• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAN DALAM SISTEM KTSP

Drs. A bror So5i^ M.Si.

2. Guru pembimbing merangkap pustakawan, pengumpul dan pengolah nilai siswa dalam kelas-kelas tertentu, serta berfungsi sebagai guru piket dan guru pengganti bagi guru mata pelajaran yang berhalangan hadir.

3. Guru pembimbing ditugasi sebagai “polisi sekolah” yang mengu- rusi dan menghakimi para siswa yang tidak mematuhi peraturan sekolah, seperti terlambat masuk, tidak memakai seragam, atau mengeluarkan baju dari celana atau rok.

4. Kepala sekolah tidak mampu melakukan pengawasan karena4 tidak memahami program pelayanan serta belum mampu mem- fasilitasi kegiatan layanan bimbingan di sekolahnya.

5. Terjadi persepsi dan pandangan yang keliru dari personal sekolah terhadap tugas dan fungsi guru pembimbing sehingga tidak terjalin kerjasama, sebagaimana yang diharapkan dalam organisasi bimbingan dan penyuluhan.

Kondisi-kondisi seperti tersebut, nyaris terjadi pada setiap sekolah di Indonesia.

B. Lahirnya Bimbingan dan Konseling Pola 17

SK Mendikbud No. 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya memuat hal-hal yang substansial, khususnya menyangkut bimbingan dan konseling, yaitu sebagai berikut:

1. Istilah “bimbingan dan penyuluhan” secara resmi diganti menjadi “bimbingan dan konseling”.

2. Pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah adalah guru pembimbing, yaitu guru yang secara khusus ditugasi untuk itu. Dengan demikian, bimbingan dan konseling tidak dilaksanakan oleh semua guru atau sembarang guru.

3. Guru yang diangkat atau ditugasi untuk melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling adalah mereka yang berkemampuan

melaksanakan kegiatan tersebut, minimal mengikuti penataran bimbingan dan konseling selama 180 jam.

4. Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan pola yang jelas, yaitu:

a. Pengertian, tujuan, fungsi, prinsip dan asas-asasnya;

b. Bidang bimbingan: bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karier;

c. Jenis layanan: layanan orientasi, informasi, penempatan/ penyaluran, pembelajaran, konseling perseorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok;

d. Kegiatan pendukung: instrumentasi, himpunan data, kon- ferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan;

5. Setiap kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan melalui tahap:

a. Perencanaan kegiatan; b. Pelaksanaan kegiatan; c. Penilaian hasil kegiatan; d. Analisis hasil kegiatan; e. Tindak lanjut.

6. Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan di dalam dan di luar jam kerja sekolah. Hal-hal yang substansial di atas diharapkan dapat mengubah kondisi tidak jelas yang sudah lama berlangsung sebelumnya. Langkah-langkah konkrit diupayakan seperti:

a. Pengangkatan guru pembimbing yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling;

b. Penataran guru-guru pembimbing tingkat nasional, regional, dan lokal mulai dilaksanakan;

c. Penyusunan pedoman kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, seperti:

1) Buku teks bimbingan dan konseling;

2) Buku panduan pelaksanaan menyeluruh bimbingan dan konseling di sekolah;

3) Panduan penyusunan program bimbingan dan konseling; 4) Panduan penilaian hasil layanan bimbingan dan konseling; 5) Panduan pengelolaan bimbingan dan konseling di sekolah; 6) Pengembangan instrumen bimbingan dan konseling 7) Penyusunan pedomanan Musyawarah Guru Pembimbing *

(MGP) dengan SK Mendikbud No. 025/1995, khususnya yang menyangkut bimbingan dan konseling menjadi jelas. (Anas Salahudin, 2010: 34-36).

Dari penjelasan di atas, maka lahirlah bimbingan dan konseling Pola 17, atau sering disebut dengan “BK Pola 17”. Disebut BK Pola 17, karena di dalamnya terdapat 17 (tujuh belas) butir pokok layanan bimbingan dan konseling. Tujuh belas butir layanan bim­ bingan dan konseling itu tersebar dalam empat bidang bimbingan, tujuh jenis layanan, dan lima kegiatan pendukung. Adapun tujuh belas butir pokok layanan bimbingan dan konseling itu adalah:

1. Kegiatan bimbingan dan konseling secara menyeluruh meliputi empat bidang bimbingan, yaitu bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karier.

2. Kegiatan bimbingan dan konseling dalam empat bidang itu diselenggarakan melalui tujuh jenis layanan, yaitu layanan orien­ tasi, informasi, penempatan/penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok. 3. Untuk mendukung kedelapan jenis layanan ltu/dlselenngarakan

lima kegiatan pendukung, yaitu fiistmmentasi bimbingan dan konseling, himpunan data, konferensi kasu£, kunjungan rumah, dan alih tangan.

4. Di atas itu semua, kegiatan bimbingan dan konseling didasari oleh satu pemahaman yang menyeluruh dan terpadu tentang

Drs. A bror Sodify M.Si.

wawasan bimbingan dan konseling yang meliputi pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, dan asas-asas bimbingan dan konseling. (Jamal Ma’mur Asmani, 2010: 203).

