• Tidak ada hasil yang ditemukan

Drs. Abror Sodik, M.Si. PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Drs. Abror Sodik, M.Si. PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING"

Copied!
157
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Drs. Abror Sodik, M.Si.

PENGANTAR

(3)

PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING © Drs. Abror Sodik, M.Si.; Yogyakarta, 2015

viii + 150 Halaman; 14,5 X 21 cm ISBN: 978-602-14837-3-2

Cetakan I: September 2017

Penata Isi: lu_cy Desain Cover: Agung

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak buku ini sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun juga, baik secara mekanis maupun elektronis, termasuk fotokopi, rekaman dan lain-lain tanpa izin dari penerbit

Penerbit: Aswaja Pressindo

Anggota IKAPI No. 071/DIY/2011 Jl. Plosokuning V No. 73 Minomartani, Ngaglik, Sleman Yogyakarta

Telp.: (0274) 4462377

e-mail: [email protected]

[email protected] ^

(4)

PENGANTAR PENULIS

B ism U lah irtah m a n itrah im

Alhamdulillahi rabbil \alamin, penulis mengucapkan puji dan syukur ke hadhirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, di antaranya berupa kesehatan dan kesempatan, sehingga penulisan buku “Pengantar Bimbingan dan Konseling” dapat diselesaikan. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, para keluarganya, para shahabatnya, para pengikutnya dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Pentingnya bimbingan dan konseling dalam kehidupan manusia adalah karena bimbingan dan konseling merupakan pelayanan yang dilakukan d ari manusia, u ntuk manusia, dan o le h manusia. D ari manusia, artinya bahwa pelayanan itu diselenggarakan berdasarkan hakikat manusia dengan segenap kemanusiannya. U ntuk manusia, dimaksudkan bahwa pelayanan tersebut diselenggarakan demi tujuan-tujuan yang yang mulia dan positif bagi kehidupan kemanusiaan menuju manusia seutuhnya, baik sebagai individu maupun kelompok. O leh manusia, mengandung pengertian bahwa penyelenggaraan pelayanan itu adalah manusia dengan segala derajat, martabat dan keunikan masing-masing yang terlibat di daiamnya.

Buku ini ditulis untuk memenuhi silabi mata kuliah"“Pengantar Bimbingan dan Konseling” yang ada di Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi

(5)

Univer-w — ---

---Drs. A bror Sodi k, M.Si.

sitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang sengaja dipersiapkan untuk bahan ajar dalam mata kuliah tersebut.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan buku ini masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diperlukan demi untuk penyempurnaan buku ini. Akhirnya penuhs berharap, semoga buku yang sederhana ini bermanfaat dan menjadi amal jariah.

Yogyakarta, 28 Agustus 2017 Penulis,

Drs. Abror Sodik, M.Si.

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...iii

DAFTAR I S I ...v

BAB I PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING 1 A. Pengertian Bimbingan dan Konseling... 1

B. Hubungan Antara Bimbingan dan Konseling...4

C. Perbedaan Konsep Bimbingan dan Konseling Barat dengan Konsep Bimbingan dan Konseling Islam ...6

D. Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling...7

E. Tujuan Bimbingan dan Konseling... 11

E Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Umum... 17

G. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Islami... 23

BAB II LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING... 35

A. Landasan Filosofis Bimbingan dan Konseling 35

B. Landasan Islami Bimbingan dan Konseling ... 38

(7)

Drs. Abror Sofii^ M.Si.

D. Landasan Sosial Budaya Bimbingan dan Konseling...57

E. Landasan Ilmiah Bimbingan dan Konseling...67

BAB III FUNGSI DAN PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING... 71

A. Fungsi Bimbingan dan Konseling... 71

B. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling...92

BAB IV ORIENTASI DAN RUANG LINGKUP PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING... 99

A. Orientasi Bimbingan dan Konseling...99

B. Ruang Lingkup Pelayanan Bimbingan dan Konseling ... 103

BAB V JENIS LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING... 111

A. Layanan Konseling Perorangan... I l l B. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok... 122

BAB VI BIMBINGAN DAN KONSELING SEBAGAI PRO FESI...129

A. Pengertian Istilah Profesi ... 129

B. Ciri-Ciri Profesi ... 130

(8)

Daftar Isi

BAB VII

LAHIRNYA BIMBINGAN DAN KONSELING

POLA 17 DAN DALAM SISTEM KTSP...137

A. Pra Lahirnya Bimbingan dan Konseling Pola 1 7 ... 137

B. Lahirnya Bimbingan dan Konseling Pola 1 7 ...140

C. Bimbingan dan Konseling dalam Sistem KTSP...143

(9)
(10)

BAB I

PENGERTIAN BIMBINGAN

DAN KONSELING

Pengertian Bimbingan dan Konseling

Peiayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia, dan o le h manusia. D ari manusia, artinya peiayanan tu diselenggarakan berdasarkan hakikat manusia dengan segenap cemanusiannya. U ntuk manusia, dimaksudkan bahwa peiayanan ;ersebut diselenggarakan demi tujuan-tujuan yang agung, mulia dan Dositif bagi kehidupan kemanusiaan menuju manuasia seutuhnya, Daik manusia sebagai individu maupun kelompok. O leh manusia, nengandung pengertian bahwa penyelenggaraan peiayanan itu idalah manusia dengan segala derajat, martabat dan keunikan nasing-masing yang terlibat di dalamnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh intara orang yang satu dengan yang lainnya, peristiwa bimbingan setiap sali dapat terjadi. Orang tua membimbing anak-anaknya, guru nembimbing murid-muridnya baik melalui kegiatan pengajaran naupun non pengajaran, para pemimpin membimbing warga yang iipimpinnya melalui berbagai kegiatan, misalnya berupa pidato, santiaji, rapat, diskusi, dan intruksi. Proses bimbingan dapat pula terjadi nelalui media cetak (buku,surat kabar, majalah, dan lain-lan), dan nedia elektronika (radio, televisi, film, video, tele komperensi, tele iiskusi, dan lain-lain). Semua peristiwa bimbingan yang terlaksana

(11)

seperti itu semua dapat disebut sebagai b irtib in ga n in forrtial yang bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan tidak terumuskan secara nyata (Priyatno dan Erman Anti, 1999: 92-93).

Secara etimologis, istilah bimbingan merupakan alih bahasa dari bahasa Inggris: “guidance”, yang merupakan bentuk infinitif atau bentuk masdar dari kata kerja “toguide”, yang berarti: menunjukkan, membimbing atau menuntun orang lain ke jalan yang benar. Jadi istilah bimbingan secara etimologis berarti: pemberian petunjuk, pemberian bimbingan atau tuntunan kepada orang lain ke jalan yang benar (M. Arifin, 1979: 18).

Secara terminologi, pengertian bimbingan antara lain dikemukakan oleh Jones (Bimo Walgito,1984: 3) sebagai berikut:

Guidance is the help given by one person to anather in making choices and adjustment and in solvingproblems. Guidance aims at aiding the recipient to grow his independence and ability to be responsible for himself.

Sedangkan yang dikemukakan oleh Crow and Crow (Bimo Walgito,1984: 3) adalah:

Guidance is assistance made available by competent counselors to an individual o f any age to help him direct his own live, develop his own decisions, and carry his burdens.

Dari dua pendapat tersebut, dapat dikemukakan bahwa bimbingan itu merupakan bantuan yang diberikan kepada individu untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya dengan baik agar individu itu dapat memecahkan masalalahnya sendiri dan dapat mengadakan penyesuaian diri dengan baik.

Secara terminologi, istilah bimbingan telah banyak dikemuka­ kan oleh para ahli, dan kalau kita mau mengkbleksi mengenai definisi bimbingan ada berpuluh-puiiih sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing, akan tetapi dari definisi-detinisi bimbingan yang ada, tentunya kita dapat memberi definisi bimbingan sendiri yang lebih mempermudah untuk difahami dan mencakup pengertian lebih luas, yaitu sebagai berikut:

Drs. A bror Sodify M.Si

(12)

Pengertian Bimbingan dan K onseling

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang indvidu, baik anak-anak, remaja maupun dewasa dalam menghindari atau mengatasi problema-problema di dalam kehidupannya sehingga tercapai kebahagian hidupnya.

