptakan uang tanpa perlu modal apapun (create money from nothing). Cukup bermodalkan kertas saja dapat membeli emas, minyak dan sumberdaya alam lainnya. Ini semua merupakan ilusi yang sangat berbahaya.

Bahkan Marcopolo, seorang voyager (pengelana) dunia pun menyatakan kecemasannya terhadap

uang kertas ketika berkunjung ke Cina yang pada saat itu telah menggunakan uang kertas. catatan Marcopolo mengatakan alat itu (uang kertas) memungkinkan penguasa untuk mendapatkan semua yang berharga tanpa modal apa-apa.