Jika bimbingan dan konseling dalam pola 17 dapat dilaksanakan dengan maksimal, terprogram, dan berkualitas, maka ia dapat menunjang hasil belajar siswa. Pelaksanaan bimbingan dan konseling pola 17 tersebut dapat maksimal apabila dalam kurikulum diberikan alokasi waktu minimal 1 jam pelajaran, sehingga empat bidang bimbingan, delapan jenis layanan, dan lima kegiatan pendukung dapat diberikan pada seluruh siswa dan bukan pada siswa yang bermasalah saja.

C. Bim bingan dan Konseling dalam Sistem KTSP

Dalam sistem kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) mengharuskan sekolah untuk mengalokasikan 2 (dua) jam pelajaran per minggu bagi pelajaran pengembangan diri. Hal ini berarti di setiap sekolah, paling tidak, harus dialokasikan dua jam pelajaran bagi guru bimbingan dan konseling untuk mengadakan bimbingan secara klasikal. Namun, dalam praktiknya, beberapa sekolah menia- dakan jam khusus untuk layanan bimbingan klasikal kepada siswa. Layanan bimbingan klasikal biasanya dilakukan apabila ada guru yang berhalangan hadir. Dan, jam pelajaran ini dimanfaatkan oleh guru bimbingan dan konseling untuk mengadakan layanan bim­ bingan kelompok/klasikal. (Jamal Ma’mur Asmani, 2010: 254).

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa manajemen sekolah belum memberikan tempat yang memadai bagi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Menurut Fajar Santoadi (dalam Jamal Ma’mur Asmani, 2010: 255) ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebab atau melatarbelakangi kebijakan sekolah tersbut, antara lain, yaitu:

1. Sekolah masih memfokuskan pada pengembangan kompetensi akademik atau kognitif saja. Apalagi, dengan adanya ujian

Drs. A bror Sodik, M.Si.

nasional, maka siswa-siswa di tingkat akhir lebih difokuskan untauk mata pelajaran yang di-ujian nasional-kan.

2. Penentu kebijakan (manajemen sekolah) memahami bimbingan dan konseling hanya sebagai pertemuan individual saja (kon­ seling), terutama untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh siswa (fungsi kuratif).

3. Tidak adanya program bimbingan dan konseling yang berkualitas, yang sesuai dengan kebutuhan, membuat siswa, pengelola sekolah, dan stakeholder (pemangku kepentingan) sulit mem- berikan kepercayaan pada bimbingan dan konseling. Pengelola atau guru bimbingan dan konseling, selama ini, masih mengang- gap bahwa program bimbingan dan konseling merupakan daftar aktivitas yang mengacu pada pola 17, tetapi tidak menonjolkan isi yang digarap untuk mengembangkan aspek afektif, nilai, sikap, dan perilaku positif siswa. Padahal, pola 17 yang sering menjadi program konselor itu hanya merupakan “bungkus”, bukan isi.

Kebijakan meniadakan jam bimbingan kelompok/klasikal di sekolah tersebut, mengakibatkan fungsi pengembangan kemampuan siswa. fungsi pencegahan, serta fungsi pemeliharaan bimbingan dan konseling dalam aspek perkembangan personal-edukasional dan karier tidak dapat dijalankan secara utuh. Ketidakmengertian dan prasangka manajemen sekolah bahwa bimbingan dan konseling hanya membuang-buang waktu dan tidak memberikan sumbangan yang berarti pada perkembangan siswa, menyebabkan sulitnya mendapatkan dukungan sekolah terhadap program bimbingan dan konseling.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Sutoyo, Bimbingan dan Konseling Islam, Teori & Praktek. Semarang. CV. Widya Karya, 2009.

Aunur Rahim Faqih (Penyunting), Bimbingan dan Konseling dalam Is­ lam. Yogyakarta: Pusat Penerbitan UII Press, 2001. ASCA, Ethical Standards For School Counselor; The School Counselor,

32, 84-87, 1984.

Bee, H., The Developing Chila. New York: Harper & Row Publishing, 1987.

Belkin, G.S., The Counselor Training in Practical Conseling in Schools the Dubuque. Iowa: W.C. Brown Company Publishers 1975. Bimo Walgito, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Yogyakarta: Yasbit

Fakultas Psikologi UGM, 1983.

Blum, M.L. & Balinsky, Counseling and Psychology. Tokyo: Printice Book Co. 1951.

Brammer, L.M. & Shostrom, E.L., Therapeutic Psychology Englewood Cliffs. New Jersey: Printice Hall Inc., 1982.

Budi Santoso, S., Pendidikan Indonesia Berakarpada Kebudayaan Rasional. Makalah Utama Pada Konvensi Nasional Pendidikan In­ donesia II, Medan: 4-8 Februari 1992.

Burn, D., Hthical Implication in Cross-Cultural Counseling and Training. Journal of Counseling and Development, 70 (5), 578-583,

1992.

Burn, C.F. & Consolvo, C.A., The Development o f Campus Based Sub­ stance Abuse Prevention Program. Journal of Counseling and Development, May / June 1992, 705, 639-641.