Adapun istilah konseling, secara etimologis juga merupakan alih bahasa dari bahasa Inggris: “counseling\ yang merupakan bentuk infinitif atau bentuk masdar dari kata kerja “to counsel\ yang berarti: memberikan nasihat atau memberi anjuran kepada orang lain secara face to face (berhadapan muka satu sama lain) atau kontak langsung. jadi istilah konseling secara etimologis berarti: pemberian nasihat kepada orang lain secara individual yang dilakukan dengan face to face atau dengan kontak langsung (M. Arifin, 1979: 18).

Sedangkan pengertian konseling secara terminologi, antara lain dikemukakan oleh Jones yang diambil dari pendapat Bor din (Bimo Walgito, 1984: 3), yaitu:

“Counseling is the process o f aiding an individual to solve his problems through the medium o f the interview ”

Di samping itu Blum dan Balinsky (Bimo Walgito,!984: 4) mengajukan pendapat sebagai berikut:

“Counseling is the solution to an individuals problem

Dari dua pendapat tersebut, dapat dikemukakan bahwa konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah dengan wawancara.

Secara terminologi, istilah konseling juga sudah banyak dikemukakan oleh para ahli sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing, namun dari definisi-definisiyang telah ada? Jtentunya kita dapat memberi definisi konseling sendiri yang lebih mudah untuk difahami dan mencakup pengertian yang lebih luas, yaitu sebagai berikut:

(13)

Drs. A bror Sodik; M.Si.

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah (disebut klien) dalam upaya mengatasi problema kehidupannya secara face to face (berhadapn muka satu sama lain) atau kontak langsung dengan wawancara sesuai dengan keadaan individu yang dihadapinya sehingga tercapai kebahagiaan hidupnya.

Setelah dikemukakan pengertian bimbingan dan konseling tersebut, maka selanjutnya akan dikemukakan mengenai pengertian bimbingan dan konseling Islami, yaitu sebagai berikut:

Bimbingan Islami adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar dalam kehidupannya senantiasa selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sedangkan konseling Islami adalah proses pemberian bantuan kepada individu agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya dalam kehidupannya senantiasa selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. (Aunur Rahim Faqih, Penyunting, 2001: 61-62).

B, Hubungan Antara Bimbingan dan Konseling

Untuk menjelaskan mengenai hubungan antara bimbingan dan konseling, maka terlebih dahulu akan diajukan pertanyaan sebagai berikut:

Bagaimana hubungan antara bimbingan dan konseling? Untuk men jawab pertanyaan ini kiranya di antara para ahli belum ada kata

sepakat. ^ ~

<**

Sebagian ahli memandang bahwa koftseling merupakan salah satu teknik dari bimbingan, sehingga dengan pandangan ini, maka pengertian bimbingan adalah lebih luas daripada pengertian konseling. Oleh karenanya konseling merupakan bagian dari bimbingan.

(14)

Sebagian ahli yang lain memandang, bahwa baik pengertian bimbingan maupun konseling, kedua-duanya adalah mempunyai pengertian yang sama.

Apabila kita cermati antara pengertian bimbingan dan penger­ tian konseling, maka nampak adanya segi yang sama, tetapi juga nampak adanya segi-segi yang berbeda.

Persamaannya, adalah adanya proses pemberian bantuan dari seseorang kepada orang lain.

Sedangkan segi-segi perbedaannya adalah:

1. Konseling merupakan salah satu teknik dari bimbingan. Oleh karena itu pengertian bimbingan lebih luas daripada pengertian konseling. Konseling memang merupakan bimbingan, tetapi tidak semua bimbingan merupakan konseling.

2. Dalam konseling telah adanya masalah yang akan dipecahkan bersama antara konselor dan klien. Sedangkan dalam bimbingan tidak demikian halnya.

3. Pada bimbingan lebih bersifat preventif, sedangkan pada konseling lebih bersifat kuratif. Bimbingan dapat diberikan sekalipun tidak adanya suatu masalah. Keadaan ini tidak berarti bahwa pada bimbingan sama sekali tidak didapati segi kuratif. Dan sebaliknya, pada konseling juga tidak berarti tidak adanya segi preventif. Dalam konseling didapati pula segi preventif, dalam arti menjaga atau mencegah agar jangan sampai timbul masalah yang lebih mendalam.

4. Dalam konseling pada prinsipnya dilaksanakan secara individual, yaitu antara konselor dan klien dengan wawancara secara face to face atau kontak langsung, walaupun dalam perkembangannya, kemudian adanya group counseling. Sedangkan dalam bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan lebih secara kelompok, sekalipun juga dapat diberikan secara individual (Bimo Walgito, 1984: 4).

Karena adanya persamaan dan perbedaan-perbedaan tersebut, dan karena pula di dalam praktek antara bimbingan dan konseling

(15)

saling kait mengkait, maka digunakanlah istilah “Bimbingan dan Konseling”, di samping itu juga digunakan istilah “Bimbingan” dan istilah “Konseling”.

C. Perbedaan Konsep Bimbingan dan Konseling Barat dengan Konsep Bimbingan dan Konseling Islami

1. Bimbingan dan konseling Barat bersifat antroposentris, artinya bahwa proses layanan bimbingan dan konseling semua berpusat kepada manusia, demi kesejahteraan hidup manusia; dilaksanakan dari, oleh dan untuk manusia, sama sekali tidak berkaitan dan dikaitkan dengan Tuhan maupun ajaran agama. Sedangkan bimbingan dan konseling Islami bersifat theosentris, artinya bahwa proses layanan bimbingan dan konseling semua berpusat kepada Allah SWT, dipandangnya sebagai suatu bentuk ibadah kepada Allah, sebagai salah satu realisasi dari kehidupan umat yang beriman kepada Allah.

2. Pada umumnya konsep layanan bimbingan dan konseling Barat hanyalah didasarkan atas hasil fikir manusia. Semua teori bimbingan dan konseling yang ada adalah didasarkan hasil kerja rasio ataupun didasarkan atas pengalaman-pengalaman yang ialu. Sedangkan konsep layanan bimbingan dan konseling Isami didasarkan atas dua sumber, yaitu pertama: AI-Qur’an dan sunnah Rasul, dan kedua: aktivitas akal dan pengalaman manusia. 3. Pada umumnya konsep layanan bimbingan dan konseling Barat

didasarkan atas pandangan hidup yang sekularistik-positivistik, artinya bahwa dalam layanan bimbingan dan konseling hanya memasalahkan untuk kepetingan kehidupan di dunia, sekarang dan di sini, dan tidak membahas masalah kehidupan sesudah mati. Sedangkan konsep bimbingan dan konseling Islami meyakini adanya kehidupan sesudah tiiati dan memasalahkan upaya agar orang dapat hidup seimbang antara kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Drs. A bror Sodik, M.Si.

(16)

Pengertian Bimbingan dan K onseling

4. Konsep layanan bimbingan dan konseling Barat pada umumnya tidak membahas dan tidak mengkaitkan pahala dan dosa. Masalah pahala dan dosa itu merupakan masalah yang berada di luar lingkupnya. Sedangkan konsep bimbingan dan konseling Islami masalah pahala dan dosa itu merupakan hal yang selalu hidup dalam dunia batinnya dan mempengaruhi serta mengarahkan gerak perilakunya. Seorang muslim yang baik selalu berusaha untuk memperoleh ridha dan karunia Allah yang berwujud pahala, dan selalu berusaha menjauhi larangan Allah karena takut dosa. (Thohari Musnamar, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan & Konseling Islami, 1992: xiv-xvii).

D. Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling

Miller (Priyatno dan Erman Anti, 1999:109-110) meringkaskan bahwa sejarah perkembangan bimbingan dan konseling ke dalam lima periode, yaitu:

Periode pertama, perkembangan gerakan bimbingan pada awal mulanya diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Pada periode ini pengertian bimbingan baru mencakup bimbingan jabatan, di mama pada saat itu bimbingan baru dilihat sebagai usaha mengumpulkan berbagai keterangan tentang individu dan tentang jabatan, kemudian kedua jenis keterangan itu, lalu dipasang dan dicocokkan yang pada akhirnya menentukan jabatan apa yang paling cocok untuk individu yang dimaksudkan.

Periode kedua, gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. Dalam tahap ini bimbingan dirumuskan sebagai totalitas peiayanan yang secara keseluruhan dapat diintegrasikan ke dalam upaya pendidikan. Pada kedua periode ini, rumusan tentang konseling belum dimunculkan.

Periode ketiga, bahwa peiayanan bimbingan tidak hanya disangkut-pautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja, tidak pula hanya mencocokkan individu untuk jabatan-jabatan tertentu saja, melainkan juga bagi peningkatan kehidupan mental. Dalam kaitan

(17)

itu, pada keseluruhan upaya bimbingan ditekankan adanya upaya untuk membantu penyesuaian diri individu terhadap dirinya sendiri, lingkunan dan masyarakat. Pada periode inilah rumusan tentang k o n s e lin g dimunculkan. Para ahli bimbingan pada periode ketiga ini menyadari bahwa apa yang mereka lakukan “ bukan hanya sekadar menyediakan bimbingan atau memberikan latihan, tetapi mereka membantu individu memecahkan masalah-m asalah dalam kehidupan individu itu yang kadang-kadang amat pelik dan membesar” (Belkin, 1975). Rumusan konseling yang muncul pada periode ketiga ini secara nyata memperlihatkan bahwa konseling merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan di antara sejumlah pelayanan lainnya, seperti bimbingan jabatan dan bimbingan pendidikan. Perkembangan yang lebih lanjut pada periode ketiga ini bahkan lebih menonjolkan lagi peranan pentingnya konseling di antara keseluruhan bentuk-bentuk pelayanan bimbingan, sampai-sampai konseling dianggap sebagai jantung ha tiny a bimbingan.

Periode keempat, gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. Pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu untuk memenuhi tugas-tugas perkembangannya dalam mencapai kematangan dan kedewasaan.

Periode kelima, dalam preiode ini tampak adanya dua arah yang berbeda, yaitu kecenderungan yang ingin kembali ke periode pertama dan kecenderungan yang ingin lebih menekankan pada rekonstruksi sosial dan personal dalam rangka membantu pemecahan masalah yang dihadapi individu.

Sekarang, bagaimanakah perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia? Untuk men jawab pertanyaan ini, maka akan dikemukakan secara singkat sejarah bimbingan dan konseling di Indonesia.

Bahwa bimbingan dan konseling di Indonesia pada hakikatnya telah berakar dalam seluruh kehidupan dan perjuangan bangsa In­

Drs. A bror Sodify M.Si.

(18)

Pengertian Bimbingan dan K onseling

donesia. Akan tetapi, patut diakui bahwa bimbingan yang bersifat ilmiah dan profesional masih belum berkembang secara mantap atas dasar falsafah Pancasila. Secara gradual, bimbingan dan konseling ada sebelum kemerdekaan Indonesia, dekade 40-an, dekade 50-an, dekade 60-an, dekade 70-an, dan dekade 80-an. Masing-masing dekade mempunyai karakteristik tertentu sesuai dengan situasi dan keadaan pada masing-masing dekade. Dan pada era lepas landas sekarang ini, bimbingan dan konseling semakin dimantapkan pemerintah. (Dewa Ketut Sukardi, 2008: 2-3).

Lebih menguatkan pendapat tersebut, bahwa sejarah lahirnya bimbingan dan konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya bimbingan dan konseling (dulu dikenal dengan bimbingan dan penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20-24 Agustus tahun 1960. Perkembangan berikutnya, tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan bimbingan dan penyuluhan. Tahun 1971 berdiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP, yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Manado. Melalui proyek ini, bimbingan dan penyuluhan dikembangkan. Kemudian, disusun juga “pola dasar rencana dan pengembangan bimbingan dan penyuluhan” pada PPSP. Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menegah Atas, di dalamnya, juga memuat pedoman bimbingan dan penyuluhan.

Pada tahun 1978, diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan guru bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Keberadaan bimbingan dan penyuluhan, secara legal-for­ mal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No.: 026/ Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam

(19)

Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanaya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi, pelaksanaan di sekolah masi belum jelas, seperti pemikiran awal untuk mendukung masih sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.

Sampai tahun 1993, pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan di sekolah tidak jelas. Parahnya lagi, penggunaannya —terutama orang tua murid- memiliki pandangan kurang bersahabat dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah. jika ada orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP, maka di benak orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesd bermasalah atau ada masalah.

Hal ini berlangsung hingga lahirnya SK Menpan No.: 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, yang di dalamnya termuat aturan tentang bimbingan dan konseling di sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No.: 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya. Di dalam SK Mendikbud ini, istilah bimbingan dan penyuluhan diganti menjadi bimbingan dan konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh guru pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah mulai jelas. (Jamal Ma’mur Asmani, 2010: 27-29).

Dengan diberlakukannva Kurikulum 1994, mulailah ruang gerak bagi layanan ahli bimbingan dan konseling dalam sistem persekolahan di Indonesia. Sebab, salah satu ketentuannya adalah mewajibkan tiap sekolah untuk menyediakan 1 (satu) orang konselor untuk setiap 150 (seratus lima puluh) peserta didik, meskipun hanya terealisasi pada jenjang pe^didikaih menengah. Dengan jumiah lulusan yang sangat terbatas sebagai dampak dari kebijakan Ditjen Dikti untuk menciutkan jumiah LPTK penyelenggara program S-l bimbingan dan konseling mulai tahun akademik 1987/1988, maka semua sekolah menengah di tanah air juga tidak mudah untuk melaksanakan instruksi tersebut. Sesuai arahan, masing-masing

Drs. A bror Sodik, M.Si.

(20)

P engertian Bimbingan dan K onseling

sekolah menengah “mengalihtugaskan” guru-gurunya yang paling bisa dilepas (dispensablej untuk mengemban tugas menyelenggarakan peiayanan bimbingan dan konseling setalah dilatih melalui crash pro­ gram, dan lulusannya pun disebut guru pembimbing

Pada tahun 2003, diberlakukan UU Nomor: 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasionai yang menyebut adanya jabatan “konselor” dalam pasal 1 ay at (6). Akan tetapi, tidak ditemukan kelanjutannya dalam pasal-pasal berikutnya. Pasal 39 ayat (2) dalam UU Nomor: 20 Tahun 2003 tersebut menyatakan bahwa “Pendi­ dikan merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama pendidik pada perguruan tinggi”. Dari sini, dapat diketahui bahwa tugas “melakukan pembimbingan” yang tercantum dalam pasal 39 ayat 2 tersebut sebagai salah satu unsur dari tugas pendidik itu jelas merujuk kepada tugas guru, sehingga tidak dapat secara sepihak ditafsirkan sebagai indikasi tugas konselor. (Jamal Ma’mur Asmani, 2010: 29- 30).

Sejarah bimbingan dan konseling tersebut menyadarkan kepada kita betapa sebuah program yang baik membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkembang, melewati ujian masa dengan berbagai macam kendala yang menghadang. Tapi, lewat perjuangan terus-menerus, akhirnya bimbingan dan konseling mendapat perhatian besar pemerintah sekarang ini.

E. Tujuan Bimbingan dan Konseling

Secara garis besar, tujuan bimbingan dan konseling dapat dibagi tnejadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

Tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu mewujudkan dirinya menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. (Aunur Rahim Faqih (Penyunting), 2001: 36). Ditinjau dari aspek pendidikan,

(21)

Drs. A bror Sodif^ M.Si.

bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling sesuai dengan tujuan pendidikan, sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Tahun 2003 (UU No. 20/2003), yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan ruhani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (Depdikbud, 2004: 5).