Chiles, D. &, Eiken R., School Guidance and Counseling: Pupil Personnel Services Recommanded Practices and Procedures Manual. Illionis State Board of Education, 1983.

Crow, L.D. and Crow, A. An Introduction to Guidance. New York: American Book Co. 1951.

Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

Dusek, J.B., Adolescent Development and Behavior. Chicago: Scien Re­ search Assosiates Inc., 1977.

FullMer, D.W, Principles o f Guidance. Scraton, Pensylvania: Interna­ tional Book Company, 1969.

Ganshel, W.H., Microcomputer: The School and The Counseling The School School Counselor; 31, 229-233, 1984.

Goldman, L.,A View o f Counselors Future. New York: City Univercity of New York, 1976.

HansenJ.C, Stevie, R.R. & Warmer, R.W., Counseling: Theory and Process. Boston: Allyn and Bacon Inc.,1977.

Horner, J.H. & McElhaney,S.J., Prevention in Mental Health, dalam American Counselor. Winter 1993, 2,1,12-17.

< •

Hothersall, D., Psychology. Columbus,"Tarouto: E Merril Publishing

Company, 1985. r

House, R.M. & Walter C.H., Preventing Aids Via Education, dalam Journal o f Counseling and Development. January/February,

1993,71,33, 275-281.

Drs. A bror Sodit^ M.Si.

Jamal Ma’mur Asmani, Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Diva Press, 2010.

Jones, AJ., Principles o f Guidance. New York: American Book Co., 1951.

Mayers, J.E., Wellness, Prevention, Development, dalam Journal o f Coun­ seling and Development, November/Desember 1992, 72, 2, 136-139.

M. Arifin, Pokok-Pokok Pikiran tentang Bimbingan dan Penyuluhan Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 1999.

MD. Dahlan, Posisi Bimbingan dan Penyuluhan Pendidikan dalam Kerangka Ilmu Pendidikan (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Pendidikanpada FTP Bandung, tanggal9 April 1988). Bandung: Depdikbud IKIP Bandung, 1988.

M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Uniat, Ju~ IV. Jakarta: Lentera Hati, 2002. Muhlis Hamidy, Manusia dalam Perspektif Al-Quran. Surakarta:

Primedia Press, 1997.

McDaniel,H.B., Guidance in Modern Schools. New York: The Dryden Press, 1956.

McLully,C.H., Challenge fo r Change in CounselorEducation. Alinneapolis: Buergess Publishing Company, 1963.

Mortensen, D.G. & Schmuller, G.S., Guidance in Today's Schools. New York: John Wiley & Sons Inc.,1976.

Munro, E.A., Manthey RJ. & Small,J.J., Counseling: A Skill Approach. Wellington: Methven Publication (NZ) Ltd., 1979. Mussen, P. & Rosenzweight, M.R., Psychology. Lexington, Massachu­

setts: DC. Heath and Company, 1973.

Nugent, F.A., PofesionalCounseling. Monterey, California: Books/Cole Publishing, 1981.

Drs. Abror Sodik, M.Si.

Palmo, A.J. Lowry, L.A., Weldon, D.P.& Scioscia, T.M., School and Family Future Perspective For School Counselor, dalam The School Counselor, 31, 272 - 278, 1984.

Pedersen, P. Louner, WJ.& Draguns, J.g: Counseling Across Cultures. Honolulu: The University of Hawaii, 1976.

Prayitno, Konselor Masa Depan dalam Tantangn dan Harapan. Pidato Pengukuhan Sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Bimbingan dan Konseling pada IKIP Padang, 1990. Prayitno, Profesionalisasi Konseling dalam Pendidikan Konselor. Jakarta:

P2LPTK Depdikbud, 1987.

Priyatno dan Erman And, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta, 1999.

Shertzer, B. & Stone.,S.,Fundamental o f Counseling. Boston: Houghton Mifflin, 1968.

Sue, D.W., Arredondo, P. & Me. Davis, R.J., Multicultural Counseling Competencies and Standars: A Call to the Professional. Journal of Counseling and Development, 70 (4), 477-486,1992. Sutton-Smith, B., Chill, Psychology. New York: Appliton-Century-

Crofts, 1973.

Thohari Musnamar, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan & Konseling Islam. Yogyakarta: UII Press, 1992.

Thompson, C.L. & Rudolph, L.B., Counseling Children. Monterey California: Books/Cole Pulbishing Company, 1983. Toilbert, E.L., Introduction to Counseling. New York; McGrow-Hill

Book Company Inc. 1959.

Tolbert, E.L., Introduction to Guidance. Boston: Little Brown and Company, 1982.

Uman Suherman, Manajemen Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rizqi Press, 2011.

D

aftar Pustaka

Wiggins, J.S., Renner, K.E., Clore, G.L. & Rose, R.J., Principles o f Personality. Reading, Massachusetts: Addision-Wesley Pub­ lishing Company, 1971.

Wrenn, C.G., The Counselor in a Changing World. New Hampshire Avenue, N.W Washington, D.C.: American Personnel and Guidance Association, 1962.

Dokumen terkait