Sesuai dengan pengertian bimbingan dan konseling sebagai upaya membentuk perkembangan kepribadian siswa secara opti­ mal, maka secara umum layanan bimbingan dan konseling di SMP/ MTs dan SMA/MA/SMK haruslah dikaitkan dengan pengem­ bangan sumber daya manusia. Dalam rangka menjawab tantangan kehidupan masa depan, yaitu adanya relevansi program pendidikan dengan tuntutan dunia kerja, atau adanya link andm&tch (kaitan dan padanan), maka secara umum layanan bimbingan dan konseling adalah membantu siswa mengenal bakat, minat, dan kemampuannya, serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan pendidikan untuk merencanakan karier yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. (Jamal Ma’mur Asmani, 2010: 50)

Tujuan khusus bimbingan dan konseling adalah:

1. Untuk membantu individu agar tidak menghadapi masalah. 2. Untuk membantu individu mengatasi masalah yang sedang

dihadapinya.

3. Untuk membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang baik atau yar\g Velah baik agar tetap baik atau menjadi lebih baikf sehingga tidak akan menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang'lain: (Aunur Rahim Faqih, Penyunting, 2001: 36-37).

Ditinjau dari aspek pendidikan, bahwa tujuan khusus bimbingan dan konseling adalah untuk membantu siswa agar dapat

(22)

tnencapai tujuan-tujuan perkembangan yang meliputi aspek pribadi- sosial, belajar, dan karier.

Tujuan perkembangan aspek pribadi-sosial dimaksudkan untuk mewujudkan pribadi yang takwa, mandiri, dan bertanggung jawab. Dalam aspek perkembangan pribadi-sosial, layanan bimbingan dan konseling bertujuan membantu siswa agar:

1. Memiliki kesadaran diri, yaitu menggambarkan penampilan dan mengenai kekhususan yang ada pada dirinya.

2. Dapat mengembangkan sikap positif, seperti menggambarkan orang-orang yang mereka senangi.

3. Membuat pilihan secara sehat. 4. Mampu menghargai orang lain. 5. Memiliki rasa tanggung jawab.

6. Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi. 7. Dapat mnyelesaikan konflik.

8. Dapat membuat keputusan secara efektif.

Tujuan aspek perkembangan belajar dimaksudkan untuk mewujudkan perkembangan pendidikan. Dalam aspek perkem­ bangan belajar, layanan bimbingan dan konseling bertujuan membantu siswa agar:

1. Dapat melaksanakan keterampilan atau teknik belajar secara efektif.

2. Dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. 3. Mampu belajar secara efektif.

4. Memiliki keterampilan dan kemampuan dalam menghadapi evaluasi/ujian.

Tujuan aspek perkembangan karier, layanan bimbingan dan konseling bertujuan membantu siswa agar:

1 • Mampu membentuk identitas karier, dengan cara mengenali ciri- ciri pekerjaan di dalam lingkungan kerja.

(23)

Drs. A bror Sodify M.Si.

2. Mampu merencakan masa depan.

3. Dapat membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier.

4. Mengenal keterampilan, kemampuan, dan minat. (Dewa Ketut Sukardi, 2008: 44-45).

Menurut Uman Suherman (2011:16-19) bahwa tujuan pelaksa­ naan bimbingan dan konseling meliputi dua hal, yaitu umum dan khusus. Secara umum, pelaksanaan bimbingan dan konselin bertujuan agar individu dapat:

1. Memahami dan menerima diri secara obyektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis.

2. Memahami tentang kondisi, tuntutan dan irama kehidupan lingkungan yang fluktuatif antara yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, serta mampu meresponnya secara positif sesuai dengan norma pribadi, sosial, dan ajaran agama yang dianut.

3. Merencanakan aktivitas penyelesaian studi, perencanaan karier, serta kehidupannya di masa yang akan datang.

4. Mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya serta memanfaatkan kekuatan lingkungan secara optimal.

5. Menyesuaikan diri, baik dengan tuntutan lingkungan pendidikan, masyarakat, pekerjaan, serta agama yang dianut.

6. Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadinya dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun dalam melakukan penghambaan kepada Tuhan-Nya.

Sedangkan secara khusus, pelaksanaan bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantuindividu agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karier.

(24)

Tujuan khusus bimbingan dan konseling yang terkait dengan perkembangan aspek pribadi-sosial, agar indvidu:

1. Memiliki pemahaman tentang kondisi, tuntutan dan irama kehidupan lingkungan yang fluktuatif antara yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, serta mampu meresponnya secara positif sesuai dengan norma pribadi, soaial, dan ajaran agama yang dianutnya.

2. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai keiman- an dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pertemanan, sekolah, tempat bekerja maupun kehidupan masyarakat pada umumnya.

3. Memiliki sikap toleransi terhadap orang lain dan saling menghor- mati dan memelihara hak dan kewajiban masing-masing.

4. Memiliki sikap respek terhadap orang lain, menghormati dan menghargai orang lain, serta tidak melecehkan martabat dan harga diri orang lain.

5. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara positif, obyektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis.

6. Memiliki kemampuan melakukan pilihan dan membuat kepu- tusan secara sehat dan efektif.

7. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.

8. Memiliki kemampuan interpersonal, baik dalam menyelesaikan konflik yang bersifat internal maupun dengan orang lain.

Tujuan khusus bimbingan dan konseling yang terkait dengan perkembangan aspek akademik, yaitu agar individu:

1. Memiliki pemahaman tentang kondisi, tuntutan dan irama kehidupan lingkungan akademik secara positif, serta mampu

(25)

Drs. A bror Sodi^ M.Si.

meresponnya secara positif sesuai dengan norma pribadi, sosial, dan ajaran agama yang dianutnya.

2. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan akademik atau sekolah.

3. Memiliki sikap toleransi terhadap peserta didik lain dan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajiban masing-masing sebagai peserta didik.

4. Memiliki sikap respek terhadap prestasi peserta didik lain, menghormati dan menghargai peserta didik lain, serta tidak melecehkan martabat dan harga diri peserta didik lain.

5. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara positif, obyektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis.

6. Memiliki kemampuan melakukan pilihan dan membuat kepu­ tusan secara sehat dan efektif dalam keberlanjutan kehidupan akademiknya.

7. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama peserta didik.

8. Memiliki kemampuan interpersonal dan keterampilan akademik yang efektif dalam memecahkan masalah akademik, baik yang bersifat internal maupun dengan orang lain.

Tujuan khusus bimbingan dan konseling yang terkait dengan perkembangan aspek karier, yaitu agar individu:

1. Memiliki pemahaman tentang kondisi, tuntutan dan irama kehidupan lingkungan pekerjaan secara positif, serta mampu meresponnya secara positif sesuai $engan norma pribadi, sosial, dan ajaran agama yang dianutnya.

2. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam dunia kerja dan kariernya.

(26)

P engertian Bimbingan dan K onseling

3. Memiliki sikap toleransi terhadap pekerjaan orang lain dan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajiban masing-masing sebagai sebagai pekerja.

4. Memiliki sikap respek terhadap prestasi pekerjaan orang lain, menghormati dan menghargai pekerja lain, serta ddak meleceh- kan martabat dan harga diri pekerja lain.

5. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara positif, obyektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan tuntutan, tantangan dan peluang pekerjaan.

6. Memiliki kemampuan melakukan pilihan dan membuat kepu- tusan secara sehat dan efektif dalam keberlanjutan kehidupan kariernya.

7. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama pekerja.

8. Memiliki kemampuan interpersonal dan keterampilan akademik yang efektif dalam memecahkan masalah pekerjaan, baik yang bersifat internal maupun dengan orang lain.

F. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Umum

Dalam penyelenggaraan peiayanan bimbingan dan konseling harus memegang teguh kaidah-kaidah bimbingan dan konseling yang dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling, yaitu ketentuan- ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan peiayanan bimbingan dan konseling. Asas-asas yang dimaksud adalah asas kerahasiaan, asas kesukarelaan, asas keterbukaan, asas kekiman, asas kemandirian, asas kegiatan, asas kedinamisan, asas keterpaduan, asas kenormatifan, asas keahlian, asas alih tangan, dan asas tutwuri handayani (Priyatno dan Erman Anti, 1999: 115-120).JAdapun penjelasannya masing-masing asas tersebut adalah sebagai berikut:

(27)

1. Asas Kerahasiaan

Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain, atau lebih-lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain. Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha bimbingan dan konseling. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan, maka penyelenggara atau pemberi bimbingan akan mendapat kepercayaan dari semua pihak, terutama penerima bimbingan atau klien, sehingga mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika konselor tidak dapat memegang asas keraahasiaan dengan baik, hilanglah kepercayaan klien, sehingga akibatnya pelayanan bimbingan dan konseling tidak dapat tempat di hati klien dan para calon klien; mereka takut untuk meminta bantuan, sebab khawatir masalah dan diri mereka akan menjadi bahan gunjingan. Apabila hal terakhir itu terjadi, maka tamadah riwayat pelayanan bimbingan dan konseling di tangan konselor yang tidak dapat dipercaya oleh klien itu.

2. Asas Kesukarelaan

Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan, baik dari pihak si terbimbing atau klien maupun dari pihak konselor. Klien diharapkan secara suka dan rela tanpa ragu- ragu ataupun merasa terpaksa menyampaikan masalah yang dihadapinya, serta mengungkapkan segenap fakta, data dan seluk- beluk berkenaan dengan masalahnya itu kepada konselor; dan konselor juga hendaknya dapat memberi bantuan dengan tidak terpaksa, atau dengan kata Iain konselor memberikan bantuan dengan ikhlas.

,-«r ~ ^ V* ' * ***

3. Asas Keterbukaan

Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan, baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien. Keterbukaan dari pihak klien, diharapkan pertama-tama mau membuka diri sendiri sehingga apa yang ada

Drs. Afcror Sodik, M.Si.

(28)

Pengertian Bimbingan dan K onseling

pada dirinya dapat diketahui oleh konselor, dan kedua mau membuka diri dalam arti mau menerima saran-saran dan masukan lainnya dari pihak konselor. Keterbukaan dari pihak konselor, yaitu kesediaan konselor menjawab pertanyaan-pertanyaan klien dan mengungkap- kan diri konselor sendiri jika hal itu memang dikehendaki oleh klien. Dalam hubungan yang bersuasana sperti ini, masing-masing pihak bersifat transparan (terbuka) terhadap pihak lainnya.

4. Asas Kekinian

Asas kekinian mengandung pengertian bahwa masalah individu yang ditanggulangi ialah masalah-masalah yang sedang dirasakan, bukan masalah yang sudah lampau, dan juga bukan masalah yang mungkin akan dialami di masa yang akan datang. Apabila ada hal- hal tertentu yang menyangkut masa lampau dan/atau masa yang akan datang yang perlu dibahas dalam upaya bimbingan yang sedang diselenggarakan itu, pembahasan tersebut hanyalah merupakan latar belakang dan/atau latar depan dari masalah yang dihadapi sekarang, sehingga masalah yang sedang dialami dapat terselesaikan. Dalam usaha yang bersifat preventif atau pencegahan, pada dasarnya pertanyaan yang perlu dijawab adalah apayangperlu dilakukan sekarang sehingga kemungkinan yang kurang baik di masa yang akan datang dapat dihindari.

5. Asas Kemandirian

Peiayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan si terbimbing dapat berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain atau tergantung pada konselor. Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. Mampu mengenai diri sendiri dan lingkungan sebagaimana

adanya

b. Mampu menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis

(29)

d. Mampu mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang telah diambil

e. Mampu mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi, minat dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya.

Kemandirian dengan ciri-ciri umum tersebut haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan peranan klien dalam kehidupannya sehari-hari. Kemandirian sebagai hasil konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling, dan hal itu disadari betul, baik oleh konselor maupun klien.

6. Asas Kegiatan

Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan buah yang berarti, bila klien tdak melakukan sendiri kegiatan dalam mencapai tujuan bimbingan dan konseling. Hasil usaha bimbingan dan konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya, melainkan harus dengan kerja giat dari klien sendiri. Konselor hendaklah membangkitkan semangat klien sehingga ia mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masaalah yang menjadi pokok pembicaraan dalam konseling.

Asas ini merujuk pada pola konseling “multi dimensional” yang tidak hanya mengandalkan transaksi verbal antara klien dan konselor. Dalam konseling yang berdimensi verbal pun asas kegiatan masih harus terselenggara, yaitu klien aktif menjalani proses konseling dan aktif pula melaksanakan/menerapkan hasil-hasil konseling.

7. Asas Kedinamisan

Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien, yaitu perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Perubahan itu tidaklah sekedar mengulang hal yang lama, yang bersifat monoton, melainkan perubahan yang selalu menuju ke suatu pembaruan, sesuatu yang lebih maju, dinamis sesuai dengan arah perkembangan klien yang dikehedaki.

Drs. A bror Sodif^ M.Si.

(30)

8 . Asas Keterpaduan

Peiayanan bimbingan dan konseling berusaha ^ memadukan berbagai aspek kepribadian klien. Sebagaimana diketi^tahui individu jnetniliki berbagai aspek kepribadian yang kalau keao^^m ya tidak seimbang, tidak serasi dan tidak terpadu, justru akan a meoimbulkan masalah. Di samping keterpaduan pada din klien, juga han>rus diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan. Jang^gan hendaknya aspek layanan yang satu tidak serasi dengan aspek layanomanyang lain.

Untuk terselenggaranya asas keterpaduan, ko^onselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan klit^Jien dan aspek- aspek lingkungan klien. Kesemuanya itu dipadukan d* dakm keadaan serasi dan saling mendukung dalam upaya bimbingan A dan konseling.

9. Asas Kenormatifan

Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh xi bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, balk ditinjau dari ini norma agama, norma adat, norma hukum/negara, norma llmu, mauu^pun kebiasaan sehari-hari. Asas kenormatifan ini diterapkan terhad^clap isi maupun proses penyelenggaraan bimbingan dan konselirtung, Seluruh isi layanan harus sesuai dengan norma-norma yang ada. i-u Demikian pula prosedur, teknik dan peralatan yang dipakai tidak m^eiiyimpang dari norma-norma yang dimaksud.

Ditilik dari permasalahan klien, barangkali paoeada awalnya ada materi bimbingan dan konseling yang tidak berse^esiman dengan norma (misalnya klien mengalami masalah melanggai^xr norma-norma tertentu), namun justru dengan peiayanan bimbingataanJan konseling tingkah laku yang melanggar norma itu diarahkan ke^epada yang lebih bersesuaian dengan norma.

10. Asas Keahlian

Peiayanan bimbingan dan konseling merupstsoahn peiayanan profesional yang diselenggarakan oleh tenaga-t^teffiga ahli yang khusus dididik untuk pekerjaan itu. Oleh karena iii itu asas keahlian

(31)

ini mengacu kepada kualifikasi konselor (misalnya pedididikan sarjana bidang bimbingan dan konseling) dan pengalaman. Jadi seorang konselor ahli harus benar-benar menguasai teori dan praktek secara baik.

11. As as Aiih Tangan

Dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling, asas alih

tangan, dimaksudkan jika konselor sudah mengerahkan segenap

kemampuannya untuk membantu individu, namun individu yang bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan, maka konselor dapat memindah-tangankan/mengirim individu tersebut kepada petugas atau badan lain yang lebih ahli. Di samping itu, asas alih tangan ini juga hanya mengisyaratkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling hanya menangani masalah-masalah individu sesuai dengan kewenangan petugas yang bersangkutan, dan setiap masalah ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu. Atau dengan kata lain, bahwa bimbingan dan konseling hanya memberi­ kan bantuan kepada individu-individu yang pada dasarnya normal (tidak sakit jasmani maupun arohani) dan bekerja dengan kasus- kasus yang terbebas dari masalah-masalah kriminal ataupun perdata.

12. Asas Tutwuri Handayani

Asas ini menunjuk pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan keseluruhan antara konselor dan klien. Lebih-lebih di lingkungan di sekolah, asas ini makin dirasakan keperluannya dan bahkan perlu dilengkapi dengan “i n g n g a t s o s u n g tu lo d o , i n g rn a d y o tn a n g u n k a ts o ”.

Asas ini menuntut agar pelayanatf bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada waktu klien mengalami masalah dan menghadap kepada konselor saja, namun di luar hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya pelayanan bimbingan dan konseling it'd.

Drs. Abror Sodify M.Si.

(32)

q Asas-Asas Bim bingan dan Konseling Islam i

Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling Isalmi harus memegang teguh kaidah-kaidah yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits atau sunnah Nabi Muhammad SAW Asas- asas yang dimaksud adalah asas fitrah, asas lillahi ta’ala, asas seumur hidup, asas kesatuan jasmaniah-rohaniah, asas kemaujudan individu, asas sosialitas manusia, asas kekhalifahan manusia, asas keselarasan dan keadilan, asas pembinaan akhlakul karimah, asas kasih sayang, asas saling menghargai dan menghormati, asas musyawarah, dan asas keahlian. (Aunur Rahim Faqih (Penyunting), 2001: 21-35). Adapun penjelasannya masing-masing asas itu sebagai berikut: 1. Asas Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Bimbingan dan konsehng Islami tujuan akhirnya adalah membantu klien atau konseli, yakni orang yang dibimbing mencapai kebahagiaan hidup yang senantiasa didambakan oleh setiap muslim, yaitu kebahagiaan hidup di dunia di akhirat. Hal ini berdasarkan firman Allah yang berbunyi:

P engertian Bimbingan dan K onseling

Artinya: “Dan di antara mereka ada orangyang berdo \'a: Ya Tuhan kami, berilah

kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan perihalah kami dan siksa neraka” (QS. Al-Baqarah: 201).

Kebahagiaan hidup duniawi bagi seorang mushm hanya merupakan kebahagiaan yang bersifat sementara, akan tetapi kebahagiaan akhiratlah yang menjadi tujuan utama, sebab kebahagiaan akhirat merupakan kebahagiaan abadi. Hal ini berdasarkan firman Allah yang berbunyi:

(33)

Artinya: “Allah meluaskan re^eki dan menyempitkan bagi siapa sajayang Dia

kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidnpan di dunia, padahal kehidupan duniaitu (dibandingdengan) kehidupan akhirat, hanyalahkesenangan (yangsedikit)”.

(QS. Ar-Ra’du: 26).

Kebahagiaan akhirat akan tercapai bagi setiap orang yang beriman, jika dalam kehidupan dunianya juga selalu mengingat Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

Artinya: “(Yaitu) orang-orangyang beriman dan hati mereka menjadi tenteram

dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orangyang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembaliyang baik”. (QS. Ar-Ra’du: 28-29).

Oleh karena itulah, maka Islam mengajarkan hidup dalam keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara kehidupan keduniaan dan keakhiratan. Hal ini sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

jjT J* j! jjT 4&I LLj

^ ^ A*

(jjj} I o i (j SLLaJ! *)lj . <1J1 4J0I i^ ^=>

Artinya: “D#/z carilah pada apa ya n g telah dianugerahkan A llah kepadamu

(kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (nikmat) duniaivi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) burnt. Sesungguhnya Allah tidak -menyukai orang-orangyang berbuat kerusakan.

(QS. Al-Qasas: 77).

Dan juga hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

.^ l~sP ^ u J j i S U j J

Drs. Abror Sodfy M.Si.

(34)

Afonya: “Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah kamu akan hidup

selama-lamanya, dan bekerjalah (beribadah/ah) untuk kepentingan akhiratmu seolah- olah kamu akan mati esok hari”. (HR. Ibnu Asakir).

2. Asas Fitrah

Menurut Islam bahwa manusia itu dilahirkan dalam atau dengan niembawa fitrah, yaitu memiliki berbagai kemampuan potensial bawaan dan kecenderungan sebagai muslim atau beragama Islam. Bimbingan dan konseling membantu klien atau konseling untuk mengenal dan memahami fitrahnya itu, atau mengenal kembali fitrahnya itu manakala pernah tersesat serta menghayatinya, sehingga dengan demikian akan mampu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat karena bertingkah laku sesuai dengan fitrahnya itu.

Firman Allah yang berbunyi:

P engertian Bimbingan dan K onseling

Artinya: “Dan (ingatlah) ketikaa Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak

Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiw a mereka (seraya be fir m an): “Bukankah A ku ini Tuhanmu”. Mereka menjawab:,rBetul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukanyang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (baniAdam) adalah orang-orangyang lengah terhadap ini (kesaksian Tuhan) ”. (QS. Al-A’raf:

172).

Dan juga firman Allah yang berbunyi:

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);

(tetaplah atas) fitrah Allah ya n g telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tetapi tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (itulah) agama ya n g lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar-Rum: 30).

(35)

Di samping itu, juga disebutkan dalam hadis Nabi yang berbunyi:

Drs. A bror Sodify M.Si.

Artinya: “Setiap manusia dilahirkan ibunya dalam keadaanfitrah. Maka kemudian

ayah-ibunyayang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Dan jik a ayah-ibunya itu seorang muslim, makajadilah (si anak) seorang muslim”. (HR. Muslim).

3. Asas “Lillahi Ta’ala”

Bimbingan dan konseling Islami diselenggarakan semata- semata karena Allah. Konsekuensi dari asas ini berarti pembimbing atau konselor melakukan tugasnya dengan penuh keikhlasan, tanpa pamrih, sementara yang dibimbing atau klien juga dalam menerima atau meminta bimbingan atau konseling juga dengan ikhlas dan rela pula, karena kedua belah pihak merasa bahwa semua yang dilakukan adalah karena dan untuk pengabdian kepada Allah semata, yaitu sesuai dengan fungsi dan tugasnya sebagai makhluk Allah yang harus senantiasa mengabdi kepada-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

Artinya: (CPadahalmereka tidak disuruh kecauli supaya menyembah Allah dengan

memurnikan (keikhlasan) htaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”. (QS. Al-Bayyinah: 5). >

4. Asas Seumur Hidup r

Manusia hidup tidak akan ada yang sempurna dan tidak akan ada yang selalu bahagia. Dalam kehidupannya mungkin saja manusia akan menjumpai berbagai kesulitan dan kesusahan. Oleh karena

\ j j .

(36)

itulah, tnaka bimbingan dan konseling Islami diperlukan selama hayat masih dikandung badan.

Kesepanjanghayatan bimbingan dan konseling Islami ini, selain Jilihat dari kenyataan hidup manusia, dapat pula dilihat dari sudut pendidikan. Seperti telah diketahui, bahwa bimbingan dan konseling merupakan bagian dari pendidikan. Pendidikan sendiri berasaskan pendidikan seumur hidup, karena belajar -menurut Islam- adalah wajib dilakukan oleh semua orang Islam, tanpa membedakan usia. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

(l/4^ ^

Attinya: “Menu n tut ilmu itu wajib bagisetiap orang Islam”. (HR Ibnu Abdulbar dari Anas).

5. Asas Kemaujudan Individu

Bimbingan dan konseling Islami memandang seorang individu merupakan suatu maujud (eksistensi) tersendiri. Individu mempu- nyai hak, mempunyai perbedaan indvidu dari yang lainnya, dan mempunyai kemerdekaan pribadi sebagai konsekuensi dari haknya dan kemampuan fundamental potensial rohaninya.

Mengenai hak individu, Nabi Muhammad SAW telah membe- rikan fatwa sebagai berikut:

o fj j U>-

UL>-. (<^jUUi a!Jj)UL>-. t j i JS" JapfJ dl-Ui

Artinya: “Bahwasanya Tuhanmu mempunyai hak atasmu ya n g ivajib engkau tunaikan, begitu ju ga dirimu dan ahlimu semuanya mempunyai hak ya n g wajib engkau tunaikan, maka dari itu hendaklah engkau berpuasa sewaktu-miktu dan berbuka seaivktu-waktu, berjaga malam sewaktu-waktu (untuk beribadah atau sholat malam) dan tidur sewaktu. Dekatilah ahlimu, dan berikanlah hak kepada masing- m asingyangyang mempunyai hak ” (HR. Al-Buldiori).

Mengenai perbedaan individu, antara lain dapat dipahami dari firman Allah dan hadis Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

(37)

Drs. A bror Sodif^ M.Si.

Firman Allah yang berbunyi:

Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran QS. Al-Qamar: 49.

Hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

, jJLp jwLaj I

Artinya: “Berbicara/ah kepada manusia sesuai dengan kadar kemampttanpikiran

mereka". (Al-Hadis).

Mengenai kemerdekaan individu, tersirat dalam firman Allah yang berbunyi:

Artinya: ‘Katakanlah: *Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa

biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang d^olim itu neraka,yanggejolaknya mengepung mereka. Dan jik a mereka meminta minuman, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi ya n g mendidih ya n g

semuanya diakui dengan memperhatikan hak individu (bukan komunis), dan hak individu juga diakui dalam batas tanggung jawab sosial (bukan pula liberalis). Dan masih ada pula hak alam yang

ya n g ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa ya n g ingin (kafir)

menghapuskan muka. Itulah minuman ya n g paling buruk dan tempat istirah atyang palingjelek ” (QS. Al-Kahfi: 29).

6. Asas Sosialitas Manusia

Dalam bimbingan dan kerfseling Islami, sosialitas manusiaan yang meliputi pergaulan, cinta kasih, rasa aman, penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, rasa memiliki dan dimiliki,

(38)

harus dipenuhi manusia (menjaga ekosistem), serta hak Tuhan yang

harus dipenuhi pula oleh manusia.

F ir m a n Allah y a n g b e rb u n y i:

q\ i W j lp\ j J ”* Crt i

P engertian Bimbingan dan K onseling

£j£» 4)31 Oi ^1)1 toLlP

Artinya: manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorangperempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku- suku supaya sa ling kenal mengenai Sesungguhnya orangyangpaling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orangyangpaling bertakwa di antara kamu. Sesungghuhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha M engenai”. (QS. Al-Hujurat: 13).

7. Asas Kekhalifahan Manusia

Dalam Islam, manusia itu diberi kedudukan yang tinggi sekaligus diberi tanggung jawab yang besar, yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus mengelola alam dan memakmurkannya serta menjaga keseimbangan ekosistem, sebab problem-problem kehidupan kerap kali muncul dari ketidakseimbangan ekosistem yang diperbuat oleh manusia itu sendiri.

Sebagai khalifah di muka bumi, disebutkan dalam firman Allah yang berbunyi sebagai berikut:

d p - J°'} R

Artinya: ‘Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”.

(QS. Faatir: 39).

Sebagai pengelola dan pemakmur alam, sebagaimana disebut­ kan dalam firman Allah yang berbunyi:

(39)

Artinya: ‘Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”. (QS. Hud: 61).

Sebagai pemelihara keseimbangan ekosistem alam, hal ini telah diperingatkan oleh Allah dalam firmannya yang berbunyi:

Drs. A bror Sodify M.Si.

Artinya: ‘Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena

perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalanyang benar)”. (QS.

Ar-Rum: 41).

8. Asas Pembinaan Akhlakul Karimah

Menurut pandangan Islam bahwa manusia memiliki sifat-sifat yang baik dan sekaligus memilki sifat-sifat yang buruk. Sifat-sifat yang baik merupakan sifat yang dikembangkan dalam bimbingan dan konseling Islami. Bimbingan dan konseling Islami membantu klien atau yang dibimbing dalam memelihara, mengembangkan dan menyempurnakan sifat-sifat yang baik itu. Sejalan dengan tugas dan fungsi Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam salah hadisnya, dan juga sebagaimana yang difirmankan oleh Allah sebagai berikut:

Hadis Rasul SAW:

(}j i j * <4^ (3 ^ Ujl SC* cuUj

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlakyang mulia”. (HR. Ahmad dan Thabrard dari"Abu Hurairah).

Firman Allah SWT:

(40)

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladanyang baik bagiwu (yaitu) bagi orangyang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut A llah”. (QS. Al-Ahzab: 21).

9# Asas Kasih Sayang

Setiap manusia memerlukan cinta kasih dan rasa sayang dari orang lain. Rasa kasih sayang ini dapat mengalahkan dan menunduk- kan banyak hal. Bimbingan dan konseling Islami dilakukan dengan berlandaskan kasih dan sayang, sebab hanya dengan kasih sayanglah bimbingan dan konseling akan berhasil. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam dua hadis Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

Artinya: “Sayangilah siapa saja ya n g ada di bumi ini, maka penghuni langit akan

menyayangimu”. (HR. Thabrani dan Hakim dengan sanad yang shohih).

Artinya: ({Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga ia

mencintai saudaranya (sesama manusia) seperti mencintai dirinya sendiri”. (HR.

Muttafakun “alaih).

10. Asas Saling Menghormati

Dalam bimbingan dan konseling Islami kedudukan pembim­ bing atau konselor dengan yang dibimbing atau klien pada dasarnya sama atau sederajat, yang membedakan hanya pada fungsinya, yaitu pihak yang satu berfungsi memberikan bantuan, dan pihak yang lain menerima bantuan. Hubungan antara pihak pembimbing atau konselor dengan pihak yang dibimbing atau klien merupakan hubungan yang saling menghormati sesuai dengan kedudukannya tnsing-masing yang sama-sama sebagai makhluk Allah SWT. Prinsip saling menghormati ini sebagaimana disebutkan dalam firman Al­ lah sebagai berikut:

Is* - , : JS JlP qS <001 j ! LAJ^J \ ' - , »fj) s ' * \ \ ' i r'^J3

(41)

Artinya: 'Apabila kamu diberipenghormatan dengan suatu penghormatan, maka

balaslah penghormatan itu dengan ya n g lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan y a n g serupa). Sesungguhnya A llah selalu membuat perhitungan atas tiap-tiap sesuatu” (QS. An-Nisa: 86).

11. Asas Musyawarah

Bimbingan dan konseling Islami dilakukan dengan musyawa­ rah, artinya antara pembimbng atau konselor dengan yang dibimbing atau klien terjadi dengan dialog yang baik, satu sama lain tidak ada saling mendiktekan dan tidak ada perasaan saling tertekan. Hal ini telah diisyaratkan oleh Allah dalam firmannya yang berbunyi:

Z. x i=e x

(ijgjj)... <0 -4J-P I ill j j 1 j ...

Artinya: iCDan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian

apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kep ada A llah”. (QS.

Ali Imran: 159).

12. Asas Keahlian

Bimbingan dan konseling Islami dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki kemampuan keahlian di bidang bimbingan dan konseling, baik kemampuan metodologi dan teknik-tekniknya maupun kemampuan dalam menguasai permasalahan (obyek garapan atau materi) bimbingan dan konseling. Hal ini diingatkan oleh hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

Artinya: ‘Jika suatu perkara diserahkan kepada orangyang bukan ah liny a, maka

tuggu sajalah saatnya (saat kehancurannya) ” (fill. Al-Bukhoii).

Drs. Abror Sodify M.Si.

(42)

BAB II

LANDASAN BIMBINGAN

DAN KONSELING

A. Landasan Filosofis Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling dilakukan oleh, terhadap dan bagi kepentingan manusia. Oleh karena itu landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman, khususnya bagi konselor, dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanngung jawabkan secara logis, etis, maupun estetis. Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling, terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang apakah manusia itu.

Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut, tentunya tidak dapat terlepas dari berbagai aliran filsafat yang ada, mulai dari aliran filsafat klasik sampai dengan aliran filsafat mod­ ern, dan bahkan aliran filsafat post-modern. Dari berbagai aliran filsafat yang ada, para penulis Barat (Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes, dan Thompson & Rudolph, dalam Priyatno dan Erman Anti, 1999: 140) telah mendeskripsikan tentang hakikat tnanusia sebagai berikut:

1. Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berpikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya.

(43)

Drs. A bror Sodify M.Si.

2. Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang diha­ dapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan- kemampuan yang ada pada dirinya.

3. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. 4. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan

buruk, dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidak-tidaknya mengontrol keburukan. 5. Manusia memiliki dimensi fisik, psikologis, dan spiritual yang

harus dikaji secara mendalam.

6. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya, dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri.

7. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri.

8. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut penkehidupan- nya sendiri. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu dan akan menjadi apa manusia itu.

9. Manusia pada hakikatnya positif yang pada setiap saat dan dalam suasana apa pun, manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melaksanakan sesuatu.

Bilihat dari segi filsafat, bahwa ada tiga kebenaran yang sifatnya berbeda, yaitu:

1. Kebenaran sains sifatnya relatif. 2. Kebenaran filsafat sifatnya spekulatif.

3. Kebenaran wahyu sifatnya mudak. (Muchlis Hamidy, 1997: IV dan Yuyun S, 1987: 50-54 dalam Anwar Sutoyo, 2009: 3).

(44)

Lanbasan Bimbingan dan K onseling

pandangan tersebut sejalan dengan pandangan Imam Ghazali (dalam M. Qutaisy Shihab (2001, TV: 83) bahwa ada tiga tingkatan ilmu, yaitu:

I ilmu yang dikenal oleh manusia, ilmu ini ada sebagian yang masih dimanfaatkan manusia, sebagian yang lain sudah dilupakan manusia karena dinilai sudah tidak sesuai lagi.

2. Ilmu yang tidak mungkin diketahui oleh manusia tetapi diketahui oleh sebagian malaikat dengan ldzin Allah.

3. Ilmu yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Teori-teori bimbingan dan konseling yang selama ini dikem- bangkan dengan lebih mendasarkan pada acuan “filsafat” dan “sains”, sehingga wajar kalau hasilnya banyak menunjukkan kecen- derungan ke spekulatif dan tentatif (belum tentu, sementara waktu, dan masih bisa berubah). Oleh sebab itu wajar pula bila ada sementara ahli yang menilai bahwa hasil bimbingan dan konseling selama ini baru bersifat “sitpervisial’\ “kulit luarnya sajd\ atau “tidak tuntai\ (MD. Dahlan, 1988: 25).

Dari penjelasan-penjelasan tersebut, maka wajar sekali jika para ahli bimbingan dan psikologi (seperti MD. Dahlan (1988), Munandir (1989), Rochman Natawijaya (1999), Dadang Hawari (1999), dan Djamaluddin Ancok (1994) menyarankan agar menyempurnakannya dengan menjadikan ajaran agama (Islam) sebagai “Acuan”. (Anwar Sutoyo, 2009: 4). Bahkan secara tegas MD. Dahlan (2005: 16) menyarankan agar nilai-nilai agama (Islam) menjadi landasan dalam tnerumuskan alternatif bimbingan dan konseling di era globalisasi. Saran itu didasarkan pada kenyataan bahwa selama ini perguruan tinggi telah mencetak manusia yang tidak utuh, manusia yang bernalar tinggi tetapi berhati kering, sarjana yang merekayasa dalam teknik, tetapi masih merayap dalam hal etik, di mana-mana: tersebar intelek yang pongah dengan pengetahuan, tetapi kebingungan dalam tnenikmati hidup dan kehidupan selaku hamba Allah yang sholeh.

(45)

Sebagaimana disebutkan di muka, bahwa bimbingan dan konseling dilakukan oleh, terhadap dan bagi kepentingan manusia, maka landasan bimbingan dan konseling Islami pun dilakukan oleh, terhadap dan bagi kepentingan manusia. Oleh karenanya pandangan mengenai manusia atau pandangan mengenai hakikat manusia menurut Islam akan menentukan dan menjadi landasan operasional bimbingan dan konseling.

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW, bahwa manusia itu antara lain memiliki empat unsur/sifat atau keadaan (Aunur Rahim Faqih, 2001: 7-12), yaitu sebagai berikut:

t Manusia Makhluk Monopluralis (tyahdatul Anashir)

Manusia sebagai makhluk monopluralis (wahdatul anashir), maksudnya bahwa manusia itu terdiri dari berbagai unsur yang menjadi satu kesatuan utuh yang tidak terpisahkan (yaitu unsur jasmani dan rohani, berakal, berhatinurani, berpenglihatan, dan berperasaan, atau lazim memiliki unsur cipta, rasa dan karsa).

Bahwa manusia itu terdiri dari unsur jasmani. Hal ini dapat diketahui dari firman Allah dalam surat Shad ayat 71 dan72 sebagai berikut:

Drs. A bror Sodif^ M.Si.

B. Landasan Islami Bimbingan dan Konseling

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: S esungguhnya

Aku akan menciptakan manusia dari tanaL Af$ka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kiitiupkan kepadanya roh (dptaan) Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepada-Nya”. (QS.Shad: 71-72).

Di samping manusia itu memiliki unsur jasmani, manusia juga memiliki unsur rohani, hati nurani (af-idah), pendengaran, dan

(46)

p e n g l i h a t a n . Unsur-unsur tersebut antara lain disebutkan dalam Al-

Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: Firman Allah SWT yang berbunyi:

9 i ^ i

^ ^ O ^ Of *"43

o f **? % 0 j-* Of

Landasan Bimbingan dan K onseling

Artinya: “ Yang membuat segala sesuatuyang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan

Yang m em ulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian D ia menjadikan keturunannya dari saripati air ya n g hina (air rnani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur2\ (QS.

As-Sajdah: 7-9).

Hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

j V\ <dS^ Jl~oM OJL*J talj aJLT JL^rl \}\ Olj

.(aJLp jii-). cJLail Artinya: iClngatlah bahwa dalam tubuh itu ada sepotong daging,jika ia baik maka

baik seluruh jasadnya, dan jik a ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa sepotong daging itu adalah hati” (HR. Disepakati Al-Bukhori dan

Muslim).

Adapun unsur akal pikiran (ulul albab) yang dimiliki oleh manusia adalah sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

Artinya: “Hanyalah oranv-oranp van? berakal saja yang dapat mengambil pelaajaran”. (QS. Ar-Ka'du: 19)

Karena manusia terdiri berbagai unsur, yaitu jasmaniah-roha- ^ h , berakal, berhatinurani, berpenglihatan dan berpendengaran, ^tau ^a2itn juga dikatakan memiliki unsur: cipta, rasa dan karsa, yang eseluruhannnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan beberapa pengertian yang diatas dapat disimpulkan bahwa, konseling adalah proses pemberian bantuan secara khusus antara konselor dengan klien yang memiliki

Bimbingan dan konseling islam adalah suatu usaha pemberian bantuan kepada individu yang mengalami kesulitan rohaniah baik mental dan spiritual agar

Bimbingan konseling Islam merupakan proses pemberian bantuan terhadap individu yang memiliki masalah, yang mana masalah-masalah dalam bidang garapan bimbingan

Dengan demikian konseling dalam pengertian ini merupakan profesi bantuan ang diberikan oleh konselor kepada klien baik perorangan maupun kelompok dengan menggunakan

ling dalam Pendidikan Sekolah Dasar Bimbingan dan konseling merupakan suatu layanan pemberian bantuan yang dilakukan konselor kepada seorang klien atau peserta didik,

Bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat

Jadi E- Counseling merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang professional (konselor) kepada individu yang mengalami masalah (konseli) dalam bentuk media

Bimbingan konseling pada anak usia dini adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang yang ahli atau yang sering disebut konselor kepada seseorang anak dalam masa pra sekolah atau PAUD